Cari

Memuat...

Selasa, Mei 27, 2008

Harkitnas 2008 di Semarang

Dalam rangka memperingati perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun, sekaligus untuk ‘mengingat kembali’ peristiwa Mei hitam sepuluh tahun yang lalu (peristiwa yang kedua ini dikemukakan oleh ketua panitia Harjanto Halim), warga kota Semarang mengadakan tiga kegiatan sekaligus yang diselenggarakan pada hari Jumat 23 Mei dan Sabtu 24 Mei 2008.
Pada hari Jumat pagi, sekitar pukul 08.00-12.00 diselenggarakan bedah buku PUTRI CINA, sebuah novel yang meramu antara mitos dan sejarah hasil karangan Sindhunata. Acara diselenggarakan di gedung Study World Jalan Kyai Saleh Semarang.

Malam harinya diselenggarakan pertunjukan ACAPELLA MATARAMAN dari Jogja di panggung utama Waroeng Semawis, Gang Warung, kawasan Pecinan Semarang.

Sedangkan acara puncak adalah pementasan ketoprak PUTRI CINA yang ide utamanya diambil dari novel karangan Sindhunata. Ketoprak dipentaskan oleh kelompok ‘Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogdjakarta pada hari Sabtu pukul 18.30 sampai menjelang tengah malam.

Pada acara puncak ini hadir para petinggi Semarang/Jawa Tengah, seperti Gubernur Ali Mufiz beserta ibu, Wali Kota Sukawi Sutarip beserta ibu, bahkan hadir pula Bupati Kudus. Para budayawan yang hadir dalam acara ini Eko Budiharjo (mantan calon ‘calon gubernur’ Jawa Tengah yang tidak jadi), Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.
Apa hubungan antara hari Kebangkitan Nasional dengan etnis Cina? Mengapa acara yang diselenggarakan sangat berbau etnis yang satu ini?
Mungkin pertanyaan ini akan keluar dari benak para pembaca blog ini.
Konon ide mementaskan ketoprak PUTRI CINA ini pertama kali dikemukakan oleh Anton Wahyu yang bekerja di TB Gramedia (Gramedia merupakan penerbit novel Sindhunata ini). Haryanto Halim, salah satu penggiat budaya di kota Semarang segera menyambutnya dengan antusias. Panitia yang terdiri dari beragam etnis, agama, profesi, dan kalangan pun terbentuk dan bekerja keras untuk mewujudkan pertunjukkan yang diharapkan merupakan benih untuk menggiatkan kegiatan kebudayaan di kota Semarang, terutama.
Masih ingat peristiwa ‘lampion Cina’ yang bertebaran di beberapa jalan protokol di kota Semarang bulan Agustus 2007 yang lalu? Seorang budayawan yang pada waktu itu menggugat digantungkannya lampion Cina karena mengkhawatirkan kecemburuan etnis lain (baca => etnis Jawa dan Arab) pun menyumbangkan sebuah puisinya dan membacakannya pada acara puncak.
Mengacu ke sebuah artikel yang dimuat The Jakarta Post yang berjudul “Another May Tragedy Possible” (bisa dicek di http://themysteryinlife.blogspot.com) kenaikan harga BBM beberapa hari yang lalu, yang dibarengi oleh demonstrasi massa, dimana aparat tak segan-segan menangkap para demonstran (layaknya yang terjadi di zaman rezim Orde Baru) yang terjadi di beberapa kota di Indonesia, usaha panitia untuk lebih memasyarakatkan ide pluralisme/multikulturalisme lewat pertunjukan ketoprak PUTRI CINA tentu saja terasa sangat pas. Ide utama ketoprak ini—untuk merangkul semua etnis agar menjadi satu, tak ada lagi saling curiga yang tidak perlu—sangat perlu diketahui oleh masyarakat luas, terutama kalangan bawah, agar tak lagi mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang hanya bermaksud mengail di air yang keruh, agar tak lagi terjadi peristiwa hitam saling membunuh anak bangsa sendiri.
Agar Indonesia benar-benar bangkit.
PT56 16.11 250508

3 komentar:

  1. Ulasan yang apik dan secara integral menangkap maksud kami sebagai pantia. Memang ini adalah laboratorium mini dalam setting pertunjukan terbuka dengan kepanitiaan dan pengunjung yang plural.

    terima kasih

    harjanto halim

    BalasHapus
  2. Pak Harjanto Halim
    What an honor to get this supportive comment from you! Thanks a million.

    BalasHapus