Cari

Senin, Maret 11, 2013

PEMILIHAN KETUA KOMUNITAS B2W SEMARANG



kelima calon ketua, ki-ka: Anton, Wawan, Nana, Tami, Ari Bjo


PEMILIHAN KETUA KOMUNITAS B2W SEMARANG

Setelah terbentuk secara resmi pada tanggal 26 Juni 2008 di rumah Om Budianto alias Budenk, akhirnya Komunitas B2W Semarang mengalami pemilihan ketua secara voting! Yay. LOL. 

(Ini laporan pemilihan ketua sekaligus curhat sang ‘mantan’ Sekretaris periode 2008 – 2013.)

Pada tanggal 26 Juni 2008, rapat perdana secara resmi (yang aku hadiri), ada 11 simpatisan yang datang. Seingatku adalah Om Budianto, selaku tuan rumah, Om Triyono (yang ‘menemukan’ku di lapak multiply), Om Firman, Om Darmawan alias Boil Lebon, Om Nasir, duo Podungge girls (aku dan Lila yang kebetulan sedang libur akhir term dari tempat kita bekerja sehingga bisa menghadiri rapat), dan empat lain lagi yang (mohon maaf sebesar-besarnya) aku lupa siapa saja. Kompi tempatku menulis semua hasil rapat Komunitas B2W Semarang selama ini rusak di pertengahan tahun 2010; semua file pun lenyap. Mungkin masih bisa ditelusuri di blog b2wsemarang.multiply.com. 

Dari kesebelas orang yang hadir pada waktu itu, kita berkeputusan untuk memilih Om Firman sebagai ketua, karena setahuku dia lah orang pertama yang memiliki contact langsung dengan B2W Pusat. Om Triyono yang waktu itu rajin ‘kelayapan’ di internet untuk menjaring anggota diberi tanggung jawab untuk menjadi wakil ketua. Om Budianto sebagai bendahara, Om Nasir divisi merchandise, Om Boil Humas, sedangkan aku Sekretaris 1, Lila Sekretaris 2. (Perempuan selalu dihubungkan dengan posisi sekretaris yak?) Anyway, karena aku sendiri hobi menulis maka aku tidak keberatan. Waktu nulis laporan rapat, biasanya aku sekalian nulis curhat. LOL. (Tulisan ini juga laporan + curhat. LOL.)

Sayang, setelah berhasil menyelenggarakan event pertama BIKE-TO-WORK-DAY pada bulan Agustus 2008, Om Firman menghilang tak tentu rimbanya. (Zaman itu belum musim facebook di antara kita para anggota komunitas. Kita masih saling terhubung lewat www.multiply.com ) Sekitar bulan Maret 2009, ketika kita ikut acara kumpul komunitas member multiply.com, pun Om Firman hadir sebagai ‘tamu’ bukan sebagai ketua komunitas. Untunglah waktu itu, meski tanpa ketua, para anggota yang ada masih cukup solid untuk bekerja sama sehingga bisa ikut acara kumpul komunitas itu. 

para partisipan pemilihan ketua

Sayang (lagi), aku lupa tepatnya kapan ketika kita akhirnya ‘patah hati’ karena Om Firman tak juga mau ‘kembali’ berkiprah di komunitas B2W Semarang, hingga kita pun ‘memaksa’ Om Triyono – yang pada waktu itu menjabat posisi wakil ketua – untuk menjadi ketua. Sedangkan untuk jabatan wakil ketua, kita berhasil ‘memaksa’ Om Nasir untuk ‘menduduki’nya. J (Indeed, pemaksaan itu sangat amat tidak bagus.) :)

Aku lupa kapan tepatnya divisi B2S (bike to school) dan B2C (bike to campus) yang merupakan ‘anak’ B2W dibentuk di Semarang. ‘Fungsi’nya adalah untuk menjaring para pesepeda ke sekolah maupun ke kampus untuk gabung ke dalam komunitas. Selain itu, dengan semakin banyaknya pemerhati alias simpatisan komunitas B2W, kita pun mulai membentuk ‘wakil’ di beberapa daerah yang berbeda, dengan tujuan yang sama: menjaring lebih banyak orang untuk bergabung dengan komunitas. Wakil ini adalah Rosatan (rombongan Semarang Selatan), yang kebetulan sampai sekarang yang paling eksis dibanding wakil di daerah lain, seperti Rosbar (rombongan Semarang Barat), Rosemut (rombongan Semarang Utara), Rosateng (rombongan Semarang Tengah), dan Rosatim (rombongan Semarang Timur). 

Keberadaan B2S dan B2C – plus perwakilan di lima daerah Semarang – disusul dengan pembentukan Komunitas Sepeda Lipat Semarang (Komselis) di bulan Oktober 2009. Jika di kota-kota lain komunitas sepeda lipat mereka merupakan komunitas yang terpisah dari komunitas B2W, hasil rapat yang cukup ‘alot’ pada waktu itu menghasilkan keputusan bahwa Komselis merupakan bagian dari Komunitas B2W Semarang. 

Tahun 2010 merupakan tahun ‘keemasan’ B2W dengan keberhasilannya mengadakan TALK SHOW PENGADAAN JALUR SEPEDA (talk show 1 dan talk show 2). Kita bangga ketika salah satu calon walikota yang sedang kampanye waktu itu datang dan berjanji akan segera menyediakan jalur sepeda di beberapa ruas jalan protokol di Semarang. Wakil dari Dephubkominfo juga mengatakan bahwa jalur sepeda akan segera disediakan, paling lambat akhir tahun 2011. Barangkali ‘keberhasilan’ ini merupakan salah satu titik mundur komunitas. Setelah itu praktis kita tak lagi mengadakan acara-acara fenomenal serupa ini. (Karena merasa berhasil mampu menghadirkan jalur sepeda di kota Semarang?)

disponsori oleh bukalapak.com sebagai penyedia snack

Tahun 2011 kita mengadakan gowes bareng yang merupakan kunjungan resmi ke komunitas B2W Kudus pada tanggal 15 April, dan kunjungan ke komunitas B2W Jepara pada tanggal 29 Mei 2011. Namun tidak ada event yang sifatnya untuk masyarakat banyak, misal sejenis talk show. Kita juga sudah berhenti mengisi acara radio Sonora yang sebelumnya kita secara reguler siaran sebulan sekali untuk mensyi’arkan healthy lifestyle, bike to work, atau bike to campus, atau pun bike to school.
Tahun 2012 kita tidak mengadakan event apa pun, kecuali event gowes ‘kecil-kecil’: gowes ke Pantai Cahaya Weleri; diikuti oleh hanya 8 orang, (aku, Ranz, Luna, Da, Tami, Bije, Dwi Agung, Wawan); dan gowes nanjak Nglimut yang diikuti ‘hanya’ aku, Om Nasir, Ranz (penduduk Semarang pada weekend LOL), dan Tami, si mungil yang dengkulnya ajaib. 

Ketika Pusat menawari Semarang untuk menjadi tuan rumah rapat koordinator wilayah Jateng DIY tahun 2012 kemarin, kita dengan terpaksa menolak karena merasa kurang mampu untuk menyelenggarakannya. Maka kesempatan ini pun diberikan kepada komunitas B2W Jepara yang telah berhasil menjadi tuan rumah gowes Srikandi #2. Acara diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni 2012. 

Dikarenakan kevakuman inilah maka B2W Pusat meminta Semarang untuk segera melakukan regenerasi pengurus. Sebenarnya aku dan Om Boil sudah sempat membahas hal ini sepulang dari rapat korwil Jateng – DIY, namun kita belum ‘nemu’ orang yang tepat untuk dijadikan ketua sebagai ganti Om Tri, yang mungkin semakin sibuk mengurus keluarga, dengan hadirnya anggota keluarga yang baru. Om Nasir pun sama. Mereka berdua kebetulan dikaruniai anak di tahun 2012 lalu.

Waktu Om Poetoet datang 9 Desember 2012 lalu, beliau meminta Pak Budcam segera menunjuk seseorang untuk dijadikan ketua. Pilihannya waktu itu jatuh kepadaku, mungkin karena di antara anggota komunitas B2W Semarang, aku yang paling rajin nyambangin web b2windonesia.co.or.id. Hihihihi ... Mungkin juga karena aku praktisi bike-to-work yang ‘terlihat’. (Frankly, ketika memajang foto sepeda ketika b2w, aku setengah narsis, LOL, setengahnya lagi mencoba tetap bersemangat menularkan virus berb2w lewat media fb.) Entahlah. Mendengarnya aku pun langsung grogi berat. LOL. Untuk mengatasi grogi dan kekhawatiran aku bakal dijadikan ketua B2W Semarang, aku langsung nyebut nama Dany Saputra yang sempat kubahas sebagai salah satu kandidat calon ketua dengan Om Boil waktu kita ngadaian gowes ‘reuni’ di awal bulan Juli 2012. Sementara waktu itu Pak Budcam pun nyebut nama Riu, sebagai calon ketua, yang kebetulan juga ada  di rapat yang hanya dihadiri oleh 6 orang (Om Poetoet, Pak Budcam, Riu, aku, Ranz dan Om Boil). 
sebagian sepeda

Mendengar ada nama-nama lain yang disebut untuk dijadikan kandidat ketua, Om Poetoet dengan bijak menyerahkan hal ini kepada B2W Semarang sendiri. Yang penting memang B2W Semarang segera bangkit dari kevakuman, untuk menjadi kelanjutan ‘tangan’ B2W Pusat yang memiliki segudang pe-er demi mengurangi polusi udara dan menghijaukan lingkungan.
Sampai awal Januari 2013 kutunggu lampu hijau dari Om Boil untuk mengadakan rapat di rumahnya, sekaligus pernyataannya bahwa dia telah ‘meminang’ Dany kepada Om Tunggal sebagai ketua Komselis, karena seperti yang kita tahu bahwa Dany sangat aktif di Komselis. Namun mungkin karena kesibukan yang bersangkutan sehingga lupa, lampu hijau tak kunjung datang. Sementara Om Poetoet sudah mengejar-ngejar(ku), kapan B2W segera memiliki ketua dan jajaran pengurus baru.

Karena aku enggan menjadi ketua, namun merasa tidak etis untuk begitu saja menolak ‘mandat’ Om Poetoet, aku berpikir mengapa tidak mengadakan voting saja? Dengan tiga calon ketua: aku, Dany, dan Riu. (Meski di awal, aku sempat tidak ingin memasukkan namaku dalam bursa calon ketua.) Namun kemudian terjadi ‘perkembangan’ yang tak terduga. ‘Hasil’ diskusi yang cukup alot di inbox fb dengan beberapa orang, juga di grup B2W Semarang whatssapp, memunculkan nama Om Ari Bjo yang memang selama ini berhasil ‘menghidupkan’ Rosatan. (Nama Om Ari Bjo tidak muncul karena waktu rapat dengan Om Poetoet, yang bersangkutan tidak hadir, meski diundang oleh Pak Budcam). Maka, demi mengakomodasi keinginan dari beberapa pihak, diadakanlah rapat pemilihan CALON ketua pada tanggal 24 Februari lalu. Om Ari yang ternyata bersedia dijadikan calon ketua, sangatlah menggembirakan (bagiku pribadi). Nama Dany Saputra ditarik mundur oleh pihak Komselis, Riu sendiri mengundurkan diri di grup WA. Untuk mengurangi ‘ketidaknyamanan’ beberapa pihak yang mungkin merasa diabaikan (misal: dalam grup WA sempat muncul protes, “Ketiga nama (Nana, Riu, Dany) itu muncul dari mana?”, padahal sudah kujelaskan di inbox yang memang terbatas untuk beberapa orang saja, (pihak yang protes tersebut termasuk salah satu yang terlibat di diskusi tertutup lewat inbox fb) maka rapat tanggal 24 Februari lalu itu kita meminta para simpatisan yang datang untuk menyebut nama, untuk mewakili divisi mana, untuk ‘menemani’ calon tunggal yang telah menyatakan kesediaannya, yakni Om Ari.

Honestly, aku sempat was-was juga ketika banyak simpatisan B2W Semarang yang menulis ‘vote Miss Nanna Lee” baik di grup B2W Semarang maupun di status (berupa undangan pemilihan ketua) yang kutulis. Jika aku boleh menyitir pernyataan Dany, “Aku ga mau jadi kepala, maunya jadi jantung komunitas”, aku setuju juga dengan ide itu. J aku mau (tetap) jadi sekretaris komunitas deh, atau apa lah, yang penting bukan ketua. Bahkan hanya jadi anggota biasa saja juga it is very okay for me. Aku akan tetap menjadi Nana si ‘lady bike-to-worker’ gelar yang diberikan oleh Om Adun beberapa tahun lalu. Untunglah, di saat-saat ‘kritis’ itu pihak Komselis dengan gencar mengkampanyekan untuk memilih Om Ari Bjo sebagai ketua. YIPPEEEEE.
Dan seperti yang sudah kutulis secara singkat hari Minggu 3 Maret lalu, pemilihan ketua telah diselenggarakan dengan sukses. Om Ari Bjo mendapatkan 31 suara, aku 11, sedangkan Wawan 1 suara. Praktis, Om Ari Bjo pun didaulat menjadi ketua B2W Semarang. Sang ketua terpilih pun berhak memilih siapa-siapa saja yang akan duduk di jajaran pengurus.

sang ketua terpilih, sedang menyampaikan visi dan misinya untuk kemajuan B2W Semarang

Melalui tulisan laporan – yang dibumbui curhat (LOL) – ini aku mengucapkan terima kasih pada mereka yang telah memercayakan suaranya untukku. Aku akan tetap berbike-to-work, akan tetap menulis untuk kegiatan B2W Semarang (jika sedang mood LOL) maupun kegiatan gowes yang kujalani sebagai salah satu bentuk kampanye (pribadi) untuk memilih healthy lifestyle. Akan tetap bersedia untuk terlibat dengan segala kegiatan yang diselenggarakan oleh B2W Semarang. Juga akan tetap berbikepacking dong, jika partner bikepacking-ku sudah sehat wal afiat. J Aku amat sangat berterima kasih pada pihak-pihak yang telah mengkampanyekan Om Ari Bjo sehingga posisi perolehan suaraku ada di bawah Om Ari. (Horreeeee ...) 

Mari kita dukung Om Ari Bjo menjalankan tugas-tugasnya sebagai ketua B2W Semarang terpilih. Mari kita terus lestarikan segala upaya yang menuju ke pengurangan polusi udara, dan peningkatan hehijauan di sekitar kita.

Salam gowes forever! 

Nana Podungge

N.B: Sejak berbike-to-work bulan Juli 2008, ternyata akhirnya aku pun memilih cinta keduaku (bersepeda) sebagai rutinitas yang tak bisa kuhindari, dan meninggalkan cinta pertama (berenang). Hiksss ...
PT56 21.40 040313

Rabu, Juni 27, 2012

Perempuan Buruh = Budak?

Ini respons yang langsung melintas dalam benakku seusai membaca cerpen "Kebun Teh", salah satu cerpen yang terhimpun dalam KumCer Perempuan Kopi.

Salah satu (atau dua ya?) pembaca yang menghadiri acara bincang-bincang buku Perempuan Kopi pada hari Jumat 22 Juni 2012 telah sempat menyinggung topik cerpen yang satu ini: bahwa perempuan yang hidup di perkebunan dan bekerja menjadi buruh -- atau apa pun posisinya -- tak pernah secara utuh memiliki tubuhnya, dan juga hidupnya. Bahkan, seorang perempuan bisa jadi juga bukan milik suami yang secara legal menikahinya.

Hal ini mengingatkanku ketika membaca novel Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe, yang konon merupakan salah satu trigger pecahnya perang saudara di Amerika Serikat pada tahu 1860 - 1865. Para budak itu sama sekali tak punya hak untuk memiliki hidupnya, hidup mereka adalah milik tuan tanah yang juga memiliki mereka. Terserah para tuan tanah akan melakukan apa pun terhadap hidup para budak itu; misal dijadikan sapi perah untuk terus bekerja dari pagi hingga petang, dijadikan mesin penghasil bayi (agar lebih banyak bayi yang dilahirkan dimana nantinya akan tumbuh menjadi budak yang dimiliki), atau hanya 'sekedar' menjadi budak seks sang tuan tanah.

Meski sangat menentang praktik perbudakan -- dalam bentuk apa pun juga -- aku berpikir yang dilakukan oleh para tuan tanah di Amerika Serikat bagian Selatan waktu itu masih bisa 'dikunyah' akal.

Namun jika ternyata praktik yang tidak jauh beda itu juga dilakukan di perkebunan-perkebunan di Indonesia, dimana para pekerja disana mendapat upah -- yang meski mungkin tidak layak -- akan tetapi predikat mereka bukanlah 'budak', mereka adalah pekerja.

Dewi Nova (DN) menyatakan bahwa ketigabelas cerpen yang dia tulis berdasarkan realitas hidup yang dia amati dalam kehidupannya sehari-hari. Secara lugas DN mengatakan bahwa topik cerpen dalam "Kebun Teh" pun dia ambil dari kenyataan yang pernah dia lihat sendiri.

Seorang peserta bincang-bincang buku "Perempuan Kopi" mengatakan di Kalimantan (atau Sumatra ya?) dia pernah mendapati praktik serupa. Namun lebih 'setara'. Ada suami istri yang posisinya paling tinggi di sebuah perkebunan. Jika sang istri sedang pergi jauh dalam waktu lumayan lama, sang suami meminta anak buahnya untuk bergilir mengirim istri-istri mereka untuk 'menemani'nya. Juga sebaliknya, jika sang suami pergi jauh dalam waktu lama, sang istri akan meminta anak buah suaminya -- yang laki-laki karena kebetulan sang istri ini hetero -- untuk 'menemaninya'.

Ada satu kalimat yang sangat aku sukai dari cerpen "Kebun Teh".

Teringat pesan bapak, jangan pernah melukai tubuh perempuan yang melahirkan anak-anakmu, aku tak pernah membicarakan hal itu dengan istriku, apalagi melukai tubuhnya. (halm. 40)

PT28 15.31 230612

Jumat, Februari 24, 2012

Fight for Your Soul Mate!

Fight for your soul mate!



A movie review of CRAZY, STUPID LOVE

‘A soul mate is someone without whom you cannot live,” some people say. Therefore, after you realize that you have found your soul mate, don’t ever let him or her go. Fight for him or her if you have to do that. Convince him or her that you belong together in order to reach happiness together.

That is the moral message conveyed by a movie entitled CRAZY, STUPID LOVE. This movie is starred by Julianne Moore as Emily, a 44-year old woman who has three children, Hannah (played by Emma Stone) who is going to be a lawyer, Robbie (played by Jonah Bobo), a teenager, and the youngest Molly (played by Joey King). Emily’s husband is Cal, a successful man. Steve Carrel plays well as Cal. And there is another central character, Jacob Palmer played by Ryan Gosling.




Cal met Emily when he was 15 years old and directly perceived that Emily would be his one and only soul mate. Despite his dad’s teasing – to say a girl was his soul mate at a very young age because a teenage boy usually ‘just’ had a crush on a girl and then would date many girls before deciding a girl was a soul mate – Cal married Emily who apparently was two years older. Their first daughter – Hannah – was born when Cal was 17 while Emily 19. Their marriage seemed to run well until one day Emily asked for a divorce after she had sex with another man, one workmate of hers named David Linhagen (played by Kevin Bacon). Emily feeling guilty asked for a divorce although afterwards she explained that she suspected herself to suffer from a mid-life crisis.

Getting married for around 25 years and Cal was the first boy dating her – for both of them their spouse was their first love – obviously made Emily bored. She started to feel that she needed to be alone, not always be together with Cal when doing something. As other people who admit that they suffer from a mid-life crisis, Emily perhaps also was questioning herself whether she was still able to attract men or not. She was ‘satisfied’ when finding that David adored her.

Meanwhile, feeling content with his life, Cal never thought that he needed to stll pay attention to his physical appearance and showed any romanticism he once did when he tried to win Emily’s heart. He even directly lost his spirit to keep Emily as his soul mate. He gave in by directly saying he would sign any document (for divorce) Emily needed and leave the house.

At another side of the story, Robbie – the thirteen year old son of the couple – fell in love with Jessica (played by Analeigh Tipton), his baby sitter and as his dad at a very young age, Robbie was also very sure that Jessica was his soul mate. On the contrary, Jessica secretly had a crush on Cal! ^__^


Another central character is Jacob Palmer. He ‘helped’ Cal to find back his confidence to face women, by trying to ‘change’ Cal to be like himself – a so-called womanizer. However, later on Jacob turned out to envy Cal’s steady life by only having one woman in his life after meeting Hannah, Cal’s the first child. For sure, Cal disapproved Hannah’s relationship with Jacob due to Jacob’s ‘reputation’ as a womanizer and Cal saw his ‘action’ with his very own eyes.

How does the story end?

Watch it! It is very entertaining, trust me. :)

PT28 17.06 23/02/12


Selasa, Februari 14, 2012

People's Power in Sydney White

 
Sydney dengan ketujuh teman anehnya penghuni the Vortex

A review based on a movie entitled SYDNEY WHITE

Sydney White adalah tokoh sentral dalam film yang berjudul sama: SYDNEY WHITE. Amanda Bynes, si pemeran tokoh Viola yang tomboy dalam film SHE’S THE MAN, berperan sebagai Sydney White yang kebetulan juga memiliki karakter yang tak jauh beda dengan Viola. Yang sedikit berbeda adalah, Sydney dikisahkan dibesarkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai ‘plumber’ beserta lingkungannya, para pekerja konstruksi yang mayoritas laki-laki, sehingga sangat bisa dimaklumi jika dia memiliki sifat tomboy. Sedangkan dalam film SHE’S THE MAN tidak dijelaskan background apa dan mengapa yang membuat Voila memiliki sifat tomboy.

Dari segi akting, dalam film SYDNEY WHITE ini, tidak banyak perbedaan akting Amanda Bynes dikarenakan dia memerankan tokoh yang mirip dengan tokoh Viola dalam SHE’S THE MAN. Meskipun begitu, kisah yang diusung dalam film Sydney White lumayan menarik: bagaimana para ‘dorks’ alias orang aneh yang tidak mengikuti ‘the mainstream’ jenis-jenis mahasiswa di universitas memiliki power yang luar biasa setelah berkumpul untuk meruntuhkan status quo yang ada.

Alkisah di sebuah universitas yang bernama Southern Atlantic University (SAU), Sydney adalah seorang mahasiswa baru. Di kampus yang sama dulu Sydney's late mom juga menimba ilmu sekaligus mendapatkan teman-teman for life dari bergabung dengan 'a sorority sister group' yang bernama the Kappa Phi Nu sorority. Di surat wasiat yang ditulis oleh ibunya sebelum meninggal, Sydney diharapkan mengikuti jejaknya untuk bergabung dengan Kappa Phi Nu. Di zaman ibunya masih kuliah di SAU, KPN adalah sebuah sorority group dimana para anggotanya diajarkan untuk menyuarakan aspirasi mereka dan mengekspresikan karakter mereka sendiri-sendiri, tanpa merasa perlu 'terancam' untuk menjadi 'berbeda' dari yang lain.

 
Sydney dengan Rachel

Akan tetapi, di bawah kepresidenan Rachel Witchburn, KPN mejadi sebuah kelompok yang berusaha membuat semua anggotanya untuk tunduk di bawah kuasa Rachel dan selalu menjadi apa yang diinginkan Rachel. Salah satunya adalah: anggota KPN tidak boleh gemuk. Bahkan di bawah kepemimpinan Rachel, SAU seperti dikuasai oleh Rachel, misalnya dengan salah satu rencananya untuk menghancurkan "The Vortex" kediaman beberapa mahasiswa yang dianggap 'aneh' di lingkungan kampus karena 'the Vortex' dianggap tak layak berada di lingkungan SAU.

Sydney berhasil menyingkirkan Rachel dari kursi  'Student Body President' setelah mampu mengumpulkan orang-orang 'aneh' alias dorks untuk menerima kenyataan bahwa 'being dork is being different and that is ok' dan memberikan suara mereka kepada Sydney. Mereka dengan suka rela melakukannya karena selama ini mereka cenderung apatis bila ada pemilihan ketua Dewan Mahasiswa.

"Being different -- or dork -- from the mainstream is acceptable." alias "Being minority doesn't necessarily mean you have no choice." Ini adalah pesan menarik yang ingin disampaikan film yang bertema komedi ini.

Sydney White film remaja yang lumayan menghibur dari pada bosen sendirian. :)

PT28 16.48 14/02/12

P.S.:
mumpung masih berdekatan waktunya, aku menunggu people's power untuk menyingkirkan FPI dari bumi pertiwi. (mekso banget yak? hahahaha)

Kamis, April 28, 2011

Dugderan


"Jadilah orang Cina!" adalah judul sebuah cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen PETUALANGAN CELANA DALAM karangan Nugroho Suksmanto. Latar tempatnya ada di Semarang, terutama di daerah Pendrikan dan Magersari, dimana di perbatasan antara kedua daerah inilah sang pengarang lahir.


Cerpen diawali dengan paragraf berikut ini:

"Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha, aku harus jadi orang "Cina". Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka."

warak, icon kota Semarang
gambar diambil dari sini


Dalam kisah ini, Nugroho menceritakan pengalaman seorang anak laki-laki berusia awal belasan tahun sebelum bulan Ramadhan datang. Beberapa minggu sebelum Ramadhan, para penghuni Magersari sibuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengumpulkan dalam rangka merayakan hari Lebaran, Hari Raya terbesar kaum Muslim. Telah menjadi tradisi dalam merayakan Lebaran dengan mengenakan baju baru, pergi keliling kota, makan dan minum sesuka hati. Untuk melakukan ini semua tentu orang butuh uang yang tidak sedikit.

Kegiatan apa sajakah yang dilakukan orang-orang Magersari untuk mengumpulkan uang? Mereka membuat mainan seperti warak ngendog, celengan (tabungan yang terbuat dari tanah liat dalam berbagai bentuk), membuat kue-kue, menjahit pakaian dan kemudian menjualnya pada event DUGDER. Sementara itu, bagi sebagian anak-anak nakal, mereka akan mencoba berjudi, misal main 'dadu kopyok', 'udar-bangkol, 'cap-sa'.

ZAMAN 'MODERN'

Sekarang, meski DUGDERAN masih diselenggarakan oleh pemerintah kota Semarang, 'grengseng'nya tak lagi seheboh seperti yang digambarkan oleh Nugroho Suksmanto dalam cerpennya ini. Orang-orang Semarang tak lagi melakukan hal yang sama dalam mengumpulkan uang untuk merayakan Lebaran -- misal membuat mainan, menerima jahitan pakaian -- mungkin karena sekarang para pegawai telah menerima THR dari tempat kerja mereka masing-masing. Mereka yang memang dalam kehidupan sehari-hari mencari uang dengan membuat mainan, menerima jahitan pakaian atau membuat kue-kue akan meneruskan 'pekerjaan' mereka ini meski tentu menjelang Lebaran omzet mereka akan meningkat pesat. Namun semua ini tak lagi langsung dihubungkan dengan tradisi DUGDERAN.

Anak-anak 'kota' dari kalangan menengah ke atas pun tak lagi tertarik untuk mengunjungi DUGDERAN ini. Konon kebanyakan para penjual yang 'mremo' berjualan berasal dari kota-kota lain di daerah Jawa Tengah. Tahun 2007 lalu terakhir kali aku menyambangi DUGDERAN yang waktu itu diselenggarakan di daerah POLDER Tawang, ada seorang penjual mainan mengaku datang dari Wonogiri. Setiap tahun dia memang khusus datang ke Semarang untuk ikutan mremo dalam tradisi DUGDERAN. Pada kesempatan lain mungkin dia akan berkunjung ke kota lain untuk berjualan mainan yang sama.

Btw, DUGDERAN datangnya masih lama yak? :)

GL7 14.14 270411

P.S.:
Sebagian merupakan terjemahan dari postinganku di Be a Chinaman!
Untuk mengetahui tentang tradisi 'dugderan' lebih dalam lagi, klik link ini.
Tulisanku tentang Jawa, Cina dan Arab klik link ini.

Kamis, Maret 03, 2011

Chinese foot-binding

From my post in this topic at Chinese foot-binding versus European corset wearing I got one very intriguing, though somewhat shocking link here

A Taiwanese doctor -- the so-called respected expert in foot-binding -- was interviewed about this in-fact-secretly-hidden fact in Chinese culture. He -- and perhaps also with many other contemporary men at his age or older -- found bound foot the most important sex appeal in women; even a lot more sexier than a woman's genital organ. He has thousand pictures and knick-knack of this stuff in his house. In short, he said that a woman's bound feet were so erotic that she would cover them in order that public would not be able to see them. A woman would even choose to be photographed naked but still wear her tiny feet. Men in his era would very much be aroused only to see a tiny shoe, and not so much when seeing naked breast or vagina.

For this reason then many mothers would rather make their daughters cry when binding their feet to get a lotus shape in order that they would not see their daughters cry in the future because they would not be wanted to be men's wives. As a result, since women could not do many household chores, men -- from not so rich families -- would work like slaves as long as they had wives with lotus-shaped feet.

For further reading, just click the link here .

GL7 15.18 030311

Selasa, Februari 22, 2011

Sang A




kala kau senantiasa menjelma bayang-bayang di sepanjang jalan yang kulalui pada saat fajar menyingsing hingga mentari mulai menyembul di ufuk timur, sampai di rimbang petang menyapa dan sinar rembulan pucat pasi menggantikan sang surya ditemani kelap kelip gemintang di langit kelam ... bahkan saat aku ingin mengabaikan hadirmu di tiap hembusan nafasku, tiupan angin menyampaikan sapa galaumu padaku ...

 

 

tak juga lelah kah engkau

padahal telah sekian waktu tak lagi kumendiktemu

memohonmu lakukan sesuatu

tuk masa depanku

atau pun masa kiniku

tak!

:

tak akankah ada perpisahan antara kita?

 

GL7 11.57 220211