Cari

Rabu, Juni 27, 2012

Perempuan Buruh = Budak?

Ini respons yang langsung melintas dalam benakku seusai membaca cerpen "Kebun Teh", salah satu cerpen yang terhimpun dalam KumCer Perempuan Kopi.

Salah satu (atau dua ya?) pembaca yang menghadiri acara bincang-bincang buku Perempuan Kopi pada hari Jumat 22 Juni 2012 telah sempat menyinggung topik cerpen yang satu ini: bahwa perempuan yang hidup di perkebunan dan bekerja menjadi buruh -- atau apa pun posisinya -- tak pernah secara utuh memiliki tubuhnya, dan juga hidupnya. Bahkan, seorang perempuan bisa jadi juga bukan milik suami yang secara legal menikahinya.

Hal ini mengingatkanku ketika membaca novel Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe, yang konon merupakan salah satu trigger pecahnya perang saudara di Amerika Serikat pada tahu 1860 - 1865. Para budak itu sama sekali tak punya hak untuk memiliki hidupnya, hidup mereka adalah milik tuan tanah yang juga memiliki mereka. Terserah para tuan tanah akan melakukan apa pun terhadap hidup para budak itu; misal dijadikan sapi perah untuk terus bekerja dari pagi hingga petang, dijadikan mesin penghasil bayi (agar lebih banyak bayi yang dilahirkan dimana nantinya akan tumbuh menjadi budak yang dimiliki), atau hanya 'sekedar' menjadi budak seks sang tuan tanah.

Meski sangat menentang praktik perbudakan -- dalam bentuk apa pun juga -- aku berpikir yang dilakukan oleh para tuan tanah di Amerika Serikat bagian Selatan waktu itu masih bisa 'dikunyah' akal.

Namun jika ternyata praktik yang tidak jauh beda itu juga dilakukan di perkebunan-perkebunan di Indonesia, dimana para pekerja disana mendapat upah -- yang meski mungkin tidak layak -- akan tetapi predikat mereka bukanlah 'budak', mereka adalah pekerja.

Dewi Nova (DN) menyatakan bahwa ketigabelas cerpen yang dia tulis berdasarkan realitas hidup yang dia amati dalam kehidupannya sehari-hari. Secara lugas DN mengatakan bahwa topik cerpen dalam "Kebun Teh" pun dia ambil dari kenyataan yang pernah dia lihat sendiri.

Seorang peserta bincang-bincang buku "Perempuan Kopi" mengatakan di Kalimantan (atau Sumatra ya?) dia pernah mendapati praktik serupa. Namun lebih 'setara'. Ada suami istri yang posisinya paling tinggi di sebuah perkebunan. Jika sang istri sedang pergi jauh dalam waktu lumayan lama, sang suami meminta anak buahnya untuk bergilir mengirim istri-istri mereka untuk 'menemani'nya. Juga sebaliknya, jika sang suami pergi jauh dalam waktu lama, sang istri akan meminta anak buah suaminya -- yang laki-laki karena kebetulan sang istri ini hetero -- untuk 'menemaninya'.

Ada satu kalimat yang sangat aku sukai dari cerpen "Kebun Teh".

Teringat pesan bapak, jangan pernah melukai tubuh perempuan yang melahirkan anak-anakmu, aku tak pernah membicarakan hal itu dengan istriku, apalagi melukai tubuhnya. (halm. 40)

PT28 15.31 230612

Jumat, Februari 24, 2012

Fight for Your Soul Mate!

Fight for your soul mate!



A movie review of CRAZY, STUPID LOVE

‘A soul mate is someone without whom you cannot live,” some people say. Therefore, after you realize that you have found your soul mate, don’t ever let him or her go. Fight for him or her if you have to do that. Convince him or her that you belong together in order to reach happiness together.

That is the moral message conveyed by a movie entitled CRAZY, STUPID LOVE. This movie is starred by Julianne Moore as Emily, a 44-year old woman who has three children, Hannah (played by Emma Stone) who is going to be a lawyer, Robbie (played by Jonah Bobo), a teenager, and the youngest Molly (played by Joey King). Emily’s husband is Cal, a successful man. Steve Carrel plays well as Cal. And there is another central character, Jacob Palmer played by Ryan Gosling.




Cal met Emily when he was 15 years old and directly perceived that Emily would be his one and only soul mate. Despite his dad’s teasing – to say a girl was his soul mate at a very young age because a teenage boy usually ‘just’ had a crush on a girl and then would date many girls before deciding a girl was a soul mate – Cal married Emily who apparently was two years older. Their first daughter – Hannah – was born when Cal was 17 while Emily 19. Their marriage seemed to run well until one day Emily asked for a divorce after she had sex with another man, one workmate of hers named David Linhagen (played by Kevin Bacon). Emily feeling guilty asked for a divorce although afterwards she explained that she suspected herself to suffer from a mid-life crisis.

Getting married for around 25 years and Cal was the first boy dating her – for both of them their spouse was their first love – obviously made Emily bored. She started to feel that she needed to be alone, not always be together with Cal when doing something. As other people who admit that they suffer from a mid-life crisis, Emily perhaps also was questioning herself whether she was still able to attract men or not. She was ‘satisfied’ when finding that David adored her.

Meanwhile, feeling content with his life, Cal never thought that he needed to stll pay attention to his physical appearance and showed any romanticism he once did when he tried to win Emily’s heart. He even directly lost his spirit to keep Emily as his soul mate. He gave in by directly saying he would sign any document (for divorce) Emily needed and leave the house.

At another side of the story, Robbie – the thirteen year old son of the couple – fell in love with Jessica (played by Analeigh Tipton), his baby sitter and as his dad at a very young age, Robbie was also very sure that Jessica was his soul mate. On the contrary, Jessica secretly had a crush on Cal! ^__^


Another central character is Jacob Palmer. He ‘helped’ Cal to find back his confidence to face women, by trying to ‘change’ Cal to be like himself – a so-called womanizer. However, later on Jacob turned out to envy Cal’s steady life by only having one woman in his life after meeting Hannah, Cal’s the first child. For sure, Cal disapproved Hannah’s relationship with Jacob due to Jacob’s ‘reputation’ as a womanizer and Cal saw his ‘action’ with his very own eyes.

How does the story end?

Watch it! It is very entertaining, trust me. :)

PT28 17.06 23/02/12


Selasa, Februari 14, 2012

People's Power in Sydney White

 
Sydney dengan ketujuh teman anehnya penghuni the Vortex

A review based on a movie entitled SYDNEY WHITE

Sydney White adalah tokoh sentral dalam film yang berjudul sama: SYDNEY WHITE. Amanda Bynes, si pemeran tokoh Viola yang tomboy dalam film SHE’S THE MAN, berperan sebagai Sydney White yang kebetulan juga memiliki karakter yang tak jauh beda dengan Viola. Yang sedikit berbeda adalah, Sydney dikisahkan dibesarkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai ‘plumber’ beserta lingkungannya, para pekerja konstruksi yang mayoritas laki-laki, sehingga sangat bisa dimaklumi jika dia memiliki sifat tomboy. Sedangkan dalam film SHE’S THE MAN tidak dijelaskan background apa dan mengapa yang membuat Voila memiliki sifat tomboy.

Dari segi akting, dalam film SYDNEY WHITE ini, tidak banyak perbedaan akting Amanda Bynes dikarenakan dia memerankan tokoh yang mirip dengan tokoh Viola dalam SHE’S THE MAN. Meskipun begitu, kisah yang diusung dalam film Sydney White lumayan menarik: bagaimana para ‘dorks’ alias orang aneh yang tidak mengikuti ‘the mainstream’ jenis-jenis mahasiswa di universitas memiliki power yang luar biasa setelah berkumpul untuk meruntuhkan status quo yang ada.

