Cari

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 28, 2011

Dugderan


"Jadilah orang Cina!" adalah judul sebuah cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen PETUALANGAN CELANA DALAM karangan Nugroho Suksmanto. Latar tempatnya ada di Semarang, terutama di daerah Pendrikan dan Magersari, dimana di perbatasan antara kedua daerah inilah sang pengarang lahir.


Cerpen diawali dengan paragraf berikut ini:

"Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha, aku harus jadi orang "Cina". Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka."

warak, icon kota Semarang
gambar diambil dari sini


Dalam kisah ini, Nugroho menceritakan pengalaman seorang anak laki-laki berusia awal belasan tahun sebelum bulan Ramadhan datang. Beberapa minggu sebelum Ramadhan, para penghuni Magersari sibuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengumpulkan dalam rangka merayakan hari Lebaran, Hari Raya terbesar kaum Muslim. Telah menjadi tradisi dalam merayakan Lebaran dengan mengenakan baju baru, pergi keliling kota, makan dan minum sesuka hati. Untuk melakukan ini semua tentu orang butuh uang yang tidak sedikit.

Kegiatan apa sajakah yang dilakukan orang-orang Magersari untuk mengumpulkan uang? Mereka membuat mainan seperti warak ngendog, celengan (tabungan yang terbuat dari tanah liat dalam berbagai bentuk), membuat kue-kue, menjahit pakaian dan kemudian menjualnya pada event DUGDER. Sementara itu, bagi sebagian anak-anak nakal, mereka akan mencoba berjudi, misal main 'dadu kopyok', 'udar-bangkol, 'cap-sa'.

ZAMAN 'MODERN'

Sekarang, meski DUGDERAN masih diselenggarakan oleh pemerintah kota Semarang, 'grengseng'nya tak lagi seheboh seperti yang digambarkan oleh Nugroho Suksmanto dalam cerpennya ini. Orang-orang Semarang tak lagi melakukan hal yang sama dalam mengumpulkan uang untuk merayakan Lebaran -- misal membuat mainan, menerima jahitan pakaian -- mungkin karena sekarang para pegawai telah menerima THR dari tempat kerja mereka masing-masing. Mereka yang memang dalam kehidupan sehari-hari mencari uang dengan membuat mainan, menerima jahitan pakaian atau membuat kue-kue akan meneruskan 'pekerjaan' mereka ini meski tentu menjelang Lebaran omzet mereka akan meningkat pesat. Namun semua ini tak lagi langsung dihubungkan dengan tradisi DUGDERAN.

Anak-anak 'kota' dari kalangan menengah ke atas pun tak lagi tertarik untuk mengunjungi DUGDERAN ini. Konon kebanyakan para penjual yang 'mremo' berjualan berasal dari kota-kota lain di daerah Jawa Tengah. Tahun 2007 lalu terakhir kali aku menyambangi DUGDERAN yang waktu itu diselenggarakan di daerah POLDER Tawang, ada seorang penjual mainan mengaku datang dari Wonogiri. Setiap tahun dia memang khusus datang ke Semarang untuk ikutan mremo dalam tradisi DUGDERAN. Pada kesempatan lain mungkin dia akan berkunjung ke kota lain untuk berjualan mainan yang sama.

Btw, DUGDERAN datangnya masih lama yak? :)

GL7 14.14 270411

P.S.:
Sebagian merupakan terjemahan dari postinganku di Be a Chinaman!
Untuk mengetahui tentang tradisi 'dugderan' lebih dalam lagi, klik link ini.
Tulisanku tentang Jawa, Cina dan Arab klik link ini.

Rabu, Oktober 31, 2007

Polemik Sastra 3

 Post ini merupakan lanjutan dari ini.

 

NH Dini

Mengapa perempuan tidak boleh menuliskan seksualitas di dalam karyanya? Karena kultur patriarki yang masih melekat di rakyat Indonesia tentu saja, karena perempuan seharusnya ‘menunggu’ dalam seks, dan bukannya ‘memperkosa’ seperti yang ditulis oleh Ayu tentang Yasmin yang ingin ‘mengajari’ Saman untuk bercinta. Tatkala perempuan menuliskan pengalamannya dalam seks, yang tentu saja berlainan dengan cara laki-laki memandang seks, serta merta hal tersebut pun menjadi tabu.

 

Di bawah ini aku kutipkan apa yang ditulis oleh Aquarini:

 

Menilik dari bahasa dan teknik narasi yang ditampilkan Ayu maupun Dinar, menurut saya agak gegabah mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai keterampilan berbahasa dan bersastra seperti Motinggo Busye. Pertama, karena tidak seorang pun harus seperti Motinggo Busye untuk dapat menyampaikan tema seks dan seksualita. Kedua, pengalaman seksualitas Ayu dan Dinar sebagai perempuan tentu berbeda dengan seksualitas yang dialami dan disuarakan oleh Motinggo Busye. Ketiga, perbedaan itu seharsunya dimaknai sebagai PENGAYAAN dan bukan ancaman terhadap sastra. – penekanan dariku. (Kajian Budaya Feminis, 2006: 192-193)

 

8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,

9) fabrikan dan pengguna alkohol,

10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.

 

I am getting bored with these accusations, so kujadiin satu aja nomor 8, 9, 10. J Sama seperti yang kutulis di atas, apa hubungan ketiga nomor ini dengan keberadaan KUK? Memangnya KUK ikut berbisnis di bidang narkoba, alkohol dan nikotin? Ini kan masalah besar yang dihadapi oleh negara kita? Semua orang harus ikut bertanggung jawab bagaimana agar para generasi muda kita tidak mati sia-sia karena ketiga barang tersebut.

 

Tatkala HH hanya mengomentari poin ketujuh, ‘penulis cerpen dan novel syahwat’, aku yakin tentu karena HH berpikir ya hanya poin inilah yang berkaitan erat dengan keberadaan KUK.

 

Ah, I am getting bored too writing this. Apalagi yang membaca—kamu—tentu juga udah bosan yah? huehehehe ... so, kusudahi saja artikel ini di sini. Masih banyak sebenarnya yang meninggalkan tanda tanya besar bagiku bagaimana seseorang yang memiliki nama besar (bagiku) seperti Taufik Ismail bisa menulis email—yang diforward di milis-milis—seperti itu? Kapan-kapan kalau aku memiliki suntikan energi yang cukup, dengan antusiasme yang besar, aku akan menulis lagi, terutama mengomentari tulisan TI yang ga ngalor ga ngidul itu.

 

Aku sendiri nampaknya mulai terserang pengap karena seperti biasa, hawa di Semarang yang panas, meskipun di luar mendung. And I’ve got to prepare myself to go to work.

 

PT56 13.03 291007

 

Polemik Sastra 2

 Post ini lanjutan dari ini.

 

Berikut ini kukutipkan bagian akhir novel “Saman” yang berupa percakapan lewat email antara Yasmin dan Saman.

 

New York, 11 Juni 1994

Yasmin,

Aku masturbasi.

 

Jakarta, 12 Juni 1994

Saman,

Aku terkena aloerotisme. Bersetubuh dengan Lukas tetapi membayangkan kamu. Ia bertanya-tanya, kenapa sekarang aku semakin sering minta agar lampu dimatikan. Sebab yang aku bayangkan adalah wajah kamu, tubuh kamu.

 

New York, 13 Juni 1994

Yasmin,

Aku cemburu. Kamu bersetubuh, aku tidak. Bukankah Lukas lebih perkasa? Aku terlalu cepat. Kalaupun aku bisa menghamili kamu, tentulah aku orang yang efisien, yang membereskan suatu pekerjaan dalam waktu amat singkat.

 

Jakarta, 14 Juni 1994

Saman,

Lukas memang terlatih. Dengan dia rasanya seperti olah raga. Setiap hitungan empat kali delapan dia ganti gaya. Apa bedanya dengan exercise di gym yang melelahkan?

 

New York, 15 Juni 1994

Yasmin,

Tentu saja bedaya adalah ada klimaks. Kalau kamu jujur, kamu tidak orgasme waktu dengan aku, kan?

 

Jakarta, 16 Juni 1994

Saman,

Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak. Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.

 

New York, 19 1994

Yasmin,

Mungkin persetubuhan kita memang harus hanya dalam khayalan. Persanggamaan maya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana memuaskan kamu.

 

Jakarta, 20 Juni 1994

Saman,

Tahukah kamu, malam itu, malam itu yang aku inginkan adalah menjamah tubuhmu, dan menikmati wajahmu ketika ejakulasi. Aku ingin datang ke sana. Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu.

 

New York, 21 Juni 1994

Yasmin,

Ajarilah aku. perkosalah aku.

 

Membaca judul puisi Saut “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu” membuatku tersedak, jijik, dan malu pada diri sendiri. Demikian juga tatkala membaca puisi yang dimuat di Republika itu, tanpa mengetahui konteksnya bagaimana, tiba-tiba ada kata-kata “para pelacur bergelut di kamar” dan “garis payudaramu ...”. well, mungkin karena berupa puisi, sehingga tidak ada ‘ancang-ancang’ untuk menuju kesana, puisi biasanya memiliki keterbatasan jumlah kata, namun bila berada di tangan seorang penyair yang piawai, puisi satu atau dua baris bisa bermakna lebih dari seribu kata. Atau mungkin karena aku tidak memiliki copi puisi itu yang utuh?

 

Sedangkan akhir bagian novel “Saman” itu, maklum namanya juga novel yang kaya dengan kata, banyak konteks dan teks yang mengawali dan akhirnya berujung ke percakapan antara Saman dan Yasmin yang hot tersebut. Membaca novel ini sejak awal, sampai bagian akhir halaman 197, dengan pilihan alur cerita yang maju mundur, dengan beberapa tokoh sentral (Laila, Saman, Shakuntala, plus Yasmin), emosi pembaca ikut terbangun, sehingga kesan ‘ujug-ujug vulgar’ tidak ada menurutku. Semua ada alasan mengapa dituliskan. Tidak ada kesan dipaksakan, tatkala beberapa kata yang mungkin bisa jadi berkonotasi vulgar muncul di satu kalimat, tanpa konteks yang mendukung, seperti beberapa contoh di atas, ‘penis’, ‘persanggamaan’, ‘masturbasi’, dll. Orang tidak bisa memenggal hanya beberapa bagian kalimat, atau lebih ekstrim lagi, penggunaan beberapa kosa kata saja, tatkala melakukan kritik terhadap karya ini, dan kemudian dengan mudah melabelinya “gerakan syahwat merdeka”. All words there were written for a specific reason, karena berhubungan dengan alur cerita.

 

By the way, baru malam ini aku ‘menemukan’ salah satu file dalam flash disk yang memuat tulisan Taufik Ismail, aku lupa entah kapan aku mendownloadnya dari internet. Membaca file itu ‘menyulut’ antusiasmeku untuk menulis ini, “the iron is hot again”. LOL.

 

Berikut ini kutulis tuduhan Taufik Ismail kepada KUK:

 

HH tidak merasa peduli dengan destruksi sosial luar biasa raksasanya yang dilancarkan sepuluh pelaku Gerakan Syahwat Merdeka itu:

 

1) praktisi sehari-hari seks liar,

2) penerbit majalah dan tabloid mesum,

3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,

4) 4.200.000 situs internet porno dunia,

5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,

6) penerbit dan pengedar komik cabul,

7) penulis cerpen dan novel syahwat,

8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,

9) fabrikan dan pengguna alkohol,

10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.

 

FYI, HH di atas adalah initial Hudan Hidayat, salah satu member KUK, yang sempat ‘menyambut’ polemik yang diawali oleh Taufik Ismail (kusingkat jadi TI aja yah?), yang lain nampaknya adem ayem aja. Ayu Utami juga anteng-anteng aja. Nampaknya, karena aku tidak mengikutinya langsung, hanya membaca beberapa messages yang diforward ke milis RumahKitaBersama.

 

Aku heran tatkala membaca kesepuluh tuduhan TI kepada KUK. Mengapa kesepuluh tuduhan itu melulu ditujukan kepada KUK sehingga seolah-olah KUK harus bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini? Banyak aspek atau pihak lain di negara kita tercinta ini yang kupikir juga mengambil peran penting atas kebobrokan moral—moral yang mana? “moral” yang dimaksud oleh orang-orang fundamentalis, mungkin.

 

Aku akan mencoba menulis pendapatku satu persatu atas kesepuluh tuduhan tersebut.

 

1) praktisi sehari-hari seks liar,

Memangnya sebelum KUK terbentuk, tidak ada seks liar (yang kuterjemahkan sebagai seks yang bukan dilakukan oleh pasangan resmi menikah) di Indonesia? Dari artikel “Free Sex: a ‘co-culture’ in Indonesia (already)?” yang kulempar ke milis RumahKitaBersama, aku mendapatkan sambutan dari beberapa member yang membuat mataku lebih melek bahwa praktek seks di luar menikah ini sudah lama dilakukan di Indonesia, hanya saja orang-orang masih hipokrit, tidak mau mengakui bahwa that has existed here, di negara yang sok suci, sehingga penerbitan majalah ‘Playboy’ menggegerkan seluruh negeri, namun tabloid-tabloid dan majalah-majalah porno yang telah ada sekian lama dicueki saja.

 

2) penerbit majalah dan tabloid mesum,

Aku tidak yakin apakah keberadaan semua majalah dan tabloid mesum yang terbit di Indonesia ini harus menjadi tanggung jawab KUK. Di kota Semarang, koran METEOR yang senantiasa memasukkan unsur porno yang vulgar—terutama dalam bentuk berita, atau cerita—apakah juga merupakan tanggung jawab KUK? Kalau dipaksakan jawabnya, “IYA”, kok bisa? Bagaimana prosedurnya?

 

3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,

Count me out for watching television!!! Terkadang kalau aku sempat menonton televisi—ketika makan bersama anakku misalnya—memang kadang aku mendapati iklan-iklan yang merendahkan kaum perempuan. Misal ada iklan kopi dimana seorang tokoh laki-laki berucap, “Pas susunya...” dan pada saat itu dia sedang menonton televisi yang sedang menunjukkan bagian dada seorang perempuan. Jika Ayu Utami yang feminis itu pernah berhome-based di KUK, masak orang-orang di komunitas tersebut tidak ‘tertulari’ semangat feminis Ayu Utami yang ingin memerangi pelecehan terhadap perempuan? Iklan tersebut jelas-jelas melecehkan perempuan, masak—seandainya KUK harus bertanggung jawab dengan iklan-iklan maupun program sejenis itu—Ayu Utami akan diam saja? Atau orang-orang lain di KUK yang kubayangkan tentu pernah terlibat diskusi tentang kesetaraan gender akan ikut menikmati acara sejenis itu?

 

4) 4.200.000 situs internet porno dunia,

Again, apa hubungannya dengan KUK keberaan jutaan situs internet porno ini? KUK mendapatkan keuntungan dari sini kah? SEDUNIA BO’!!! sebegitu terkenalkah KUK di dunia ini sehingga semua situs internet porno berkolaborasi dengannya?

 

5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,

Well, di era tiga atau empat dekade lalu mungkin belum berbentuk VCD maupun DVD, tapi film-film biru tentu telah ada di Indonesia sejak tiga atau empat dekade atau lebih. KUK ‘dibentuk’ atau ‘berdiri’ tahun berapa ya? Aku belum tahu, belum ngecek di situs resmi KUK.

