Cari

Memuat...

Senin, Oktober 08, 2007

MUDIK atau MULIH

“Ada hubungan yang sangat erat antara mudik dengan akar budaya yang dimiliki oleh seseorang.” Demikianlah salah satu point penting yang kutarik dari perbincangan antara Triyanto Triwikromo dengan Budi Darma, penulis kumpulan cerpen “Orang-Orang Bloomington”. Perbincangan ini dimuat di Suara Merdeka edisi hari Minggu 7 Oktober 2007 halaman 28. Tatkala seseorang mudik, dia akan berusaha menemukan kembali akar keluarga dan akar tanah kelahiran. Seandainya akar keluarga ini sulit ditemukan kembali, seseorang paling tidak akan berusaha mengaitkannya dengan masa kanak-kanaknya, yang bisa dia anggap sebagai ‘akar’, darimana dia berasal.
Masa kanak-kanak, seberapapun pahit masa itu, akan tetap berurat berakar pada diri seseorang, sehingga mengingat masa kanak-kanak akan senantiasa memanggil seseorang untuk ‘kembali’.
“Akar budaya sebuah komunitas aalah ‘masa kanak-kanak’ komunitas itu, yaitu aspek primitif yang pasti dimiliki oleh setiap orang dalam komunitas,” kata Budi Darma.
Point yang sangat menarik bagiku karena sampai di usia menjelang empatpuluh tahun ini, mimpi masa kanak-kanak yang masih sering hadir adalah tatkala aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah, masa pengindoktrinasian yang kuat antara yang hitam dan putih di batok kepalaku. Ini pula sebabnya tatkala aku membaca beberapa cerpen dalam kumpulan cerpen “Petualangan Celana Dalam” aku merasakan ketertarikan yang sangat kuat karena cerpen-cerpen tersebut memiliki latar waktu dan tempat Semarang di dekade 60-70-an, masa kanak-kanakku. Ada ‘akar budaya’ku yang dilukislan di situ.
Hal ini pun seolah menjelaskan kepadaku mengapa seseorang yang telah lama tinggal di negeri orang selalu merasakan ‘panggilan’ yang sangat kuat dari kota kelahirannya, Jakarta, meskipun Jakarta sekarang tak lagi senyaman tiga sampai empat dekade yang lalu. Seberapa pun ‘modern’ hidup dan life style seseorang, dia tetaplah memiliki ‘aspek primitif’ seperti yang dikatakan oleh Budi Darma.
Apakah dengan begitu kedua orang tuaku yang asli Gorontalo, dan sama-sama memiliki nama keluarga ‘Podungge’ itu berusaha melepaskan ‘aspek primitif’ yang mereka miliki karena sejak aku kecil, mereka tidak membiasakan diri untuk mudik ke kota dimana kedua orang tuaku bisa menemukan ‘akar keluarga’ dan ‘akar tanah kelahiran’? Sehingga aku pun benar-benar merasa ‘sebatangkara’ tanpa sanak saudara kecuali seorang kakak dan dua adik dan Ibu? (My father passed away in 1989.) Betapa ‘kuat’ ‘pembaleloan’ yang dilakukan oleh kedua orang tuaku atas aspek primitif yang diyakini oleh Budi Darma dimiliki oleh setiap manusia. Tidak ada tradisi mudik dalam keluarga Podungge yang berada di Semarang.
Membaca perbincangan antara Triyanto Triwikromo dan Budi Darma mengingatkanku pada waktu kecil di hari Lebaran, aku beserta saudara-saudaraku duduk-duduk di ruang tamu, memandang ke jalan di depan rumah. Banyak orang lalu lalang, tidak pernah kita mengerti mengapa orang-orang begitu sibuk. Kemana mereka pergi? Ke tempat wisata? Libur Lebaran tentu membuat tempat-tempat wisata itu penuh sesak, sesuatu yang tidak begitu menyenangkan bagiku karena kepadatan manusianya.
Setelah menikah, dan “tiba-tiba” memiliki jadual kunjungan setiap kali Lebaran datang, yaitu mengunjungi sanak saudara dari ayah anakku itu, aku baru memahami, mengapa orang-orang lain—minus keluargaku—begitu sibuk setiap kali Lebaran tiba. Bagiku pribadi, tentu bukan untuk ‘menemukan kembali’ hubunganku saat ini dengan ‘akar keluarga’ku, namun justru lebih ke ‘membentuk’ akar keluarga baru. Akan tetapi karena pembentukan akar keluarga baru ini dilakukan tidak pada masa kanak-kanak, seperti yang digarisbawahi oleh Budi Darma, aku merasa gagal menemukan suatu ritual yang mengasikkan dari jadual kunjungan tersebut.
Artikel lain lagi yang tak kalah menariknya mengenai mudik ini ditulis oleh Adi Ekopriyono dalam Suara Merdeka edisi hari Senin 8 Oktober 2007 halaman 6. Adi Ekopriyono lebih memilih menggunakan istilah ‘mulih’ daripada ‘mudik’. ‘Mulih’ dipercaya memiliki kaitan dengan ‘pulih’. Kamus Basa Jawa (Balai Bahasa Yogyakarta, 2006:639) menyebutkan bahwa kata ‘mulihake’ (mengembalikan) berarti ‘mbalekake kaya kaanane sing sakawit’, artinya ‘memulihkan menjadi seperti keadaan semula’. Para ulama mengatakan bahwa ibadah puasa yang dilakukan dengan sebagaimana mestinya, akan membawa seseorang kembali ke ‘fitrah’. Keadaan “fitrah” yang berarti ‘suci’ ini biasanya dihubungkan dengan seorang bayi yang masih polos, suci. Melakukan ibadah puasa akan mengembalikan seseorang keadaan semula, yang berarti tanpa dosa, polos. (Dan bukannya seorang penjahat setelah melewati bulan Ramadhan akan kembali menjadi penjahat lagi, koruptor boleh melakukan kejahatannya lagi, dst.)
Karena hal ini pulalah bisa jadi jika masyarakat Jawa akan memberi ‘julukan’ pengkhianat bagi mereka yang tidak pulang di hari Lebaran, karena bisa berkonotasi memutuskan tali silaturrahmi pada sanak saudara. “Mulih” yang bisa bermakna ‘memulihkan’ ke keadaan semula—ngumpulke balung pisah—setelah mungkin selama 11 bulan merantau, ‘mulih’ akan membuat hubungan kekeluargaan erat kembali seperti sebelumnya. (Thank God, orang tuaku bukan orang Jawa sehingga mereka tidak akan ‘didakwa’ sebagai pengkhianat keluarga besar Podungge hanya karena tidak ‘mulih’ di hari Lebaran.)
Bagi mereka yang akan pulang ke kampung halaman di hari Lebaran ini, entah makna yang mana yang anda ambil, mudik yang berkonotasi ‘kembali ke akar keluarga dan tanah kelahiran’ versi Budi Darma, maupun ‘mulih’ yang berkonotasi ‘memulihkan ke keadaan semula’, kuucapkan selamat menempuh perjalanan yang telah merupakan ritual dalam kehidupan ini. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa jaga kesehatan.
PT56 12.42 081007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar