Cari

Sabtu, Desember 22, 2007

Ayu Utami


Senin 17 Desember 2007 aku menghadiri acara ‘talk show’ dengan pembicara utama Ayu Utami dengan moderator Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka. ‘Talk show’ diselenggarakan di sebuah event yang diberi tajuk KAMPOENG WEDANGAN bertempat di kampus BLPT Jalan Brotojoyo Pondok Indraprasta Semarang.
Menurut info yang kubaca di Suara Merdeka, acara dimulai pukul 19.00, sedangkan aku baru sampai ke tempat sekitar pukul 19.30. Untuk memberi alasan mengapa aku datang terlambat (coz I always insist I belong to the punctual type ) aku selesai mengajar pukul 19.00. I needed some time untuk berjalan dari classroom ke teachers’ room, mengembalikan attendance list ke tempatnya, minum, dll. Setelah itu, aku harus mengantar Angie pulang ke rumah dulu, karena dia harus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi final semester di sekolah, sehingga dia ga bisa ngikut aku nongkrongin Ayu Utami.  Sesampai di rumah, aku sempatin mengganti “baju kebesaranku” mengajar (rok panjang hitam, blus, plus blazer hitam), dengan celana jeans plus sweater (hawa di Semarang sedang cukup dingin karena hujan yang sedang “rajin” turun membasahi bumi yang memiliki landmark Tugumuda ini).
Meskipun datang terlambat, dengan pedenya aku langsung menempatkan diri duduk di salah satu kursi yang terletak di deretan paling depan. Aku tengarai karena hujan yang mengguyur sejak siang hari, sehingga tidak banyak masyarakat Semarang yang mengunjungi KAMPOENG WEDANGAN; tidak banyak juga orang yang menempati kursi yang disediakan oleh panitia untuk “menikmati” Ayu Utami. LOL. Begitu duduk, Triyanto bertanya kepada hadirin, “Ada pertanyaan?” Waduh ... jelas I had no question karena aku belum tahu sampai mana perbincangan antara Ayu dan Triyanto, dan aku juga lumayan kaget karena aku yakin acara belum lama dimulai (mengingat ‘budaya’ buruk jam karet yang nampaknya telah mendarah daging di orang-orang Jawa; sorry, bukan bermaksud menghakimi nih: AKU YAKIN TIDAK SEMUA ORANG JAWA MEMPRAKTEKKAN BUDAYA—if we can call it BUDAYA—JAM KARET.) kok tahu-tahu Triyanto sudah ‘menyeruduk’ hadirin dengan “Ada pertanyaan?”
Berhubung tidak, atau belum ada satu pun pengunjung yang mengacungkan tangan sebagai tanda ingin mengajukan pertanyaan, Triyanto turun dari panggung, menghampiri seorang pengunjung yang duduk di sebelah kananku, dan bertanya,
“Apa yang membuat anda menghadiri acara ini?”
Berhubung jawabannya terlalu berbelit-belit, atau memang aku yang sudah menjadi makhluk pelupa, LOL, aku pun lupa apa alasan yang dia kemukakan. Aku sudah mempersiapkan diri jika Triyanto menanyaiku pertanyaan yang sama: “I am one fan of Ayu Utami! That for sure made me come to this place.” But ternyata harapanku itu terlalu tinggi. Triyanto langsung balik ke panggung, tanpa melirikku sedetikpun. (kayaknya sih. LOL.)
Satu hal yang sangat menarik bagiku yang dikemukakan oleh Ayu adalah dia menegasikan teori Roland Barthes tentang “The author is dead” begitu seorang pengarang usai menulis buku, dan buku tersebut dipublikasikan dan disebar ke masyarakat. (You can read one post of mine, I entitled “The death of the author” or similar like that in my blog http://afeministblog.blogspot.com) di post ini, aku pun menuliskan ketidakpedeanku untuk menggunakan teori Barthes ini, karena aku lebih condong ke teori Genetic Structuralism milik Lucien Goldmann, yang melibatkan ketiga elemen penting dalam menelaah suatu karya sastra, world view, the author’s view, plus his/her background, as well as the work itself.)
Berbeda denganku yang tidak mengimani teori Barthes karena aku bukan seorang yang pede, Ayu menjelaskan bahwa dia baru saja kembali dari Prancis, dalam rangka menghadiri launching SAMAN dalam versi Francaise. Sebelum buku SAMAN berbahasa Prancis itu diluncurkan ke masyarakat Prancis, Ayu diminta untuk menjelaskan kepada publik, “What is Saman all about?” yang bermakna Ayu tidak dimatikan oleh masyarakat sastra disana, Ayu tetap dianggap hidup sehingga suaranya perlu didengar untuk menjelaskan apa sih yang dia kemukakan, maupun yang dia kritisi, lewat novel perdananya yang dianugerahi sebagai tonggak bangkitnya Sastrawan Angkatan tahun 2000.
Seorang pengunjung bertanya tentang polemik sastra yang heboh di internet beberapa waktu lalu, antara pihak Forum Lingkar Pena—yang dimotori oleh Taufik Ismail—dengan Komunitas Utan Kayu—tempat dimana SAMAN dulu dilahirkan, meskipun sekarang Ayu tidak lagi terlibat secara aktif di KUK. Aku ingat yang ‘heboh’ di internet, adalah pelaku polemik yang menurutku mengklasifikasikan diri mereka ke dalam dua ‘kubu’ yakni ‘penghujat’ dan ‘pembela’ KUK dengan alasan masing-masing, bersaing siapa yang mampu mengemukakan alasan yang lebih intelektual. Ayu sendiri yang dihujat adem ayem saja. “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” mungkin Ayu berpikir begitu.
Dan, ternyata setelah bertemu langsung, Ayu pun tetap memilih untuk tidak ‘menceburkan’ diri ke kelompok pembela KUK, ataupun pembela diri sendiri. Dengan kata lain Ayu tetap dengan arif membiarkan para ‘anjing’ itu menggonggong, dan dia tetap berlenggang. 
Tatkala mendapatkan kesempatan, aku bertanya, “Bukankah itu berarti mbak Ayu ‘dimatikan’ oleh kelompok penghujat?”
Dari jawaban yang diberikan olehnya, aku mengambil kesimpulan bahwa dia memang memilih sikap, “I don’t give a damn.” Katanya lagi, dari sekian banyak kritik yang ditulis oleh para krittikus sastra, baik dalam maupun luar negeri, satu kritik yang dia soroti, ditulis oleh seorang feminis Australia yang mengatakan, bahwa sebenarnya SAMAN akhirnya kembali lagi ke dikotomi makhluk publik dan domestik, makhluk superior dan inferior, karena SAMAN, sang karakter laki-laki lah yang mendapatkan porsi sebagai ‘pahlawan’, makhluk publik dan superior, sedangkan karakter perempuan yang ada, tetaplah merupakan tokoh pelengkap, seperti biasa, kehadiran makhluk berpayudara dan bervagina ini hanya untuk menjadikan satu suasana, era, or whatever we call it, menjadi lebih colorful.
FYI, tujuan utama panitia KAMPOENG WEDANGAN mengundang Ayu Utami adalah untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat Semarang, bahwa menulis bisa dijadikan salah satu cara berwirausaha, mengingat tema utama KAMPOENG WEDANGAN adalah “Expo Kewirausahaan dan Budaya”.
Berbicara tentang menulis, Ayu Utami membagi profesi menulis ini menjadi dua
1.penulis yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai WRITER, sebagai tataran pemula
2.pengarang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai AUTHOR, sebagai kelas yang lebih tinggi, lebih sesuai disejajarkan dengan SENIMAN
Untuk menjadi AUTHOR, seseorang seyogyanya memulai dari tataran pemula, sebagai WRITER. Tulislah apa saja, misal tentang “How to be a millionaire”, “How to say NO to your boyfriend when he asks you to have sex” (NOTE: ini ideku, bukan yang disampaikan oleh Ayu. LOL.) Dalam menggapai ke-AUTHOR-annya, Ayu memulainya dengan profesinya sebagai wartawan dan kolumnis. Setelah merasa capable, dia baru memulai menulis proyek idealis (plus ambisius)nya, yakni menulis novel yang dia beri judul SAMAN.
Masih banyak lagi yang dikemukakan oleh Ayu, kusimpan untukku sendiri. LOL. Atau, kalau mood nulis datang (lagi), akan kutulis di post yang lain.
LL TBL 10.52 221207

Rabu, Desember 19, 2007

Orgasm

“What is orgasm like?”
More than three years ago, a close friend of mine asked me such a question, after she got married. (FYI, she got married at a quite relatively “late” time, at her mid thirties.) I didn’t have exact words to illustrate what orgasm was like. LOL. I just said, “Well, it is very very wonderful feeling.” Then she said, “Since the first time I had sex with my hubby, I have always got that wonderful feeling.”
“Do you undergo the “rising feeling”, I mean the wonderful feeling rises, it is getting more and more wonderful until eventually you feel like you reach the top.” I tried explaining further.
“No, it is not like that. It is wonderful, yes, but there is no sort-of “journey” to the top.” She said. “It is the same wonderful feeling when we start making love, until we finish.“ 
“Well, I am sorry to say that you haven’t got your orgasm, then.” I said. 
“Ah, I understand now why I already got bored with it. In fact, it is because I haven’t got orgasm yet.” She commented.
“I suppose so,” was my response.
Several days later, or several weeks later, I don’t remember well, she came to me, “reported”, LOL, “I think eventually I have got my orgasms, so I thought.”
I smiled widely, and interrogated her, “Tell me what it is like, in your own words.”
“I suppose I agree with you that there is something like journey to the top, the wonderful feeling increases little by little until I feel like flying to the open air, very high. I feel like all of the muscles in my body go away from my body.” LOL.
My smile got wider. LOL. Then I commented, “That’s exactly right. I believe you have got your orgasm.”
“It is indeed very wonderful, much more wonderful than just the feeling I got before I underwent to reach the top.”
“Of course yes.” I assured her.
“But, mbak, I could reach orgasms only when my hubby did oral sex to me. It is somewhat difficult for me to get it when we have “conventional” position, he is on top of me, or on the way around, when I am on top of him.” She said further.
“It is not important anymore, I assume. Women can get orgasm not only because of penis, but also using other media, such as tongue, fingers, or any other things, such as vibrator. Similar to that, women also can get orgasm with any other position, as long as their most sensitive part of their bodies get stimulated well.”
“Is it normal?” she inquired, not sure.
“It is ABSOLUTELY normal.” I convinced her.
*****
I just watched BECAUSE I SAID SO, with Diane Keaton and Mandy Moore. (I just realized that Mandy Moore has played in some movies, she is not only a singer. The first song I really like from her is I WANNA BE WITH YOU; one song I love to sing when I want to be wth someone I love. Her first movie I watched was AMERICAN DREAMZ where she became a singer, not far from her profession. WALK TO REMEMBER was the second movie I watched with her as one leading star, the third was SAVED! And BECAUSE I SAID SO was the fourth movie.) This is a movie about a single mother who has three daughters, and Mandy casts as Milly Wilder, the youngest. Diane Keaton casts as Daphne Wilder, the mother.
One scene that attracted me most is when Daphne and Milly talked about what orgasm was like. Milly told her mother about orgasm, using very different term I used to tell my close friend three years ago, but I couldn’t agree with her more. It is indeed difficult to explain what orgasm is like in verbal language. 
I was wondering why the mother asked the daughter about orgasm. Weren’t they supposed to exchange roles? The mother explained and the daughter listened. Then, Milly asked Daphne, “How about your own experiece Mom? Didn’t you experience that with Dad?”
Daphne said that she seldom did that with her husband, moreover he was always busy working, because he also worked night that made him very tired. The conclusion was: Daphne never got orgasm yet.
The continuation of the story: Daphne dated Joe, Johnny’s father, while Johnny dated Milly. From Joe, eventually Daphne experienced orgasm, and she became sort-of addicted to it. 
*****
What I want to say in this writing is in fact many women don’t get orgasm in their life, including married women (In Indonesia, the hypocritical view is still very strong: ONLY MARRIED COUPLE HAVE RIGHTS TO HAVE SEX. It means only married people have rights to experience orgasm.) What a waste if those married women don’t experience this one wonderful moment in their life. They even think that their role in sex is only to satisfy their sex partners—their husbands. They get that “wonderful feeling”, yes, but not yet “reach the top”, just like what my close friend said to me at the beginning of her marriage. And since they never “reach the top” yet, they think that the pleasure of orgasm is similar to that usual “wonderful feeling” at the beginning of having sex. I suspect then this makes many women reluctant to have sex with their husbands, because of course that usual wonderful feeling easily makes them bored. Things get worse when the couple don’t communicate about it openly.
For women who have undergone “to reach the top”, absolutely, they will enjoy it. Look at Daphne, she easily became addicted to Joe after he made her reach the top.  One more important thing: orgasm can be reached not only via “conventional one on one“ sex. Do you agree? You’d better. LOL.
PT56 15.25 161207

Selasa, Desember 04, 2007

Kaligawe banjir

Hari Senin 3 Desember 2007 seusai mengajar pukul 19.00, tiba-tiba hujan turun dengan deras tatkala aku menuruni tangga, meninggalkan kelas untuk menuju ruang guru. Semenjak aku “commute” Semarang-Demak-Semarang mulai tanggal 20 November 2007, aku selalu merasa “excited” yang lebih cenderung ke “anxious” kalau hujan tiba. What is Kaligawe like? Kawasan Kaligawe, Semarang ke arah Utara, menuju ke Terminal Terboyo, memang terkenal (atawa ‘tercemar’) dua hal: macet dan banjir. Apalagi hujan Senin malam itu deras, bahkan sampai aku meninggalkan kantor pukul 21.00 (tertahan di kantor gara-gara hujan itu), hujan masih turun dengan cukup deras. Aku memang membawa mantel, namun aku eman-eman aja sepatuku bakal basah kuyup.
“Emang kamu cuma punya sepatu satu pasang Na?”
Well, aku punya satu pasang sepatu boots lain yang berukuran 36, ukuran “asli” kakiku yang mengikuti standard kecantikan kaki perempuan China di zaman dahulu LOL. Aku juga masih punya dua pasang sepatu high-heeled lain, yang dengan alasan tidak jelas, aku malas memakainya. LOL. (Khawatir kalau “trade mark” si pemakai busana serba hitam plus sepatu boots hitam diserobot orang di kantor tempat aku bekerja LOL.) Satu-satunya sepatu yang paling suka kupakai ya sepatu boots-ku yang berukuran “tidak asli” yakni ukuran 37, yang sudah lecet di sana sini, terutama gara-gara aku jatuh dari motor, kaki kananku terseret beberapa meter, sekitar dua tahun yang lalu, plus sering kupakai untuk menstarter motor kalau “automatic starter” nya ngadat. Ukuran yang satu nomor lebih besar dari “ukuran asli” kakiku yang mungil ini membuatku leluasa memakai “kaos kaki bola” (LOL) yang rada tebal itu untuk melindungi kakiku. Kalau memakai sepatu boots yang berukuran 36, ga bisa lah aku memakai kaos kaki bola, karena bakal sempit.
Tatkala aku akhirnya meninggalkan kantor, hujan yang sudah agak mereda ternyata membuat sepatuku aman, alias tidak basah kuyup kemasukan air hujan.
****
Selasa 4 Desember aku sudah siap duduk di teras sekitar pukul 05.15, menunggu Pak Har menjemput. Kira-kira nanti kita lewat jalan mana ya untuk menghindari banjir di Kaligawe? FYI, mobil yang biasa dinaiki Pak Har itu saingan mungilnya dengan diriku (plus ukuran kakiku LOL). Kasihan kalau dipaksa melewati banjir di Kaligawe. (Dijamin, Abangku ga bakal muat naik mobil itu LOL, kepalanya bakal kejedot langit-langit mobil, plus kakinya harus menekuk dalam-dalam, yang tentu membuatnya ga bakal bisa melakukan salah satu hobbynya: menjadi pereli antar negara. LOL.)
Pak Har datang sekitar pukul 05.35. Seolah membaca pertanyaan “Mau lewat mana Pak?” yang tertulis di jidatku LOL, beliau bilang, “Kaligawe tentu banjir parah mbak. Nanti kita lewat jalan arteri saja.”
Aku yang cuma jadi penumpang tentu pasrah sajalah. LOL. And you can guess. Selama perjalanan menuju Sayung (daerah setelah Kaligawe), melewati arteri, Nana yang homebody type ini pun tiba-tiba menjadi turis lokal. LOL. Aku terbengong-benong memandang daerah di kotaku yang sangat asing di mataku. Dan ternyata Pak Har diam-diam memandangiku yang nampak begitu antusias melihat ke arah kanan kiri, bertanya kepadanya, “Itu gedung apa Pak ya?” tatkala aku melihat sebuah gedung yang lumayan mencolok bagiku.
Setelah melewati daerah pertigaan Terboyo—Tlogosari—Demak, seperti biasa aku memandangi sungai yang ada di pinggir sebelah kiri, yang airnya hanya sedikit, dan keruh, namun tetap saja dipakai orang-orang di daerah sekitar untuk mencuci, dll. Tiba-tiba Pak Har nyeletuk, “Masih suka memandangi sungai itu toh mbak?” LOL. LOL.
Seperti orang yang ketahuan nyolong mangga, LOL, aku menjawab, “Saya pengen lihat apakah sungai ini bakal penuh berisi air setelah hujan turun.”
FYI, meskipun Demak terletak tidak jauh dari Semarang, Demak ternyata terkenal sebagai daerah yang sulit air. Itu sebab di Demak tidak pernah ada berita kebanjiran.
****
Perjalanan pulang dari Demak, terutama tatkala melewati Kaligawe, dengan antusias aku menjepret pemandangan banjir di depan mataku, untuk menghindari kejenuhan macet. Seseorang yang duduk di sampingku memandangku dengan heran, perhaps he thought, “What the hell is this lady doing? Who the hell is she? Banjir begitu saja kok difoto.” LOL.
Ini dia foto-foto hasil jepretanku, menggunakan digital camera yang ada dalam hape Samsung SGH X640, diambil dari dalam bus. Kalau hasilnya seadanya, ya mohon dimaklumi. :) Aku salut pada mereka yang naik motor, dan nekad melewati kawasan Kaligawe yang sedang banjir, meskipun aku heran juga, ada jalan alternatif—jalan arteri—mengapa mereka tetap memilih jalan itu? Efisiensi waktu? Probably.





Yang di bawah ini banjir di daerah lain.

Semarang memang penuh air. :( Akankah ada walikota terpilih yang bakal bisa membebaskan Semarang dari “masalah klasik” ini? (Inget lagunya Waljinah “Semarang kaline banjir” ...)
PT56 11.33 041207

Wisata Bahari Lamongan


Minggu 4 November 2007 aku beserta beberapa rekan kerja plus keluarga berwisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang juga disebut Tanjung Kodok, yang terletak di kota kecil Lamongan, Jawa Timur.

Rombonganku meninggalkan kantor kurang lebih pukul 05.00, waktu di dalam bus Sindoro Satria Mas. Sopir bus memilih jalur utara, melewati Kaligawe yang sedang dipenuhi air banjir pada waktu itu. Aku sempat melihat beberapa mobil yang memutar untuk memilih jalur yang lain, karena tidak bisa memperkirakan seberapa dalam genangan air yang disebabkan hujan tersebut. Rombongan berhenti di Kudus, di sebuah rumah makan untuk memberi kesempatan kepada para penumpang yang ingin mengeluarkan hajat kecilnya. Kali kedua rombongan berhenti di Tuban, dengan maksud yang sama.
Kami sampai di Wisata Bahari Lamongan pukul 11.30. Setelah makan siang berupa nasi kotak di dalam bus, kami memasuki daerah wisata.

I myself was completely in the dark what kind of place is WBL Hanya satu petunjuk yang diberikan oleh guide, “Semua wahana bisa dinaiki karena panjenengan saya belikan karcis terusan yang memungkinkan panjenengan melakukan itu, kecuali dua tempat: arena permainan go kart, dan banana boat. Panjenengan harus membayar jika ingin naik go kart dan banana boat.”
“Is it something like Dufan in Jakarta Mama?” Angie asked me.
“Perhaps honey.” Jawabku.
Aku dan Angie masuk area WBL terlambat karena Angie menyempatkan diri mengganti celana jeans panjangnya dengan celana jeans selutut. Pesan dari guide yang disampaikan kepada koordinator wisata dari kantor, “Jangan lupa bawa baju ganti.”

****
Bangunan pertama yang kumasuki bersama Angie adalah “Rumah Kucing”. Di dalamnya banyak terdapat berbagai macam kucing dari seluruh penjuru dunia. Bagi pecinta kucing, mungkin di sinilah tempat yang paling mengasyikkan, karena bisa melihat berbagai varian kucing yang imut-imut, sekaligus merasa kasihan, karena biasanya kucing yang lebih dikenal sebagai domestic pet, dibiarkan berkeliaran bebas di dalam rumah, di “Rumah Kucing” ini kucing-kucing tersebut “dikerangkeng” di sebuah kotak berukuran kurang lebih 2 x 2 m, seperti binatang-binatang buas di kebun binatang. Anyway, kucing memang satu keturunan dengan singa, harimau, maupun leopard dan panther (World Book 2005), yang bisa dikategorikan binatang buas.
Lihat gambar beberapa kucing-kucing koleksi WBL di bawah ini:




Keluar dari “Rumah Kucing”, Angie dan aku melanjutkan perjalanan ke gedung selanjutnya: Bioskop 3 dimensi.
Waktu akan ngantri untuk masuk ke dalam bioskop, Angie komplain panjangnya antrian sehingga aku ikuti keinginannya untuk langsung melanjutkan perjalanan. Untung sorenya, sebelum keluar dari areal WBL, menjelang pukul 4, waktu kita berdua balik melewati bioskop, tidak ada antrian sama sekali, sehingga Angie pun mau masuk ke dalam. Film yang kita tonton adalah perjalanan masuk ke dalam terowongan yang gelap gulita, naik kereta api, penuh dengan pemandangan yang mengerikan. Waktu kita serasa tercebur ke dalam air sungai yang airnya menggelegak, tiba-tiba para penonton disembur air sungguhan entah berasal dari mana. Menurutku pribadi bioskop 3 dimensi di WBL ini lebih memberi kesan “sungguhan” daripada yang ada di Dufan.
Meninggalkan bioskop 3 dimensi, ada “Rumah Sakit Hantu” yang konon di dalamnya diset seperti bentuk rumah sakit yang dipenuhi oleh “hantu-hantu” yang meninggal karena sakit atau mati kecelakaan. Angie menolak masuk, sehingga aku hanya mendengar cerita mereka yang masuk ke dalamnya. FYI, Angie lumayan suka nonton film horror, namun ogah kuajak masuk ke areal permainan yang berhubungan dengan ‘setan’ dan ‘hantu’. 
Setelah Rumah Sakit Hantu, ada areal permainan ketangkasan. Angie pun tidak mau mencoba seberapa tangkas dia bermain lempar melempar, atau tembak menembak. So, kita jalan terus aja.
Gedung di sebelahnya diberi judul “Istana Bawah Laut”. Setelah aku dan Angie masuk ke dalamnya, ah .. ternyata tempat bermain anak-anak kecil, seperti kereta api mainan, mobil-mobilan, robot yang bisa bergerak naik turun, dll. Hanya saja gedung itu diset seperti berada di bawah laut. Hiasan di dinding dan di langit-langit gedung yang menunjukkan kita seperti berada di bawah laut.
Dari sana aku dan Angie sempat memasuki areal go kart. Satu orang dikenai biaya Rp. 18.000,00 untuk mencoba naik go kart selama kurang lebih 5 menit, merasakan laksana racer.  Angie and I didn’t try riding it.
Gedung berikutnya adalah “Taman Bajak Laut”. Angie yang semula menolak melulu kuajak ini itu, akhirnya kupaksa masuk ke dalam taman bajak laut. (Informasi tambahan: hari Senin 5 November, Angie harus menghadapi ujian harian terpadu di sekolah. Mungkin itu sebab dia kurang begitu menikmati suasana. Blame her mother yang memaksanya untuk ikut berdarmawisata. LOL.) “Taman Bajak Laut” diset seperti sebuah kapal yang karam setelah dibajak oleh para perompak di tengah laut. Pengunjung dibatasi hanya empat orang untuk sekali perjalanan masuk ke dalam. Di dalam suasana agak temaram, dengan pemandangan khas kapal yang karam, ada bajak laut yang menakut-nakuti di sana sini. Bersamaku dan Angie, ada seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 30 tahun, bersama keponakannya. Mereka berdua ada di depanku. Angie yang merasa agak takut, memeluk lengan kananku dengan erat, dan aku memegangi kaos yang dipakai oleh anak kecil yang memeluk omnya dari belakang. LOL. Begitu “selamat” keluar dari “serangan para bajak laut” di dalam “kapal karam” itu, Angie pun berteriak lega. LOL. (felt like ikut pengalaman dalam Pirates of the Caribbean, kata Angie. LOL.)
Dari sana, Angie yang moodnya sudah bagus, mau ikut aku masuk ke “Planet Kaca” yang di dalamnya tak jauh beda dengan “rumah kaca”, or whatever it is called di Dufan.
Keluar dari “Planet Kaca”, aku melihat, wahana “Tagada” yang mirip seperti “kora-kora” di Dufan. Aku menolak diajak Angie naik, karena ogah pusing, plus perut mual setelah itu. LOL. Ada “planet insectarium” yang isinya (mungkin) berbagai macam insects, yang kurang menarik bagi Angie sehingga kita berdua pun tidak masuk ke dalamnya.
Perjalanan selanjutnya kita masuk ke “Taman Berburu” yang antrinya jauh lebih lama dibanding waktu ‘berburu’nya sendiri. LOL. Aku dan Angie menaiki semacam mobil kecil terbuka, yang dilengkapi oleh “senapan” untuk menembak binatang buas yang “berkeliaran” di dalam taman tersebut.
Keluar dari “Taman Berburu”, aku dan Angie memasuki “playground remaja” yang di dalamnya ada banyak pasangan remaja yang duduk berdua-dua. Playground ini terletak tepat di pinggir laut. Lihat foto yang kujepret di daerah itu di bawah ini.


Aku dan Angie naik “jet coaster” yang terletak di tebing yang lumayan curam. Jet coasternya sendiri tidak begitu “mendebarkan hati” dibandingkan yang ada di Dufan, yang dulu “memaksaku” untuk berteriak ketakutan kalau sampai jatuh. LOL. Sorry, lupa njepret jet coaster plus tebingnya yang curam. LOL.
Berikutnya aku dan Angie naik “space shuttle” yang membuatku seperti sedang naik ayunan. Waktu kecil aku suka sekali naik ayunan seperti rasanya aku kepengen punya ayunan pribadi di halaman rumah. LOL. (Belum terkabulkan sampai sekarang. LOL.) Dari ‘space shuttle”, aku ajak Angie makan bakso, karena waktu melihat rumah makan tak jauh dari situ, rasanya aku nyidam makan bakso. LOL. FYI, I am NOT a bakso freak. Waktu makan sambil ngobrol inilah, aku baru kepikiran, “Sayang, tolong space shuttlenya ntar difoto yah?” begitu aku bilang ke Angie. Ini dia foto “space shuttle”nya.

Setelah itu, aku memaksa Angie ikut ngantri di areal “bumper car” alias bom bom car. “Di Semarang juga banyak Ma kalo cuma kayak gini,” Angie bersungut-sungut.
“Masalahnya adalah, kita yang ga pernah nyempatin diri ke mall untuk mainan bom bom car. Nah, sekalian aja sekarang, mumpung sudah ada di depan mata,” kataku merayu Angie. LOL. Bedanya adalah, kalau bom bom car di Semarang, mobil mainannya lumayan besar sehingga bisa dinaiki dua orang. Di WBL, satu mobil hanya cukup untuk satu orang.
Areal terakhir yang kumasuki bersama Angie adalah “permainan air” berupa taman biasa aja. Aku semula sempat terheran-heran mengapa taman yang biasa saja itu disebut “permainan air”, mana sebelum masuk ada peringatan, “Bagi mereka yang menderita sakit jantung dilarang masuk. Tempat ini merupakan tempat yang memiliki teknologi sensor tinggi.” What the hell? Ternyata tatkala enak-enak berjalan, tiba-tiba dari satu tempat yang tidak jelas, meluncurlah “serangan air” yang tidak mungkin bisa dihindari. Demikianlah kejadiannya sepanjang berjalan di taman itu. Walhasil keluar dari areal “permainan air” aku dan Angie sama-sama basah kuyup. Keluar dari taman itu, kita disambut dengan tulisan seperti di bawah ini:



Berikutnya aku dan Angie naik kano. Wah ... ternyata asik naik kano. Jika ada kano di pantai Marina Semarang, tentu aku bakal rajin main ke Marina. Sayangnya ga ada ... Aku dan Angie tidak naik banana boat (speed boat).
Berikutnya kita cuma ngobrol sambil berfoto-foto di pinggir pantai. Hampir sepanjang perjalanan di dalam WBL, aku dan Angie tidak berpapasan dengan anggota rombongan lain sehingga laksana kita hanya piknik berdua.
Berikut foto-foto yang sempat dijepret menggunakan hape Angie SonEr K510i yang kayaknya hasilnya sudah tidak sebagus beberapa bulan lalu.










Aku dan rombongan meninggalkan areal WBL sekitar pukul 18.30 waktu di dalam bus Sindoro. LOL. Mampir sebentar untuk makan malam di Tuban. Kita sampai di kantor Semarang, sekitar pukul 00.30.
PT56 07.42 021207

Sabtu, November 17, 2007

Ngurus SIM

Selasa 6 November 2007 aku ninggalin rumah sekitar pukul 08.30 menuju kantor SATLANTAS Semarang yang terletak di Jalan Letjen Soeprapto kawasan Kota Lama yang terkenal (atau tercemar?) banjir tiap musim hujan datang.
“Ngapain ke SATLANTAS Na?”
Ngurus SIM.
“Emang masa berlaku SIM-mu habis? Ini kan bulan November, sedangkan ulang tahunmu bulan Agustus. Harusnya kalau habis ya bulan Agustus kemarin diurus?”
Well, ceritanya begini. Aku kecopetan dompet satu hari bulan September 2002 (LIMA TAHUN LALU!!!) tatkala aku turun dari bus PATAS NUSANTARA di terminal Jombor. Selain sejumlah uang, yang ada di dalamnya SIM, KTP, dan kartu anggota JAMSOSTEK. Yang lain, aku sudah lupa. Maklum five years has gone. 
Karena kesibukanku riwa riwi (atau wira wiri yah?) Semarang Jogja Semarang sampai aku lulus tahun 2005, aku males banget ngurus SIM baru lagi. Sedangkan KTP kan gampang, tinggal memberi sejumlah uang kepada karyawan Kelurahan, aku bisa mendapatkan KTP baru.
“Aku ga kuliah di luar kota aja males mbak kalo ngurus SIM, karena birokrasi yang complicated,” kata seorang teman, memberiku dukungan. LOL.
Tahun 2005 pertengahan aku sudah sering berada di Semarang sebenarnya, dan sibuk bekerja lagi, dan lumayan sering “mobile” menaiki sepeda motor, tapi dasar aku LELET, ngurus SIM pun males banget. Kebetulan juga aku bukan tipe orang yang suka kelayapan. Seperti yang pernah kutulis di post sebelum ini, kegiatanku hanya ngantar Angie sekolah, ke kantor, ke PC fitness center dan ke warnet yang kebetulan tempatnya berdekatan satu sama lain. Kadang ya was was juga ketika aku melakukan ‘perjalanan’ yang tidak biasa, misal, mengunjungi Julie yang tinggal di daerah Citarum ataupun Yulia yang tinggal di daerah Klipang (jauuuhhhhh banget dari tempat tinggalku!!!) ketika kebetulan mereka berdua pulang ke Semarang. But, semenjak pertengahan 2005 itu, aku “cuma” sekali “ketangkap” patroli polisi ketika satu hari Minggu aku lewat Kampung Kali (Jalan Mayjen Sutoyo) sekitar pukul 14.00, setelah membantu AFS Chapter Semarang untuk mengadakan seleksi di SMP N 3 yang terletak di kawasan tersebut. Sekitar bulan Juni/Juli 2007 yang lalu.
Kembali ke hari Selasa 6 November 2007. setelah muter-muter mencari jalan yang tidak banjir, akhirnya aku mengalah, harus melewati banjir. Aku tidak tahu nama jalannya, namun berlokasi setelah jalan Merak (yang direncanakan sebagai lokasi CITY WALK), belok kanan. Ini dia foto jalan yang dipenuhi dengan air banjir sebelum kulewati dengan nekad. :)

Masuk ke Jalan Letjen Soeprapto dari arah Timur (memang hanya satu arah), banjir masih menggenangi sebagian jalan itu. Untungnya di depan SATLANTAS, air sudah surut. Waktu memarkir motor, seseorang memakai seragam biru tua (blue black) yang berkeliaran di pelataran parkir menyapaku, “Mau ngurus apa mbak?”
“SIM Pak. SIM saya hilang.” Jawabku.
“Mau saya bantu?” tawarnya.
Aku diam saja. Aku ingin mencoba mengurus sendiri.
Loket pertama yang kudatangi adalah loket INFORMASI. Seorang pegawai menanyaiku, “Ada apa mbak?”
“Mau ngurus SIM Pak. SIM saya hilang.”
“KTP dan surat kehilangan dari Poltabes,” katanya.
Aku langsung menyerahkan kedua hal yang diminta itu kepadanya.
“Tunggu ya mbak? Silakan duduk dulu.” Katanya lagi.
Waktu duduk-duduk menunggu (di halaman, tidak di dalam sebuah gedung), aku melihat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO. “Just wait and see what will happen today,” kataku dalam hati.
Lihat gambar di bawah ini.

Sekitar 15 menit kemudian, aku dengar namaku disebut, lengkap dengan nama fam PODUNGGE. (orang itu tidak salah membacanya! :)) aku mendekati loket informasi itu lagi.
“Ngurus SIMnya terlambat ya mbak?” tanya orang yang sama.
“Terlambat?” tanyaku balik.
“SIM mbak berlaku sampai tahun 2004. berarti mbak terlambat 3 tahun mengurusnya Harus diuji ulang lagi.” Katanya.
W A D U H...   
“Emang hilangnya kapan?” tanyanya.
“Tahun 2002 Pak, dan saya lupa masa berlaku SIM saya itu sampai tahun berapa. Tapi memang baru kemarin saya mengurus surat hilangnya di Poltabes.”
“Berarti mbak harus diuji ulang. Seperti mengajukan SIM baru lagi.” Katanya.
Uji ulang? Aku ingat di tahun 1984 dulu waktu my dear late Dad menguruskan SIM buatku, setelah beliau membelikanku sebuah sepeda motor baru, hadiah diterima di SMA N 3 Semarang, sekolah negeri terfavorit, beliau mengantarku ke SATLANTAS, menungguiku yang sedang ujian teori di sebuah ruangan. Di luar hujan, dan beliau (dengan seorang teman yang “menjembatani” antara my dear Dad dengan pihak kepolisian) harus berdiri di “tritisan” (what is it called in Bahasa Indonesia? LOL) agar tidak terkena tetesan air hujan.
Setengah bengong aku menerima secarik kertas yang diulurkan oleh si Bapak di loket “Informasi” itu. Dia mengatakan, “Sepuluh ribu.”
Meskipun aku tidak jelas uang itu untuk apa, karena tidak ada kuitansi yang jelas, aku berikan juga uang sepuluh ribu kepadanya. Di sebuah lembaran kertas yang dia ulurkan, tertulis dataku sebagai pemilik SIM C, yang dikeluarkan pada tahun 1999. Aku berpikir apakah uang sepuluh ribu rupiah itu untuk membayar jasanya mencarikan dataku di komputer? Padahal dengan sistem komputeriasi, mencari data merupakan suatu hal yang sangat mudah, tinggal satu KLIK, keluarlah data yang kita butuhkan. (Seperti seseorang yang mencari dataku di internet, tinggal ketik NANA PODUNGGE di search engine, kemudian KLIK, voila ... akan keluarlah segala hal yang berhubungan dengan NANA PODUNGGE. Apa susahnya?”) Kemudian dia tinggal ngeprint. Apa sulitnya?
But ... yah ... orang bilang SATLANTAS merupakan gudang “uang-uang yang berpindah tangan tanpa keterangan yang jelas” so ... ya mohon dimaklumi.
Dari loket informasi, aku ke loket pembayaran, yang ternyata aku diminta untuk membayar Rp 20.000,00 untuk cek kesehatan. Ada kuitansi yang jelas untuk ini.
Dari situ, aku ke Poliklinik untuk cek kesehatan.
Apa yang terjadi di Poliklinik? Tekanan darahku dicek, kemudian juga mata, untuk mengecek apakah aku buta warna. Kemudian sedikit wawancara, apakah aku memakai kacamata, kalau iya apakah minus atau plus. That’s all. Kemudian aku diminta ke ruang I yang terletak di sebelah ruang II. LOL.
Sesampai di sana, kusodorkan berkas-berkas yang kubawa (surat kehilangan dari Poltabes, KTP, satu lembar data yang kudapatkan dari loket informasi, dan surat keterangan kesehatan dari poliklinik) kepada seorang polwan yang duduk di balik counter. Setelah sekilas melihat data yang menunjukkan aku terlambat mengurus SIM, polwan itu mengatakan, “Ini harus diuji ulang mbak.”
“Iya. Saya harus kemana?” tanyaku.
“Ke ruang ujian teori. Yang menguruskan siapa?” tanyanya.
“Saya urus sendiri,” jawabku pede. Sembari teringat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO, mengapa polwan itu bertanya, “Yang menguruskan siapa?”
Aku lupa memperhatikan rona wajah sang polwan mendengar jawabanku tadi. Kemudian dia menyerahkan selembar formulir yang harus kuisi, formulir permintaan SIM baru (satu halaman bolak balik), dan memintaku membayar seribu rupiah. Sebagai ganti fotocopy formulir? LOL. Kok mahal amat? LOL.
Setelah itu aku menuju ke ruang ujian teori. Well, meskipun fisik gedung telah mengalami perbaikan di sana sini, letak ruang ujian teori masih tetap di lokasi yang sama dengan waktu aku mengajukan SIM pertama kali tahun 1984. Aku masuk ke sebuah ruangan yang ada tulisan “Ujian teori”. Aku serahkan semua berkas yang kubawa (setelah aku mengisi formulir pendaftaran SIM) kepada seseorang yang duduk di balik sebuah meja.
“Yang ngurus siapa mbak?” tanyanya.
Nah lo! LAGI!!!
“Saya urus sendiri Pak, “ jawabku.
“Mau ikut ujian teori?”tanyanya.
“Lah, bukannya wajib?” tanyaku sendiri di dalam hati. Untuk menjawab pertanyaan orang itu, aku hanya menganggukkan kepala.
“Kalau tidak lulus, mbak harus ngulang lagi 14 hari sesudahnya.”
Weleh, repot amat? Komplainku dalam hati (lagi).
“Ya!” jawabku, sambil mengira-ira, soal-soalnya seperti apa ya? Traffic signs? Aku ga hafal semua dong ya.  but aku penasaran, pengen lihat soal-soalnya seperti apa.
Kemudian orang itu mengantarku ke ruang sebelahnya, yang kutengarai sebagai tempat dilakukannya ujian teori (aku salah masuk berarti tadi!!!) Tidak banyak orang yang duduk di ruangan ber-AC itu. Sekitar lima atau enam orang. Sementara itu aku melihat beberapa orang berseliweran keluar masuk. Di antara orang-orang itu, aku sempat mendengar seseorang mengatakan, “Habis ini kamu bisa langsung ke tempat pas foto. Gampang kan? Ga perlu repot-repot.”
Aku ingat Mita, salah satu sobat Angie, yang ayahnya polisi. I should have asked his help? But aku pun penasaran untuk mengikuti “semua prosedur” yang harus kutempuh, ujian teori, ujian praktek, dll. Tahun 1984 dulu, untuk ujian praktek aku langsung GAGAL (LOL) karena baru belajar naik motor waktu itu. But karena ada yang menguruskan (a workmate of my dear Dad), ya ujian teori dan praktek itu hanya untuk “syarat” saja. Sekarang kan aku sudah jauh lebih lihai naik motor dibanding 23 tahun lalu itu? Masak aku ga lulus ujian praktek?
But ada satu pemikiran juga jangan-jangan sistem telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada orang yang memilih ikut ujian resmi (yang berarti tidak ‘nembak’) yang lulus, sehingga semua orang akhirnya (terpaksa) mengikuti aturan main yang di’baku’kan?
Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, tanpa jelas apa yang kutunggu, seseorang dengan wajah yang lumayan cute (boleh ngelaba kan? Wakakakaka ...) memasuki ruangan, dan memanggil namaku.
“N Podungge?”
Aku acungkan tanganku. Dia memberi tanda agar aku mendekatinya ke sebuah meja panjang yang terletak di dekat sebuah tembok.
Bla bla bla ...
Aku setuju dengan pertimbangan:
Pertama, pemikiran (atau kekhawatiran) yang kutulis di atas.
Kedua, efisiensi waktu, agar aku bisa segera melakukan aktifitasku yang lain, misal nongkrong di depan desktop di rumah, nge-game maupun nulis buat blog, preparing material for teaching, dll.
Aku serahkan sejumlah uang yang tiga kali lipat “harga” yang ditulis besar-besar di loket pembayaran untuk mengurus SIM baru.
Setelah itu, the cute guy memintaku menunggu, sementara dia melakukan ‘prosedur’ yang aku yakin telah ‘dilegalkan’.
Aku harus menunggu lagi. Kukeluarkan Jurnal Perempuan nomor 50 dengan topik PENGARUSUTAMAAN GENDER, dan mulai membaca. Aku sempat membuka percakapan dengan seorang perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk
“Mengurus SIM Bu?”
Dia menjawab menggunakan boso Jowo Kromo yang tidak begitu susah bagiku untuk memahaminya, namun sulit untuk meresponsnya karena keterbatasan kosa kata yang kumiliki.  Dia mengurus SIM untuk adiknya. Dia bahkan harus mengeluarkan uang yang lebih besar daripada aku. namun dia nampak tidak keberatan sama sekali. “Daripada ngurus sendiri mbak, bingung, ga tahu kemana ngurus ini itu. Biar sajalah diurus orang, kebetulan tetangga.” Katanya.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, the cute guy appeared, memanggilku dan aku kembali mendekatinya, dan kita berbicara di tempat yang sama, ada meja panjang yang membatasi kita berdua. Dia melihat JP yang ada di genggamanku dan bertanya,
“Buku apa mbak?”
Aku sodorkan buku itu.
“Mbak aktivis ya?” tanyanya.
“Engga. Eh, belum. Saya cuma suka menulis,” jawabku.
Dan obrolan kita ternyata menjadi lumayan panjang, terutama tentang para perempuan yang tidak sadar haknya (di satu daerah yang dia sebut, terjadi kawin cerai dengan mudahnya, dan sang mantan suami tidak mempedulikan kesejahteraan anak-anak yang dilahirkan. Para perempuan di sana males mengurus itu, karena tidak tahu bagaimana mengurusnya, siapa yang akan membela mereka, karena mereka tidak punya uang, membuat anak-anak ditelantarkan), poligami, dll.
Seusai ngobrol, the cute guy menunjukiku ruangan tempat pas foto yang terletak tidak jauh dari loket informasi. After saying “thanks” kepadanya, aku ke ruangan pas foto.
Lima belas menit kemudian SIM ku jadi. Jauh lebih cepat dibanding 8 tahun yang lalu karena aku harus balik lagi ke SATLANTAS hanya untuk pas foto, karena tidak bisa dilakukan di hari sebelumnya. It took around two days to get a driving license at that time, meskipun hanya mengurus perpanjangan.
Sistem komputerisasi memang telah menyingkat banyak waktu yang tak perlu. Kapankah sistem yang “legal” benar-benar dijalankan?
“This is INDONESIA, Nana!!! Face the reality!!!”
PT56 12.35 071107

Sabtu, November 03, 2007

Al-Qiyadah

I have recently been wondering what America would be like now if it had not been ‘colonized’ (instead of ‘rediscovered’) by Columbus at the end of the fifteenth century; if the welfare of people in England had been good after that, if Puritans—and some other so-called ‘deviant’ religious sects—had been welcome well by the country so that they did not need to escape from their homeland.
Todd and Curti in their book “Rise of the American Nation” (1972: 24-25) mentioned five reasons for many English people—as well as other Europeans” to migrate to the New World:

Conflict over religion
Search for religion freedom
Search for political freedom
Widespread unemployment
Economic ferment



The first and second reasons can be categorized into one similar problem, and so can the fourth and fifth reasons; while the third reason shows the hostility of the citizens toward the government. King James I (1603-1625) and King Charles (1625-1640) ruled without Parliament because they believed in “the divine right of kings”. (1972:25)
The recent condition in Indonesia reminds me of the not conducive situation in England during the sixteenth and seventeenth century. The somewhat chaotic situation in adhering religion in Indonesia lately—due to the most contemporary so-called deviant Al Qiyadah Al Islamiyah and some other sects such as Ahmadiyah before—in fact is not far cry from the ugly condition in England several centuries ago. This is also accompanied by the rising poverty line due to widespread unemployment and the soaring prices of anything. The difference is it (still) happens in Indonesia in this “modern” time while “modern countries” are supposed to support tolerance and freedom to choose which religion to adhere. It shows that Indonesia fails to fulfill one of the tenets to be a modern country.
Lately, some newspapers (I read) have headlined Al Qiyadah—that is categorized deviant sect unfairly by the government. The way the newspapers write the news and even in the editorial—the dictions, the tone, etc—shows that they also take side to the government and Al Qiyadah becomes the culprit. That means the government is strongly supported by the media (forgive my limited reading because I don’t read a lot of newspapers published in Indonesia) to dictate the majority of Indonesian citizens’ attitude.
Coincidently not long ago one mailing list I join—RumahKitaBersama—talked about adhering a religion and practicing its teachings blindly—one of its longest thread if I am not mistaken. One of its discussion is about the arrogance of Muslims’ claim that Islam is the most perfect religion, the last one that complete its two ‘older siblings’—Jewish and Christian. I threw a question, “When Christian was believed by its adherents to complete Jewish, this upset the Jewish. When Islam is believed by its adherents to perfect Christian (and Jewish)’ teachings, this offended both religions. Will one day a new religion emerges, and it is said to complete the previous three Abrahamic faiths, will Muslim get angry?” The answer was: “the new religion perhaps will not have time to grow since it will easily and quickly be labeled ‘deviant’ and killed afterwards.”
And there it was: out of the blue Al Qiyadah emerged and its prophet Abussalam alias Ahmad Moshadded became a new celebrity.
When Professor Kenneth Hall—my guest lecturer when I was studying at American Studies Gadjah Mada University—said that the social life of Indonesia was left behind America around 50 years, can we say that Indonesia is left behind England several centuries in the not conducive situation in adhering religions?
PT56 11.11 021107

Rabu, Oktober 31, 2007

Polemik Sastra

My blog visitors,
Beberapa bulan lalu jagat permilisan dan blogging di Indonesia sempat riuh rendah (well, kayaknya sampai sekarang masih deh, only I don’t really follow the hubbub of it) tentang dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Dari beberapa messages yang masuk ke milis RumahKitaBesama kudapati semua bermula dari tuduhan Taufik Ismail terhadap Komunitas Utan Kayu—disingkat dengan KUK (Ayu Utami was once an active member of this community. The recent news I read several weeks ago stated that she no longer actively involved herself there) sebagai pangkal sastra yang beraliran Gerakan Syahwat Merdeka, yang bisa disingkat GSM, yang mengacu ke Goenawan Soesatyo Mohammad, salah satu pendiri majalah TEMPO, yang pernah digosipkan menuliskan beberapa bagian novel SAMAN, yang merupakan novel karya pertama Ayu Utami yang memenangkan sayembara penulisan novel tahun 1998.
You can guess, di mata seorang Taufik Ismail, karya Ayu Utami—yang merupakan salah satu anggota KUK—tentu dimasukkan kedalam kategori sastra sampah.
Aku menganggap diri sebagai seseorang yang berada di luar barisan sastrawan maupun kritikus sastra Indonesia, meskipun dulu aku kuliah di jurusan Sastra Inggris, dan kemudian kulanjutkan di program American Studies dan mengambil jurusan American Literature and Culture. Selain itu aku juga mengajar beberapa kelas sastra di tempat kerja. Aku hanya merupakan salah satu penikmat karya sastra Indonesia, walaupun jumlah karya yang kubaca masihlah sangat terbatas. I can mention some “qualified” works I have read, such as “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, salah satu karyanya yang sangat terkenal berhubungan dengan ‘takdir’ seorang perempuan; “Para Priyayi” karya Umar Kayam; “Burung-burung Manyar” karya Romo Mangunwijaya, untuk karya yang kontemporer, “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami, “Cantik itu Luka” karya Eka Kurniawan, “Supernova – Petir” karya Dewi Lestari, “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Untuk karya ‘klasik’ such as “Salah Asuhan” karya Abdul Muis, “Atheis” karya siapa entah aku lupa , kubaca sewaktu kuliah S1 dulu untuk kuliah “Kritik Sastra”. Selain itu, aku juga penikmat karya-karya Djenar Maesa Ayu, Agus Noor dan beberapa penulis lain.
Akan tetapi, meskipun aku merasa bukan merupakan barisan sastrawan maupun kritikus sastra, tentu tidak begitu saja aku suka dengan ide dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Seperti yang kutulis dalam salah satu post di blog yang kuberi judul “High Literature versus Popular Literature” yang lumayan menarik perhatian orang untuk berkomentar (you can check it in my two posts at http://afemaleguest.blog.co.uk/2007/09/20/high_literature_vs_popular_literature~3009677 and http://afeministblog.blogspot.com/2007/09/high-literature-vs-popular-literature.html). Siapa yang merasa berhak untuk ‘menghakimi’ bahwa satu karya itu hebat sekali sehingga bisa dikategorikan masuk ‘kanon’ dan yang lain tidak, bahkan cenderung dimasukkan ke dalam kategori sastra sampah? Banyak orang mengelu-elukan karya Pramoedya Ananta Toer; bahkan Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu sewaktu aku kuliah S2 dulu menyukainya, dan menyesal karena ketidakmampuannya dalam bahasa Indonesia memaksanya untuk ‘hanya’ membaca karya Pram yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Namun orang yang tidak bisa menikmati tulisan model Pram—contoh aku—tentu merasa heran, “Kok bisa karya seperti ini masuk kanon?” dan aku merasa sangat berhak untuk mempertanyakan hal itu, karena selera orang yang berbeda-beda. Contoh lain, sebelum gerakan feminisme mengemuka di dunia Barat sana, tidak ada antologi yang memasukkan karya-karya penulis perempuan, seperti Charlotte Perkins Gilman, Anna Wickham, dll. Dan seperti yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature”, kanon itu tidak bersifat ‘mati’ namun terus berkembang. Hal ini berarti dikotomi sastra kanon versus sastra sampah tidak layak diimani, kita harus selalu menghormati selera orang untuk memilih membaca apa. Aku yakin karya yang ‘baik’ tentu akan senantiasa dibaca orang sepanjang zaman.
Waktu membaca message pertama tentang tuduhan Taufik Ismail “Gerakan Syahwat Merdeka” kepada KUK, aku sudah penasaran seperti apa sih pernyataan Taufik itu? Abangku yang pertama kali mendengar nama ‘Ayu Utami’ beberapa bulan lalu (better late than never, eh? LOL) dari emailku sempat heran dan bertanya kepadaku, “How did Ayu illustrate sexual scenes in her novel?” Untuk menjawabnya, aku sempat kepikiran untuk menulis artikel yang berupa rangkuman kritik-kritik atas “Saman” dan “Larung” di beberapa buku yang kumiliki untuk blog. Biasanya aku suka melakukan sesuatu ‘when the iron is hot’ alias kalau sedang hot-hotnya suatu masalah diperbincangkan. Nah, waktu itu, unfortunately, sedang bulan puasa (enak gila, punya scapegoat, LOL) dan aku sering merasa pusing kalau perut sedang lapar. Kalau pusing gitu, I cannot write anything, apalagi yang rada ‘berbobot’ begitu, kalau hanya sekedar chit-chat, tinggal nulis apa yang ada di benakku, tanpa harus ngeliat referensi ini itu, ya bisa sih. Waktu aku bilang ke Abang tentang ‘black sheep’ itu, LOL, dia menyarankan, “Puasamu berhenti sebentar dong Na, sejam dua jam gitu?” hahahaha ... “Buat nulis. Setelah itu, puasamu dilanjutkan lagi.”  katanya lagi. But of course I didn’t do it sampai “the iron was getting cooler ...” dan moodku nulis itu pun hilang.
Oh ya, polemik ‘hot’ itu dibuat tambah panas dengan puisi tulisan Saut Situmorang yang berjudul “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu”, padahal Saut sendiri berada di barisan penolak karya-karya dari KUK. Lah, vulgar banget kan judulnya? Berikut ini kusertakan satu puisi lain milik orang yang sama, yang dimuat di harian Republika dan sempat menyulut kemarahan publik, terutama orang Hindu Bali.

para pelacur pun
masih di kamarnya bergelut. dalam kabut
alkohol aku biarkan kata kata
menjebakku dalam birahi
rima metafora. kemulusan kulit
kupu kupumu dan garis payudaramu
yang remaja membuatku cemburu
pada para dewa yang, bisikmu,
menggilirmu di altar pura mereka.

Berikut ini kukutipkan bagian akhir novel “Saman” yang berupa percakapan lewat email antara Yasmin dan Saman.

New York, 11 Juni 1994
Yasmin,
Aku masturbasi.

Jakarta, 12 Juni 1994
Saman,
Aku terkena aloerotisme. Bersetubuh dengan Lukas tetapi membayangkan kamu. Ia bertanya-tanya, kenapa sekarang aku semakin sering minta agar lampu dimatikan. Sebab yang aku bayangkan adalah wajah kamu, tubuh kamu.

New York, 13 Juni 1994
Yasmin,
Aku cemburu. Kamu bersetubuh, aku tidak. Bukankah Lukas lebih perkasa? Aku terlalu cepat. Kalaupun aku bisa menghamili kamu, tentulah aku orang yang efisien, yang membereskan suatu pekerjaan dalam waktu amat singkat.

Jakarta, 14 Juni 1994
Saman,
Lukas memang terlatih. Dengan dia rasanya seperti olah raga. Setiap hitungan empat kali delapan dia ganti gaya. Apa bedanya dengan exercise di gym yang melelahkan?

New York, 15 Juni 1994
Yasmin,
Tentu saja bedaya adalah ada klimaks. Kalau kamu jujur, kamu tidak orgasme waktu dengan aku, kan?

Jakarta, 16 Juni 1994
Saman,
Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak. Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.

New York, 19 1994
Yasmin,
Mungkin persetubuhan kita memang harus hanya dalam khayalan. Persanggamaan maya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana memuaskan kamu.

Jakarta, 20 Juni 1994
Saman,
Tahukah kamu, malam itu, malam itu yang aku inginkan adalah menjamah tubuhmu, dan menikmati wajahmu ketika ejakulasi. Aku ingin datang ke sana. Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu.

New York, 21 Juni 1994
Yasmin,
Ajarilah aku. perkosalah aku.

Membaca judul puisi Saut “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu” membuatku tersedak, jijik, dan malu pada diri sendiri. Demikian juga tatkala membaca puisi yang dimuat di Republika itu, tanpa mengetahui konteksnya bagaimana, tiba-tiba ada kata-kata “para pelacur bergelut di kamar” dan “garis payudaramu ...”. well, mungkin karena berupa puisi, sehingga tidak ada ‘ancang-ancang’ untuk menuju kesana, puisi biasanya memiliki keterbatasan jumlah kata, namun bila berada di tangan seorang penyair yang piawai, puisi satu atau dua baris bisa bermakna lebih dari seribu kata. Atau mungkin karena aku tidak memiliki copi puisi itu yang utuh?
Sedangkan akhir bagian novel “Saman” itu, maklum namanya juga novel yang kaya dengan kata, banyak konteks dan teks yang mengawali dan akhirnya berujung ke percakapan antara Saman dan Yasmin yang hot tersebut. Membaca novel ini sejak awal, sampai bagian akhir halaman 197, dengan pilihan alur cerita yang maju mundur, dengan beberapa tokoh sentral (Laila, Saman, Shakuntala, plus Yasmin), emosi pembaca ikut terbangun, sehingga kesan ‘ujug-ujug vulgar’ tidak ada menurutku. Semua ada alasan mengapa dituliskan. Tidak ada kesan dipaksakan, tatkala beberapa kata yang mungkin bisa jadi berkonotasi vulgar muncul di satu kalimat, tanpa konteks yang mendukung, seperti beberapa contoh di atas, ‘penis’, ‘persanggamaan’, ‘masturbasi’, dll. Orang tidak bisa memenggal hanya beberapa bagian kalimat, atau lebih ekstrim lagi, penggunaan beberapa kosa kata saja, tatkala melakukan kritik terhadap karya ini, dan kemudian dengan mudah melabelinya “gerakan syahwat merdeka”. All words there were written for a specific reason, karena berhubungan dengan alur cerita.
By the way, baru malam ini aku ‘menemukan’ salah satu file dalam flash disk yang memuat tulisan Taufik Ismail, aku lupa entah kapan aku mendownloadnya dari internet. Membaca file itu ‘menyulut’ antusiasmeku untuk menulis ini, “the iron is hot again”. LOL.
Berikut ini kutulis tuduhan Taufik Ismail kepada KUK:
HH tidak merasa peduli dengan destruksi sosial luar biasa raksasanya yang dilancarkan sepuluh pelaku Gerakan Syahwat Merdeka itu:
1) praktisi sehari-hari seks liar,
2) penerbit majalah dan tabloid mesum,
3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,
4) 4.200.000 situs internet porno dunia,
5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,
6) penerbit dan pengedar komik cabul,
7) penulis cerpen dan novel syahwat,
8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,
9) fabrikan dan pengguna alkohol,
10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.
FYI, HH di atas adalah initial Hudan Hidayat, salah satu member KUK, yang sempat ‘menyambut’ polemik yang diawali oleh Taufik Ismail (kusingkat jadi TI aja yah?), yang lain nampaknya adem ayem aja. Ayu Utami juga anteng-anteng aja. Nampaknya, karena aku tidak mengikutinya langsung, hanya membaca beberapa messages yang diforward ke milis RumahKitaBersama.
Aku heran tatkala membaca kesepuluh tuduhan TI kepada KUK. Mengapa kesepuluh tuduhan itu melulu ditujukan kepada KUK sehingga seolah-olah KUK harus bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini? Banyak aspek atau pihak lain di negara kita tercinta ini yang kupikir juga mengambil peran penting atas kebobrokan moral—moral yang mana? “moral” yang dimaksud oleh orang-orang fundamentalis, mungkin.
Aku akan mencoba menulis pendapatku satu persatu atas kesepuluh tuduhan tersebut.
1) praktisi sehari-hari seks liar,
Memangnya sebelum KUK terbentuk, tidak ada seks liar (yang kuterjemahkan sebagai seks yang bukan dilakukan oleh pasangan resmi menikah) di Indonesia? Dari artikel “Free Sex: a ‘co-culture’ in Indonesia (already)?” yang kulempar ke milis RumahKitaBersama, aku mendapatkan sambutan dari beberapa member yang membuat mataku lebih melek bahwa praktek seks di luar menikah ini sudah lama dilakukan di Indonesia, hanya saja orang-orang masih hipokrit, tidak mau mengakui bahwa that has existed here, di negara yang sok suci, sehingga penerbitan majalah ‘Playboy’ menggegerkan seluruh negeri, namun tabloid-tabloid dan majalah-majalah porno yang telah ada sekian lama dicueki saja.
Untuk ini, kamu bisa klik ...
2) penerbit majalah dan tabloid mesum,
Aku tidak yakin apakah keberadaan semua majalah dan tabloid mesum yang terbit di Indonesia ini harus menjadi tanggung jawab KUK. Di kota Semarang, koran METEOR yang senantiasa memasukkan unsur porno yang vulgar—terutama dalam bentuk berita, atau cerita—apakah juga merupakan tanggung jawab KUK? Kalau dipaksakan jawabnya, “IYA”, kok bisa? Bagaimana prosedurnya?
3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,
Count me out for watching television!!! Terkadang kalau aku sempat menonton televisi—ketika makan bersama anakku misalnya—memang kadang aku mendapati iklan-iklan yang merendahkan kaum perempuan. Misal ada iklan kopi dimana seorang tokoh laki-laki berucap, “Pas susunya...” dan pada saat itu dia sedang menonton televisi yang sedang menunjukkan bagian dada seorang perempuan. Jika Ayu Utami yang feminis itu pernah berhome-based di KUK, masak orang-orang di komunitas tersebut tidak ‘tertulari’ semangat feminis Ayu Utami yang ingin memerangi pelecehan terhadap perempuan? Iklan tersebut jelas-jelas melecehkan perempuan, masak—seandainya KUK harus bertanggung jawab dengan iklan-iklan maupun program sejenis itu—Ayu Utami akan diam saja? Atau orang-orang lain di KUK yang kubayangkan tentu pernah terlibat diskusi tentang kesetaraan gender akan ikut menikmati acara sejenis itu?
4) 4.200.000 situs internet porno dunia,
Again, apa hubungannya dengan KUK keberaan jutaan situs internet porno ini? KUK mendapatkan keuntungan dari sini kah? SEDUNIA BO’!!! sebegitu terkenalkah KUK di dunia ini sehingga semua situs internet porno berkolaborasi dengannya?
5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,
Well, di era tiga atau empat dekade lalu mungkin belum berbentuk VCD maupun DVD, tapi film-film biru tentu telah ada di Indonesia sejak tiga atau empat dekade atau lebih. KUK ‘dibentuk’ atau ‘berdiri’ tahun berapa ya? Aku belum tahu, belum ngecek di situs resmi KUK.
6) penerbit dan pengedar komik cabul,
Sama dengan yang di atas, ini kan udah lama juga beredar di Indonesia?
7) penulis cerpen dan novel syahwat,
Dalam artikel “Membaca [lagi] Seksualitas Perempuan” dalam bukunya yang berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS, Aquarini memprotes tulisan Sunaryono Basuki yang dimuat di KOMPAS Minggu 4 April 2004, mengapa kalau penulis laki-laki—contoh Motinggo Busye—sah-sah saja menuliskan tentang seksualitas di karyanya, namun penulis perempuan tidak boleh? Untuk itu, Motinggo Busye tetap dianggap sebagai “sastrawan yang layak dipuji” karena menghasilkan karya-karya sastra yang “serius”, sedangkan penulis-penulis perempuan—such as Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—dikategorikan dalam “penulis yang tidak bermoral”.
Look, anggapan yang tak jauh beda dengan apa yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature” tentang dikotomi sastra kanon dan sastra non-kanon.
Mengapa perempuan tidak boleh menuliskan seksualitas di dalam karyanya? Karena kultur patriarki yang masih melekat di rakyat Indonesia tentu saja, karena perempuan seharusnya ‘menunggu’ dalam seks, dan bukannya ‘memperkosa’ seperti yang ditulis oleh Ayu tentang Yasmin yang ingin ‘mengajari’ Saman untuk bercinta. Tatkala perempuan menuliskan pengalamannya dalam seks, yang tentu saja berlainan dengan cara laki-laki memandang seks, serta merta hal tersebut pun menjadi tabu.
Di bawah ini aku kutipkan apa yang ditulis oleh Aquarini:

Menilik dari bahasa dan teknik narasi yang ditampilkan Ayu maupun Dinar, menurut saya agak gegabah mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai keterampilan berbahasa dan bersastra seperti Motinggo Busye. Pertama, karena tidak seorang pun harus seperti Motinggo Busye untuk dapat menyampaikan tema seks dan seksualita. Kedua, pengalaman seksualitas Ayu dan Dinar sebagai perempuan tentu berbeda dengan seksualitas yang dialami dan disuarakan oleh Motinggo Busye. Ketiga, perbedaan itu seharsunya dimaknai sebagai PENGAYAAN dan bukan ancaman terhadap sastra. – penekanan dariku. (Kajian Budaya Feminis, 2006: 192-193)

8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,
9) fabrikan dan pengguna alkohol,
10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.
I am getting bored with these accusations, so kujadiin satu aja nomor 8, 9, 10.  Sama seperti yang kutulis di atas, apa hubungan ketiga nomor ini dengan keberadaan KUK? Memangnya KUK ikut berbisnis di bidang narkoba, alkohol dan nikotin? Ini kan masalah besar yang dihadapi oleh negara kita? Semua orang harus ikut bertanggung jawab bagaimana agar para generasi muda kita tidak mati sia-sia karena ketiga barang tersebut.
Tatkala HH hanya mengomentari poin ketujuh, ‘penulis cerpen dan novel syahwat’, aku yakin tentu karena HH berpikir ya hanya poin inilah yang berkaitan erat dengan keberadaan KUK.