Alkisah di sebuah universitas yang bernama Southern Atlantic University (SAU), Sydney adalah seorang mahasiswa baru. Di kampus yang sama dulu Sydney's late mom juga menimba ilmu sekaligus mendapatkan teman-teman for life dari bergabung dengan 'a sorority sister group' yang bernama the Kappa Phi Nu sorority. Di surat wasiat yang ditulis oleh ibunya sebelum meninggal, Sydney diharapkan mengikuti jejaknya untuk bergabung dengan Kappa Phi Nu. Di zaman ibunya masih kuliah di SAU, KPN adalah sebuah sorority group dimana para anggotanya diajarkan untuk menyuarakan aspirasi mereka dan mengekspresikan karakter mereka sendiri-sendiri, tanpa merasa perlu 'terancam' untuk menjadi 'berbeda' dari yang lain.

 
Sydney dengan Rachel

Akan tetapi, di bawah kepresidenan Rachel Witchburn, KPN mejadi sebuah kelompok yang berusaha membuat semua anggotanya untuk tunduk di bawah kuasa Rachel dan selalu menjadi apa yang diinginkan Rachel. Salah satunya adalah: anggota KPN tidak boleh gemuk. Bahkan di bawah kepemimpinan Rachel, SAU seperti dikuasai oleh Rachel, misalnya dengan salah satu rencananya untuk menghancurkan "The Vortex" kediaman beberapa mahasiswa yang dianggap 'aneh' di lingkungan kampus karena 'the Vortex' dianggap tak layak berada di lingkungan SAU.

Sydney berhasil menyingkirkan Rachel dari kursi  'Student Body President' setelah mampu mengumpulkan orang-orang 'aneh' alias dorks untuk menerima kenyataan bahwa 'being dork is being different and that is ok' dan memberikan suara mereka kepada Sydney. Mereka dengan suka rela melakukannya karena selama ini mereka cenderung apatis bila ada pemilihan ketua Dewan Mahasiswa.

"Being different -- or dork -- from the mainstream is acceptable." alias "Being minority doesn't necessarily mean you have no choice." Ini adalah pesan menarik yang ingin disampaikan film yang bertema komedi ini.

Sydney White film remaja yang lumayan menghibur dari pada bosen sendirian. :)

PT28 16.48 14/02/12

P.S.:
mumpung masih berdekatan waktunya, aku menunggu people's power untuk menyingkirkan FPI dari bumi pertiwi. (mekso banget yak? hahahaha)

Kamis, April 28, 2011

Dugderan


"Jadilah orang Cina!" adalah judul sebuah cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen PETUALANGAN CELANA DALAM karangan Nugroho Suksmanto. Latar tempatnya ada di Semarang, terutama di daerah Pendrikan dan Magersari, dimana di perbatasan antara kedua daerah inilah sang pengarang lahir.


Cerpen diawali dengan paragraf berikut ini:

"Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha, aku harus jadi orang "Cina". Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka."

warak, icon kota Semarang
gambar diambil dari sini


Dalam kisah ini, Nugroho menceritakan pengalaman seorang anak laki-laki berusia awal belasan tahun sebelum bulan Ramadhan datang. Beberapa minggu sebelum Ramadhan, para penghuni Magersari sibuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengumpulkan dalam rangka merayakan hari Lebaran, Hari Raya terbesar kaum Muslim. Telah menjadi tradisi dalam merayakan Lebaran dengan mengenakan baju baru, pergi keliling kota, makan dan minum sesuka hati. Untuk melakukan ini semua tentu orang butuh uang yang tidak sedikit.

Kegiatan apa sajakah yang dilakukan orang-orang Magersari untuk mengumpulkan uang? Mereka membuat mainan seperti warak ngendog, celengan (tabungan yang terbuat dari tanah liat dalam berbagai bentuk), membuat kue-kue, menjahit pakaian dan kemudian menjualnya pada event DUGDER. Sementara itu, bagi sebagian anak-anak nakal, mereka akan mencoba berjudi, misal main 'dadu kopyok', 'udar-bangkol, 'cap-sa'.

ZAMAN 'MODERN'

Sekarang, meski DUGDERAN masih diselenggarakan oleh pemerintah kota Semarang, 'grengseng'nya tak lagi seheboh seperti yang digambarkan oleh Nugroho Suksmanto dalam cerpennya ini. Orang-orang Semarang tak lagi melakukan hal yang sama dalam mengumpulkan uang untuk merayakan Lebaran -- misal membuat mainan, menerima jahitan pakaian -- mungkin karena sekarang para pegawai telah menerima THR dari tempat kerja mereka masing-masing. Mereka yang memang dalam kehidupan sehari-hari mencari uang dengan membuat mainan, menerima jahitan pakaian atau membuat kue-kue akan meneruskan 'pekerjaan' mereka ini meski tentu menjelang Lebaran omzet mereka akan meningkat pesat. Namun semua ini tak lagi langsung dihubungkan dengan tradisi DUGDERAN.

Anak-anak 'kota' dari kalangan menengah ke atas pun tak lagi tertarik untuk mengunjungi DUGDERAN ini. Konon kebanyakan para penjual yang 'mremo' berjualan berasal dari kota-kota lain di daerah Jawa Tengah. Tahun 2007 lalu terakhir kali aku menyambangi DUGDERAN yang waktu itu diselenggarakan di daerah POLDER Tawang, ada seorang penjual mainan mengaku datang dari Wonogiri. Setiap tahun dia memang khusus datang ke Semarang untuk ikutan mremo dalam tradisi DUGDERAN. Pada kesempatan lain mungkin dia akan berkunjung ke kota lain untuk berjualan mainan yang sama.

Btw, DUGDERAN datangnya masih lama yak? :)

GL7 14.14 270411

P.S.:
Sebagian merupakan terjemahan dari postinganku di Be a Chinaman!
Untuk mengetahui tentang tradisi 'dugderan' lebih dalam lagi, klik link ini.
Tulisanku tentang Jawa, Cina dan Arab klik link ini.

Kamis, Maret 03, 2011

Chinese foot-binding

From my post in this topic at Chinese foot-binding versus European corset wearing I got one very intriguing, though somewhat shocking link here

A Taiwanese doctor -- the so-called respected expert in foot-binding -- was interviewed about this in-fact-secretly-hidden fact in Chinese culture. He -- and perhaps also with many other contemporary men at his age or older -- found bound foot the most important sex appeal in women; even a lot more sexier than a woman's genital organ. He has thousand pictures and knick-knack of this stuff in his house. In short, he said that a woman's bound feet were so erotic that she would cover them in order that public would not be able to see them. A woman would even choose to be photographed naked but still wear her tiny feet. Men in his era would very much be aroused only to see a tiny shoe, and not so much when seeing naked breast or vagina.

For this reason then many mothers would rather make their daughters cry when binding their feet to get a lotus shape in order that they would not see their daughters cry in the future because they would not be wanted to be men's wives. As a result, since women could not do many household chores, men -- from not so rich families -- would work like slaves as long as they had wives with lotus-shaped feet.

For further reading, just click the link here .

GL7 15.18 030311

Selasa, Februari 22, 2011

Sang A




kala kau senantiasa menjelma bayang-bayang di sepanjang jalan yang kulalui pada saat fajar menyingsing hingga mentari mulai menyembul di ufuk timur, sampai di rimbang petang menyapa dan sinar rembulan pucat pasi menggantikan sang surya ditemani kelap kelip gemintang di langit kelam ... bahkan saat aku ingin mengabaikan hadirmu di tiap hembusan nafasku, tiupan angin menyampaikan sapa galaumu padaku ...

