Cari

Rabu, Juni 11, 2008

What is an Indonesian?

Tatkala mengikuti acara BEDAH BUKU novel PUTRI CINA karangan Sindhunata, aku terpikat pada ide John A. Titaley, salah satu pemakalah, mengenai REDEFINING INDONESIA. Tatkala Soekarno dan M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa kita yang kemudian diberi nama INDONESIA, seharusnya sejak itulah kita tak lagi mengkotak-kotakkan diri sebagai “Orang Jawa”, “Orang Batak”, “Orang (keturunan) Cina”, “Orang Ambon”, dll. Karena kita semua adalah ‘orang baru’, bangsa baru, yakni bangsa Indonesia.
“What is an Indonesian?” tanya Titaley.
“Find the answer in our Constitution, UUD 1945. Para ‘founding fathers’ yang termasuk dalam lembaga BPUPKI pada waktu itu telah memberikan definisi bangsa Indonesia yang tertulis dalam UUD 1945. Mereka adalah orang-orang Nasionalis sejati, yang berpikir dalam kerangka nasional, bukan kedaerahan, golongan, apalagi berdasarkan agama tertentu. Namun sayangnya, para ‘cerdik cendikia’ setelah era ‘founding fathers” kita, yang kemudian menuliskan beberapa bagian di amandemen, justru malah bersifat ekslusif kedaerahan, ataupun keagamaan, membuat masalah perbedaan menjadi runcing. Akibatnya, kerusuhan akibat SARA pun terjadi dimana-mana.”
“Seandainya kita benar-benar mendirikan bangsa INDONESIA, sesuai seperti yang didefinisikan oleh para pendiri bangsa kita itu, tidaklah mustahil kalau kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh SARA tidak akan terjadi lagi. Juga seperti yang digambarkan di dalam novel PUTRI CINA.”
Saat mendengarkan penjelasan Titaley, aku teringat apa yang ditulis oleh St. Jean de Crevecoeur (1735-1813) dalam eseinya yang berjudul “What is an American?” Berikut ini aku kutipkan sebagian kecil dari tulisan Crevecoeur:

What is the American, this new man? He is either a European, or the descendant of a European, hence that strange mixture of blood, which you will find in no other country. I could point out to you a family whose grandfather was an Englishman, whose wife was Dutch, whose son married a French woman, and whose recent four sons have now four wives of different nations. He is an American, who, leaving behind him all his ancient prejudices and manners, receives new ones from the new mode of life he has embraced, the new government he obeys, and the new rank he holds.
(The Norton Anthology of American Literature, 3rd edition, 1989, page 561)


Buku UUD 1945 yang kumiliki waktu aku sedang sekolah mungkin telah hilang dibawa banjir bandang yang melanda daerah tempat tinggalku pada bulan Januari 1990, sehingga aku tidak bisa mengecek apa yang dikatakan oleh Titaley, untuk mencari tahu definisi bangsa Indonesia menurut para pendiri bangsa kita.
Namun, seandainya ada seseorang yang menulis “What is an Indonesian?”, dengan mengambil ide yang ditulis oleh Crevecoeur, yang mengusung ide ‘nasionalisme’ dan bukan ‘kedaerahan’, that would be great.

“Orang Indonesia mencakup segala etnis dan agama yang ada di bumi Nusantara. Sang ayah mungkin adalah seseorang yang berdarah Manado (yang mungkin saja memiliki darah Belanda di tubuhnya) beragama Kristen, yang menikah dengan seorang perempuan Jawa (Islam Kejawen). Mereka memiliki tujuh orang anak yang menikah dengan orang Batak (Katolik), Sunda (Islam), Papua (Kristen), Bali (Hindu), keturunan Cina yang tinggal di Kalimantan (Buddha/Kong Hu Chu), keturunan Arab (Islam), dan Ambon (Kristen/Katolik).”


Ketika semua perbedaan itu hadir menjadi satu, dalam sebuah keluarga besar yang harmonis, saling menghormati, menyayangi, menerima apa adanya, maka kita tak perlu lagi dihantui akan terjadi kerusuhan atau tindakan sewenang-wenang karena merasa lebih baik, apalagi hanya karena merasa diri merupakan bagian dari mayoritas.
PT56 22.30 100608

Selasa, Juni 03, 2008

What is in a name?

 


Referring to the previous post I entitled “Sepuluh Tahun Reformasi”, frankly speaking when rereading it I felt a bit worried if my blog visitors (particularly those who do not have time to read my thorough posts in some blogs I have) think that I am a racist,. Especially the last part: the moral lesson of Sugiharti Halim’s experience. Just like what this particular character expected to have “Julianne” as her name, perhaps Chinese Indonesian would find less offensive experiences if they had ‘western’ names.


Of course everyone is free to pick any name they like most, not limited to what ethnic group they come from. I do appreciate any name and I usually call my friends/students their nicks they feel most comfortable. For example: this semester I have a female student who introduced herself as ‘Ninik Wijayanti’ at the beginning of our class. However, in the attendance list of the mid-term test several weeks ago, her name was written “Liem Kiong Nio”. I directly recognized it was her name since I found the names of the other Chinese Indonesian students in my class but hers. I didn’t ask her about that though. I was afraid if that would make her feel uncomfortable. Besides, it was not a crucial case anyway. (FYI, it is a small class, only consists of 10 students.)


I myself have a nick that is absolutely more popular than my real name printed in the birth certificate. When I was at school, I really did not like this name taken from Arabic. I thought I wouldn’t mind at all if my name were just NANA. In my childhood, I was embarrassed too if my schoolmates knew my family name PODUNGGE. To Javanese, PODUNGGE is absolutely a weird name. Many of them misspelled and mispronounced it. I did not want to be weird. I wanted to be the same as the others who did not have any weird family name. 


In the reality, many of my classmates when I was at college didn’t know my real name. Neither do most of my workmates now. Until now I still feel uncomfortable when people call me my real name because it gives me an impression that they keep a distance from me. Or they are acting too formally that I don’t like.


However coming back to what was stated in the short movie SUGIHARTI HALIM, what is in a name? Whether my name is NANA PODUNGGE or anything else, I am still me, my identity is still the same: a woman who claims herself as a feminist, secular, a single parent of my only daughter, loves reading, writing, blogging, swimming, listening to music. Nothing changes.


I am of opinion that it is high time for people to appreciate other people’s rights to choose any name they want so that there will be no more offensive and nosy questions experienced by Sugiharti Halim, “What is your real name?” or “What is your Chinese name?”


PT56 22.30 020608

Senin, Juni 02, 2008

Sepuluh Tahun Reformasi

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, RUMAH SENI Semarang yang berlokasi di Kampung Jambe nomor 280 mengadakan pemutaran sepuluh film pendek yang berhubungan dengan tragedi Mei 1998, pada tanggal 25-27 Mei 2008 yang lalu.
Kesepuluh film pendek itu yakni:
1. Dimana Saya? Karya Anggun Priambodo
2. Sugiharti Halim, Karya Ariani Darmawan
3. Trip to the Wound, Karya Edwin
4. Bertemu Jen, Karya Hafiz
5. Huan Chen Guang, Karya Ifa Isfansyah
6. A Letter of Unprotected Memories, Karya Lucky Kuswandi
7. Kemarin, Karya Otty Widasari
8. Yang Belum Usai, Ucu Agustin
9. Sekolah Kami, Hidup Kami, Karya Steven Pillar Setiabudi
10. Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran, Karya Wisnu Suryapratama

Untuk mengetahui lebih lanjut dari proyek ini, para pembaca blog bisa mengunjungi blog http://9808films.wordpress.com atau hubungi proyek.payung@gmail.com

Dari kesepuluh film pendek tersebut, satu film yang paling menarik perhatianku adalah film yang berjudul SUGIHARTI HALIM. Sebelum film mulai, ada catatan seperti berikut ini:
Keppress nomor 127/U/Kep/12/1966 mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia. (Contoh: Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito, dll.)
Tatkala menonton film ini, aku ingat seorang rekan kerja yang kukenal di tahun 1995. Dia menikah dengan seorang laki-laki Cina Muslim. Tatkala anak pertamanya lahir, mertuanya memberi nama Cina untuk cucu pertama mereka, meskipun temanku dan suaminya ini telah memberikan sebuah nama. Dia merasa aneh, namun suaminya memintanya untuk menerima nama Cina itu, meskipun di akta kelahiran yang tertulis adalah ‘nama Indonesia’ si anak.
Aku pun yang mendengar cerita tersebut merasa hal itu aneh. Mengapa seseorang harus memiliki dua nama? Mengapa mertua temanku itu perlu memberi ‘nama Cina’ kepada sang cucu? Apakah ‘nama Indonesia’ yang diberikan oleh sang orang tua tidak cukup?
Konon, kata orang tuaku, orang-orang di Gorontalo, tanah kelahiran mereka, biasa memberikan ‘nick’ kepada anak-anak mereka, maupun sanak saudara. Namun ‘nick’ hanyalah sekedar nama panggilan, dan bukan ‘nama resmi’. Ada seorang Om yang kukenal di masa kecilku yang disebut oleh orang tuaku sebagai “Pahaya” alias “Papa Haya” yang artinya “Papa Tinggi” karena orangnya tinggi. Walhasil, aku pun mengira ‘Pahaya’ adalah namanya. Ketika seorang teman SD mengenali ‘Pahaya’ di album foto keluarga, dan bertanya kepadaku, “Eh, Na, orang ini kan suami bulikku? Namanya Abdurrahman kan? Wah, ternyata kita bersaudara ya?” Dengan lugu, aku mengatakan kepadanya, “Bukan. Namanya PAHAYA.” My Mom yang kemudian menjelaskan kepadaku bahwa nama Om-ku itu adalah Abdurrahman Podungge, sedangkan PAHAYA hanyalah nama panggilan belaka. LOL.
Kembali ke ‘nama Cina’. Mungkin aku adalah salah satu korban kolonialisasi yang parah, sehingga beranggapan bahwa nama yang berbau Barat lebih enak terdengar di telinga, daripada nama Cina. Aku lebih menyukai nama ‘Andy Lau’ daripada ‘Liu Te Hua’, atau ‘Aaron Kwok’ daripada ‘Kwok Fu Shing’ alias ‘Kuo Fu Cheng’. Bukankah ‘Andy’ ataupun ‘Aaron’ jauh lebih indah didengar (menurut kupingku, sang korban kolonialisasi) dan lebih mudah diucapkan daripada ‘Te Hua’ maupun ‘Fu Shing’ alias ‘Fu Cheng’? (FYI, I loved Andy Lau in his legendary series ‘Return of the Condor Heroes’, while my youngest sister adored Aaron Kwok.) Lidahku tidak terbiasa mengucapkan nama Cina, nampaknya.
Mungkin aku terlalu menyederhanakan persoalan. Mungkin ‘nama Cina’ bagi orang-orang keturunan Cina memiliki makna yang lebih mendalam bagi mereka, atau, menunjukkan identitas mereka, bahwa mereka diakui.
Kembali ke film SUGIHARTI HALIM. Nampaknya perempuan ini dilahirkan tatkala Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 baru saja dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga orang tuanya—yang mungkin memiliki pengalaman buruk berkenaan dengan ‘nama Cina’—hanya memberi satu nama saja kepada si bayi, nama yang sangat berbau Jawa. (SUGIH berarti kaya, ARTI mungkin dari kata ARTO alias HARTA. Namun karena ARTO memiliki gender laki-laki, maka ARTO pun diganti menjadi ARTI agar berjenis kelamin perempuan. Orang tua Sugiharti mengharapkan agar dia tumbuh menjadi seseorang yang memiliki harta yang banyak.) Sugiharti Halim pun tidak memiliki memiliki nick khusus.
Walhasil, dia pun sering mendapati ekspresi wajah heran dari orang-orang yang baru saja dia temui, dan mendengarnya menyebut namanya, “Sugiharti Halim”. Dia juga bosan ditanyai, “Nama aslimu siapa?” Di salah satu adegan yang bisa jadi lucu, namun juga menyedihkan, adalah tatkala dia sedang mengurus passport.
Petugas: “Nama?”
SH: “Sugiharti Halim.”
Sang petugas pun langsung mendongak, memandang wajah Cinanya dengan seksama, heran, sembari bertanya lagi.
Petugas: “Nama asli?”
SH: “Sugiharti Halim, pak.”
Petugas: “Siapa nama Cinamu?”
SH: “Tidak punya, pak.” Sambil takut-takut.
Sang petugas nampak tidak percaya, sedangkan Sugiharti Halim nampak tak berdaya.
Karena begitu seringnya dia mendapatkan ‘kasus’ yang baginya menyebalkan, berkenaan dengan namanya yang sangat berbau Jawa, Sugiharti Halim pun berangan-angan untuk memiliki nama lain. “Julianne” katanya, sambil menerawang.
Si lawan bicara yang mendengarkan Sugiharti Halim curhat pun berkata,
“Kata Shakespeare, ‘what’s in a name?’ Siapa pun namamu, kamu tetaplah kamu, dengan kepribadianmu yang sekarang, dengan identitas yang melekat padamu. Sugiharti ... Julianne ... apa bedanya?”
Namun mungkin paling tidak, seorang Sugiharti Halim tidak akan sesering itu memandang wajah-wajah heran tatkala orang-orang mendengar namanya.
Pesan moral: kalau tidak ingin membuat anak-anak mereka mengalami masalah seperti Sugiharti Halim dalam film ini, mungkin sebaiknya orang-orang berwajah Oriental memberi nama anak-anak mereka yang berbau ‘Barat’, seperti Andy, Rudy, Audy, atau Stephani, Irene, Catherine.
PT56 20.55 010608

Ketoprak Putri Cina



Acara puncak untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun di Semarang adalah pertujukan KETOPRAK PUTRI CINA, yang diselenggarakan di tempat terbuka, di atas replika kapal Cheng Ho, yang terletak di seberang Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Semarang. Gang Lombok terletak tidak jauh dari Gang Warung, lokasi penyelenggaraan WAROENG SEMAWIS tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Gang Lombok dan Gang Warung terletak di kawasan Pecinan kota Semarang.


Acara pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dibuka oleh dua orang MC, yakni Bayu Krisna dan Citra, sekitar pukul 19.00 setelah walikota Sukawi Sutarip beserta istrinya datang ke lokasi, dibarengi dengan beberapa pejabat lain, seperti Bupati Kudus, HM Tamzil, mantan rektor UNDIP, Eko Budiharjo, dan beberapa budayawan lokal, seperti Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.


Acara dibuka dengan penampilan paduan suara dan tari RAMPAK oleh para siswa SD dan SMP dari TPA (Tempat Pendidikan Anak) Khong Kauw Hwee “Kuncup Melati”, sebuah yayasan yang menawarkan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. 


Acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Sinto Sukawi. Sinto membacakan puisi yang dia tulis sendiri, tentang kecintaannya pada kota kelahirannya, Semarang. Kemudian sambutan oleh ketua panitia Harjanto Halim, dua sambutan yang lain, yakni Wali Kota Semarang, dan Gubernur Jawa Tengah, yang dibacakan oleh seseorang yang mewakili Ali Mufiz karena pada waktu itu, beliau belum hadir. 


Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi. Pertama Beno Siang Pamungkas. Penampilan Beno diikuti dengan penampilan Eko Budiharjo, membawakan puisi yang dia beri judul PESAN NENEK MOYANG.

Tempoe doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti “Tiji Tibeh”
Maksudnya, Mukti siji Mukti kabeh, Mati siji Mati kabeh,
La kok sekarang, kendati masih tetap Tiji Tibeh
Tapi maknyanya terpeleset jadi Mukti Siji Mati kabeh

Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti
Sama rata sama rasa
Maksudnya jelas, bersama-sama merasakan kesejahteraan
La kok sekarang sim sala bim
Disulap jadi sama ratap sama tangis

Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti
Panca Sila
Yang kita semua sudah hafal mengucapkannya
La kok sekarang, mak jegagik
Dipeleset-tafsirkan oleh orang Jawa:
Siji, Gusti Allah ora ana kancane
Loro, Aja kejem-kejem aja galak-galak
Telu, Mangan ora mangan waton kumpul
Papat, Yen ana rembug mbok dirembug wae
Lima, Padha mlarate padha kerene


Sudah, sudah, sudah, yang sudah ya sudah
Kita bangkit-kembalikan saja Proklamasi
Dalam versi Millennium a la Hamid Jabbar:
“Hal-hal mengenai flu burung, sapi gila,
lumpuh layu, nasi aking, banjir, longsor,
gembpa, kekeringan, tsunami, lumpur panas
dan lain-lain yang tidak ada habis-habisnya
akan diselesaikan dengan cara seksama
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
Semarang 24 Mei 2008
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh Siapa Saja


Djawahir Muhammad membawakan puisinya yang berjudul DUA BUAH JALAN, PADA HARI KEBANGKITAN. Berhubung begitu panjangnya puisi ini, di bawah ini akan kutuliskan di bawah ini tiga bait, yang terdapat pada bagian keempat. (Djawahir membagi puisinya ini menjadi lima bagian).

Sahabatku, kau sebut ini negeri yang pancasilais, multikultural dan demokratis,
Sedang kamu lihat mata manusia memerah saga,
Menyulutkan api permusuhan dimana-mana:
Bakuhantam polisi dan demonstran
saling pukul pkl, tibum dan satpol keamanan
Antar saudara berbunuhan, berebut remah, sesuap nasi, sepotong roti
Remaja putra putri yang mengidap narkoba, menggadaikan kesuciannya sendiri
Negarawan dan politisi yang terlibat korpusi, mengidap hipokrisi,
Bapak ibu guru mencuri-curi soal ujiannya sendiri?!

Sahabatku, tidakkah kita malu kita menyebut negeri kita
Yang dibangkitkan oleh spirit Kebangkitan Nasional seratus tahun lamanya
Sebagai negara yang berpancasila,
Jika mulut kaum miskin masih juga menjerit, menguak angkasa,
Jika antarsuku masih saling mengasah kapak perangnya, jika antarpemuja tuhan
Menyebut diri paling beriman, menista umat berbeda keyakinan?

O, Sahabat, rasanya aku ingin percaya pada kredo Rendra
Bahwa bencana dan keberuntungan adalah sama saja.


Timur Sinar Suprabana membawakan puisinya yang berjudul “Sajak mengeja kahanan” yang tak kalah panjang dari puisi Djawahir. Di bawah ini aku tuliskan bait yang ketiga:

Negeri macam apa ini, Saudara?
Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?
Jika presidennya menangis ketika menonton film ayat-ayat cinta
Tapi saat berkunjung ke lokasi super luberan lumpur lapindo
Ia, presiden kita itu,
Unjal ambegkanpun tidak!
Jelaskan kepadaku: negeri macam apa ini?
Jika ketika banjir, tanah longsor dan bahkan angin ribut bercampur petir menjadi gendruwo di tiap tlatah tumpah darah
Ia, presiden kita itu,
Ribet upyek nyanyi-nyanyi bikin album lagu
Sing ketika dirilis jebul ora payu.
Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?
Ketika jumlah pengangguran terus bertambah
Dan jumlah keluarga miskin makin banyak,
Ketika harga-harga tak henti naik berlipat
Dan bahkan tahu serta tempe tak lagi bisa terbeli oleh rakyat
Wakil presiden dari presiden kita itu
Sembari cengengesan memapar angka-angka
Yang kita patut diyakini sebagai indikator
Bahwa keadaan rakyat, keadaan masyarakat dan bangsa ini
Dari waktu ke waktu terus membaik. “ke depan
Akan terus kita tingkatkan. Ya to.. , ya to...?” katanya
Melalui konperensi pers tiap seusai jum’atan.

Aku tak tahu.
Aku yang picek
Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang buta?
Aku tak tahu
Aku yang terlanjur tak bisa percaya angka-angka
Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang sedang menebar dusta?
Sebab angka-angka tak pernah membuktikan apa-apa



Menjelang pukul 21.00, tepat ketika Ali Mufiz beserta istri memasuki lokasi, acara utama, pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dimulai. Untuk mengawalinya, kelompok tari PHOENIX dari kota Semarang membawakan tarian DEWI KUAN IM SERIBU TANGAN.

Secara ringkas, ide utama ketoprak PUTRI CINA (yang mengambil ide utama dari novel PUTRI CINA karangan Sindhunata) adalah tentang keserakahan seorang penguasa kerajaan Pedang Kemulan (Prabu Amurco Sabdo) dan ketidakmampuannya memimpin kerajaannya tersebut. Korupsi, kolusi, dan nepotisme tak lekang dari masa pemerintahannya, sehingga rakyat pun menderita, dan lama kelamaan menuntut Prabu Amurco Sabdo untuk menurunkan diri. 


Sebelum akhirnya memaksa Prabu Amurco Sabdo, Patih Wrehonegoro telah berhasil mempengaruhi sang Prabu untuk menjadikan kaum keturunan Cina sebagai kambing hitam.


“Mudah, Sinuwun. Sekali lagi mudah! Alihkan saja segala kekerasan yang mau pecah itukepada orang-orang Cina. Setelah itu, Sinuwun akan mengendalikan keadaan dengan lebih mudah.”


Senapati Gurdo Paksi yang beristrikan Giok Tien, seorang keturunan Cina, tentu saja tidak setuju.
“Ya ampun, Sinuwun. Jangan! ... Sinuwun, apa salah mereka, sampai Sinuwun tega mengorbankan mereka? Sementara ini tidakkah Sinuwun sendiri mengharapkan harta mereka untuk makin berkuasa. Sinuwun tidak memberi kesempatan pada rakyat untuk berusaha. Sinuwun malah membiarkan orang-orang Cina untuk makin mengembangkan usaha mereka. Apakah Sinuwun tidak punya hati lagi?”
Karena Senapati Gurdo Paksi tidak menyetujui usul itu, dia pun memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya, dan Prabu Amurco Sabdo memilih Tumenggung Joyo Sumengah, sang tukang suap, untuk mengisi jabatan tersebut.


Rakyat yang telah disulut kemarahannya, dan termakan hasutan Wrehonegoro dan Tumenggung Joyo Sumengah pun melakukan pembasmian ke seluruh orang-orang keturunan Cina, yang akhirnya pun juga memakan korban rakyat yang bukan keturunan Cina. Gurdo Paksi dan istrinya Giok Tien pun meninggal dalam huru hara tersebut.

Cerita memang berakhir tragis (seperti kata Sindhunata sang pengarang, banyak orang Cina yang menjadi korban pada kerusuhan bulan Mei 1998, sehingga dia tidak mengakhiri novelnya dengan happy ending). Namun skenario Ketoprak Putri Cina sendiri memadukan antara dagelan dan kesedihan sehingga penonton pun dibuat tertawa terpingkal-pingkal di paruh awal pertunjukan, sedangkan di paruh akhir larut dibawa kesedihan tragedi yang disuguhkan.


Kehadiran Sukawi Sutarip dan HM Tamzil sebagai calon gubernur Jawa Tengah pun dimanfaatkan oleh para pemain ketoprak untuk dikritik. “Zaman dahulu kala, orang-orang sering takut kalau berjalan melewati pohon-pohon besar, karena mereka percaya bahwa banyak ‘penunggu’ di pohon-pohon besar tersebut. Mereka sering mengucapkan ‘Nuwun sewu...” tatkala melewati pohon-pohon besar. Namun sekarang pohon-pohon kecil juga ada yang menunggu. Lihat saja, di sana banyak tertempel poster-poster para calon gubernur.” 


Di Semarang, mungkin juga di seluruh daerah Jawa Tengah, para calon gubernur memasang poster-poster mereka untuk kampanye di pohon-pohon, sehingga mereka pun dituding sebagai tidak mencintai lingkungan karena justru merusaknya.


Jika penampilan Ketoprak Putri Cina diawali pertunjukan tari DEWI KUAN IM SERIBU TANGAN, di akhir pertunjukan, kelompok tari PHOENIX membawakan tari KUPU KUPU sebagai lambang menyatunya Gurdo Paksi dan Giok Tien di ‘dunia sana’. Sindhunata ‘mengadopsi’ akhir cerita Sampek-Engtay, pasangan kekasih yang tidak bisa menyatukan cintanya di dunia yang fana ini karena perbedaan kelas sosial.


PT56 17.08 010608

Selasa, Mei 27, 2008

Bedah Buku Putri Cina

Bedah buku PUTRI CINA menghadirkan empat pembicara utama:
1. Widjajanti Dharmowijono, Ketua Jurusan Bahasa Belanda Akademi Bahasa “17” membawakan makalah “Quo Vadis, Romo? Pengukuhan Stereotip dalam Novel Putri Cina”
2. Abdul Djamil, Rektor IAIN Walisongo Semarang, membawakan makalah “Belajar dari Kisah Kemanusiaan Putri Cina, Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional”
3. John A. Titaley, pengajar UKSW Salatiga, memaparkan makalah “Putri Cina: Jeritan Kemanusiaan si Kuning Manis”
4. Budi Widianarko, seorang Guru Besar di Unika Soegijapranata, memaparkan makalahnya yang berjudul “Sejarah Berulang, Tiadakah Penangkalnya? Melampaui “Teori” Kambing Hitam
Selain keempat orang yang diberi kehormatan untuk melakukan pembedahan atas novel PUTRI CINA, Sindhunata sebagai pengarang tentu saja dihadirkan dalam acara bedah buku ini. Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka bertindak sebagai moderator.
Berikut ini akan kubahas inti utama makalah masing-masing pembicara, yang kuserap dari acara bedah buku tersebut.

Widjajanti Dharmowijono
Dalam riset yang dia lakukan untuk disertasi doktoralnya, Widjajanti membaca lebih dari 250 novel karya pengarang Belanda zaman kolonial, yang mencakup periode 1880-1940, novel-novel yang sedikit banyak memberikan imaji maupun representasi orang-orang Cina yang ada di bumi Nusantara. Widjajanti menemukan ‘pola’ imaji dan representasi yang sama pada dekade-dekade tertentu. Sebelum memasuki abad ke 20, novel-novel tersebut memberikan stereotip orang-orang Cina yang sangat negatif sebagai tuan tanah maupun pengusaha yang kaya raya karena menghisap darah dan tenaga orang-orang ‘pribumi’ (baca => non Cina) sekaligus berkecimpung di bidang yang negatif, misal bandar judi maupun penyedia/distributor candu.
Setelah melampaui tahun 1900, imaji maupun representasi kaum Cina berangsur-angsur membaik. Memasuki tahun 1940, lima tahun menjelang Soekarno memproklamasikan negara yang diberi nama “Indonesia”, gambaran kaum Cina dalam beberapa novel sangatlah baik.
Dari judul makalah yang dia tulis, satu pertanyaan yang dikemukakan oleh Widjajanti kepada Sindhunata, akan dibawa kemana para pembaca PUTRI CINA? Jika novel-novel yang ditulis pada zaman kolonial tersebut (terutama setelah memasuki abad ke-20) telah menyajikan imaji dan representasi kaum Cina yang baik, mengapa Sindhunata memaparkan kembali stereotip yang amat negatif dalam novelnya yang ditulis di abad ke-21?
Ada satu pertanyaan yang mengusikku mendengarkan pemaparan Widjajanti ini (sayangnya waktu yang tidak bersahabat membuatku tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan pada saat bedah buku tersebut). Yang memberikan imaji serta presentasi negatif dan kemudian mengubahnya menjadi positif adalah para novelis Belanda. Seusai kemerdekaan bangsa Indonesia, bagaimanakah orang-orang Indonesia sendiri memandang orang-orang keturunan Cina ini?
Rezim Orde Baru kembali menegatifkan imaji tersebut?
Jika pemerintah kolonial Hindia Belanda memandang kekuatan kaum Cina sebelum abad ke-20 itu sebagai suatu ancaman, sehingga mereka memberikan stigma negatif, agar kaum ‘pribumi’ membenci ‘kaum pendatang’ ini, (paling tidak melalui novel-novel yang terbit waktu itu), apa alasan rezim Orde Baru untuk melakukan hal yang sama? Agar para warga negara dari etnis yang berbeda ini saling membunuh, dan melupakan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah waktu itu?

John A. Titaley
Titaley memulai presentasinya dengan mengemukakan pertanyaannya sendiri tentang mengapa dia dipilih oleh panitia untuk membedah novel PUTRI CINA padahal dia tidak memiliki latar belakang sastra. Dia memperkirakan apakah karena dia terlahir dari seorang perempuan yang berdarah Cina? Padahal orang lebih mengenalnya sebagai seorang keturunan Ambon.
Ibunya merupakan perempuan Cina dari Pulau Seram, dari keluarga Muslim. Meskipun ibunya kemudian berpindah agama tatkala menikahi ayahnya, semua Tante-tante Titaley tetap beragama Islam. Menurut pengamatannya, tidak pernah keluarga ibunya ini mengalami diskriminasi yang buruk, seperti yang dia temukan dalam novel PUTRI CINA. Itulah sebabnya dia mempertanyakan apakah masalah diskriminasi yang buruk, yang menimpa kaum Cina di Pulau Jawa lebih ke permasalahan perbedaan agama, dan bukan karena perbedaan etnis.
Titaley membandingkan masalah Jawa-Cina ini dengan apa yang dia amati di Filipina dan Thailand dimana para kaum keturunan Cina ini sama sekali tidak mengalami diskriminasi karena mayoritas kaum Cina di kedua negara ini memeluk agama mayoritas, yakni di Filipina Katolik, sedangkan di Thailand Buddha. Haruskah orang-orang keturunan Cina di Jawa ini memeluk agama mayoritas—Islam—untuk menghindari perlakuan yang diskriminatif dari masyarakat luas?
Satu hal yang sangat menarik dari presentasi Titaley adalah pernyataannya mengenai REDEFINING INDONESIA untuk mengikis habis dikotomi pribumi dan non-pribumi. Tatkala para ‘founding fathers’ kita membentuk negara Indonesia, mereka dengan jenius telah memberikan sebuah definisi INDONESIA. Indonesia bukan hanya terdiri dari orang Jawa/Melayu/Sunda/Batak/Cina/Ambon/Papua, dll. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dimana semua orang itu berkumpul menjadi satu, dan membentuk sebuah negara baru, yakni INDONESIA. Tak satu suku bangsa pun berhak mengklaim diri sebagai pribumi dan memaksa suku bangsa lain untuk menjadi non-pribumi.
Keberadaan lima orang keturunan Cina dalam BPUPKI (Liem Koen Hian dari Banjarmasin, Oey Tiang Tjoei dari Jakarta, Oey Tjong Hauw dan Tan Eng Hoa dari Semarang, serta Yap Tjwan Bing dari Solo) yang ikut memiliki andil dalam menentukan konsep negara Indonesia, menunjukkan bahwa pada dekade tersebut, orang-orang keturunan Cina tidak diperlakukan secara diskriminatif, mereka juga adalah kaum pribumi bumi Nusantara.
Sebagai salah satu solusi Titaley mengajukan usul untuk membangun “nation and character building” melalui sistem pendidikan nasional. Titaley beranggapan bahwa pemberian mata pelajaran pendidikan agama terbatas pada satu agama yang dianut siswa saja merupakan proses pemiskinan wawasan anak Indonesia.

Abdul Djamil
Untuk menghindari kemungkinan terjadi (lagi) kerusuhan maupun kekerasan sosial yang berasal dari perbedaan etnis, Djamil menyitir sepenggal ayat suci Alquran yang berbunyi, “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu ada pitutur bagi orang-orang yang berakal”.
PUTRI CINA, secara sekilas, hanyalah merupakan kisah cinta antara sepasang manusia yang berasal dari dua etnis yang berbeda, yakni Jawa dan Cina. Jikalau seseorang membacanya hanya sambil lalu, apalagi kalau hanya untuk menjadi pengantar tidur saja, seseorang tidak akan bisa mengambil ‘pitutur’ yang disampaikan oleh sang pengarang, Sindhunata. Demikianlah yang dikemukakan oleh Djamil. Hasilnya, akan terlewatlah apa yang sebenarnya bisa kita jadikan sebagai suatu pelajaran agar tak ada lagi di bumi pertiwi ini pembantaian yang hanya dikarenakan perbedaan etnis.
Dengan mengungkapkan secara gamblang latar belakang cinta antara tokoh Setyoko dan Giok Tien, nampak Djamil ingin mengemukakan keyakinannya pada apa yang dikemukakan oleh Slamet Mulyana dalam bukunya yang berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” bahwa beberapa dari wali songo merupakan orang-orang keturunan Cina. Banyak buku hasil tulisan ahli sejarah lain yang tidak mengemukakan hal yang sama. Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai usaha untuk menyembunyikan fakta? Untuk apakah orang melakukan hal tersebut? Sisa-sisa policy divide et impera di zaman pemerintah kolonial Belanda yang masih dilakukan di zaman sekarang ini?

Budi Widianarko
Seperti judul makalah yang dia tulis, Widianarko mengemukakan bahwa nampaknya “Teori Kambing Hitam” merupakan tesis utama novel PUTRI CINA. Teori ini secara gamblang dikemukakan oleh Benny G. Setiono dalam bukunya yang berjudul “Tionghoa dalam Pusaran Politik”. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, sampai kerusuhan Mei 1998, orang-orang yang disebut sebagai “berasal dari negara Bangau Putih” dalam PUTRI CINA, selalu menjadi ‘kambing hitam’. Setiap kerusuhan terjadi, selalu jatuh korban dari orang-orang keturunan Cina, sehingga seolah-olah menjadi suatu keniscayaan bahwa hal yang demikian ini akan selalu terjadi setiap beberapa tahun sekali (sehingga bisa dianggap sebagai sebuah ‘siklus’ kehidupan di Indonesia yang memang ‘nampaknya harus selalu terjadi seperti itu’).
Sebegitu burukkah mental orang-orang Indonesia sehingga kerusuhan sosial yang sering memakan korban orang-orang keturunan Cina dianggap sebagai suatu ‘siklus kehidupan’? Sebagai suatu keniscayaan? Karena kecenderungan manusia ‘mengidap’ penyakit xenophobia?
Meskipun begitu, Widianarko ingin mengemukakan opini yang lebih dari hanya sekedar pengambinghitaman. Adakah ‘akar’ yang lebih dalam yang melandasinya?
Dua teori dari Glaeser dan Caselli and Coleman dikemukakan oleh Widianarko sebagai kemungkinan lain, selain teori kambing hitam. Glaeser mengatakan informasi dan persepsi yang salah, yang biasanya dipropagasi oleh para politis untuk mendapatkan dukungan kebijakan, akan dengan mudah menyulut kebencian antar kelompok etnis. Sedangkan Caselli dan Coleman menekankan kompetisi untuk memperoleh sumberdaya yang menjadi penyebab ketegangan rasial.
Untuk itu Widianarko mengemukakan salah satu agenda yang bisa dilakukan untuk secara terus menerus mengurangi risiko kerusuhan yakni dengan perjuangan untuk memastikan tersedianya informasi dan persepsi yang utuh sehingga dapat mementahkan kebencian semuu. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan memperkaya interaksi antar etnis Cina dengan etnis-etnis lain di negeri ini. Selain itu mendukung dan memastikan adanya sistem pemerintahan yang demokratis—yang menjamin persamaan hak hidup dan perlindungan hukum bagi setiap warga negara Indonesia—tanpa peduli apapun latar belakang etnisnya.
LLT 20.03 270508

Harkitnas 2008 di Semarang

Dalam rangka memperingati perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun, sekaligus untuk ‘mengingat kembali’ peristiwa Mei hitam sepuluh tahun yang lalu (peristiwa yang kedua ini dikemukakan oleh ketua panitia Harjanto Halim), warga kota Semarang mengadakan tiga kegiatan sekaligus yang diselenggarakan pada hari Jumat 23 Mei dan Sabtu 24 Mei 2008. 


Pada hari Jumat pagi, sekitar pukul 08.00-12.00 diselenggarakan bedah buku PUTRI CINA, sebuah novel yang meramu antara mitos dan sejarah hasil karangan Sindhunata. Acara diselenggarakan di gedung Study World Jalan Kyai Saleh Semarang. 



Malam harinya diselenggarakan pertunjukan ACAPELLA MATARAMAN dari Jogja di panggung utama Waroeng Semawis, Gang Warung, kawasan Pecinan Semarang.

Sedangkan acara puncak adalah pementasan ketoprak PUTRI CINA yang ide utamanya diambil dari novel karangan Sindhunata. Ketoprak dipentaskan oleh kelompok ‘Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogdjakarta pada hari Sabtu pukul 18.30 sampai menjelang tengah malam. 



Pada acara puncak ini hadir para petinggi Semarang/Jawa Tengah, seperti Gubernur Ali Mufiz beserta ibu, Wali Kota Sukawi Sutarip beserta ibu, bahkan hadir pula Bupati Kudus. Para budayawan yang hadir dalam acara ini Eko Budiharjo (mantan calon ‘calon gubernur’ Jawa Tengah yang tidak jadi), Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.


Apa hubungan antara hari Kebangkitan Nasional dengan etnis Cina? Mengapa acara yang diselenggarakan sangat berbau etnis yang satu ini?


Mungkin pertanyaan ini akan keluar dari benak para pembaca blog ini. 


Konon ide mementaskan ketoprak PUTRI CINA ini pertama kali dikemukakan oleh Anton Wahyu yang bekerja di TB Gramedia (Gramedia merupakan penerbit novel Sindhunata ini). Haryanto Halim, salah satu penggiat budaya di kota Semarang segera menyambutnya dengan antusias. Panitia yang terdiri dari beragam etnis, agama, profesi, dan kalangan pun terbentuk dan bekerja keras untuk mewujudkan pertunjukkan yang diharapkan merupakan benih untuk menggiatkan kegiatan kebudayaan di kota Semarang, terutama.


Masih ingat peristiwa ‘lampion Cina’ yang bertebaran di beberapa jalan protokol di kota Semarang bulan Agustus 2007 yang lalu? Seorang budayawan yang pada waktu itu menggugat digantungkannya lampion Cina karena mengkhawatirkan kecemburuan etnis lain (baca => etnis Jawa dan Arab) pun menyumbangkan sebuah puisinya dan membacakannya pada acara puncak.


