Cari

Tampilkan postingan dengan label patriarki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patriarki. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 03, 2007

HIV / AIDS

Sembilan Ibu Rumah Tangga Positif HIV

Tatkala membaca artikel dengan judul di atas dalam SUARA MERDEKA terbit hari Rabu 3 Oktober 2007 halaman G (bagian dari SEMARANG METRO), aku teringat seorang siswa yang beberapa waktu lalu bertanya kepadaku, “Mengapa orang justru mempromosikan penggunaan kondom untuk mengurangi kemungkinan meningkatnya penderita HIV/AIDS? Bukankah itu justru akan semakin meningkatkan praktek seks bebas di masyarakat kita?”
Siswa ini sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA, di sebuah sekolah negeri ternama di Semarang, berjilbab. Well, mengapa harus kutulis di sini bahwa dia berjilbab? Aku tidak bermaksud untuk menggeneralisasi bahwa semua orang yang berjilbab akan memiliki cara pandang yang sama. Ini hanya merupakan satu studi kasus. Aku “membaca” siswaku ini sebagai seorang yang mungkin hanya mendengarkan atau membaca hal-hal dari satu perspektif semata, sehingga dia pun menginterpretasikan promosi penggunaan kondom sebagai sesuatu yang tidak semestinya, yang amoral, karena berkonotasi justru mendukung orang untuk melakukan seks bebas.

“I think we have to know that people suffering from HIV/AIDS are not only those who have sex with many different partners, such as prostitutes. We also ought to know that HIV/AIDS attacks “good women”, such as housewives who happen to have disloyal husbands and they don’t know that their husbands have sex with other women. They think that their husbands are “good” and loyal to them, never have sex outside the house with others. We need to protect such women from the possibility to get attack from HIV/AIDS,” aku menjelaskan kepadanya, secara panjang lebar.


Dia kemudian terlihat tercenung, berusaha memahami perspektif yang kusodorkan kepadanya, dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dari sorot matanya, aku tahu dia masih penasaran tentang promosi penggunaan kondom untuk mengurangi kemungkinan bertambahnya penderita HIV/AIDS.
*****
Dalam Jurnal Perempuan nomor 43 dengan tema “Melindungi Perempuan dari HIV/AIDS”, dalam prolog, Adriana Venny mengutip sebuah pernyataan dari seorang perempuan di Jayapura yang dirangkum dalam Radio Jurnal Perempuan edisi 146; “Saya tertular HIV/AIDS dari suami saya yang kemudian saya tularkan kepada bayi saya ...”
Kenyataan ini menunjukkan bahwa “perempuan baik-baik” (baca  perempuan yang hanya melakukan hubungan seks dengan suaminya saja) pun tetap rentan terkena HIV/AIDS. Hal ini berarti bahwa perempuan berhak melindungi dirinya dari kemungkinan “serangan” HIV/AIDS dengan menggunakan kondom tatkala melakukan hubungan seks dengan suaminya. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh suami di luar rumah.
Kembali ke artikel yang dimuat dalam SUARA MERDEKA, berita tersebut tidak menunjukkan secara rinci alamat dan identitas jelas dari para ibu rumah tangga yang positif terkena HIV, kecuali lokasi di Kabupatan Semarang. Hal ini, untuk menjaga etika dan melindungi mereka, kata Drs. Hendri A MM, Kabagsosial Setda Pemkab Semarang. Namun apa yang ditulis oleh sang jurnalis di bagian akhir artikel justru menunjukkan “penghakiman” kepada para ibu rumah tangga tersebut

“Namun ada hal yang menjadi catatan, ibu-ibu tersebut ada yang tinggal berdekatan dengan kompleks lokalisasi.”


Dengan mengungkapkan ‘fakta’ tersebut, ada hal lain yang tersirat, yakni, “Karena mereka tinggal berdekatan dengan kompleks lokalisasi, ada kemungkinan para ibu rumah tangga tersebut sesekali terjun ke lokalisasi dengan menjadi pekerja seks komersial. Itu sebab mereka positif HIV karena melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu partner—yakni suaminya.” Padahal tentu ada kemungkinan bahwa mereka terkena HIV karena ditulari oleh para suami mereka. Seorang suami yang ingin menutupi kehidungbelangannya tentu tidak akan melakukan hubungan seks dengan PSK di lokalisasi yang terletak dekat dengan tempat tinggalnya. Dia akan memilih lokasi yang berjauhan sehingga dapat menyimpan rahasianya dengan aman. Penyakit seks yang mereka idap sebagai akibat melakukan hubungan seks yang tidak aman lah yang akan membuka rahasinya. Sekaligus menulari istrinya yang tidak tahu apa-apa.
PT56 10.25 031007

Senin, Agustus 27, 2007

Menikah?

Mengapa lebih banyak orang yang ingin menikah ketimbang yang tidak? (masih merunut ke artikel yang sama ‘Istri yang Ingin Independen’)


Jawabannya adalah kultur patriarki yang mengagungkan perkawinan masih lebih terkenal dibandingkan kacamata memahami diri sendiri—misal seseorang pun bisa menggapai kebahagiaan yang hakiki dengan hidup sendiri. Ayat Alquran yang mengatakan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup ini secara berpasangan diinterpretasikan secara ‘apa adanya’ tanpa melihat konteks mengapa ayat tersebut turun semakin mengukuhkan pandangan bahwa melalui perkawinan lah seseorang akan mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia ini. Juga mengartikannya secara sempit, bahwa berpasangan berarti semua manusia diciptakan memiliki pasangan di dunia ini. (Bukankah banyak orang yang keburu meninggal sebelum menikah?)


Dalam tulisan ini aku ingin menuliskan tentang dua temanku yang lain, yang bisa dikategorikan ‘menikah dalam usia yang terlambat’, sekitar pertengahan tiga puluh. Sebelum menikah, aku yakin mereka pun terprovokasi ‘anggapan’ bahwa perkawinan akan membawa mereka ke satu kehidupan yang paripurna. Keduanya mengenakan jilbab, yang biasanya berkonotasi bahwa mereka memahami ajaran agama lebih mendalam dibandingkan mereka yang telanjang kepala. :) 


Aku mulai dari seseorang yang kuberi nick Lia di sini. Dia pernah memiliki seorang pacar, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Semenjak putus itu, dia tidak pernah memiliki pacar lain, karena tetap berharap bahwa mantan pacarnya ini akan kembali kepadanya. Dulu dia kukenal sebagai seseorang yang pro poligami. Mungkin dia benar-benar mencintai mantan pacarnya yang telah menikahi perempuan lain itu (cinta sejati ataukah cinta buta?) sehingga berkeyakinan bahwa dia tidak keberatan untuk menjadi istri kedua. Sayang, si laki-laki ini benar-benar menghilang dari kehidupannya.


Setelah berkawan akrab dengankulah kutengarai dia mulai berpikir bahwa poligami merupakan salah satu kejahatan manusia tingkat tinggi. FYI, ini bukan ideku, melainkan ide seorang kawan lain yang beragama Kristen namun menikahi seorang laki-laki Muslim yang berdarah Arab. Mungkin juga karena akhirnya Lia mulai bosan menunggu sang mantan pacar pujaan untuk kembali kepadanya, untuk menjadikannya sebagai istri kedua.


Aku mengenal Lia sebagai seorang perempuan yang (nampaknya) menikmati kesendiriannya, sehingga tidak mudah terusik dengan pertanyaan-pertanyaan jail orang sekitar, “Kapan kamu menikah?” ataupun gunjingan orang, “Kasihan deh dia belum laku di usianya yang telah lebih 30 tahun.” Namun mungkin anggapanku ini salah tatkala satu hari aku mendengarnya berbicara kepada seorang rekan kerja, “Eh, kenalin aja dia padaku.” Tatkala rekan kerjaku ini menawarkan seorang laki-laki yang sedang mencari calon istri.


Singkat kata tak lama setelah rekan kerja ini memperkenalkan Lia kepada laki-laki tersebut, dia berkata padaku bahwa mereka akan menikah. GUBRAK. Apakah diam-diam ternyata Lia pun mengidap penyakit yang biasa menghinggapi para lajang perempuan di sekitarku—tidak pede dengan kesendiriannya, dan termakan omongan orang bahwa perkawinan akan membawanya ke gerbang kebahagiaan? Dia bilang setelah shalat istikharah dia serasa mendapatkan petunjuk dari Allah bahwa laki-laki itu dikirim oleh Allah untuk menjadi pendamping hidupnya.