 

6) penerbit dan pengedar komik cabul,

Sama dengan yang di atas, ini kan udah lama juga beredar di Indonesia?

 

7) penulis cerpen dan novel syahwat,

Dalam artikel “Membaca [lagi] Seksualitas Perempuan” dalam bukunya yang berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS, Aquarini memprotes tulisan Sunaryono Basuki yang dimuat di KOMPAS Minggu 4 April 2004, mengapa kalau penulis laki-laki—contoh Motinggo Busye—sah-sah saja menuliskan tentang seksualitas di karyanya, namun penulis perempuan tidak boleh? Untuk itu, Motinggo Busye tetap dianggap sebagai “sastrawan yang layak dipuji” karena menghasilkan karya-karya sastra yang “serius”, sedangkan penulis-penulis perempuan—such as Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—dikategorikan dalam “penulis yang tidak bermoral”.

 

Look, anggapan yang tak jauh beda dengan apa yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature” tentang dikotomi sastra kanon dan sastra non-kanon.

 

Polemik Sastra 1



Beberapa bulan lalu jagat permilisan dan blogging di Indonesia sempat riuh rendah (well, kayaknya sampai sekarang masih deh, only I don’t really follow the hubbub of it) tentang dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Dari beberapa messages yang masuk ke milis RumahKitaBesama kudapati semua bermula dari tuduhan Taufik Ismail terhadap Komunitas Utan Kayu—disingkat dengan KUK (Ayu Utami was once an active member of this community. The recent news I read several weeks ago stated that she no longer actively involved herself there) sebagai pangkal sastra yang beraliran Gerakan Syahwat Merdeka, yang bisa disingkat GSM, yang mengacu ke Goenawan Soesatyo Mohammad, salah satu pendiri majalah TEMPO, yang pernah digosipkan menuliskan beberapa bagian novel SAMAN, yang merupakan novel karya pertama Ayu Utami yang memenangkan sayembara penulisan novel tahun 1998.

 

You can guess, di mata seorang Taufik Ismail, karya Ayu Utami—yang merupakan salah satu anggota KUK—tentu dimasukkan kedalam kategori sastra sampah.

 

Aku menganggap diri sebagai seseorang yang berada di luar barisan sastrawan maupun kritikus sastra Indonesia, meskipun dulu aku kuliah di jurusan Sastra Inggris, dan kemudian kulanjutkan di program American Studies dan mengambil jurusan American Literature and Culture. Selain itu aku juga mengajar beberapa kelas sastra di tempat kerja. Aku hanya merupakan salah satu penikmat karya sastra Indonesia, walaupun jumlah karya yang kubaca masihlah sangat terbatas. I can mention some “qualified” works I have read, such as “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, salah satu karyanya yang sangat terkenal berhubungan dengan ‘takdir’ seorang perempuan; “Para Priyayi” karya Umar Kayam; “Burung-burung Manyar” karya Romo Mangunwijaya, untuk karya yang kontemporer, “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami, “Cantik itu Luka” karya Eka Kurniawan, “Supernova – Petir” karya Dewi Lestari, “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Untuk karya ‘klasik’ such as “Salah Asuhan” karya Abdul Muis, “Atheis” karya siapa entah aku lupa L, kubaca sewaktu kuliah S1 dulu untuk kuliah “Kritik Sastra”. Selain itu, aku juga penikmat karya-karya Djenar Maesa Ayu, Agus Noor dan beberapa penulis lain.

 

Akan tetapi, meskipun aku merasa bukan merupakan barisan sastrawan maupun kritikus sastra, tentu tidak begitu saja aku suka dengan ide dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Seperti yang kutulis dalam salah satu post di blog yang kuberi judul “High Literature versus Popular Literature” yang lumayan menarik perhatian orang untuk berkomentar (you can check it in my two posts at

 http://afeministblog.blogspot.com/2007/09/high-literature-vs-popular-literature.html). Siapa yang merasa berhak untuk ‘menghakimi’ bahwa satu karya itu hebat sekali sehingga bisa dikategorikan masuk ‘kanon’ dan yang lain tidak, bahkan cenderung dimasukkan ke dalam kategori sastra sampah? Banyak orang mengelu-elukan karya Pramoedya Ananta Toer; bahkan Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu sewaktu aku kuliah S2 dulu menyukainya, dan menyesal karena ketidakmampuannya dalam bahasa Indonesia memaksanya untuk ‘hanya’ membaca karya Pram yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Namun orang yang tidak bisa menikmati tulisan model Pram—contoh aku—tentu merasa heran, “Kok bisa karya seperti ini masuk kanon?” dan aku merasa sangat berhak untuk mempertanyakan hal itu, karena selera orang yang berbeda-beda.

Contoh lain, sebelum gerakan feminisme mengemuka di dunia Barat sana, tidak ada antologi yang memasukkan karya-karya penulis perempuan, seperti Charlotte Perkins Gilman, Anna Wickham, dll. Dan seperti yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature”, kanon itu tidak bersifat ‘mati’ namun terus berkembang. Hal ini berarti dikotomi sastra kanon versus sastra sampah tidak layak diimani, kita harus selalu menghormati selera orang untuk memilih membaca apa. Aku yakin karya yang ‘baik’ tentu akan senantiasa dibaca orang sepanjang zaman.

 

Waktu membaca message pertama tentang tuduhan Taufik Ismail “Gerakan Syahwat Merdeka” kepada KUK, aku sudah penasaran seperti apa sih pernyataan Taufik itu? Abangku yang pertama kali mendengar nama ‘Ayu Utami’ beberapa bulan lalu (better late than never, eh? LOL) dari emailku sempat heran dan bertanya kepadaku, “How did Ayu illustrate sexual scenes in her novel?” Untuk menjawabnya, aku sempat kepikiran untuk menulis artikel yang berupa rangkuman kritik-kritik atas “Saman” dan “Larung” di beberapa buku yang kumiliki untuk blog. Biasanya aku suka melakukan sesuatu ‘when the iron is hot’ alias kalau sedang hot-hotnya suatu masalah diperbincangkan. Nah, waktu itu, unfortunately, sedang bulan puasa (enak gila, punya scapegoat, LOL) dan aku sering merasa pusing kalau perut sedang lapar. Kalau pusing gitu, I cannot write anything, apalagi yang rada ‘berbobot’ begitu, kalau hanya sekedar chit-chat, tinggal nulis apa yang ada di benakku, tanpa harus ngeliat referensi ini itu, ya bisa sih. Waktu aku bilang ke Abang tentang ‘black sheep’ itu, LOL, dia menyarankan, “Puasamu berhenti sebentar dong Na, sejam dua jam gitu?” hahahaha ... “Buat nulis. Setelah itu, puasamu dilanjutkan lagi.” J katanya lagi. But of course I didn’t do it sampai “the iron was getting cooler ...” dan moodku nulis itu pun hilang.

 

Oh ya, polemik ‘hot’ itu dibuat tambah panas dengan puisi tulisan Saut Situmorang yang berjudul “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu”, padahal Saut sendiri berada di barisan penolak karya-karya dari KUK. Lah, vulgar banget kan judulnya? Berikut ini kusertakan satu puisi lain milik orang yang sama, yang dimuat di harian Republika dan sempat menyulut kemarahan publik, terutama orang Hindu Bali.

 

para pelacur pun

masih di kamarnya bergelut. dalam kabut

alkohol aku biarkan kata kata

menjebakku dalam birahi

rima metafora. kemulusan kulit

kupu kupumu dan garis payudaramu

yang remaja membuatku cemburu

pada para dewa yang, bisikmu,

menggilirmu di altar pura mereka.

 

to be continued.