Cari

Memuat...

Jumat, Mei 09, 2008

Krisna Mukti

“Tuduhan” bahwa dirinya adalah seorang gay kembali ‘menyerang’ aktor Krisna Mukti seminggu terakhir ini. (Gile, foto-foto Krisna yang dimuat di salah satu tabloid lokal keren banget! huehehehe ... Pasti para ‘penggemar’ gay-nya bakal ga bisa berhenti melototin foto-foto itu. LOL.)
Aku bukanlah “tukang mengkonsumsi” infotainment sehingga selalu bisa mengikuti gosip terkini. Lah, darimana aku tahu gosip tentang Krisna Mukti?
Ceritanya begini. Kemarin, di salah satu kelas, aku meminta para mahasiswa untuk berpura-pura bekerja di salah satu majalah/tabloid yang akan memberi anugerah “the celebrity of the year”. Aku meminta mereka berdiskusi berkelompok untuk memilih seorang selebriti laki-laki dan seorang selebriti perempuan. Ada tiga kelompok, dan di setiap kelompok, ada tiga mahasiswa. (Mereka semua adalah mahasiswa sebuah universitas negeri yang terletak di kawasan Tembalang Semarang.)
Satu kelompok, yang anggotanya semuanya laki-laki, memilih Krisna Mukti, sebagai the male celebrity of the year.
“Why him?” tanyaku heran, mengingat akhir-akhir ini ‘bintang’ KM tidaklah secemerlang waktu dia menjadi lakon utama di sinetron AKU INGIN PULANG, sekitar delapan tahun yang lalu.
Ternyata alasan yang dikemukakan adalah KM ‘terpergok’ mengirim surat cinta kepada seorang laki-laki. KM sendiri menolak mengiyakan bahwa dirinya memang seorang gay.
“Why didn’t he just admit that he was a gay? I will support him anyway,” kataku, mengingat aku selalu mengambil ‘sikap politik’ untuk mendukung para homoseksual. (You can read my posts in my blogs about this.)
Di tabloid yang kubaca barusan, KM diceritakan bahwa dia menulis sebuah surat ‘mesra’ kepada seorang kliennya, karena menyapa sang klien, “honey”, dan kemudian mengakhiri surat itu dengan “love”.
Aku jadi ingat beberapa teman perempuan Angie yang selalu menyapanya “Cin ...” singkatan dari “Cinta”. Pertama mengetahuinya aku agak cemburu, karena aku mengharap hanya akulah yang akan menyapanya “love”, meskipun lama-lama aku biasa saja.
Aku sendiri juga sering mengakhiri email ke teman-teman perempuanku dengan “love”. Aku dan Angie, plus teman-temanku dan teman-teman Angie yang biasa mengakhiri menulis email dengan “love”, maupun menyapa dengan “honey” maupun “Cinta”, aku yakin semuanya heteroseksual. Dan mungkin karena kita bukanlah selebriti, ga bakal masuk infotainment sebagai lesbian. LOL. LOL.
Namun aku ingat perlakuan yang memang selalu diskriminatif di masyarakat. Tatkala ada dua orang perempuan berjalan bersama di tempat umum, bergandengan tangan, bahkan mungkin berpelukan, orang-orang akan memandangnya dengan biasa saja. Namun jika yang melakukan hal itu adalah dua orang laki-laki, maka orang-orang yang memandangnya pun akan heboh, dan menganggap kedua laki-laki itu menjijikkan.
Jika yang melakukannya seorang laki-laki dan perempuan, berjalan bersama mesra, mungkin sampai berpelukan, orang pun akan memandangnya dengan agak jijik, sembari berujar, “Orang pacaran kok ga tahu tempat. Si perempuan kok ya mau-maunya. Apalagi kalau di tempat yang sepi, pasti sudah habis “diapa-apain”. LOL.
Yah, memang beginilah masyarakat Indonesia yang senantiasa dibuat ‘sakit’ oleh pemerintahnya.
Kembali ke topik utama tentang ke-gay-an Krisna Mukti. Sebagai seorang perempuan yang heteroseksual, sayang juga ya laki-laki sekeren KM gay? Aku ga bisa ikut ‘menikmati’ dong. Wakakakaka ... Tapi, tentu aku akan mendukungnya, juga para gay yang lain, untuk membuka diri dengan pede, sambil mengatakan, “Inilah kodratku!”
Semalam, di acara Empat Mata” yang kutonton secara sekilas, ada tamu yang mantan ratu waria, “namun dia telah bertobat dan kembali ke ‘kodrat’nya”, demikian kata Tukul. Aku tidak menonton kelanjutan acara itu.
Kodrat oh kodrat.
Aku ingat pernyataan beberapa antropolog yang mengemukakan bahwa mengkotakkan manusia hanya dua jenis kelamin tidaklah adil, meskipun secara biologis manusia hanya terbagi menjadi dua, memiliki penis, dan memiliki vagina. Ada antropolog yang mengatakan selain laki-laki dan perempuan, masih ada lagi jenis ‘gay’ dan ‘lesbian’ yang orientasi seksualnya ke sesama jenis kelamin. Gay dan lesbian di sini tetap mengakui bahwa diri mereka laki-laki dan perempuan. Jenis lain lagi yakni transseksual. Male-to-female transseksual adalah orang yang dilahirkan memiliki penis namun merasa diri mereka sebagai perempuan, sehingga mereka pun hanya tertarik kepada laki-laki. Dorce adalah contoh male-to-female transseksual yang terkenal, dan dia memiliki uang untuk operasi ganti kelamin. Female-to-male transseksual adalah orang yang dilahirkan memiliki vagina namun mereka merasa diri sebagai laki-laki sehingga secara seksual mereka hanya tertarik kepada perempuan. Belum ada contoh female-to-male transseksual yang cukup terkenal di Indonesia. Mereka ada namun lebih memilih ‘bersembunyi’ karena masyarakat menganggap mereka sakit secara psikologis.
Kapankah masalah kodrat/melawan kodrat (alias created versus constructed) ini benar-benar dipahami oleh masyarakat luas?
PT56 14.30 090508

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar