Cari

Kamis, Desember 26, 2013

BERSEPEDA = GENGSI TURUN?

BERSEPEDA = GENGSI TURUN?

Honestly, ketika pertama kali ingin mencoba bersepeda ke tempat kerja, aku terkena penyakit gengsi ini. Sebagai guru, aku seharusnya jaga image dong di mata anak-anak? Itu sebabnya, ketika pertama kali mempraktekkan b2w, aku berangkat dari rumah pukul 14.00, padahal jam kerja mulai jam 15.00, dan jarak rumah – tempat kursus hanya 2,5 kilometer yang bisa kutempuh kurang dari 10 menit. Excuse utama ya itu tadi, jaga image. Jika berangkat dari rumah pukul 14.00, sampai tempat kerja pukul 14.10 (paling lambat pukul 14.15), anak-anak belum sampai ke tempat mereka belajar English. Jadi tak satu pun dari mereka yang melihatku datang naik sepeda. Waktu pulang pun, aku mengambil jeda kurang lebih 30 menit setelah jam kursus selesai, yakni pukul 19.00.

Tapi ini duluuuuuu sekali, di bulan Juli 2008.

Tak lama aku ‘mengidap’ penyakit ini. Yang ada justru aku merasa bangga, (sok) merasa ikut menjadi salah satu pahlawan (kesiangan) yang turut serta mengurangi polusi di muka bumi, selain tentu saja mengurangi ketergantungan pada BBM, demi generasi penerus kita nanti. Apalagi dengan bike tag KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA yang menggantung imut di bawah sadel, aku benar-benar merasa (sok) heroik. LOL.

Lama-lama penyakit ini benar-benar hilang dari kamusku. Tak lagi ada rasa perlu menjaga gengsi, juga (sok) heroik sebagai penjaga lingkungan. Yang ada adalah kebutuhan berolahraga. Dikarenakan ke(sok)sibukanku, aku tak lagi punya waktu luang untuk berolahraga. Maka, bersepeda ke tempat kerja adalah pilihan yang sangat masuk akal agar aku terus menjaga kesehatan (diri).


UU NO 22 TAHUN 2009

Bahwa kita menjadi lebih berempati kepada para pesepeda (juga pejalan kaki) setelah kita sendiri terjun bersepeda memang diakui oleh banyak teman yang telah menjadi ph raktisi b2w. Jika semula mereka kadang merasa terganggu dengan laju sepeda (atau pun kendaraan tidak bermotor lain) yang lamban, setelah bersepeda, mereka pun lebih bersabar menghadapi pesepeda ketika mengendarai kendaraan bermotor.

Dengan adanya beberapa pasal yang lebih mengutamakan para pesepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat dalam UU NO 22 TAHUN 2009, sebenarnya para pesepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat punya nilai lebih di jalan raya ketimbang para pengendara kendaraan bermotor (Check this link out. )  karena UU tentang LALU LINTAS dan ANGKUTAN JALAN itu telah jelas menyatakan posisi pesepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat harus lebih diutamakan.
Barangkali UU ini belum dikenal masyarakat secara luas hingga hal ini menjadi pe-er bagi kita untuk lebih mengenalkannya. Sudah kulihat beberapa kali spanduk yang terbentang di titik-titik tertentu di pinggir jalan kota Semarang dan beberapa kota lain tentang UU no 22 tahun 2009, terutama pasal 62 ayat 1 dan 2, meskipun mungkin sosialisasinya masih kurang.

Terus terang aku merasa sangat amat terganggu ketika menghadiri sebuah seminar tentang MANFAAT BERSEPEDA BAGI KESEHATAN waktu salah satu pembicara (untuk tidak menuding salah satu dari mereka) merasa tidak dihargai sebagai manusia tatkala bersepeda dipepet oleh orang yang mengendarai kendaraan bermotor, entah sepeda motor atau pun mobil. Mungkin ketika dipepet ini dia merasa tidak dihargai, terlecehkan karena mengendarai sepeda yang (sayangnya) di masyarakat masih dianggap moda transportasi yang murah(an). Karena merasa terlecehkan, dia merasa perlu ngomel, “Asal kamu tau aja ya sepedaku ini harganya sama dengan harga mobil yang kamu kendarai!” Atau, “Hey, kamu tau ga? Sepedaku ini jika dijual uangnya bisa kupakai sepeda motor jenis yang kamu kendarai ini lima buah sekaligus!”

Jika seseorang yang merasa menaiki sepeda mahal tak layak dilecehkan di jalan raya, apakah lantas hal ini berarti mereka yang naik sepeda murah layak dilecehkan? Terpinggirkan?

UU no 22 tahun 2009 pasal 102 ayat 2 berbunyi: SETIAP ORANG YANG MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN WAJIB MENGUTAMAKAN KESELAMATAN PEJALAN KAKI DAN PESEPEDA.

Tak peduli berapa pun harga sepeda yang dinaiki.

Maka, bukankah lebih indah jika kita memasyarakatkan UU no 22 tahun 2009 ini ketimbang ngomel-ngomel harga sepeda yang kita naiki kepada para pengguna jalan? Buang saja harga diri yang ketinggian hanya gegara naik sepeda harga puluhan juta rupiah. Mari kita sama-sama saling menghormati sesama pengguna jalan!

PT56 09.52 26122013

Selasa, Desember 24, 2013

HUT kedua MEDYC

foto bersama setelah acara usai, sebelum makan siang :)

Pada tanggal 22 Desember Komunitas B2W Semarang diundang oleh Komunitas Pesepeda Dokter (MEDYC = medical doctor bicyle community) untuk ikut serta merayakan ulang tahunnya yang kedua.

Bermula dari perkumpulan beberapa dokter yang hobi bersepeda, MEDYC terbentuk pada tanggal 11 Desember 2011. Jika di HUT pertama mereka merayakannya secara intern, HUT kedua ini mereka mulai mengundang komunitas/klub sepeda lain di kota Semarang. Untuk itu mereka mengadakan seminar "Manfaat Bersepeda untuk Kesehatan." Seminar ini diselenggarakan di aula RS Dr. Kariadi Semarang pukul 10.00 - 12.30.

Acara dibuka oleh dokter Ardy yang sedikit menceritakan latar belakang MEDYC terbentuk. Jika semula komunitas ini khusus untuk para dokter yang hobi bersepeda, lambat laun komunitas pun terbuka tidak hanya untuk para dokter namun mereka yang hobi bersepeda bisa bergabung.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua ISSI cabang Semarang, yang sedikit bercerita tentang masa lalunya yang terlibat narkoba, dimana dia mulai berhenti menjadi addict sejak dia mengenal bersepeda di tahun 2009.

Dokter Widya Istanto menyampaikan makalah yang dia susun yang berjudul "Manfaat Bersepeda bagi Kesehatan." Seseorang yang berolahraga secara rutin -- tidak hanya bersepeda -- akan hidup lebih sehat sehingga kemungkinan besar akan memperpanjang umur. Dlsb. (Para pengunjung blog bisa dengan mudah mencarinya di google untuk hal ini. :) (aku tidak mencatat isi presentasi dokter Widya soalnya. :))

Pembicara kedua adalah Guritno Wibisono menyampaikan teknik memilih sepeda yang tepat juga beberapa tips ketika menaiki sepeda plus turing sepeda jarak jauh.

Setelah sesi tanya jawab -- yang diisi dengan pertanyaan yang klise yakni apakah benar bersepeda itu akan menyebabkan laki-laki impoten atau kah hanya sekedar mitos, dan apakah minuman bersoda cukup aman dikonsumsi ketika bersepeda -- tim Medyc mengajak berdiskusi bagaimana jika Semarang mengadakan suatu event yang bersifat nasional. Mungkin dalam bentuk audax. Tapi mungkin juga berbentuk lain. :)

Acara ditutup dengan makan siang bersama. :)


Kamis, September 26, 2013

WISATA RELIGI DI KOTA SEMARANG


WISATA RELIGI DI KOTA SEMARANG

Jika anda adalah penikmat wisata religi, jangan pernah lewatkan berkunjung ke ibu kota Jawa Tengah ini. Anda bisa menemukan masjid, gereja, kelenteng, pagoda hingga pura. Bahkan beberapa di antaranya dibangun ratusan tahun yang lalu! Penasaran? Check it out.

Masjid
1.       
Masjid Menara Kampung Melayu

Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Layur karena terletak di Jalan Layur, salah satu jalan yang (sayangnya) terkenal sebagai kawasan langganan terkena banjir rob alias banjir yang datang tanpa mengenal musim penghujan maupun musim kemarau. Kawasan ini juga disebut Kampung Melayu karena konon dulu penduduknya merupakan keturunan para migran yang berasal dari Melayu. 

Masjid Menara Kp. Melayu

Masjid Layur dibangun oleh seorang ulama Arab yang datang dari Yaman.  Bangunan induk masjid memiliki arsitektur bergaya Jawa dengan atap masjid susun tiga. Sedangkan menara yang berdiri kokoh di depan pintu masuk masjid bergaya arsitektur Timur Tengah. 

menara di Masjid Menara Kp. Melayu

Sampai sekarang bangunan masjid ini masih asli seperti ketika pertama kai dibangun pada tahun 1802, lebih dari 200 tahun yang lalu. Hanya ada tambahan bangunan ruangan untuk jemaah perempuan. Masjid juga masih digunakan untuk beribadah oleh masyarakat sekitar. 

Untuk menuju masjid ini, dari arah Kantor Pos Besar Jalan Pemuda, sebelum Jembatan mBerok, kita belok kiri. Kita akan menemukan rel kereta api di depan, kita menyeberangi rel tersebut. Setelah menyeberangi rel, kita lurus saja, kita sudah sampai di Jalan Layur. 

2.      Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah – yang juga sering disingkat menjadi MAJT – merupakan satu masjid modern kebanggaan warga Semarang. Mulai dibangun pada tanggal 6 September 2002 dan diresmikan oleh Presiden SBY pada tanggal 14 November 2006. Dibangun dengan gaya arsitektur campuran Jawa, Arab, dan Romawi. Bangunan utama masjid beratap limas khas banguna Jawa namun di bagian ujungnya dilengkapi kubah besar ditambah lagi dengan empat menara masing-masing setinggi 62 meter di tiap penjuru atapnya. Gaya Romawi terlihat dari banguna 25 pilar di pelataran masjid. Pilar-pilar tersebut bergaya koloseum Athena Romawi dihiasi kaligrafi nan indah. Selain itu juga dibangun sebuah menara yang menara yang disebut Al-Husna setinggi 99 meter yang dibangun terpisah dari bangunan masjid dan pilar-pilar tersebut. Al-Husna Tower ini terdiri dari 19 lantai. Lantai 19 berupa gardu pandang dimana para turis bisa melihat kota Semarang, dengan teropong yang disediakan. (Untuk ini, sediakan uang receh Rp 1000,00, logam baru, atau bisa tukar dengan petugas yang jaga. Untuk satu logam uang seribu rupiah, kita bisa menggunakan teropong selama 90 detik.) Lantai 18 berupa rumah makan yang berputar 360 derajat. (Sayangnya waktu aku kesana, rumah makan ini sedang tutup.) Sedangkan lantai 2 dan 3 berupa museum perkembangan Islam di Jawa Tengah dan museum keterlibatan Islam dalam perkembangan negara Indonesia. Di lantai dasar ada studio radio Dakwah Islam.

Masjid Agung Jawa Tengah

pilar-pilar di MAJT

Untuk lebih meyakinkan bahwa MAJT ini dibangun tidak hanya untuk beribadah namun juga untuk tempat kunjungan wisata religi, di kawasan MAJT kita bisa menemukan deretan toko yang menjual pernak-pernik agama Islam, dan warung yang berjualan makanan dan minuman. Tak juga ketinggalan ada wisma penginapan untuk turis yang datang.


Untuk menuju MAJT, dari arah Simpanglima, kita ke arah timur Jalan Ahmad Yani, terus lurus hingga melewati 3 traffic light. Di traffic light keempat, kita belok kiri, kita akan sampai di Jalan Gajah. MAJT terletak di Jalan Gajah Raya, kurang lebih 1 kilometer dari traffic light keempat.

Gereja

1.      Gereja Blenduk
Gereja yang aslinya bernama GBIP Immanuel terletak di kawasan Kota Lama Semarang, yakni Jalan Letjend Suprapto no 32. Gereja Blenduk adalah gereja Kristen tertua di Jawa Tengah, dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1753 dengan bentuk heksagonal. Keistimewaan bangunan gereja ini adalah dibangun menyatu dengan bangunan-bangunan di sekitarnya, tanpa pagar yang memisahkan. 
 
Keistimewaan di dalam gereja adalah orgel Barok yang juga telah berusia ratusan tahun namun tetap bisa digunakan dengan sangat baik di tiap ibadah. 

Gereja Blenduk dari depan
Jika kita berkunjung ke Gereja Blenduk, kita bisa sekaligus berwisata di Kawasan Kota Lama yang masih sangat banyak menyimpan bangunan-bangunan kuno peninggalan pemerintah kolonial Belanda. 

2.      Kapel Susteran Gedangan

Kompleks Gereja Santo Yusuf – yang lebih dikenal sebagai Gereja Gedangan – terletak di Jalan Ronggowarsito; terdiri dari bangunan gereja, gedung pertemuan, hingga Susteran Fransiskus. Kebetulan waktu kesana, yang kumasuki adalah gedung Susteran Fransiskus, dimana Suster Silvana yang menjabat sebagai suster kepala menerimaku dan rombongan dengan ramah. Beliau langsung mengajak kita ke kapel yang meski kecil namun menakjubkan indahnya.

Kapel Susteran dari luar

dalam kapel Susteran
Kompleks Gereja Gedangan ini dibangun di awal abad 19, tepatnya sekitar tahun 1809. Meski telah berdiri lebih dari 200 tahun, bangunannya tetaplah kokoh tak termakan zaman. Bahkan lantainya tetap kinclong, meski berulang kali kawasan ini terserang banjir rob. Pintu-pintunya terbuat dari kayu pilihan yang sangat tebal. Dinding luar yang berwarna merah membuat kompleks ini juga dikenal sebagai Gereja Merah.

Kelenteng

Banyak kelenteng tersebar di kota Semarang, terutama di kawasan Pecinan Kota Lama. Untuk ini aku akan memperkenalkan dua kelenteng yang telah cukup kondang di dunia pariwisata di Semarang

1.      Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong – dulu lebih dikenal dengan nama ‘Gedung Batu’ – terletak di Desa Simongan. Cerita berawal dari mampirnya Laksamana Cheng Ho – pemimpin ekspedisi penjelajahan dari China – di awal abad 15. Untuk menandai bahwa dia pernah mampir, Cheng Ho – yang juga dikenal dengan nama Sam Po Tay Djien – membangun sebuah petilasan yakni berupa masjid karena dia adalah seorang Muslim. Namun karena bentuknya yang berarsitektur China, oleh penduduk sekitar sekian ratus tahun kemudian masjid ini berubah fungsi menjadi kelenteng. 

kelentang Sam Po Kong

patung Cheng Ho menghiasi

Sam Po Kong mengalami renovasi beberapa kali. Beberapa tahun terakhir nampaknya pemerintah merenovasinya dengan semangat besar untuk menjadikannya sebagai salah satu tujuan pariwisata religi. Banyak bangunan pendamping dibangun di kawasan ini, tidak hanya kelenteng utama yang digunakan beribadah kaum Kong Hu Chu. Jika dulu pengunjung tidak ditarik retribusi, sekarang kita diharuskan membeli tiket seharga Rp. 3000,00 untuk pengunjung namun tidak boleh memasuki bangunan kelenteng. Bagi yang ingin berziarah dan memasuki kelenteng, dipersilakan membeli tiket seharga Rp. 20.000,00.

2.      Kelenteng Tay Kak Sie

Kelenteng satu ini terletak di Jalan Gang Lombok no 62 Pecinan Semarang. Didirikan pada tahun 1746 (ada yang menyebut tahun 1772), semula hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih, namun kemudian berkembang menjadi kelenteng yang juga memuja Dewa Dewi Tao lainnya. 

replika kapal Cheng Ho yang konon ukurannya mendekati ukuran asli kapal terkecil dalam ekspedisi pelayaran Cheng Ho

kelenteng Tay Kak Sie dengan hiasan ular naga di atap yang berwarna biru

Beberapa tahun lalu oleh pemerintah kota Semarang, di sungai yang terletak di depan Kelenteng, ditempatkan sebuah kapal / perahu yang berukuran lumayan, yang konon merupakan replika kapal Laksamana Cheng Ho yang mendirikan Gedung Batu Sam Po Kong. Pemkot berpikir bahwa keberadaan kapal itu akan menambah nilai positif Kelenteng Tay Kak Sie dari segi pariwisata. Akan tetapi kondisi sungai yang penuh kotoran dan tidak pernah dikeruk/dibersihkan ini, justru keberadaan kapal membuat kondisi sungai semakin kotor dan kumuh hingga nampaknya Pemkot berencana untuk memindahkan (menyingkirkan) replika kapal tersebut. Tahun 2008 lalu, waktu kondisi kapal masih baru dan bersih + bagus, beberapa kali dipilih sebagai lokasi untuk menyelenggarakan beberapa event. Salah satunya – yang kuhadiri waktu itu – adalah puncak acara perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus di Semarang tahun 2008: KETOPRAK PUTRI CINA.

Sejak kurang lebih satu tahun yang lalu, di depan Kelenteng, diletakkan sebuah patung besar Laksamana Cheng Ho, yang mendirikan Gedung Batu Sam Po Kong. Mungkin untuk ‘menemani’ replika kapal yang ada di sungai depan Kelenteng. :)
 
Berbeda dangan Kelenteng Sam Po Kong dimana orang harus membeli tiket untuk masuk, orang tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk masuk ke Kelenteng Tay Kak Sie. :)

Pagoda

Hanya ada satu pagoda di kota Semarang, meski tinggi bangunannya tercatat oleh MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia pada tanggal 14 Juli 2006 ketika diresmikan oleh Bhikku Pannavaro Mahathera. Ada yang menyebutnya sebagai Vihara Buddhagaya Watu Gong namun juga ada yang menyebutnya dengan Pagoda Avalokitesvara

pagoda Avalokitesvara setinggi 7 tingkat

patung raksasa Buddha yang sedang berbaring

Pagoda Avalokitesvara terletak di kawasan atas Semarang, Pudakpayung, sekitar 17 kilometer ke arah Selatan, berseberangan dengan kompleks Kodam Diponegoro. Selain bangunan pagodanya yang tinggi menjulang, di halaman samping juga dibangun patung Buddha yang sedang berbaring di bawah pohon Boddhi. Sementara di halaman depan pagoda, ada patung Buddha duduk berukuran sedang yang juga diletakkan di bawah pohon Boddhi yang cukup rindang. 

Pagoda yang indah dan bersuasana damai ini boleh dikunjungi oleh siapa saja, baik untuk beribadah maupun untuk berwisata. Untuk masuk, pengunjung tidak perlu membeli tiket masuk.

Pura

Hanya ada sebuah pura untuk beribadah kaum Hindu yang tinggal di kawasan kota Semarang dan sekitarnya yakni Pura Giri Natha yang terletak di Jalan Sumbing. Tidak banyak informasi yang bisa didapat dari pura ini kecuali bahwa pura didirikan pada tahun 1970, dirintis bersama-sama oleh para pemuka agama Hindu yang berada di kota Semarang. 

Pura Giri Natha
Untuk ke Jalan Sumbing, dari pertigaan RS Dr Kariadi Semarang, kita terus naik tanjakan S. Parman (yang juga dikenal sebagai tanjakan Gajahmungkur). Sampai atas tanjakan, kita akan menemukan SPBU, setelah SPBU ada jalan belok kiri, kita belok kiri. Setelah melewati hotel Rinjani, ada jalan belok kanan, nah itulah Jalan Sumbing. Pura Giri Natha terletak kurang lebih 200 meter dari pertigaan itu.

Semarang tidak kalah dengan kota-kota lain untuk tempat wisata religinya bukan? Ayo mampir ke kota Semarang.

GG 16.00 25092013

Sabtu, Agustus 24, 2013

PANTAI KLAYAR : KEEKSOTISAN DI UJUNG PACITAN

PANTAI KLAYAR : 
KEEKSOTISAN DI UJUNG PACITAN


Pantai Klayar dari atas bukit

Apakah anda ingin berkunjung ke pantai nan eksotis dengan pemandangan batu karang bak di gurun pasir? Juga debur ombak yang tak pernah lelah mencumbu bibir pantai? Pantai Klayar lah jawabannya!

Pantai Klayar terletak kurang lebih 45 kilometer sebelah Barat kota Pacitan. Jalanan mulus memanjakan kita hanyalah sampai di kecamatan Punung – Pacitan. Dari terminal Punung, jalan menuju Pantai Klayar – kurang lebih 19 kilometer – adalah perjalanan yang sangat menantang dikarenakan badan jalan yang sempit, naik turun terjal, berkelok-kelok, dengan aspal yang telah mengelupas disana sini. Jalanan nan sempit ini hanya bias dilewati oleh mobil, sepeda motor, atau sepeda onthel. :)

foto dijepret di pagi hari
foto dijepret di pagi hari

Aku pribadi butuh mengayuh pedal sepeda lipatku sekitar 17 jam dari Solo! Hari pertama gowes dari Laweyan Solo hingga Baturetno Pacitan, aku dan Ranz – my biking soul mate – butuh 9 jam. Agar tidak kemalaman di jalan dan mengembalikan stamina kita memilih untuk menginap semalam di pusat kota kecamatan Baturetno. Di hari kedua, kita gowes dari Baturetno hingga Pantai Klayar sekitar 8 jam. But our hard work paid off! Pantai Klayar sangat pantas dikunjungi.

di jalan waktu gowes
di jalan waktu gowes


mejeng dulu di pinggir jalan
mejeng dulu di pinggir jalan

Kebetulan kita berdua sampai di Klayar pada hari kelimat hari raya Idul Fitri 1434 H, hingga sangatlah dipahami jika suasana pantai sangatlah ramai pengunjung. Hah, padahal kita ingin foto-foto kita di pantai dalam suasana sepi hingga seolah-olah kitalah sang pemilik pantai. LOL. Pantai Klayar terletak di bawah bukit sehingga untuk menuju kesana kita harus menuruni jalanan yang curam. Dari atas, pemandangan di bawah ternoda oleh ratusan mobil yang terparkir rapi di tempat parkir. :( Apa boleh buat?

Hal pertama yang kita lakukan adalah memesan sebuah kamar di “Restaurant dan Homestay Larasati”. Kita memang berencana untuk menginap semalam agar puas bermain di pantai. Kita memilih kamar yang sewanya Rp. 150.000,00 dengan fasilitas double bed, fan, sebuah lemari kecil, dan kamar mandi dalam. Di dalam kamar, kita juga mendapati tikar sehingga kita menyimpulkan bahwa sebenarnya kamar bisa dihuni oleh banyak orang yang ingin menginap bersama.

mejeng bersama Austin di pinggir pantai
mejeng bersama Austin di pinggir pantai



Setelah menaruh barang, kita berdua menikmati ‘turunan tajam’ menuju bibir pantai. Yuhuuu. Hal kedua yang kita lakukan adalah mencari makan siang/sore. Mungkin saat itu kita sedang kurang beruntung sehingga seporsi mie ayam yang kita pesan rasanya ga karuan. Meskipun begitu, mood kita yang sedang bergembira tidak terganggu. Lain kali kita coba warung makan yang lain deh.

Hal ketiga yang kita lakukan tentu adalah bernarsis ria! Yeaaayyy. Dimana pun kita berfoto-ria, pantai Klayar selalu terlihat indah! Dengan latar belakang karang, laut lepas beserta ombaknya yang besar, pepohonan di pinggir pantai, you name it! Kita juga sempat menyambangi tempat yang disebut “seruling samudera” yang berupa air ombak yang memancar ke atas dari lobang di karang.

seruling samudera!
seruling samudera!

mejeng di karang, dijepret oleh si Bapak pemandu
mejeng di karang, dijepret oleh si Bapak pemandu

Kita kembali ke penginapan sekitar pukul enam sore. Di pinggir pantai kita lihat ada dua tiga tenda yang telah didirikan oleh pengunjung yang memilih untuk camping. Juga ada rombongan yang Nampak menikmati senja itu dengan duduk-duduk di atas kap mobil sembari menyanyi riang. Bahkan meski malam telah merambah, dari teras penginapan aku melihat masih ada pengunjung yang baru dating ke pantai.

Keesokan hari, kita kembali ke pantai, kali ini kita memulai hunting foto dari karang sebelah Barat dimana terletak gardu pandang. Sayangnya sunrise tak terlihat dari tempat kita berdiri. Dari atas karang itu kita turun, kemudian berjalan menyusuri pantai hingga tiba di karang yang berbentuk seperti layar (konon dari karang berbentuk layar inilah nama Pantai Klayar), yang orang lain juga menyebutnya seperti sphinx.

suasana Pantai Klayar di pagi hari saat sepi pengunjung
suasana Pantai Klayar di pagi hari saat (masih) sepi pengunjung

in action berdua dengan Ranz

dari atas bukit

latar belakangnya seperti lukisan ya? :)
latar belakangnya seperti lukisan ya? :)

Pagi ini suasana pantai tentu jauh lebih sepi dibanding kemarin sore. Kita melihat beberapa rombongan yang mungkin bermalam di pantai. Namun sebaiknya kita harus mengikuti peraturan yang telah dibuat, dengan tidak mendekati daerah yang ada bendera merah. Itu adalah tempat-tempat yang berbahaya: ombak besar yang dikirim dari tengah laut bisa menghempaskan siapa pun yang berada di tempat itu hingga bias jatuh ke karang-karang yang bertebaran di bibir pantai.

Jika anda adalah pecinta pantai, jangan pernah lewatkan Pantai Klayar dari daftar wajib kunjung anda! Jam berapa pun anda datang, Pantai Klayar tetap terbuka!

GG 14.10 190813

Senin, Juni 17, 2013

Whitening Lotion


Kita semua tentu tahu bahwa semenjak pertengahan dekade sembilanpuluhan mendadak whitening lotion menjadi primadona. Produk-produk hand-body lotion yang di dekade sebelumnya sering menggunakan jargon "membuat kulitmu kuning langsat, kulit 'asli' Indonesia" melupakan jargon lamanya. Kepopuleran tv serial dari Taiwan (F4 kalo ga salah namanya :P ) dengan ajaib telah menghapusnya.

Di awal dekade delapanpuluhan, dimana lagu Koes Plus yang berjudul "Hitam manis" pernah membuatku resah karena kulitku berwarna terang. Frasa "hitam manis" membuat Nana kecil berpikir bahwa dia tidak manis karena tidak berkulit hitam. LOL. Maka, segala kemungkinan untuk membuat kulitku tak lagi berwarna terang pun kulakukan. Misal: ikut latihan karate (yang dilakukan di sore hari, sekitar pukul 15.00 - 17.00) waktu SMP, atau yang paling sering kulakukan (hingga aku duduk di bangku SMA sebelum my dear late dad membelikanku sebuah sepeda motor, 'hadiah' aku diterima di SMA N 3 Semarang) adalah pulang sekolah dengan jalan kaki. (FYI, jarak sekolah - rumah kurang lebih 2,5 kilometer.)

Segala upaya yang kulakukan lumayan berhasil, meski aku butuh waktu bertahun-tahun. 

Aku lupa, bahwa anugerah Sang Maha Pencipta yang berupa lesung pipit di pipi kiriku sudah lumayan membuatku nampak manis yak? wkwkwkwkwk ...

'Sialnya' setelah kulitku lumayan menggelap (dibanding waktu aku duduk di bangku SD atau pun SMP) mendadak serial F4 itu mengubah pendapat sebagian (besar) rakyat Indonesia bahwa yang cantik itu tak lagi berkulit kuning langsat, (atau yang manis itu yang berkulit hitam), namun BERKULIT PUTIH. NAH LO!

'Sialnya' (lagi) jargon bahwa yang cantik itu yang berkulit putih mulai mengglobal (di bumi Indonesia) semenjak aku mulai tergila-gila berenang, yang tentu semakin menggelapkan warna kulitku. (and ... among three daughters of my parents now I have the most tanned complexion, padahal duluuuu ... kulitku yang berwarna paling terang.) Hingga ... mohon dimaklumi jika kemudian aku pun mulai menggunakan handbody lotion dengan whitening effect (katanya!)

Tapi ... meskipun begitu, despite the fact that sometimes I use whitening handbody lotion (yang 'sial'nya aku suka bau harum yang ditimbulkan), aku tetaplah berenang, sebelum tergila-gila bersepeda. Saat berbikepacking antar kota tentu aku tetaplah mengayuh pedal sepeda meski cuaca sangat panas (yang menghasilkan warna kulitku belang). Meski 'mungkin' aku adalah salah seorang korban jargon 'yang cantik itu berkulit putih' aku tetap melakukan hal-hal yang akan membuat warna kulitku menggelap; sehingga hal ini bisa memberi kesimpulan bahwa aku bukan 'benar-benar' korban jargon itu yak. (Bingungin ga nih? xixixixixi ...) 

Dan ... aku terpana kala membaca satu artikel di buku SI PARASIT LAJANG karya Ayu Utami yang berjudul "Timun Takut Hitam" karena ternyata sebagian besar konsumen lotion pemutih produk C**** adalah lelaki muda kelas bawah. wkwkwkwkwkwkwk ...

Btw busway, satu hal yang membuatku amazed pada anak gadisku adalah: dia berkulit gelap (dibandingkan aku yang meski warna kulitku telah menggelap namun tetaplah lebih terang dibandingkan dia) namun tidak pernah tergoda untuk menggunakan whitening lotion. Bahkan jika kita berkesempatan gowes di hari minggu pagi bersama, dia akan menolak mengenakan kaos lengan panjang, atau pun mengenakan 'arm warmer' yang biasa kupakai jika T-shirt yang kupakai berlengan pendek. 

How about you, girls? :)

IB 180, 18.25 170613

P.S.:
gambar dicomot dari sini

Selasa, Mei 28, 2013

PERAYAAN TRISUCI WAISAK 2557 TAHUN 2013


jepretan Ranz dari dalam Taman Wisata Candi Borobudur
Semula kupikir Taman Wisata Candi Borobudur ditutup untuk umum pada hari perayaan Trisuci Waisak demi memberi kesempatan kaum Buddhis untuk merayakan hari perayaan ketika Siddharta Gautama dilahirkan, mencapai ‘enlightenment’ dan hari wafatya. Maka satu-satunya cara untuk bisa mengikuti upacara perayaan adalah dengan cara menyusup di tengah-tengah peserta arak-arakan yang membawa air dan api suci dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

But in fact I was wrong. Maka tidak heran jika Taman Wisata Candi Borobudur sangat penuh, dipadati pengunjung pada hari Sabtu 25 Mei 2013 itu. Menurut perkiraan mungkin lebih dari 10000 orang memadati pelataran taman wisata maupun monumen candi.
beberapa orang dengan kamera di tangan


seseorang dengan tab/note di tangan
Kulihat banyak di tengah kerumunan orang yang menunggu datangnya arak-arakan dari Candi Mendut yang membawa kamera, entah mereka fotografer profesional atau fotografer hobbyist atau jurnalis. (Di zaman dimana kamera DSLR masih sangat mahal, jumlah para ‘fotografer’ ini tidak sebanyak sekarang sehingga kehadiran mereka tidak begitu terasa mengganggu jalannya arak-arakan.) Saat mobil yang membawa air suci lewat, seorang Bhikku menyipratkan air ke kerumunan pengunjung. Konon mereka yang terkena cipratan air ini akan mendapatkan berkah.


Aku dan Ranz tidak kesulitan menyusup ke dalam arak-arakan, meski kita tidak mengenakan ‘badge’ yang bertuliskan ‘peserta’ atau ‘fotografer’ atau ‘jurnalis’ atau apa pun juga. Dalam hati aku sempat geli – namun juga merasa ridiculous – ketika berjalan mengiringi arak-arakan, di pinggir jalan di antara kerumunan orang kulihat dua tiga orang yang sedang merekam jalannya arak-arakan, mengarahkan kameranya ke arahku dan Ranz. :(

Menjelang sampai ke pintu masuk Manohara, kulihat banyak orang yang tadi ikut berjalan di tengah-tengah arak-arakan di depanku jalan berbalik arah. Selintas kudengar selentingan orang yang mengatakan, “Tidak diperbolehkan masuk bagi mereka yang tidak memiliki tanda khusus – misal peserta atau apa pun juga. Jika ingin tetap masuk, harus beli tiket Rp. 30.000,00 per orang.” Aku juga mendengar seseorang mengatakan, “Tentulah mereka tidak akan membiarkan kita masuk gratis.” 



Ranz mulai khawatir apakah kita bisa masuk arena taman wisata Candi. Namun jika kita diperbolehkan masuk dengan membeli tiket, aku sudah berkeputusan untuk membelinya. Dan ... ternyata kita berdua mulus melewati pintu masuk Manohara! Tidak ada kesulitan berarti. It was our luck then! :) Setelah melewati pintu masuk, kita harus melewati sebuah ambang pintu dimana kita dan barang bawaan kita dipindai apakah kita membawa barang terlarang. Sebelum melewati, aku dengar orang-orang – sebelum melewati ambang pintu pemindai – yang ada di depanku berbicara, “Siapkan tanda pengenalmu!” Ranz kembali deg-degan. Tapi ... mungkin memang it was our luck sehingga kita pun melewatinya dengan mudah.

Setelah melalui detik-detik ‘deg-degan’ LOL kita pun memilih tempat untuk beristirahat, duduk-duduk. I was so exhausted! Banyak juga orang yang beristirahat di rerumputan sekitar kita duduk. Sementara itu, rombongan arak-arakan yang ada di belakang kita ternyata masih lah panjang. Sekitar setengah jam kemudian, kita mulai melanjutkan perjalanan menuju monumen Candi. Namun karena pada dasarnya aku masih lelah dan mengantuk, melihat banyak orang lain yang membaringkan tubuh, leyeh-leyeh, aku kembali mengajak Ranz istirahat lagi, padahal dari lokasi kita istirhat yang kedua kali ini monumen Candi Borobudur sudah terlihat. 

Setelah istirahat secukupnya, aku dan Ranz mencari toilet. Namun kita berdua tidak jadi melakukan ‘hajat’ yang kita butuhkan karena antrian di toilet sangat menggila, kata Ranz. Akhirnya kita langsung berjalan ke arah monumen.
 
lautan pengunjung 1

lautan pengunjung 2
Melihat kerumunan orang di jalan setapak menuju monumen candi, kita berdua pun takjub. Wow! So crowded! so full of people! Saat itu aku baru ngeh, bahwa ternyata Taman Wisata Candi Borobudur tidak tertutup untuk umum pada hari Waisak! Karena upacara perayaan belum dimulai, para bhikku/bhiksu kulihat berbaur dengan pengunjung. Mungkin pada saat ini lah ‘insiden’ yang tercetak di satu foto yang beredar di media sosial terekam: ada seorang bhikku yang melakukan ibadah di tengah monumen candi difoto oleh para fotografer yang kurang menghargai pelaksanaan ibadah tersebut.
foto yang ramai diedarkan dan diperbincangkan di sosial media
Ranz hanya bersedia kuajak naik ke undakan yang pertama – Kamadhatu – mungkin karena begitu banyak pengunjung yang menginjakkan kakinya di monumen. Tumben Ranz tidak penasaran untuk naik ke stupa yang paling atas untuk mendapatkan foto pemandangan yang bagus. Setelah usai mengitari undakan Kamadhatu, Ranz langsung mengajak kita turun, menuju ke panggung utama dimana perayaan Waisak akan diselenggarakan. Sesampai disana, hamparan karpet yang ada di bawah panggung telah dipenuhi para pengunjung yang ingin menyaksikan jalannya upacara seremonial Waisak. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi yang strategis untuk mendapatkan the best shots. But tentu saja siapa yang cepat dia yang mendapatkan posisi strategis tersebut.
 Sementara itu dari pembawa acara aku mendengar info bahwa terjadi desak-desakan orang yang rebutan untuk membeli lampion. Berulang kali pembawa acara mengingatkan agar para pengunjung berbaris rapi karena semua akan kebagian; panitia telah menyediakan lebih dari seribu lampion. Namun nampaknya para pengunjung itu tetap sulit diperingatkan karena sang pembawa acara perlu mengingatkan berulang kali. FYI, bagi mereka yang membeli lampion, saat menerbangkannya nanti mereka bisa ‘make a wish’ yang dipercaya akan terkabul.
 
panggung utama, difoto dari sisi kiri


para bhiksu/bhikku dan beberapa kaum muda Buddhis di atas panggung
Satu kali sang pembawa acara mengumumkan seorang ibu kehilangan anaknya yang berusia 7 tahun. Tak lama kemudian, seseorang mengantar si anak hilang itu naik ke panggung untuk berjalan menuju tenda panitia. Para pengunjung serta merta bertepuk tangan, berseru-seru gembira.
Jelang jam 18.00 para bhikku, bhiksu, maupun bhikkuni datang menuju panggung diikuti para pemuka agama Buddha dan beberapa undangan khusus. Gerimis mulai menyapa. Banyak pengunjung mulai mengembangkan payung yang mereka bawa. Para bhikku, bhiksu maupun bhikkuni duduk dengan tenang di panggung utama. Menurut jadual, upacara perayaan seremonial Waisak akan dimulai jam 19.00, setelah undangan istimewa – menteri agama Suryadharma Ali dan gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo – datang.

Gerimis datang dan pergi dan datang lagi. Setelah jam 19.00 berlalu, pengunjung mulai resah ketika belum terlihat tanda-tanda bahwa menag dan gubernur JaTeng datang. Mereka berharap upacara segera dimulai tanda menunggu kehadiran orang-orang ‘istimewa’ tersebut. Tapi tentu hal itu tidak bisa dilakukan.
 
foto ini juga kumbil dari sosial media
Gerimis mulai menderas menjadi hujan. Pengunjung tambah resah. Kulihat beberapa yang duduk di sekitarku meninggalkan lokasi. Karpet yang terletak di bawah panggung itu terasa lebih longgar. Baru jelang pukul 20.00 rombongan menag dan gubernur datang, yang disambut dengan teriakan kecewa ‘huuuuuuuuuuuu’ dari para pengunjung. Para panitia dan bhikku/bhiksu/bhiksuni panggung – juga para kaum Buddhis yang duduk di atas panggung – nampak tetap tenang.

Tidak menunggu lama, pembawa acara segera membuka upacara. Pengunjung duduk tenang mendengarkan sambutan dari ketua panitia dan ‘khotbah’ tentang Waisak. Namun pengunjung mengganggu sambutan menag dan gubernur dengan teriakan-teriakan kekecewaan.

Usai sambutan dan khotbah, acara dilanjutkan dengan pradaksina, yakni ritual para bhikku/bhiksu/bhikkuni mengelilingi monumen Candi Borobudur tiga kali, setelah para undangan istimewa dipersilakan meninggalkan panggung upacara. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba orang-orang yang semula duduk rapi mulai berdiri, bahkan ada dorongan dari belakang untuk maju ke atas panggung. Suasana di sekitarku mulai kacau balau. Sementara itu hujan menderas. 
Merasa pusing berdiri di tengah kerumunan orang di sekitarku – I could not see anything but people’s backs and umbrellas – aku mengajak Ranz meninggalkan panggung, menjauh, mencari lokasi yang lumayan jauh dari panggung.

Karena gelap – atau karena mataku yang belor – aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di atas panggung/belakang panggung. (Monumen Candi Borobudur terletak di belakang panggung utama.) Namun berulang kali aku mendengar peringatan seorang bhikkuni yang memimpin pradaksina memperingatkan pengunjung untuk tidak memenuhi area sekitar monumen yang sedang dipakai untuk melakukan ritual pradaksina. Peringatan bhikkuni berikutnya membuatku terpana, malu, terluka: “Bagi para pengunjung yang ingin mengikuti ritual pradaksina, silakan mengikuti dengan tertib dan tenang. Jangan sibuk foto-foto sendiri.” DUH! 
Hujan yang tak kunjng reda hingga akhir pelaksanaan pradaksina membuat panitia mengumumkan pembatalan pelepasan lampion. Ribuan pengunjung yang keukeuh memilih tetap tinggal di lokasi meski kehujanan karena menunggu detik-detik pelepasan lampion yang konon bakal menghasilkan pemandangan yang menakjubkan pun berteriak-teriak meluapkan kekesalannya. :( :( :(
Mungkin aku sendiri termasuk orang yang menganggap ritual keagamaan agama – yang termasuk minoritas di Indonesia – ini sebagai tontonan karena aku ikut berada di lokasi? Karena aku ikut foto-foto dengan latar belakang panggung upacara perayaan. Karena aku ikut menyusup di tengah-tengah peserta arak-arakan demi ikut menyaksikan (menonton?) suatu ritual keagamaan yang karena minoritas maka bisa dianggap eksotis? :( :( :(

Tulisan ini tidak untuk ikut mengeruhkan suasana dimana banyak orang berpolemik apakah ini salah panitia atau salah pengunjung yang tidak memiliki rasa tenggang rasa pada pemeluk agama lain. Tulisan ini hanya untuk memaparkan apa yang terjadi pada hari Sabtu 25 Mei 2013 dari kacamataku sebagai salah satu turis nusantara yang hadir.

GL7 12.32 280513