Cari

Selasa, Januari 22, 2008

Bad Experience to be Good

Should people need a “bad experience” first to be good people?
This is the story of one student of mine. His parents told him to be patient when driving so that he wouldn’t get any accident or any other bad experience. Driving a car needs patience more than riding a motorcycle especially during traffic jam, because a car cannot sneak among any other vehicles as easily as a motorcycle.
Unfortunately, one day he got up very late so that he had to be in a hurry to attend an English class at campus. He had passed two red traffic lights safely when he got his ‘lesson’. At the third traffic light, a car driven by a quite old man stopped in front of his car. He could not stop his car on time so that he crashed the back of the old man’s car. There were some policemen in one police post not far from there. He eventually got caught red handed.
As a result, he was too late to go to campus. To make it worse, he had been absent for several times in that English class. He wouldn’t be able to follow the exam if his attendance was less than 75%.
What was the lesson he somewhat forced to get from his bad experience?
He didn’t dare to oversleep. He always tried his best to wake up early on the particular day when he had the English class, to come early to campus.
“If on that day I could pass all the traffic lights safely, to arrive at campus on time, I would wake up late afterwards, and would get problems to be in a hurry every time going to campus,” he admitted.
LL 18.35 220108

Rabu, Januari 09, 2008

Semarang

My fellow Semarang dwellers,
How sure are you that you know each part of this beloved city of ours? Take a look at the following pictures.
The first picture:

This is the first impressive building for me when the first time I passed artery road, from somewhere in Tanah Mas area until the end of the artery road, the junction among the artery road, the Kaligawe road, and the Terboyo bus terminal. This building is apparently a part of many “new” buildings (new for me, who is the homebody type. LOL.) at the Tanjung Mas port.

The second picture is also the second building attracting me when passing the artery road. Especially for my regular blog visitors, I passed the road the first time some time in December, when Kaligawe area was flooded so that Pak Har, one of my students of Bank Jateng Demak, drove his cute car to Demak via artery road. I, as the passenger, enjoyed the scenery I could see outside the car window. :)
The other impressive scenery along the artery road is the sea!



Before coming to the sea, you can see many areas made to be embankments, or whatever you call it. When I don’t get bored looking at the sea, or embankment sceneries along the artery road, I remember my “dream” to live exactly at the side of one beach, with its beautiful white sand, and its very blue sea water, so that every time I wake up in the morning, going out of my dwelling place, I will always see those lovely sceneries. However, tsunami disasters happening in some places force me to forget this “dream” of mine. Instead, well, at the moment, I can go on living in Semarang, and often spend time to go along the artery road. LOL.
PT56 13.40 090108

Rabu, Januari 02, 2008

Nana si Rebel

Tanpa kuketahui penjelasan secara logis, di antara keempat anak Mami Papi, aku nampak beda sendiri, yang pasti aku bukan anak ‘nemu’ di onggokan tempat sampah, seperti godaan Mami kepada adikku waktu kita masih kecil. Papi yang memiliki kulit warna terang membuatnya nampak mirip orang berdarah Tionghoa. Waktu duduk di bangku SD dulu, belum kenal yang namanya keluyuran, ikut karate, maupun berenang, warna kulitku pun terang, meskipun hal ini tidak berarti aku jadi nampak mirip orang Cina. Kakakku memiliki warna kulit yang lebih gelap dari aku, meskipun dia tipe orang rumahan, membuatnya tidak nampak mirip orang Cina pula. Namun kedua adikku, yang kata banyak orang mirip saudara kembar, meski beda umur 6 tahun, sering disangka orang Cina, walaupun mata mereka tidak Oriental. Kedua adikku dan kakakku memiliki tekstur wajah yang mirip membuat orang yakin mereka memang sedarah, berbeda denganku.
Adikku yang biasa dipanggil Anggie TeLa memiliki beberapa teman berdarah Cina, yang di awal perkenalan sering menganggap adikku pun berasal dari etnik yang sama. Hal ini terjadi terutama semenjak dia ikut PRANA, yang kemudian dilanjutkan dengan FALUN. Dengan teman-teman PRANA dan FALUN, dia sempat pergi ke luar kota untuk melakukan kegiatan ini itu, misal mempromosikan FALUN agar orang-orang mengenal cara alternatif untuk menjaga kesehatan dengan melakukan olah tenaga dalam.
Sementara itu, adik bungsuku yang dipanggil Anggie TeLi bekerja di sebuah radio swasta yang biasa menyelenggarakan acara karaoke untuk para pendengarnya, dan sering pula musik yang dipilih untuk berkaraoke ria adalah lagu-lagu Mandarin. Bukan hal yang mengherankan jika kemudian penggemarnya pun orang-orang berdarah Cina. Hal ini lebih terlihat jelas tatkala dia diopname di rumah sakit, sebagian besar orang-orang yang menengoknya berkulit kuning dan bermata sipit. Perbedaan etnis, agama, maupun kultur tidak nampak lagi, tatkala aku ikut ngobrol dengan mereka. Mami yang mudah merasa haru, senantiasa nampak begitu grateful tatkala orang-orang itu datang, berusaha menghibur adikku yang tergolek lemah di tempat tidur.
Beberapa hari lalu, aku sempat mendengarnya berkata ke salah seorang penengok itu, “Mohon doanya ya, semoga anak saya lekas sembuh.”
Kalimat yang seharusnya terdengar biasa saja menjadi SANGAT LUAR BIASA di telingaku karena aku kenal banget karakter Mami yang mungkin bagi seorang Laksmi, si penulis “Addicted to Religion” di www.superkoran.info termasuk ‘imbecile’. (I hate to say this, but memang begitulah keadaannya.) “My mom is so desperate to see her youngest child lying helplessly due to typhoid that she asked people—whose pray she believes (in her ‘normal’ condition, not desperate) wouldn’t be listened by God because they are not Muslim—to pray for my youngest sister.” Aku berkata pada diri sendiri, takjub.
Masih jelas terekam dalam ingatanku tatkala Mami (tidak hanya Mami, namun juga guru-guru agama waktu aku sekolah) men’doktrin’ku bahwa orang-orang Islam tidak boleh meminta doa orang beragama lain, dan orang-orang Islam tidak boleh mendoakan orang yang beragama lain karena doa itu tidak akan didengar—apalagi dikabulkan oleh Tuhan. Ada satu peristiwa—seingatku—yang selalu dijadikan rujukan oleh umat Islam bahwa tidak diperbolehkan berdoa untuk umat antaragama; waktu Abu Thalib paman Nabi Muhammad SAW meninggal dalam keadaan non Muslim. KONON Nabi sangat terpukul dengan kematian pamannya dalam keadaan non Muslim, sehingga praktis Abu Thalib tidak memiliki tiket untuk masuk surga. Mengingat jasa dan pengorbanan Abu Thalib yang begitu besar untuk kemajuan agama Islam, Nabi pun berdoa agar Allah mengampuni segala dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Di tengah-tengah berdoa itu, Nabi “disentil” oleh Allah dengan mengingatkannya bahwa orang Islam tidak boleh mendoakan orang beragama non Islam. “Ingat, surga hanya untuk umatmu saja, orang-orang yang beragama Islam,” konon demikianlah Allah berfirman kepada Nabi. Mendapatkan peringatan itu, Nabi menangis, memohon ampunan kepada Allah, karena telah kelepasan kontrol. Namun Allah berjanji kepada Nabi bahwa siksaan di alam akhirat nanti kepada Abu Thalib akan sangat ringan, mengingat jasa Abu Thalib yang besar.
“Dongeng” di masa kecil ini jelas merupakan salah satu dongeng yang pantang kuceritakan kepada Angie, kecuali kalau dia bertanya kepadaku mengenai hal ini, karena mendapatkan ‘doktrin’ dari guru agamanya di sekolah.
Aku masih mengharapkan keluargaku, terutama, dan orang-orang Islam, pada umumnya, untuk mengalami perjalanan spiritual yang membuat mereka tak lagi menjadi ‘imbecile’ yang addicted to religion blindly, dengan mematikan akal sehat mereka.
BWT 14.22 301207

Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama


Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang, atau yang (mungkin) lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Tentara (RST) terletak di Jalan Dr. Soetomo, dekat sekali dengan Tugumuda, salah satu landmark kota Semarang. Waktu aku kecil dulu (baca  aku duduk di bangku SD), orang tuaku biasa mengajak anak-anaknya periksa ke dokter mata Dr. Widagdo di RST lewat pintu masuk ‘belakang’ yang terletak di daerah yang disebut Karangasem (aku lupa nama jalannya LOL). Namun sekarang pintu masuk lewat belakang (dulu kupikir itulah jalan masuk utama alias ‘depan’) itu tidak lagi dibuka untuk umum, sehingga semua pasien, penjenguk pasien, dll harus masuk melalui pintu gerbang yang terletak di Jalan Dr. Soetomo.
Di rumah sakit inilah, adikku diopname sejak malam Natal 2007 sampai menjelang malam tahun baru 2008. Dengan alasan yang tidak kuketahui secara pasti, tempatnya yang strategis di tengah kota nampaknya tidak dimaksimalkan oleh pihak pengelola, sehingga misalnya bisa bersaing dengan rumah sakit yang lain, agar mendapatkan prestise yang lebih tinggi.
Ibu dan adikku, yand dipanggil Angie TeLa, memutuskan agar adikku yang paling kecil, yang dipanggil TeLi oleh Angie, untuk ditempatkan di kamar nomor 2 dengan dua alasan. Pertama, takut sendirian jika berada di kamar nomor 1, (ngeri dengan rumah sakit yang tentu “spooky” LOL). Kedua, tentu harganya lebih ekonomis dibandingkan jika dirawat di kamar nomor 1. Di kamar nomor 2, ada tiga buah tempat tidur, untuk tiga pasien. Di atas tempat tidur, ada sebuah selimut, sebuah bantal, dan sarung bantal beserta sprei yang tidak pernah diganti, semenjak adikku masuk sampai meninggalkan rumah sakit. (Dengan tidak sopannya aku sempat memprotes seorang suster mengapa sarung bantal, sprei, dan selimut tidak diganti setiap hari, seperti di hotel. LOL. Suster itu diam saja, tidak menanggapi.)
Masing-masing pasien mendapatkan sebuah paket, tatkala pertama kali masuk, yang berisi sebuah gelas ukuran tanggung, tutup gelas, pasta gigi kecil, sekitar 30 gram, sebuah sikat gigi, sebuah sendok makan, sebuah sabun, dan sebuah waslap—kayaknya gitu deh namanya. LOL. Setiap hari pasien mendapatkan makan tiga kali, namun tanpa air minum sama sekali, sehingga keluarga pasien harus menyediakan sendiri air minum, baik air putih, maupun teh hangat.
Satu hal yang ‘kusukai’ dari RST ini adalah penengok pasien, baik keluarga, maupun pihak lain, bisa datang 24 jam. Aku dan adikku bisa setiap saat datang untuk bergantian jaga. Angie pun bisa datang menjenguk tantenya setelah pulang sekolah, tanpa terbatasi jam besuk. Kita juga tidak diusir untuk segera pulang jika jam besuk usai.
Namun, seperti biasa, selalu ada plus minus dalam satu hal. Karena ‘sangat ramah’ terhadap pengunjung inilah satu peristiwa tidak enak terjadi. Minggu dini hari tatkala adikku terlelap di atas karpet kecil di pojok ruangan, tiba-tiba terbangun karena merasa ada gerakan yang mencurigakan masuk ke dalam kamar dimana adik bungsuku dirawat. Ada seorang laki-laki menatap adikku, seolah-olah ingin memastikan apakah dia sedang tidur atau terjaga. Adikku yang super galak itu, LOL, langsung bertanya,
“Ada apa Mas?”
Laki-laki itu menggumam, dengan nada bertanya, “Pasien Risma?”
“Bukan!” jawab adikku.
“Oh, maaf, salah kamar,” kata orang itu lagi, kemudian keluar.
Adikku yang masih setengah tidur setengah sadar, ditambah mata minusnya, tentu tidak sempat melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.
Keesokan harinya, keluarga pasien di kamar sebelah kehilangan dua buah handphone.
*****
Thank God, Senin 31 Desember 2007, dokter Taufik yang bertanggung jawab atas sakitnya adik bungsuku telah membolehkannya pulang. Sekarang dia tinggal dalam proses pemulihan kondisi tubuhnya. Di rumah, kita semua bisa saling gantian mengurusnya, tanpa perlu meninggalkan rumah. Beban psikologis yang selama ini menggayuti kami sekeluarga telah pergi. Alhamdulillah.
PT56 18.33 010108