Cari

Memuat...

Sabtu, Juli 26, 2008

Bikers on the Street


Di Indonesia merupakan pemandangan yang jamak bahwa para pengendara sepeda di jalanan tidak mematuhi lampu abang ijo alias traffic light. Aku tidak pernah mempedulikan hal ini sampai aku pun bergabung dengan para pengendara sepeda. ...
Pertama kali aku naik sepeda ke kantor, tentu saja aku masih perlu beradaptasi sehingga ketika lampu merah menyala, aku pun layaknya pengendara sepeda motor berhenti. Dan setelah lampu hijau menyala, aku pun akan serasa berlomba-lomba meninggalkan ‘garis start’ dengan para pengguna jalan raya lain. Kadang kala mereka yang naik mobil di belakangku ‘ribut’ membunyikan klakson, sebagai tanda bahwa mungkin keberadaanku yang naik sepeda di depan mereka mengganggu kecepatan (ato kenyamanan yah?) kendaraan mereka.
Hari Rabu 25 Juni 2008 sepulang mengajar dari sebuah universitas swasta yang terletak di Jalan Pemuda sekitar pukul 20.00, aku bertemu beberapa orang yang naik sepeda pula sepertiku, di traffic light bundaran yang menghubungkan Jalan Pemuda, Jalan Depok, Jalan Thamrin, Jalan Pierre Tendean, dan Jalan Tanjung. Kami berada di Jalan Pemuda, di depan Bank Buana Indonesia, if I am not mistaken. Aku memandang mereka, yang lengkap berbusana bersepeda plus helm, mereka pun memandangku. Kami hanya berhenti pada tahap saling memandang. 
Traffic light menyala merah. Meskipun naik sepeda, aku biasa berhenti tatkala lampu lalu lintas menyala merah. Namun malam itu, entah mengapa aku terus melaju, karena lampu lalu lintas di Jalan Tanjung (sebelah kanan posisiku) pun merah, sehingga aku merasa cukup aman untuk terus mengayuh sepeda.
******
Sesampai di rumah, aku pun bercerita tentang apa yang baru saja terjadi ke adikku. Kebetulan memang kita berdua sedang terkena demam ‘bike to work’.
“Wah ... tatkala aku tetap melaju meskipun lampu merah, aku ingat omongan Pak Danar, salah satu teman yang kukenal di milis Sastra Pembebasan yang komplain, “Only God and tukang becak know when he will turn!! Itu sebab di Jakarta orang-orang selalu ngomelin keberadaan becak yang selalu membuat lalu lintas semakin kacau balau!” kataku berapi-api.
“I know I have done something wrong, tapi kukira ga ada yang kubuat kacau balau dengan apa yang kulakukan tadi, tetap melaju meskipun lampu merah menyala.” Kataku lagi, memberikan pembenaran pada diri sendiri. LOL.
“Mbak ... what if ... kalau orang-orang bike to work lain melihat apa yang kamu lakukan tadi? Bagaimana kalau mereka merasa apa yang kamu lakukan ‘mencoreng’ nama baik b2w Semarang karena tidak berhenti di lampu merah?” tanya adikku.
Aku melongo. Berharap ga ketahuan. LOL.
*****
Kamis 26 Juni 2008 adalah hari pertama diadakan rapat pembentukan pengurus bike to work Semarang. Aku dan adikku—yang waktu itu masih dua-duanya anggota cewe—datang karena di milis sudah ditunjuk dengan semena-mena akan diberi tanggung jawab sebagai sekretaris.
Sebelum rapat dimulai, Pak Budi cerita tentang apa yang dia lihat malam sebelumnya. Tatkala berkeliling kota naik sepeda, menemani anggota bike to work Bandung yang sedang berkunjung di Semarang, di Jalan Pemuda melihat seorang perempuan naik sepeda, dimana di bawah sadel ada tag ‘BIKE TO WORK SEMARANG’, dengan nyamannya melenggang meskipun lampu merah menyala.
G-U-B-R-A-K!!!
It was me!!!
Dan seperti apa yang dikatakan oleh adikku, AKU DILIHAT oleh anggota b2w Semarang lainnya tatkala melanggar lampu merah.
Maluku ada dimana yah? Hahahahaha ...
(dan semenjak itu, aku pun sering dijadikan bahan olok-olokan gara-gara menjadi traffic regulation breaker!!!)
*****
Beberapa hari kemudian, seorang rekan kerja melihatku berhenti di traffic light karena lampu merah sedang menyala. Rekan kerja yang sedang membonceng suaminya ini geli melihatku berhenti. Suaminya yang kadang kala naik sepeda tatkala berangkat bekerja ini bilang, “Lihat tuh mbak Nana! Dia berhenti di lampu merah meskipun naik sepeda. Apa dia ga tahu bahwa bagi pengendara sepeda, kita ga perlu berhenti meskipun lampu merah?”
Keesokan hari tatkala rekan kerja ini mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh suaminya, aku gantian bercerita kepadanya tentang aku yang menjadi bahan olok-olokan di komunitas b2w Semarang berhubung aku KETAHUAN melanggar lampu merah.
“Anggota b2w tetap mematuhi peraturan lalu lintas meskipun kita naik sepeda!” kataku pada rekan kerjaku itu, yang membuatnya tersenyum tersipu karena menyarankan aku ‘melanggar’ lampu merah.
Namun gara-gara itu pula setiap kali aku bertemu dengan lampu merah, aku jadi bingung, mau berhenti atau terus, terutama kalau aku melihat kemungkinan untuk terus. Jikalau itu terjadi di perempatan, aku lebih sering berhenti kalau lampu merah, meskipun dengan resiko para pengendara di belakangku sibuk membunyikan klakson karena mereka menganggap laju sepedaku lelet. Jikalau itu terjadi di bundaran (misal Tugumuda) dari arah Jalan Imam Bonjol, aku sering tetap melaju, terutama kalau aku lihat tidak ada kendaraan bermotor datang dari arah kanan (dari Jalan Sugiyopranoto, maupun yang berputar datang dari Jalan Dr. Sutomo). Sesampai di traffic light di depan Museum Bhakti Mandala (ndak bener jenenge iki? Sing ning sebelahe Pasar Bulu? Lali ik. LOL.), jika lampu merah menyala, aku selalu berhenti karena lalu lintas dari arah Jalan Pandanaran maupun Jalan Dr. Sutomo selalu ramai.
Should bikers stop at the red traffic light?
PT56 11.22 250708

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar