Barangkali, satu hal yang membuat masyarakat Indonesia –
kebanyakan – tidak bisa memahami situasi di propinsi-propinsi lain di negaranya
adalah karena Indonesia adalah negara kepulauan. Propinsi-propinsi tersebut
terletak di pulau-pulau yang berbeda, ditambah dengan pembangunan yang tidak
(atau belum) merata plus biaya transportasi yang tidak bisa dibilang murah
membuat banyak orang ogah-ogahan untuk mengenal propinsi-propinsi lain dengan
tradisi masyarakat yang tinggal disana dengan cara berkunjung langsung kesana. Dan
dikarenakan “silau” dengan segala hal yang berbau “luar negeri”, orang-orang
Indonesia pun akan lebih memilih berwisata ke luar negeri ketimbang ke luar
pulau (maksimal hanya ke Bali lah mereka berwisata.)
Kebetulan aku terlahir dari sepasang suami istri berdarah
Gorontalo – Sulawesi Utara – yang telah hijrah ke Semarang beberapa hari
setelah hari pernikahan mereka. Kebetulan (lagi) mereka berdua nampaknya bukan
tipe orang yang suka traveling (no idea why in the very first place my dad
moved to Semarang a few decades ago then), dan bukan tipe orang yang
“mengagung-agungkan” mudik sehingga tiap lebaran tidak harus pulang kampung. Satu-satunya
alasan yang dipakai untuk menjawab pertanyaan orang pas lebaran, “pulang
kampung kah lebaran ini?” adalah “biaya untuk pulang kampung mahal sekali.”
Seumur-umur kedua orang tuaku mengajak anak-anaknya ke Gorontalo hanya sekali,
yakni sebelum adik bungsuku lahir. :)
Beberapa tahun yang lalu waktu aku mengajar di satu instansi
pemerintah di Demak, salah satu siswaku memiliki suami yang berasal dari
Sulawesi Selatan. Siswaku itu bercerita tiap lebaran sang suami bersikeras
untuk selalu mengajak istri dan anak-anaknya untuk pulang kampung ke Sulawesi.
Jika tidak, bisa jadi sang suami akan menangis. :) maka,
kata siswaku itu, sepanjang tahun mereka akan menabung untuk kemudian mereka
‘belanjakan’ tabungan itu dalam hitungan hari è mudik
ke kampung halaman sang suami.
Kisah ini cukup membuatku terperangah.
Aku pun menjadi bertanya-tanya, mengapa bagi kedua orang
tuaku mudik bukanlah satu hal yang magis sehingga mereka tak merasa perlu harus
mudik ke kampung halaman.
Beberapa bulan lalu seorang teman facebook menulis status
tentang hal ini: negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan membuat masyarakat
Indonesia enggan mengenal tradisi masyarakat di propinsi-propinsi lain. Mereka
cenderung tidak mau tahu. Plus traveling masih dianggap sebagai satu “barang”
mewah. Sehingga ya begitu lah, mereka bisa jadi mirip seperti katak dalam
tempurung. Bahkan di era internet seperti ini, dimana kita bisa “berkunjung” ke
propinsi-propinsi lain secara virtual, untuk lebih mengenal kondisi geografi
maupun demografi pulau-pulau lain, masih banyak orang-orang yang “melek”
internet hanya untuk bersosial-media saja. Well, tidak ada salahnya sih
bersosial-media. Namun tanpa memaksimalkan penggunaan internet – yang merupakan
a very huge library – sehingga tetap saja berpikir secara lokal, what’s the
point?
Waktu itu aku komen, “Aku hanya pernah mengunjungi Bali, di luar
pulau Jawa. Gimana lagi, mau ke pulau-pulau lain biayanya mahal je.” Oleh si
pemilik TS, aku dikomentari, “Berarti Mbak Nana tetap kuanggap sebagai sangat
kejawaan,” Hihihihi ... (Eh, aku lupa, aku sudah pernah ke Kalimantan dan
Sulawesi, pada usia yang masih sangat muda. Waktu itu belum ada direct flight
dari Semarang ke Gorontalo hingga kita harus lewat Banjarmasin – Balikpapan –
Palu, mana perjalanan butuh 2 hari pula. LOL. Malah asik ya, bisa sekalian
jalan-jalan ke Kalimantan.)
Maka, waktu akhirnya aku traveling ke pulau Lombok di akhir
Juni 2015 yang lalu, aku anggap itu adalah awal yang bagus bagiku untuk lebih
mengenal negara tercinta. :) (Aku
berkunjung ke Gorontalo di usia yang masih sangat muda hingga tak ingat
apa-apa. LOL.)
Hmmm ... what can I say about Lombok?
Seorang teman yang (awalnya) kukenal lewat facebook, dan
kita berkesempatan kopdar waktu aku ke Lombok mengatakan satu hal yang sungguh
tak pernah aku ketahui. “Jika terjadi peristiwa kecurian di pulau Bali,
pelakunya pasti bukan orang Bali. Kalau bukan pendatang dari pulau Jawa (dia
menyebut satu kota yang terletak paling dekat dengan Bali), pasti dari Lombok.
Kau tahu? Ada daerah-daerah tertentu di Lombok dimana masyarakatnya menganggap
kelihaian mencuri merupakan satu kualitas yang akan dilihat oleh calon mertua
untuk mengangkat seseorang menjadi calon menantu.” WAH!
Yang mengatakan hal ini tidak hanya satu orang, Mbak Ely.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Om Helmanus, waktu beliau tahu kisah kamera
Ranz yang dicuri orang waktu kita mampir ke satu mini market di Bali.
“Pencurinya pasti bukan orang Bali. Kalau bukan orang Jawa, pasti orang
Lombok.” Wew.
I love Lombok, especially its lovely beaches. (Meski aku
setuju dengan Abangku yang cintanya pada Bali tak tergoyahkan meski banyak
tempat-tempat indah lain di Indonesia.) Namun dengan mengenal tradisi di
tempat-tempat lain, kita bisa lebih ‘alert’ ketika kita berkunjung ke lokasi
tersebut.
Aku dan Ranz tentu tidak kapok berkunjung ke Bali dan
Lombok. Tak lama setelah kita balik dari bikepacking kita, kita berdua
sama-sama mengaku telah merindukan Bali dan Gili Trawangan. :) Next time kita akan lebih alert tentu saja.
Semoga usaha pemerintah saat ini untuk menjembatani
pulau-pulau agar transportasi mudah dan murah segera terwujud. Semoga rakyat
Indonesia kian mengenal negaranya dengan cara berkunjung ke pulau-pulau lain,
megenal kondisi di tempat lain, hingga mereka tak mudah terbakar emosi ketika
terjadi satu huru-hara di satu lokasi dan buru-buru mengatakan akan mengirim
laskar jihad, tanpa tahu kondisi geografis maupun kultural lokasi tersebut.
PT56 15.31 20/07/2015
i am immediately interested in the article by reading its title.
BalasHapusthere are probably similarities between your experience and mine. i've only been to my parents' hometown in Sumatera once, which was a lo--ong time ago. i couldnt remember much. but i do remember the lo--ong journey. similar to your journey, it took days... okay maybe I exaggerated, it took one whole day of air and land travel.
haha different from the romance between you and bali, where you wish to return, i dont have the intention (for the moment) to travel back. the lo--ong journey is one reason. but the other reason would (probably) be the cultural shocked i experienced when i was there. i didnt receive any 'alerts' before visiting that place. i didnt know thati had to travel that journey, i didnt know the culture there. when i arrived i experienced a shock. i couldnt understand the language and you see, not being able to communicate is fustrating. not to mention other uncommon traiditions there to me.
i do believe that informing me beforehand will alert me and probably reduce the effect of schock. but i am not sure though whether this alert will reduce my complaints ( experiencing emosi yang membakar) or on the other hand will discourage me from going. i mean, i couldnt imagine if my parents told me that people there might not understand me, or the customs i have learnt and applied here is a 'lie' once i visit their hometown. but experiencing such a shock at that age (not sure if i am using age as an excuse), the feeling kind of follows till now.
haha interesting writing! brought me back to my past
and actually, bring me to think whether or not i should reconsider visiting that place. (i would have just think its a big NO NO) haha
I would rather suggest you to visit the place again, Bella :) who knows it will change your mind about it :)
Hapusbtw, this story of yours reminded me of my own experience when I was in the fourth grade of elementary school. My family went to Gorontalo, North Sulawesi. Since there was no direct flight yet from Semarang to Gorontalo, we had to change flights. First, from Semarang to Banjarmasin, then to Balikpapan. In Balikpapan, we had to stay a night since there was no following flight. :) The next day, we continued our journey from Balikpapan to Palu, then from Palu to Gorontalo. it took approximately 2 days. I was not really small, perhaps, so I enjoyed the journey. :)
In Gorontalo, we stayed for around 2 weeks. An interesting story that I still remember until now is I often influenced my younger sister to beg our parents to go back to our grandparents's house (although our grandparents already passed away) when we visited a relative's house and I thought the house was ugly. LOL. I asked my younger sister to cry if our parents didn't directly wanna go back to our grandparents' house. Well, we visited Gorontalo after my parents left the town for 15 years so of course some relatives asked us to visit them and stay a night in their house. :)
Going back to Semarang, again, we had to change flights exactly the same as when we departed to Gorontalo: Gorontalo - Palu - Balikpapan - Banjarmasin - Semarang.