 

 

tak juga lelah kah engkau

padahal telah sekian waktu tak lagi kumendiktemu

memohonmu lakukan sesuatu

tuk masa depanku

atau pun masa kiniku

tak!

:

tak akankah ada perpisahan antara kita?

 

GL7 11.57 220211

Rabu, Februari 16, 2011

Kronika Kronis Anakronisme Anarkis

Kronika Kronis Anakronisme Anarkis


Sekedar ingin berbagi tulisan seorang online buddy di lapak sebelah. Betapa telah terjadi kesalahkaprahan tentang pemahaman kata ANARKIS. :) Untuk postingan yang asli, klik saja tautan di atas.

Pak Beye,

Membicarakan Anarkisme tak sesederhana mengolah dan menikmati mi instan, namun begitu janganlah enggan mempelajarinya apabila Anda merasa turut berkepentingan membawa kronika Anarkisme ke tengah masyarakat. Setidak(-tidak)nya, bukalah Wikipedia dan rajin-rajinlah merunut labirinnya hingga kenal para bijak penggagas Anarkisme dan jalan anarki di dalamnya. Ini demi Anda agar tak ditertawai dunia tatkala tanpa angin dan badai menghendaki pembubaran organisasi massa yang bersikap anarkis (Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu 9 Pebruari 2011). Sebab sekali lagi pak, Anarkisme bukanlah ideologi semacam mi instan rasa kepalsuan.

Demikian surat terbuka saya kepada Anda, semoga cukup mampu mengajak Anda kembali mempelajari ilmu-ilmu sosial dan filsafat. Namun saya menyilakan Anda apabila ingin terus membaca tulisan ini. Oh ya pak, saya menulis ini dengan semangat Anarkisme dan diiringi lagu valentine berirama punk. Semoga suka.

Anarkisme

Pengertian paling sederhana dari Anarkisme adalah sebuah paham anti pemerintahan, namun awam cenderung berhenti di sini, dan atau melanjutkan pemahaman mereka pada salah satu pilihan gerakan anarki yang menyatakan perjuangan dengan jalan kekerasan, perusakan, dan pembunuhan. Sebagaimana yang disampaikan Buenaventura Durruti Dumange (1896 - 1936), seorang tokoh utama dalam gerakan Anarkisme di Spanyol;

"Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan".

Namun begitu, sesungguhnya Durruti hanya mengarahkan jalan kekerasan tersebut kepada negara dan Kapitalisme. Di beberapa bagian saya dapat menyepakati pemikiran Durruti dan memahami pilihan kekerasannya. Bukankah di sisi lain isu anti kekerasan juga dimanfaatkan penguasa untuk membatasi gerak para aktivis agar tak merusak hak milik mereka? Dipakai untuk memukul balik atas nama menjaga stabilitas? Dan memberi jarak aman antara penguasa dan yang dikuasai? Bagi saya kekerasan - ataupun penghujatan - yang ditujukan kepada kelompok yang lebih berkuasa adalah sikap perlawanan atau setidaknya upaya pembelaan, sedang kekerasan dan pelecehan penguasa kepada kaum lemah adalah bentuk sikap fasis. Kekerasan menemu nilai jihadnya ketika diarahkan untuk melawan penjajah Belanda oleh pejuang kemerdekaan, namun menemu nilai jahatnya ketika diarahkan untuk membunuh para Ahmadi oleh kaum Islam garis kekerasan. Kekerasan pejuang kemerdekaan adalah kekerasan yang diijinkan Anarkisme, sedang kuasa kekerasan kaum fundamentalis Islam kepada pihak yang lemah dalam kasus Ahmadiyah ditolak karena amat fasistik. Musuh utama Anarkisme adalah Fasisme, karenanya amatlah lucu - untuk tak menyebut "Dungu", membubarkan organisasi anarki karena perbuatan yang dilakukan oleh kaum fasis.

