Cari

Selasa, Juni 09, 2020

Mazhab covid 19

Apa sih yang tidak dihebohkan di media sosial? :D

 

Ketika pertama kali berita virus corona alias covid 19 melumpuhkan Wuhan, China, kita orang-orang Indonesia (ternyata) terbelah minimal menjadi dua. Pertama, yang langsung 'ngeh' kemungkinan virus ini akan 'hijrah' ke Indonesia. Mungkin hanya sedikit persentase kelompok pertama ini. Kedua, yang beranggapan bahwa virus tidak akan sampai ke Indonesia, seperti kasus flu burung sekian tahun lalu, misalnya. Honestly, aku termasuk yang lugu, jadi masuk kategori kedua ini.

 


Ketika kemudian kasus covid mulai ditemukan di negara-negara lain, misal Malaysia, Singapore, sebagian dari para pengguna medsos masih menganggapnya 'jauuuuh'; sebagian dari mereka -- aku termasuk, lol -- turut memviralkan gambar orang-orang China yang melindungi diri mereka dengan berbagai jenis barang yang menurut kita nampak lucu. Lol. (Sekarang, aku menulis ini di bulan Juni 2020, tak lagi kupandang gambar-gambar itu lucu. Hadeeeh.)

 

Awal Februari, aku menghadiri satu acara launching pabrik sepeda lipat Da*** di Kendal, tak jauh dari Semarang. Semula, Dr. Hon sang pendiri direncanakan akan datang. Namun rencana ini batal karena ternyata mulai awal Februari, Indonesia tidak menerima penerbangan dari China; kebetulan saat itu Dr. Hon sedang berada di China, meski katanya dia berwarga negara Amerika. Sebagian peserta menyayangkan batalnya Dr. Hon untuk datang ini karena terpaksa acara penandatanganan sepeda yang terpilih pun batal. Beberapa kawan membayangkan akan memiliki memorabilia jika sepeda mereka terpilih untuk ditandatangani langsung oleh Dr. Hon. Aku sendiri mulai berpikir, "Owh, ancaman virus satu ini nyata adanya sampai pemerintah melarang penerbangan dari China masuk Indonesia."

 



 


Awal Maret 2020 Presiden Jokowi sendiri yang mengumumkan adanya pasien pertama kedua dan ketiga yang tertular virus corona; mereka 'mendapatkan' virus ini dari seseorang dari Jepang yang mereka temui di satu acara. Tak lama kemudian, pertengahan Maret, pemerintah menginstruksikan untuk 'stay at home' dengan ditandai ditutupnya sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah. Anak-anak sekolah mulai mempraktekkan 'study from home' dan pekerja 'work from home'.

 

Saat ini masyarakat mulai terbelah menjadi dua

 

(1) mazhab kesehatan: orang-orang yang memikirkan kesehatan lebih penting ketimbang yang lain-lain. Biasanya yang termasuk 'mazhab' ini mereka yang bisa 'work from home'; atau kalau pun terpaksa dirumahkan, mereka memiliki tabungan untuk hidup beberapa bulan ke depan sampai kondisi dinyatakan kondusif oleh pemerintah.

 

 

(2) mazhab ekonomi: orang-orang yang harus terus bekerja agar dapur tetap ngebul, mereka tidak peduli dengan ancaman virus.

 

 


Jika kuperhatikan, awal pemerintah mengumumkan 'stay at home' 'study from home' atau pun 'work from home', jalanan benar-benar sepi, orang-orang lebih memilih tinggal di rumah dari pada keluyuran di jalan; meski mereka yang berkiblat ke mazhab ekonomi tentu tetaplah keluar rumah untuk mengupayakan agar mereka menerima pendapatan, entah bagaimana caranya.

 

Jika di pertengahan Maret, pemerintah menyatakan 'stay at home' ini 'hanya' akan berjalan selama 2 minggu, kenyataannya pemerintah memperpanjangnya hingga akhir Mei 2020. Anak-anak sekolah terus belajar di rumah; sebagian PNS/ASN bekerja dari rumah.

 

Dan, ternyata 2 bulan ini dirasa terlalu lama bagi sebagian orang. Sebagian media massa pun mengompori bahwa sebenarnya covid 19 ini hanyalah konspirasi pihak-pihak tertentu; WHO sering dituduh sebagai pihak yang mengadu domba negara-negara. Selain itu, pemerintah negara China menuduh Amerika menciptakan virus ini dan mengirim warganya ke Wuhan di bulan Oktober 2019 untuk menularkan virus ke penduduk Wuhan, sementara negara Amerika pun menuduh China ingin menghempaskan Amerika karena China ingin menjadi negara super power, menggantikan Amerika.

 

 

Awal Juni ketika pemerintah mulai mengumumkan kemungkinan pemberlakukan 'new normal' di bulan Juni dibarengi dengan merebaknya 'mazhab halusinasi'; aku sempat menemukan satu pernyataan seseorang (konon) mantan pasien covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet Kemayoran (yang difungsikan sebagai RS rujukan pasien covid 19) bahwa virus corona ini hanyalah halusinasi; kenyataannya tidak ada pasien yang mati karena virus corona; mereka yang mati ya karena penyakit yang telah 'menjangkiti' mereka sekian lama. Postingan ini ingin menyatakan bahwa virus corona tidak semengerikan yang digembar-gemborkan media. Selain itu juga ada maksud memojokkan pemerintah. Berhubungan dengan pemberlakukan 'new normal', dimana untuk melakukan perjalanan luar propinsi/pulau seseorang wajib menyertakan surat sehat bebas dari covid 19 dan untuk mendapatkan surat itu seseorang harus membayar biaya yang cukup mahal.

 

 

Padahal menurutku jika rakyat dipersulit untuk melakukan perjalanan -- karena mungkin memang virus corona ini hanya konspirasi/halusinasi -- sedikit banyak akan mempengaruhi sektor ekonomi juga. Daerah-daerah yang biasanya menggantungkan pemasukan dari sektor wisata akan terkena dampak berkepanjangan. Jika ini terjadi tentu akan kembali ke pemerintah yang susah. Bukankah dengan pemberlakuan PSBB atau pun PKM pemerintah harus mengeluarkan dana yang sangat banyak dalam pemberian BLT? Selain selama ini jika seorang pasien terbukti positif covid, segala biaya rumah sakit ditanggung oleh pemerintah?

 

 

Well, jikalau bisa hingga bulan Juni ini aku tetap memasukkan diri dalam mazhab kesehatan. Akan tetapi tentu sebagian kita tidak bisa terus menerus tinggal di rumah dengan jumlah tabungan yang terbatas; kita harus kembali bekerja, tentu dengan melakukan protokol kesehatan dengan ketat.

 

Marilah dukung pemerintah untuk terus menekan laju penyebaran covid 19.

 

LG 15.30 09-June-2020



bisa check tulisanku lain tentang covid 19 disini ya gaes.