Cari

Rabu, Oktober 31, 2007

Polemik Sastra

My blog visitors,
Beberapa bulan lalu jagat permilisan dan blogging di Indonesia sempat riuh rendah (well, kayaknya sampai sekarang masih deh, only I don’t really follow the hubbub of it) tentang dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Dari beberapa messages yang masuk ke milis RumahKitaBesama kudapati semua bermula dari tuduhan Taufik Ismail terhadap Komunitas Utan Kayu—disingkat dengan KUK (Ayu Utami was once an active member of this community. The recent news I read several weeks ago stated that she no longer actively involved herself there) sebagai pangkal sastra yang beraliran Gerakan Syahwat Merdeka, yang bisa disingkat GSM, yang mengacu ke Goenawan Soesatyo Mohammad, salah satu pendiri majalah TEMPO, yang pernah digosipkan menuliskan beberapa bagian novel SAMAN, yang merupakan novel karya pertama Ayu Utami yang memenangkan sayembara penulisan novel tahun 1998.
You can guess, di mata seorang Taufik Ismail, karya Ayu Utami—yang merupakan salah satu anggota KUK—tentu dimasukkan kedalam kategori sastra sampah.
Aku menganggap diri sebagai seseorang yang berada di luar barisan sastrawan maupun kritikus sastra Indonesia, meskipun dulu aku kuliah di jurusan Sastra Inggris, dan kemudian kulanjutkan di program American Studies dan mengambil jurusan American Literature and Culture. Selain itu aku juga mengajar beberapa kelas sastra di tempat kerja. Aku hanya merupakan salah satu penikmat karya sastra Indonesia, walaupun jumlah karya yang kubaca masihlah sangat terbatas. I can mention some “qualified” works I have read, such as “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, salah satu karyanya yang sangat terkenal berhubungan dengan ‘takdir’ seorang perempuan; “Para Priyayi” karya Umar Kayam; “Burung-burung Manyar” karya Romo Mangunwijaya, untuk karya yang kontemporer, “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami, “Cantik itu Luka” karya Eka Kurniawan, “Supernova – Petir” karya Dewi Lestari, “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Untuk karya ‘klasik’ such as “Salah Asuhan” karya Abdul Muis, “Atheis” karya siapa entah aku lupa , kubaca sewaktu kuliah S1 dulu untuk kuliah “Kritik Sastra”. Selain itu, aku juga penikmat karya-karya Djenar Maesa Ayu, Agus Noor dan beberapa penulis lain.
Akan tetapi, meskipun aku merasa bukan merupakan barisan sastrawan maupun kritikus sastra, tentu tidak begitu saja aku suka dengan ide dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Seperti yang kutulis dalam salah satu post di blog yang kuberi judul “High Literature versus Popular Literature” yang lumayan menarik perhatian orang untuk berkomentar (you can check it in my two posts at http://afemaleguest.blog.co.uk/2007/09/20/high_literature_vs_popular_literature~3009677 and http://afeministblog.blogspot.com/2007/09/high-literature-vs-popular-literature.html). Siapa yang merasa berhak untuk ‘menghakimi’ bahwa satu karya itu hebat sekali sehingga bisa dikategorikan masuk ‘kanon’ dan yang lain tidak, bahkan cenderung dimasukkan ke dalam kategori sastra sampah? Banyak orang mengelu-elukan karya Pramoedya Ananta Toer; bahkan Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu sewaktu aku kuliah S2 dulu menyukainya, dan menyesal karena ketidakmampuannya dalam bahasa Indonesia memaksanya untuk ‘hanya’ membaca karya Pram yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Namun orang yang tidak bisa menikmati tulisan model Pram—contoh aku—tentu merasa heran, “Kok bisa karya seperti ini masuk kanon?” dan aku merasa sangat berhak untuk mempertanyakan hal itu, karena selera orang yang berbeda-beda. Contoh lain, sebelum gerakan feminisme mengemuka di dunia Barat sana, tidak ada antologi yang memasukkan karya-karya penulis perempuan, seperti Charlotte Perkins Gilman, Anna Wickham, dll. Dan seperti yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature”, kanon itu tidak bersifat ‘mati’ namun terus berkembang. Hal ini berarti dikotomi sastra kanon versus sastra sampah tidak layak diimani, kita harus selalu menghormati selera orang untuk memilih membaca apa. Aku yakin karya yang ‘baik’ tentu akan senantiasa dibaca orang sepanjang zaman.
Waktu membaca message pertama tentang tuduhan Taufik Ismail “Gerakan Syahwat Merdeka” kepada KUK, aku sudah penasaran seperti apa sih pernyataan Taufik itu? Abangku yang pertama kali mendengar nama ‘Ayu Utami’ beberapa bulan lalu (better late than never, eh? LOL) dari emailku sempat heran dan bertanya kepadaku, “How did Ayu illustrate sexual scenes in her novel?” Untuk menjawabnya, aku sempat kepikiran untuk menulis artikel yang berupa rangkuman kritik-kritik atas “Saman” dan “Larung” di beberapa buku yang kumiliki untuk blog. Biasanya aku suka melakukan sesuatu ‘when the iron is hot’ alias kalau sedang hot-hotnya suatu masalah diperbincangkan. Nah, waktu itu, unfortunately, sedang bulan puasa (enak gila, punya scapegoat, LOL) dan aku sering merasa pusing kalau perut sedang lapar. Kalau pusing gitu, I cannot write anything, apalagi yang rada ‘berbobot’ begitu, kalau hanya sekedar chit-chat, tinggal nulis apa yang ada di benakku, tanpa harus ngeliat referensi ini itu, ya bisa sih. Waktu aku bilang ke Abang tentang ‘black sheep’ itu, LOL, dia menyarankan, “Puasamu berhenti sebentar dong Na, sejam dua jam gitu?” hahahaha ... “Buat nulis. Setelah itu, puasamu dilanjutkan lagi.”  katanya lagi. But of course I didn’t do it sampai “the iron was getting cooler ...” dan moodku nulis itu pun hilang.
Oh ya, polemik ‘hot’ itu dibuat tambah panas dengan puisi tulisan Saut Situmorang yang berjudul “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu”, padahal Saut sendiri berada di barisan penolak karya-karya dari KUK. Lah, vulgar banget kan judulnya? Berikut ini kusertakan satu puisi lain milik orang yang sama, yang dimuat di harian Republika dan sempat menyulut kemarahan publik, terutama orang Hindu Bali.

para pelacur pun
masih di kamarnya bergelut. dalam kabut
alkohol aku biarkan kata kata
menjebakku dalam birahi
rima metafora. kemulusan kulit
kupu kupumu dan garis payudaramu
yang remaja membuatku cemburu
pada para dewa yang, bisikmu,
menggilirmu di altar pura mereka.

Berikut ini kukutipkan bagian akhir novel “Saman” yang berupa percakapan lewat email antara Yasmin dan Saman.

New York, 11 Juni 1994
Yasmin,
Aku masturbasi.

Jakarta, 12 Juni 1994
Saman,
Aku terkena aloerotisme. Bersetubuh dengan Lukas tetapi membayangkan kamu. Ia bertanya-tanya, kenapa sekarang aku semakin sering minta agar lampu dimatikan. Sebab yang aku bayangkan adalah wajah kamu, tubuh kamu.

New York, 13 Juni 1994
Yasmin,
Aku cemburu. Kamu bersetubuh, aku tidak. Bukankah Lukas lebih perkasa? Aku terlalu cepat. Kalaupun aku bisa menghamili kamu, tentulah aku orang yang efisien, yang membereskan suatu pekerjaan dalam waktu amat singkat.

Jakarta, 14 Juni 1994
Saman,
Lukas memang terlatih. Dengan dia rasanya seperti olah raga. Setiap hitungan empat kali delapan dia ganti gaya. Apa bedanya dengan exercise di gym yang melelahkan?

New York, 15 Juni 1994
Yasmin,
Tentu saja bedaya adalah ada klimaks. Kalau kamu jujur, kamu tidak orgasme waktu dengan aku, kan?

Jakarta, 16 Juni 1994
Saman,
Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak. Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.

New York, 19 1994
Yasmin,
Mungkin persetubuhan kita memang harus hanya dalam khayalan. Persanggamaan maya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana memuaskan kamu.

Jakarta, 20 Juni 1994
Saman,
Tahukah kamu, malam itu, malam itu yang aku inginkan adalah menjamah tubuhmu, dan menikmati wajahmu ketika ejakulasi. Aku ingin datang ke sana. Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu.

New York, 21 Juni 1994
Yasmin,
Ajarilah aku. perkosalah aku.

Membaca judul puisi Saut “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu” membuatku tersedak, jijik, dan malu pada diri sendiri. Demikian juga tatkala membaca puisi yang dimuat di Republika itu, tanpa mengetahui konteksnya bagaimana, tiba-tiba ada kata-kata “para pelacur bergelut di kamar” dan “garis payudaramu ...”. well, mungkin karena berupa puisi, sehingga tidak ada ‘ancang-ancang’ untuk menuju kesana, puisi biasanya memiliki keterbatasan jumlah kata, namun bila berada di tangan seorang penyair yang piawai, puisi satu atau dua baris bisa bermakna lebih dari seribu kata. Atau mungkin karena aku tidak memiliki copi puisi itu yang utuh?
Sedangkan akhir bagian novel “Saman” itu, maklum namanya juga novel yang kaya dengan kata, banyak konteks dan teks yang mengawali dan akhirnya berujung ke percakapan antara Saman dan Yasmin yang hot tersebut. Membaca novel ini sejak awal, sampai bagian akhir halaman 197, dengan pilihan alur cerita yang maju mundur, dengan beberapa tokoh sentral (Laila, Saman, Shakuntala, plus Yasmin), emosi pembaca ikut terbangun, sehingga kesan ‘ujug-ujug vulgar’ tidak ada menurutku. Semua ada alasan mengapa dituliskan. Tidak ada kesan dipaksakan, tatkala beberapa kata yang mungkin bisa jadi berkonotasi vulgar muncul di satu kalimat, tanpa konteks yang mendukung, seperti beberapa contoh di atas, ‘penis’, ‘persanggamaan’, ‘masturbasi’, dll. Orang tidak bisa memenggal hanya beberapa bagian kalimat, atau lebih ekstrim lagi, penggunaan beberapa kosa kata saja, tatkala melakukan kritik terhadap karya ini, dan kemudian dengan mudah melabelinya “gerakan syahwat merdeka”. All words there were written for a specific reason, karena berhubungan dengan alur cerita.
By the way, baru malam ini aku ‘menemukan’ salah satu file dalam flash disk yang memuat tulisan Taufik Ismail, aku lupa entah kapan aku mendownloadnya dari internet. Membaca file itu ‘menyulut’ antusiasmeku untuk menulis ini, “the iron is hot again”. LOL.
Berikut ini kutulis tuduhan Taufik Ismail kepada KUK:
HH tidak merasa peduli dengan destruksi sosial luar biasa raksasanya yang dilancarkan sepuluh pelaku Gerakan Syahwat Merdeka itu:
1) praktisi sehari-hari seks liar,
2) penerbit majalah dan tabloid mesum,
3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,
4) 4.200.000 situs internet porno dunia,
5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,
6) penerbit dan pengedar komik cabul,
7) penulis cerpen dan novel syahwat,
8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,
9) fabrikan dan pengguna alkohol,
10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.
FYI, HH di atas adalah initial Hudan Hidayat, salah satu member KUK, yang sempat ‘menyambut’ polemik yang diawali oleh Taufik Ismail (kusingkat jadi TI aja yah?), yang lain nampaknya adem ayem aja. Ayu Utami juga anteng-anteng aja. Nampaknya, karena aku tidak mengikutinya langsung, hanya membaca beberapa messages yang diforward ke milis RumahKitaBersama.
Aku heran tatkala membaca kesepuluh tuduhan TI kepada KUK. Mengapa kesepuluh tuduhan itu melulu ditujukan kepada KUK sehingga seolah-olah KUK harus bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini? Banyak aspek atau pihak lain di negara kita tercinta ini yang kupikir juga mengambil peran penting atas kebobrokan moral—moral yang mana? “moral” yang dimaksud oleh orang-orang fundamentalis, mungkin.
Aku akan mencoba menulis pendapatku satu persatu atas kesepuluh tuduhan tersebut.
1) praktisi sehari-hari seks liar,
Memangnya sebelum KUK terbentuk, tidak ada seks liar (yang kuterjemahkan sebagai seks yang bukan dilakukan oleh pasangan resmi menikah) di Indonesia? Dari artikel “Free Sex: a ‘co-culture’ in Indonesia (already)?” yang kulempar ke milis RumahKitaBersama, aku mendapatkan sambutan dari beberapa member yang membuat mataku lebih melek bahwa praktek seks di luar menikah ini sudah lama dilakukan di Indonesia, hanya saja orang-orang masih hipokrit, tidak mau mengakui bahwa that has existed here, di negara yang sok suci, sehingga penerbitan majalah ‘Playboy’ menggegerkan seluruh negeri, namun tabloid-tabloid dan majalah-majalah porno yang telah ada sekian lama dicueki saja.
Untuk ini, kamu bisa klik ...
2) penerbit majalah dan tabloid mesum,
Aku tidak yakin apakah keberadaan semua majalah dan tabloid mesum yang terbit di Indonesia ini harus menjadi tanggung jawab KUK. Di kota Semarang, koran METEOR yang senantiasa memasukkan unsur porno yang vulgar—terutama dalam bentuk berita, atau cerita—apakah juga merupakan tanggung jawab KUK? Kalau dipaksakan jawabnya, “IYA”, kok bisa? Bagaimana prosedurnya?
3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,
Count me out for watching television!!! Terkadang kalau aku sempat menonton televisi—ketika makan bersama anakku misalnya—memang kadang aku mendapati iklan-iklan yang merendahkan kaum perempuan. Misal ada iklan kopi dimana seorang tokoh laki-laki berucap, “Pas susunya...” dan pada saat itu dia sedang menonton televisi yang sedang menunjukkan bagian dada seorang perempuan. Jika Ayu Utami yang feminis itu pernah berhome-based di KUK, masak orang-orang di komunitas tersebut tidak ‘tertulari’ semangat feminis Ayu Utami yang ingin memerangi pelecehan terhadap perempuan? Iklan tersebut jelas-jelas melecehkan perempuan, masak—seandainya KUK harus bertanggung jawab dengan iklan-iklan maupun program sejenis itu—Ayu Utami akan diam saja? Atau orang-orang lain di KUK yang kubayangkan tentu pernah terlibat diskusi tentang kesetaraan gender akan ikut menikmati acara sejenis itu?
4) 4.200.000 situs internet porno dunia,
Again, apa hubungannya dengan KUK keberaan jutaan situs internet porno ini? KUK mendapatkan keuntungan dari sini kah? SEDUNIA BO’!!! sebegitu terkenalkah KUK di dunia ini sehingga semua situs internet porno berkolaborasi dengannya?
5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,
Well, di era tiga atau empat dekade lalu mungkin belum berbentuk VCD maupun DVD, tapi film-film biru tentu telah ada di Indonesia sejak tiga atau empat dekade atau lebih. KUK ‘dibentuk’ atau ‘berdiri’ tahun berapa ya? Aku belum tahu, belum ngecek di situs resmi KUK.
6) penerbit dan pengedar komik cabul,
Sama dengan yang di atas, ini kan udah lama juga beredar di Indonesia?
7) penulis cerpen dan novel syahwat,
Dalam artikel “Membaca [lagi] Seksualitas Perempuan” dalam bukunya yang berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS, Aquarini memprotes tulisan Sunaryono Basuki yang dimuat di KOMPAS Minggu 4 April 2004, mengapa kalau penulis laki-laki—contoh Motinggo Busye—sah-sah saja menuliskan tentang seksualitas di karyanya, namun penulis perempuan tidak boleh? Untuk itu, Motinggo Busye tetap dianggap sebagai “sastrawan yang layak dipuji” karena menghasilkan karya-karya sastra yang “serius”, sedangkan penulis-penulis perempuan—such as Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—dikategorikan dalam “penulis yang tidak bermoral”.
Look, anggapan yang tak jauh beda dengan apa yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature” tentang dikotomi sastra kanon dan sastra non-kanon.
Mengapa perempuan tidak boleh menuliskan seksualitas di dalam karyanya? Karena kultur patriarki yang masih melekat di rakyat Indonesia tentu saja, karena perempuan seharusnya ‘menunggu’ dalam seks, dan bukannya ‘memperkosa’ seperti yang ditulis oleh Ayu tentang Yasmin yang ingin ‘mengajari’ Saman untuk bercinta. Tatkala perempuan menuliskan pengalamannya dalam seks, yang tentu saja berlainan dengan cara laki-laki memandang seks, serta merta hal tersebut pun menjadi tabu.
Di bawah ini aku kutipkan apa yang ditulis oleh Aquarini:

Menilik dari bahasa dan teknik narasi yang ditampilkan Ayu maupun Dinar, menurut saya agak gegabah mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai keterampilan berbahasa dan bersastra seperti Motinggo Busye. Pertama, karena tidak seorang pun harus seperti Motinggo Busye untuk dapat menyampaikan tema seks dan seksualita. Kedua, pengalaman seksualitas Ayu dan Dinar sebagai perempuan tentu berbeda dengan seksualitas yang dialami dan disuarakan oleh Motinggo Busye. Ketiga, perbedaan itu seharsunya dimaknai sebagai PENGAYAAN dan bukan ancaman terhadap sastra. – penekanan dariku. (Kajian Budaya Feminis, 2006: 192-193)

8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,
9) fabrikan dan pengguna alkohol,
10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.
I am getting bored with these accusations, so kujadiin satu aja nomor 8, 9, 10.  Sama seperti yang kutulis di atas, apa hubungan ketiga nomor ini dengan keberadaan KUK? Memangnya KUK ikut berbisnis di bidang narkoba, alkohol dan nikotin? Ini kan masalah besar yang dihadapi oleh negara kita? Semua orang harus ikut bertanggung jawab bagaimana agar para generasi muda kita tidak mati sia-sia karena ketiga barang tersebut.
Tatkala HH hanya mengomentari poin ketujuh, ‘penulis cerpen dan novel syahwat’, aku yakin tentu karena HH berpikir ya hanya poin inilah yang berkaitan erat dengan keberadaan KUK.

Ah, I am getting bored too writing this. Apalagi yang membaca—kamu—tentu juga udah bosan yah? huehehehe ... so, kusudahi saja artikel ini di sini. Masih banyak sebenarnya yang meninggalkan tanda tanya besar bagiku bagaimana seseorang yang memiliki nama besar (bagiku) seperti Taufik Ismail bisa menulis email—yang diforward di milis-milis—seperti itu? Kapan-kapan kalau aku memiliki suntikan energi yang cukup, dengan antusiasme yang besar, aku akan menulis lagi, terutama mengomentari tulisan TI yang ga ngalor ga ngidul itu.
Aku sendiri nampaknya mulai terserang pengap karena seperti biasa, hawa di Semarang yang panas, meskipun di luar mendung. And I’ve got to prepare myself to go to work.
PT56 13.03 291007

Sabtu, Oktober 27, 2007

Housewife, anyone?

“Everything happens for a reason.”
This somewhat wise statement was uttered by one of my workmates yesterday. She told me about one of her cousins who is about the same age with her. Since they were child, they were somewhat competitive to each other; such as in education, beauty, career, and perhaps eventually the success to get rich husband.
My friend said, “She got married at an earlier age that made me envy her because that gave me an idea that she beat me finally. I got married after I reached a so-called ‘crucial age’ for women to get married. Therefore, I felt like I didn’t have many choices whom I would marry. When knowing that her husband is quite successful in his business so that they have a good house and car, I had to say that I even envied her more. She is a full housewife, only sometimes she gets some order to make cakes, one of her capabilities that can make her earn her own money. Sometimes when my kids protest when I am about to go to work, because they want me to stay, they really make me down in the dumps. I want to be a full housewife too so that I don’t need to work. But only depending on my husband’s paycheck, we will not be able to survive.”
I kept listening to her.
“However, she is a bit fussy to her maids so that none of them stands working with her for more than one month. This made her obliged to do all of household chores by herself, including to take her children to go to school. Her husband doesn’t help her do the chores at all because his right hand cannot be used freely due to an accident. And perhaps because he thinks that he is the main breadwinner in the family, he doesn’t need to help his wife to do household chores. It is fully his wife’s responsibility. Not long ago, my cousin’s mother –in-law passed away. And in fact this has made her much busier since the responsibility to take care of her father-in-law who is already elderly becomes hers too. This made me think whether I could change position with her: having a rich husband, two children who are still studying in the elementary school, but no housemaid, and also having to take care of an elderly father-in-law, plus one grandmother-in-law, I think I will give up soon.”
This sounds more interesting, doesn’t it? 
“I have two toddlers, one is two years old and the other one is still six months old, and my husband is really helpful to do household chores, perhaps in return of my helping him earn money. I don’t think I can make it without having a housemaid, as I have told you after Lebaran (Eid Mubarrak Day) my housemaid didn’t go back to work anymore, I am often at my wits’ end. It is not easy to look for a new housemaid who cares and loves my children as to her own kids. I start to realize that everything happens for a reason. I am not supposed to envy my cousin.”
A good ending, eh? LOL.
“I believe that being a full housewife is really a hard task for me. I am not sure if I can make it. Can you?” she asked me.
Recently I must say that sometimes I ask myself that question, a question that in the past I would answer strongly, “NO!”
“Well, I don’t mind being one as long as I still can do something that will make me reach my self-actualization. The problem is being a full housewife for me doesn’t give me self-actualization. To me, doing household chores doesn’t give me satisfaction.” I responded.
“I opine that being a housewife is really noble for women, because it is hard to do. I cannot make it either.” She went on.
“I am sorry to say that I don’t really agree with you. Women have choices to do what they want to do, things that give them satisfaction, and even self-actualization. No profession is nobler than any other profession. Women who choose to be a housewife perhaps get that satisfaction and actualization by doing household chores, for example by having a neat, and tidy house, without any single spot of dirt, without anything lying not at the right place—just like the women in “The Stepford Wives” movie. Women who choose to do desk job—behind desk from eight to five daily, probably get their satisfaction in it. Women who choose to do dangerous and risky job, such as working in mining sites possibly get another kind of satisfaction. Women who choose to work in glamorous world, such as models, actresses, etc, get different satisfaction too. And they are all equal, in my opinion. Just like some women who are very proud and satisfied when they get ‘label’ as superwomen because they are willing to do both domestic (read => doing household chores) and ‘public’ job (read => having career outside the house) are equal too with other women who choose to do only one of them, domestic or public job; not better not worse.”
It is just a matter of making a choice.
PT56 10.35 261007

WNI vs WNA

Ada sesuatu yang menyesakkan hatiku tatkala membaca berita di Suara Merdeka Selasa 23 Oktober 2007 halaman C (bagian dalam “Semarang Metro”) yang berjudul “Jangan-Jangan Suatu Saat Diusir” dan “Status Kewarganegaraan Diubah, WNI Keturunan Protes”. Kedua artikel tersebut mengacu ke satu permasalahan yang sama, yang menimpa seseorang yang ditulis bernama Stanislaus Handjojo Rahardjo. Tatkala mengurus KK (Kartu Keluarga) yang baru setelah dia pindah ke tempat tinggal yang baru—di dalam kota Semarang—sekitar satu tahun yang lalu, dia mendapati dalam KK yang baru, kewarganegaraannya tertulis “WNA”, meskipun dia memiliki semua bukti yang menunjukkan bahwa dia dan keluarganya adalah warga negara Indonesia, mulai dari KTP, paspor, sampai SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI).
Hal ini mengingatkanku pada protes Langston Hughes yang dia tuliskan dalam salah satu artikelnya yang berjudul “My America”.

“This is my land America. Naturally, I love it—it is home—and I am vitally concerned about its mores, its democracy, and its well-being. I try now to look at it with clear, unprejudiced eyes. My ancestry goes back at least four generations on American soil—and through American blood, many centuries more. My background and training is purely American—the schools of Kansas, Ohio, and the East. I am old stock as opposed to recent immigrant blood.
Yet many Americans who cannot speak English—so recent is their arrival on our shores—may travel about the country at will securing food, hotel, and rail accommodations wherever they wish to purchase them. I may not. These Americans, once naturalized, may vote in Mississippi or Texas, if they live there. I may not. They may work at whatever job their skills command. But I may not. They may purchase tickets for concerts, theaters, lectures wherever they are sold throughout the United States. I may not. They may repeat the Oath of Allegiance with its ringing phrase of “liberty and justice for all,” with a deep faith in its truth—as compared to the limitations and oppressions they have experienced in the Old World. I repeat the oath, too, but I know that the phrase about “liberty and justice” does not fully apply to me. I am an American—but I am a colored American. (Langston Hughes Reader, 1958: 500)


Artikel di atas ditulis oleh Hughes tatkala Jim Crow Law masih berlaku di seluruh daratan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam puisinya yang berjudul “Will V-Day Be Me-Day Too?” Hughes pun menyuarakan kepahitan yang sama:

When we see Victory’s glow,
Will you still let old Jim Crow
Hold me back?
When all those foreign folks who’ve waited—
Italians, Chinese, Danes—are liberated
Will I still be ill-fated
Because I’m black?


Si kulit hitam yang tidak akan pernah luntur warnanya ini akan selalu termajinalkan, meskipun mereka merupakan keturunan kelima yang dilahirkan di Amerika.
Dalam film FREEDOM WRITERS, Eva Benita, salah satu tokoh sentral yang berdarah Latin mengungkapkan akar kebencian antarras yang terjadi di Amerika adalah warna kulit. “It is all about colors. It is all about people deciding what you deserve; about people wanting what they don’t deserve; about white people thinking they can get anything … no matter what.”
Diskriminasi sosial yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan karena warna kulit pula, namun bukan ke warna hitam—yang biasanya dipakai untuk menggambarkan keturunan Afrika—melainkan warna kuning langsat dan bermata sipit. Bagi mereka yang berwarna kuning langsat dan bermata sipit akan selau dianggap sebagai “warga keturunan”, dan tak akan pernah “label” itu hilang, meskipun mereka merupakan keterunan ketiga, keempat, atau lebih dalam keluarga mereka yang tinggal di Indonesia. Sejak lahir mereka telah berada di atas bumi pertiwi, menghirup udara yang ada, makan makanan yang tersedia di bumi Nusantara, menimba ilmu di sekolah-sekolah dalam negeri, bahkan mungkin pula ikut berjuang membela nama baik negara (tidak hanya selama perang kemerdekaan, namun di era sekarang ini bisa juga berjuang di bidang seni, olahraga, dll). Namun karena “dosa” yang dilakukan oleh nenek moyang mereka—yakni hijrah dari tanah Cina ke Nusantara—para “warga keturunan” ini seolah di’kutuk’ untuk terus menerus dibuat repot tatkala mengurus surat-surat ini itu.
Kekhawatiran Stanislaus Handjojo Rahardjo “Jangan-jangan suatu saat diusir” bisa jadi bukan hanya sekedar seloroh pahit. Seperti dalam salah satu adegan dalam FREEDOM WRITERS tatkala terjadi keributan di dalam kelas sehingga Erin Gruwell berinisiatif untuk mengatur tempat duduk para siswanya, seorang anak memandang sekelompok anak-anak keturunan Asia, sembari berkata sengit, “You all go back to China!”
Berita yang dimuat satu hari setelah itu, Rabu 24 Oktober 2007 yang berjudul “KK yang Salah Langsung Direvisi”, memberikan penjelasan bahwa Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil segera melakukan revisi “setelah kasus tersebut dilansir di beberapa media massa.”. Alasan atas kejadian “kesalahan” tersebut karena KK ditebitkan pada masa transisi, yakni perubahasan sistem kependudukan dari Simduk menjadi SIAK yang berbasis komputer. Adanya perubahan kolom serta isian-isiannnya berpotensi menimbulkan kesalahan pengisian.
Pertanyaanku adalah, “Kok bisa?” Manusia yang dianugerahi akal pikiran, mengapa bisa “dikalahkan” oleh komputer, yang meskipun merupakan alat canggih namun tetap saja merupakan hasil ciptaan manusia? Bukankah yang mengisi kolom-kolom itu manusia? Satu tahun yang lalu, pernyataan pak Lurah dimana Stanislaus Handjojo Rahardjo bertempat tinggal, “Memang peraturan yang baru begitu” tatkala ditanya oleh pak RT tentang kasus tersebut merupakan salah satu bentuk ketidaktahuan (atau ketidakpedulian karena toh orang itu “warga keturunan”, sehingga mereka bisa dianggap hanya sebagai menumpang tinggal di Indonesia?) aparat pemerintah terhadap apa-apa yang terjadi, yang bisa jadi merugikan warga negara.
Anyway, talking about racial dicrimination, prejudice, violence or whatever the name is seems like it will never come to an end.
Padahal jika kita kembali ke masa ribuan tahun yang lalu, tatkala konon daratan di bumi ini masih sambung menyambung, sehingga memudahkan nenek moyang kita dulu bermigrasi, siapa yang merasa memiliki hak untuk mengklaim bahwa satu daratan hanya boleh dimiliki oleh sekelompok manusia saja, sedangkan yang lain harus menyingkir. Apakah yang terjadi pada masa-masa itu, sehingga migrasi yang dilakukan oleh nenek moyang kita akhirnya “menghasilkan” seperti yang kita kenal sekarang ini, mereka yang berkulit kuning tinggal di daerah Asia, berkulit putih di Eropa, kulit hitam di Afrika, kulit merah di Amerika (yang akhirnya pun dimarjinalkan oleh kaum kulit putih setelah mereka bermigrasi ke Amerika). Khusus untuk daerah Asia, mengapa yang berkulit kuning langsat dan memiliki bentuk mata “oriental” kebanyakan terletak di daratan Cina dan sekitarnya, sedangkan yang berkulit sawo matang dan bermata lebar di daratan equator. Tentu karena iklim yang berbeda. Khusus untuk daerah Nusantara, mengapa yang berkulit sawo matang akhirnya merasa yang paling berhak untuk menjadi “pribumi”?
(Imagining if my great great great grandparents had migrated to the land named America after being “colonized” by Columbus and his people, would I have red skin and consequently be marginalized by the white?)
PT56 14.30 241007

Golek Mangan Susah ...

Rabu pagi 24 Oktober 2007 dalam perjalanan menuju Paradise Club fitness center, setelah mengantar Angie sekolah, aku menemukan “pemandangan” yang menarik, namun membuatku tersenyum getir. Tatkala melewati rel kereta api di Jalan Abimanyu Raya, aku melihat sebuah gerobak terseok ditarik oleh sebuah sepeda motor tua. Di belakang gerobak itu, tertulis “ GOLEK MANGAN SUSAH, MATI RAK WANI”.

Kupikir gerobak dengan kalimat yang cukup menyayat hati itu tentu akan menarik perhatian para pengunjung blogku. Itu sebabnya kemudian aku mengeluarkan hapeku, menunggu gerobak itu lewat lagi, dan menjepretnya.
Aku sempat mengikuti sampai gerobak itu berhenti di satu tempat, yang kutengarai merupakan pangkal para pemulung mengumpulkan barang-barang hasil memunguti barang-barang yang dibuang oleh orang lain namun bisa menjadi lembar-lembar rupiah bagi para pemulung. Dan pangkal para pemulung ini terletak di tengah-tengah perumahan Pondok Indraprasta yang biasanya dihuni oleh para kaum the haves.

