Cari

Senin, Desember 22, 2008

Kampanye bersepeda






Ada program khusus yang diselenggarakan pada hari Minggu 21 Desember 2008: KAMPANYE SIMPATIK bersepeda yang diikuti oleh tiga komunitas sepeda di Semarang: SOC (Semarang Onthel Community) sebagai pencetus ide, bike to work Semarang, dan SLOWLY (Semarang lowly rider).
Ketua SOC, Bob mengemukakan ide ini untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan b2w setelah kedua komunitas ini di’feature’kan di sebuah surat kabar nasional, di bagian lokal Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Merasa bahwa kedua komunitas memiliki visi dan misi yang mirip, maka ide untuk menyelenggarakan kampanye ini pun dikemukakan. ‘Slowly’ diundang oleh SOC tentu karena memiliki visi dan mirip yang serupa.
Komunitas b2w memilih berkumpul di SMA 1 Semarang sekitar pukul 06.00, untuk kemudian secara bersama-sama meluncur ke tempat yang telah disepakati bersama SOC; yakni di Lawangsewu. Setelah event BIKE TO WORK DAY, baru kali ini b2w mampu mengumpulkan member dengan jumlah yang lumayan, sekitar 50 orang; terdiri dari anggota lama maupun baru.
Sekitar pukul 07.00 b2w meluncur ke Lawangsewu, yang terletak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari meeting point semula. Di sana beberapa anggota SOC dan ‘slowly’ telah menunggu. Semakin siang semakin banyak anggota kedua komunitas tersebut yang datang.
Setelah memberi kesempatan beberapa reporter dari beberapa media untuk melakukan wawancara, kita semua mulai melakukan ‘city tour’. Dari Lawangsewu/Tugumuda, kita mengambil rute Jalan Pandanaran, Jalan Thamrin, belok ke Kampung Kali sampai ke Jalan Mataram, belok kiri, lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan Kota Lama, lewat Gereja Blenduk, kemudian di jembatan Mberok belok kanan, menuju Polder yang terletak di depan Stasiun Tawang. Di sini ketiga komunitas diwakili oleh masing-masing ketua/wakil ketua saling memperkenalkan komunitas masing-masing yang ternyata intinya tidak jauh beda: menggunakan sepeda sebagai moda transportasi untuk keperluan sehari-hari: demi mengurangi polusi udara dan ketergantungan kepada BBM. Yang membedakan ketiga komunitas yakni jenis sepeda yang dipakai dan para anggotanya: SOC menggunakan sepeda jenis ‘lama’ (single speed) yang diproduksi sebelum tahun 1980-an, anggotanya biasanya orang-orang berusia tigapuluh tahun ke atas; ‘slowly’ menaiki jenis sepeda mini yang populer sekitar tahun delapanpuluhan, dengan modifikasi tertentu, para anggotanya kebanyakan para pelajar, mulai dari mereka yang duduk di bangku SMP sampai perguruan tinggi; sedangkan anggota b2w kebanyakan menggunakan jenis sepeda gunung, alias MTB yang mulai populer tahun 1990-an, meskipun b2w tidak membatasi jenis sepeda yang dipakai; para pekerja yang bersepeda ke kantor, menggunakan jenis apa aja, bisa bergabung dengan komunitas b2w. Sampai sekarang anggota b2w Semarang kebanyakan adalah para pekerja, meskipun kita tidak membatasi ‘hanya untuk para pekerja saja’.
Mengacu ke b2w Jogja yang merangkul beberapa komunitas ke dalamnya (misal para ‘onthelist’ dan ‘slowly’) sebagai para pengguna sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, sudah selayaknya ketiga komunitas di Semarang ini pun melebur menjadi satu; hanya saja terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil—onthelist, MTBers, dan pengguna sepeda mini.
Direncanakan di masa yang akan datang, ketiga komunitas akan menyelenggarakan acara yang serupa, untuk menjaring lebih banyak lagi anggota.
Nana Podungge
Sekretaris 1 b2w Semarang
PT56 22.00 211208

Untuk foto-foto lain, klik saja

http://mastunggal.multiply.com

http://trextion.multiply.com

http://b2wsemarang.multiply.com

Senin, Oktober 06, 2008

Puasa tahun 2008

PUASA …
Ini sudah bulan Syawal tanggal 3, namun aku baru mendapatkan ‘urge’ untuk menuliskan pengalamanku berpuasa tahun ini hari ini, setelah menyempatkan diri membaca tulisan Ulil tentang pengalamannya berpuasa di Boston.
Mulai pertengahan bulan Agustus, aku bekerja di sebuah International school dimana mayoritas siswa-siswi beragama non Muslim, mungkin berkisar antara 10% (Muslim) dan 90% (non Muslim). Sedangkan para pegawai—guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, dll, mungkin prosentasenya 25% Muslim, 75% non Muslim. Ini sebab tahun ini adalah pengalaman pertamaku berpuasa di tengah-tengah non Muslim, meskipun masih berada di Indonesia.
Jam masuk kerja mulai seperti biasa, pukul 07.00, beda dengan sekolah-sekolah negeri (atau mungkin juga sekolah nasional lain) yang memulai sekolah pukul 07.30. Lama pelajaran tiap slot pun tidak mengalami pengurangan, sehingga para siswa-siswi tetap menyelesaikan jadual sekolah pukul 14.15, khusus untuk siswa-siswi kelas 9 kelas usai pukul 15.00 karena mendapatkan pelajaran tambahan untuk persiapan ujian nasional. Jam istirahat pertama tetap pukul 09.45-10.00, dan istirahat makan siang pukul 12.15-12.45.
Ini kali pertama aku merasakan ‘nasib sebagai kaum minoritas’ sehingga aku pun benar-benar mempraktekkan satu bahan candaan, “Tolong yang puasa memahami mereka yang tidak puasa”, kebalikan satu doktrin yang kuterima sejak kecil, “Yang tidak puasa HARUS menghormati yang puasa dengan menghindari makan maupun minum di hadapan orang-orang yang berpuasa. Pertama kali aku mendapatkan menstruasi, Ibu-ku pun mendoktrinku hal ini: aku TIDAK BOLEH terlihat makan maupun minum di hadapan anggota keluarga lain yang sedang berpuasa, seolah-olah aku adalah pesakitan. Kalau aku melakukannya, maka tuduhan pengikut setan dan ahlun naar (calon penghuni neraka) pun dilabelkan, karena menggoda orang yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa harus diistimewakan, harus dijaga dari godaan (itu juga konon selama bulan Ramadhan, setan pun ‘diikat’ oleh Tuhan di neraka, sehingga tidak bisa gentayangan menggoda kaum Muslim yang sedang berpuasa). Hal ini pun mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah Indonesia yang sebenarnya bukan negara Islam, juga bukan negara sekuler, berupa himbauan agar rumah makan tutup di siang hari, sehingga nampak tidak ada toleransi sama sekali kepada mereka yang tidak puasa. Untunglah tidak ada paksaan dari pemerintah agar semua warga negara—tanpa memandang agama—untuk berpuasa, demi menghormati orang-orang Muslim yang sedang berpuasa.
Betapa manjanya orang-orang Muslim itu, mentang-mentang karena mayoritas.
Aku tidak ingin menjadi seorang Muslim yang manja di tengah-tengah rekan kerjaku yang mayoritas non Muslim. Saat istirahat siang, di ruang guru, maupun di tempat-tempat lain di dalam sekolah yang diperuntukkan anak-anak untuk makan siang (di sekolah tidak ada kantin, sehingga anak-anak harus membawa bekal makan siang sendiri, namun pihak sekolah menyediakan tempat-tempat khusus dimana anak-anak biasa berkumpul untuk makan bersama) terlihat orang makan, ditambah dengan bau makanan yang menggoda hidung dan perut yang mulai lapar. Aku perhatikan beberapa guru expat tidak menunjukkan ekspresi wajah, seperti, “Sorry, I am enjoying my lunch now while probably you are hungry at the moment.” Tentu aku paham sekali akan hal ini, bukankah kita sendiri memiliki pilihan, untuk berpuasa, mengikuti ajaran agama, atau tidak berpuasa. Setelah kita menentukan pilihan untuk berpuasa, tak selayaknya kemudian kita minta diistimewakan, misal dengan mengatakan, “Please respect me by not eating before my nose!” 
Ketika seorang rekan kerja, non Muslim, orang Indonesia (bukan expat) bertanya kepadaku dengan hati-hati, “So, how is your fasting in this month?” aku tidak langsung ‘ngeh’ kemana arah pertanyaannya, sehingga dia pun perlu menjelaskan,
“I believe it must be hard for you to fast among non Muslim?”
Maka aku pun menjawab, dengan nada bercanda, “You know the harder the tempation is, the more reward I will get from God. It is not a big deal for me to fast in the middle of people who do not fast. Don’t worry. Thank you for concern though.”
Aku yakin sebagai orang Indonesia, rekan kerja ini tentu sudah terbiasa dengan ‘himbauan’ pemerintah Indonesia, sehingga perlu merasa ‘tidak enak’ kepadaku dengan situasi yang ada. Berbeda dengan para guru expat yang tidak mendapatkan atau mengalami ‘indoktrinasi’ dari pemerintah mereka untuk ‘menghormati’ (atau memanjakan) orang-orang yang berpuasa.
Di sekolah ini aku belajar (lebih jauh lagi) untuk mempraktekkan toleransi antar agama.
PT56 22.19 031008

Sabtu, September 27, 2008

Jumat Kliwon

Alkisah satu hari Jumat beberapa siswiku ‘agak’ kehilangan kontrol, karena mereka bercanda melulu. Mungkin karena mereka senang karena kita telah menyelesaikan unit 2, sehingga mereka merasa telah mampu melepaskan beban. (Believe me, the material for English is damn difficult for average grade 7 students.) Kebetulan hanya ada seorang siswa laki-laki yang expat di kelas itu. Rupanya dia merasa heran dengan teman-teman sekelasnya yang banyak berhaha hihi, sehingga dia pun bertanya kepadaku,
“Miss … what’s wrong with my classmates? Why are they so hilariously crazy today?”
(“Ada apa dengan teman-teman sekelasku, Miss? Mengapa mereka nampak lepas kontrol?”)
Aku pun yang ‘ketularan’ happy mood menjawab sekenanya, menjawab dengan nada bercanda,
“What Friday is it? Is it Jumat Kliwon?” sambil mengecek kalender. Dan ternyata benar, hari itu adalah hari JUMAT KLIWON. Maka aku pun berseru, “Yes, this is JUMAT KLIWON!!!”
(nampaknya aku sedang terbawa tema modernisme+posmodernisme+mistisisme dalam BILANGAN FU, novel terbaru Ayu Utami.)
Sang siswa expat itu pun bertanya, “What is wrong with Jumat Kliwon Miss?”
“Well, you know in Javanese culture, Javanese must provide offerings for the spirit on the night of Jumat Kliwon. It seems to me that your classmates’ mothers forgot to provide offerings last night so that they turned to be crazy today!” jawabku sekenanya, sambil berusaha memasang mimik serius di wajahku.
(“Dalam budaya Jawa, orang-orang Jawa harus menyediakan sesajen pada malam Jumat Kliwon. Nampaknya orang tua teman-temanmu itu lupa menyediakan sesajen semalam sehingga mereka pun menjadi gila hari ini.”)
“What about me? I live in Java but I am not Javanese. Should my family follow that tradition too? To provide offerings every Jumat Kliwon eve? My mother didn’t provide any offering last night. Will I get crazy too?” he asked innocently.
(“Bagaimana denganku? Aku bukan orang Jawa meskipun aku tinggal di Jawa. Apakah keluargaku pun harus mematuhi tradisi untuk menyediakan sesajen tiap malam Jumat Kliwon? Apakah aku pun akan gila karena semalam Mamaku tidak menyediakan sesajen?” tanya siswaku itu dengan lugu.)
‘Don’t worry. You will not get affected.” Jawabku.
(“Jangan khawatir. Kamu ga akan terpengaruh.”)
“How long will they be crazy like that Miss?” he asked again.
(“Berapa lama mereka akan menjadi gila seperti itu Bu?” tanyanya.)
“Until next Jumat Kliwon,” jawabku.
(“Sampai sok Jumat Kliwon lagi.”
“What if their mother forgets to provide offerings again next Jumat Kliwon? Will their craziness become double?” tanyanya, agak ngeri. LOL.
(“Jika ibu mereka lupa menyediakan sesajen lagi sok Jumat Kliwon, apakah kegilaan mereka akan meningkat?)
“Absolutely!” jawabku, agak menakutinya. LOL.
Mendengar percakapanku dengan sang siswa expat itu, siswi-siswi yang lain pun ikut ‘bersekongkol’ denganku untuk menggodanya, sehingga dia nampak percaya.
Setelah kelas usai, tatkala aku akan meninggalkan kelas, sang siswa expat itu mendekatiku, “Miss … “I am scared!” (“Miss … aku takut!”)
“Why?” tanyaku.
“My friends are crazy …”
Meledaklah tawaku dan siswi-siswi yang lain.
“Don’t worry! We were just joking. We just wanted to tease you!”
Dan dia pun langsung ikut tertawa, dan mimik ketakutan hilang dari wajahnya. LOL.
PT56 21.17 260908

Indoglish

Di tempatku bekerja, sebuah kursus Bahasa Inggris yang lumayan punya nama di Indonesia, kita semua guru berusaha untuk mematuhi ‘peraturan-peraturan’ English yang baku tatkala menggunakan bahasa yang diimport dari negeri Ratu Elizabeth ini. Termasuk penggunaan kata “Mr. …” yang seyogyanya diikuti oleh family name, sehingga kita sangat jarang menggunakan kata “Mr. …” ini untuk menyebut nama seorang guru laki-laki. Maklum, kebetulan di kantorku tidak ada satu guru laki-laki pun yang memiliki family name di belakang nama mereka. Beda dengan penggunaan “Ms. …” yang memang ada dalam kamus untuk menyebut nama guru perempuan sejak zaman baheula. Walhasil, “Ms. Nana” terdengar biasa-biasa saja, sedangkan “Mr. Agung …” jarang terdengar, kecuali siswa-siswi yang menyebutnya. Kita tetap menyapa rekan kerjaku itu sebagai, “Pak Agung …”.

