Cari

Rabu, Juni 25, 2008

Ilmu Pengetahuan

“Ilmu pengetahuan, kelihatannya, bukannya tak berjenis kelamin; dia laki-laki, seorang ayah, dan kena sifilis pula.” (Virginia Woolf, seorang penulis feminis berasal dari Inggris.)



Berapa abad dunia ini telah ‘dikuasai’ oleh kaum laki-laki? Uncountable centuries!!! 


Tidaklah mengherankan jika ‘kemunculan’ ilmu-ilmu pengetahuan pun berasal dari pemikiran kaum laki-laki, perempuan hanya duduk di bangku penonton. Laki-laki yang menguasai dunia permainan ini menggunakan cara berpikirnya, berdasarkan pengalaman-pengalamannya kemudian membentuk atau menciptakan berbagai macam teori dalam berbagai ilmu, tanpa memasukkan cara berpikir maupun pengalaman kaum perempuan yang hanya menjadi penonton. Sayangnya kemudian para laki-laki ini menggeneralisasi bahwa cara berpikir mereka mewakili kaum laki-laki dan perempuan. Perempuan yang tidak dilibatkan dalam berbagai penemuan ilmu pengetahuan ini (karena mereka didomestikasi) diharuskan memandang segala macam persoalan/kasus dari sudut pandang laki-laki pula. 


Contoh yang sangat ringan. Laki-laki selalu merasa bahwa mereka diciptakan lebih kuat dibanding perempuan karena mereka menciptakan parameter untuk kekuatan ini. Laki-laki mampu mengangkat beban seberat 100kg, misalnya, sedangkan bagi perempuan hal ini sulit dilakukan. Well, kalaupun ada, at least, tidak sembarang perempuan mampu melakukannya.


Gerakan perempuan mulai kelihatan taringnya di awal abad 19, terutama ketika ada KTT perempuan pertama pada tahun 1848 di Seneca Falls di Amerika, yang bisa dikatakan sebagai tonggak mulainya perjuangan panjang kaum perempuan untuk mensejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki. Munculnya generasi feminisme yang pertama—feminisme liberal—mengupayakan hak kaum perempuan untuk menikmati bangku sekolah, dan ikut berpolitik. Feminisme liberal ini kemudian diikuti oleh gerakan-gerakan perempuan yang lain.


Kembali ke contoh yang sangat ringan di atas. Seandainya kaum perempuan menciptakan parameter untuk kekuatan, tentu mereka akan menggunakan tolok ukur yang berbeda. Mengapa Tuhan menciptakan kaum perempuan yang katanya lemah ini lengkap dengan rahim, yang kemudian dari rahim itu akan muncul generasi-generasi yang akan datang? Tentu karena kaum perempuan lebih kuat dibanding kaum laki-laki. Lebih banyak perempuan yang mampu hidup sampai usia lanjut, dibandingkan dengan laki-laki yang berusia sama, karena perempuan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan. Lebih kuat kan?


Perempuan dengan pengalamannya sebagai pihak yang dimarjinalisasi dalam kultur patriarki ini, yang ingin bangkit untuk setara, mulai bersatu dan masuk ke ranah yang dianggap eksklusif milik kaum laki-laki; yakni dengan mulai menciptakan teori-teori baru, ditemukanlah cara-cara berpikir baru dengan mengedepankan pengalaman perempuan yang tentu sangat berbeda dengan pengalaman laki-laki. 


Dalam bidang Sastra—karena aku berasal dari disiplin Sastra—gerakan perempuan ini berhasil menemukan tulisan-tulisan kaum perempuan yang telah lama terkubur dan dilupakan orang, sementara tulisan kaum laki-laki yang sezaman masih sering ditemukan sampai sekarang ini. sebelum ada gerakan perempuan, karya-karya milik penulis laki-laki merajai KANON. Seandainya orang menilik THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE, tentu mereka akan lebih banyak menemukan karya kaum laki-laki yang memberikan kesan seolah-olah kaum perempuan pada waktu itu hanya duduk manis di dapur, memasak untuk suami dan anak-anak. Kalaupun ada karya penulis perempuan yang masuk ke dalam antologi, tentu berkisar ke itu-itu saja, misalnya saja di Amerika, nama Emily Dickinson sangatlah terkenal atau Jane Austen dari Inggris. Tulisan-tulisan kaum perempuan lain dianggap tidak layak untuk masuk ke dalam KANON karena cara penilaiannya yang tentu masih sangat male-oriented.


Gerakan perempuan mampu menguak kembali banyak karya penulis perempuan yang telah lama dilupakan orang. Misalnya: Charlotte Perkins Gilman dari Amerika, dan Anna Wickham dari Inggris. 


Sandra Gilbert dan Susan Gubar membukukan hasil risetnya dalam buku THE NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN. Dengan memasukkan female perspectives, dengan pengalamannya sebagai perempuan, banyak karya-karya penulis perempuan yang layak pula masuk KANON. Dari contoh di bidang Sastra ini kita mampu menarik kesimpulan betapa this male-dominated world telah berbuat tidak adil kepada kaum perempuan.


Aku mengawali artikel ini dengan meng-quote kata-kata Virginia Woolf, aku ingin mengakhirinya dengan meng-quote kata-kata Annie Leclerc:

“Aku mengidamkan agar kaum perempuan belajar menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki”.

PT56 14.38 241206

Rabu, Juni 18, 2008

Ngepit menyang kantor :)


Catatan tambahan untuk pengalaman pertama “ngepit menyang kantor”. 
Karena aku berangkat satu jam sebelum jam kerja mulai, bisa dipahami jika aku datang nomor satu. Sesampai di ruang guru, aku langsung menyalakan AC, ngadem sejenak di bawahnya, kemudian menyalakan “the cutie”. Dan mulailah aku scribble tulisan yang kuberi judul THE FIRST TIME ...
Tak lama kemudian seorang rekan kerja datang, menyapaku ramah, “Aih tumben, bu Nana datang duluan.” (NOTR: biasanya aku jarang datang duluan nih. LOL.)
Karena aku terkena demam b2w, aku langsung menyambut sapaannya dengan agak berteriak, “GUESS WHAT? I BIKE TO WORK TODAY!!!” sambil mengepal-ngepalkan tanganku ke udara. (ndeso poll yah? hahahaha ...)
“Wow ... you really did it, Ma’am?” (alias “Wah, beneran nih Bu Nana terprovokasi bike to work?”)
“Yup! Aku sedang nulis nih pengalamanku tadi.” Kataku.
“Aku mau liat sepeda Bu Nana dong,” katanya.
“Ada tuh di depan, keluar dari pintu, sebelah kanan, tempat biasa aku markir motor,” jawabku. (NOTE: “tempat biasa” ini telah kukontrak seumur hidup. Wakakakaka ...)
“Ah nanti aja...” komentarnya.
Aku melanjutkan ngetik.
Rekan kerjaku ini ternyata memperhatikan baju yang kukenakan. Katanya, “Oh, itu sebabnya you are wearing jeans and polo shirt now?”
“Iya, aku bawa baju ganti kok, biasa rok panjang hitam plus blus hitam.”
Seorang rekan kerja lain datang. Rekan kerja yang pertama pun berpromosi,
“Eh mbak, Bu Nana bike to work loh hari ini.”
“Oh ya? Is that true, Ma’am?” tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk-angguk, masih meneruskan ngetik.
“Wah ... Bagaimana kalau kita juga naik sepeda ke kantor?” ajak rekan kerja #2.
Rekan kerja #1 ga komentar.
“Oh, kamu ga bisa naik sepeda kok ya?” kata rekan kerja #2.
Rekan kerja #1 cuma mengangguk-angguk.
Aku sempat heran mendengarnya. Tapi aku ingat salah satu guruku waktu SMA juga mengaku ga bisa naik sepeda. Karena trauma waktu kecil jatuh dari sepeda. Beliau juga takut naik becak. Mungkin pernah jatuh dari becak juga? Entahlah. LOL.
Aku juga ingat seorang teman sekelas waktu kuliah S2 yang keman-mana diantar sang suami yang setia naik motor. Belakangan ketahuan ternyata temanku yang memiliki tubuh tinggi dan lumayan atletis ini tidak bisa naik motor maupun sepeda.
Seusai mengajar hari itu, beberapa rekan kerja ‘mengantarku’ keluar kantor. Tanya kenapa? Mereka pengen melihatku naik sepeda. LOL.
*****
Dari kantor aku sempat mampir ke warnet yang terletak di Jalan Imam Bonjol, ga jauh dari kantor. Aku ingin segera posting tulisan yang kubuat pada hari Minggu di blog.
Waktu memasuki areal parkir, pak Satpam yang berperan juga sebagai tukang parkir menyambutku begini,
“Wah, naik sepeda mbak? Tak kira tadi cowo. Ternyata mbak-e. Gara-gara harga bensin naik ya?”
“Betul Pak...” jawabku.  Setelah memarkir sepeda, aku langsung masuk gedung.
Setelah usai, kurang lebih 10 menit sebelum pukul 21.00, aku bingung mencari-cari dompet di tas kok ga ada? Tasku berisi the cutie and the cable, rok plus blus, handuk plus sabun mandi (yang ga jadi kupakai karena ternyata aku ga terlalu berkeringat, maklum cuma naik sepeda 6 menit doang!) dan beberapa buku. Berhubung isinya segala macam, LOL, kupikir dompet nyungsep di sebelah mana gitu.
Namun ternyata meskipun semua ‘benda’ itu telah kukeluarkan, aku ga juga menemukan dompetku.
“Goodness ... aku lupa memasukkan dompet ke tas,” keluhku.
Namun berhubung, wajahku ini sudah ‘tercemar’ alias semua pegawai warnet mengenaliku sebagai member yang cukup rajin datang, dengan ‘muka tembok’, LOL, aku bilang ke seorang laki-laki, kira-kira 15 tahun lebih tua dariku, yang duduk di kursi kasir,
’Waduh Pak, maaf Pak, lupa bawa dompet nih. Saya bayarnya besok ga papa kan?”
Dan, seperti yang telah kuperkirakan, si Bapak itu bilang,
“Oh, ga papa mbak, santai aja. Bayar besok juga boleh.”
Asik ...
(memang bermuka tembok kadang-kadang diperlukan dalam berinteraksi dengan orang lain. Hahahaha ...)
Sesampai di tempat parkir, aku mengatakan hal yang sama kepada yang jaga parkir.
Komentarnya, “Mbak lupa masukin dompet karena hari ini naik sepeda sih.” huehehehe ...
Aku selalu senang jika ada sesuatu yang bisa kujadikan ‘scapegoat’ alias kambing hitam. LOL. Selama aku ga merugikan orang lain ajalah. Dan yang kujadikan kambing hitam ga protes. LOL.
PT56 14.35 180608

Senin, Juni 16, 2008

The First Time ...


“I did it!!! I shouted inside my heart, talking to myself. :-D
This reminded me of one ‘motto’ I once joked to one loved ones of mine, “There will always be the first …”
The first in anything …
The first marriage …
The first divorce …
The first baby …
The first boyfriend/girlfriend …
The first book to buy …
The first book to read …
The first book to publish …
The first job …
You name it.
Including what I just did today: THE FIRST TIME BIKE TO WORK!!!
Today, Monday 16 June 2008 the electricity was off when I arrived home from Paradise Club, one fitness center in Semarang. I was very disappointed of course since I couldn’t do one dearest hobby of mine: SCRIBBLING SOMETHING while in fact when at PC I already planned what to write after taking a shower.
Since nothing I could do but reading, so after taking a shower I just lazed myself away on my comfortable bed although a bit hot since the fan was off (due to the blackout). After browsing one gossip tabloid (and feeling entertained when reading a movie review of SEX AND THE CITY movie, can’t wait to watch it! When will it come to my hometown? SATC is my favorite television serials, although I didn’t watch it on television.) and today’s (local) newspaper, I tried napping.
However I couldn’t fall asleep.
My mind was full of what I want to write.
I don’t know from where the idea came but I started to think of going to the office by bike today. Yesterday I wrote three short articles on ‘bike to work’ to post at my blog. Absolutely I support this healthy and environmentally-friendly habit. I started think of telling the members of b2w Semarang mailing list that I also have done it. (FYI, just a couple of days ago I joined the mailing list.)
Amused by the idea to tell the b2w gang, I became more sure.
Wanna know my experience during my ‘trip’ to the office, that in fact only took 6 minutes? (My dwelling place is in Pusponjolo, while my office is on Pierre Tendean street.) I was wearing blue jeans, a long-sleeved black polo shirt, sandals (or in Indonesia they are called ‘shoe sandals’), black socks and an old green hat of mine (I bought it in 1986!). When passing a garage in the next alley, a mechanic shouted, “Ayo mbak, ngetrek mbak!” (“Come on, sis, be fast!”) Nearing the roundabout before Banjir Kanal river bridge, a group of police inside a car passing by me looked at me, one of them said, “Ayo mbak, ngebut!” (“Come on, sis, ride it quickly!”)
I thought it must be caused by the yellow tagline under the saddle saying BIKE TO WORK.
I feel glad. Although a little, I have tried doing something to join the crowd to reduce the air pollution of our earth.

P.S.: After arriving at the office, I 'changed' my clothes to my 'usual' so-called uniform, a long black dress, and a black blazer, but minus my lovely black boots. :)
LL 14.53 160608

Bike to work


“I am not sure if you will succeed in gathering many people to join that b2w community,” this was Angie’s pessimistic comment when seeing the flyer of ‘bike to work’.
I said nothing to hear that. I am more optimistic than she is, I assume.
However, Angie’s comment reminded me of one nineteenth-century American thinker, Henry David Thoreau with his experience living around a pond, all alone, away from ‘civilized society’, that he wrote in his book entitled WALDEN. He did that to criticize American government that he thought damaged the environment by building trans-continental railway during the decade of 1860s. Despite the fact that the railway would help improve the transportation so that it would also result in good business plus profit, smoke coming out of the train would absolutely damage the environment. Thoreau, the true environmentalist, extremely objected the railway building. But what could a Thoreau do to stop it? Even, his good friend as well as teacher, Emerson, only expressed his objection toward the then government’s so-called crazy idea. Emerson did not do any real action to show it.
Bike-to-work idea itself is great and easy to do. This is also obviously more possible to carry out rather than Thoreau’s idea to leave the city he lived to live in a forest, living like a hermit, away from other people, only consuming anything he found in the forest. I believe that it is an absurd thing to do what Thoreau did in this internet era. Do you agree?
So, why is it difficult to attract people’s attention to join b2w community? (This is the result of seeing some people’s reluctant reaction when getting the flyer of b2w during ‘fun bike’ held in Semarang on June 15, 2008) It is essential that we do care for our environment, isn’t it?
I think the answer is on Indonesian people’s way of life. We are ‘popular’ to have high-class lifestyle. Have you ever heard how Indonesian government officials went to a building where they would get debt from some debtor countries? While the officials from the debtor countries came by a simple car, Indonesian officials came by a luxurious car.
Japan that used to colonize Indonesia from 1942-1945 successfully rose from the crumble due to the bomb to Hiroshima and Nagasaki. It has become one giant country in Asia. But look at the people’s way of living. Although many of them have private cars, they would prefer to go by public transportation. In Indonesia, people would prefer to show off their ‘property’ by driving cars or riding motorcycles that probably they haven’t fully paid. They would rather expose their prestige. Likewise, other people would prefer to show their respect to people driving cars rather than people riding motorcycles. (Try going to a mall or supermarket close to your dwelling place by bike and see how the parking person will treat you!)
Last Saturday morning on my way to my workplace located 11 kilometers away from my dwelling place, when passing Gombel ‘hill’, suddenly I daydreamed to see other motorists riding a bike. No vehicles on the road but bikes and buses (as public transportation). I daydreamed not to breathe polluted air.
PT56 21.31 150608

B2w Semarang


“Bike to work” alias sering disingkat menjadi b2w mulai mendapatkan atensi yang lumayan serius di Semarang, dengan dibentuknya komunitas bike to work Indonesia Chapter Semarang. Salah satu anggota komunitas yang sangat gigih yakni Triyono (bisa dilihat profile-nya di http://aluizeus.multiply.com merintis komunitas ini dengan mengumpulkan beberapa orang yang berminat sama dengannya, dengan cara ‘bergerilya’ lewat jaringan dunia maya di www.multiply.com juga dengan membentuk mailing list b2w-semarang@yahoogroups.com.
Hari Minggu jam enam pagi dipilih sebagai saat untuk kopi darat anggota komunitas b2w Semarang di depan Gedung Telkom Jalan Pahlawan Semarang. Kebetulan pada tanggal 15 Juni 08 ada acara ‘fun bike’ di Balai Kota Semarang. Event ini digunakan oleh komunitas b2w Semarang untuk menjaring lebih banyak anggota, dengan menyebarkan flyer b2w. Itu sebab pada hari tersebut acara kopi darat dipindah ke Jalan Pemuda.
Inilah motto yang dicetak di flyer tersebut:

KURANGI DAMPAK GLOBAL WARMING.

KALAU BUKAN KITA LALU SIAPA?
KALAU TIDAK SEKARANG LALU KAPAN?
LET’S ACT BEYOND GREEN!
LET’S BIKE TO WORK!!

AYO BERSEPEDA KE TEMPAT KERJA!
CIPTAKAN GAYA HIDUP BARU YANG LEBIH SEHAT, HEMAT DAN RAMAH LINGKUNGAN. BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI BIKE TO WORK INDONESIA CHAPTER SEMARANG

Kita lah yang telah membuat lingkungan tempat tinggal kita menjadi tidak bersahabat dengan kita, dengan menciptakan kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup kita, menebang pohon semena-mena tanpa perhitungan yang matang. Kita sendiri pula yang harus menderita karena tindakan kita merusak alam. Sehingga kita juga yang harus melakukan tindakan preventif untuk mencegah perusakan alam menjadi lebih parah.
Gerakan menanam sejuta pohon telah mulai digalakkan di beberapa tempat.
Bagaimana kalau kita ikut serta dengan membiasakan diri naik sepeda untuk mengurangi kadar polusi di bumi yang kita tinggali?

Salam sejuta sepeda di Semarang.
PT56 20.10 150608

Di bawah ini, foto-foto event 15 Juni 2008



Bersepedaan Yuk?


Beberapa minggu yang lalu, aku disapa oleh seseorang di Multiply page-ku yang beralamat di http://afemaleguest.multiply.com. Sapaan dari seseorang yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com itu merupakan ajakan untuk ikut komunitas “b2w”.
“b2w” apaan yah?” tanyaku kepada seorang rekan kerja, sekeluarku dari warnet yang terletak di sebelah tempat kerjaku.
“No idea either, Ma’am,” jawabnya.
But then ketika di buku CV1 yang dia bawa dia temukan istilah ‘bike to work’, kontan dia langsung berkomentar, “Bike to work, kali Ma’am?”
“Aha ... probably,” jawabku.
Kontan aku ingat Abangku yang pernah bercerita tatkala dia masih tinggal di Kelapa Gading, Jakarta dia pernah memiliki kebiasaan ‘bike to work’, alias berangkat bekerja naik sepeda. Waktu itu dia memiliki kantor yang berlokasi di kompleks perumahan yang sama, Kelapa Gading, tahun 1998-2001, sehingga dia bisa mempraktekkan kebiasaan yang ramah lingkungan ini, tanpa harus menjadi ‘korban’ menghirup udara Jakarta yang penuh polusi (karena tidak perlu keluar dari kompleks.) itu. Kadang-kadang dia bersama komunitasnya melakukan off-road trip ke daerah Puncak dan sekitarnya dengan naik sepeda tentu saja. FYI, dia pindah ke OZ tahun 2002. Sejak itu hanya di musim summer saja dia bersepeda di akhir pekan.
Waktu aku bercerita kepadanya aku pernah naik sepeda untuk ‘napak tilas’ jalan-jalan yang kulalui sewaktu ikut karate LEMKARI di bangku SMP sejauh 10 kilometer (dalam kegiatan karate, kita melaluinya sambil berlari, campur berjalan kaki, tanpa memakai alas kaki), dia ketawa, “Ah, 10 kilometer sih kecil Na. Itu jarak yang kulahap setiap hari!” katanya. Lah, memang aku kecil, sedangkan dia besar! Hahaha ... But, aku lupa satu hal yang seharusnya kuceritakan kepadanya waktu itu. Waktu ‘napak tilas’ itu, aku sendirian, naik sepeda mini berwarna kuning milik kakakku (NOTE: bagi pengunjung baru blogku, yang kusebut ‘kakakku’ berbeda dengan ‘Abangku’), dengan kondisi rem blong. So? Tatkala melewati tanjakan, sepeda kutuntun, waktu di jalan menurun pun sama, sepeda juga kutuntun. LOL. (NOTE: bagi orang Semarang, route napak tilas ini dari Pusponjolo ke arah Selatan, ke daerah Gedung Batu Sam Po Kong, Phaphros (carane nulis piye? Aku lali! LOL), naik ke daerah Jalan Gedong Songo, jalanan menanjak, (kalau ga salah ingat nama jalannya), trus sampai di daerah Manyaran, belok kanan yang sekarang menuju ke Gedung Persaudaraan Haji, turun setelah melewati rumah dinas Walikota Semarang, sampailah di Jalan Abdul Rahman Saleh, sebelum sampai Museum Ronggowarsito, belok kanan ke daerah Jalan Soeratmo, trus belok kiri ke arah Pamularsih, dari depan SMA Kesatrian, terus lurus ke Timur, sampai ke daerah Pusponjolo kembali.)
Kembali ke sapaan di multiply page-ku.
Betapa senang aku mendengar mulai ada komunitas ‘b2w’ di kota kelahiranku ini, meskipun rada skeptis karena kontur geografis Semarang yang kurang mendukung untuk bike to work. Semarang memang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Bagi Abangku yang telah memiliki ‘track record’ mengikuti off-road trips tentu dataran tinggi ini tidak menjadi masalah, namun bagi para pemula, wah ... ngos-ngosan pisan!!! Bayangkan aku yang tinggal di Pusponjolo, dataran rendah, berangkat kerja ke kantor yang terletak di daerah Tembalang, dataran tinggi. (melewati berapa ‘bukit’ tuh? Naik di Gajah Mungkur, kemudian di Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, dan puncaknya, di Gombel.) Sampai kantor, pingsan. LOL.
Seminggu berikutnya, mas Triyono yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com menyapaku lagi, “Kalau mbak Nana sempat ke Simpang Lima besok Minggu pagi, mampir ya ke komunitas b2w Semarang, kita kumpul di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan. Kita memasang tagline bike to work berwarna kuning di bawah sadel.”
He is such a determined person, isn’t he? 
Melihat kegigihannya, aku menawarkan adikku yang mulai menyukai naik sepeda untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah, misal ke pasar. Ini berkat ‘komporan’ kakakku yang sudah mulai bike to work di tempat tinggalnya di Cirebon. Ternyata adikku senang dengan tawaran ikut komunitas b2w.
By the way ...
Meskipun aku sempat menawari Angie mengantarnya ke sekolah naik sepeda, tatkala harga bensin naik sampai Rp. 6000,00 per liter, (Angie langsung menolaknya mentah-mentah!!!) untuk benar-benar mempraktekkan kebiasaan bike to work, aku punya satu kendala yang sangat mengganjal. AKU BELUM PUNYA SEPEDA milik sendiri.
Di rumah saat ini ada dua buah sepeda. Yang pertama, sepeda federal, yang di’import’ dari Cirebon tahun 1991, sehingga dia seusia my Lovely Star. Sepeda ini sudah lumayan lama, bertahun-tahun, mangkrak tidak dipakai. Setelah adikku dikompori kakakku untuk bike to work, sewaktu dia ke Cirebon beberapa bulan lalu, dia akhirnya memperbaiki sepeda yang sudah seusia Angie ini, dan kemudian mulai menaikinya, untuk olah raga, beberapa kali seminggu di pagi hari.
Sepeda yang kedua, sepeda mini, yang bentuknya tidak mini alias cukup besar, baru saja di’impor’ dari Cirebon juga beberapa minggu yang lalu. Sepeda ini dikirim kakakku untuk sarana olah raga adik bungsuku yang di bulan Desember dan Januari kemarin sempat opname di rumah sakit karena terkena penyakit typhoid dan dengue fever. Banyak orang yang menyarankannya untuk mulai rajin berolah raga untuk meningkatkan daya immune tubuhnya. Ditengarai karena dia tidak pernah berolah raga, tubuhnya menjadi rentan penyakit. Itu sebab kakakku tidak keberatan mengirimkan sepeda yang biasanya dinaiki istrinya ke Semarang. Lah, trus kakak iparku itu naik sepeda apa dong? Kebetulan, selain sepeda yang biasa dia naiki untuk berangkat ke kantor, kakakku punya sepeda ‘tandem’ yang bisa dinaiki berdua, sehingga sepeda ‘tandem’ ini cukup menjadi sarana olah raga jika kakak iparku kepengen berolah raga bareng kakakku.
Aku belum ada rencana untuk membeli sepeda sendiri. Rencana dalam waktu dekat: naik sepeda—pinjam sepeda mini yang semula milik kakak iparku itu—untuk pergi ke Paradise Club, tempatku ber-erobik ria maupun fitness dan berenang, yang terletak di Pondok Indraprasta, selama Angie libur kenaikan kelas, yang katanya berlaku selama kurang lebih tiga minggu, mulai 22 Juni sampai 13 Juli 2008.
PT56 14.54 150608

Rabu, Juni 11, 2008

Jawa, Cina, Arab


 

Satu ide lagi yang dipertanyakan oleh Titaley—tentang pertentangan antara etnis Jawa dan Cina—adalah kemungkinan pertentangan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama, daripada hanya sekedar dua etnis yang berbeda. Orang-orang keturunan Cina kebanyakan beragama Buddha/Kong Hu Chu/Kristen/Katolik; sedangkan orang-orang Jawa kebanyakan beragama Islam. Titaley mengemukakan pendapat ini berdasarkan pengalaman keluarga Ibunya yang keturunan Cina namun beragama Islam, yang tinggal di Pulau Serang. Mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dari warga di sekitarnya. 


Para budayawan di Semarang mengatakan bahwa penduduk yang tinggal di Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah ini mencakup tiga etnis utama; yakni Jawa, Cina, dan Arab. Seandainya mengamini dikotomi antara pribumi dan non pribumi, maka ada dua etnis yang bisa dikategorikan non pribumi, yaitu orang-orang keturunan Cina dan Arab. Namun tatkala terjadi kerusuhan yang (mungkin) dikarenakan perbedaan etnis, maka hal itu berarti (hanya) antara Jawa dan Cina saja. Salah satu kerusuhan yang ‘sempat kualami’ sendiri yakni yang terjadi pada tahun 1980, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dua hal yang kuingat dari kerusuhan tersebut: pertama, my Mom sangat khawatir dengan keselamatan my (late) Dad yang waktu itu berada di kantor, karena my (late) Dad looked like Chinese. Yang kedua: tiba-tiba orang-orang di sekitarku menjadi beringas dengan melemparkan batu-batu ke toko-toko milik orang-orang keturunan Cina. Aku tidak tahu alasannya, kecuali bahwa kata para tetangga mereka itu menumpuk harta sehingga mereka menjadi kaya.


Mengapa demikian? Jawabannya tentu karena mayoritas orang Jawa memeluk agama Islam, sama dengan agama yang dipeluk oleh orang-orang keturunan Arab. Agama Islam menjadi satu ikatan yang sangat kuat mempertautkan orang Jawa dan orang-orang (keturunan) Arab. Bukankah banyak juga orang-orang keturunan Arab yang kaya?


Sehingga cukup masuk akal jika ada orang yang mengatakan bahwa mungkin untuk menghindari kerusuhan serupa untuk terjadi lagi, orang-orang keturunan Cina itu seyogyanya memeluk agama Islam, seperti Laksamana besar Cheng Ho yang konon pernah menginjakkan kakinya di pesisir Semarang, dan membangun sebuah masjid sebagai petilasan, namun di kemudian hari beralih fungsi menjadi kelenteng, yakni bangunan bersejarah Gedung Batu Sam Po Kong.


Namun sangatlah tidak bijaksana jika agama dijadikan sebuah senjata. Bukankah dalam agama Islam, orang-orang (seharusnya) meyakini bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama? 


Seperti apa yang dilakukan oleh Widjajanti Dharmowijono, yang mendapatkan tugas membedah novel PUTRI CINA, kita harus kembali ke beberapa abad lalu, bagaimana pemerintah Kolonial Belanda menanamkan policy divide et impera, sehingga para ‘kaum pendatang’ (baca => keturunan Arab dan Cina) itu saling membenci, untuk mencari akar permasalahan, untuk kemudian bersama kita mencari solusinya, demi membentuk negara dimana para warganya benar-benar saling menghormati dan melindungi.


PT56 23.00 100608