“Di Indonesia sih sangat mudah untuk mendapatkan pemandangan ataupun kisah-kisah yang menyayat hati,” kata mbak Icha, tatkala dia berkunjung ke Semarang bulan Agustus lalu, dan kita berdua sedang menonton sebuah acara berita di televisi di kamarnya.
Yang menyedihkan adalah pemerintah nampak tidak terlalu peduli dengan keadaan rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan. Sangat banyak di antara mereka yang hanya sibuk memikirkan apakah mereka akan dipakai lagi di masa pemerintahan yang akan datang. Kalau tidak, bagaimana cara untuk memupuk kekayaan mumpung masih di atas.
Seperti di Semarang dengan acara spektakulernya Semarang Pesona Asia yang kontroversinya tak kunjung selesai. Di surat kabar hari ini diberitakan bahwa rencana kunjungan anggota DPRD ke China telah disetujui oleh Mendagri, yang notabene mantan Gubernur Jawa Tengah, yang ikut sibuk dengan segala uba rampe penyelenggaraan SPA. Para anggota DPRD berkilah bahwa kunjungan ke China ini merupakan salah satu program untuk melanjutkan program SPA, namun tidak jelas untuk apa? Sedangkan pelaksanaan SPA bulan Agustus lalu masih menyisakan berjuta pertanyaan di benak masyarakat karena menghabiskan dana masyarakat bermiliar rupiah namun hasilnya tak bisa dilihat dalam bentuk apa. Pihak pemerintah kota sendiri mengklaim bahwa SPA sukses, tanpa ada penjelasan sukses yang seperti apa?
PT56 13.50 251007

Senin, Oktober 22, 2007

My idea was stolen

Bagaimana perasaanmu jika idemu dicomot begitu saja dan ditulis oleh seorang jurnalis, dimuat di sebuah surat kabar yang mengaku terbesar di Jawa Tengah, tanpa menuliskan namamu sebagai si pemilik ide?
Hari Jumat 19 Oktober 2007 di surat kabar tersebut halaman 4 termuat sebuah artikel dengan judul “Hipermarket, Memangsa Mom and Pop’s Store?” aku langsung heran. Istilah MOM AND POP’S STORE aku dapatkan dari Professor Kenneth Hall, dosen tamu sewaktu aku kuliah di American Studies UGM yang waktu itu memberikan mata kuliah “American Capitalism”. Aku menuliskannya dalam postinganku yang kuberi judul HYPERMARKET (klik link berikut ini http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/09/hypermarket.html ) bulan September kemarin setelah DP MALL diresmikan dan menarik perhatian jutaan penduduk Semarang. Aku ingat sepulang dari kuliah waktu itu, aku dan Julie berdiskusi tentang hypermarket yang mencaplok Mom and Pop’s Store yang mengingatkan kita berdua pada film YOU’VE GOT MAIL, contoh yang sangat realistis terjadi dilukiskan dalam film yang berkisah tentang sepasang (calon) kekasih yang bertemu pertama kali lewat dunia maya.
Lha kok tahu-tahu ide itu nongol di surat kabar tersebut?
Di dalam artikel yang sama, aku menulis pernyataan Michael Sunggiardi, presenter utama dalam seminar “SOLUSI IT MURAH UNTUK DUNIA BISNIS” yang diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata, “Di Sudan yang konon merupakan negara yang lebih miskin dibandingkan Indonesia, menjual rokok eceran saja minimal 5 batang dan kelipatannya. Di Indonesia yang nampak lebih makmur dibandingkan Sudan, orang-orang masih biasa membeli rokok eceran satu batang.”
Namun si jurnalis salah membaca tulisanku di artikel tersebut. Yang dicomot justru adalah pertanyaan (atau pernyataan) dariku, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store?” dan dituliskan di artikel di surat kabar tersebut sebagai pernyataan dari Michael Sunggiardi, yang nampaknya sobat lama Ridwan Sanjaya, dekan Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata. (FYI, I attended the seminar coz I got the invitation for free after winning the blog competition held by IKOM Unika Soegijapranata.) Lah, kalau Michael Sunggiardi membaca artikel tersebut, bakal heran lah dia karena ditulis dia menyatakan, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store?”
By the way, dalam hobbyku blogging, aku selalu berusaha untuk menulis darimana aku mendapatkan ide, seandainya ide itu tidak murni datang dariku. Misal, pernyataan di Sudan yang boleh membeli rokok minimal 5 batang. Kalau tidak menghadiri seminar itu dan mendengarkan presentasi Michael Sunggiardi dengan tekun, mana aku tahu? Kalau aku cabut dari kuliah Professor Kenneth Hall, mana aku tahu kalau hypermarket di Amerika benar-benar memangsa Mom and Pop’s Store? Mana aku bisa menulis artikel yang kuberi judul “HYPERMARKET” itu? Dan aku sebutkan nama kedua orang tersebut dalam artikel itu.
By the way (again), beberapa tulisanku yang terinspirasikan tulisan Adi Ekopriyono, salah satu wartawan di surat kabar itu, aku tak lupa menyebut namanya tatkala aku menuliskannya..
Jadi ingat ‘kecelakaan’ di milis Forum Interaktif bla bla bla tatkala seorang member komplain karena tulisan di blognya di’culik’ dan dimuat di surat kabar online dan nama penulisnya diganti nama salah satu moderator milis tersebut. Contoh plagiarisme yang benar-benar memalukan.
Masih untunglah kasus yang terjadi padaku hanya pencomotan ide. Cuma nyebelinnya yaitu blogging adalah suatu non profitable activity, sedangkan jurnalis kan dibayar secara profesional oleh surat kabar tempat mereka bekerja?
PT56 20.35 201007

Jumat, Oktober 19, 2007

FREEDOM WRITERS



When doing small researches to write a paper I entitled “America – A Dream that Has Not Come True” in African American Literature Class and another paper I entitled “’Salad Bowl’ and ‘Anti Semitism’ in Elmer Rice’s Street Scene” in Modern American Literature class in 2003, I was wondering if racial prejudice portrayed in “Street Scene” and racial discrimination illustrated in Langston Hughes’ poem—Will V-Day Be Me-Day Too?—can still be easily found in America at the end of the twentieth century and in the beginning of the twenty first century.

When watching FREEDOM WRITERS, a movie inspired by a real event in Long Beach California that happened at the last decade of the twentieth century, I got the answer of that question of mine. Racial prejudice, racial violence, racial discrimination, or whatever people call it, still exists in the land Langston Hughes mentioned as a dream country for million immigrants with various color skins in his poem “Freedom’s Plow”. The movie starts with live news on TV showing gang violence and racial tension causing more than 120 people killed, following the Rodney King riots. It is followed by a depiction of how a Latino father raises his daughter—Eva Benita, one central character in the movie—to be the next generation of a gangster. The marginalized communities living in Long Beach—say Latino, Asians, and Black—believe that they have to fight each other for territory, kill each other over race, pride, and respect. In short, I can say that Long Beach is the “modern” area of the cheap tenement portrayed by Elmer Rice in his realistic play STREET SCENE (1929). What I mean “modern” here is people using more advanced ‘media’ to show their prejudice and hatred against different races, such as guns. In Long Beach, people are divided into some separate sections, depending on tribes. The Latinos get along with their own tribe, so do the Asians and Blacks. They openly show their hatred to each other. However, they can become united when facing the mainstream of America—the Whites.

