Cari

Memuat...

Jumat, September 07, 2007

Free Sex: ‘co-culture’ in Indonesia (already)?

Semalam, Rabu 5 September 2007, aku dan Angie makan malam di kafe “Kahuripan”, tempat kita biasa ‘merayakan’ sesuatu hanya berdua saja. Misal: waktu Angie lulus SMP lebih dari setahun yang lalu (kebetulan dia bersekolah di SMP N 1, yang lokasinya dekat dengan kafe “Kahuripan”), kemudian Angie diterima di SMA N 3, Angie masuk jurusan IPA—jurusan yang dia inginkan, agar dia bisa mendaftar di Fakultas Psikologi nanti setelah lulus SMA. Occasion apa semalam? Tentu kemenanganku dalam lomba blog yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata. Namun, tentu saja tidak hanya dalam occasions tertentu saja aku dan Angie mampir ke kafe tempat nongkrong anak-anak SMP N 1 dan SMA N 6 Semarang (kedua sekolah ini kebetulan terletak di jalan yang sama, Jl. Ronggolawe Semarang). Kadang-kadang kalau aku dan Angie kangen masakan yanb biasa kita pesan di kafe ini.
Seperti biasa, yang paling kunikmati tatkala eating out berdua dengan Angie adalah saat Angie bercerita tentang teman-temannya, sekolahnya, dll. Pada saat-saat seperti itu, Angie biasa bercerita banyak tanpa aku perlu ‘menginterogasinya’. LOL.
Dan, yang diceritakan oleh Angie semalam benar-benar membuatku shocked—areal sekolah telah menjadi tempat pilihan untuk melakukan hubungan seks!
Sebenarnya Angie telah membawa ‘wacana’ ini kepadaku sejak seminggu yang lalu, namun aku tidak dengan mudah mempercayainya. Apalagi tatkala Angie menyebut nama seorang guru yang—I am really to say this --menurutku sok tahu dan fussy banget. (Ini berdasarkan pengalamanku sendiri waktu belajar di sekolah itu lebih dari 20 tahun yang lalu.)
Aku bilang ke Angie, “Honey, don’t easily believe in what people say. Moreover you know I know that particular teacher well. Don’t easily judge your friends to do that so-called immoral thing. Ok?”
“But Mama, I am sorry to say that she was not the only one who said such a thing. Some other teachers also said the same thing. One of the janitors also saw some students doing ‘that’ in the classroom. The rumor said that the students threatened the janitor not to tell the teachers.”
Waktu itu obrolan berhenti di situ mungkin karena suasana yang kurang mendukung kita berdua untuk curhat.
Obrolan baru berlanjut tadi malam di kafe “Kahuripan”. Angie bercerita lebih panjang lebar ini itu, itu ini, bla bla bla ...
Dan aku hanya bisa menghela nafas panjang.
Aku mencoba mengingat kembali zamanku dulu tatkala masih duduk di bangku SMA. Tidak ada kisah sepasang cowo cewe terpergok guru ataupun siapa sedang melakukan sesuatu yang tidak selayaknya dilakukan di sekolah. Ada gosip yang mengatakan beberapa temanku saat itu kalau pulang dijemput ‘om om’. Namun tentu saja waktu itu tidak ada kisah ‘terpergok’ di sekolah. Dan aku ingat, pada waktu itu, ruang-ruang kelas di gedung SMA N 3 dipakai oleh sekolah swasta, SMA PGRI 2 yang memang waktu itu belum memiliki gedung sendiri. (Btw, sekolah itu masih eksis ga ya sekarang? Kok aku ga tahu kelanjutannya? Atau memang aku ini tipe pasif dan ignorant. )
Aku yakin, kisah ini tidak hanya terjadi di sekolah terfavorit di Semarang. Tentu hal ini pun terjadi di sekolah-sekolah lain. Fenomena ini telah menggejala di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar.
(Aku jadi ingat cerita seorang teman chat. Dia pernah chat dengan seorang cewe, masih duduk di bangku SMA. Cewe ini mengajaknya kopi darat. Setelah kopi darat, si cewe yang mengendarai mobil lumayan mewah ini mengajaknya mampir ke sebuah hotel dan mengajaknya having sex. Berhubung si cewe ini cantik, dan temanku mengaku sebagai seorang laki-laki hetero yang ‘normal’, (yang menolak berarti tidak normal. LOL.) they had sex. Waktu mengetahui bahwa ternyata si cewe masih perawan—baca  temanku mengaku dia yang merobek selaput dara si cewe cantik berusia belasan tahun itu, terbukti dari darah yang keluar dari vagina—temanku terheran-heran. Konon setelah kejadian itu, mereka tidak pernah kontak satu sama lain. Tatkala temanku kudesak kira-kira motivasi apa yang dimiliki oleh si cewe itu to invite him for a hot date, dia bilang, “Well, mungkin saja dia taruhan dengan temannya, atau apa kek, dimana dia bakal malu kalau ketahuan dia masih ‘perawan’ dan belum punya pengalaman to have sex. Di Jakarta hal seperti ini sudah umum!”)
Aku ingat zaman kuliah waktu mempelajari tentang ‘sub-culture’ (yang kemudian kuketahui sebagai ‘co-culture’ untuk menunjukkan kesetaraan ‘culture’ ini dengan ‘culture’ yang lain, dan bukan ‘sub-culture’ yang konotasinya berada ‘di bawah’ ‘culture’ yang mainstream) ada pertanyaan, “What is sub-culture of America?” pertanyaan yang kedengarannya nampak mengada-ada ini bisa kita ganti dengan “What is sub-culture of Indonesia?”
Di awal kuliah di American Studies UGM, ada satu pertanyaan yang menggelitik dari salah satu presenter yang juga dosen pada kesempatan “General Stadium”. “What is the culture of America?” Kita-kita yang (masih) orang awam tentang American Studies, menjawab sekenanya, such as, “free sex”, “individualistic” “hip hop culture”, “pluralism” “freedom” dan masih banyak lagi. Bagi mereka yang pernah mendapatkan kuliah “American Studies” waktu duduk di bangku S1, mungkin menjawab dengan jawaban yang lebih keren, seperti “American dream: from rags to riches”, “middle class society”, “the pursuit of happiness”, dll.
Seandainya pertanyaan “What is the culture of Indonesia?” mungkin jawaban yang akan keluar adalah, “gotong royong, andap asor, toleransi, ramah tamah,” dll. Free sex? Tentu kita akan dengan lantang mengatakan “TIDAK!”
Namun lihatlah apa yang telah terjadi pada bangsa kita belakangan ini. Tidak adakah free sex di kalangan orang-orang Indonesia? Jawabannya tentu adalah “ADA”. Akan tetapi karena kita tidak mengakuinya, bisa saja free sex—yang nampaknya telah terjadi secara meluas di masyarakat—kita sebut sebagai ‘co-culture’. Mau tidak mau it has existed.
Bagaimanakah pihak sekolah Angie menyikapi hal ini? Pihak sekolah mulai lebih ketat mengadakan pengawasan kepada anak-anak. Jika sebelum ini para guru membiarkan para siswa-siswinya ‘berkeliaran’ di sekolah (dengan alasan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler ini itu, aktif di OSIS dan sebagainya) setelah jam sekolah usai, sekarang para guru mulai dengan ketat ‘mengusir’ anak-anak untuk segera meninggalkan areal sekolah jika memang tidak ada kegiatan yang jelas.
“Do you want to know why honey?” aku tanya Angie.
“Why Mama?” Angie bertanya balik.
“Pihak sekolah tidak mau ikut bertanggung jawab. No matter what, jika hal tersebut terjadi di sekolah, pihak sekolah akan ikut dituding sebagai pihak yang membiarkan hal tersebut berlangsung. Namun jika hal tersebut terjadi di luar sekolah, pihak sekolah merasa aman, anak-anak bukan lagi merupakan tanggung jawab sekolah begitu meninggalkan areal sekolah. Anak-anak harus bertanggung jawab akan segala hal yang mereka lakukan sendiri. Btw honey, how did school know some particular students who have done that? Even as you told me before, school even also knew how many times the students have done that?”
“Ya mereka dipanggil lah Ma oleh BK, kemudian diinterogasi. Masak waktu si X ditanya, ‘apa kamu ga takut kalau pacarmu hamil?’ dengan innocent X bilang, ‘Tidak dong Bu. Saya kan pake kondom.’“
Hal ini mengingatkanku atas satu diskusi di satu kelas beberapa tahun yang lalu. Waktu aku tanya ke siswaku tentang free sex, salah satu dari mereka menjawab, “Tidak setuju Ma’am. Pertama, dosa. Kedua, ada kemungkinan terkena penyakit kalau ganti-ganti pasangan. Ketiga, kalau si cewe hamil, kan repot saya? Saya masih belum mau menikah dan harus bertanggung jawab memberi makan anak orang lain. Lha wong saya sendiri masih ngikut makan orang tua.”
Tatkala kudesak di antara ketiga alasan yang dia berikan kepadaku yang manakah yang lebih penting, dia mengaku “Takut terkena penyakit kelamin.” Satu hal yang lebih konkrit ketimbang alasan yang pertama.
Dari perbincanganku dengan Angie, aku belum bisa menemukan apa yang membuat free sex ini lebih mengglobal di Indonesia. Guru-guru Angie tidak—atau mungkin Angie yang tidak tahu, sehingga aku pun tidak tahu—atau belum mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan remaja-remaja itu bereksperimen dengan seks? Jika kita tahu ‘sumber’nya akan lebih mudah mengatasinya ketimbang memberikan ‘hukuman psikologis’ kepada para pelaku—yang terpergok melakukannya di sekolah dengan julukan yang sama sekali tidak pantas, contoh ‘perek’ dan sebagainya itu.
For me myself with Angie, the time has come for both of us to talk about sex openly so that Angie doesn’t need to look for information from irresponsible source.
PT56 11.55 060907

4 komentar:

  1. Hard to believe kalau sekolah sudah dipakai sebagai tempat berhubungan
    intim.
    Atau mungkin saya saja yang kurang inform mengenai keadaan di tanah air
    kali.
    Anyway, cerita ini benar membuat saya surprise, thanks.

    Turut menyesal dengan keadaan SMA di tanah air lagi....

    Salam,
    a

    BalasHapus
  2. Congrats ya mbak dah menang di lomba blog. Dapet hadiah paan nih?

    Anak2 sma skrg dah pada berani yah. Klo dolo daku sok dengar crita ginih di tempat kita sama2 pernah ngajar.

    BalasHapus
  3. pada dasarnya memang sejauh pengematan saya dalam lingkup mahasiswa yang paling kecil sekalipun,,,
    sudah barangn pasti dapat kita temukan fenomena" free sex seperti itu,,,

    hanya saja,,,entah sebatas apa pandangan mereka akan hal itu dan apakah yang melatarbelakangi perilaku mereka tersebut,,,saya sendiri masih kurang begitu paham,,,

    BalasHapus