Ah, I am getting bored too writing this. Apalagi yang membaca—kamu—tentu juga udah bosan yah? huehehehe ... so, kusudahi saja artikel ini di sini. Masih banyak sebenarnya yang meninggalkan tanda tanya besar bagiku bagaimana seseorang yang memiliki nama besar (bagiku) seperti Taufik Ismail bisa menulis email—yang diforward di milis-milis—seperti itu? Kapan-kapan kalau aku memiliki suntikan energi yang cukup, dengan antusiasme yang besar, aku akan menulis lagi, terutama mengomentari tulisan TI yang ga ngalor ga ngidul itu.
Aku sendiri nampaknya mulai terserang pengap karena seperti biasa, hawa di Semarang yang panas, meskipun di luar mendung. And I’ve got to prepare myself to go to work.
PT56 13.03 291007

Sabtu, Oktober 27, 2007

Housewife, anyone?

“Everything happens for a reason.”
This somewhat wise statement was uttered by one of my workmates yesterday. She told me about one of her cousins who is about the same age with her. Since they were child, they were somewhat competitive to each other; such as in education, beauty, career, and perhaps eventually the success to get rich husband.
My friend said, “She got married at an earlier age that made me envy her because that gave me an idea that she beat me finally. I got married after I reached a so-called ‘crucial age’ for women to get married. Therefore, I felt like I didn’t have many choices whom I would marry. When knowing that her husband is quite successful in his business so that they have a good house and car, I had to say that I even envied her more. She is a full housewife, only sometimes she gets some order to make cakes, one of her capabilities that can make her earn her own money. Sometimes when my kids protest when I am about to go to work, because they want me to stay, they really make me down in the dumps. I want to be a full housewife too so that I don’t need to work. But only depending on my husband’s paycheck, we will not be able to survive.”
I kept listening to her.
“However, she is a bit fussy to her maids so that none of them stands working with her for more than one month. This made her obliged to do all of household chores by herself, including to take her children to go to school. Her husband doesn’t help her do the chores at all because his right hand cannot be used freely due to an accident. And perhaps because he thinks that he is the main breadwinner in the family, he doesn’t need to help his wife to do household chores. It is fully his wife’s responsibility. Not long ago, my cousin’s mother –in-law passed away. And in fact this has made her much busier since the responsibility to take care of her father-in-law who is already elderly becomes hers too. This made me think whether I could change position with her: having a rich husband, two children who are still studying in the elementary school, but no housemaid, and also having to take care of an elderly father-in-law, plus one grandmother-in-law, I think I will give up soon.”
This sounds more interesting, doesn’t it? 
“I have two toddlers, one is two years old and the other one is still six months old, and my husband is really helpful to do household chores, perhaps in return of my helping him earn money. I don’t think I can make it without having a housemaid, as I have told you after Lebaran (Eid Mubarrak Day) my housemaid didn’t go back to work anymore, I am often at my wits’ end. It is not easy to look for a new housemaid who cares and loves my children as to her own kids. I start to realize that everything happens for a reason. I am not supposed to envy my cousin.”
A good ending, eh? LOL.
“I believe that being a full housewife is really a hard task for me. I am not sure if I can make it. Can you?” she asked me.
Recently I must say that sometimes I ask myself that question, a question that in the past I would answer strongly, “NO!”
“Well, I don’t mind being one as long as I still can do something that will make me reach my self-actualization. The problem is being a full housewife for me doesn’t give me self-actualization. To me, doing household chores doesn’t give me satisfaction.” I responded.
“I opine that being a housewife is really noble for women, because it is hard to do. I cannot make it either.” She went on.
“I am sorry to say that I don’t really agree with you. Women have choices to do what they want to do, things that give them satisfaction, and even self-actualization. No profession is nobler than any other profession. Women who choose to be a housewife perhaps get that satisfaction and actualization by doing household chores, for example by having a neat, and tidy house, without any single spot of dirt, without anything lying not at the right place—just like the women in “The Stepford Wives” movie. Women who choose to do desk job—behind desk from eight to five daily, probably get their satisfaction in it. Women who choose to do dangerous and risky job, such as working in mining sites possibly get another kind of satisfaction. Women who choose to work in glamorous world, such as models, actresses, etc, get different satisfaction too. And they are all equal, in my opinion. Just like some women who are very proud and satisfied when they get ‘label’ as superwomen because they are willing to do both domestic (read => doing household chores) and ‘public’ job (read => having career outside the house) are equal too with other women who choose to do only one of them, domestic or public job; not better not worse.”
It is just a matter of making a choice.
PT56 10.35 261007

WNI vs WNA

Ada sesuatu yang menyesakkan hatiku tatkala membaca berita di Suara Merdeka Selasa 23 Oktober 2007 halaman C (bagian dalam “Semarang Metro”) yang berjudul “Jangan-Jangan Suatu Saat Diusir” dan “Status Kewarganegaraan Diubah, WNI Keturunan Protes”. Kedua artikel tersebut mengacu ke satu permasalahan yang sama, yang menimpa seseorang yang ditulis bernama Stanislaus Handjojo Rahardjo. Tatkala mengurus KK (Kartu Keluarga) yang baru setelah dia pindah ke tempat tinggal yang baru—di dalam kota Semarang—sekitar satu tahun yang lalu, dia mendapati dalam KK yang baru, kewarganegaraannya tertulis “WNA”, meskipun dia memiliki semua bukti yang menunjukkan bahwa dia dan keluarganya adalah warga negara Indonesia, mulai dari KTP, paspor, sampai SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI).
Hal ini mengingatkanku pada protes Langston Hughes yang dia tuliskan dalam salah satu artikelnya yang berjudul “My America”.

“This is my land America. Naturally, I love it—it is home—and I am vitally concerned about its mores, its democracy, and its well-being. I try now to look at it with clear, unprejudiced eyes. My ancestry goes back at least four generations on American soil—and through American blood, many centuries more. My background and training is purely American—the schools of Kansas, Ohio, and the East. I am old stock as opposed to recent immigrant blood.
Yet many Americans who cannot speak English—so recent is their arrival on our shores—may travel about the country at will securing food, hotel, and rail accommodations wherever they wish to purchase them. I may not. These Americans, once naturalized, may vote in Mississippi or Texas, if they live there. I may not. They may work at whatever job their skills command. But I may not. They may purchase tickets for concerts, theaters, lectures wherever they are sold throughout the United States. I may not. They may repeat the Oath of Allegiance with its ringing phrase of “liberty and justice for all,” with a deep faith in its truth—as compared to the limitations and oppressions they have experienced in the Old World. I repeat the oath, too, but I know that the phrase about “liberty and justice” does not fully apply to me. I am an American—but I am a colored American. (Langston Hughes Reader, 1958: 500)


Artikel di atas ditulis oleh Hughes tatkala Jim Crow Law masih berlaku di seluruh daratan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam puisinya yang berjudul “Will V-Day Be Me-Day Too?” Hughes pun menyuarakan kepahitan yang sama:

When we see Victory’s glow,
Will you still let old Jim Crow
Hold me back?
When all those foreign folks who’ve waited—
Italians, Chinese, Danes—are liberated
Will I still be ill-fated
Because I’m black?


Si kulit hitam yang tidak akan pernah luntur warnanya ini akan selalu termajinalkan, meskipun mereka merupakan keturunan kelima yang dilahirkan di Amerika.
Dalam film FREEDOM WRITERS, Eva Benita, salah satu tokoh sentral yang berdarah Latin mengungkapkan akar kebencian antarras yang terjadi di Amerika adalah warna kulit. “It is all about colors. It is all about people deciding what you deserve; about people wanting what they don’t deserve; about white people thinking they can get anything … no matter what.”
Diskriminasi sosial yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan karena warna kulit pula, namun bukan ke warna hitam—yang biasanya dipakai untuk menggambarkan keturunan Afrika—melainkan warna kuning langsat dan bermata sipit. Bagi mereka yang berwarna kuning langsat dan bermata sipit akan selau dianggap sebagai “warga keturunan”, dan tak akan pernah “label” itu hilang, meskipun mereka merupakan keterunan ketiga, keempat, atau lebih dalam keluarga mereka yang tinggal di Indonesia. Sejak lahir mereka telah berada di atas bumi pertiwi, menghirup udara yang ada, makan makanan yang tersedia di bumi Nusantara, menimba ilmu di sekolah-sekolah dalam negeri, bahkan mungkin pula ikut berjuang membela nama baik negara (tidak hanya selama perang kemerdekaan, namun di era sekarang ini bisa juga berjuang di bidang seni, olahraga, dll). Namun karena “dosa” yang dilakukan oleh nenek moyang mereka—yakni hijrah dari tanah Cina ke Nusantara—para “warga keturunan” ini seolah di’kutuk’ untuk terus menerus dibuat repot tatkala mengurus surat-surat ini itu.
Kekhawatiran Stanislaus Handjojo Rahardjo “Jangan-jangan suatu saat diusir” bisa jadi bukan hanya sekedar seloroh pahit. Seperti dalam salah satu adegan dalam FREEDOM WRITERS tatkala terjadi keributan di dalam kelas sehingga Erin Gruwell berinisiatif untuk mengatur tempat duduk para siswanya, seorang anak memandang sekelompok anak-anak keturunan Asia, sembari berkata sengit, “You all go back to China!”
Berita yang dimuat satu hari setelah itu, Rabu 24 Oktober 2007 yang berjudul “KK yang Salah Langsung Direvisi”, memberikan penjelasan bahwa Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil segera melakukan revisi “setelah kasus tersebut dilansir di beberapa media massa.”. Alasan atas kejadian “kesalahan” tersebut karena KK ditebitkan pada masa transisi, yakni perubahasan sistem kependudukan dari Simduk menjadi SIAK yang berbasis komputer. Adanya perubahan kolom serta isian-isiannnya berpotensi menimbulkan kesalahan pengisian.
Pertanyaanku adalah, “Kok bisa?” Manusia yang dianugerahi akal pikiran, mengapa bisa “dikalahkan” oleh komputer, yang meskipun merupakan alat canggih namun tetap saja merupakan hasil ciptaan manusia? Bukankah yang mengisi kolom-kolom itu manusia? Satu tahun yang lalu, pernyataan pak Lurah dimana Stanislaus Handjojo Rahardjo bertempat tinggal, “Memang peraturan yang baru begitu” tatkala ditanya oleh pak RT tentang kasus tersebut merupakan salah satu bentuk ketidaktahuan (atau ketidakpedulian karena toh orang itu “warga keturunan”, sehingga mereka bisa dianggap hanya sebagai menumpang tinggal di Indonesia?) aparat pemerintah terhadap apa-apa yang terjadi, yang bisa jadi merugikan warga negara.
Anyway, talking about racial dicrimination, prejudice, violence or whatever the name is seems like it will never come to an end.
Padahal jika kita kembali ke masa ribuan tahun yang lalu, tatkala konon daratan di bumi ini masih sambung menyambung, sehingga memudahkan nenek moyang kita dulu bermigrasi, siapa yang merasa memiliki hak untuk mengklaim bahwa satu daratan hanya boleh dimiliki oleh sekelompok manusia saja, sedangkan yang lain harus menyingkir. Apakah yang terjadi pada masa-masa itu, sehingga migrasi yang dilakukan oleh nenek moyang kita akhirnya “menghasilkan” seperti yang kita kenal sekarang ini, mereka yang berkulit kuning tinggal di daerah Asia, berkulit putih di Eropa, kulit hitam di Afrika, kulit merah di Amerika (yang akhirnya pun dimarjinalkan oleh kaum kulit putih setelah mereka bermigrasi ke Amerika). Khusus untuk daerah Asia, mengapa yang berkulit kuning langsat dan memiliki bentuk mata “oriental” kebanyakan terletak di daratan Cina dan sekitarnya, sedangkan yang berkulit sawo matang dan bermata lebar di daratan equator. Tentu karena iklim yang berbeda. Khusus untuk daerah Nusantara, mengapa yang berkulit sawo matang akhirnya merasa yang paling berhak untuk menjadi “pribumi”?
(Imagining if my great great great grandparents had migrated to the land named America after being “colonized” by Columbus and his people, would I have red skin and consequently be marginalized by the white?)
PT56 14.30 241007

Golek Mangan Susah ...