Tatkala aku menghadiri seminar TEFLIN yang diselenggarakan di Surabaya tahun 2002, dan Jack C. Richards sebagai salah satu keynote speaker encouraged orang untuk menumbuhkembangkan localized English, aku hanya berpikir, mungkin dalam Indoglish (baca  INDONESIAN ENGLISH) kita bisa menyisipkan kata-kata yang tak ada dalam Bahasa Inggris, misal “deh”, “sih”, “dong” dlsb. NOTE: kerangka dasar pemikiran Jack C. Richards adalah bahwa English is a universal language, sehingga di masa ini, orang-orang British, American, maupun Australian tak lagi bisa merasa ‘arogan’ sebagai pemilik bahasa ini. Yang paling penting adalah, asal para ‘interlocutor’ saling memahami tatkala mereka berkomunikasi.

Satu kenyataan lain yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kita tidak memiliki native speaker. Semua guru lokal dengan asumsi bahwa para guru dulu pun mengalami masa-masa awal mempelajari bahasa import ini, sehingga diharapkan mereka akan mampu mentransfer pengalaman mereka kepada para siswa.

Di kantorku yang baru ada beberapa guru expat. Banyak pula siswa yang mixed blood. Dan ternyata justru di sinilah aku menemukan gejala “Indoglish” yang sebenar-benarnya.

Contoh:

“Halaman berapa?” yang seharusnya diterjemahkan menjadi “What page?” ternyata di kantorku yang baru ini sangat biasa menemukan anak-anak yang bertanya, “Page how many?

“Kamu bisa ga?” yang tatkala diterjemahkan kedalam English, kita seharusnya menyertakan kata kerja, misal, “Can you do that?” menjadi ‘hanya’, “Can you?” dan kemudian dijawab, “Can!” dengan nada yang sama persis tatkala kita mengucapkan bahasa Indonesia, “Bisa!” atau tatkala seorang siswa merayu seorang guru, misal agar bisa agak molor mengumpulkan tugas, “Can ya Miss? Can ya?” Satu penggalan kalimat yang TIDAK PERNAH KUAJARKAN di kursus Bahasa Inggris tempat aku bekerja sejak tahun 1996 itu.

Contoh berikut tidak hanya diucapkan oleh siswa-siswi, namun juga diucapkan oleh beberapa guru.

Misal, “Bisakah saya bertanya sesuatu Pak?” diterjemahkan menjadi, “Can I ask you something Mister?” “Bisa ya Pak?” menjadi, “Can ya Mister ya?

Selain vocabulary dan word order yang ‘aneh’ itu, logat bicara yang sangat nJawani terdengar sangat kental.

Aku perhatikan, para expat itu pun akhirnya “tunduk” pada “word order” Indoglish ini sehingga mereka tak lagi menganggapnya aneh. Kupingku saja yang masih sering merasa ‘risih’ tatkala mendengarnya. Namun sebagai seseorang yang beradaptasi dengan mudah (terutama dalam penggunaan bahasa, termasuk dialek dan logat), tak lama lagi aku pun “jangan-jangan’ akan ketularan. LOL. Selama ini rekan-rekan kerja di kantor lama menganggap logatku dalam berbicara bahasa Inggris lumayan ‘bisa melepaskan diri’ dari pengaruh nJawani maupun Semarangan, (meskipun di telinga Abangku yang lama tinggal di luar negeri aku masih terdengar Jowo banget), ‘jangan-jangan’ tak lama lagi aku akan ketularan logat berbicara siswa-siswi dan rekan kerja baruku. Maklum, lebih banyak guru lokal dari pada guru expat-nya.

Kembali ke apa yang dikatakan oleh Jack C. Richards, kita harus tetap bangga dengan our localized English. Nevertheless, I do hope, I WILL NOT GET CONTAMINATED. LOL.

PT56 20.4 260908

Selasa, September 16, 2008

Shalat Jumat

Waktu membaca artikel Ulil Abshar Abdalla tentang pengalamannya shalat Jumat di Jakarta, (untuk artikelnya secara lengkap bisa dicari di http://superkoran.info atau klik blog http://themysteryinlife.blogspot.com) aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu (mungkin lebih dari enam tahun lalu) waktu shalat Jumat di masjid Baiturrahman, di kawasan Simpanglima Semarang.
Di masjid Baiturrahman, tempat shalat jamaah perempuan berada di lantai tiga, sedangkan jamaah laki-laki berada di lantai dua. Di lantai satu, terutama di dekat pelataran parkir, ada sebuah toko kecil yang berjualan berbagai macam dagangan; mulai dari buku-buku, busana Muslim, makanan kecil, minuman, dll.
Hari itu adalah salah satu hari Jumat di bulan Ramadhan. Seusai shalat Jumat, aku turun ke bawah dan melihat ‘pemandangan’ yang digambarkan oleh Ulil, di halaman depan masjid, banyak pedagang tiban—selain yang memang berjualan di ‘toko’ yang disediakan oleh masjid Baiturrahman—yang menjajakan barang dagangannya masing-masing. Berhubung Idul Fitri akan menjelang, maka banyak jamaah yang merubungi pedagang yang berjualan pakaian. Setelah menginjak usia dewasa, aku super jarang shalat Jumat di masjid, sehingga pemandangan jual beli di halaman masjid ini pun menarik perhatianku. Sayangnya karena jamaah perempuan menempati lantai ketiga, aku tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Ulil, begitu usai shalat Jumat—terutama setelah melakukan salam—orang-orang langsung melanjutkan transaksi jual beli. Lupakan ‘tradisi’ membaca wirid dan doa yang panjang-panjang. J
Aku ingat tatkala duduk di bangku SD (aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah), aku sering sekali berangkat shalat Jumat di masjid Baiturrahman bersama-sama teman-teman sekolah, karena kebetulan kita libur pada hari Jumat. Dan tidak pernah aku melihat pemandangan orang-orang yang melakukan transaksi jual beli di halaman masjid tersebut. Zaman telah berubah?
Di sekitar MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) yang jauh lebih luas dari masjid Baiturrahman pun dibangun bangunan-bangunan permanen untuk melakukan transaksi jual beli seperti ini.
Setelah mengklaim diri sebagai seorang feminis, dan mengalami perjalanan spiritualitas sehingga menjadi seorang yang sekuler, sama seperti Ulil, aku pun mulai jengah dan bosan bila mendengar khotbah yang isinya sangat provokatif kepada pemeluk keyakinan lain, apalagi jika khotbahnya bersifat misoginis dan membodohi khalayak umum.
Aku jadi ingat Amina Wadud yang percaya bahwa seorang perempuan pun bisa mengisi khotbah Jumat dan menjadi imam shalat Jumat. Mungkin aku akan mau berangkat ke masjid untuk menghadiri shalat Jumat bersama perempuan-perempuan lain, dan mendengarkan khotbah yang tentu tidak misoginis, bahkan membangkitkan semangat kesetaraan. Meskipun bagi perempuan, shalat Jumat hukumnya sunnah, karena konon yang terkena fardhu kifayah hanya kaum laki-laki.
Sewaktu duduk di bangku S1 dulu (UGM – Jogja), ada seorang boarder di kos yang aku tinggali berasal dari Tasikmalaya. Tatkala aku bercerita kepadanya tentang pengalamanku shalat Jumat di masjid waktu pulang ke Semarang. Dia melengak keheranan, “Kamu shalat Jumat Na?” tanyanya heran.
“Iya. Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Bukannya untuk perempuan shalat Jumat itu hukumnya haram? Di Tasikmalaya ga ada perempuan shalat Jumat.”
Pengalaman memang mahal harganya. Mengenal orang dari daerah lain tentu akan memperkaya pengalaman kita, sekaligus mengenal cara pandang/pikir orang lain, agar kita saling mengenal, kemudian saling menghormati. Sejak itu aku baru tahu bahwa di daerah Sunda, tidak ada sebuah masjid pun yang menyediakan tempat untuk perempuan untuk shalat Jumat, sedangkan di Semarang, banyak masjid yang dibanjiri kaum perempuan pada jam shalat Jumat.
Aku tidak tahu dengan kondisi sekarang. Aku lebih memilih shalat sendiri di rumah.
PT56 13.58 140908

Rabu, September 10, 2008

Setelah bike to work

Bike to work alias bersepeda ke tempat kerja telah kulakoni selama kurang lebih 2 bulan, sejak awal Juli 2008. Apa manfaat yang telah kudapatkan selama ini? Yang paling langsung ‘terasa’ memang adalah mengirit uang untuk membeli BBM, terutama pada saat Angie libur sekolah (awal bulan Juli lalu sampai Angie masuk sekolah di pertengahan bulan), aku sama sekali tidak menaiki sepeda motorku, kecuali berbelanja ke ADA bareng anak semata wayangku. Agar motor tidak ‘bermasalah’ karena jarang kunaiki, yang kulakukan hanyalah memanasi mesin motor, cukup di rumah saja.
“Don’t you feel exhausted at the very beginning you biked to work?” tanya salah seorang rekan kerja. Well, tentu saja tidak, karena sebelum membiasakan diri bersepeda ke tempat kerja, seminggu minimal lima kali aku menyempatkan diri berolahraga di PARADISE CLUB, sebuah pusat kebugaran yang menyediakan fasilitas untuk erobik, fitness, berenang, dan tennis, yang terletak di Pondok Indraprasta Semarang. Namun, semenjak bike to work, dan merasa mulai jatuh cinta pula pada olahraga yang satu ini (maklum, teman-teman b2w Semarang suka ngomporin orang untuk bersepeda setiap hari, to be crazily in love in cycling), aku pun absent dari PC semenjak Juli. Aku mulai memuaskan diri untuk memandang pemandangan alam/kota di sekitar tatkala aku bersepeda; sementara sebelum ini tatkala bersepeda ‘stationed’ di PC, aku terbiasa melakukannya sembari membaca buku, dan bukannya memuaskan mata memandang tubuh-tubuh liat para laki-laki yang banyak berseliweran di hadapanku, yang mungkin bermimpi membentuk tubuh mereka seperti tubuh Ade Rai. LOL.
Mendengar jawabanku, “Aku tidak capek sama sekali,” ternyata mengecewakan rekan-rekan kerjaku, karena mereka ingin tahu bagaimana efek bersepeda ke tempat kerja terhadap mereka yang sebelum ini sekali tidak pernah berolahraga sama sekali.
Meskipun belum terlalu signifikan, aku yakin, penguranganku mengeluarkan zat beracun dari knalpot sepeda motor, telah sedikit mengurangi polusi udara di kota kelahiranku.
Selain itu aku pun baru menyadari betapa selama ini aku terlalu ‘ignorant’ alias terlalu acuh pada daerah sekelilingku, sementara tetangga-tetangga di sekitar Pusponjolo memperhatikanku. Hal ini terjadi manakala aku membawa sepeda ke tempat pompa ban, masih di jalan Pusponjolo Tengah, seorang laki-laki yang memiliki usaha tersebut memandangku dengan aneh, kemudian bertanya, “Motornya dikemanain mbak?”
Hah, ternyata dia memperhatikanku biasanya naik motor.
“Motor kuistirahatkan di rumah,” jawabku.
Namun ternyata di mata laki-laki itu, aku tetap menemukan sinar keheranan.
Di saat lain, tatkala berangkat bekerja, aku memilih jalur lain (masih di daerah Pusponjolo juga). Tiba-tiba seseorang yang tidak kukenal menyapaku, “Wah mbak, sekarang kendaraannya ganti ya?”
I’m quite popular, eh? LOL. Atau memang si Nana ini terlalu ignorant dikarenakan mata belornya. LOL.
PT56 11.52 070908

Selasa, Agustus 05, 2008

Why Bike to Work?

“Semula mereka memang menganggapnya aneh. Tapi karena rekan-rekan kerja saya itu mengenal saya sebagai orang yang punya kegemaran yang rada nyeleneh, lama-lama mereka pun ga ambil peduli.”
Demikian penuturan Pak Wargo, salah satu ‘pioneer’ bike to work di Semarang. Mengaku telah menjadi praktisi bike to work semenjak tahun 2005, pada tahun yang sama tatkala komunitas bike to work Indonesia mulai terbentuk di Jakarta, Pak Wargo mengemukakan alasan pertama dia berpikiran untuk naik sepeda ke kantor adalah demi kesehatan. Jarak rumah ke kantor yang lumayan jauh – kurang lebih 35 kilometer, sehingga kurang lebih dia menempuh jarak 70 kilometer setiap hari naik sepeda – Pak Wargo anggap sebagai suatu tantangan.
“Saya sengaja menghindari melewati tanjakan di daerah Kedungmundu, itu sebab dari Klipang saya ambil jalur ke jalan Majapahit, kemudian langsung lurus terus ke Barat, sampai Mangkang. Saya butuh waktu kurang lebih satu jam 15 menit untuk menempuh jarak 35 kilometer itu.”
Pak Wargo menjelaskan rute yang biasa dia lewati, sekitar tiga sampai empat kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu dia pilih sebagai hari istirahat bersepeda, untuk memulihkan tenaga.
*****
Untuk menjaga kesehatan memang merupakan salah satu alasan yang dipakai oleh para anggota bike to work (komunitas pekerja bersepeda) Semarang. Banyak orang mengatakan mereka tidak memiliki waktu luang untuk melakukan olahraga, yang merupakan salah satu syarat mutlak untuk menjaga kesehatan, sehingga bersepeda menuju tempat kerja bisa dianggap sebagai salah satu solusi praktis. Seseorang hanya perlu bangun lebih pagi agar bisa berangkat bekerja lebih awal.
Semenjak harga BBM naik, bersepeda ke tempat kerja pun merupakan salah satu solusi tepat. Seperti apa yang dikemukakan oleh Pak Wargo yang mencintai mobil VW yang terkenal sangat boros dalam penggunaan bahan bakar. Dia harus mengeluarkan uang kurang lebih Rp. 300.000,00 per minggu untuk membeli bahan bakar. Bisa dihitung berapa ratus ribu yang bisa dia hemat dalam waktu satu bulan semenjak dia memutuskan untuk bersepeda ke tempat kerja. Paling-paling dia hanya butuh membeli sarapan tambahan setiap pagi.
Tidak hanya masyarakat Indonesia yang terpukul dengan naiknya harga BBM. Konon di Amerika pun sepeda sebagai alat transportasi mulai digemari kembali, sebagai salah satu cara untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, juga untuk menghemat pengeluaran.
Namun selain kedua alasan di atas, satu hal yang paling penting dari kebiasaan bersepeda ke tempat kerja adalah mengurangi gas emisi yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan bermotor. Semakin banyak orang meninggalkan kendaraan bermotor dan beralih ke sepeda (kembali), akan semakin besar pula dampaknya dalam upaya kita mengurangi pemanasan global. Harapan untuk mengurangi polusi udara tentu akan lebih cepat tercapai jika lebih banyak orang bersepeda ke kantor. Terlebih lagi jika dilanjutkan dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk pergi kemana-mana, tidak hanya untuk ke kantor.
PT56 22.54 040808

Sabtu, Juli 26, 2008

Bersepeda ... oh asiknya ...

Selalu ada cerita menarik yang kudengar dari teman-teman b2w Semarang.
Kebetulan sampai saat aku menulis ini, teman-teman b2w Semarang yang kukenal adalah mereka yang bersepeda ke kantor karena pilihan, dan bukan karena terpaksa. Alasan yang melatarbelakangi memang cukup bervariasi; mulai dari peduli lingkungan (aku sendiri, adikku, dan beberapa yang lain), untuk melangsingkan badan (ga usah menyebut nama yah? LOL), sampai memang seorang biking freak (yang merasa boleh ngacung! LOL), dll. Ngirit beli bensin adalah nilai tambah yang menyertai. 
Tatkala naik sepeda, dan ikut merasakan ‘nelangsanya’ kaum yang termarjinalisasi, teman-teman pun ngomel-ngomel jika ada pengendara kendaraan bermotor memencet-mencet klakson karena para pengendara itu selalu tidak sabaran melihat laju sepeda yang tentu tidak secepat kendaraan bermotor. Ada yang kesal tatkala kondektur bus ngomel-ngomel, “Pit-pitan ning ndalan!!!” (“Naik sepeda kok di jalan raya!”) sehingga dia membalas ngomel, “Lha po ning kasur!!!” (“Masak naik sepeda di kasur!!!”). Cerita ini membuatku ketawa ngakak, karena langsung membayangkan naik sepeda di kasur. LOL. (Biasanya sih orang becanda ‘berenang di tempat tidur’ yah? LOL.)
Konon, sebelum mereka merasakan ‘termarjinalisasi’ karena naik sepeda, mereka pun merupakan pelaku ‘memarjinalkan’ pengendara sepeda. LOL. Sehingga setelah merasakan keangkuhan para pengendara kendaraan bermotor, mereka menjadi arif tatkala mereka mengendarai sepeda motor maupun mobil.
Aku sendiri tidak, atau belum, mengalami hal yang tidak menyenangkan itu, mungkin karena letak kantor yang tidak jauh dari rumah, kurang dari 2 kilometer, kurang dari 10 menit dengan mengayuh pedal sepeda santai. Sebaliknya, aku merasa tatkala akan menyeberang jalan, para pengendara mobil maupun sepeda motor dengan sengaja mengurangi laju kecepatan kendaraan mereka, untuk memberiku ruang dan waktu yang cukup untuk menyeberang. Terkadang kuamati mereka memang sengaja berada di belakangku sejenak, untuk membaca tag kuning di bawah sadelku yang berbunyi, “BIKE TO WORK, KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA SEMARANG” kemudian tatkala melewatiku, mereka menoleh sejenak memandang si empunya sepeda, baru melaju dengan takzim.
“Serasa seperti selebriti,” kata seorang teman yang berdomisili di Tembalang (kawasan ‘atas’ Semarang), apalagi kalau dia sedang menaiki jalan yang menanjak, banyak orang menoleh ke arahnya. LOL. Maklum selebriti dadakan. LOL.
Seorang teman yang tinggal di Banyumanik memberikan trik yang unik. Tatkala pertama kali dia berusaha menaklukkan bukit Gombel, dia menelpon istrinya minta dijemput, ketika dia merasa sudah tidak kuat lagi melanjutkan mengayuh pedal sepedanya. LOL.
Seorang teman lain yang memiliki sepeda lipat (yang kita singkat menjadi SELI), yang tinggal di kawasan yang menanjak pula, Ngaliyan, cukup sering juga menelpon istrinya minta jemput, entah karena capek, atau sudah ga sabar ingin segera sampai rumah, untuk bertemu dengan jagoan kecilnya. Dia tinggal melipat sepedanya, menaruh di dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan dalam mobil dengan nyaman.
Bagaimana dengan pengalaman pergi ke supermarket naik sepeda? Adikku mengalami disambut tukang pemberi tiket parkir dengan mimik wajah yang tidak ramah.
“Ditaruh di situ saja mbak!” katanya ketus, sambil menunjuk beberapa sepeda yang ‘teronggok’ termarjinalkan di satu tempat.
Namun dia tidak perlu membayar tiket parkir.
“Orang-orang memang belum bisa membedakan sepeda mahal dan sepeda murah.” Kata seorang teman lain yang tinggal di kawasan Sendang Mulyo. “Padahal banyak juga sepeda yang harganya lebih mahal dari sepeda motor, bahkan sama mahalnya dengan sebuah mobil.” Katanya lagi.
Well ... seperti teman-temanku, aku pun menyimpan mimpi indah agar lebih banyak orang yang meninggalkan kendaraan bermotor untuk kegiatan sehari-hari, dan beralih naik sepeda, yang lebih ramah lingkungan, plus lebih menyehatkan badan.
When will you follow us?
PT56 12.05 250708

Bikers on the Street


Di Indonesia merupakan pemandangan yang jamak bahwa para pengendara sepeda di jalanan tidak mematuhi lampu abang ijo alias traffic light. Aku tidak pernah mempedulikan hal ini sampai aku pun bergabung dengan para pengendara sepeda. ...
Pertama kali aku naik sepeda ke kantor, tentu saja aku masih perlu beradaptasi sehingga ketika lampu merah menyala, aku pun layaknya pengendara sepeda motor berhenti. Dan setelah lampu hijau menyala, aku pun akan serasa berlomba-lomba meninggalkan ‘garis start’ dengan para pengguna jalan raya lain. Kadang kala mereka yang naik mobil di belakangku ‘ribut’ membunyikan klakson, sebagai tanda bahwa mungkin keberadaanku yang naik sepeda di depan mereka mengganggu kecepatan (ato kenyamanan yah?) kendaraan mereka.
Hari Rabu 25 Juni 2008 sepulang mengajar dari sebuah universitas swasta yang terletak di Jalan Pemuda sekitar pukul 20.00, aku bertemu beberapa orang yang naik sepeda pula sepertiku, di traffic light bundaran yang menghubungkan Jalan Pemuda, Jalan Depok, Jalan Thamrin, Jalan Pierre Tendean, dan Jalan Tanjung. Kami berada di Jalan Pemuda, di depan Bank Buana Indonesia, if I am not mistaken. Aku memandang mereka, yang lengkap berbusana bersepeda plus helm, mereka pun memandangku. Kami hanya berhenti pada tahap saling memandang. 
Traffic light menyala merah. Meskipun naik sepeda, aku biasa berhenti tatkala lampu lalu lintas menyala merah. Namun malam itu, entah mengapa aku terus melaju, karena lampu lalu lintas di Jalan Tanjung (sebelah kanan posisiku) pun merah, sehingga aku merasa cukup aman untuk terus mengayuh sepeda.
******
Sesampai di rumah, aku pun bercerita tentang apa yang baru saja terjadi ke adikku. Kebetulan memang kita berdua sedang terkena demam ‘bike to work’.
“Wah ... tatkala aku tetap melaju meskipun lampu merah, aku ingat omongan Pak Danar, salah satu teman yang kukenal di milis Sastra Pembebasan yang komplain, “Only God and tukang becak know when he will turn!! Itu sebab di Jakarta orang-orang selalu ngomelin keberadaan becak yang selalu membuat lalu lintas semakin kacau balau!” kataku berapi-api.
“I know I have done something wrong, tapi kukira ga ada yang kubuat kacau balau dengan apa yang kulakukan tadi, tetap melaju meskipun lampu merah menyala.” Kataku lagi, memberikan pembenaran pada diri sendiri. LOL.
“Mbak ... what if ... kalau orang-orang bike to work lain melihat apa yang kamu lakukan tadi? Bagaimana kalau mereka merasa apa yang kamu lakukan ‘mencoreng’ nama baik b2w Semarang karena tidak berhenti di lampu merah?” tanya adikku.
Aku melongo. Berharap ga ketahuan. LOL.
*****
Kamis 26 Juni 2008 adalah hari pertama diadakan rapat pembentukan pengurus bike to work Semarang. Aku dan adikku—yang waktu itu masih dua-duanya anggota cewe—datang karena di milis sudah ditunjuk dengan semena-mena akan diberi tanggung jawab sebagai sekretaris.
Sebelum rapat dimulai, Pak Budi cerita tentang apa yang dia lihat malam sebelumnya. Tatkala berkeliling kota naik sepeda, menemani anggota bike to work Bandung yang sedang berkunjung di Semarang, di Jalan Pemuda melihat seorang perempuan naik sepeda, dimana di bawah sadel ada tag ‘BIKE TO WORK SEMARANG’, dengan nyamannya melenggang meskipun lampu merah menyala.
G-U-B-R-A-K!!!
It was me!!!
Dan seperti apa yang dikatakan oleh adikku, AKU DILIHAT oleh anggota b2w Semarang lainnya tatkala melanggar lampu merah.
Maluku ada dimana yah? Hahahahaha ...
(dan semenjak itu, aku pun sering dijadikan bahan olok-olokan gara-gara menjadi traffic regulation breaker!!!)
*****
Beberapa hari kemudian, seorang rekan kerja melihatku berhenti di traffic light karena lampu merah sedang menyala. Rekan kerja yang sedang membonceng suaminya ini geli melihatku berhenti. Suaminya yang kadang kala naik sepeda tatkala berangkat bekerja ini bilang, “Lihat tuh mbak Nana! Dia berhenti di lampu merah meskipun naik sepeda. Apa dia ga tahu bahwa bagi pengendara sepeda, kita ga perlu berhenti meskipun lampu merah?”
Keesokan hari tatkala rekan kerja ini mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh suaminya, aku gantian bercerita kepadanya tentang aku yang menjadi bahan olok-olokan di komunitas b2w Semarang berhubung aku KETAHUAN melanggar lampu merah.
“Anggota b2w tetap mematuhi peraturan lalu lintas meskipun kita naik sepeda!” kataku pada rekan kerjaku itu, yang membuatnya tersenyum tersipu karena menyarankan aku ‘melanggar’ lampu merah.
Namun gara-gara itu pula setiap kali aku bertemu dengan lampu merah, aku jadi bingung, mau berhenti atau terus, terutama kalau aku melihat kemungkinan untuk terus. Jikalau itu terjadi di perempatan, aku lebih sering berhenti kalau lampu merah, meskipun dengan resiko para pengendara di belakangku sibuk membunyikan klakson karena mereka menganggap laju sepedaku lelet. Jikalau itu terjadi di bundaran (misal Tugumuda) dari arah Jalan Imam Bonjol, aku sering tetap melaju, terutama kalau aku lihat tidak ada kendaraan bermotor datang dari arah kanan (dari Jalan Sugiyopranoto, maupun yang berputar datang dari Jalan Dr. Sutomo). Sesampai di traffic light di depan Museum Bhakti Mandala (ndak bener jenenge iki? Sing ning sebelahe Pasar Bulu? Lali ik. LOL.), jika lampu merah menyala, aku selalu berhenti karena lalu lintas dari arah Jalan Pandanaran maupun Jalan Dr. Sutomo selalu ramai.
Should bikers stop at the red traffic light?
PT56 11.22 250708

Selasa, Juli 15, 2008

Sepedaku, sepedamu, sepedanya

“Pandanglah orang yang berada di ‘bawah’mu agar engkau mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadamu…”


Kalimat ini terus menerus bergaung di benakku tatkala aku membawa sepeda ‘lungsuran’ kakakku seorang ke bengkel sepeda yang terletak di Jalan Suyudono, tak jauh dari Pasar Bulu, pada hari Jumat 11 Juli 2008.
Lho kok?
Backgroundnya begini.
Hari Rabu 2 Juli, seperti yang kutulis di postingan beberapa waktu lalu, aku ngikut ‘city night riding’ yang diadakan oleh komunitas b2w Semarang. Di antara para partisipan yang ikut waktu itu, sepedaku jelas nampak paling perlu dikasihani. LOL. Usianya sama dengan Angie, 17 tahun!!! (Kalo ga salah ingat, kakakku mengirimkan sepeda merk WINNER ini ke Semarang tahun 1991, tahun anak semata wayangku itu lahir, sebelum kakakku menikahi sang pemberi sepeda tahun 1992.) Selain itu, selama beberapa tahun sepeda sempat mangkrak ga diurusin, apalagi dinaikin. LOL.
Sepeda rekan-rekan b2w Semarang kebetulan kebanyakan merk POLYGON (aku tidak bermaksud promosi, tapi apa boleh buat? Aku ga bisa ga menyebut merek. LOL.) Aku belum tahu dengan jelas mengapa seolah-olah komunitas b2w Semarang ‘didukung’ oleh toko sepeda RODALINK yang berdomisili di kawasan Bangkong, karena beberapa rekan mempromosikan toko ini bagi member yang ingin membeli sepeda baru. Selain POLYGON, seorang member kulihat menaiki sepeda merek GIANT yang tentu jauh lebih keren dibanding milik kakakku yang berharga ‘cuma’ 3 jutaan karena harganya terpaut lima jutaan. (Gile bener!!! – ngeces mode ON. LOL. LOL.)
Wes to poll, pit duwekku iku elik dewe. Wakakakaka ... But I love it a lot and feel proud of myself while riding it, karena selalu terngiang kata-kataku sendiri, “I have supported to reduce air pollution in my dearest hometown.” Mbombong awake dewe luwih becik tinimbang ora mbombong. Wakakakakaka ...
Hari Minggu 6 Juli tatkala berkumpul di Stadion Diponegoro untuk ikut meramaikan acara sepeda santai yang diselenggarakan oleh Polres Semarang Timur, tentu aku berkumpul dengan rekan-rekanku yang sangat membanggakan bagiku (karena semangat bike to work). And again, sepedaku jelas terlihat yang paling ‘tua’ di antara para member b2w Semarang. Nevertheless, karena acara tersebut diikuti oleh banyak klub-klub pecinta sepeda lain, seperti SOC alias ‘Semarang Onthel Club’, sepedaku ga begitu terlihat patut dikasihani. Wakakakaka ... Lah, yang onthel-onthel itu kan tentu usianya sudah lebih dari tiga dekade.
Hari Jumat 11 Juli. Aku bawa sepedaku ke bengkel sepeda yang kelasnya di bawah RODALINK , namun aku yakin kemampuan sang mekanik sepeda tentu ga kalah. Tatkala menunggu si Bapak mekanik membetulkan rem dan letak sadel, aku duduk-duduk di bangku depan bengkel yang sekaligus juga berjualan sepeda dan sparepartsnya. Di hadapanku kulihat berbagai macam sepeda yang dari ‘penampilannya’ jauh lebih mengenaskan dari sepeda yang akhir-akhir ini setia menemani kemana pun aku pergi. Ada seorang Bapak mengendarai sepeda onthel yang dia beli tahun 1976 yang roda depannya ringsek karena ditabrak sepeda motor. Ada beberapa orang lain yang naik sepeda tanpa rem (praktis dia harus ‘memanfaatkan’ kakinya untuk mengerem laju sepeda tatkala dia akan berhenti.) Masih ada beberapa sepeda lain yang kondisinya, bagiku, mengkhawatirkan si pengendaranya.
Dan tatkala kupandang sepeda WINNER ku, out of the blue, dia nampak begitu gagah perkasa, sehingga aku pun berbisik dalam hati, “Thank God, I have this bike to help reduce the air pollution as well as the negative impacts of global warming.”

P.S.: Tapi kalau ada yang mau menghadiahi aku sepeda gunung yang baru, tentu aku MAU ... MAU ... MAU!!! Huehehehehe ...
PT56 15.00 110708

Jumat, Juli 11, 2008

7 Juli 2008


Pengalaman pulang kerja hari Senin 7 Juli 2008

Setelah selesai mengajar jam 19.00, aku tidak langsung pulang karena tergoda membaca beberapa artikel di The Jakarta Post. Aku meninggalkan pelataran parkir kantor pukul 19.41 (menurut speedo meter yang terpasang di sepeda). Meskipun hari Minggu 6 Juli 08 aku baru saja ikut acara ‘sepeda santai’ yang diselenggarakan oleh POLRES SEMARANG TIMUR, aku sudah kepengen nggowes lagi. So, keluar dari kantor, aku berbelok ke Jalan Imam Bonjol menuju Tugumuda. Baru beberapa meter aku memasuki Jalan Pandanaran, seorang laki-laki yang naik sepeda motor membarengiku. FYI, aku biasa memasang wajah jutek kalau sedang naik motor dan digodain laki-laki. Namun berhubung aku naik sepeda dengan bike tag “BIKE TO WORK”, aku merasa ‘harus berkampanye’, aku pun tidak berwajah jutek ketika laki-laki itu menyapa, “Mau kemana mbak?”
“Mau pulang,” jawabku.
“Emang dari mana?” tanyanya.
“Dari kantor.”
“Dari tadi tak perhatiin kok asik sekali ya naik sepeda malam-malam,” katanya.
Aku cuma tersenyum.
“Emang rumahnya mana mbak?” tanyanya lagi.
Aku pikir tentu dia bakal ga percaya kalau aku bilang rumahku Pusponjolo karena aku sedang menuju ke arah Timur, menjauhi Pusponjolo. So, aku iseng aja menjawab, “Lamper ...” (FYI, dua cewe member b2w Semarang, Iput dan Maya, tinggal di Lamper)
“Tak temenin mau kan? Kebetulan aku menuju Pedurungan nih,” kata laki-laki itu.
Aku mulai merasa jengah dan berpikir ternyata aku salah beramah tamah dengan orang yang tidak jelas juntrungnya itu.  Namun toh aku masih tersenyum ke orang itu, merasa ‘terbebani’ tag BIKE TO WORK yang terpasang di bawah sadel sepeda, sehingga aku pun merasa memiliki tugas sebagai salah satu PR (alias public relation loh, bukan pekerjaan rumah) b2w Semarang.
“Boleh kenalan dong...” kata laki-laki itu lagi.
Waduh ... yo’opo rek iki? Tanyaku dalam hati. LOL.
“Boleh kan?” rajuknya.
Akhirnya, aku pun menjawab, “Oke. Namaku Nana. Nama Mas siapa?”
“Loh, masak kenalan kok sambil berjalan begini. Kita sebaiknya mampir beli minum aja di satu tempat, kemudian kita ngobrol.”
“Saya ga pengen minum kok,” aku berusaha menolak.
“Lah pengennya apa?” tanyanya.
“Pengen naik sepeda!” jawabku.
“Nanti sepedanya tak tarik ya biar cepet,” tawarnya.
“Oh, ga usah, orang aku pengen naik sepeda sendiri kok, tanpa ditarik,” tolakku.
“Beneran nih ga mau kuajak mampir beli minum?” tawarnya lagi.
“Engga.” Jawabanku mulai terdengar judes kali, LOL, sehingga dia menyerah dan berkata,
“Aku duluan ya mbak?”
“Oh ... silakan...” jawabku dengan senang hati. 
Aku melanjutkan perjalanan sembari berpikir, “Seandainya aku bisa menelpon seorang teman komunitas b2w Semarang untuk kuajak night riding bersama agar ga diisengin orang lagi...”
Sesampai di Simpang Lima, aku belok ke Jalan Pahlawan, naik sedikit, kemudian belok ke Jalan Veteran. Setelah melewati RSUP Dr. Kariadi, aku belok kiri ke Jalan Kaligarang, terus ke arah Gedung Batu, kemudian ancang-ancang belok kiri naik ke Jalan Pamularsih. Sempat hampir nabrak orang naik sepeda motor yang tanpa memberi aba-aba tahu-tahu belok kiri sekitar 5 meter di depanku. Aku ga sempat membunyikan bel sepeda, namun berteria-teriak a la Mulan Jameela “Au ... au ... au ...” LOL hingga orang itu menoleh ke arahku dan kembali ke arah tengah jalan raya. Aku bayangin kalau aku menabraknya, bakal aku yang mental. LOL. Setelah sempat menyumpahinya, “Shit!!!” aku melanjutkan perjalanan naik ‘gundukan’ Jalan Pamularsih. Bagi yang biasa naik “bukit” Gombel, tentu tanjakan Jalan Pamularsih hanyalah ‘gundukan’ belaka.
Setelah sampai atas, tatkala menuruni ‘gundukan’ itu, speedo meter menunjukkan kecepatan 27.5, wuaaahhhh ... rasanya aku hampir terbang (padahal aku pernah naik motor dengan kecepatan 100 km per jam di Jalan Arteri menuju Kaligawe dan merasa tidak seperti terbang!) ga terbayang dah menuruni Gombel!!!
Aku meneruskan perjalanan sampai di ujung Jalan Pamularsih tempat SMA Kesatrian terletak, kemudian aku langsung balik arah ke Timur. Hampir sampai ‘gundukan’ Jalan Pamularsih dari arah Barat, aku hampir tergoda naik lagi, namun kuurungkan niatku (bakal aku naik turun naik turun melulu dah, LOL) sehingga aku belok ke arah Puspowarno. Keluar dari kawasan Puspowarno, aku belok kanan menuju Gereja yang aku lupa namanya itu, kemudian belok kiri masuk ke kawasan Pusponjolo.
Sesampai PT 56 aku mengecek speedo meter. Aku melalui kurang lebih 6,5 kilometer dalam waktu 40 menit.
PT56 22.45 070708

Promosi b2w


Dengan semangat ’45, hari Selasa 1 Juli 08 aku meluncur ke masjid Baiturrahman naik sepeda, sekitar pukul 08.45. I had a date with one best friend of mine, yang baru sekitar sebulan lalu balik dari Kansas University, to pursue her Master’s Degree dengan beasiswa dari Fulbright.
Karena sinar matahari cukup terik, aku memilih duduk di balik menara di sebelah Selatan. Sepeda kuparkir tidak jauh dari tempat aku duduk.
Setelah temanku datang, kita ngobrol sangat ‘heboh’. Maklum kurang lebih selama dua tahun kita tidak bertemu. Meskipun kita sometimes still kept in touch via YM maupun email tatkala dia berada di Kansas, bertemu dan ngobrol langsung tentu terasa lebih lively, ketimbang chatting via YM.
Dua jam berlalu. Kemudian dia mengajak kita pindah tempat ngobrol di sebuah rumah makan di Jalan Hayamwuruk. Pada waktu itulah aku ‘promosi’ bersepeda untuk pergi kemana-mana, meskipun aku tahu agak sulit baginya untuk bike to work berhubung dia tinggal di perumahan Bukit Kencana Jaya. Kamu tahu apa yang dia bilang mendengarku berpromosi bike to work?
“Waktu di Kansas, aku juga naik sepeda ke kampus maupun ke perpustakaan kok mbak.”
Weleh, kampanye ke orang yang salah dah. Hahahaha ... Dan seperti yang telah kuperkirakan sebelumnya, dia merasa ga mungkin bersepeda dari Bukit Kencana Jaya untuk ke kantornya yang terletak di Jalan Hayamwuruk, atau kadang-kadang harus ke Tembalang.
*****
Hari Jumat 4 Juli 08 kebetulan ‘soulmate’ ku yang sejak tahun 2006 pindah kerja di Universitas Brawijaya Malang pulang ke Semarang sehingga sobatku yang barusan pulang dari Kansas kuajak menyambanginya. Dan seperti cerita yang di atas, aku ke masjid Baiturrahman naik sepeda, aku pun naik sepeda ke rumah Juli – my soulmate when we were pursuing our studies at American Studies Graduate Program of UGM – di kawasan Citarum.
Semula obrolan kita bertiga lumayan mengasikkan, berkisar dari budaya membaca orang Indonesia yang masih rendah sehingga Eta harus berusaha keras untuk menaklukkan budaya membaca yang masih rendah ini agar tidak kalah dari teman-teman kuliahnya di Kansas University, teori Semiotika milik Umberto Eco yang bagi Juli dan aku sulit dipahami (tanpa teori apa pun, aku suka saja sih berusaha membaca signs, for example: when someone sends you private pictures of his, I “read” them as he offers himself to me, asik ... LOL.), perbandingan kuliah S2 di jurusan Sastra UNDIP (Eta), S2 di American Studies UGM (aku dan Juli), dan S2 di Kansas University (Eta), teori Judith Butler yang terkenal dengan bukunya “Gender Trouble”, spesifikasi para professor di Amerika (misal: Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu waktu aku kuliah di American Studies, memiliki spesifikasi di “American Romantic Era”, dosen-dosen Eta pun begitu, hanya mahir di “Victorian Era” saja, namun kedalaman pemahamannya tentang “Victorian Era” itu benar-benar meyakinkan), cara mengajar beberapa dosen di Unibraw, dll. Tatkala Juli’s baby terbangun mendengar suara tiga perempuan yang berkicau riuh rendah, akhirnya Juli pun tidak bisa mengikuti obrolanku dengan Eta karena dia disibukkan si baby.
Seperti keinginanku semula, aku pun tak lupa berpromosi bike to work.
“Eh Juli, aku naik sepeda loh!”
Ternyata, sekali lagi, aku berpromosi ke orang yang salah, karena ternyata Juli menjawab, “Loh mbak, aku juga naik sepeda loh di Malang!”
Kacian deh gue ... LOL. LOL.
Namun aku lumayan senang tatkala ternyata Juli terheran-heran melihat sepedaku. “Loh mbak, kamu naik sepeda tadi ke sini? Yah ... kan Pusponjolo sini jauh???”
“Bukannya tadi aku bilang aku ke sini naik sepeda?” tanyaku, geli.
“Kirain kamu cuma cerita ke kantor naik sepeda. Ga nyangka kalau sampai sini kamu pun naik sepeda.”
Well, not bad eh? My intention to surprise Juli worked a little. LOL.
PT56 20.54 060708

Bike to work, yuk?


Sebagai salah satu “resiko”, atau well ... “tanggung jawab” sebagai salah satu member komunitas pekerja bersepeda di Semarang (alias bike to work community), maka setelah libur kenaikan kelas, memasuki term 3 tahun 2008, aku mulai berusaha kontinyu bersepeda ke kantor. Kebetulan rumahku terletak tak jauh dari kantor. Maksimal aku butuh waktu 10 menit dari rumah ke kantor dengan kecepatan sedang, yang berarti aku ga perlu sampai bernafas terengah-engah sesampai kantor. Senin sampai Jumat aku bisa naik sepeda ke kantor; sedangkan hari Sabtu kupilih sebagai hari ‘libur’ bersepeda ke kantor karena aku harus mengajar di cabang Tembalang. (aku belum tergoda untuk berusaha menaklukkan Gombel dengan naik sepeda!)
Hari Rabu 2 Juli kemarin, untuk pertama kali aku ngikut komunitas b2w Semarang keliling kota untuk kampanye. Acara yang kita sebut “city night riding” (utowo ‘night city riding’ yo? Aku kudu takon Jack C. Richards be’e. LOL) diikuti oleh sekitar 12 orang. Rute yang kita pilih dari Bank Mandiri Syariah Jalan Pemuda (thanks to the new member of b2w Semarang yang bekerja di situ, yang barusan pindah dari Jakarta, sehingga Bank Mandiri Syariah Pemuda bisa dipakai untuk menjadi ‘meeting point’.) ke Tugumuda, belok kiri masuk Jalan Pandanaran; lurus sampai Simpang Lima, terus sampai perempatan Bangkong, belok kiri masuk Jalan Mataram; lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan kota lama, dan kita berhenti di halaman Gereja Blenduk. Nongkrong sambil bernarsis ria di depan kamera. (Do you know that salah satu dampak ‘negatif’ site sebangsa multiply.com adalah menjadi ajang kenarsisan orang-orang ‘biasa’ alias bukan selebriti? LOL.) Dari Gereja Blenduk, kita muter ke Jalan Merak, trus balik ke Jalan Jendral Suprapto, belok kanan menuju jembatan kali Berok, masuk Jalan Pemuda, dan kembali ke starting point di depan Bank Mandiri Syariah.
Di antara 12 orang yang ngikut, satu tinggal di kawasan Sendang Mulyo, satu di Tembalang, satu di Ngaliyan, (bayangin aja geografis tiga tempat itu, yang paling ‘mudah’ di Ngaliyan, meskipun tetap menanjak juga). Waktu pulang, aku bareng yang tinggal di Ngaliyan. Dia sempat bercerita berhubung kantornya lumayan dekat dari tempat tinggalnya – Krapyak – dia merasa perlu muter-muter dulu, agar hobby pit-pitannya tersalurkan, yakni muter ke Simpang Lima! G-U-B-R-A-K!!! LOL.
Alhasil hari Kamis 3 Juli seusai mengajar jam 7, sebelum pulang aku pun ‘ikut-ikutan’ muter-muter dulu; dari Jalan Pierre Tendean ke Tugumuda, belok Jalan Pandanaran, lurus ke Simpang Lima, belok ke Jalan Gajahmada, lurus sampai ke Jalan Pemuda, Tugumuda, Jalan Sugiyopranoto, setelah jembatan sungai Banjir Kanal, lurus ke daerah Pasar Karangyu, belok kiri di Jalan Puspowarno Raya, lurus sampai Gereja (mboh jenenge opo rak reti, lali, LOL) belok kiri masuk kawasan Pusponjolo.
Kesimpulan: ternyata benar apa yang dikatakan Triyono yang pertama kali “menemukanku” di multiply untuk ngikut komunitas b2w: pit-pitan dewekan ora enak!!! LOL.
*****
Hari Jumat 4 Juli. Kebetulan tatkala aku memberikan kesempatan kepada siswa-siswi kelas baru untuk bertanya, salah satu dari mereka bertanya, “How do you go to the office, Miss?”
Aha ... pucuk dicinta ulam tiba. Dengan senang hati aku menjawab, “I go to work by bicycle.”
Siswa itu semula mengangguk-angguk, mimik wajahnya terlihat biasa saja, juga siswa siswi yang lain. But, setelah ‘ngeh’ apa itu arti kata ‘bicycle’, (mungkin semula dia mengira aku menyebut kata ‘motorcycle’) anak itu mendongakkan wajah ke aku, terlihat heran, kemudian bertanya, “By bicycle Miss?” dengan nada tidak percaya.
I caught him!!!
So, dengan senang hati aku bercerita – alias berpromosi – tentang komunitas b2w yang memiliki ‘impian’ indah untuk berperan aktif dalam mengurangi polusi udara plus dampak buruk global warming. Seperti kata Firman, ketua organisasi b2w Semarang tatkala diwawancarai oleh TVKU, “Semula mungkin hanya bersepeda ke kantor, lama-lama mengapa tidak menggunakan sarana sepeda untuk pergi kemana-mana.” Seandainya lebih banyak lagi kita mampu menjaring pemerhati dan peserta komunitas b2w (dan menjadi pelaku aktif), rasanya bukan harapan yang muluk-muluk kalau kita ingin menjadikan impian kita menjadi nyata: mengubah langit di kota Semarang menjadi biru, tanpa asap knalpot yang berlebihan.
PT56 20.12 060708

Rabu, Juni 25, 2008

Ilmu Pengetahuan

“Ilmu pengetahuan, kelihatannya, bukannya tak berjenis kelamin; dia laki-laki, seorang ayah, dan kena sifilis pula.” (Virginia Woolf, seorang penulis feminis berasal dari Inggris.)


Berapa abad dunia ini telah ‘dikuasai’ oleh kaum laki-laki? Uncountable centuries!!!
Tidaklah mengherankan jika ‘kemunculan’ ilmu-ilmu pengetahuan pun berasal dari pemikiran kaum laki-laki, perempuan hanya duduk di bangku penonton. Laki-laki yang menguasai dunia permainan ini menggunakan cara berpikirnya, berdasarkan pengalaman-pengalamannya kemudian membentuk atau menciptakan berbagai macam teori dalam berbagai ilmu, tanpa memasukkan cara berpikir maupun pengalaman kaum perempuan yang hanya menjadi penonton. Sayangnya kemudian para laki-laki ini menggeneralisasi bahwa cara berpikir mereka mewakili kaum laki-laki dan perempuan. Perempuan yang tidak dilibatkan dalam berbagai penemuan ilmu pengetahuan ini (karena mereka didomestikasi) diharuskan memandang segala macam persoalan/kasus dari sudut pandang laki-laki pula.
Contoh yang sangat ringan. Laki-laki selalu merasa bahwa mereka diciptakan lebih kuat dibanding perempuan karena mereka menciptakan parameter untuk kekuatan ini. Laki-laki mampu mengangkat beban seberat 100kg, misalnya, sedangkan bagi perempuan hal ini sulit dilakukan. Well, kalaupun ada, at least, tidak sembarang perempuan mampu melakukannya.
Gerakan perempuan mulai kelihatan taringnya di awal abad 19, terutama ketika ada KTT perempuan pertama pada tahun 1848 di Seneca Falls di Amerika, yang bisa dikatakan sebagai tonggak mulainya perjuangan panjang kaum perempuan untuk mensejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki. Munculnya generasi feminisme yang pertama—feminisme liberal—mengupayakan hak kaum perempuan untuk menikmati bangku sekolah, dan ikut berpolitik. Feminisme liberal ini kemudian diikuti oleh gerakan-gerakan perempuan yang lain.
Kembali ke contoh yang sangat ringan di atas. Seandainya kaum perempuan menciptakan parameter untuk kekuatan, tentu mereka akan menggunakan tolok ukur yang berbeda. Mengapa Tuhan menciptakan kaum perempuan yang katanya lemah ini lengkap dengan rahim, yang kemudian dari rahim itu akan muncul generasi-generasi yang akan datang? Tentu karena kaum perempuan lebih kuat dibanding kaum laki-laki. Lebih banyak perempuan yang mampu hidup sampai usia lanjut, dibandingkan dengan laki-laki yang berusia sama, karena perempuan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan. Lebih kuat kan?
Perempuan dengan pengalamannya sebagai pihak yang dimarjinalisasi dalam kultur patriarki ini, yang ingin bangkit untuk setara, mulai bersatu dan masuk ke ranah yang dianggap eksklusif milik kaum laki-laki; yakni dengan mulai menciptakan teori-teori baru, ditemukanlah cara-cara berpikir baru dengan mengedepankan pengalaman perempuan yang tentu sangat berbeda dengan pengalaman laki-laki.
Dalam bidang Sastra—karena aku berasal dari disiplin Sastra—gerakan perempuan ini berhasil menemukan tulisan-tulisan kaum perempuan yang telah lama terkubur dan dilupakan orang, sementara tulisan kaum laki-laki yang sezaman masih sering ditemukan sampai sekarang ini. sebelum ada gerakan perempuan, karya-karya milik penulis laki-laki merajai KANON. Seandainya orang menilik THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE, tentu mereka akan lebih banyak menemukan karya kaum laki-laki yang memberikan kesan seolah-olah kaum perempuan pada waktu itu hanya duduk manis di dapur, memasak untuk suami dan anak-anak. Kalaupun ada karya penulis perempuan yang masuk ke dalam antologi, tentu berkisar ke itu-itu saja, misalnya saja di Amerika, nama Emily Dickinson sangatlah terkenal atau Jane Austen dari Inggris. Tulisan-tulisan kaum perempuan lain dianggap tidak layak untuk masuk ke dalam KANON karena cara penilaiannya yang tentu masih sangat male-oriented.
Gerakan perempuan mampu menguak kembali banyak karya penulis perempuan yang telah lama dilupakan orang. Misalnya: Charlotte Perkins Gilman dari Amerika, dan Anna Wickham dari Inggris.
Sandra Gilbert dan Susan Gubar membukukan hasil risetnya dalam buku THE NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN. Dengan memasukkan female perspectives, dengan pengalamannya sebagai perempuan, banyak karya-karya penulis perempuan yang layak pula masuk KANON. Dari contoh di bidang Sastra ini kita mampu menarik kesimpulan betapa this male-dominated world telah berbuat tidak adil kepada kaum perempuan.
Aku mengawali artikel ini dengan meng-quote kata-kata Virginia Woolf, aku ingin mengakhirinya dengan meng-quote kata-kata Annie Leclerc:

“Aku mengidamkan agar kaum perempuan belajar menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki”.

PT56 14.38 241206

Rabu, Juni 18, 2008

Ngepit menyang kantor :)


Catatan tambahan untuk pengalaman pertama “ngepit menyang kantor”. 
Karena aku berangkat satu jam sebelum jam kerja mulai, bisa dipahami jika aku datang nomor satu. Sesampai di ruang guru, aku langsung menyalakan AC, ngadem sejenak di bawahnya, kemudian menyalakan “the cutie”. Dan mulailah aku scribble tulisan yang kuberi judul THE FIRST TIME ...
Tak lama kemudian seorang rekan kerja datang, menyapaku ramah, “Aih tumben, bu Nana datang duluan.” (NOTR: biasanya aku jarang datang duluan nih. LOL.)
Karena aku terkena demam b2w, aku langsung menyambut sapaannya dengan agak berteriak, “GUESS WHAT? I BIKE TO WORK TODAY!!!” sambil mengepal-ngepalkan tanganku ke udara. (ndeso poll yah? hahahaha ...)
“Wow ... you really did it, Ma’am?” (alias “Wah, beneran nih Bu Nana terprovokasi bike to work?”)
“Yup! Aku sedang nulis nih pengalamanku tadi.” Kataku.
“Aku mau liat sepeda Bu Nana dong,” katanya.
“Ada tuh di depan, keluar dari pintu, sebelah kanan, tempat biasa aku markir motor,” jawabku. (NOTE: “tempat biasa” ini telah kukontrak seumur hidup. Wakakakaka ...)
“Ah nanti aja...” komentarnya.
Aku melanjutkan ngetik.
Rekan kerjaku ini ternyata memperhatikan baju yang kukenakan. Katanya, “Oh, itu sebabnya you are wearing jeans and polo shirt now?”
“Iya, aku bawa baju ganti kok, biasa rok panjang hitam plus blus hitam.”
Seorang rekan kerja lain datang. Rekan kerja yang pertama pun berpromosi,
“Eh mbak, Bu Nana bike to work loh hari ini.”
“Oh ya? Is that true, Ma’am?” tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk-angguk, masih meneruskan ngetik.
“Wah ... Bagaimana kalau kita juga naik sepeda ke kantor?” ajak rekan kerja #2.
Rekan kerja #1 ga komentar.
“Oh, kamu ga bisa naik sepeda kok ya?” kata rekan kerja #2.
Rekan kerja #1 cuma mengangguk-angguk.
Aku sempat heran mendengarnya. Tapi aku ingat salah satu guruku waktu SMA juga mengaku ga bisa naik sepeda. Karena trauma waktu kecil jatuh dari sepeda. Beliau juga takut naik becak. Mungkin pernah jatuh dari becak juga? Entahlah. LOL.
Aku juga ingat seorang teman sekelas waktu kuliah S2 yang keman-mana diantar sang suami yang setia naik motor. Belakangan ketahuan ternyata temanku yang memiliki tubuh tinggi dan lumayan atletis ini tidak bisa naik motor maupun sepeda.
Seusai mengajar hari itu, beberapa rekan kerja ‘mengantarku’ keluar kantor. Tanya kenapa? Mereka pengen melihatku naik sepeda. LOL.
*****
Dari kantor aku sempat mampir ke warnet yang terletak di Jalan Imam Bonjol, ga jauh dari kantor. Aku ingin segera posting tulisan yang kubuat pada hari Minggu di blog.
Waktu memasuki areal parkir, pak Satpam yang berperan juga sebagai tukang parkir menyambutku begini,
“Wah, naik sepeda mbak? Tak kira tadi cowo. Ternyata mbak-e. Gara-gara harga bensin naik ya?”
“Betul Pak...” jawabku.  Setelah memarkir sepeda, aku langsung masuk gedung.
Setelah usai, kurang lebih 10 menit sebelum pukul 21.00, aku bingung mencari-cari dompet di tas kok ga ada? Tasku berisi the cutie and the cable, rok plus blus, handuk plus sabun mandi (yang ga jadi kupakai karena ternyata aku ga terlalu berkeringat, maklum cuma naik sepeda 6 menit doang!) dan beberapa buku. Berhubung isinya segala macam, LOL, kupikir dompet nyungsep di sebelah mana gitu.
Namun ternyata meskipun semua ‘benda’ itu telah kukeluarkan, aku ga juga menemukan dompetku.
“Goodness ... aku lupa memasukkan dompet ke tas,” keluhku.
Namun berhubung, wajahku ini sudah ‘tercemar’ alias semua pegawai warnet mengenaliku sebagai member yang cukup rajin datang, dengan ‘muka tembok’, LOL, aku bilang ke seorang laki-laki, kira-kira 15 tahun lebih tua dariku, yang duduk di kursi kasir,
’Waduh Pak, maaf Pak, lupa bawa dompet nih. Saya bayarnya besok ga papa kan?”
Dan, seperti yang telah kuperkirakan, si Bapak itu bilang,
“Oh, ga papa mbak, santai aja. Bayar besok juga boleh.”
Asik ...
(memang bermuka tembok kadang-kadang diperlukan dalam berinteraksi dengan orang lain. Hahahaha ...)
Sesampai di tempat parkir, aku mengatakan hal yang sama kepada yang jaga parkir.
Komentarnya, “Mbak lupa masukin dompet karena hari ini naik sepeda sih.” huehehehe ...
Aku selalu senang jika ada sesuatu yang bisa kujadikan ‘scapegoat’ alias kambing hitam. LOL. Selama aku ga merugikan orang lain ajalah. Dan yang kujadikan kambing hitam ga protes. LOL.
PT56 14.35 180608

Senin, Juni 16, 2008

The First Time ...


“I did it!!! I shouted inside my heart, talking to myself. :-D
This reminded me of one ‘motto’ I once joked to one loved ones of mine, “There will always be the first …”
The first in anything …
The first marriage …
The first divorce …
The first baby …
The first boyfriend/girlfriend …
The first book to buy …
The first book to read …
The first book to publish …
The first job …
You name it.
Including what I just did today: THE FIRST TIME BIKE TO WORK!!!
Today, Monday 16 June 2008 the electricity was off when I arrived home from Paradise Club, one fitness center in Semarang. I was very disappointed of course since I couldn’t do one dearest hobby of mine: SCRIBBLING SOMETHING while in fact when at PC I already planned what to write after taking a shower.
Since nothing I could do but reading, so after taking a shower I just lazed myself away on my comfortable bed although a bit hot since the fan was off (due to the blackout). After browsing one gossip tabloid (and feeling entertained when reading a movie review of SEX AND THE CITY movie, can’t wait to watch it! When will it come to my hometown? SATC is my favorite television serials, although I didn’t watch it on television.) and today’s (local) newspaper, I tried napping.
However I couldn’t fall asleep.
My mind was full of what I want to write.
I don’t know from where the idea came but I started to think of going to the office by bike today. Yesterday I wrote three short articles on ‘bike to work’ to post at my blog. Absolutely I support this healthy and environmentally-friendly habit. I started think of telling the members of b2w Semarang mailing list that I also have done it. (FYI, just a couple of days ago I joined the mailing list.)
Amused by the idea to tell the b2w gang, I became more sure.
Wanna know my experience during my ‘trip’ to the office, that in fact only took 6 minutes? (My dwelling place is in Pusponjolo, while my office is on Pierre Tendean street.) I was wearing blue jeans, a long-sleeved black polo shirt, sandals (or in Indonesia they are called ‘shoe sandals’), black socks and an old green hat of mine (I bought it in 1986!). When passing a garage in the next alley, a mechanic shouted, “Ayo mbak, ngetrek mbak!” (“Come on, sis, be fast!”) Nearing the roundabout before Banjir Kanal river bridge, a group of police inside a car passing by me looked at me, one of them said, “Ayo mbak, ngebut!” (“Come on, sis, ride it quickly!”)
I thought it must be caused by the yellow tagline under the saddle saying BIKE TO WORK.
I feel glad. Although a little, I have tried doing something to join the crowd to reduce the air pollution of our earth.

P.S.: After arriving at the office, I 'changed' my clothes to my 'usual' so-called uniform, a long black dress, and a black blazer, but minus my lovely black boots. :)
LL 14.53 160608

Bike to work


“I am not sure if you will succeed in gathering many people to join that b2w community,” this was Angie’s pessimistic comment when seeing the flyer of ‘bike to work’.
I said nothing to hear that. I am more optimistic than she is, I assume.
However, Angie’s comment reminded me of one nineteenth-century American thinker, Henry David Thoreau with his experience living around a pond, all alone, away from ‘civilized society’, that he wrote in his book entitled WALDEN. He did that to criticize American government that he thought damaged the environment by building trans-continental railway during the decade of 1860s. Despite the fact that the railway would help improve the transportation so that it would also result in good business plus profit, smoke coming out of the train would absolutely damage the environment. Thoreau, the true environmentalist, extremely objected the railway building. But what could a Thoreau do to stop it? Even, his good friend as well as teacher, Emerson, only expressed his objection toward the then government’s so-called crazy idea. Emerson did not do any real action to show it.
Bike-to-work idea itself is great and easy to do. This is also obviously more possible to carry out rather than Thoreau’s idea to leave the city he lived to live in a forest, living like a hermit, away from other people, only consuming anything he found in the forest. I believe that it is an absurd thing to do what Thoreau did in this internet era. Do you agree?
So, why is it difficult to attract people’s attention to join b2w community? (This is the result of seeing some people’s reluctant reaction when getting the flyer of b2w during ‘fun bike’ held in Semarang on June 15, 2008) It is essential that we do care for our environment, isn’t it?
I think the answer is on Indonesian people’s way of life. We are ‘popular’ to have high-class lifestyle. Have you ever heard how Indonesian government officials went to a building where they would get debt from some debtor countries? While the officials from the debtor countries came by a simple car, Indonesian officials came by a luxurious car.
Japan that used to colonize Indonesia from 1942-1945 successfully rose from the crumble due to the bomb to Hiroshima and Nagasaki. It has become one giant country in Asia. But look at the people’s way of living. Although many of them have private cars, they would prefer to go by public transportation. In Indonesia, people would prefer to show off their ‘property’ by driving cars or riding motorcycles that probably they haven’t fully paid. They would rather expose their prestige. Likewise, other people would prefer to show their respect to people driving cars rather than people riding motorcycles. (Try going to a mall or supermarket close to your dwelling place by bike and see how the parking person will treat you!)
Last Saturday morning on my way to my workplace located 11 kilometers away from my dwelling place, when passing Gombel ‘hill’, suddenly I daydreamed to see other motorists riding a bike. No vehicles on the road but bikes and buses (as public transportation). I daydreamed not to breathe polluted air.
PT56 21.31 150608

B2w Semarang


“Bike to work” alias sering disingkat menjadi b2w mulai mendapatkan atensi yang lumayan serius di Semarang, dengan dibentuknya komunitas bike to work Indonesia Chapter Semarang. Salah satu anggota komunitas yang sangat gigih yakni Triyono (bisa dilihat profile-nya di http://aluizeus.multiply.com merintis komunitas ini dengan mengumpulkan beberapa orang yang berminat sama dengannya, dengan cara ‘bergerilya’ lewat jaringan dunia maya di www.multiply.com juga dengan membentuk mailing list b2w-semarang@yahoogroups.com.
Hari Minggu jam enam pagi dipilih sebagai saat untuk kopi darat anggota komunitas b2w Semarang di depan Gedung Telkom Jalan Pahlawan Semarang. Kebetulan pada tanggal 15 Juni 08 ada acara ‘fun bike’ di Balai Kota Semarang. Event ini digunakan oleh komunitas b2w Semarang untuk menjaring lebih banyak anggota, dengan menyebarkan flyer b2w. Itu sebab pada hari tersebut acara kopi darat dipindah ke Jalan Pemuda.
Inilah motto yang dicetak di flyer tersebut:

KURANGI DAMPAK GLOBAL WARMING.

KALAU BUKAN KITA LALU SIAPA?
KALAU TIDAK SEKARANG LALU KAPAN?
LET’S ACT BEYOND GREEN!
LET’S BIKE TO WORK!!

AYO BERSEPEDA KE TEMPAT KERJA!
CIPTAKAN GAYA HIDUP BARU YANG LEBIH SEHAT, HEMAT DAN RAMAH LINGKUNGAN. BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI BIKE TO WORK INDONESIA CHAPTER SEMARANG

Kita lah yang telah membuat lingkungan tempat tinggal kita menjadi tidak bersahabat dengan kita, dengan menciptakan kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup kita, menebang pohon semena-mena tanpa perhitungan yang matang. Kita sendiri pula yang harus menderita karena tindakan kita merusak alam. Sehingga kita juga yang harus melakukan tindakan preventif untuk mencegah perusakan alam menjadi lebih parah.
Gerakan menanam sejuta pohon telah mulai digalakkan di beberapa tempat.
Bagaimana kalau kita ikut serta dengan membiasakan diri naik sepeda untuk mengurangi kadar polusi di bumi yang kita tinggali?

Salam sejuta sepeda di Semarang.
PT56 20.10 150608

Di bawah ini, foto-foto event 15 Juni 2008



Bersepedaan Yuk?


Beberapa minggu yang lalu, aku disapa oleh seseorang di Multiply page-ku yang beralamat di http://afemaleguest.multiply.com. Sapaan dari seseorang yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com itu merupakan ajakan untuk ikut komunitas “b2w”.
“b2w” apaan yah?” tanyaku kepada seorang rekan kerja, sekeluarku dari warnet yang terletak di sebelah tempat kerjaku.
“No idea either, Ma’am,” jawabnya.
But then ketika di buku CV1 yang dia bawa dia temukan istilah ‘bike to work’, kontan dia langsung berkomentar, “Bike to work, kali Ma’am?”
“Aha ... probably,” jawabku.
Kontan aku ingat Abangku yang pernah bercerita tatkala dia masih tinggal di Kelapa Gading, Jakarta dia pernah memiliki kebiasaan ‘bike to work’, alias berangkat bekerja naik sepeda. Waktu itu dia memiliki kantor yang berlokasi di kompleks perumahan yang sama, Kelapa Gading, tahun 1998-2001, sehingga dia bisa mempraktekkan kebiasaan yang ramah lingkungan ini, tanpa harus menjadi ‘korban’ menghirup udara Jakarta yang penuh polusi (karena tidak perlu keluar dari kompleks.) itu. Kadang-kadang dia bersama komunitasnya melakukan off-road trip ke daerah Puncak dan sekitarnya dengan naik sepeda tentu saja. FYI, dia pindah ke OZ tahun 2002. Sejak itu hanya di musim summer saja dia bersepeda di akhir pekan.
Waktu aku bercerita kepadanya aku pernah naik sepeda untuk ‘napak tilas’ jalan-jalan yang kulalui sewaktu ikut karate LEMKARI di bangku SMP sejauh 10 kilometer (dalam kegiatan karate, kita melaluinya sambil berlari, campur berjalan kaki, tanpa memakai alas kaki), dia ketawa, “Ah, 10 kilometer sih kecil Na. Itu jarak yang kulahap setiap hari!” katanya. Lah, memang aku kecil, sedangkan dia besar! Hahaha ... But, aku lupa satu hal yang seharusnya kuceritakan kepadanya waktu itu. Waktu ‘napak tilas’ itu, aku sendirian, naik sepeda mini berwarna kuning milik kakakku (NOTE: bagi pengunjung baru blogku, yang kusebut ‘kakakku’ berbeda dengan ‘Abangku’), dengan kondisi rem blong. So? Tatkala melewati tanjakan, sepeda kutuntun, waktu di jalan menurun pun sama, sepeda juga kutuntun. LOL. (NOTE: bagi orang Semarang, route napak tilas ini dari Pusponjolo ke arah Selatan, ke daerah Gedung Batu Sam Po Kong, Phaphros (carane nulis piye? Aku lali! LOL), naik ke daerah Jalan Gedong Songo, jalanan menanjak, (kalau ga salah ingat nama jalannya), trus sampai di daerah Manyaran, belok kanan yang sekarang menuju ke Gedung Persaudaraan Haji, turun setelah melewati rumah dinas Walikota Semarang, sampailah di Jalan Abdul Rahman Saleh, sebelum sampai Museum Ronggowarsito, belok kanan ke daerah Jalan Soeratmo, trus belok kiri ke arah Pamularsih, dari depan SMA Kesatrian, terus lurus ke Timur, sampai ke daerah Pusponjolo kembali.)
Kembali ke sapaan di multiply page-ku.
Betapa senang aku mendengar mulai ada komunitas ‘b2w’ di kota kelahiranku ini, meskipun rada skeptis karena kontur geografis Semarang yang kurang mendukung untuk bike to work. Semarang memang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Bagi Abangku yang telah memiliki ‘track record’ mengikuti off-road trips tentu dataran tinggi ini tidak menjadi masalah, namun bagi para pemula, wah ... ngos-ngosan pisan!!! Bayangkan aku yang tinggal di Pusponjolo, dataran rendah, berangkat kerja ke kantor yang terletak di daerah Tembalang, dataran tinggi. (melewati berapa ‘bukit’ tuh? Naik di Gajah Mungkur, kemudian di Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, dan puncaknya, di Gombel.) Sampai kantor, pingsan. LOL.
Seminggu berikutnya, mas Triyono yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com menyapaku lagi, “Kalau mbak Nana sempat ke Simpang Lima besok Minggu pagi, mampir ya ke komunitas b2w Semarang, kita kumpul di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan. Kita memasang tagline bike to work berwarna kuning di bawah sadel.”
He is such a determined person, isn’t he? 
Melihat kegigihannya, aku menawarkan adikku yang mulai menyukai naik sepeda untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah, misal ke pasar. Ini berkat ‘komporan’ kakakku yang sudah mulai bike to work di tempat tinggalnya di Cirebon. Ternyata adikku senang dengan tawaran ikut komunitas b2w.
By the way ...
Meskipun aku sempat menawari Angie mengantarnya ke sekolah naik sepeda, tatkala harga bensin naik sampai Rp. 6000,00 per liter, (Angie langsung menolaknya mentah-mentah!!!) untuk benar-benar mempraktekkan kebiasaan bike to work, aku punya satu kendala yang sangat mengganjal. AKU BELUM PUNYA SEPEDA milik sendiri.
Di rumah saat ini ada dua buah sepeda. Yang pertama, sepeda federal, yang di’import’ dari Cirebon tahun 1991, sehingga dia seusia my Lovely Star. Sepeda ini sudah lumayan lama, bertahun-tahun, mangkrak tidak dipakai. Setelah adikku dikompori kakakku untuk bike to work, sewaktu dia ke Cirebon beberapa bulan lalu, dia akhirnya memperbaiki sepeda yang sudah seusia Angie ini, dan kemudian mulai menaikinya, untuk olah raga, beberapa kali seminggu di pagi hari.
Sepeda yang kedua, sepeda mini, yang bentuknya tidak mini alias cukup besar, baru saja di’impor’ dari Cirebon juga beberapa minggu yang lalu. Sepeda ini dikirim kakakku untuk sarana olah raga adik bungsuku yang di bulan Desember dan Januari kemarin sempat opname di rumah sakit karena terkena penyakit typhoid dan dengue fever. Banyak orang yang menyarankannya untuk mulai rajin berolah raga untuk meningkatkan daya immune tubuhnya. Ditengarai karena dia tidak pernah berolah raga, tubuhnya menjadi rentan penyakit. Itu sebab kakakku tidak keberatan mengirimkan sepeda yang biasanya dinaiki istrinya ke Semarang. Lah, trus kakak iparku itu naik sepeda apa dong? Kebetulan, selain sepeda yang biasa dia naiki untuk berangkat ke kantor, kakakku punya sepeda ‘tandem’ yang bisa dinaiki berdua, sehingga sepeda ‘tandem’ ini cukup menjadi sarana olah raga jika kakak iparku kepengen berolah raga bareng kakakku.
Aku belum ada rencana untuk membeli sepeda sendiri. Rencana dalam waktu dekat: naik sepeda—pinjam sepeda mini yang semula milik kakak iparku itu—untuk pergi ke Paradise Club, tempatku ber-erobik ria maupun fitness dan berenang, yang terletak di Pondok Indraprasta, selama Angie libur kenaikan kelas, yang katanya berlaku selama kurang lebih tiga minggu, mulai 22 Juni sampai 13 Juli 2008.
PT56 14.54 150608

Rabu, Juni 11, 2008

Jawa, Cina, Arab

Satu ide lagi yang dipertanyakan oleh Titaley—tentang pertentangan antara etnis Jawa dan Cina—adalah kemungkinan pertentangan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama, daripada hanya sekedar dua etnis yang berbeda. Orang-orang keturunan Cina kebanyakan beragama Buddha/Kong Hu Chu/Kristen/Katolik; sedangkan orang-orang Jawa kebanyakan beragama Islam. Titaley mengemukakan pendapat ini berdasarkan pengalaman keluarga Ibunya yang keturunan Cina namun beragama Islam, yang tinggal di Pulau Serang. Mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dari warga di sekitarnya.
Para budayawan di Semarang mengatakan bahwa penduduk yang tinggal di Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah ini mencakup tiga etnis utama; yakni Jawa, Cina, dan Arab. Seandainya mengamini dikotomi antara pribumi dan non pribumi, maka ada dua etnis yang bisa dikategorikan non pribumi, yaitu orang-orang keturunan Cina dan Arab. Namun tatkala terjadi kerusuhan yang (mungkin) dikarenakan perbedaan etnis, maka hal itu berarti (hanya) antara Jawa dan Cina saja. Salah satu kerusuhan yang ‘sempat kualami’ sendiri yakni yang terjadi pada tahun 1980, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dua hal yang kuingat dari kerusuhan tersebut: pertama, my Mom sangat khawatir dengan keselamatan my (late) Dad yang waktu itu berada di kantor, karena my (late) Dad looked like Chinese. Yang kedua: tiba-tiba orang-orang di sekitarku menjadi beringas dengan melemparkan batu-batu ke toko-toko milik orang-orang keturunan Cina. Aku tidak tahu alasannya, kecuali bahwa kata para tetangga mereka itu menumpuk harta sehingga mereka menjadi kaya.
Mengapa demikian? Jawabannya tentu karena mayoritas orang Jawa memeluk agama Islam, sama dengan agama yang dipeluk oleh orang-orang keturunan Arab. Agama Islam menjadi satu ikatan yang sangat kuat mempertautkan orang Jawa dan orang-orang (keturunan) Arab. Bukankah banyak juga orang-orang keturunan Arab yang kaya?
Sehingga cukup masuk akal jika ada orang yang mengatakan bahwa mungkin untuk menghindari kerusuhan serupa untuk terjadi lagi, orang-orang keturunan Cina itu seyogyanya memeluk agama Islam, seperti Laksamana besar Cheng Ho yang konon pernah menginjakkan kakinya di pesisir Semarang, dan membangun sebuah masjid sebagai petilasan, namun di kemudian hari beralih fungsi menjadi kelenteng, yakni bangunan bersejarah Gedung Batu Sam Po Kong.
Namun sangatlah tidak bijaksana jika agama dijadikan sebuah senjata. Bukankah dalam agama Islam, orang-orang (seharusnya) meyakini bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama?
Seperti apa yang dilakukan oleh Widjajanti Dharmowijono, yang mendapatkan tugas membedah novel PUTRI CINA, kita harus kembali ke beberapa abad lalu, bagaimana pemerintah Kolonial Belanda menanamkan policy divide et impera, sehingga para ‘kaum pendatang’ (baca => keturunan Arab dan Cina) itu saling membenci, untuk mencari akar permasalahan, untuk kemudian bersama kita mencari solusinya, demi membentuk negara dimana para warganya benar-benar saling menghormati dan melindungi.
PT56 23.00 100608

What is an Indonesian?

Tatkala mengikuti acara BEDAH BUKU novel PUTRI CINA karangan Sindhunata, aku terpikat pada ide John A. Titaley, salah satu pemakalah, mengenai REDEFINING INDONESIA. Tatkala Soekarno dan M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa kita yang kemudian diberi nama INDONESIA, seharusnya sejak itulah kita tak lagi mengkotak-kotakkan diri sebagai “Orang Jawa”, “Orang Batak”, “Orang (keturunan) Cina”, “Orang Ambon”, dll. Karena kita semua adalah ‘orang baru’, bangsa baru, yakni bangsa Indonesia.
“What is an Indonesian?” tanya Titaley.
“Find the answer in our Constitution, UUD 1945. Para ‘founding fathers’ yang termasuk dalam lembaga BPUPKI pada waktu itu telah memberikan definisi bangsa Indonesia yang tertulis dalam UUD 1945. Mereka adalah orang-orang Nasionalis sejati, yang berpikir dalam kerangka nasional, bukan kedaerahan, golongan, apalagi berdasarkan agama tertentu. Namun sayangnya, para ‘cerdik cendikia’ setelah era ‘founding fathers” kita, yang kemudian menuliskan beberapa bagian di amandemen, justru malah bersifat ekslusif kedaerahan, ataupun keagamaan, membuat masalah perbedaan menjadi runcing. Akibatnya, kerusuhan akibat SARA pun terjadi dimana-mana.”
“Seandainya kita benar-benar mendirikan bangsa INDONESIA, sesuai seperti yang didefinisikan oleh para pendiri bangsa kita itu, tidaklah mustahil kalau kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh SARA tidak akan terjadi lagi. Juga seperti yang digambarkan di dalam novel PUTRI CINA.”
Saat mendengarkan penjelasan Titaley, aku teringat apa yang ditulis oleh St. Jean de Crevecoeur (1735-1813) dalam eseinya yang berjudul “What is an American?” Berikut ini aku kutipkan sebagian kecil dari tulisan Crevecoeur:

What is the American, this new man? He is either a European, or the descendant of a European, hence that strange mixture of blood, which you will find in no other country. I could point out to you a family whose grandfather was an Englishman, whose wife was Dutch, whose son married a French woman, and whose recent four sons have now four wives of different nations. He is an American, who, leaving behind him all his ancient prejudices and manners, receives new ones from the new mode of life he has embraced, the new government he obeys, and the new rank he holds.
(The Norton Anthology of American Literature, 3rd edition, 1989, page 561)


Buku UUD 1945 yang kumiliki waktu aku sedang sekolah mungkin telah hilang dibawa banjir bandang yang melanda daerah tempat tinggalku pada bulan Januari 1990, sehingga aku tidak bisa mengecek apa yang dikatakan oleh Titaley, untuk mencari tahu definisi bangsa Indonesia menurut para pendiri bangsa kita.
Namun, seandainya ada seseorang yang menulis “What is an Indonesian?”, dengan mengambil ide yang ditulis oleh Crevecoeur, yang mengusung ide ‘nasionalisme’ dan bukan ‘kedaerahan’, that would be great.

“Orang Indonesia mencakup segala etnis dan agama yang ada di bumi Nusantara. Sang ayah mungkin adalah seseorang yang berdarah Manado (yang mungkin saja memiliki darah Belanda di tubuhnya) beragama Kristen, yang menikah dengan seorang perempuan Jawa (Islam Kejawen). Mereka memiliki tujuh orang anak yang menikah dengan orang Batak (Katolik), Sunda (Islam), Papua (Kristen), Bali (Hindu), keturunan Cina yang tinggal di Kalimantan (Buddha/Kong Hu Chu), keturunan Arab (Islam), dan Ambon (Kristen/Katolik).”


Ketika semua perbedaan itu hadir menjadi satu, dalam sebuah keluarga besar yang harmonis, saling menghormati, menyayangi, menerima apa adanya, maka kita tak perlu lagi dihantui akan terjadi kerusuhan atau tindakan sewenang-wenang karena merasa lebih baik, apalagi hanya karena merasa diri merupakan bagian dari mayoritas.
PT56 22.30 100608

Selasa, Juni 03, 2008

What is in a name?

Referring to the previous post I entitled “Sepuluh Tahun Reformasi”, frankly speaking when rereading it I felt a bit worried if my blog visitors (particularly those who do not have time to read my thorough posts in some blogs I have) think that I am a racist,. Especially the last part: the moral lesson of Sugiharti Halim’s experience. Just like what this particular character expected to have “Julianne” as her name, perhaps Chinese Indonesian would find less offensive experiences if they had ‘western’ names.
Of course everyone is free to pick any name they like most, not limited to what ethnic group they come from. I do appreciate any name and I usually call my friends/students their nicks they feel most comfortable. For example: this semester I have a female student who introduced herself as ‘Ninik Wijayanti’ at the beginning of our class. However, in the attendance list of the mid-term test several weeks ago, her name was written “Liem Kiong Nio”. I directly recognized it was her name since I found the names of the other Chinese Indonesian students in my class but hers. I didn’t ask her about that though. I was afraid if that would make her feel uncomfortable. Besides, it was not a crucial case anyway. (FYI, it is a small class, only consists of 10 students.)
I myself have a nick that is absolutely more popular than my real name printed in the birth certificate. When I was at school, I really did not like this name taken from Arabic. I thought I wouldn’t mind at all if my name were just NANA. In my childhood, I was embarrassed too if my schoolmates knew my family name PODUNGGE. To Javanese, PODUNGGE is absolutely a weird name. Many of them misspelled and mispronounced it. I did not want to be weird. I wanted to be the same as the others who did not have any weird family name.
In the reality, many of my classmates when I was at college didn’t know my real name. Neither do most of my workmates now. Until now I still feel uncomfortable when people call me my real name because it gives me an impression that they keep a distance from me. Or they are acting too formally that I don’t like.
However coming back to what was stated in the short movie SUGIHARTI HALIM, what is in a name? Whether my name is NANA PODUNGGE or anything else, I am still me, my identity is still the same: a woman who claims herself as a feminist, secular, a single parent of my only daughter, loves reading, writing, blogging, swimming, listening to music. Nothing changes.
I am of opinion that it is high time for people to appreciate other people’s rights to choose any name they want so that there will be no more offensive and nosy questions experienced by Sugiharti Halim, “What is your real name?” or “What is your Chinese name?”
PT56 22.30 020608

Senin, Juni 02, 2008

Sepuluh Tahun Reformasi

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, RUMAH SENI Semarang yang berlokasi di Kampung Jambe nomor 280 mengadakan pemutaran sepuluh film pendek yang berhubungan dengan tragedi Mei 1998, pada tanggal 25-27 Mei 2008 yang lalu.
Kesepuluh film pendek itu yakni:
1. Dimana Saya? Karya Anggun Priambodo
2. Sugiharti Halim, Karya Ariani Darmawan
3. Trip to the Wound, Karya Edwin
4. Bertemu Jen, Karya Hafiz
5. Huan Chen Guang, Karya Ifa Isfansyah
6. A Letter of Unprotected Memories, Karya Lucky Kuswandi
7. Kemarin, Karya Otty Widasari
8. Yang Belum Usai, Ucu Agustin
9. Sekolah Kami, Hidup Kami, Karya Steven Pillar Setiabudi
10. Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran, Karya Wisnu Suryapratama

Untuk mengetahui lebih lanjut dari proyek ini, para pembaca blog bisa mengunjungi blog http://9808films.wordpress.com atau hubungi proyek.payung@gmail.com

Dari kesepuluh film pendek tersebut, satu film yang paling menarik perhatianku adalah film yang berjudul SUGIHARTI HALIM. Sebelum film mulai, ada catatan seperti berikut ini:
Keppress nomor 127/U/Kep/12/1966 mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia. (Contoh: Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito, dll.)
Tatkala menonton film ini, aku ingat seorang rekan kerja yang kukenal di tahun 1995. Dia menikah dengan seorang laki-laki Cina Muslim. Tatkala anak pertamanya lahir, mertuanya memberi nama Cina untuk cucu pertama mereka, meskipun temanku dan suaminya ini telah memberikan sebuah nama. Dia merasa aneh, namun suaminya memintanya untuk menerima nama Cina itu, meskipun di akta kelahiran yang tertulis adalah ‘nama Indonesia’ si anak.
Aku pun yang mendengar cerita tersebut merasa hal itu aneh. Mengapa seseorang harus memiliki dua nama? Mengapa mertua temanku itu perlu memberi ‘nama Cina’ kepada sang cucu? Apakah ‘nama Indonesia’ yang diberikan oleh sang orang tua tidak cukup?
Konon, kata orang tuaku, orang-orang di Gorontalo, tanah kelahiran mereka, biasa memberikan ‘nick’ kepada anak-anak mereka, maupun sanak saudara. Namun ‘nick’ hanyalah sekedar nama panggilan, dan bukan ‘nama resmi’. Ada seorang Om yang kukenal di masa kecilku yang disebut oleh orang tuaku sebagai “Pahaya” alias “Papa Haya” yang artinya “Papa Tinggi” karena orangnya tinggi. Walhasil, aku pun mengira ‘Pahaya’ adalah namanya. Ketika seorang teman SD mengenali ‘Pahaya’ di album foto keluarga, dan bertanya kepadaku, “Eh, Na, orang ini kan suami bulikku? Namanya Abdurrahman kan? Wah, ternyata kita bersaudara ya?” Dengan lugu, aku mengatakan kepadanya, “Bukan. Namanya PAHAYA.” My Mom yang kemudian menjelaskan kepadaku bahwa nama Om-ku itu adalah Abdurrahman Podungge, sedangkan PAHAYA hanyalah nama panggilan belaka. LOL.
Kembali ke ‘nama Cina’. Mungkin aku adalah salah satu korban kolonialisasi yang parah, sehingga beranggapan bahwa nama yang berbau Barat lebih enak terdengar di telinga, daripada nama Cina. Aku lebih menyukai nama ‘Andy Lau’ daripada ‘Liu Te Hua’, atau ‘Aaron Kwok’ daripada ‘Kwok Fu Shing’ alias ‘Kuo Fu Cheng’. Bukankah ‘Andy’ ataupun ‘Aaron’ jauh lebih indah didengar (menurut kupingku, sang korban kolonialisasi) dan lebih mudah diucapkan daripada ‘Te Hua’ maupun ‘Fu Shing’ alias ‘Fu Cheng’? (FYI, I loved Andy Lau in his legendary series ‘Return of the Condor Heroes’, while my youngest sister adored Aaron Kwok.) Lidahku tidak terbiasa mengucapkan nama Cina, nampaknya.
Mungkin aku terlalu menyederhanakan persoalan. Mungkin ‘nama Cina’ bagi orang-orang keturunan Cina memiliki makna yang lebih mendalam bagi mereka, atau, menunjukkan identitas mereka, bahwa mereka diakui.
Kembali ke film SUGIHARTI HALIM. Nampaknya perempuan ini dilahirkan tatkala Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 baru saja dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga orang tuanya—yang mungkin memiliki pengalaman buruk berkenaan dengan ‘nama Cina’—hanya memberi satu nama saja kepada si bayi, nama yang sangat berbau Jawa. (SUGIH berarti kaya, ARTI mungkin dari kata ARTO alias HARTA. Namun karena ARTO memiliki gender laki-laki, maka ARTO pun diganti menjadi ARTI agar berjenis kelamin perempuan. Orang tua Sugiharti mengharapkan agar dia tumbuh menjadi seseorang yang memiliki harta yang banyak.) Sugiharti Halim pun tidak memiliki memiliki nick khusus.
Walhasil, dia pun sering mendapati ekspresi wajah heran dari orang-orang yang baru saja dia temui, dan mendengarnya menyebut namanya, “Sugiharti Halim”. Dia juga bosan ditanyai, “Nama aslimu siapa?” Di salah satu adegan yang bisa jadi lucu, namun juga menyedihkan, adalah tatkala dia sedang mengurus passport.
Petugas: “Nama?”
SH: “Sugiharti Halim.”
Sang petugas pun langsung mendongak, memandang wajah Cinanya dengan seksama, heran, sembari bertanya lagi.
Petugas: “Nama asli?”
SH: “Sugiharti Halim, pak.”
Petugas: “Siapa nama Cinamu?”
SH: “Tidak punya, pak.” Sambil takut-takut.
Sang petugas nampak tidak percaya, sedangkan Sugiharti Halim nampak tak berdaya.
Karena begitu seringnya dia mendapatkan ‘kasus’ yang baginya menyebalkan, berkenaan dengan namanya yang sangat berbau Jawa, Sugiharti Halim pun berangan-angan untuk memiliki nama lain. “Julianne” katanya, sambil menerawang.
Si lawan bicara yang mendengarkan Sugiharti Halim curhat pun berkata,
“Kata Shakespeare, ‘what’s in a name?’ Siapa pun namamu, kamu tetaplah kamu, dengan kepribadianmu yang sekarang, dengan identitas yang melekat padamu. Sugiharti ... Julianne ... apa bedanya?”
Namun mungkin paling tidak, seorang Sugiharti Halim tidak akan sesering itu memandang wajah-wajah heran tatkala orang-orang mendengar namanya.
Pesan moral: kalau tidak ingin membuat anak-anak mereka mengalami masalah seperti Sugiharti Halim dalam film ini, mungkin sebaiknya orang-orang berwajah Oriental memberi nama anak-anak mereka yang berbau ‘Barat’, seperti Andy, Rudy, Audy, atau Stephani, Irene, Catherine.
PT56 20.55 010608