Cari

Memuat...

Selasa, Agustus 21, 2007

Blog Sebagai Jendela Dunia

“Tugas seorang jurnalis adalah untuk melakukan perubahan sosial dengan cara mendidik dan memberikan pencerahan pada masyarakat. Seorang jurnalis perlu memiliki passion, menulis berdasarkan suatu tujuan.” (Susan Faludi)


Kata “melakukan perubahan sosial” dalam kutipan di atas mengingatkanku akan satu seminar Bahasa yang kuikuti di tahun 1997, sepuluh tahun yang lalu. Topik utama seminar adalah “Teachers’ role as an agent of change.” Peran sebagai agen perubahan memang tidak secara eksklusif milik suatu profesi—misalnya guru—namun semua kita ini bisa memiliki peran tersebut. Michel Foucault menyebutkan bila di zaman sebelum revolusi industri, peran perubahan sosial melulu dimiliki oleh pihak sekolah, keluarga, dan tempat ibadah, di zaman sesudah revolusi industri, peran pembawa perubahan sosial bisa diambil alih oleh ‘anak’ industrialisasi, misal, media massa.
Di zaman globalisasi ini—di mana manusia memanfaatkan teknologi untuk saling berkomunikasi, tak pelak lagi internet pun memegang peran untuk melakukan perubahan sosial, termasuk semua orang yang terlibat di dalamnya, misal para blogger yang rajin menuangkan buah pikirnya ke dalam blog-blog mereka, untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka ke seluruh penjuru dunia. Tidak hanya para jurnalis yang perlu memiliki passion terhadap pekerjaannya, seperti yang diungkapkan oleh Susan Faludi. Para blogger yang berhasrat untuk ikut berperan serta dalam mengubah dunia pun perlu memiliki passion terhadap apa yang dilakukannya—menulis di blog.
Aku ingat tatkala pertama kali terjuan ke dunia blogging, untuk mencari audience yang lebih luas, tidak hanya para mahasiswa/mahasiswi maupun siswa/siswi yang biasa kutemui sehari-hari. Rasa prihatinku atas dunia jurnalisme yang masih sangat patriarki menggugahku untuk mulai menuangkan apa yang biasa kuucapkan secara lisan terhadap mahasiswa/mahasiswi/siswa/siswi. Untuk mengirimkan tulisanku ke surat kabar/majalah/tabloid memang bukan pilihan utama bagiku mengingat rumitnya prosedur yang harus dilalui oleh tulisanku. Belum lagi aku harus memilah dan memilih surat kabar/majalah/tabloid mana yang kira-kira sejalan dengan cara berpikirku sehingga kemungkinan tulisanku dimuat lebih tinggi. Urusan yang terlalu ribet inilah yang kemudian membuatku menjatuhkan pilihan untuk ikut meramaikan jagad perbloggingan di dunia internet yang tak lagi maya ini karena internet telah menjadi dunia nyata bagiku.
Setelah mendapatkan feedback dari para pengunjung blogku, bertukar pikiran dengan mereka melalui komentar-komentar yang kuterima, aku merasa bahwa pilihanku untuk blogging sangatlah tepat. Aku telah menemukan media tempatku berbagi keresahan—yang aku yakin juga menghinggapi para kaum feminis lain menghadapi kultur patriarki yang secara terus menerus mendapatkan dukungan lewat media massa yang patriarkis. Dengan caraku sendiri aku pun ikut ambil andil dalam menularkan tulisan maupun ide yang bebas gender. Selain itu, melalui blogging pun aku menemukan beberapa teman tempat berdiskusi bersama.
Dan aku pun mengikuti jejak Charlotte Perkins Gilman, seorang penulis feminis Amerika yang hidup tahun 1860-1935, “I write with a purpose.”
Para blogger pun tak kalah dengan para jurnalis, menulis dengan passion, menulis dengan tujuan: untuk membawa perubahan sosial. Bagi seorang feminis sepertiku, untuk lebih memasyarakatkan ide-ide kesetaraan yang mencerahkan. Sehingga rasanya tak terlalu berlebihan jika aku mengatakan “Blog adalah jendela dunia.”
PT56 22.55 200807

2 komentar:

  1. Well, just look at the number of blogs mushrooming everywhere, thousands of them!
    It sure did take the world by storm.
    Look at how people communicate and introducing themself through blogs, everywhere!
    It sure is one of the windows of the world.
    And I love yours.

    Love,
    a

    BalasHapus
  2. The mushrooming of blogs everywhere, especially in Indonesia showed that what Roy Suryo said--blogging was just a temporary trend--was a big wrong.

    Regards,
    a passer by

    BalasHapus