Rabu pagi 24 Oktober 2007 dalam perjalanan menuju Paradise Club fitness center, setelah mengantar Angie sekolah, aku menemukan “pemandangan” yang menarik, namun membuatku tersenyum getir. Tatkala melewati rel kereta api di Jalan Abimanyu Raya, aku melihat sebuah gerobak terseok ditarik oleh sebuah sepeda motor tua. Di belakang gerobak itu, tertulis “ GOLEK MANGAN SUSAH, MATI RAK WANI”.

Kupikir gerobak dengan kalimat yang cukup menyayat hati itu tentu akan menarik perhatian para pengunjung blogku. Itu sebabnya kemudian aku mengeluarkan hapeku, menunggu gerobak itu lewat lagi, dan menjepretnya.
Aku sempat mengikuti sampai gerobak itu berhenti di satu tempat, yang kutengarai merupakan pangkal para pemulung mengumpulkan barang-barang hasil memunguti barang-barang yang dibuang oleh orang lain namun bisa menjadi lembar-lembar rupiah bagi para pemulung. Dan pangkal para pemulung ini terletak di tengah-tengah perumahan Pondok Indraprasta yang biasanya dihuni oleh para kaum the haves.

“Di Indonesia sih sangat mudah untuk mendapatkan pemandangan ataupun kisah-kisah yang menyayat hati,” kata mbak Icha, tatkala dia berkunjung ke Semarang bulan Agustus lalu, dan kita berdua sedang menonton sebuah acara berita di televisi di kamarnya.
Yang menyedihkan adalah pemerintah nampak tidak terlalu peduli dengan keadaan rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan. Sangat banyak di antara mereka yang hanya sibuk memikirkan apakah mereka akan dipakai lagi di masa pemerintahan yang akan datang. Kalau tidak, bagaimana cara untuk memupuk kekayaan mumpung masih di atas.
Seperti di Semarang dengan acara spektakulernya Semarang Pesona Asia yang kontroversinya tak kunjung selesai. Di surat kabar hari ini diberitakan bahwa rencana kunjungan anggota DPRD ke China telah disetujui oleh Mendagri, yang notabene mantan Gubernur Jawa Tengah, yang ikut sibuk dengan segala uba rampe penyelenggaraan SPA. Para anggota DPRD berkilah bahwa kunjungan ke China ini merupakan salah satu program untuk melanjutkan program SPA, namun tidak jelas untuk apa? Sedangkan pelaksanaan SPA bulan Agustus lalu masih menyisakan berjuta pertanyaan di benak masyarakat karena menghabiskan dana masyarakat bermiliar rupiah namun hasilnya tak bisa dilihat dalam bentuk apa. Pihak pemerintah kota sendiri mengklaim bahwa SPA sukses, tanpa ada penjelasan sukses yang seperti apa?
PT56 13.50 251007

Senin, Oktober 22, 2007

My idea was stolen

Bagaimana perasaanmu jika idemu dicomot begitu saja dan ditulis oleh seorang jurnalis, dimuat di sebuah surat kabar yang mengaku terbesar di Jawa Tengah, tanpa menuliskan namamu sebagai si pemilik ide?
Hari Jumat 19 Oktober 2007 di surat kabar tersebut halaman 4 termuat sebuah artikel dengan judul “Hipermarket, Memangsa Mom and Pop’s Store?” aku langsung heran. Istilah MOM AND POP’S STORE aku dapatkan dari Professor Kenneth Hall, dosen tamu sewaktu aku kuliah di American Studies UGM yang waktu itu memberikan mata kuliah “American Capitalism”. Aku menuliskannya dalam postinganku yang kuberi judul HYPERMARKET (klik link berikut ini http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/09/hypermarket.html ) bulan September kemarin setelah DP MALL diresmikan dan menarik perhatian jutaan penduduk Semarang. Aku ingat sepulang dari kuliah waktu itu, aku dan Julie berdiskusi tentang hypermarket yang mencaplok Mom and Pop’s Store yang mengingatkan kita berdua pada film YOU’VE GOT MAIL, contoh yang sangat realistis terjadi dilukiskan dalam film yang berkisah tentang sepasang (calon) kekasih yang bertemu pertama kali lewat dunia maya.
Lha kok tahu-tahu ide itu nongol di surat kabar tersebut?
Di dalam artikel yang sama, aku menulis pernyataan Michael Sunggiardi, presenter utama dalam seminar “SOLUSI IT MURAH UNTUK DUNIA BISNIS” yang diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata, “Di Sudan yang konon merupakan negara yang lebih miskin dibandingkan Indonesia, menjual rokok eceran saja minimal 5 batang dan kelipatannya. Di Indonesia yang nampak lebih makmur dibandingkan Sudan, orang-orang masih biasa membeli rokok eceran satu batang.”
Namun si jurnalis salah membaca tulisanku di artikel tersebut. Yang dicomot justru adalah pertanyaan (atau pernyataan) dariku, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store?” dan dituliskan di artikel di surat kabar tersebut sebagai pernyataan dari Michael Sunggiardi, yang nampaknya sobat lama Ridwan Sanjaya, dekan Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata. (FYI, I attended the seminar coz I got the invitation for free after winning the blog competition held by IKOM Unika Soegijapranata.) Lah, kalau Michael Sunggiardi membaca artikel tersebut, bakal heran lah dia karena ditulis dia menyatakan, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store?”
By the way, dalam hobbyku blogging, aku selalu berusaha untuk menulis darimana aku mendapatkan ide, seandainya ide itu tidak murni datang dariku. Misal, pernyataan di Sudan yang boleh membeli rokok minimal 5 batang. Kalau tidak menghadiri seminar itu dan mendengarkan presentasi Michael Sunggiardi dengan tekun, mana aku tahu? Kalau aku cabut dari kuliah Professor Kenneth Hall, mana aku tahu kalau hypermarket di Amerika benar-benar memangsa Mom and Pop’s Store? Mana aku bisa menulis artikel yang kuberi judul “HYPERMARKET” itu? Dan aku sebutkan nama kedua orang tersebut dalam artikel itu.
By the way (again), beberapa tulisanku yang terinspirasikan tulisan Adi Ekopriyono, salah satu wartawan di surat kabar itu, aku tak lupa menyebut namanya tatkala aku menuliskannya..
Jadi ingat ‘kecelakaan’ di milis Forum Interaktif bla bla bla tatkala seorang member komplain karena tulisan di blognya di’culik’ dan dimuat di surat kabar online dan nama penulisnya diganti nama salah satu moderator milis tersebut. Contoh plagiarisme yang benar-benar memalukan.
Masih untunglah kasus yang terjadi padaku hanya pencomotan ide. Cuma nyebelinnya yaitu blogging adalah suatu non profitable activity, sedangkan jurnalis kan dibayar secara profesional oleh surat kabar tempat mereka bekerja?
PT56 20.35 201007

Jumat, Oktober 19, 2007

FREEDOM WRITERS



When doing small researches to write a paper I entitled “America – A Dream that Has Not Come True” in African American Literature Class and another paper I entitled “’Salad Bowl’ and ‘Anti Semitism’ in Elmer Rice’s Street Scene” in Modern American Literature class in 2003, I was wondering if racial prejudice portrayed in “Street Scene” and racial discrimination illustrated in Langston Hughes’ poem—Will V-Day Be Me-Day Too?—can still be easily found in America at the end of the twentieth century and in the beginning of the twenty first century.

When watching FREEDOM WRITERS, a movie inspired by a real event in Long Beach California that happened at the last decade of the twentieth century, I got the answer of that question of mine. Racial prejudice, racial violence, racial discrimination, or whatever people call it, still exists in the land Langston Hughes mentioned as a dream country for million immigrants with various color skins in his poem “Freedom’s Plow”. The movie starts with live news on TV showing gang violence and racial tension causing more than 120 people killed, following the Rodney King riots. It is followed by a depiction of how a Latino father raises his daughter—Eva Benita, one central character in the movie—to be the next generation of a gangster. The marginalized communities living in Long Beach—say Latino, Asians, and Black—believe that they have to fight each other for territory, kill each other over race, pride, and respect. In short, I can say that Long Beach is the “modern” area of the cheap tenement portrayed by Elmer Rice in his realistic play STREET SCENE (1929). What I mean “modern” here is people using more advanced ‘media’ to show their prejudice and hatred against different races, such as guns. In Long Beach, people are divided into some separate sections, depending on tribes. The Latinos get along with their own tribe, so do the Asians and Blacks. They openly show their hatred to each other. However, they can become united when facing the mainstream of America—the Whites.

For the marginalized tribes’ hatred toward the Whites, Eva said, “White people always want to be respected as if they deserve to get it for free. It is all about colors. It is all about people deciding what you deserve; about people wanting what they don’t deserve; about white people thinking they can get anything … no matter what.”

The amazing aspect from the movie is the way Erin Gruwell, one white English teacher working for Woodrow Wilson High School chosen by the government to be reform school with voluntary integration program to win her students’ hearts—many of them are just out of juvenile prison due to gang fights—to make them want an education and believe that the education will better their future. Failing to get her students’ attention on the first day, slowly Erin succeeds making them united to be hostile to her due to her white complexion. Later on Erin can get their attention and make them interested to read the books she buys for them, although it means she has to have an extra job to get money to buy the books. After making them interested to read the books she provides, Erin eventually succeeds making them realize that education will really change their future to be better. Nevertheless, her hard work and much time she dedicates for her students result in divorce because her husband—feeling neglected—does not agree with her way of living. Besides, Erin realizes that her happiness is gathered when she can help her students aware the meaning of their lives, and not just as a wife of a man.


This amazing movie is produced by Double Feature Films Production. Hilary Swank plays as Erin Gruwell, Patrick Dempsey as Scott Casey, Erin’s husband, Scott Glenn as her father, who always supports anything Erin does for her students, and April Lee Hernandez as Eva Benita.

PT56 13.20 161007


P.S.: You can view my post here for my paper "America - A Dream that Has Not Come True Yet" and my other post here for my paper on STREET SCENE