Cari

Memuat...

Kamis, September 20, 2007

Sastrawan vs Sastrawan

Beberapa bulan lalu, seorang teman—sebut saja namanya Celia—yang sekarang sedang menimba ilmu di Kansas University mengambil jurusan “English Literature” di tingkat Master’s Degree menelponku. Celia sebenarnya telah menyelesaikan studinya di jenjang Magister jurusan “Susastra” di Universitas Diponegoro. Untuk tesisnya waktu itu dia meneliti “Lady Chatterley’s Lover” karya D.H. Lawrence dengan berangkat dari teori feminisme dalam memandang konflik dalam diri Lady Chatterley. Di telpon dia bercerita tentang salah satu tesis yang dia baca dengan topik yang mirip dengan tesisnya di Kansas University. Yang membuat Celia sangat tertarik adalah penemuan si penulis tesis akan adanya anal sex yang dilakukan oleh Lady Chatterley dengan kekasih gelapnya.
“How brilliant the writer of the thesis is. She could come to that conclusion only from what the lady’s lover said, ‘I love and admire your ass.’ And when remembering again the whole story, i couldn’t agree more with her in this part.”
Kemudian aku bertanya kepadanya,
“If you had come to that conclusion too in your research, would you write that in your thesis?”
Celia terdiam beberapa saat dan akhirnya mengatakan,
“Maybe not. I am too shy to write such a thing in my thesis.”
I commented,
“You got my point there. You know it is all because of our eastern culture. Even in doing scientific research, we oftentimes have to consider which is taboo and which is appropriate to write. And I remember what you said about your thesis advisor who was a flirt. I related his being flirt to you with the topic of your thesis—a woman’s right to get her happiness by having a secret lover because she did not love her husband. With your viewing it from feministic perspective, your thesis advisor viewed you differently too. I was quite sure that he was just a patriarchal man who believed in the stereotyping of good women and bad women.”
And due to that, Celia gave me a compliment, “That’s why I always think that you deserve more to be here, to get this scholarship, than me. You are more alert than me.” LOL.
Di awal penerbitan Lady Chatterley’s Lover, publik pun mengecamnya sebagai karya sampah dari seorang novelis terkenal yang hanya memaparkan pornografi semata. Menghadapi tuduhan tersebut, Lawrence berargumen:

“The mind has an old grovelling fear of the body and the body’s potencies. It is the mind we have to liberate, to civilize on these points. ... I stick to my book and my position: Life is only bearable when the mind the body are in harmony, and there is a natural balance between them, and each has a natural respect for the other.”

Membaca debat kusir di milis tentang sastrawan versus sastrawan beberapa hari terakhir ini mengingatkanku pada perbincangan pendek antara aku dan Celia ini. Begitu mudah orang menjatuhkan ‘predikat’ yang biasanya ditujukan kepada satu kelompok penulis lain yang tidak ‘sealiran’—misal, sastra wangi, sastra lendir, atau mungkin karya murahan untuk menaikkan pamor. Orang-orang yang merasa lebih berhak untuk menyandang predikat ‘sastrawan’ dan mem-blacklist kelompok lain. Dan untuk berpolemik masalah seperti ini, emosi pun ikut berbicara. Mungkin memang benar apa kata Abang, keadaan Indonesia yang sedang ditimpa beragam masalah telah membuat orang-orang—termasuk para ‘sastrawan’—untuk membiarkan emosinya tersulut secara tak terkendali.
Mengacu ke tulisan yang kupost sebelum ini, biarlah masyarakat yang akan menjatuhkan pilihan, karya sastra macam mana yang akan mereka baca
PT56 11.11 200907

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar