Cari

Memuat...

Selasa, Juli 15, 2008

Sepedaku, sepedamu, sepedanya

“Pandanglah orang yang berada di ‘bawah’mu agar engkau mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadamu…”


Kalimat ini terus menerus bergaung di benakku tatkala aku membawa sepeda ‘lungsuran’ kakakku seorang ke bengkel sepeda yang terletak di Jalan Suyudono, tak jauh dari Pasar Bulu, pada hari Jumat 11 Juli 2008.
Lho kok?
Backgroundnya begini.
Hari Rabu 2 Juli, seperti yang kutulis di postingan beberapa waktu lalu, aku ngikut ‘city night riding’ yang diadakan oleh komunitas b2w Semarang. Di antara para partisipan yang ikut waktu itu, sepedaku jelas nampak paling perlu dikasihani. LOL. Usianya sama dengan Angie, 17 tahun!!! (Kalo ga salah ingat, kakakku mengirimkan sepeda merk WINNER ini ke Semarang tahun 1991, tahun anak semata wayangku itu lahir, sebelum kakakku menikahi sang pemberi sepeda tahun 1992.) Selain itu, selama beberapa tahun sepeda sempat mangkrak ga diurusin, apalagi dinaikin. LOL.
Sepeda rekan-rekan b2w Semarang kebetulan kebanyakan merk POLYGON (aku tidak bermaksud promosi, tapi apa boleh buat? Aku ga bisa ga menyebut merek. LOL.) Aku belum tahu dengan jelas mengapa seolah-olah komunitas b2w Semarang ‘didukung’ oleh toko sepeda RODALINK yang berdomisili di kawasan Bangkong, karena beberapa rekan mempromosikan toko ini bagi member yang ingin membeli sepeda baru. Selain POLYGON, seorang member kulihat menaiki sepeda merek GIANT yang tentu jauh lebih keren dibanding milik kakakku yang berharga ‘cuma’ 3 jutaan karena harganya terpaut lima jutaan. (Gile bener!!! – ngeces mode ON. LOL. LOL.)
Wes to poll, pit duwekku iku elik dewe. Wakakakaka ... But I love it a lot and feel proud of myself while riding it, karena selalu terngiang kata-kataku sendiri, “I have supported to reduce air pollution in my dearest hometown.” Mbombong awake dewe luwih becik tinimbang ora mbombong. Wakakakakaka ...
Hari Minggu 6 Juli tatkala berkumpul di Stadion Diponegoro untuk ikut meramaikan acara sepeda santai yang diselenggarakan oleh Polres Semarang Timur, tentu aku berkumpul dengan rekan-rekanku yang sangat membanggakan bagiku (karena semangat bike to work). And again, sepedaku jelas terlihat yang paling ‘tua’ di antara para member b2w Semarang. Nevertheless, karena acara tersebut diikuti oleh banyak klub-klub pecinta sepeda lain, seperti SOC alias ‘Semarang Onthel Club’, sepedaku ga begitu terlihat patut dikasihani. Wakakakaka ... Lah, yang onthel-onthel itu kan tentu usianya sudah lebih dari tiga dekade.
Hari Jumat 11 Juli. Aku bawa sepedaku ke bengkel sepeda yang kelasnya di bawah RODALINK , namun aku yakin kemampuan sang mekanik sepeda tentu ga kalah. Tatkala menunggu si Bapak mekanik membetulkan rem dan letak sadel, aku duduk-duduk di bangku depan bengkel yang sekaligus juga berjualan sepeda dan sparepartsnya. Di hadapanku kulihat berbagai macam sepeda yang dari ‘penampilannya’ jauh lebih mengenaskan dari sepeda yang akhir-akhir ini setia menemani kemana pun aku pergi. Ada seorang Bapak mengendarai sepeda onthel yang dia beli tahun 1976 yang roda depannya ringsek karena ditabrak sepeda motor. Ada beberapa orang lain yang naik sepeda tanpa rem (praktis dia harus ‘memanfaatkan’ kakinya untuk mengerem laju sepeda tatkala dia akan berhenti.) Masih ada beberapa sepeda lain yang kondisinya, bagiku, mengkhawatirkan si pengendaranya.
Dan tatkala kupandang sepeda WINNER ku, out of the blue, dia nampak begitu gagah perkasa, sehingga aku pun berbisik dalam hati, “Thank God, I have this bike to help reduce the air pollution as well as the negative impacts of global warming.”

P.S.: Tapi kalau ada yang mau menghadiahi aku sepeda gunung yang baru, tentu aku MAU ... MAU ... MAU!!! Huehehehehe ...
PT56 15.00 110708

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar