Cari

Tampilkan postingan dengan label daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daily. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 27, 2008

Semarang - Demak

“A tough girl!” commented one driver working for Bank Jateng Demak when he saw me preparing myself to ride my dearest motorcycle in the parking lot, after finishing giving English training to some employees of Bank Jateng Demak last Thursday 21 February 2008. It was raining cats and dogs outside.
For your information, it is around 35 kilometers from my home to the office building of Bank Jateng Demak located on Jalan Sultan Trenggono Demak, some meters on the South of the Great Mosque built by Sunan Kalijaga. I usually need around 45 minutes by motorcycle, with the speed around 60-80 kilometers per hour. However, to go home, I need a longer time since the road from Demak to Semarang is not as smooth as the road from Semarang to Demak. I cannot speed around 60-80 kilometers on my way home. One employee of Bank Jateng Demak told me that the road from Semarang to Demak was one heritage from the Dutch Colonial government. (Remember the history lesson you got at school, Daendels inhumanely forced Indonesian people to work to build a very long road from Anyer to Panaruka from 1808 till 1811.) Meanwhile, the road from Demak to Semarang was built during Soeharto era. The condition of this new road is even worse than the one built in the beginning of the nineteenth century.
Because of the rainy season, on my way back to Semarang by motorcycle, I saw the different condition of the road clearly. Look at the picture below.

A workmate jokingly said to me, “The road from Demak to Semarang is not like ‘Kaligarang’ Ma’am, but it is like ‘kaligaring’.” (NOTE: ‘Kaligarang is a name of one river in Semarang. Kaligaring means a dry river. Imagine the condition of the surface of a dry river at the bottom.)
What conclusion can you draw? Not much corruption done during the Dutch colonial government. During Soeharto era? You say it.
Last Thursday was the third time I had to go home from Demak to Semarang by motorcycle in the heavy rain. I am tough? Ask my dearest Abang for that. LOL.
To be the breadwinner is absolutely not a piece of cake. And women surely can do it as well as men. And I am very proud to do it for myself, and for my only Lovely Star.
PT56 11.55 25022008

Senin, Februari 18, 2008

SATE AYAM

SATE AYAM merupakan salah satu menu yang selalu kucari tatkala menghadiri suatu acara yang melibatkan makan-makan. Namun herannya, tatkala orang bertanya kepadaku, “What’s your favorite food, Ma’am?” aku hampir tidak pernah menyebut, “Chicken satay.” Biasanya yang selalu kusebutkan pertama kali adalah nasi goreng, kemudian berturut-turut pecel, gado-gado (dua jenis makanan yang memiliki bumbu yang mirip  sambal kacang), petis kangkung, rujak, bakmi—baik bakmi Jowo maupun bakmi Suroboyo—baru ke cap cay dan kwetiau. (For kwetiau, I owe my ex very pretty private student who once cooked kwetiau for me when I arrived to her house, to give her private class, saying that it was her favorite food to cook. Sebelum itu, aku belum pernah makan kwetiau. LOL. Better late than never, eh? LOL.)
Seandainya aku menemukan sate ayam di antara banyak jenis makanan lain di dalam sebuah resepsi, aku pasti akan bercerita ke orang rumah, “Makanannya enak, karena ada sate ayam!” LOL. Kalau tidak ada, aku akan bilang, “Lumayan sih, sayangnya ga ada sate ayam.”
Beberapa tahun lalu, aku mendapatkan undangan resepsi pernikahan dimana menu makanannya kebanyakan masakan oriental (sayangnya cap cay dan kwetiau yang bisa dimasukkan Chinese food tidak ada), dan tak ada sate ayam, aku mengeluh, “I don’t need this foreign kind of food. Ga usahlah nyediain makanan yang mahal-mahal gini, cukup dengan sate ayam aja, I will love it a lot.”
*****
Ada sebuah restoran yang khusus menjual berbagai jenis sate, tidak jauh dari lokasi sekolah Angie. Aku pun telah bilang kepadanya untuk kapan-kapan mampir ke situ. Namun, berhubung Angie tidak begitu suka sate, sampai sekarang kita belum pernah mampir kesana. Malah kita berdua sudah ke rumah makan yang berjualan bakso, yang terletak di samping restoran sate itu, meskipun rumah makan ini baru buka beberapa bulan yang lalu (Aku selalu mengalah kepada selera Angie tatkala memilih satu tempat makan ketika kita berdua sedang eating out.)
Satu peristiwa terjadi kurang lebih dua minggu yang lalu yang membuatku harus mengubur keinginanku mengajak Angie mampir ke restoran sate itu. Dua rekan kerjaku yang pernah ke sana, bercerita, “It is too damn expensive!!! Masak satu porsi sate yang berisi tiga tusuk sate, baik ayam maupun kambing, harganya Rp. 18.000,00” Uh .. oh ... goodbye deh ... Jelas bukan kelas kantongku deh rumah makan ini. LOL. Maklum, kalau makan sate ayam, satu porsi bagiku minimal 10 tusuk lah. LOL. Tiga tusuk doang mana cukup?
*****
Selasa malam 5 Februari 2008, sepulang dari kantor, sekitar pukul 21.15 tatkala memasuki halaman rumah tempat tinggalku, ada seorang penjual sate ayam sedang nongkrong di tembok dekat pintu pagar. Hal ini sebenarnya merupakan pemandangan yang sangat jamak bagiku, karena si Bapak penjual sate ayam itu memang sering nongkrong di situ, menunggu pembeli. Satu alasan utama yang membuatku tidak pernah membeli sate ayam jualannya adalah karena malam telah lumayan larut. Kalau jam segitu aku baru memesan sate, jam berapa aku akan selesai memakannya? Jam berapa aku akan berangkat ke peraduan? Masalahnya, kalau mataku telah ngantuk berat, sehingga aku terpaksa tidur dalam kondisi perut terisi penuh, keesokan harinya, plus beberapa hari sesudahnya, aku akan stress karena lemak di perutku akan semakin menebal. Dengan perut berlemak berlebihan, aku akan kesulitan kalau duduk di atas lantai, di hadapan monitor komputer. Kalau berjalan rasanya juga bakal terganjal lemak di perut ini. Baju pun bakal sangat ngepas di badan, bahkan sesak. Wis to, pokoke rak enak poll. LOL.
Namun hari Selasa 5 Februari kemarin beda. Perutku lapar. Plus ada satu kerjaan yang mau tak mau harus kulakukan sebelum tidur  mencuci seragam sekolah Angie. Dan agar bisa kukeringkan menggunakan mesin pengering, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang cukup banyak. (FYI, mesin cuci di rumah suka ‘ngamuk’ kalau ‘dipaksa’ mengeringkan cucian dalam jumlah yang sedikit. LOL. Berguncang-guncang kesana kemari plus suara gedebag gedebug ga karuan.) Dalam keadaan lapar, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang lumayan banyak, aku bakal pingsan kali ya? LOL. Dan, mencuci akan ‘memaksaku’ untuk tetap melek, bahkan mengeluarkan energi, sampai kurang lebih 2 jam setelah makan. 2 jam merupakan waktu yang cukup untuk ‘membuat makanan turun ke bawah’ sehingga tidak akan terlalu membuat perutku (tambah) gembul. LOL.
So, sebelum memasukkan motor ke dalam garasi, aku menghampiri si Bapak penjual sate, “Pak, sejinah pinten, nggih?”
“Biasa to mbak, petung ewu.”
“Nggih pun Pak, kulo pesen sejinah nggih? Sa’niki kulo mlebet rumiyin, ajeng mendet piring.”
“Nggih mbak.”
Aku sengaja tidak menutup pintu garasi, bahkan membiarkannya terbuka lebar.
Namun, adikku yang datang tak lama kemudian, menutup pintu garasi, sembari terheran-heran, “What the hell has happened? Why was the garage door widely open?” aku yakin dia bertanya-tanya pada diri sendiri.
Tatkala aku keluar sembari membawa piring, sebelum adikku bertanya, aku langsung bilang, “Aku beli sate.”
“Oh ...” sahutnya pendek.
Setelah aku keluar, si Bapak bertanya, “Itu tadi adik ya mbak?” (FYI, perbincanganku dengannya menggunakan boso Jowo kromo madyo.)
Aku mengiyakan. Setelah itu, ternyata si Bapak termasuk orang yang cukup talkative dan hobby bergosip ria. LOL. Dia menyebut nama-nama orang penghuni kawasan Pusponjolo yang telah pindah, juga termasuk salah satu criminal yang ‘hobby’nya mencuri barang-barang milik tetangga sendiri.
Waktu aku bilang, “Bapak tahu banyak sejarah orang-orang yang tinggal di sini ya?” dia mengaku pindah ke Pusponjolo tahun 1978, tiga tahun sebelum keluargaku menempati rumah yang beralamatkan di PT56. Setelah itu aku baru nyadar, bahwa pertanyaan, “Itu tadi adik ya mbak?” hanya merupakan basa basi belaka. I believe he must have known about my family.
Malam itu aku jadinya memesan “rong jinah” alias dua puluh tusuk sate karena Mami plus kedua adikku masih melek, dan bersuka cita untuk membantuku menghabiskan sate. Angie telah tidur nyenyak, tentu kecapekan karena mengerjakan tugas sekolah, seusai jam sekolah.
Waktu makan rame-rame itu, aku baru nyadar bahwa aku selalu “melupakan” sate ayam sebagai salah satu makanan terfavorit. Untuk itu pulalah aku merasa ‘perlu’ menulisnya untuk blog so kalau pembaga blog ada yang akan mengundangku makan, jangan lupa sediakan sate ayam sebanyak-banyaknya buatku yah? LOL.
PT56 16.25 07012008

Selasa, Januari 22, 2008

Bad Experience to be Good

Should people need a “bad experience” first to be good people?
This is the story of one student of mine. His parents told him to be patient when driving so that he wouldn’t get any accident or any other bad experience. Driving a car needs patience more than riding a motorcycle especially during traffic jam, because a car cannot sneak among any other vehicles as easily as a motorcycle.
Unfortunately, one day he got up very late so that he had to be in a hurry to attend an English class at campus. He had passed two red traffic lights safely when he got his ‘lesson’. At the third traffic light, a car driven by a quite old man stopped in front of his car. He could not stop his car on time so that he crashed the back of the old man’s car. There were some policemen in one police post not far from there. He eventually got caught red handed.
As a result, he was too late to go to campus. To make it worse, he had been absent for several times in that English class. He wouldn’t be able to follow the exam if his attendance was less than 75%.
What was the lesson he somewhat forced to get from his bad experience?
He didn’t dare to oversleep. He always tried his best to wake up early on the particular day when he had the English class, to come early to campus.
“If on that day I could pass all the traffic lights safely, to arrive at campus on time, I would wake up late afterwards, and would get problems to be in a hurry every time going to campus,” he admitted.
LL 18.35 220108

Sabtu, November 17, 2007

Ngurus SIM

Selasa 6 November 2007 aku ninggalin rumah sekitar pukul 08.30 menuju kantor SATLANTAS Semarang yang terletak di Jalan Letjen Soeprapto kawasan Kota Lama yang terkenal (atau tercemar?) banjir tiap musim hujan datang.
“Ngapain ke SATLANTAS Na?”
Ngurus SIM.
“Emang masa berlaku SIM-mu habis? Ini kan bulan November, sedangkan ulang tahunmu bulan Agustus. Harusnya kalau habis ya bulan Agustus kemarin diurus?”
Well, ceritanya begini. Aku kecopetan dompet satu hari bulan September 2002 (LIMA TAHUN LALU!!!) tatkala aku turun dari bus PATAS NUSANTARA di terminal Jombor. Selain sejumlah uang, yang ada di dalamnya SIM, KTP, dan kartu anggota JAMSOSTEK. Yang lain, aku sudah lupa. Maklum five years has gone. 
Karena kesibukanku riwa riwi (atau wira wiri yah?) Semarang Jogja Semarang sampai aku lulus tahun 2005, aku males banget ngurus SIM baru lagi. Sedangkan KTP kan gampang, tinggal memberi sejumlah uang kepada karyawan Kelurahan, aku bisa mendapatkan KTP baru.
“Aku ga kuliah di luar kota aja males mbak kalo ngurus SIM, karena birokrasi yang complicated,” kata seorang teman, memberiku dukungan. LOL.
Tahun 2005 pertengahan aku sudah sering berada di Semarang sebenarnya, dan sibuk bekerja lagi, dan lumayan sering “mobile” menaiki sepeda motor, tapi dasar aku LELET, ngurus SIM pun males banget. Kebetulan juga aku bukan tipe orang yang suka kelayapan. Seperti yang pernah kutulis di post sebelum ini, kegiatanku hanya ngantar Angie sekolah, ke kantor, ke PC fitness center dan ke warnet yang kebetulan tempatnya berdekatan satu sama lain. Kadang ya was was juga ketika aku melakukan ‘perjalanan’ yang tidak biasa, misal, mengunjungi Julie yang tinggal di daerah Citarum ataupun Yulia yang tinggal di daerah Klipang (jauuuhhhhh banget dari tempat tinggalku!!!) ketika kebetulan mereka berdua pulang ke Semarang. But, semenjak pertengahan 2005 itu, aku “cuma” sekali “ketangkap” patroli polisi ketika satu hari Minggu aku lewat Kampung Kali (Jalan Mayjen Sutoyo) sekitar pukul 14.00, setelah membantu AFS Chapter Semarang untuk mengadakan seleksi di SMP N 3 yang terletak di kawasan tersebut. Sekitar bulan Juni/Juli 2007 yang lalu.
Kembali ke hari Selasa 6 November 2007. setelah muter-muter mencari jalan yang tidak banjir, akhirnya aku mengalah, harus melewati banjir. Aku tidak tahu nama jalannya, namun berlokasi setelah jalan Merak (yang direncanakan sebagai lokasi CITY WALK), belok kanan. Ini dia foto jalan yang dipenuhi dengan air banjir sebelum kulewati dengan nekad. :)

Masuk ke Jalan Letjen Soeprapto dari arah Timur (memang hanya satu arah), banjir masih menggenangi sebagian jalan itu. Untungnya di depan SATLANTAS, air sudah surut. Waktu memarkir motor, seseorang memakai seragam biru tua (blue black) yang berkeliaran di pelataran parkir menyapaku, “Mau ngurus apa mbak?”
“SIM Pak. SIM saya hilang.” Jawabku.
“Mau saya bantu?” tawarnya.
Aku diam saja. Aku ingin mencoba mengurus sendiri.
Loket pertama yang kudatangi adalah loket INFORMASI. Seorang pegawai menanyaiku, “Ada apa mbak?”
“Mau ngurus SIM Pak. SIM saya hilang.”
“KTP dan surat kehilangan dari Poltabes,” katanya.
Aku langsung menyerahkan kedua hal yang diminta itu kepadanya.
“Tunggu ya mbak? Silakan duduk dulu.” Katanya lagi.
Waktu duduk-duduk menunggu (di halaman, tidak di dalam sebuah gedung), aku melihat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO. “Just wait and see what will happen today,” kataku dalam hati.
Lihat gambar di bawah ini.

Sekitar 15 menit kemudian, aku dengar namaku disebut, lengkap dengan nama fam PODUNGGE. (orang itu tidak salah membacanya! :)) aku mendekati loket informasi itu lagi.
“Ngurus SIMnya terlambat ya mbak?” tanya orang yang sama.
“Terlambat?” tanyaku balik.
“SIM mbak berlaku sampai tahun 2004. berarti mbak terlambat 3 tahun mengurusnya Harus diuji ulang lagi.” Katanya.
W A D U H...   
“Emang hilangnya kapan?” tanyanya.
“Tahun 2002 Pak, dan saya lupa masa berlaku SIM saya itu sampai tahun berapa. Tapi memang baru kemarin saya mengurus surat hilangnya di Poltabes.”
“Berarti mbak harus diuji ulang. Seperti mengajukan SIM baru lagi.” Katanya.
Uji ulang? Aku ingat di tahun 1984 dulu waktu my dear late Dad menguruskan SIM buatku, setelah beliau membelikanku sebuah sepeda motor baru, hadiah diterima di SMA N 3 Semarang, sekolah negeri terfavorit, beliau mengantarku ke SATLANTAS, menungguiku yang sedang ujian teori di sebuah ruangan. Di luar hujan, dan beliau (dengan seorang teman yang “menjembatani” antara my dear Dad dengan pihak kepolisian) harus berdiri di “tritisan” (what is it called in Bahasa Indonesia? LOL) agar tidak terkena tetesan air hujan.
Setengah bengong aku menerima secarik kertas yang diulurkan oleh si Bapak di loket “Informasi” itu. Dia mengatakan, “Sepuluh ribu.”
Meskipun aku tidak jelas uang itu untuk apa, karena tidak ada kuitansi yang jelas, aku berikan juga uang sepuluh ribu kepadanya. Di sebuah lembaran kertas yang dia ulurkan, tertulis dataku sebagai pemilik SIM C, yang dikeluarkan pada tahun 1999. Aku berpikir apakah uang sepuluh ribu rupiah itu untuk membayar jasanya mencarikan dataku di komputer? Padahal dengan sistem komputeriasi, mencari data merupakan suatu hal yang sangat mudah, tinggal satu KLIK, keluarlah data yang kita butuhkan. (Seperti seseorang yang mencari dataku di internet, tinggal ketik NANA PODUNGGE di search engine, kemudian KLIK, voila ... akan keluarlah segala hal yang berhubungan dengan NANA PODUNGGE. Apa susahnya?”) Kemudian dia tinggal ngeprint. Apa sulitnya?
But ... yah ... orang bilang SATLANTAS merupakan gudang “uang-uang yang berpindah tangan tanpa keterangan yang jelas” so ... ya mohon dimaklumi.
Dari loket informasi, aku ke loket pembayaran, yang ternyata aku diminta untuk membayar Rp 20.000,00 untuk cek kesehatan. Ada kuitansi yang jelas untuk ini.
Dari situ, aku ke Poliklinik untuk cek kesehatan.
Apa yang terjadi di Poliklinik? Tekanan darahku dicek, kemudian juga mata, untuk mengecek apakah aku buta warna. Kemudian sedikit wawancara, apakah aku memakai kacamata, kalau iya apakah minus atau plus. That’s all. Kemudian aku diminta ke ruang I yang terletak di sebelah ruang II. LOL.
Sesampai di sana, kusodorkan berkas-berkas yang kubawa (surat kehilangan dari Poltabes, KTP, satu lembar data yang kudapatkan dari loket informasi, dan surat keterangan kesehatan dari poliklinik) kepada seorang polwan yang duduk di balik counter. Setelah sekilas melihat data yang menunjukkan aku terlambat mengurus SIM, polwan itu mengatakan, “Ini harus diuji ulang mbak.”
“Iya. Saya harus kemana?” tanyaku.
“Ke ruang ujian teori. Yang menguruskan siapa?” tanyanya.
“Saya urus sendiri,” jawabku pede. Sembari teringat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO, mengapa polwan itu bertanya, “Yang menguruskan siapa?”
Aku lupa memperhatikan rona wajah sang polwan mendengar jawabanku tadi. Kemudian dia menyerahkan selembar formulir yang harus kuisi, formulir permintaan SIM baru (satu halaman bolak balik), dan memintaku membayar seribu rupiah. Sebagai ganti fotocopy formulir? LOL. Kok mahal amat? LOL.
Setelah itu aku menuju ke ruang ujian teori. Well, meskipun fisik gedung telah mengalami perbaikan di sana sini, letak ruang ujian teori masih tetap di lokasi yang sama dengan waktu aku mengajukan SIM pertama kali tahun 1984. Aku masuk ke sebuah ruangan yang ada tulisan “Ujian teori”. Aku serahkan semua berkas yang kubawa (setelah aku mengisi formulir pendaftaran SIM) kepada seseorang yang duduk di balik sebuah meja.
“Yang ngurus siapa mbak?” tanyanya.
Nah lo! LAGI!!!
“Saya urus sendiri Pak, “ jawabku.
“Mau ikut ujian teori?”tanyanya.
“Lah, bukannya wajib?” tanyaku sendiri di dalam hati. Untuk menjawab pertanyaan orang itu, aku hanya menganggukkan kepala.
“Kalau tidak lulus, mbak harus ngulang lagi 14 hari sesudahnya.”
Weleh, repot amat? Komplainku dalam hati (lagi).
“Ya!” jawabku, sambil mengira-ira, soal-soalnya seperti apa ya? Traffic signs? Aku ga hafal semua dong ya.  but aku penasaran, pengen lihat soal-soalnya seperti apa.
Kemudian orang itu mengantarku ke ruang sebelahnya, yang kutengarai sebagai tempat dilakukannya ujian teori (aku salah masuk berarti tadi!!!) Tidak banyak orang yang duduk di ruangan ber-AC itu. Sekitar lima atau enam orang. Sementara itu aku melihat beberapa orang berseliweran keluar masuk. Di antara orang-orang itu, aku sempat mendengar seseorang mengatakan, “Habis ini kamu bisa langsung ke tempat pas foto. Gampang kan? Ga perlu repot-repot.”
Aku ingat Mita, salah satu sobat Angie, yang ayahnya polisi. I should have asked his help? But aku pun penasaran untuk mengikuti “semua prosedur” yang harus kutempuh, ujian teori, ujian praktek, dll. Tahun 1984 dulu, untuk ujian praktek aku langsung GAGAL (LOL) karena baru belajar naik motor waktu itu. But karena ada yang menguruskan (a workmate of my dear Dad), ya ujian teori dan praktek itu hanya untuk “syarat” saja. Sekarang kan aku sudah jauh lebih lihai naik motor dibanding 23 tahun lalu itu? Masak aku ga lulus ujian praktek?
But ada satu pemikiran juga jangan-jangan sistem telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada orang yang memilih ikut ujian resmi (yang berarti tidak ‘nembak’) yang lulus, sehingga semua orang akhirnya (terpaksa) mengikuti aturan main yang di’baku’kan?
Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, tanpa jelas apa yang kutunggu, seseorang dengan wajah yang lumayan cute (boleh ngelaba kan? Wakakakaka ...) memasuki ruangan, dan memanggil namaku.
“N Podungge?”
Aku acungkan tanganku. Dia memberi tanda agar aku mendekatinya ke sebuah meja panjang yang terletak di dekat sebuah tembok.
Bla bla bla ...
Aku setuju dengan pertimbangan:
Pertama, pemikiran (atau kekhawatiran) yang kutulis di atas.
Kedua, efisiensi waktu, agar aku bisa segera melakukan aktifitasku yang lain, misal nongkrong di depan desktop di rumah, nge-game maupun nulis buat blog, preparing material for teaching, dll.
Aku serahkan sejumlah uang yang tiga kali lipat “harga” yang ditulis besar-besar di loket pembayaran untuk mengurus SIM baru.
Setelah itu, the cute guy memintaku menunggu, sementara dia melakukan ‘prosedur’ yang aku yakin telah ‘dilegalkan’.
Aku harus menunggu lagi. Kukeluarkan Jurnal Perempuan nomor 50 dengan topik PENGARUSUTAMAAN GENDER, dan mulai membaca. Aku sempat membuka percakapan dengan seorang perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk
“Mengurus SIM Bu?”
Dia menjawab menggunakan boso Jowo Kromo yang tidak begitu susah bagiku untuk memahaminya, namun sulit untuk meresponsnya karena keterbatasan kosa kata yang kumiliki.  Dia mengurus SIM untuk adiknya. Dia bahkan harus mengeluarkan uang yang lebih besar daripada aku. namun dia nampak tidak keberatan sama sekali. “Daripada ngurus sendiri mbak, bingung, ga tahu kemana ngurus ini itu. Biar sajalah diurus orang, kebetulan tetangga.” Katanya.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, the cute guy appeared, memanggilku dan aku kembali mendekatinya, dan kita berbicara di tempat yang sama, ada meja panjang yang membatasi kita berdua. Dia melihat JP yang ada di genggamanku dan bertanya,
“Buku apa mbak?”
Aku sodorkan buku itu.
“Mbak aktivis ya?” tanyanya.
“Engga. Eh, belum. Saya cuma suka menulis,” jawabku.
Dan obrolan kita ternyata menjadi lumayan panjang, terutama tentang para perempuan yang tidak sadar haknya (di satu daerah yang dia sebut, terjadi kawin cerai dengan mudahnya, dan sang mantan suami tidak mempedulikan kesejahteraan anak-anak yang dilahirkan. Para perempuan di sana males mengurus itu, karena tidak tahu bagaimana mengurusnya, siapa yang akan membela mereka, karena mereka tidak punya uang, membuat anak-anak ditelantarkan), poligami, dll.
Seusai ngobrol, the cute guy menunjukiku ruangan tempat pas foto yang terletak tidak jauh dari loket informasi. After saying “thanks” kepadanya, aku ke ruangan pas foto.
Lima belas menit kemudian SIM ku jadi. Jauh lebih cepat dibanding 8 tahun yang lalu karena aku harus balik lagi ke SATLANTAS hanya untuk pas foto, karena tidak bisa dilakukan di hari sebelumnya. It took around two days to get a driving license at that time, meskipun hanya mengurus perpanjangan.
Sistem komputerisasi memang telah menyingkat banyak waktu yang tak perlu. Kapankah sistem yang “legal” benar-benar dijalankan?
“This is INDONESIA, Nana!!! Face the reality!!!”
PT56 12.35 071107