Mengacu ke sebuah artikel yang dimuat The Jakarta Post yang berjudul “Another May Tragedy Possible” (bisa dicek di http://themysteryinlife.blogspot.com) kenaikan harga BBM beberapa hari yang lalu, yang dibarengi oleh demonstrasi massa, dimana aparat tak segan-segan menangkap para demonstran (layaknya yang terjadi di zaman rezim Orde Baru) yang terjadi di beberapa kota di Indonesia, usaha panitia untuk lebih memasyarakatkan ide pluralisme/multikulturalisme lewat pertunjukan ketoprak PUTRI CINA tentu saja terasa sangat pas. Ide utama ketoprak ini—untuk merangkul semua etnis agar menjadi satu, tak ada lagi saling curiga yang tidak perlu—sangat perlu diketahui oleh masyarakat luas, terutama kalangan bawah, agar tak lagi mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang hanya bermaksud mengail di air yang keruh, agar tak lagi terjadi peristiwa hitam saling membunuh anak bangsa sendiri.


Agar Indonesia benar-benar bangkit.


PT56 16.11 250508

Rabu, Mei 21, 2008

Ketelanjangan

Berikut ini adalah cuplikan artikel Ayu Utami yang berjudul PAK MARTA yang dimuat dalam buku Ayu yang berjudul SIDANG SUSILA (diterbitkan oleh Spasi & VHR Book, tahun 2008).

Hampir seperempat abad yang lampau, guru agama di SMP kami, Tarakanita 1, mengajukan pertanyaan di muka kelas yang takkan pernah saya lupakan. “Menurut kalian, apakah menonton film biru itu salah?” katanya. Ia juga bertanya, pertanyaan yang lebih lunak, apakah menurut kami ibu-ibu yang suka berdandan di salon melakukan sesuatu yang tidak benar. Dalam ingatan saya, semua murid menjawab bahwa keduanya bukan perbuatan yang baik.
Guru saya bernama Pak Marta (barangkali saya salah mengeja namanya). Pertanyaannya menjadi tak terlupakan terutama ketika ia menggugat jawaban kami yang sederhana. Katanya, kira-kira, “pernahkah kalian bayangkan, suami istri yang telah menikah bertahun-tahun? Film biru bisa baik bagi mereka.”
Kami masih kelas dua SMP, tapi jawaban itu amat masuk akal. Banyak hal tidak bersifat jahat pada dirinya, tetapi menjadi jahat pada tempat yang salah. Inilah pelajaran agama yang tidak mengajarkan larangan, melainkan mengajarkan murid menggunakan akal sehat. (hal. 109)

*****
Tatkala duduk di bangku SD, aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Seingatku aku lebih sering mendapatkan pelajaran larangan, daripada menggunakan akal sehat. Mungkin karena kita masih duduk di bangku sekolah dasar, dianggap masih terlalu muda sehingga diragukan apakah sudah bisa menggunakan akal sehat, kita dikondisikan hanya untuk menerima doktrin-doktrin belaka.
Seks selalu dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu untuk dibicarakan, mungkin karena takut jika kita justru akan menjadi ingin tahu lebih jauh. Demikian pula dengan ketelanjangan. Ketelanjangan adalah sesuatu yang tabu dan kotor, pun jika itu terjadi di antara suami dan istri. Aku masih ingat seorang guru mengatakan bahwa kita tidak boleh mandi telanjang. Kalau pun kita tidak memiliki kain yang bisa kita pakai untuk menutup tubuh kita tatkala kita mandi, kita dilarang keras untuk memandang tubuh kita sendiri; yang menurut RUU APP dianggap sensual dan bisa mengakibatkan kecabulan, yakni alat kelamin dan payudara (khusus untuk perempuan).
Bagi pasangan suami istri seks hanya boleh dilakukan di tempat yang gelap, karena kita tidak boleh memandang tubuh kita yang sedang telanjang, apalagi tubuh orang lain—dalam hal ini adalah suami/istri kita. Jika terpaksa melakukannya di tempat yang tidak gelap, kita HARUS menutupkan selimut ke seluruh tubuh agar tidak terlihat.
Aku membayangkan seandainya aku berada di kelas yang sama dengan Ayu Utami tatkala Pak Marta mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku tidak akan pernah bisa memahami mengapa Pak Marta mengatakan bahwa bagi suami istri menonton film biru diperbolehkan. Memandang tubuh kita sendiri yang sedang telanjang saja tidak boleh, juga tubuh pasangan ‘resmi’ kita, apalagi tubuh orang lain yang tidak kita kenal, yang ada di dalam film-film biru tersebut? Menonton film biru sama dengan memandang tubuh orang yang sedang telanjang, bukan?
Bisa dipahami jika aku tidak pernah nonton film biru di masa remajaku (otakku penuh dengan doktrin-doktrin kuat yang kuterima di bangku SD plus ketakutan-ketakutan bahwa Tuhan adalah suatu Dzat yang suka menghukum makhluk-Nya), pun juga setelah menikahi bokapnya Angie (1990). Aku selalu menolak permintaannya untuk menonton film biru. Pertama kali menonton film biru di tahun 2000, ketika ada seorang teman dekatku ‘memaksaku’ untuk mencoba suatu pengalaman baru. LOL. “Kamu tuh jadi orang janganlah terlalu ‘lurus’. Sekali-sekali perlu lah membelok,” katanya. LOL. “Lagi pula kamu sudah lama ga lihat penis kan?” rayunya lagi. Hal ini terjadi beberapa bulan setelah permohonan berceraiku dikabulkan oleh PA. (Goodness, she didn’t know that looking at penis was not attractive at all for me!!! LOL. Maklum hasil indoktrinasi yang kuat bahwa memandang tubuh telanjang adalah sesuatu yang tidak layak dilakukan, bahkan mungkin berdosa).
Aku yakin sampai sekarang masih banyak orang atau institusi yang mendoktrin anak-anaknya maupun siswa-siswinya seperti guru-guruku di Madrasah Ibtidaiyah, sekitar tiga dekade yang lalu. Lihat saja apa yang dituliskan oleh Habiburrahman tentang tokoh Aisha dalam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’.
PT56 20.20 200508