(FYI, aku tipe orang yang percaya bahwa ‘petunjuk’ semacam itu merupakan refleksi apa yang sebenarnya kita inginkan dari alam bawah sadar. Dalam alam bawah sadarnya, Lia mungkin ingin segera menikah. Dan keinginan ini muncul dalam mimpinya, ataupun menguasai kesadarannya yang kemudian dia baca sebagai petunjuk dari Allah.)


Setelah menikah, dan mendapati ternyata suaminya menderita schizophrenia yang akut, pernah masuk ke rumah sakit jiwa selama beberapa waktu, Lia merasa marah kepada keluarga suami yang menutup-nutupi keadaan itu. Namun tatkala dia ingin menceraikan suaminya, keluarga suami mengatakan, “Tolong jangan ceraikan dia saat ini, tunggu sampai dia sembuh.” Setelah Lia berkonsultasi dengan dokter yang pernah merawat suaminya, dia mengetahui bahwa kemungkinan sembuh itu sangatlah kecil.


Sekarang Lia tinggal di sebuah kota yang terletak di Jawa Timur, (dia pindah kesana bulan April 2006, setelah mendapatkan pekerjaan yang mapan disana) sedangkan suaminya tetap tinggal di Semarang. Lia telah mengubur impiannya bahwa perkawinan akan membawanya ke satu kehidupan yang penuh kebahagiaan.


Temanku yang kedua, sebut saja namanya Uni. Berbeda dengan Lia yang (dulu) nampak pede dengan kelajangannya, Uni selalu nampak ingin segera menikah. ‘Kacamata” patriarki bahwa perkawinan akan membawa seorang perempuan ke gerbang kebahagiaan membuatnya benar-benar ingin segera dipinang oleh sang pangeran. Itulah sebabnya tatkala ada seorang laki-laki yang melamarnya—meskipun berusia 9 tahun lebih muda, dan jenjang pendidikan yang berada di bawahnya—Uni segera menerimanya. Dia telah benar-benar gerah dengan pertanyaan usil orang-orang sekitar, “Kapan kamu menikah?” Dengan menikah, dia berharap bahwa dia akan segera mengakhiri ‘penderitaannya’, tudingan sebagai seseorang yang tidak diinginkan. 


Apa yang dia katakan tak lama setelah dia menikah? “Aku tertipu. Kata orang menikah itu enaknya hanya 10%, sedangkan yang 90% uenak banget. Kenyataannya? Yang 90% itu adalah perjuangan dan harapan.” Di saat lain dia mengatakan, “Kata siapa pernikahan hanya membawa kebahagiaan?” beberapa waktu lalu dia mengatakan, “Masih mending tidak menikah, paling kita cuma merasa terganggu saja tatkala orang dengan usilnya menanyakan kapan kita menikah. It was not a big deal.

 Setelah menikah? Uh ... banyak sekali permasalahan yang timbul.” Hal ini lebih diperburuk lagi dengan ucapan misoginis adiknya yang laki-laki, “Udahlah mbak, diterima saja. Udah untung ada yang mau menikahimu!” ucapan yang bisa dikategorikan KDRT, kekerasan secara psikis, karena hal ini bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan diri seseorang. 


Tatkala Uni setengah menggugat ibunya yang dulu terus menerus menyuruhnya segera menikah, ibunya mengatakan, “Masak dulu Ibu menyuruhmu begitu?” dia tidak mau mengakuinya. 


Hal ini jelas terlihat bahwa Uni menikah karena dia masih menggunakan ‘kacamata’ publik yang patriarki bahwa ‘menikah itu harus dan perlu’. Tatkala dia mulai mencoba menggunakan ‘kacamata’nya sendiri untuk melihat dan memahami diri sendiri, dia pun menyesal. Namun tatkala aku bercerita tentang kasus Lia kepadanya, Uni mengatakan, “Aku masih lebih beruntung.” 


Akan bertahan berapa lama lagikah kacamata yang dipakai oleh kultur patriarki untuk menilai sebuah perkawinan di Indonesia ini? Masih sangat lama kukira. Di negara-negara Barat dimana kesadaran kaum perempuan akan kesetaraan diri mereka dengan kaum laki-laki yang jauh lebih tinggi dari Indonesia pun, masyarakatnya masih tetap mengidolakan perkawinan. 


PT56 17.20 260807

Perempuan Modern?

Setelah menulis artikel yang ku-post sebelum ini, aku membaca sebuah artikel yang cukup menggelitik bagiku di surat kabar Suara Merdeka terbit hari Minggu 26 Agust. 07 halaman 25 yang berjudul “Istri yang Ingin Independen”. Apakah benar bahwa kedua tokoh yang dipilih oleh si penulis—yang disebut dengan menggunakan nama Dian dan Fitri—merupakan gejala PEREMPUAN MODERN?
Aku ingat salah satu penulis kesukaanku—Charlotte Perkins Gilman yang hidup di Amerika tahun 1860-1935—yang telah memiliki cara berpikir seperti Dian dan Fitri, sedangkan Gilman hidup di akhir abad 19 maupun awal abad 20. Perkawinan kedua orang tuanya yang kandas dan menjadikan ibunya plus dia dan adiknya menjadi korban membuatnya ragu-ragu untuk menikah. Sang ibu yang dididik secara patriarki—bahwa seorang perempuan itu tempatnya di rumah, bertugas melayani suami, dan bukannya bekerja untuk mencari sesuap nasi—tetap berpikir seperti itu meskipun sang suami telah meninggalkannya. Akibatnya, Gilman beserta adiknya dan ibunya harus hidup dengan cara meminta-minta kepada anggota keluarga—kakek, nenek, paman, bibi, dll—untuk terus menyambung hidup.
Masa kecil yang pahit inilah membuat Gilman berkesimpulan bahwa seorang perempuan harus mampu mandiri secara finansial. Secara psikologis—tempat curhat, dll—bisa dia dapatkan dari seorang sahabat, seorang perempuan. Seks? Gilman adalah seseorang yang melakukan olah raga dengan keras sehingga dia yakin bahwa keinginan untuk seks ini bisa tertimbun. Namun tatkala sahabatnya menikah, dan banyak dorongan dari lingkungan sekitar untuk menikah ketika seorang laki-laki, Charles Walter Stetson, melamarnya, akhirnya Gilman pun menikah tahun 1883. Sayangnya, pernikahan ini justru membuat penyakit Gilman, nervous breakdown, semakin memburuk, ditambah lagi baby blue setelah dia melahirkan anak pertama. Hasil Gilman membaca ‘diri’ menggunakan kacamata patriarki—bahwa untuk bahagia seseorang harus menikah—dan melupakan ‘kacamata’nya sendiri, untuk menentukan apa yang akan membuatnya bahagia: untuk hidup bahagia, Gilman tidak perlu menikah, lakukan saja apa yang ingin dia lakukan: menulis, mengekspreksikan semua ide yang dia miliki dalam bentuk tulisan, melakukan perjalanan ke seluruh Amerika untuk menyadarkan kaum perempuan untuk lebih mandiri secara finansial, karena hal inilah yang akan membuat seorang perempuan setara dengan laki-laki.
Pernikahan pertama ini berakhir dengan perceraian tahun 1894, karena Stetson merupakan tipe laki-laki old-fashioned yang menganggap Gilman aneh hanya karena karena Gilman ingin membentuk jati dirinya sebagai seorang Charlotte Anna Perkins, dan bukan seorang Mrs. Charles Walter Stetson.
Gilman menikah lagi tahun 1900. Suami keduanya, George Houghton Gilman, merupakan tipe laki-laki yang selalu mendorong Gilman untuk melakukan apa saja yang ingin dia lakukan. Pernikahan ini berlangsung sampai tahun 1934 tatkala George meninggal.
Aku juga ingat RA Kartini yang sebenarnya tidak ingin menikah karena cita-citanya untuk mencerdaskan kaumnya yang hidup di sekitarnya di sekolah yang dia dirikan. Namun karena dia ‘hanyalah’ seorang perempuan Jawa yang tidak punya hak untuk berkata TIDAK kepada orang tuanya, akhirnya Kartini pun bersedia menjadi istri kedua. ‘Kacamata’ patriarki yang dimiliki oleh orang tuanya—bahwa tugas mulia seorang perempuan adalah mengabdi kepada suaminya—jelas bertentangan dengan ‘kacamata’ kesetaraan yang dimiliki oleh Kartini. Kultur patriarki pun dituding telah membunuh seorang Kartini.
Dian dan Fitri hanyalah dua contoh perempuan yang memiliki kacamata sendiri untuk mengukur kebahagiaan dalam hidup ini. Mungkin di dua dekade lalu mereka pun sama seperti perempuan-perempuan lain yang berpikir bahwa pernikahan adalah ‘gerbang’ menuju kebahagiaan yang hakiki, bahwa perkawinan adalah segalanya, dimana seorang perempuan diciptakan untuk mengabdikan diri kepada suami. Namun tatkala pengalaman hidup mereka membawa mereka ke suatu keadaan yang membuat mereka menimbang kembali apa arti kebahagiaan, ini berarti bahwa mereka telah menemukan ‘kacamata’ baru.
Akankah perempuan tipe Dian&Fitri ini akan merusak tatanan pranata keluarga? TIDAK. ‘Kacamata’ baru yang mereka miliki akan membuat kaum muda—khususnya perempuan—untuk tidak terlalu dininabobokkan oleh Cinderella Complex, sehingga mereka justru akan lebih hati-hati dalam memilih calon suami yang akan selalu mendorong mereka untuk mengaktualisasikan diri. Perceraian yang akhir-akhir ini menunjukkan jumlah yang meningkat setiap tahun adalah hasil dari pasangan suami istri yang tidak saling mengenal dengan baik, terutama di strata sosial menengah keatas. Kebutuhan mengaktualisasikan diri bukan hanya milik seorang laki-laki, perempuan juga berhak untuk melakukannya.
Dian&Fitri bisa melakukan perbincangan terbuka dari hati ke hati dengan suami masing-masing, untuk mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan. Ide utama—bahwa perempuan bukanlah makhluk yang diciptakan untuk melulu mengabdikan diri kepada suami—harus disampaikan kepada para suami. Selain itu bahwa setiap orang berhak untuk menikmati kesendirian untuk beberapa waktu (mengacu ke buku Virginia Woolf A ROOM OF ONE’S OWN) harus dipahami. Hal ini akan mengurangi beban Dian yang merasa bersalah tatkala dia ingin melakukan aktifitas yang butuh dia lakukan tatkala sang suami pulang. Jika ternyata komunikasi ini berjalan dengan baik, para suami memahami apa yang dibutuhkan oleh Dian&Fitri, dan bukannya merasa terluka keegoannya (karena menjadi merasa tidak dibutuhkan, ataupun dijadikan pihak yang kedua) bukankah ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam tiba?
Mengacu ke definisi ‘gender’ yang diberikan oleh Claudette Baldacchino (lihat posting yang berjudul GENDER DAN MEDIA), perempuan harus berani menemukan cara untuk melihat dan memahami diri sendiri dan tidak membebek melulu dengan apa yang dikemukakan oleh kultur patriarki.
PT56 16.07 260807

Dua Perempuan

0813207xxxxx :Halo mbak ...Gek ngapa? Aku lg bngong nunggu Celia sklh. Ra bd adoh karo sopir lah pkke. Aku kgn Smg. Pgn cekakakan meneh kr tmn2 n adik2ku. Tp meh lungo ga sesimpel mauku. Ribet urusane. Celia jg dah sklh. Kmrn2 aku baby sitter n koki, skrg aku bb sitter n sopir. Ra gagah blas wong ra duwe duit dhewe. Aja mbok guyu ya.
0815756xxxxx : Sori bar adus plus cuci, btw, how much d u get paid per month by ur hubby? Cucuk ra? Plus his serving u in bed, hehehe...
0813207xxxxx: Wuah its more satisfying from d 2 d lho... Suer dah..Hehe.. I get paid w/ his love 2 my children ya enough lah. Sukur2 dia ttp sll love n loyal 2 me n fam.
0815756xxxxx: That’s very good that you realize it. Obviously we have different way of life, so no more complaint ur being baby sitter and driver dong 
0813207xxxxx: Hehe ... it was not really my choice actually. I hv no other choice lah. Kdg ttp ada rs ‘minus’ di dpn peremp yg krj. Though in fact ga gamp jg jd ibu rumah tangga yg baik, apalg utk yg minor ky aku gn. Susaaahhh... I’m still learning not only 2 b good mother n wife bt also 2 manage myself.. Nah lo!
0815756xxxxx: Hahaha ... btw, what we had better do adalah ‘berdamai’ dg keadaan yg sbnrnya (tak sengaja) kita pilih. 4 me there’s nothing else I can do: BERDAMAI dg diri sndr 
0813207xxxxx: Yup I agree w/u. Enjoy sm yg di dpn mata aja lah.. smile apapun yg dihadapi. Pgn awet muda boo... bkn bwt org laen, bt utk kpuasan dr. Hv a nice d yach.

‘Chat’ di atas terjadi antara aku dengan seorang teman baik, B, yang sekarang tinggal di sebuah kota di Jawa Barat. (aku sengaja mengetik ulang persis dengan aslinya, penuh singkatan di sana sini, khas bahasa sms. ) Aku mulai mengenalnya sekitar pertengahan tahun 1999. Tak lama setelah itu, kita menjadi semakin akrab dan terbuka satu sama lain; mungkin karena usia kita yang hanya terpaut satu tahun, dan kita berdua sama-sama berbintang Leo. Meskipun begitu kita berdua memiliki pengalaman hidup yang sangat jauh berbeda. Di usianya yang masih sangat belia, duduk di bangku SMP, dia mengaku melihat sesuatu yang sangat melukai perasaannya (dia tidak pernah cerita secara mendetail apakah itu, namun aku simpulkan bahwa apa yang dia lihat itu adalah seorang laki-laki yang melukai seorang perempuan), yang kemudian membuatnya bertekad untuk tidak pernah menggantungkan hidupnya kepada seorang laki-laki, apalagi menyerahkan jiwa, raga, dan perasaannya bulat-bulat kepada seorang laki-laki.
 
Aku bertolak belakang dengannya. Dibesarkan dalam suasana relijius yang kental, dan percaya bahwa menikah adalah salah satu sunnah Nabi, sehingga percaya bahwa pernikahan merupakan salah satu tujuan akhir hidup manusia, aku tumbuh menjadi seorang remaja pengidap Cinderella complex. Senantiasa menunggu seorang pangeran yang akan datang dalam hidupku, dan membawaku ke gerbang kebahagiaan yang abadi. Dan untuknya akan kuserahkan seluruh jiwa, raga, dan perasaanku.

B tumbuh berkeyakinan bahwa dia harus mampu hidup secara mandiri, terutama secara finansial. Dia mengaku selama dia tinggal di Semarang, dia tidak pernah minta uang kepada suaminya, padahal suaminya memiliki profesi yang biasanya bergelimang dengan uang, dokter. Suami yang memujanya itu yang tahu diri, menyisipkan sejumlah uang jika dilihatnya dompet B kosong.
 
Sekitar tahun 2003, dia harus mengikuti suaminya pindah ke satu kota di Jawa Barat untuk melanjutkan studi. Temanku dengan berat hati ikut pindah kesana, karena suaminya menginginkan keluarga itu tidak terpisah jarak. B berharap dia akan mendapatkan pekerjaan di sana, sehingga dia tidak perlu menggantungkan hidupnya kepada suaminya, secara finansial. Namun ternyata mencari pekerjaan tidaklah semudah yang dia harapkan. Apalagi dengan kehadiran anak keduanya, perhatiannya semakin tersita untuk keluarga.

Pengalaman pahit dalam perkawinanku, plus perjalanan hidupku yang memperkenalkanku dengan ideologi feminisme, membuatku merasa ada yang salah dalam memandang diriku sendiri, karena selama ini aku memakai ‘kacamata’ patriarki yang memang senantiasa dilanggengkan oleh sekolah, agama, dan media. Jika B mendapatkan ‘kesadaran’ nya (bahwa dunia tidak seindah cerita di negeri dongeng) karena sebuah peristiwa yang melukainya tatkala dia masih duduk di bangku SMP, aku mendapatkannya di usia pertengahan tiga puluhan. Better late than never, orang bijak bilang.

Jika kamu perhatikan ‘chat’ antara B denganku, sekarang justru kita berada di posisi yang sebenarnya tidak kita impikan di usia remaja. Aku telah menyembuhkan diri dari pengidap Cindrella Complex, hidup sendiri, mandiri, dan merasa puas dengan kemandirian ini. B berkebalikan, keadaan ‘memaksanya’ untuk bergantung, untuk menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan hidupnya untuk suami dan kedua anaknya.

Hidup memang tidak selalu seperti yang kita inginkan.

PT56 11.30 260807