For the marginalized tribes’ hatred toward the Whites, Eva said, “White people always want to be respected as if they deserve to get it for free. It is all about colors. It is all about people deciding what you deserve; about people wanting what they don’t deserve; about white people thinking they can get anything … no matter what.”

The amazing aspect from the movie is the way Erin Gruwell, one white English teacher working for Woodrow Wilson High School chosen by the government to be reform school with voluntary integration program to win her students’ hearts—many of them are just out of juvenile prison due to gang fights—to make them want an education and believe that the education will better their future. Failing to get her students’ attention on the first day, slowly Erin succeeds making them united to be hostile to her due to her white complexion. Later on Erin can get their attention and make them interested to read the books she buys for them, although it means she has to have an extra job to get money to buy the books. After making them interested to read the books she provides, Erin eventually succeeds making them realize that education will really change their future to be better. Nevertheless, her hard work and much time she dedicates for her students result in divorce because her husband—feeling neglected—does not agree with her way of living. Besides, Erin realizes that her happiness is gathered when she can help her students aware the meaning of their lives, and not just as a wife of a man.


This amazing movie is produced by Double Feature Films Production. Hilary Swank plays as Erin Gruwell, Patrick Dempsey as Scott Casey, Erin’s husband, Scott Glenn as her father, who always supports anything Erin does for her students, and April Lee Hernandez as Eva Benita.

PT56 13.20 161007


P.S.: You can view my post here for my paper "America - A Dream that Has Not Come True Yet" and my other post here for my paper on STREET SCENE

Senin, Oktober 08, 2007

MUDIK atau MULIH

“Ada hubungan yang sangat erat antara mudik dengan akar budaya yang dimiliki oleh seseorang.” Demikianlah salah satu point penting yang kutarik dari perbincangan antara Triyanto Triwikromo dengan Budi Darma, penulis kumpulan cerpen “Orang-Orang Bloomington”. Perbincangan ini dimuat di Suara Merdeka edisi hari Minggu 7 Oktober 2007 halaman 28. Tatkala seseorang mudik, dia akan berusaha menemukan kembali akar keluarga dan akar tanah kelahiran. Seandainya akar keluarga ini sulit ditemukan kembali, seseorang paling tidak akan berusaha mengaitkannya dengan masa kanak-kanaknya, yang bisa dia anggap sebagai ‘akar’, darimana dia berasal.
Masa kanak-kanak, seberapapun pahit masa itu, akan tetap berurat berakar pada diri seseorang, sehingga mengingat masa kanak-kanak akan senantiasa memanggil seseorang untuk ‘kembali’.
“Akar budaya sebuah komunitas aalah ‘masa kanak-kanak’ komunitas itu, yaitu aspek primitif yang pasti dimiliki oleh setiap orang dalam komunitas,” kata Budi Darma.
Point yang sangat menarik bagiku karena sampai di usia menjelang empatpuluh tahun ini, mimpi masa kanak-kanak yang masih sering hadir adalah tatkala aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah, masa pengindoktrinasian yang kuat antara yang hitam dan putih di batok kepalaku. Ini pula sebabnya tatkala aku membaca beberapa cerpen dalam kumpulan cerpen “Petualangan Celana Dalam” aku merasakan ketertarikan yang sangat kuat karena cerpen-cerpen tersebut memiliki latar waktu dan tempat Semarang di dekade 60-70-an, masa kanak-kanakku. Ada ‘akar budaya’ku yang dilukislan di situ.
Hal ini pun seolah menjelaskan kepadaku mengapa seseorang yang telah lama tinggal di negeri orang selalu merasakan ‘panggilan’ yang sangat kuat dari kota kelahirannya, Jakarta, meskipun Jakarta sekarang tak lagi senyaman tiga sampai empat dekade yang lalu. Seberapa pun ‘modern’ hidup dan life style seseorang, dia tetaplah memiliki ‘aspek primitif’ seperti yang dikatakan oleh Budi Darma.
Apakah dengan begitu kedua orang tuaku yang asli Gorontalo, dan sama-sama memiliki nama keluarga ‘Podungge’ itu berusaha melepaskan ‘aspek primitif’ yang mereka miliki karena sejak aku kecil, mereka tidak membiasakan diri untuk mudik ke kota dimana kedua orang tuaku bisa menemukan ‘akar keluarga’ dan ‘akar tanah kelahiran’? Sehingga aku pun benar-benar merasa ‘sebatangkara’ tanpa sanak saudara kecuali seorang kakak dan dua adik dan Ibu? (My father passed away in 1989.) Betapa ‘kuat’ ‘pembaleloan’ yang dilakukan oleh kedua orang tuaku atas aspek primitif yang diyakini oleh Budi Darma dimiliki oleh setiap manusia. Tidak ada tradisi mudik dalam keluarga Podungge yang berada di Semarang.
Membaca perbincangan antara Triyanto Triwikromo dan Budi Darma mengingatkanku pada waktu kecil di hari Lebaran, aku beserta saudara-saudaraku duduk-duduk di ruang tamu, memandang ke jalan di depan rumah. Banyak orang lalu lalang, tidak pernah kita mengerti mengapa orang-orang begitu sibuk. Kemana mereka pergi? Ke tempat wisata? Libur Lebaran tentu membuat tempat-tempat wisata itu penuh sesak, sesuatu yang tidak begitu menyenangkan bagiku karena kepadatan manusianya.
Setelah menikah, dan “tiba-tiba” memiliki jadual kunjungan setiap kali Lebaran datang, yaitu mengunjungi sanak saudara dari ayah anakku itu, aku baru memahami, mengapa orang-orang lain—minus keluargaku—begitu sibuk setiap kali Lebaran tiba. Bagiku pribadi, tentu bukan untuk ‘menemukan kembali’ hubunganku saat ini dengan ‘akar keluarga’ku, namun justru lebih ke ‘membentuk’ akar keluarga baru. Akan tetapi karena pembentukan akar keluarga baru ini dilakukan tidak pada masa kanak-kanak, seperti yang digarisbawahi oleh Budi Darma, aku merasa gagal menemukan suatu ritual yang mengasikkan dari jadual kunjungan tersebut.
Artikel lain lagi yang tak kalah menariknya mengenai mudik ini ditulis oleh Adi Ekopriyono dalam Suara Merdeka edisi hari Senin 8 Oktober 2007 halaman 6. Adi Ekopriyono lebih memilih menggunakan istilah ‘mulih’ daripada ‘mudik’. ‘Mulih’ dipercaya memiliki kaitan dengan ‘pulih’. Kamus Basa Jawa (Balai Bahasa Yogyakarta, 2006:639) menyebutkan bahwa kata ‘mulihake’ (mengembalikan) berarti ‘mbalekake kaya kaanane sing sakawit’, artinya ‘memulihkan menjadi seperti keadaan semula’. Para ulama mengatakan bahwa ibadah puasa yang dilakukan dengan sebagaimana mestinya, akan membawa seseorang kembali ke ‘fitrah’. Keadaan “fitrah” yang berarti ‘suci’ ini biasanya dihubungkan dengan seorang bayi yang masih polos, suci. Melakukan ibadah puasa akan mengembalikan seseorang keadaan semula, yang berarti tanpa dosa, polos. (Dan bukannya seorang penjahat setelah melewati bulan Ramadhan akan kembali menjadi penjahat lagi, koruptor boleh melakukan kejahatannya lagi, dst.)
Karena hal ini pulalah bisa jadi jika masyarakat Jawa akan memberi ‘julukan’ pengkhianat bagi mereka yang tidak pulang di hari Lebaran, karena bisa berkonotasi memutuskan tali silaturrahmi pada sanak saudara. “Mulih” yang bisa bermakna ‘memulihkan’ ke keadaan semula—ngumpulke balung pisah—setelah mungkin selama 11 bulan merantau, ‘mulih’ akan membuat hubungan kekeluargaan erat kembali seperti sebelumnya. (Thank God, orang tuaku bukan orang Jawa sehingga mereka tidak akan ‘didakwa’ sebagai pengkhianat keluarga besar Podungge hanya karena tidak ‘mulih’ di hari Lebaran.)
Bagi mereka yang akan pulang ke kampung halaman di hari Lebaran ini, entah makna yang mana yang anda ambil, mudik yang berkonotasi ‘kembali ke akar keluarga dan tanah kelahiran’ versi Budi Darma, maupun ‘mulih’ yang berkonotasi ‘memulihkan ke keadaan semula’, kuucapkan selamat menempuh perjalanan yang telah merupakan ritual dalam kehidupan ini. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa jaga kesehatan.
PT56 12.42 081007

Rabu, Oktober 03, 2007

HIV / AIDS

Sembilan Ibu Rumah Tangga Positif HIV

Tatkala membaca artikel dengan judul di atas dalam SUARA MERDEKA terbit hari Rabu 3 Oktober 2007 halaman G (bagian dari SEMARANG METRO), aku teringat seorang siswa yang beberapa waktu lalu bertanya kepadaku, “Mengapa orang justru mempromosikan penggunaan kondom untuk mengurangi kemungkinan meningkatnya penderita HIV/AIDS? Bukankah itu justru akan semakin meningkatkan praktek seks bebas di masyarakat kita?”
Siswa ini sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA, di sebuah sekolah negeri ternama di Semarang, berjilbab. Well, mengapa harus kutulis di sini bahwa dia berjilbab? Aku tidak bermaksud untuk menggeneralisasi bahwa semua orang yang berjilbab akan memiliki cara pandang yang sama. Ini hanya merupakan satu studi kasus. Aku “membaca” siswaku ini sebagai seorang yang mungkin hanya mendengarkan atau membaca hal-hal dari satu perspektif semata, sehingga dia pun menginterpretasikan promosi penggunaan kondom sebagai sesuatu yang tidak semestinya, yang amoral, karena berkonotasi justru mendukung orang untuk melakukan seks bebas.

“I think we have to know that people suffering from HIV/AIDS are not only those who have sex with many different partners, such as prostitutes. We also ought to know that HIV/AIDS attacks “good women”, such as housewives who happen to have disloyal husbands and they don’t know that their husbands have sex with other women. They think that their husbands are “good” and loyal to them, never have sex outside the house with others. We need to protect such women from the possibility to get attack from HIV/AIDS,” aku menjelaskan kepadanya, secara panjang lebar.


Dia kemudian terlihat tercenung, berusaha memahami perspektif yang kusodorkan kepadanya, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dari sorot matanya, aku tahu dia masih penasaran tentang promosi penggunaan kondom untuk mengurangi kemungkinan bertambahnya penderita HIV/AIDS.
*****
Dalam Jurnal Perempuan nomor 43 dengan tema “Melindungi Perempuan dari HIV/AIDS”, dalam prolog, Adriana Venny mengutip sebuah pernyataan dari seorang perempuan di Jayapura yang dirangkum dalam Radio Jurnal Perempuan edisi 146; “Saya tertular HIV/AIDS dari suami saya yang kemudian saya tularkan kepada bayi saya ...”
Kenyataan ini menunjukkan bahwa “perempuan baik-baik” (baca  perempuan yang hanya melakukan hubungan seks dengan suaminya saja) pun tetap rentan terkena HIV/AIDS. Hal ini berarti bahwa perempuan berhak melindungi dirinya dari kemungkinan “serangan” HIV/AIDS dengan menggunakan kondom tatkala melakukan hubungan seks dengan suaminya. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh suami di luar rumah.
Kembali ke artikel yang dimuat dalam SUARA MERDEKA, berita tersebut tidak menunjukkan secara rinci alamat dan identitas jelas dari para ibu rumah tangga yang positif terkena HIV, kecuali lokasi di Kabupatan Semarang. Hal ini, untuk menjaga etika dan melindungi mereka, kata Drs. Hendri A MM, Kabagsosial Setda Pemkab Semarang. Namun apa yang ditulis oleh sang jurnalis di bagian akhir artikel justru menunjukkan “penghakiman” kepada para ibu rumah tangga tersebut

“Namun ada hal yang menjadi catatan, ibu-ibu tersebut ada yang tinggal berdekatan dengan kompleks lokalisasi.”


Dengan mengungkapkan ‘fakta’ tersebut, ada hal lain yang tersirat, yakni, “Karena mereka tinggal berdekatan dengan kompleks lokalisasi, ada kemungkinan para ibu rumah tangga tersebut sesekali terjun ke lokalisasi dengan menjadi pekerja seks komersial. Itu sebab mereka positif HIV karena melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu partner—yakni suaminya.” Padahal tentu ada kemungkinan bahwa mereka terkena HIV karena ditulari oleh para suami mereka. Seorang suami yang ingin menutupi kehidungbelangannya tentu tidak akan melakukan hubungan seks dengan PSK di lokalisasi yang terletak dekat dengan tempat tinggalnya. Dia akan memilih lokasi yang berjauhan sehingga dapat menyimpan rahasianya dengan aman. Penyakit seks yang mereka idap sebagai akibat melakukan hubungan seks yang tidak aman lah yang akan membuka rahasinya. Sekaligus menulari istrinya yang tidak tahu apa-apa.
PT56 10.25 031007