Cari

Selasa, Januari 20, 2009

To Banyumeneng with love

Di awal kisah, ehm, sebenarnya aku ga begitu tertarik untuk mencoba track satu ini yang telah membuat beberapa dear b2w friends tergila-gila. “Rasanya ingin selalu kembali dan kembali ke sana,” kata salah satu yang ‘mbaurekso’ kawasan ini, Agung Tridja. LOL. So? Atas provokator siapakah akhirnya aku pun mencoba keperkasaan sepeda mungilku, semungil yang punya, di track yang serem, seru, dan ekstrim ini? LOL.

“Can’t wait for that Ma’am...” kata Eka di salah satu postinganku di MP. Maksudnya, he cannot wait to be my savior again, after being one in our trip to Maron. Lah, yang mau jadi savior ku aja cannot wait, mosok akunya melempem?

Akhirnya, itulah provokasi originalku mengikuti adventure kali ini, selain setelah Ipoet menyatakan diri mau menemaniku, agar aku tidak menjadi the only female adventurer. Maklum, aku masih ingat kata-kata seorang teman yang bilang, “Perjalanan ini akan memakan waktu lebih cepat kalau ga ada ini ini ini ...” sambil nunjuk ke para makhluk cewe. Lah, aku kan jadi ga enak hati? Kalau aku menjadi satu-satunya ‘scapegoat’ perjalanan memakan waktu lama?

Minggu 18 Januari 2009 aku meninggalkan rumah sekitar pukul 05.00, setelah sms Ipoet 30 menit sebelumnya, dan miscall pukul 04.57. Baru sampai di jembatan sungai Banjirkanal, ada sms masuk. Kukira dari Ipoet, ternyata dari Ardian—or Ian for short—a student of mine at LIA. “Ma’am, udah berangkat? Jadi kan kumpul di pom bensin Kedungmundu?” Ealah, Ian malah jadi ikut, padahal kemarin waktu kusms, dia ga konfirmasi mau ikut atau engga. Akhirnya aku pun tambah semangat gowes menuju meeting point di SPBU Kedungmundu.

Sampai di pertigaan Mrican – Lamper, aku berhenti untuk nelpon Ipoet karena dia belum kelihatan di situ. Eh, pada saat yang sama Erwin muncul dan menyapaku, “Mbak Nana!” Akhirnya aku berangkat ke SPBU Kedungmundu bareng Erwin, setelah Ipoet sms, “Aku tak mandi dulu ya mbak?” G-U-B-R-A-K!!!

Erwin was the first teacher of mine bagaimana menaklukkan tanjakan Kedungmundu, warming up sebelum naik bukit Banyumeneng.

Sesampai di SPBU, sudah ada mas Ndaru, Bambang RL, Arif RL, Didit (koncone sopo rek? Lali aku), beserta Ian dan beberapa temannya yang masih malu-malu duduk agak berjauhan dari tempat berdiri sang provokator utama, sang motivator yang selalu bilang, “Bisa ... bisa ...” “Mana ada yang ga bisa oleh seorang Ndaru?” kataku setengah ngomel setengah kagum dengan semangatnya. LOL.

Beberapa peserta lain yang berdatangan kemudian adalah Cahyo, Yudhi, Eka (bujubune, dia pakai kaos bergambar salah satu cewe manis yang naik sepeda onthel, hasil jepretan waktu joint event SOC, SLOWLY, dan b2w Semarang!!!) Darmawan, Pak Budi Seli yang datang bareng mas Nasir, my savior on my trip to Kedungjati. Wah, aman lah aku ini, dikitari my two saviors, plus sang provokator a.k.a motivator, dua teknisi dari RL, and the others. Setelah Ipoet datang sekitar pukul 06.10, rombongan pun mulai melaju ke arah yang dituju.

Baru memasuki kawasan off-road kita sempat berhenti sejenak (some friends sempat mampir ke sebuah toko membeli perbekalan karena tiba-tiba peserta ketambahan enam anak SMP/SMA), mas Ndaru yang punya keahlian provokasi (Absolutely we cannot say NO to him when this skill of his appears LOL), meminta Bambang RL untuk memperbaiki shifter, dll agar sepeda bisa kupakai dengan lancar, terutama waktu di tanjakan. “Tanjakannya lumayan ekstrim, kasihan mbak Nana kalau ga bisa pol mengganti gear ke nomor 1,” katanya.

Perjalanan cukup lancar sampai di puncak tanjakan, sebelum sampai di gedung segitiga biru. TTB jelas juga dong. LOL. Kalo terlewat TTB, bakal orang-orang ga henti-henti mengagumiku. LOL. LOL. Aku setengah prihatin sebenarnya melihat Ian dkk yang naik sepeda ala kadarnya, tentu perjalanan yang amat berat buat mereka. Apalagi this was their first off-road cross country trip.

Meskipun adikku sudah bilang bahwa turunannya tajam dan berbatu-batu besar, setelah trip dia ke Banyumeneng beberapa bulan lalu, waktu aku mulai menuruni aku sempat kaget dan ngomel, “Gile, kenapa jalan kayak gini dipilih ya?” kataku pada Ian, yang kebetulan berada tepat di belakangku. “Rem sepedamu bagus kan?” tanyaku padanya memastikan, ngeri membayangkan dia terjungkal atau sejenisnya itu. I must be responsible to his parents!

Untunglah aku memakai sarung tangan, sehingga meskipun kesemutan, seperti yang dikeluhkan Cahyo di postingannya, aku baik-baik saja.

Selama perjalanan, kedua saviors of mine bergantian menemaniku, maupun memberikan peringatan kapan jalanan licin, kapan aku sebaiknya TTB karena turunan yang sangat curam, dll.

Di tengah ladang yang tidak jelas milik siapa, ada dua orang perempuan yang memberitahu ada jalur lain yang bisa dilewati, selain jalur yang dipilih oleh mas Ndaru, karena mereka bilang, jalur yang dipilih mas Ndaru bakal melewati sungai, dan berhubung sedang musim hujan (udah untung dua hari hujan berhenti turun pada hari Jumat 16 Januari 09 dan Sabtu 17 Januari 09) air mencapai setinggi paha. Aku dan beberapa teman lain sempat bingung, sementara mas Ndaru sudah menghilang di depan. Tatkala kita bingung-bingung, tahu-tahu sang motivator balik. Kirain dia akan bilang, “Cari jalan alternatif lain. Di depan ada sungai banjir.” Ternyata dia bilang, “Bisa ... track bisa dilewati. Ayo lanjut terus...” “Apa sih yang ga bisa bagi seorang Ndaru?” kataku ke Erwin yang waktu itu berdiri tak jauh dariku. Setelah mengucapkan terima kasih dan pamitan kepada kedua perempuan yang baik hati itu, aku dll melanjutkan perjalanan menyusul mas Ndaru.

Everybody else out of the blue became my saviors tatkala sampai perjalanan melintasi sungai yang airnya setinggi pahaku dengan arus yang cukup deras. Teringat peringatan kedua perempuan yang kulewati tadi, sempat pula mengutuki sang motivator yang selalu penuh semangat menerjang semua rintangan. “Wong ada jalur lain yang lebih enak, kenapa pula melewati sungai ini?” (“Tak kutuk jadi kesayangan semua anggota b2w...” maksudku. LOL.)

Namun waktu aku mulai menuruni jalanan berlempung setinggi setengah betis, dan menghadapi sungai dengan arus yang cukup deras, aku teringat salah satu adegan di dalam INTO THE WILD, tatkala Christopher McCandles akan meninggalkan bus rongsokan tempat dia beraktifitas seorang diri di Alaska, rencananya untuk kembali ke dunia peradaban yang kejam terhalang oleh sungai yang airnya dalam dan arusnya deras. Sungai yang sama dia lewati beberapa bulan sebelumnya, waktu dia pertama kali datang, air hanya semata kaki, dan lebarnya tak lebih dari dua meter. Akhirnya daripada terbawa arus sungai yang deras, Chris pun kembali ke bus, kembali ke masa ‘pertapaannya’ yang sunyi, namun jauh dari ‘mean society’.

Beda dengan Chris, aku tidak sendirian. Aku dikitari orang-orang yang caring yang mengulurkan tangan untuk membimbingku menyeberangi sungai, “Jangan lihat ke arus yang deras mbak Nana ... lihat aja ke arah pohon-pohon yang ada di seberang sana itu. Atau pandanglah mas Dar yang menunggu di situ. Yang penting jangan lihat bawah, jangan lihat ke arus air.” kata mas Nasir (atau mas Ndaru ya? lupa. Saking gelinya karena aku diperlakukan seperti anak kecil. LOL. But I love it a lot.), yang mengulurkan tangannya kepadaku, setelah aku melepaskan uluran tangan Pak Budi Seli, yang tegak berdiri di sisi sungai untuk menceburkan diri ke sungai; yang memanggul sepedaku sampai ke seberang (Arif RL), yang asik mengabadikan moment-moment terindah ini lewat kameranya (Cahyo).

“Wong ono dalan sing luwih enak kok malah do milih nyemplung kali...” komentar seorang laki-laki, berusia sekitar 50 tahun waktu melihat aku menyembul dari balik pohon-pohon. Dia tentu telah melihat kesibukan di bawah sana, di sungai tatkala teman-teman memindahtangankan sepeda dari satu orang ke orang lain.

“Lha wong sing digolekki yo sing koyok ngono kuwi, petualangan,” kata sang Bapak yang memiliki warung sederhana tempat kita muncul dari jalan setapak (yang berlumpur setinggi setengah betis, di musim hujan begini), setelah kita menyeberangi sungai.

Aku pun menyahut, “Leres niku pak. Saestu.” 

Setelah bersih-bersih kaki menggunakan air sumur yang ada di dekat situ, kita pun melanjutkan perjalanan. Salah satu track memorable lainnya adalah waktu melewati jalan setapak yang tak lagi terlihat jalan setapaknya karena telah dipenuhi dengan rimbunan rumput yang setinggi manusia. (“Di musim kemarau ga kayak gini mbak! Ga ada rumput yang setinggi itu sehingga kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan kita.” Kata Ipoet. Baru kepikiran sekarang waktu nulis, untung ga ada ular yah? )

Tidak lama setelah itu, RD sepeda Eka putus. (oh my poor savior. LOL.) Sebelum melewati sungai, di jalan turunan yang cukup curam, pelek depan sepeda Didit benjut gara-gara dia nabrak pohon. Tengarai mas Ndaru, Didit ga mampu menahan emosi kegirangan dengan turunan seperti itu, sehingga rada meleng, dan telat mengerem waktu akan roda depan akan mencium pohon. Dengan nada ‘otoriter’ yang tidak bisa dijawab TIDAK, mas Ndaru memanggil seseorang yang kebetulan lewat naik sepeda motor, “Mas, tolong nih, kita butuh ojek. Bawa sepeda mas ini ke rumahnya Rp. 20.000,00 ya?” bisa dipastikan orang itu pun langsung bilang, “Iya...” LOL.

Selepas Pucanggading, di pertigaan rombongan terbagi menjadi dua, ke kanan menuju arah Jalan Majapahit, sedangkan yang ke kiri ke arah Kedungmundu. Aku memilih jalur yang landai saja, sehingga aku pun belok ke kanan.

Aku, Ipoet, Cahyo, Eka, Yudhi, dan Erwin mampir ke rumah Darmawan. Eka yang terpaksa menaiki sepeda rakitan terbarunya dengan single speed sudah terlihat teler. Aku semula heran mengapa Erwin memilih ke jalur kanan, bukannya dia lebih dekat lewat Kedungmundu? Ternyata dia berinisiatif menitipkan sepedanya di rumah Darmawan, dan pulang ke Jatingaleh naik taksi. Yudhi yang sudah sama telernya (ga ngebayangin dia harus naik lewat Gombel) ngikut bareng Erwin.

Aku mengaku masih segar bugar sehingga memutuskan untuk gowes sampai rumah. Meskipun track Banyumeneng jauh lebih ekstrim, kelelahan yang menimpaku tidak separah sewaktu XC ke Kedungjati, 80km!!! Kali ini sampai rumah, aku masih punya tenaga full untuk mencuci pakaian kotor selama satu minggu, my weekly chore.

Sebelum sampai rumah, sempat mampir ke tempat cucian sepeda motor untuk mencucikan si orange. Ini kali kedua aku ke situ (dekat rumah sih). Yang pertama dulu aku bawa WINNER ke situ, dimana tak satu pegawai pun semula berniat mencucinya. Bukannya mencuci sepeda jauh lebih ringan yah dibanding sepeda motor? Aku sendiri heran.

“Kemarin seru banget ya Ma’am?” sms Ardian beberapa jam lalu.

“Absolutely agree!” jawabku.

Since I dubbed everyone else my savior in this trip, I entitled this trip, “To Banyumeneng with love.”

See you all guys on our next trip.

PT56 00.14 200109

For the pictures, just visit the following site:

http://cahyofany.multiply.com/photos/album/20/Banyu_Meneng_Mud_Edition#


Senin, Januari 12, 2009

Sex Education

Tatkala mandi di shower room (tentu saja khusus untuk perempuan) setelah berenang tadi pagi, ada seorang perempuan masuk bersama anak laki-lakinya, mungkin berusia tiga tahun. Sang ibu memandikan anaknya, yang mungkin belum dia percayai bisa membersihkan diri sendiri. Terjadi percakapan ‘khas’ orang tua kepada anak kecilnya. 

“Ayo, cuci rambutnya sampai bersih. Nah, begitu, rambut digosok-gosok di bawah pancuran air. Kalau tidak bersih, nanti tokeknya datang loh ke adik. Tapi kalau mandinya bersih, tokek tidak akan datang.” Kata sang ibu.

“Jadi adik harus menggosok rambut yang bersih ya Ma?” komentar si anak.
“Iya ...” sahut sang ibu, sambil ikut menggosok rambut sang anak menggunakan shampoo. 
Setelah itu, dia pun menyabuni tubuh anaknya.

Aku bayangkan si anak laki-laki kecil ini kelak akan tumbuh menjadi seseorang yang takut pada tokek. Dia akan belajar membersihkan diri bukan demi kesehatan kulit maupun tubuh, melainkan karena merasa takut dikunjungi seekor tokek yang menurutku berwajah menyeramkan.
*****
Ketika aku sedang ganti baju di dalam sebuah bilik, aku dengar suara seorang anak kecil laki-laki lain,

“Ini bukan tempatku mandi Ma! Tempatku di kamar sebelah. Kan aku laki-laki? Masak aku mandi di kamar bilas perempuan?”

“Lho, kamu kan belum bisa mandi sendiri? Dan Mama ga boleh masuk ke kamar bilas laki-laki. Dan karena kamu masih kecil, ga papalah kamu mandi di sini, bersama perempuan.”

Aku ingat sebuah artikel yang pernah kubaca mengatakan bahwa salah satu bentuk sexual education yang bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang masih kecil adalah tatkala berada di tempat umum ajaklah anak laki-laki ke kamar mandi laki-laki, sehingga dia tahu bahwa dia berjenis kelamin laki-laki. Demikian juga anak perempuan harus diajak ke kamar mandi perempuan.

Dalam kasus di atas, si anak sudah benar, dan bersifat kritis yang cerdas. Sang ibu yang kurang paham pentingnya pendidikan seks yang harus diberikan kepada sang anak sejak kecil. Batasan “kamu masih kecil, jadi boleh saja masuk ke kamar mandi perempuan meskipun kamu laki-laki” tidak jelas sampai usia berapa. Bisa jadi ini akan terus berlaku sampai si anak sudah besar. Atau, tatkala dia masih merasa belum mampu melepaskan diri dari bayang-bayang sang ibu, dia akan mengalami masa sulit tatkala harus masuk ke kamar mandi laki-laki (once again: di tempat umum), dia akan merasa tidak nyaman dengan ‘pemaksaan’ itu.

Kebetulan aku memiliki dua kenalan laki-laki yang memiliki pengalaman masa kecil yang membekas pada psyche mereka. Yang satu, sangat terobsesi dengan kaki perempuan. Dia akan sangat merasa ‘aroused’ tatkala melihat kaki perempuan. Sepanjang yang dia ingat, waktu kecil kalau dia menangis, dia akan memeluk kaki ibunya dan menangis tersedu-sedu di situ. Hal ini ternyata memberinya perasaan nyaman. Sekarang, dengan mudah dia tertarik melihat kaki perempuan, dan ada hasrat untuk memeluk kaki itu, terutama kalau dia tertarik kepada sang perempuan itu secara keseluruhan, tidak hanya fisik, namun juga sifat dan intelektualitasnya.

Yang satu lagi, terobsesi dengan diikat stagen, tatkala melakukan hubungan seks. Dia akan mendapatkan orgasme yang sempurna tatkala pasangan seksnya mengikat tubuhnya dengan stagen—termasuk tangannya, kecuali penisnya—kemudian ‘memperkosanya’ dengan lembut. Atau sebaliknya, dia mengikat tubuh pasangannya, kecuali bagian payudara dan vagina, kemudian berhubungan seks dengannya. Namun tanpa kekerasan, misal: pukulan atau sejenis kekerasan yang lain. Latar belakang obsesi ini adalah tatkala dia kecil, dia selalu keluyuran bermain, yang membuat ibunya marah. Ketika dia kembali, sang ibu akan mengikat tubuhnya dengan stagen, di salah satu kaki meja.

Nampaknya, kedua laki-laki ini serasa kembali ke hangatnya rahim sang bunda dengan cara yang berbeda: memeluk kaki, atau diikat/mengikat dengan stagen.

Kembali ke dua kejadian di kamar bilas perempuan di kolam renang Paradise Club Semarang. Aku berpendapat alangkah baiknya kalau sang bapak yang memandikan kedua anak laki-laki itu, di kamar bilas laki-laki. Mengurusi anak bukan hanya pekerjaan istri kan? Dan, tanpa embel-embel ancaman: ‘kalau ga bersih, nanti tokek datang untuk menggigitmu!’

PT56 20.45 110109

Sabtu, Januari 10, 2009

llmiah versus Mistis

Bahwa seorang Andrea Hirata adalah seseorang yang menjunjung tinggi sains merupakan sesuatu yang sangat jelas terlihat dalam keempat novelnya yang tergabung dalam tetralogi LASKAR PELANGI. Alasannya tentu sangat jelas: latar belakang pendidikan yang dia terima di Universitas Sorbonne Prancis, dimana dia bergaul dengan para ilmuwan tingkat tinggi dunia. Dalam tulisan ini, aku akan lebih fokus ke MARYAMAH KARPOV, novel keempat, karena buku inilah buku yang terakhir kubaca. (You can conclude that I am just lazy to browse the other three novels to prove my statement, to prepare this post of mine. LOL.) 

Seorang anak pantai desa yang terpencil, yang mendapatkan pendidikan master dalam bidang ekonomi di sebuah universitas paling bergengsi di Eropa, bermimpi untuk membuat perahu dengan tangannya sendiri! Mimpi Ikal ini bisa menjadi nyata karena dorongan dan dukungan kuat dari sang super genius, sahabatnya di kala duduk di bangku SD dan SMP. Lintang—sang Isac Newton-nya Ikal—menjadikan impian itu menjadi nyata dengan perhitungan matematika yang njlimet. Ikal—yang mengaku selalu berada di bawah bayang-bayang kegeniusan Lintang di bangku sekolah—menggabungkannya dengan kerja keras yang tanpa ampun, dengan iming-iming akan menemukan BINTANG KEJORA dalam kehidupan cintanya, A LING.
 

Pertanyaan selanjutnya adalah: cukupkah ilmu membuat kita mampu memahami segala misteri dalam hidup ini?
 

Jawabannya ada pada mozaik 60 yang berjudul NAI. Mahar—sahabat Ikal yang lain—berada pada kutub yang berseberangan dengan Lintang yang memandang segala hal dari segi ilmiah. Kebalikannya, Mahar mengimani hal-hal mistis yang tidak akan pernah masuk akal para ilmuwan di Universitas bergengsi manapun di dunia ini. Hal-hal mistis yang bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan akan menceburkan seseorang menjadi musyrik, ahli neraka yang berada paling di keraknya. Dalam NAI, Mahar mementalkan keimanan Ikal kepada segala yang berbau ilmiah, sehinga terpaksa mempercayai hal-hal mistis yang tidak masuk akal. Ada hal-hal dalam kehidupan ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi ilmu. Kebalikannya, ada hal-hal yang dengan mudah terpecahkan jika kita menyandarkan kepercayaan diri kepada ilmu.
 

Ketika membaca perpaduan dua hal ini—yang ilmiah dan masuk akal, konon ciri khas kehidupan orang-orang modern; berbanding lurus dengan yang mistis, konon ciri khas kehidupan orang-orang zaman dahulu kala—mengingatkanku pada BILANGAN FU, novel ketiga karya Ayu Utami. Ayu Utami menjelaskannya dengan sangat sederhana: POINT OF VIEW, alias cara pandang yang berbeda. Orang-orang modern memandang kemistisan—misal: seseorang bisa memelet orang yang mencuri hatinya hanya dengan menjampi-jampi air ludah yang dikeluarkan oleh orang tersebut; atau bahwa Nyi Roro Kidul tetap hidup dan berkuasa di pantai Selatan dan selalu mempersuami semua raja-raja di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta, ataupun Keraton di Kasunanan Mangkunegaran—dengan keukeuh menggunakan kacamata orang modern yang bersandar pada keilmiahan.
 

Cara mudahnya bagaimana kita bisa menghasilkan ‘pemandangan’ yang berbeda tatkala kita memandang satu permasalahan yang sama tatkala kita memandang dari sisi yang berbeda: lihatlah Tugumuda—the landmark of Semarang—dari arah Wisma Perdamaian, dan dari lantai atas Lawangsewu. Atau contoh lain: dalam salah satu adegan dalam film DEAD POETS SOCIETY, John Keating, sang guru Bahasa dan Sastra Inggris yang baru, meminta siswanya untuk naik meja dan berdiri di atasnya, memandang suasana kelas dari arah yang berbeda. “You’ll find a very different view, that is very interesting.”
 

Kalau kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa pentingnya memahami segala sesuatu dari kacamata yang berbeda, untuk menuju kehidupan yang lebih damai di antara kita semua, makhluk penghuni planet Bumi ini. Yang selalu menggunakan kacamata kuda yang bernama “patriarki”, pandanglah—misal, permasalahan poligami—dari kacamata feminis. Contoh lain: para religious snob—from any celestial religion—memandang bahwa Tuhan itu mencintai semua umat-Nya tidak pandang bulu, gunakanlah kacamata para kaum sekuler. Para kaum heteroseksual yang merasa diri ‘normal’, cobalah menggunakan kacamata kaum homoseksual. Dalam hal ini, para religious snob pun bisa mengaplikasikannya, sehingga tidak selalu menyerang kaum homoseksual dari satu kacamata saja, dari satu interpretasi ayat kitab Suci saja.
 

Jika para pengunjung dan pembaca blogku ‘membalikkannya’ dengan mengatakan, “Na, cobalah kamu pahami kasus poligami bukan dari interpretasi Alquran yang feminis, namun dari interpretasi yang patriarkal...” oh well, aku telah hidup menggunakan kacamata TUNGGAL interpretasi Alquran yang patriarki selama 35 tahun takala aku mendapatkan pencerahan dari ideologi feminisme, so, I do understand it very well. 

Kembali ke cara pandang yang ilmiah dan mistis (baik dalam MARYAMAH KARPOV maupun BILANGAN FU), well, hidup ini memang sangatlah kaya dan kompleks. Mari kita menikmatinya dengan cara saling toleran satu sama lain, untuk menciptakan kehidupan yang lebih indah dan damai.


LL Tbl 11.34 100109

Kamis, Januari 08, 2009

Euphoria of TOP TEN BLOGGER

Masih dalam euforia TOP TEN BLOGGER 2008. Ehem ...
In in the previous post I wrote I was indebted to many bloggers who have given the link to my blog, as well as my blog visitors, absolutely I still have to thank many others.
At the first place, my ‘other half’, as my first audience of my writing. I started emailing him regularly in the middle of my writing thesis, especially the whole 2005. When I got stuck, writing him emails was the nice refreshing, starting from merely about ‘being trapped in the rain’, my activities as a college student, Sex and the City, our favorite serial, my trip from Jogja to Semarang by bus where I met a weirdo—for me, until more serious topic, such as my interpretation of THE HOURS movie, that he did not finish reading LOL (“It is boring, darling, I am sorry,” he said apologetically. LOL.), the first article I posted in my first blog (I ‘developed’ it from the email I sent him), life (where I questioned a so-called philosophical rhetoric “What God made this universe for?” I believed he found it boring too), the core of my thesis, about the phenomenon of woman madness in the middle of nineteenth century America, etc. My obligation to myself to read a lot to gather ideas to write more various emails to my ‘other half’ so that he would not get bored when reading my abundant emails. (But still he got bored with the very serious topic. LOL.)
Second, my own study at American Studies Graduate Program. The weekly assignments to write papers made me accustomed to write. After graduating, writing became the best medication for my restlessness.
Third, my darling Abang that has made me a ‘milder’ feminist.  Our long discussion via thousand word emails has a bit changed me from a somewhat radical feminist to be milder. I myself now sometimes find my writing ‘biting’ and maybe hostile toward men; especially those writings I posted before August 2006 (the time when out of the blue my Abang came into my life, and “offered friendship”, “Hey Na, your writing is awesome. Let us be friend.” LOL.) As one fan of my writing, he keeps supporting me to write. And when I get annoying comment from ‘imbeciles’, he is also the best one to ask for help, to write counter-comment, to ‘defend’ me. (That’s what having an Abang is for, right? LOL.)
Next, Fatih Syuhud who has found my blog and featured me as “the blogger of the week”. Until now we have never had any personal greeting to each other. LOL. He himself is a great blogger who is very diligent to write, and also visit many blogs, analyze them one by one, and using his own parameter (well, I don’t know whether there are a group of people behind his activity selecting “the blogger of the week”). I found his feature of my blog fascinating, knowing someone read my posts thoroughly and carefully, and then write about me. It is really fun to know how other people perceive me from reading my blog only. His broad-minded and open-minded characters (to ‘read’ me) have resulted in a post that I love.
One local newspaper whose articles (especially about women) often make me upset, signaling that the writers only know the surface of women movement, or the vision of the newspaper is still gender-biased. Because of that, I am triggered to write. (“True women = modern feminist?” is only one example.)
People around me—especially workmates, students, neighbors, as well as my family members—who have sometimes inspired me to write a certain issue. Some writings of mine are also sometimes inspired by some discussion in some mailing lists I join.
Absolutely I am also grateful to my biggest blessing from God, my Lovely Star. Silently she supports me to spend time to write, the time that sometimes she needs me to lend my ears to her. But as always, she is understanding.
And many others I cannot mention one by one.
-- the narcissist Nana –
PT56 23.55 070109

Surplus Perempuan?

Lagi, dari postingan lama, Desember 2006, untuk mengkounter pernyataan bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, sehingga laki-laki minta dipahami untuk melakukan poligami. (ngomong aja terus terang kalau ga bisa nahan nafsu kenapa??? pakai alasan 'membantu' perempuan segala.)

Dari Milis Perempuan
Subject: JIL Statistik sex ratio dan poligami
Lupakan sementara soal halal-haram atau legal-tidaknya poligami. Mari kita lihat apakah ‘maksud baik’ dari poligami punya dasar atau relevansi. Tujuan sosial dari poligami (sering dilontarkan) adalah ‘menolong’ perempuan.
Asumsi dasar:
———————
1. Cara yang paling efektif untuk ‘menolong’ kaum perempuan adalah dengan menyediakan’ suami sebagai pelindung dan pencari nafkah.
2. Secara implisit diasumsikan bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki sehingga terjadi ‘kelebihan penawaran’ dari perempuan (dan sebaliknya, ‘kelebihan permintaan’ atas laki-laki).
Fakta:
———
1. Sex ratio (laki2/perempuan) di Indonesia, berdasarkan Sensus Penduduk 1980 = 101. Untuk setiap 100 perempuan ada 100 laki2. Dalam angka absolut, ini sama dengan ’surplus’ laki-laki lebih dari 630 ribu (tahun 2000).
2. Sex ratio untuk Muslim saja juga sama dengan nasional = 101 (jika umat Islam dari seluruh usia dipasangkan, masih ada sekitar 460 ribu laki-laki Muslim yang tidak mendapat pasangan di tahun 2000).
3. Rasio gender menjadi terbalik (populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki) di usia 60 tahun ke atas. Untuk populasi Muslim di atas 60 tahun, rasionya adalah 90 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Semakin tua kelompok usia, semakin banyak populasi perempuan. Ini adalah kecenderungan yang berlaku di seluruh dunia, karena memang
tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi.
4. jumlah perempuan juga lebih banyak di antara mereka yang berpendidikan rendah (lulusan SD atau di bawahnya), khususnya yang ada di pedesaan. Tanpa memandang agama, rasio gender bagi mereka yang paling untung hanya lulus SD adalah 88 di perkotaan dan 94 di pedesaan.
5. Lebih banyaknya populasi laki-laki dibanding perempuan bukan hanya terjadi di Indonesia. Ini adalah kecenderungan umum di negara-negara berkembang. Bahkan, negara-negara Muslim justru punya rasio gender yang sangat tinggi. Rasio gender Di Saudi Arabia, Oman, Bahrain dan Uni Emirat Arab lebih dari 120. Bahkan di Kuwait dan Qatar, rasionya lebih dari 150, tertinggi di seluruh dunia. Di dua negara yang dalam banyak literatur menjadi rujukan masyarakat paling bias gender, China dan India, rasio gendernya hanya 105, masih lebih rendah dibandingkan negara-negara itu.
Implikasi:
————–
1. Tidak betul bahwa perempuan lebih banyak dari laki-laki.
2. Fakta statistik ini cukup untuk menggugurkan asumsi yang mendasari argumen ‘motif sosial’ poligami.
3. Jadi, kalaupun poligami itu hendak dicari justifikasinya secara ekonomi, maka harusnya para pria yang ingin berpoligami memperistri janda miskin berusia 60 tahun ke atas dan setinggi-tingginya hanya lulusan SD. Barulah poligami memiliki relevansi ekonomi sebagai cara untuk menolong perempuan lepas dari kemiskinan. Bukan gadis atau janda muda (apalagi yang lulusan
PTN dengan IPK 3,6 yang secara statistic tidak mungkin termasuk warga miskin).
4. Meskipun demikian, apakah poligami adalah cara paling efektif? Kenapa tidak mekanisme subsidi, zakat atau transfer langsung?
5. Kalau argumennya adalah mereka tetap butuh suami sebagai kepala keluarga, kenapa tidak membantunya dengan mencarikan janda-janda miskin suami yang belum beristri dan kemudian menjadikannya keluarga angkat untuk dinafkahi?
Kesimpulan:
——————
1. Argumen ‘motif sosial’ poligami tidak punya justifikasi empris.
Setidaknya relevansinya di era sekarang tidak ada.
2. Mungkin (mungkin!) poligami halal. Tapi at best, secara sosial ia adalah tindakan sia-sia. Kalau untuk hal2 lain Islam mengatakan bahwa yang sia-sia bisa menjadi haram, sama halnya dengan poligami toh?
3. Yang masih tersisa adalah argumen ‘motif syahwat.’ Bukan motif sosial.

Catatan kaki:
——————-
1. Data yang digunakan adalah data SP 2000. Kita bisa beranggapan rasio gender tidak akan banyak berubah dalam 6 tahun. Tapi kalaupun berubah, trend justru menunjukkan bahwa makin lama jumlah laki2 makin banyak, dan sex ratio makin condong ke laki2 (’surplus’ laki2 makin besar dari tahun ke tahun).
2. Di tahun 70-80an memang jumlah penduduk perempuan lebih banyak. Tapi paling rendah, rasionya hanya sekitar 97 perempuan per 100 laki-laki. Secara statistik ini tidak cukup untuk mendukung hipotesus ’surplus perempuan.’

Selasa, Januari 06, 2009

TOP TEN BLOGGER 2008

http://fatihsyuhud.com/2008/12/31/top-ten-blogger-indonesia-2008/

Top Ten Blogger Indonesia 2008

Posted on December 31, 2008
Filed Under Blogger Indonesia, Indonesia, blogging

The essence of blogging, as I put it as a jargon in my Bahasa Indonesia blog, is to culturalize the tradition of writing and reading. Many Indonesians, like those who are from developing or underdeveloped nation, don’t have the habit of writing and reading. They talk a lot. Write and read less. And that’s why, some foreign academicians who come to Indonesia were a bit shocked to find out the lack of reading and writing habit among Indonesians even within the so-called middle class family. The lack of reading naturally would end up in the lack of blog content “charisma”.

There are a few exception, however. Those who can adopt a new positive tradition of modernity–in reading a lot. As a result they write many good articles, creating nice and unique posts and even making an enlightening comments in other blogs.

That’s one reason among others why I’d like to dedicate this year’s Top Ten Blogger Indonesia 2008 specifically to those who consistently make a good content, and no less important, write relatively regularly. A content which is unique and enlightening. By so doing I hope what they have done will be emulated by others especially those bloggers who come later. It’s also my own way to appreciate and encourage those who passionately write good blog articles without worrying or thinking about traffics. A good content blog may not make a big traffic, and thus, a big impact in a short term, but certainly they will in a long shot.

Blogs has grown rapidly in Indonesia. Ten or even hundreds of blogs are born everyday. They start blogging for various reasons. Either way they are an asset to make the tradition of writing and reading blossom in the unlikely place like Indonesia in which the middle class hobby and dream is nothing but to have a nice house, fancy cars and the collection of Chinese old ceramic instead of books.

Last but not the least, there are so many good blogs with good content. It’s a pity that I can pick only ten. It should not be understood, therefore, that the others ten are less good. The links in the bloggers’ name will direct you to the Blogger Indonesia of the Week review of a particular blogger from which you will find the blogger’s URL.

***

The Top Ten Blogger Indonesia 2008

1. Nana Podungge

2. Tasa Nugraza Barley

3. Rima Fauzi

4. Primadonna Angela

5. Agni Amorita

6. Anita Carmencita

7. Mulya Amri

8. Deden Rukmana

9. Sherwin Tobing

10. Dedi W. Sanusi

Happy New Year 2009 Everyone! Nothing like feeling anew and start afresh all the time! :)


SURPRISE ...

