Cari

Memuat...

Selasa, Januari 20, 2009

To Banyumeneng with love

Di awal kisah, ehm, sebenarnya aku ga begitu tertarik untuk mencoba track satu ini yang telah membuat beberapa dear b2w friends tergila-gila. “Rasanya ingin selalu kembali dan kembali ke sana,” kata salah satu yang ‘mbaurekso’ kawasan ini, Agung Tridja. LOL. So? Atas provokator siapakah akhirnya aku pun mencoba keperkasaan sepeda mungilku, semungil yang punya, di track yang serem, seru, dan ekstrim ini? LOL.

“Can’t wait for that Ma’am...” kata Eka di salah satu postinganku di MP. Maksudnya, he cannot wait to be my savior again, after being one in our trip to Maron. Lah, yang mau jadi savior ku aja cannot wait, mosok akunya melempem?

Akhirnya, itulah provokasi originalku mengikuti adventure kali ini, selain setelah Ipoet menyatakan diri mau menemaniku, agar aku tidak menjadi the only female adventurer. Maklum, aku masih ingat kata-kata seorang teman yang bilang, “Perjalanan ini akan memakan waktu lebih cepat kalau ga ada ini ini ini ...” sambil nunjuk ke para makhluk cewe. Lah, aku kan jadi ga enak hati? Kalau aku menjadi satu-satunya ‘scapegoat’ perjalanan memakan waktu lama?

Minggu 18 Januari 2009 aku meninggalkan rumah sekitar pukul 05.00, setelah sms Ipoet 30 menit sebelumnya, dan miscall pukul 04.57. Baru sampai di jembatan sungai Banjirkanal, ada sms masuk. Kukira dari Ipoet, ternyata dari Ardian—or Ian for short—a student of mine at LIA. “Ma’am, udah berangkat? Jadi kan kumpul di pom bensin Kedungmundu?” Ealah, Ian malah jadi ikut, padahal kemarin waktu kusms, dia ga konfirmasi mau ikut atau engga. Akhirnya aku pun tambah semangat gowes menuju meeting point di SPBU Kedungmundu.

Sampai di pertigaan Mrican – Lamper, aku berhenti untuk nelpon Ipoet karena dia belum kelihatan di situ. Eh, pada saat yang sama Erwin muncul dan menyapaku, “Mbak Nana!” Akhirnya aku berangkat ke SPBU Kedungmundu bareng Erwin, setelah Ipoet sms, “Aku tak mandi dulu ya mbak?” G-U-B-R-A-K!!!

Erwin was the first teacher of mine bagaimana menaklukkan tanjakan Kedungmundu, warming up sebelum naik bukit Banyumeneng.

Sesampai di SPBU, sudah ada mas Ndaru, Bambang RL, Arif RL, Didit (koncone sopo rek? Lali aku), beserta Ian dan beberapa temannya yang masih malu-malu duduk agak berjauhan dari tempat berdiri sang provokator utama, sang motivator yang selalu bilang, “Bisa ... bisa ...” “Mana ada yang ga bisa oleh seorang Ndaru?” kataku setengah ngomel setengah kagum dengan semangatnya. LOL.

Beberapa peserta lain yang berdatangan kemudian adalah Cahyo, Yudhi, Eka (bujubune, dia pakai kaos bergambar salah satu cewe manis yang naik sepeda onthel, hasil jepretan waktu joint event SOC, SLOWLY, dan b2w Semarang!!!) Darmawan, Pak Budi Seli yang datang bareng mas Nasir, my savior on my trip to Kedungjati. Wah, aman lah aku ini, dikitari my two saviors, plus sang provokator a.k.a motivator, dua teknisi dari RL, and the others. Setelah Ipoet datang sekitar pukul 06.10, rombongan pun mulai melaju ke arah yang dituju.

Baru memasuki kawasan off-road kita sempat berhenti sejenak (some friends sempat mampir ke sebuah toko membeli perbekalan karena tiba-tiba peserta ketambahan enam anak SMP/SMA), mas Ndaru yang punya keahlian provokasi (Absolutely we cannot say NO to him when this skill of his appears LOL), meminta Bambang RL untuk memperbaiki shifter, dll agar sepeda bisa kupakai dengan lancar, terutama waktu di tanjakan. “Tanjakannya lumayan ekstrim, kasihan mbak Nana kalau ga bisa pol mengganti gear ke nomor 1,” katanya.