Jumat, September 07, 2007

Ngalor Ngidul :)


 

Lomba Blog yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata telah usai. Dari target yang kubuat sendiri—satu hari menulis satu artikel untuk di-post, sehingga dalam kurun waktu 25 hari, dimulai 8 Agustus sampai 1 September akan terkumpul 25 tulisan—aku berhasil melampauinya, karena aku telah post 33 tulisan, dengan topik yang lumayan bervariasi, mulai dari kecintaanku atas kota kelahiranku, Semarang (kebetulan tatkala lomba dilaksanakan, Semarang sedang mempunyai event spektakuler, SPA; gender dan feminisme—my main interest; agama—my second interest, referring to my childhood; bahasa—satu hal yang sangat lumrah because I work as an English teacher; resensi buku dan film, sampai ke pendidikan dan pengalamanku dalam mengajar. Namun sebenarnya masih ada beberapa ide yang telah kutulis dalam ‘tabungan ide’ yang belum sempat tertulis. Misalnya: resensi film SPANGLISH (kecintaan si tokoh perempuan yang berasal dari Mexico kepada bahasa Spanyol, dibandingkan dengan ide tuduhan merapuhnya kebanggaan pada bahasa nasional kita, jikalau dalam teori sastra, bisa aku menggunakan teori ‘intertextuality’), resensi film THE HOLIDAY yang spesial membahas tentang keegoisan seseorang atas nama cinta, yang bisa ku’intertext’kan dengan cinta posesif milik William Williams, salah satu tokoh imajiner dalam film AMERICAN DREAMZ, yang sangat lazim terjadi di sekitar kita, interpretasi lagu, dll, sampai rencanaku mengulas tulisan Adi Ekopriyono yang dimuat dalam Suara Merdeka terbitan hari Senin tanggal 27 Agustus halaman 6 yang berjudul “Agama Kemanusiaan”.


Sejak membaca tulisan itu pertama kali, aku sudah langsung ingin menulis sesuatu, namun terhalang dengan ide lain, yang akhirnya menghasilkan tulisan yang kuberi judul “Toleransi” dan “Toleransi 2”.
‘Keberhasilanku’ melawan keleletanku sendiri, LOL, cukup membuatku lega. Meskipun beberapa ide belum kuolah menjadi tulisan, aku toh telah bisa melebihi target yang kubuat sendiri. Jadi inget pada saat-saat aku ‘idle’, dan yang kupost di blog cuma lirik-lirik lagu doang yang kuambil dari beberapa website, Abang ‘’menyentilku’ dengan mengatakan, “Kok lirik lagu melulu Na isi blogmu?” huehehehe ... dan innocently kujawab, “Lagi idle nih Bang...” kasihan tuh si IDLE, jadi scapegoatnya si Nana yang lagi kumat leletnya. LOL


Dan setelah masa posting artikel di blog usai (tanggal 1 September) ternyata aku pun jadi lelet lagi. Huuuuu .... ada-ada aja alasan yang kubuat untuk diriku sendiri, yang ngantuk lah, yang capek lah, yang asik ngerumpi sama Angie lah, si mbok Lah (waduh dia kan dah balik kampung Na? LOL) Utangku balesin email Abang juga masih nunggu tuh. 


Udah ah, ngrumpi melulu. Mau nulis nih. Baca aja yang bakal kupost setelah tulisan ngalor ngidul ngetan ngulon ini.  ok?


PT56 22.15 050907