Anarkisme Durruti sejatinya bukan berarti melulu kesalahan, namun kekerasan kekerasan tetaplah bukan isu eksklusif bagi sebagian besar penganut Anarkisme dan berbagai variannya. Coba simak apa yang ditulis Alexander Berkman (1870 - 1936), seorang pemikir Anarkisme ternama asal Rusia;

"Anarkisme berarti bahwa Anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak Anda, menjadi majikan Anda, merampok Anda, ataupun memaksa Anda. Itu berarti bahwa Anda harus bebas untuk melakukan apa yang Anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang Anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan"

Anakronisme

Tapi isu kebebasan, kebersamaan, dan kesetaraan dalam Anarkisme seperti ini tak mampu mengalahkan pamor kekerasan Anarkisme Durruti. Kata kunci 'Kekerasan' Durruti akhirnya menjadi bumerang dengan tenaga tambahan dari kaum kapitalis untuk menyerang Anarkisme. Sehingga wajah anarki dibuat luka menjelma seolah monster berbahaya bagi peradaban.

Wajah asli Anarkisme yang damai tiba-tiba sirna oleh anakronisme. Anakronisme adalah pemelintiran makna dan Anarkisme telah dipelintir 180 derajad. Ajaran Anarkisme Damai Pierre-Joseph Proudhon (1809 - 1865), seperti tak pernah ada, anjuran Mikhail Bakunin (1814 - 1876) atas penolakan eksploitasi seolah tak terdengar, gagasan akan kebebasan kemanusiaan dari Prince Peter Kropotkin (1842 - 1921) seakan sirna, pemikiran kesetaraan gender dari Emma Goldman (1869 - 1940) terabaikan, juga gerakan perlawanan melalui media oleh Errico Malatesta (1853 - 1932) terkalahkan oleh kisah kekerasan lapangannya, dan seterusnya. Anarkisme bukam sekadar hantu yang bergentayangan di langit Eropa, tapi mahluk luka yang merangsek ke segala penjuru dunia. Anarkisme adalah Zombie yang tak henti disambit dengan anakronisasi para musuh ideologisnya.

Di Indonesia Anarkisme disambut dengan baik karena memiliki banyak kesamaan dengan filosofi dan tradisi Nusantara.  Sebutlah misalnya moto 'Do It Yourself (DIY)' kaum anarki untuk menolak bantuan penguasa sejalan dengan semangat 'Swadesi' juga 'Berdiri Di Atas Kaki Sendiri (Berdikari)', bentuk perlawanan 'Disobey' atau pembangkangan dapat disetarakan dengan aksi menolak bayar pajak oleh Kaum Samin pimpinan Suro Sentiko, semangat 'Kolektivo' tentu dapat disejajarkan dengan tradisi 'Gotong-royong', paham anarki dalam menjauhi teknologi perusak kemanusiaan yang penolakannya sudah lama dipraktikkan oleh Suku Badui, jalan damai anarki pun menemui padanan dengan 'Ahimsa', dan seterusnya. Maka tak pelak seorang Sukarno amat menyukai dan banyak terinspirasi semangat ini. Bersama tulisannya di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1923, Sukarno menyambut Anarkisme.

Namun bersama kekuasaannya, Orde Baru (Orba) menyambit Anarkisme. Sangat bisa dimaklumi karena Anarkisme adalah sistem sosial di wilayah kiri yang tegas berhadapan dengan tiga unsur utama pembangun Orba; Kapitalisme, Fasisme, dan Feodalisme. Tapi memang bagaimanapun ideologi tak pernah mati, terlebih ideologi yang tercipta dari semangat muda. Bara pembakar semangatnya bisa dari apa saja; musik, fesyen, bahasa, olah raga, seni rupa, dan seterusnya. Iming-iming bidadari surga tak ada dalam kamus bara bakar semangat mereka. Komunitas anarki ada di mana-mana di Nusantara. Saya membayangkan sebuah Anarchonesia.

Sampai waktunya tiba, revolusi ada di depan pintu istana dan mengetuknya dengan cinta.