Cari

Memuat...

Minggu, September 16, 2007

Debat Agama

Aku punya seorang teman yang cukup akrab yang kebetulan beragama Katolik (if I am not mistaken. Aku belum pernah bertanya kepadanya apakah dia seorang Kristen Protestan atau Kristen Katolik. Anyway, it is not really important for me. ) Persahabatan kita berlangsung selama beberapa tahun, tanpa kita pernah memperbincangkan tentang perbedaan agama yang kita anut. Dia pindah ke sebuah kota di Jawa Barat pada tahun 2003. Sebut saja namanya Dita.
Semenjak berpisah dengannya, aku mengalami perubahan dalam prinsip hidup yang sangat signifikan, yang tidak pernah dia kira sebelumnya: aku menjadi seorang feminis yang taat (instead of using the term ‘radical’, my Abang doesn’t really like it. And due to his coming into my life, our long and continuous discussion has made me realize that I am not a radical feminist.) dan seorang sekuler.
Di tahun 2005, aku iseng mengirimi Dita sebuah email yang berisikan kontemplasi, dimana aku menulis

“When I was a little, my elementary school teachers told me (and my classmates, of course), that Al-Quran will always be pure till the judgment day. Allah will keep it pure so that any effort to ‘change’ it will fail. It is contradictory from Bible that has undergone changes, from Old Testament to New Testament. There is Bible ‘written’ by Markus, Matthew, who else I don’t know. We deserve to question then whether Bible is really from God? Why is it ‘written’ by Markus and his friends? Why is not written by God? Not even by Jesus that Muslim people know as Isa?”

(untuk lebih lengkapnya, klik aja site berikut ini http://afeministblog.blogspot.com/2006/05/religious.html )
Email ini memang bukan kutulis untuk Dita, namun seseorang yang lain. Dan waktu aku mengirim email ini ke Dita, aku lupa untuk mengedit bagian yang ternyata cukup mengganggunya. Setelah membacanya, Dita mengirim sms ke aku, yang intinya ingin “meluruskan” apa yang kutulis di atas. Menyadari aku telah melakukan kesalahan—telah memasuki areal pribadinya—aku diam saja.
Tahun 2006, tatkala heboh masalah poligami seorang dai terkenal, Dita mengirim sms ke aku yang di mata seorang Muslim sekuler (namun ‘mantan’ seorang relijius taat) sepertiku cukup mengganggu. Aku lebih memilih untuk tidak membalas smsnya, meskipun dalam rangka “meluruskan” pendapatnya yang salah sebagai seseorang yang awam agama Islam.
Hal ini kemudian kuceritakan kepada Abang yang langsung memberikan ‘wejangan’, “Makanya Na, bersabahat dengan orang beragama lain, that’s fine, but you had better not touch religion, because possibly it can ruin the friendship. This is a very crucial sphere.” (FYI, aku dan Abang pun berbeda agama, berbeda etnik, yang membuat kita memiliki background yang berbeda pula.)
*****
Ketika membaca diskusi—atau debat—tentang ‘aurat’ di sebuah milis yang kuikuti (dan kutengarai membernya para scholar di bidang masing-masing), aku mendapati seseorang yang tersinggung—sort of—karena seseorang yang non Islam mempertanyakan apa pentingnya mempermasalahkan aurat, karena toh itu hanya bikin-bikinan kaum laki-laki saja (menurutku agama selalu dikonotasikan sebagai masculine sphere rather than feminine one, karena kebanyakan agama yang mampu menancapkan kukunya di tengah masyarakat lebih sering mengacu ke kepentingan kaum pemuja phallocentrism). Untuk itu, ada seorang member yang menawarkan ide

“hanya orang kristen yang boleh mengkritik agama kristen, hanya orang islam mengkritik islam, hanya ahmadiyyah mengkritik ahmadiyyah, hanya taliban mengkritik taliban, hanya orang jerman kuno yang boleh mengkritik thor, odin dan jord (dan agnostik serta atheis tidak bisa mengkritik karena mereka tidak beriman)”.

Hal ini mengingatkanku pada friksi yang sempat hadir antara aku dan Dita setahun yang lalu. Semenjak itu aku memang lebih memfokuskan diri untuk kritis hanya kepada agama yang kuanut, justru karena aku mengimaninya, dan bukan ke agama lain, karena toh aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
Nevertheless, aku sangat senang ketika mendapati seorang member milis beragama non Islam—yang kutengarai seorang expert dalam agamanya—menulis

“tidak seperti Alquran, Alkitab mengalami perubahan. bukan cuma sekali, sudah puluhan kali. di sebelah saya tergeletak the New American Bible, Saint Joseph edition. di kitab itu tersodor sejumlah perubahan, dan sederet tafsir baru. terlepas dari -apakah- saya setuju dengannya, saya memeluk Bible itu karena saya merasa bahwa Tuhan sungguh menghargai saya; bahwa Tuhan tak pernah menganggap saya batu; bahwa di mata Tuhan, manusia adalah perjalanan yang belum selesai.”

Perbincangan tentang agama yang dilakukan dengan kedewasaan penuh dan kelapangan dada memang selalu menarik bagiku. Namun bukan dalam bentuk debat kusir yang menjelek-jelekkan agama lain—tanpa memahami latar belakang mengapa satu peraturan hadir dalam satu agama, dan tidak ada di agama lainnya. Di mataku hal ini justru menunjukkan betapa dangkal pengetahuan seseorang tentang hal yang yang dia kritik.
PT56 12.38 160907

6 komentar:

  1. Ulasan yang sangat menarik, wise dan broadminded.
    Salut.

    Kalau saja semua orang bisa memilah dan melihat apa yang perlu diperdebatkan dan yang tidak perlu diperdebatkan seperti kamu, dunia pasti menjadi tempat yang lebih manusiawi.

    Salam,

    BalasHapus
  2. hm, entah kenapa agama jadi mirip idiologi ...

    BalasHapus
  3. Karena kerakusan manusia untuk menjadi yang 'paling benar' yang telah membuat agama serupa dengan ideologi. I think.

    BalasHapus
  4. Mengenai poligami, mungkin dapat dibuka di blog saya di http://wearefreethinks.blogspot.com/ itu adalah pandangan saya mengenai Poligami

    BalasHapus
  5. Tulisan menarik walaupun cukup menggelitik. Entah kenapa banyak yang alergi dengan berdebat tentang agama, baik itu berdebat didalam agamanya sendiri ataupun antar agama.
    Jika saja berpikir dan meyakini bahwa pemilik seluruh alam ini adalah Yang Tunggal, maka hanya ada satu kebenaran yang mutlak. Perdebatan bukan hanya berisi perbedaan, tapi juga meluruskan, dan menjelaskan hal2 yang terdapat dalam masing2 agama.
    Terkadang penganut agama tertentu belum benar2 yakin akan kebenaran agamanya dan belum mengerti akan ajaran2 keyakinan agama lain.
    Manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan memeluk keyakinannya masing-masing, tapi alangkah indahnya ketika apa yang diyakininya adalah merupakan suatu kebenaran yang mutlak. Bagaimana cara mengetahui bahwa keyakinan yang dia pilih adalah suatu kebenaran yang mutlak? salah satunya adalah ilmu perbandingan agama. Tentunya dengan penyampaian yang elegan dan argumentatif. Thx

    BalasHapus
  6. Garis,

    tatkala aku berkutat dengan teori hegemoni, aku mendapati skeptisisme akan adanya ABSOLUTE TRUTH, dan aku mengimaninya.

    Indeed, di dunia ini tidak ada the one and only ABSOLUTE TRUTH, just wait and see nanti di hari 'yang sangat-sangat nantiiiiiiiiiii" di alam sono. :-P

    BalasHapus