Perjalanan cukup lancar sampai di puncak tanjakan, sebelum sampai di gedung segitiga biru. TTB jelas juga dong. LOL. Kalo terlewat TTB, bakal orang-orang ga henti-henti mengagumiku. LOL. LOL. Aku setengah prihatin sebenarnya melihat Ian dkk yang naik sepeda ala kadarnya, tentu perjalanan yang amat berat buat mereka. Apalagi this was their first off-road cross country trip.

Meskipun adikku sudah bilang bahwa turunannya tajam dan berbatu-batu besar, setelah trip dia ke Banyumeneng beberapa bulan lalu, waktu aku mulai menuruni aku sempat kaget dan ngomel, “Gile, kenapa jalan kayak gini dipilih ya?” kataku pada Ian, yang kebetulan berada tepat di belakangku. “Rem sepedamu bagus kan?” tanyaku padanya memastikan, ngeri membayangkan dia terjungkal atau sejenisnya itu. I must be responsible to his parents!

Untunglah aku memakai sarung tangan, sehingga meskipun kesemutan, seperti yang dikeluhkan Cahyo di postingannya, aku baik-baik saja.

Selama perjalanan, kedua saviors of mine bergantian menemaniku, maupun memberikan peringatan kapan jalanan licin, kapan aku sebaiknya TTB karena turunan yang sangat curam, dll.

Di tengah ladang yang tidak jelas milik siapa, ada dua orang perempuan yang memberitahu ada jalur lain yang bisa dilewati, selain jalur yang dipilih oleh mas Ndaru, karena mereka bilang, jalur yang dipilih mas Ndaru bakal melewati sungai, dan berhubung sedang musim hujan (udah untung dua hari hujan berhenti turun pada hari Jumat 16 Januari 09 dan Sabtu 17 Januari 09) air mencapai setinggi paha. Aku dan beberapa teman lain sempat bingung, sementara mas Ndaru sudah menghilang di depan. Tatkala kita bingung-bingung, tahu-tahu sang motivator balik. Kirain dia akan bilang, “Cari jalan alternatif lain. Di depan ada sungai banjir.” Ternyata dia bilang, “Bisa ... track bisa dilewati. Ayo lanjut terus...” “Apa sih yang ga bisa bagi seorang Ndaru?” kataku ke Erwin yang waktu itu berdiri tak jauh dariku. Setelah mengucapkan terima kasih dan pamitan kepada kedua perempuan yang baik hati itu, aku dll melanjutkan perjalanan menyusul mas Ndaru.

Everybody else out of the blue became my saviors tatkala sampai perjalanan melintasi sungai yang airnya setinggi pahaku dengan arus yang cukup deras. Teringat peringatan kedua perempuan yang kulewati tadi, sempat pula mengutuki sang motivator yang selalu penuh semangat menerjang semua rintangan. “Wong ada jalur lain yang lebih enak, kenapa pula melewati sungai ini?” (“Tak kutuk jadi kesayangan semua anggota b2w...” maksudku. LOL.)

Namun waktu aku mulai menuruni jalanan berlempung setinggi setengah betis, dan menghadapi sungai dengan arus yang cukup deras, aku teringat salah satu adegan di dalam INTO THE WILD, tatkala Christopher McCandles akan meninggalkan bus rongsokan tempat dia beraktifitas seorang diri di Alaska, rencananya untuk kembali ke dunia peradaban yang kejam terhalang oleh sungai yang airnya dalam dan arusnya deras. Sungai yang sama dia lewati beberapa bulan sebelumnya, waktu dia pertama kali datang, air hanya semata kaki, dan lebarnya tak lebih dari dua meter. Akhirnya daripada terbawa arus sungai yang deras, Chris pun kembali ke bus, kembali ke masa ‘pertapaannya’ yang sunyi, namun jauh dari ‘mean society’.

Beda dengan Chris, aku tidak sendirian. Aku dikitari orang-orang yang caring yang mengulurkan tangan untuk membimbingku menyeberangi sungai, “Jangan lihat ke arus yang deras mbak Nana ... lihat aja ke arah pohon-pohon yang ada di seberang sana itu. Atau pandanglah mas Dar yang menunggu di situ. Yang penting jangan lihat bawah, jangan lihat ke arus air.” kata mas Nasir (atau mas Ndaru ya? lupa. Saking gelinya karena aku diperlakukan seperti anak kecil. LOL. But I love it a lot.), yang mengulurkan tangannya kepadaku, setelah aku melepaskan uluran tangan Pak Budi Seli, yang tegak berdiri di sisi sungai untuk menceburkan diri ke sungai; yang memanggul sepedaku sampai ke seberang (Arif RL), yang asik mengabadikan moment-moment terindah ini lewat kameranya (Cahyo).

“Wong ono dalan sing luwih enak kok malah do milih nyemplung kali...” komentar seorang laki-laki, berusia sekitar 50 tahun waktu melihat aku menyembul dari balik pohon-pohon. Dia tentu telah melihat kesibukan di bawah sana, di sungai tatkala teman-teman memindahtangankan sepeda dari satu orang ke orang lain.

“Lha wong sing digolekki yo sing koyok ngono kuwi, petualangan,” kata sang Bapak yang memiliki warung sederhana tempat kita muncul dari jalan setapak (yang berlumpur setinggi setengah betis, di musim hujan begini), setelah kita menyeberangi sungai.

Aku pun menyahut, “Leres niku pak. Saestu.” 

Setelah bersih-bersih kaki menggunakan air sumur yang ada di dekat situ, kita pun melanjutkan perjalanan. Salah satu track memorable lainnya adalah waktu melewati jalan setapak yang tak lagi terlihat jalan setapaknya karena telah dipenuhi dengan rimbunan rumput yang setinggi manusia. (“Di musim kemarau ga kayak gini mbak! Ga ada rumput yang setinggi itu sehingga kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan kita.” Kata Ipoet. Baru kepikiran sekarang waktu nulis, untung ga ada ular yah? )

Tidak lama setelah itu, RD sepeda Eka putus. (oh my poor savior. LOL.) Sebelum melewati sungai, di jalan turunan yang cukup curam, pelek depan sepeda Didit benjut gara-gara dia nabrak pohon. Tengarai mas Ndaru, Didit ga mampu menahan emosi kegirangan dengan turunan seperti itu, sehingga rada meleng, dan telat mengerem waktu akan roda depan akan mencium pohon. Dengan nada ‘otoriter’ yang tidak bisa dijawab TIDAK, mas Ndaru memanggil seseorang yang kebetulan lewat naik sepeda motor, “Mas, tolong nih, kita butuh ojek. Bawa sepeda mas ini ke rumahnya Rp. 20.000,00 ya?” bisa dipastikan orang itu pun langsung bilang, “Iya...” LOL.

Selepas Pucanggading, di pertigaan rombongan terbagi menjadi dua, ke kanan menuju arah Jalan Majapahit, sedangkan yang ke kiri ke arah Kedungmundu. Aku memilih jalur yang landai saja, sehingga aku pun belok ke kanan.

Aku, Ipoet, Cahyo, Eka, Yudhi, dan Erwin mampir ke rumah Darmawan. Eka yang terpaksa menaiki sepeda rakitan terbarunya dengan single speed sudah terlihat teler. Aku semula heran mengapa Erwin memilih ke jalur kanan, bukannya dia lebih dekat lewat Kedungmundu? Ternyata dia berinisiatif menitipkan sepedanya di rumah Darmawan, dan pulang ke Jatingaleh naik taksi. Yudhi yang sudah sama telernya (ga ngebayangin dia harus naik lewat Gombel) ngikut bareng Erwin.

Aku mengaku masih segar bugar sehingga memutuskan untuk gowes sampai rumah. Meskipun track Banyumeneng jauh lebih ekstrim, kelelahan yang menimpaku tidak separah sewaktu XC ke Kedungjati, 80km!!! Kali ini sampai rumah, aku masih punya tenaga full untuk mencuci pakaian kotor selama satu minggu, my weekly chore.

Sebelum sampai rumah, sempat mampir ke tempat cucian sepeda motor untuk mencucikan si orange. Ini kali kedua aku ke situ (dekat rumah sih). Yang pertama dulu aku bawa WINNER ke situ, dimana tak satu pegawai pun semula berniat mencucinya. Bukannya mencuci sepeda jauh lebih ringan yah dibanding sepeda motor? Aku sendiri heran.

“Kemarin seru banget ya Ma’am?” sms Ardian beberapa jam lalu.

“Absolutely agree!” jawabku.

Since I dubbed everyone else my savior in this trip, I entitled this trip, “To Banyumeneng with love.”

See you all guys on our next trip.

PT56 00.14 200109

For the pictures, just visit the following site:

http://cahyofany.multiply.com/photos/album/20/Banyu_Meneng_Mud_Edition#


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar