Cari

Sabtu, September 27, 2008

Jumat Kliwon

Alkisah satu hari Jumat beberapa siswiku ‘agak’ kehilangan kontrol, karena mereka bercanda melulu. Mungkin karena mereka senang karena kita telah menyelesaikan unit 2, sehingga mereka merasa telah mampu melepaskan beban. (Believe me, the material for English is damn difficult for average grade 7 students.) Kebetulan hanya ada seorang siswa laki-laki yang expat di kelas itu. Rupanya dia merasa heran dengan teman-teman sekelasnya yang banyak berhaha hihi, sehingga dia pun bertanya kepadaku,
“Miss … what’s wrong with my classmates? Why are they so hilariously crazy today?”
(“Ada apa dengan teman-teman sekelasku, Miss? Mengapa mereka nampak lepas kontrol?”)
Aku pun yang ‘ketularan’ happy mood menjawab sekenanya, menjawab dengan nada bercanda,
“What Friday is it? Is it Jumat Kliwon?” sambil mengecek kalender. Dan ternyata benar, hari itu adalah hari JUMAT KLIWON. Maka aku pun berseru, “Yes, this is JUMAT KLIWON!!!”
(nampaknya aku sedang terbawa tema modernisme+posmodernisme+mistisisme dalam BILANGAN FU, novel terbaru Ayu Utami.)
Sang siswa expat itu pun bertanya, “What is wrong with Jumat Kliwon Miss?”
“Well, you know in Javanese culture, Javanese must provide offerings for the spirit on the night of Jumat Kliwon. It seems to me that your classmates’ mothers forgot to provide offerings last night so that they turned to be crazy today!” jawabku sekenanya, sambil berusaha memasang mimik serius di wajahku.
(“Dalam budaya Jawa, orang-orang Jawa harus menyediakan sesajen pada malam Jumat Kliwon. Nampaknya orang tua teman-temanmu itu lupa menyediakan sesajen semalam sehingga mereka pun menjadi gila hari ini.”)
“What about me? I live in Java but I am not Javanese. Should my family follow that tradition too? To provide offerings every Jumat Kliwon eve? My mother didn’t provide any offering last night. Will I get crazy too?” he asked innocently.
(“Bagaimana denganku? Aku bukan orang Jawa meskipun aku tinggal di Jawa. Apakah keluargaku pun harus mematuhi tradisi untuk menyediakan sesajen tiap malam Jumat Kliwon? Apakah aku pun akan gila karena semalam Mamaku tidak menyediakan sesajen?” tanya siswaku itu dengan lugu.)
‘Don’t worry. You will not get affected.” Jawabku.
(“Jangan khawatir. Kamu ga akan terpengaruh.”)
“How long will they be crazy like that Miss?” he asked again.
(“Berapa lama mereka akan menjadi gila seperti itu Bu?” tanyanya.)
“Until next Jumat Kliwon,” jawabku.
(“Sampai sok Jumat Kliwon lagi.”
“What if their mother forgets to provide offerings again next Jumat Kliwon? Will their craziness become double?” tanyanya, agak ngeri. LOL.
(“Jika ibu mereka lupa menyediakan sesajen lagi sok Jumat Kliwon, apakah kegilaan mereka akan meningkat?)
“Absolutely!” jawabku, agak menakutinya. LOL.
Mendengar percakapanku dengan sang siswa expat itu, siswi-siswi yang lain pun ikut ‘bersekongkol’ denganku untuk menggodanya, sehingga dia nampak percaya.
Setelah kelas usai, tatkala aku akan meninggalkan kelas, sang siswa expat itu mendekatiku, “Miss … “I am scared!” (“Miss … aku takut!”)
“Why?” tanyaku.
“My friends are crazy …”
Meledaklah tawaku dan siswi-siswi yang lain.
“Don’t worry! We were just joking. We just wanted to tease you!”
Dan dia pun langsung ikut tertawa, dan mimik ketakutan hilang dari wajahnya. LOL.
PT56 21.17 260908

Tidak ada komentar:

Posting Komentar