How long have I been idle to write in my 'intellectual' blog located at http://afeministblog.blogspot.com ?
Several months have passed since I started working as a school teacher that is really time-consuming (as well as energy-consuming!)
I have been complaining to myself due to this. So many complaints (seeing the injustice that happens to the marginalized ...) have been crowding my mind.
But I can only complain because I am just a very bad time manager: I cannot manage my time well: teaching, teaching, and teaching, then reading, biking, swimming, and writing, not to mention my chores as Angie's mother (just imagine the abundant things a single parent must do).
And last two-week-end-of-year holiday, I COULD only write two articles ("Feminism" and "True woman = modern feminists?") I still cannot spare time to write my 'abundant ideas' triggered by watching INTO THE WILD, and about Irshad Manji, the Muslim feminist lesbian.
That's why what a surprise to find an email in my mailbox from someone I don't know personally, to congratulate me. What congratulation is for? Curious, I opened it. And ... A Fatih Syuhud, the 'king blogger' in Indonesia who 'found' my blog in 2006 and featured me in his blog, has selected the TOP TEN BLOGGER 2008. And ... my blog is in among those TOP TEN BLOGGER 2008.
W-O-W ...
Here is the link. Click it ...

http://fatihsyuhud.com/2008/12/31/top-ten-blogger-indonesia-2008/

I am obviously indebted to many bloggers--that I don't remember or even don't know--who have given the link to my blog in their blogs. The link apparently lead the visitors in their blog to visit my blog.
I am also indebted to those people who have visited my blog, for sure.

I AM STILL DUMB-FOUNDED HERE.

C-Net 21.09 060109

Minggu, Januari 04, 2009

Jenggot versus UU APP

Aku baru saja membaca sebuah artikel tulisan Ulil Abshar, yang kudownload dari sebuah website beberapa minggu lalu. Karena kesibukan (NGELES) baru kali ini aku sempat membacanya. Judul artikel Ulil ini merupakan pertanyaan retorika, “Apakah bangsa Arab lebih unggul dibandingkan bangsa-bangsa lain?” Artikel ini ditulis oleh Ulil berdasarkan pemikiran seseorang yang dikenal sebagai Ibn Taymiyah. (You can just do googling using his name and the title of his book “Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim”. Or just search at www.superkoran.info for Ulil’s writing.)
Dalam tulisannya, Ulil menyebutkan salah satu anekdot yang sampai sekarang masih dijunjung tinggi para Arabian sebagai bukti Arabosentrisme yang kuat yakni pemeliharaan jenggot. Kaum laki-laki Arab memelihara jenggot karena hukumnya wajib, konon diperintahkan oleh Nabi. Selain itu, ternyata jenggot merupakan lambang ‘machoisme’ di Arab sana.
Mengapa tampil macho penting bagi seorang laki-laki?
Tentu karena berupaya untuk menarik kaum perempuan. (Bagi kaum heteroseksual tentunya.) Sesuatu yang bisa dipakai untuk menarik lawan jenis tentu bisa dikategorikan sebagai ‘seksi’. Sesuatu yang seksi tentu akan membangkitkan gairah seksual bagi mereka yang menganggap sesuatu itu seksi.
Nah, di Indonesia, segala sesuatu yang DIANGGAP akan membangkitkan gairah seksual, bisa dikategorikan sebagai porno. Dengan adanya UU APP, tentu hal-hal yang porno begini seharusnya ditutupi.
Seperti kaum perempuan yang harus menutup aurat tubuhnya karena dikhawatirkan akan membangkitkan gairah seksual yang melihatnya (laki-laki, bagi kaum heteroseksual.) UU APP telah menyulap kaum perempuan sebagai makhluk kriminal—jika mengenakan pakaian yang sedikit (apalagi banyak) terbuka, dan kaum laki-laki harus ‘dilindungi’ dari godaan meningkatnya gairah seksual. Itu sebabnya perempuan harus dipenjarakan di balik bajunya. (Lama-lama, bisa jadi seperti negara-negara Arab, dimana kaum perempuan dipenjara di balik tembok-tembok rumahnya, sehingga para perempuan Indonesia tidak berkeliaran di jalanan lagi.) Agar kaum laki-laki ‘selamat’ dari kemungkinan meningkatnya gairah seksual dalam dirinya.
Nah, kalau jenggot milik laki-laki pun bisa memicu gairah seksual kaum perempuan, bukankah seharusnya jenggot pun harus ditutupi? Laki-laki pun seharusnya memakai jilbab yang menutupi jenggotnya. Kalau laki-laki bisa jadi makhluk yang dilindungi (dari tubuh perempuan yang seksi), perempuan seharusnya dilindungi juga kan dari godaan jenggot yang seksi?
Dan kita tahu, gara-gara memelihara jenggot dipercaya sebagai ‘sunnah Nabi’ atau lebih parah lagi, ‘hukumnya wajib’, tidak hanya laki-laki Arab saja yang memelihara jenggot. Banyak laki-laki di Indonesia—juga yang bukan keturunan Arab—memelihara jenggot. Agar membuat pemiliknya nampak macho dan seksi?
Kalau tidak ingin dikatakan bahwa UU APP bersifat bias gender, harusnya kaum perempuan pun dilindungi dari kemungkinan meningkatnya gairah seksualnya dari melihat bagian tubuh laki-laki yang seksi kan?

(I myself never think that beardy men are more macho or sexier than those who don’t have beard.)

PT56 12.12 291208