Cari

Memuat...

Rabu, September 12, 2007

Dugderan

‘Dugder’ atau ‘dugderan’ adalah pasar malam yang biasa diadakan di kota Semarang, sekitar seminggu menjelang kedatangan bulan Ramadhan. Di zaman dulu, berdasarkan yang ditulis oleh Nugroho Suksmanto dalam cerpennya yang berjudul “jadilah Orang Cina!” (bisa ditelusuri dalam blog ku ini juga, klik saja label “Book Review”), dugder merupakan waktu bagi para penduduk Semarang untuk mengumpulkan uang untuk menyambut kedatangan Hari Raya Idul Fitri setelah bulan Ramadhan usai. Di areal dugder, orang biasa mendapati berbagai macam mainan tradisional—misal gasing—pakaian, makanan, serta ‘maskot’ dugder, yakni warak.
Kata ‘dugder’ sendiri konon berasal dari suara bedug yang ditabuh—yakni ‘dug’—sebagai pengumuman kepada khalayak ramai bahwa bulan Ramadhan akan segera tiba; sedangkan kata ‘der’ berasal dari suara mercon yang biasa dinyalakan untuk menunjukkan keriangan dalam menyambut bulan puasa. Semenjak aku kecil, sampai sekitar dua tahun yang lalu, dugder diselenggarakan di sekitar jalan Agus Salim, dimana Pasar Johar, yang merupakan pasar tradisional terbesar, dan bangunannya merupakan peninggalan Belanda, terletak. Sejak tahun lalu, lokasi dugder dipindah ke daerah kota lama, yang mulai tahun ini dijadikan areal ‘city walk’ dengan alasan jika tetap diselenggarakan di lokasi lama, dugder akan mengganggu lalu lintas jalan Agus Salim yang biasa padat. Sayangnya areal yang disediakan oleh pemerintah di lokasi baru lebih sempit dibanding di lokasi lama. Jika di zaman dulu, dugder memberikan kesempatan pada para penduduk Semarang untuk mencari tambahan rezeki, sekarang para pedagang yang mencari keuntungan ini berasal dari berbagai kota di pulau Jawa.
Hari Minggu kemarin aku berjalan-jalan dengan adikku dan mengambil beberapa gambar, demi memuaskan keinginanku untuk ngeblog.  FYI, Nunuk, adikku, empat tahun lebih muda dariku, yang tentu saja membuat kita share the same experience when we were little. Mengunjungi dugder berarti bernostalgia bagi kita berdua mengingat masa kecil. :)
Pedagang pertama yang kami kunjungi adalah pedagang gasing, yang mengaku baru datang pada hari itu, untuk mengadu untung, dari daerah asalnya, Gunung Kidul. Dia mengaku datang dari Gunung Kidul bersama sejumlah pedagang lain, dengan barang dagangan yang sama, gasing. Setiap tahun di ‘musim dugder’, dia biasa datang ke Semarang dan berjualan gasing. Di saat-saat lain, dia berkeliling kota, kadang ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain di pulau Jawa untuk melakukan hal yang sama—berjualan gasing. Dia menjual gasing Rp. 5000,00 per buah. Di bawah ini adalah gambar Nunuk yang sedang belajar memutar gasing, sebelum membelinya. :))


Di bawah ini adalah celengan (piggy bank) yang tidak lagi berbentuk ‘celeng’ LOL, terbuat dari batok kelapa, yang seingatku waktu aku kecil dulu malah tidak ada. Celengan dulu biasa terbuat dari gerabah, mengambil bentuk berbagai macam binatang. Waktu kecil aku juga punya, dan biasa kulobangi bagian bawahnya, untuk mengambili uangnya lagi. LOL.

Ini adalah kapal-kapalan. Cara memainkannya, kita bisa meletakkan sekepal kapas yang dibasahi oleh minyak, kemudian kita nyalakan kapas itu dengan korek api. Seperti kapal uap, setelah memproduksi uap, kapal-kapalan ini akan berjalan di atas air. Waktu kecil dulu tentu yang biasa dibelikan adalah kakakku, satu-satunya anak laki=laki dalam keluargaku. Dan aku senang-senang aja bermain kapal-kapalan bersamanya. Waktu Angie kecil, aku pernah juga membelikannya, agar dia ikut merasakan bagaimana rasanya bermain kapal-kapalan. :)

Di bawah ini juga mainan ‘khas anak laki’laki’, yaitu mainan mobil-mobilan yang mengambil bentuk bus dan truck.

Berikut ini merupakan mainan ‘khas anak perempuan’ (pembentukan ‘kesadaran gender’ sejak kecil, eh? LOL), yakni peralatan dapur, mulai dari piring-piringan, gelas, cangkir, wajan, kompor, dll. Jika di masa kecilku, yang ‘trend’ adalah mainan yang terbuat dari gerabah, yang gampang pecah jika jatuh; di zaman Angie kecil, sudah mulai banyak mainan yang terbuat dari plastik maupun aluminium. Waktu kecil, semakin lengkap permainan yang terbuat dari gerabah yang dipunyai—piring, gelas, cangkir, wajan, kompor, panci, keranjang belanja, dll—akan semakin menaikkan gengsi seorang anak di mata teman-temannya. LOL.




Mainan kuda lumping lengkap dengan pecutnya ada juga di dugder yang kukunjungi bersama Nunuk. Ini agak mengherankan bagiku karena seingatku waktu kecil, aku tidak pernah memainkannya. Mungkin karena my dearest parents tidak pernah membelikannya. Pertama kali aku melihat pecut, aku terheran-heran, dan bertanya kepada Nunuk, “Ini apaan yah?”
“Pecut kayaknya mbak,” jawab Nunuk.
“Goodness. Bukannya ini berarti mengajari anak-anak untuk melakukan kekerasan?” keluhku.
Tiba-tiba si penjual menghampiri kita berdua, dan berkata, “Ini pecut mbak, bisa dicoba kok kalau mau.”
Aku yang masih shocked menemukan pecut/cemeti di areal dugder, nyeletuk, “Buat mecut Bapak?”
Si penjual—yang kusapa ‘Bapak’—pun tersenyum kecut.
Tak lama kemudian, Nunuk menemukan ‘puzzle’ ini, “Mbak, mungkin pecut ini dijual satu rangkaian dengan kuda lumping ini. Para pemain kuda lumping kan biasa memainkan pecut toh?”
Ups ... iya ya? :(


Di bawah ini adalah ‘maskot’ dugder yang semakin tahun semakin tidak populer: WARAK. :) Jika di zaman kecilku dulu, ada banyak pedagang yang memasarkan warak di tempatnya berjualan mainan, tahun ini, aku hanya menemukan satu pedagang saja yang menawarkan warak. Jika memang ‘warak’ ini merupakan gabungan wakil tiga etnik di Semarang—Arab (leher yang panjang, serupa onta), Cina (kepala yang berbentuk naga), dan Jawa (badan yang menyerupai kambing Jawa)—harus kuakui, si ‘pencipta’ warak ini benar-benar genius. Sayangnya orang-orang di zaman sekarang tidak mampu ‘menangkap’ makna yang terkandung dalam warak ini, yakni kesatuan dari ketiga etnik, untuk benar-benar mempraktekkan bhinneka tunggal ika dengan penuh toleransi, tanpa satupun merasa sebagai pihak yang mainstream, sehingga ‘dimaklumi’ jika melakukan marjinalisasi.
Dulu waktu kecil, aku biasa mendengar orang-orang menyebutnya ‘warak ngendog’ alias bertelur. Para pedagang biasa menjualnya dengan satu butir telur asin. Di zaman susah dulu (sekarang zaman lebih susah lagi ya? LOL), telur merupakan satu menu istimewa. Biasanya orang tua (dulu) menghadiahi anaknya dengan membelikan warak ngendog untuk merayunya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. :)


Kembang api selalu identik dengan bulan puasa dan Lebaran, seingatku waktu kecil. Setelah aku dewasa, orang-orang mulai menyalakan kembang api untuk menyambut hari-hari ‘besar’ lain, seperti tahun baru, dan hari kemerdekaan 17 Agustus.
Dulu, waktu mercon belum banyak merenggut korban, aku juga pernah bermain-main dengan mercon, bersama kakakku. :)

Di bawah ini adalah gambar barang seni pahat yang ikut meramaikan dugder tahun ini.

Sandal-sandal di bawah ini dijual dengan harga yang cukup murah, berkisar antara Rp. 15.000,00 sampai Rp. 17.500,00 sepasang. Dugder memang merupakan ‘pasar’ khas komunitas dari kalangan menengah ke bawah. :)

Beberapa barang dagangan yang lain.



Tak lupa, ada juga pedagang buah korma yang merupakan buah khas sajian di bulan Ramadhan.

Puncak perayaan dugder akan diselenggarakan pada hari Rabu 12 September 2007, berupa prosesi karnaval dari Masjid Agung Kauman yang terletak di dekat Pasar Johar, menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah. Akan ada semacam ‘re-enactment’ (boso Jowone opo yo??? LOL) dimana Kanjeng Bupati Semarang (tahun ini diperankan oleh Sukawi Sutarip, Wali Kota Semarang) akan menyerahkan suhuf berisi ketetapan para ulama tentang awal puasa kepada Kanjeng Gubernur, yang tahun ini akan diperankan oleh Ali Mufiz, Wakil Gubernur, karena Mardiyanto telah dilantik menjadi Menteri Dalam Negeri. Sejak aku kecil sampai sekarang, aku belum pernah nonton ‘re-enactment’ ini. Zaman kecil dulu, karena aku tergantung orang tua, apakah mereka memperbolehkan aku nonton atau tidak, LOL, dan mungkin orang tuaku tidak pernah memperbolehkan aku pergi.  Sekarang, aku juga tidak bisa menontonnya karena aku harus masuk kerja. Apa boleh buat?
PT56 12.20 110907

2 komentar:

  1. terlalu menyelubuk

    yang singkat padat jelas dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. dear 'koment'
      setelah kubaca lagi, menurutku sudah cukup singkat dan padat
      so, kira-kira sebelah mana ya yang terlalu 'menyelubuk'? :)

      Hapus