Cari

Tampilkan postingan dengan label Putri Cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putri Cina. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 11, 2008

Jawa, Cina, Arab


 

Satu ide lagi yang dipertanyakan oleh Titaley—tentang pertentangan antara etnis Jawa dan Cina—adalah kemungkinan pertentangan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama, daripada hanya sekedar dua etnis yang berbeda. Orang-orang keturunan Cina kebanyakan beragama Buddha/Kong Hu Chu/Kristen/Katolik; sedangkan orang-orang Jawa kebanyakan beragama Islam. Titaley mengemukakan pendapat ini berdasarkan pengalaman keluarga Ibunya yang keturunan Cina namun beragama Islam, yang tinggal di Pulau Serang. Mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dari warga di sekitarnya. 


Para budayawan di Semarang mengatakan bahwa penduduk yang tinggal di Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah ini mencakup tiga etnis utama; yakni Jawa, Cina, dan Arab. Seandainya mengamini dikotomi antara pribumi dan non pribumi, maka ada dua etnis yang bisa dikategorikan non pribumi, yaitu orang-orang keturunan Cina dan Arab. Namun tatkala terjadi kerusuhan yang (mungkin) dikarenakan perbedaan etnis, maka hal itu berarti (hanya) antara Jawa dan Cina saja. Salah satu kerusuhan yang ‘sempat kualami’ sendiri yakni yang terjadi pada tahun 1980, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dua hal yang kuingat dari kerusuhan tersebut: pertama, my Mom sangat khawatir dengan keselamatan my (late) Dad yang waktu itu berada di kantor, karena my (late) Dad looked like Chinese. Yang kedua: tiba-tiba orang-orang di sekitarku menjadi beringas dengan melemparkan batu-batu ke toko-toko milik orang-orang keturunan Cina. Aku tidak tahu alasannya, kecuali bahwa kata para tetangga mereka itu menumpuk harta sehingga mereka menjadi kaya.


Mengapa demikian? Jawabannya tentu karena mayoritas orang Jawa memeluk agama Islam, sama dengan agama yang dipeluk oleh orang-orang keturunan Arab. Agama Islam menjadi satu ikatan yang sangat kuat mempertautkan orang Jawa dan orang-orang (keturunan) Arab. Bukankah banyak juga orang-orang keturunan Arab yang kaya?


Sehingga cukup masuk akal jika ada orang yang mengatakan bahwa mungkin untuk menghindari kerusuhan serupa untuk terjadi lagi, orang-orang keturunan Cina itu seyogyanya memeluk agama Islam, seperti Laksamana besar Cheng Ho yang konon pernah menginjakkan kakinya di pesisir Semarang, dan membangun sebuah masjid sebagai petilasan, namun di kemudian hari beralih fungsi menjadi kelenteng, yakni bangunan bersejarah Gedung Batu Sam Po Kong.


Namun sangatlah tidak bijaksana jika agama dijadikan sebuah senjata. Bukankah dalam agama Islam, orang-orang (seharusnya) meyakini bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama? 


Seperti apa yang dilakukan oleh Widjajanti Dharmowijono, yang mendapatkan tugas membedah novel PUTRI CINA, kita harus kembali ke beberapa abad lalu, bagaimana pemerintah Kolonial Belanda menanamkan policy divide et impera, sehingga para ‘kaum pendatang’ (baca => keturunan Arab dan Cina) itu saling membenci, untuk mencari akar permasalahan, untuk kemudian bersama kita mencari solusinya, demi membentuk negara dimana para warganya benar-benar saling menghormati dan melindungi.


PT56 23.00 100608

 

What is an Indonesian?

Tatkala mengikuti acara BEDAH BUKU novel PUTRI CINA karangan Sindhunata, aku terpikat pada ide John A. Titaley, salah satu pemakalah, mengenai REDEFINING INDONESIA. Tatkala Soekarno dan M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa kita yang kemudian diberi nama INDONESIA, seharusnya sejak itulah kita tak lagi mengkotak-kotakkan diri sebagai “Orang Jawa”, “Orang Batak”, “Orang (keturunan) Cina”, “Orang Ambon”, dll. Karena kita semua adalah ‘orang baru’, bangsa baru, yakni bangsa Indonesia.
“What is an Indonesian?” tanya Titaley.
“Find the answer in our Constitution, UUD 1945. Para ‘founding fathers’ yang termasuk dalam lembaga BPUPKI pada waktu itu telah memberikan definisi bangsa Indonesia yang tertulis dalam UUD 1945. Mereka adalah orang-orang Nasionalis sejati, yang berpikir dalam kerangka nasional, bukan kedaerahan, golongan, apalagi berdasarkan agama tertentu. Namun sayangnya, para ‘cerdik cendikia’ setelah era ‘founding fathers” kita, yang kemudian menuliskan beberapa bagian di amandemen, justru malah bersifat ekslusif kedaerahan, ataupun keagamaan, membuat masalah perbedaan menjadi runcing. Akibatnya, kerusuhan akibat SARA pun terjadi dimana-mana.”
“Seandainya kita benar-benar mendirikan bangsa INDONESIA, sesuai seperti yang didefinisikan oleh para pendiri bangsa kita itu, tidaklah mustahil kalau kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh SARA tidak akan terjadi lagi. Juga seperti yang digambarkan di dalam novel PUTRI CINA.”
Saat mendengarkan penjelasan Titaley, aku teringat apa yang ditulis oleh St. Jean de Crevecoeur (1735-1813) dalam eseinya yang berjudul “What is an American?” Berikut ini aku kutipkan sebagian kecil dari tulisan Crevecoeur:

What is the American, this new man? He is either a European, or the descendant of a European, hence that strange mixture of blood, which you will find in no other country. I could point out to you a family whose grandfather was an Englishman, whose wife was Dutch, whose son married a French woman, and whose recent four sons have now four wives of different nations. He is an American, who, leaving behind him all his ancient prejudices and manners, receives new ones from the new mode of life he has embraced, the new government he obeys, and the new rank he holds.
(The Norton Anthology of American Literature, 3rd edition, 1989, page 561)


Buku UUD 1945 yang kumiliki waktu aku sedang sekolah mungkin telah hilang dibawa banjir bandang yang melanda daerah tempat tinggalku pada bulan Januari 1990, sehingga aku tidak bisa mengecek apa yang dikatakan oleh Titaley, untuk mencari tahu definisi bangsa Indonesia menurut para pendiri bangsa kita.
Namun, seandainya ada seseorang yang menulis “What is an Indonesian?”, dengan mengambil ide yang ditulis oleh Crevecoeur, yang mengusung ide ‘nasionalisme’ dan bukan ‘kedaerahan’, that would be great.

“Orang Indonesia mencakup segala etnis dan agama yang ada di bumi Nusantara. Sang ayah mungkin adalah seseorang yang berdarah Manado (yang mungkin saja memiliki darah Belanda di tubuhnya) beragama Kristen, yang menikah dengan seorang perempuan Jawa (Islam Kejawen). Mereka memiliki tujuh orang anak yang menikah dengan orang Batak (Katolik), Sunda (Islam), Papua (Kristen), Bali (Hindu), keturunan Cina yang tinggal di Kalimantan (Buddha/Kong Hu Chu), keturunan Arab (Islam), dan Ambon (Kristen/Katolik).”


Ketika semua perbedaan itu hadir menjadi satu, dalam sebuah keluarga besar yang harmonis, saling menghormati, menyayangi, menerima apa adanya, maka kita tak perlu lagi dihantui akan terjadi kerusuhan atau tindakan sewenang-wenang karena merasa lebih baik, apalagi hanya karena merasa diri merupakan bagian dari mayoritas.
PT56 22.30 100608

Senin, Juni 02, 2008

Ketoprak Putri Cina



Acara puncak untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun di Semarang adalah pertujukan KETOPRAK PUTRI CINA, yang diselenggarakan di tempat terbuka, di atas replika kapal Cheng Ho, yang terletak di seberang Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Semarang. Gang Lombok terletak tidak jauh dari Gang Warung, lokasi penyelenggaraan WAROENG SEMAWIS tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Gang Lombok dan Gang Warung terletak di kawasan Pecinan kota Semarang.


Acara pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dibuka oleh dua orang MC, yakni Bayu Krisna dan Citra, sekitar pukul 19.00 setelah walikota Sukawi Sutarip beserta istrinya datang ke lokasi, dibarengi dengan beberapa pejabat lain, seperti Bupati Kudus, HM Tamzil, mantan rektor UNDIP, Eko Budiharjo, dan beberapa budayawan lokal, seperti Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.


Acara dibuka dengan penampilan paduan suara dan tari RAMPAK oleh para siswa SD dan SMP dari TPA (Tempat Pendidikan Anak) Khong Kauw Hwee “Kuncup Melati”, sebuah yayasan yang menawarkan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. 


Acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Sinto Sukawi. Sinto membacakan puisi yang dia tulis sendiri, tentang kecintaannya pada kota kelahirannya, Semarang. Kemudian sambutan oleh ketua panitia Harjanto Halim, dua sambutan yang lain, yakni Wali Kota Semarang, dan Gubernur Jawa Tengah, yang dibacakan oleh seseorang yang mewakili Ali Mufiz karena pada waktu itu, beliau belum hadir. 


Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi. Pertama Beno Siang Pamungkas. Penampilan Beno diikuti dengan penampilan Eko Budiharjo, membawakan puisi yang dia beri judul PESAN NENEK MOYANG.

Tempoe doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti “Tiji Tibeh”
Maksudnya, Mukti siji Mukti kabeh, Mati siji Mati kabeh,
La kok sekarang, kendati masih tetap Tiji Tibeh
Tapi maknyanya terpeleset jadi Mukti Siji Mati kabeh

Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti
Sama rata sama rasa
Maksudnya jelas, bersama-sama merasakan kesejahteraan
La kok sekarang sim sala bim
Disulap jadi sama ratap sama tangis

Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti
Panca Sila
Yang kita semua sudah hafal mengucapkannya
La kok sekarang, mak jegagik
Dipeleset-tafsirkan oleh orang Jawa:
Siji, Gusti Allah ora ana kancane
Loro, Aja kejem-kejem aja galak-galak
Telu, Mangan ora mangan waton kumpul
Papat, Yen ana rembug mbok dirembug wae
Lima, Padha mlarate padha kerene


Sudah, sudah, sudah, yang sudah ya sudah
Kita bangkit-kembalikan saja Proklamasi
Dalam versi Millennium a la Hamid Jabbar:
“Hal-hal mengenai flu burung, sapi gila,
lumpuh layu, nasi aking, banjir, longsor,
gembpa, kekeringan, tsunami, lumpur panas
dan lain-lain yang tidak ada habis-habisnya
akan diselesaikan dengan cara seksama
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.
Semarang 24 Mei 2008
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh Siapa Saja


Djawahir Muhammad membawakan puisinya yang berjudul DUA BUAH JALAN, PADA HARI KEBANGKITAN. Berhubung begitu panjangnya puisi ini, di bawah ini akan kutuliskan di bawah ini tiga bait, yang terdapat pada bagian keempat. (Djawahir membagi puisinya ini menjadi lima bagian).

Sahabatku, kau sebut ini negeri yang pancasilais, multikultural dan demokratis,
Sedang kamu lihat mata manusia memerah saga,
Menyulutkan api permusuhan dimana-mana:
Bakuhantam polisi dan demonstran
saling pukul pkl, tibum dan satpol keamanan
Antar saudara berbunuhan, berebut remah, sesuap nasi, sepotong roti
Remaja putra putri yang mengidap narkoba, menggadaikan kesuciannya sendiri
Negarawan dan politisi yang terlibat korpusi, mengidap hipokrisi,
Bapak ibu guru mencuri-curi soal ujiannya sendiri?!

Sahabatku, tidakkah kita malu kita menyebut negeri kita
Yang dibangkitkan oleh spirit Kebangkitan Nasional seratus tahun lamanya
Sebagai negara yang berpancasila,
Jika mulut kaum miskin masih juga menjerit, menguak angkasa,
Jika antarsuku masih saling mengasah kapak perangnya, jika antarpemuja tuhan
Menyebut diri paling beriman, menista umat berbeda keyakinan?

O, Sahabat, rasanya aku ingin percaya pada kredo Rendra
Bahwa bencana dan keberuntungan adalah sama saja.


Timur Sinar Suprabana membawakan puisinya yang berjudul “Sajak mengeja kahanan” yang tak kalah panjang dari puisi Djawahir. Di bawah ini aku tuliskan bait yang ketiga:

Negeri macam apa ini, Saudara?
Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?
Jika presidennya menangis ketika menonton film ayat-ayat cinta
Tapi saat berkunjung ke lokasi super luberan lumpur lapindo
Ia, presiden kita itu,
Unjal ambegkanpun tidak!
Jelaskan kepadaku: negeri macam apa ini?
Jika ketika banjir, tanah longsor dan bahkan angin ribut bercampur petir menjadi gendruwo di tiap tlatah tumpah darah
Ia, presiden kita itu,
Ribet upyek nyanyi-nyanyi bikin album lagu
Sing ketika dirilis jebul ora payu.
Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?
Ketika jumlah pengangguran terus bertambah
Dan jumlah keluarga miskin makin banyak,
Ketika harga-harga tak henti naik berlipat
Dan bahkan tahu serta tempe tak lagi bisa terbeli oleh rakyat
Wakil presiden dari presiden kita itu
Sembari cengengesan memapar angka-angka
Yang kita patut diyakini sebagai indikator
Bahwa keadaan rakyat, keadaan masyarakat dan bangsa ini
Dari waktu ke waktu terus membaik. “ke depan
Akan terus kita tingkatkan. Ya to.. , ya to...?” katanya
Melalui konperensi pers tiap seusai jum’atan.

Aku tak tahu.
Aku yang picek
Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang buta?
Aku tak tahu
Aku yang terlanjur tak bisa percaya angka-angka
Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang sedang menebar dusta?
Sebab angka-angka tak pernah membuktikan apa-apa



Menjelang pukul 21.00, tepat ketika Ali Mufiz beserta istri memasuki lokasi, acara utama, pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dimulai. Untuk mengawalinya, kelompok tari PHOENIX dari kota Semarang membawakan tarian DEWI KUAN IM SERIBU TANGAN.

Secara ringkas, ide utama ketoprak PUTRI CINA (yang mengambil ide utama dari novel PUTRI CINA karangan Sindhunata) adalah tentang keserakahan seorang penguasa kerajaan Pedang Kemulan (Prabu Amurco Sabdo) dan ketidakmampuannya memimpin kerajaannya tersebut. Korupsi, kolusi, dan nepotisme tak lekang dari masa pemerintahannya, sehingga rakyat pun menderita, dan lama kelamaan menuntut Prabu Amurco Sabdo untuk menurunkan diri. 


Sebelum akhirnya memaksa Prabu Amurco Sabdo, Patih Wrehonegoro telah berhasil mempengaruhi sang Prabu untuk menjadikan kaum keturunan Cina sebagai kambing hitam.


“Mudah, Sinuwun. Sekali lagi mudah! Alihkan saja segala kekerasan yang mau pecah itukepada orang-orang Cina. Setelah itu, Sinuwun akan mengendalikan keadaan dengan lebih mudah.”


Senapati Gurdo Paksi yang beristrikan Giok Tien, seorang keturunan Cina, tentu saja tidak setuju.
“Ya ampun, Sinuwun. Jangan! ... Sinuwun, apa salah mereka, sampai Sinuwun tega mengorbankan mereka? Sementara ini tidakkah Sinuwun sendiri mengharapkan harta mereka untuk makin berkuasa. Sinuwun tidak memberi kesempatan pada rakyat untuk berusaha. Sinuwun malah membiarkan orang-orang Cina untuk makin mengembangkan usaha mereka. Apakah Sinuwun tidak punya hati lagi?”
Karena Senapati Gurdo Paksi tidak menyetujui usul itu, dia pun memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya, dan Prabu Amurco Sabdo memilih Tumenggung Joyo Sumengah, sang tukang suap, untuk mengisi jabatan tersebut.


Rakyat yang telah disulut kemarahannya, dan termakan hasutan Wrehonegoro dan Tumenggung Joyo Sumengah pun melakukan pembasmian ke seluruh orang-orang keturunan Cina, yang akhirnya pun juga memakan korban rakyat yang bukan keturunan Cina. Gurdo Paksi dan istrinya Giok Tien pun meninggal dalam huru hara tersebut.

Cerita memang berakhir tragis (seperti kata Sindhunata sang pengarang, banyak orang Cina yang menjadi korban pada kerusuhan bulan Mei 1998, sehingga dia tidak mengakhiri novelnya dengan happy ending). Namun skenario Ketoprak Putri Cina sendiri memadukan antara dagelan dan kesedihan sehingga penonton pun dibuat tertawa terpingkal-pingkal di paruh awal pertunjukan, sedangkan di paruh akhir larut dibawa kesedihan tragedi yang disuguhkan.


Kehadiran Sukawi Sutarip dan HM Tamzil sebagai calon gubernur Jawa Tengah pun dimanfaatkan oleh para pemain ketoprak untuk dikritik. “Zaman dahulu kala, orang-orang sering takut kalau berjalan melewati pohon-pohon besar, karena mereka percaya bahwa banyak ‘penunggu’ di pohon-pohon besar tersebut. Mereka sering mengucapkan ‘Nuwun sewu...” tatkala melewati pohon-pohon besar. Namun sekarang pohon-pohon kecil juga ada yang menunggu. Lihat saja, di sana banyak tertempel poster-poster para calon gubernur.” 


Di Semarang, mungkin juga di seluruh daerah Jawa Tengah, para calon gubernur memasang poster-poster mereka untuk kampanye di pohon-pohon, sehingga mereka pun dituding sebagai tidak mencintai lingkungan karena justru merusaknya.


Jika penampilan Ketoprak Putri Cina diawali pertunjukan tari DEWI KUAN IM SERIBU TANGAN, di akhir pertunjukan, kelompok tari PHOENIX membawakan tari KUPU KUPU sebagai lambang menyatunya Gurdo Paksi dan Giok Tien di ‘dunia sana’. Sindhunata ‘mengadopsi’ akhir cerita Sampek-Engtay, pasangan kekasih yang tidak bisa menyatukan cintanya di dunia yang fana ini karena perbedaan kelas sosial.


PT56 17.08 010608

Selasa, Mei 27, 2008

Bedah Buku Putri Cina

Bedah buku PUTRI CINA menghadirkan empat pembicara utama:
1. Widjajanti Dharmowijono, Ketua Jurusan Bahasa Belanda Akademi Bahasa “17” membawakan makalah “Quo Vadis, Romo? Pengukuhan Stereotip dalam Novel Putri Cina”
2. Abdul Djamil, Rektor IAIN Walisongo Semarang, membawakan makalah “Belajar dari Kisah Kemanusiaan Putri Cina, Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional”
3. John A. Titaley, pengajar UKSW Salatiga, memaparkan makalah “Putri Cina: Jeritan Kemanusiaan si Kuning Manis”
4. Budi Widianarko, seorang Guru Besar di Unika Soegijapranata, memaparkan makalahnya yang berjudul “Sejarah Berulang, Tiadakah Penangkalnya? Melampaui “Teori” Kambing Hitam
Selain keempat orang yang diberi kehormatan untuk melakukan pembedahan atas novel PUTRI CINA, Sindhunata sebagai pengarang tentu saja dihadirkan dalam acara bedah buku ini. Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka bertindak sebagai moderator.
Berikut ini akan kubahas inti utama makalah masing-masing pembicara, yang kuserap dari acara bedah buku tersebut.

Widjajanti Dharmowijono
Dalam riset yang dia lakukan untuk disertasi doktoralnya, Widjajanti membaca lebih dari 250 novel karya pengarang Belanda zaman kolonial, yang mencakup periode 1880-1940, novel-novel yang sedikit banyak memberikan imaji maupun representasi orang-orang Cina yang ada di bumi Nusantara. Widjajanti menemukan ‘pola’ imaji dan representasi yang sama pada dekade-dekade tertentu. Sebelum memasuki abad ke 20, novel-novel tersebut memberikan stereotip orang-orang Cina yang sangat negatif sebagai tuan tanah maupun pengusaha yang kaya raya karena menghisap darah dan tenaga orang-orang ‘pribumi’ (baca => non Cina) sekaligus berkecimpung di bidang yang negatif, misal bandar judi maupun penyedia/distributor candu.
Setelah melampaui tahun 1900, imaji maupun representasi kaum Cina berangsur-angsur membaik. Memasuki tahun 1940, lima tahun menjelang Soekarno memproklamasikan negara yang diberi nama “Indonesia”, gambaran kaum Cina dalam beberapa novel sangatlah baik.
Dari judul makalah yang dia tulis, satu pertanyaan yang dikemukakan oleh Widjajanti kepada Sindhunata, akan dibawa kemana para pembaca PUTRI CINA? Jika novel-novel yang ditulis pada zaman kolonial tersebut (terutama setelah memasuki abad ke-20) telah menyajikan imaji dan representasi kaum Cina yang baik, mengapa Sindhunata memaparkan kembali stereotip yang amat negatif dalam novelnya yang ditulis di abad ke-21?
Ada satu pertanyaan yang mengusikku mendengarkan pemaparan Widjajanti ini (sayangnya waktu yang tidak bersahabat membuatku tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan pada saat bedah buku tersebut). Yang memberikan imaji serta presentasi negatif dan kemudian mengubahnya menjadi positif adalah para novelis Belanda. Seusai kemerdekaan bangsa Indonesia, bagaimanakah orang-orang Indonesia sendiri memandang orang-orang keturunan Cina ini?
Rezim Orde Baru kembali menegatifkan imaji tersebut?
Jika pemerintah kolonial Hindia Belanda memandang kekuatan kaum Cina sebelum abad ke-20 itu sebagai suatu ancaman, sehingga mereka memberikan stigma negatif, agar kaum ‘pribumi’ membenci ‘kaum pendatang’ ini, (paling tidak melalui novel-novel yang terbit waktu itu), apa alasan rezim Orde Baru untuk melakukan hal yang sama? Agar para warga negara dari etnis yang berbeda ini saling membunuh, dan melupakan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah waktu itu?

John A. Titaley
Titaley memulai presentasinya dengan mengemukakan pertanyaannya sendiri tentang mengapa dia dipilih oleh panitia untuk membedah novel PUTRI CINA padahal dia tidak memiliki latar belakang sastra. Dia memperkirakan apakah karena dia terlahir dari seorang perempuan yang berdarah Cina? Padahal orang lebih mengenalnya sebagai seorang keturunan Ambon.
Ibunya merupakan perempuan Cina dari Pulau Seram, dari keluarga Muslim. Meskipun ibunya kemudian berpindah agama tatkala menikahi ayahnya, semua Tante-tante Titaley tetap beragama Islam. Menurut pengamatannya, tidak pernah keluarga ibunya ini mengalami diskriminasi yang buruk, seperti yang dia temukan dalam novel PUTRI CINA. Itulah sebabnya dia mempertanyakan apakah masalah diskriminasi yang buruk, yang menimpa kaum Cina di Pulau Jawa lebih ke permasalahan perbedaan agama, dan bukan karena perbedaan etnis.
Titaley membandingkan masalah Jawa-Cina ini dengan apa yang dia amati di Filipina dan Thailand dimana para kaum keturunan Cina ini sama sekali tidak mengalami diskriminasi karena mayoritas kaum Cina di kedua negara ini memeluk agama mayoritas, yakni di Filipina Katolik, sedangkan di Thailand Buddha. Haruskah orang-orang keturunan Cina di Jawa ini memeluk agama mayoritas—Islam—untuk menghindari perlakuan yang diskriminatif dari masyarakat luas?
Satu hal yang sangat menarik dari presentasi Titaley adalah pernyataannya mengenai REDEFINING INDONESIA untuk mengikis habis dikotomi pribumi dan non-pribumi. Tatkala para ‘founding fathers’ kita membentuk negara Indonesia, mereka dengan jenius telah memberikan sebuah definisi INDONESIA. Indonesia bukan hanya terdiri dari orang Jawa/Melayu/Sunda/Batak/Cina/Ambon/Papua, dll. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dimana semua orang itu berkumpul menjadi satu, dan membentuk sebuah negara baru, yakni INDONESIA. Tak satu suku bangsa pun berhak mengklaim diri sebagai pribumi dan memaksa suku bangsa lain untuk menjadi non-pribumi.
Keberadaan lima orang keturunan Cina dalam BPUPKI (Liem Koen Hian dari Banjarmasin, Oey Tiang Tjoei dari Jakarta, Oey Tjong Hauw dan Tan Eng Hoa dari Semarang, serta Yap Tjwan Bing dari Solo) yang ikut memiliki andil dalam menentukan konsep negara Indonesia, menunjukkan bahwa pada dekade tersebut, orang-orang keturunan Cina tidak diperlakukan secara diskriminatif, mereka juga adalah kaum pribumi bumi Nusantara.
Sebagai salah satu solusi Titaley mengajukan usul untuk membangun “nation and character building” melalui sistem pendidikan nasional. Titaley beranggapan bahwa pemberian mata pelajaran pendidikan agama terbatas pada satu agama yang dianut siswa saja merupakan proses pemiskinan wawasan anak Indonesia.

Abdul Djamil
Untuk menghindari kemungkinan terjadi (lagi) kerusuhan maupun kekerasan sosial yang berasal dari perbedaan etnis, Djamil menyitir sepenggal ayat suci Alquran yang berbunyi, “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu ada pitutur bagi orang-orang yang berakal”.
PUTRI CINA, secara sekilas, hanyalah merupakan kisah cinta antara sepasang manusia yang berasal dari dua etnis yang berbeda, yakni Jawa dan Cina. Jikalau seseorang membacanya hanya sambil lalu, apalagi kalau hanya untuk menjadi pengantar tidur saja, seseorang tidak akan bisa mengambil ‘pitutur’ yang disampaikan oleh sang pengarang, Sindhunata. Demikianlah yang dikemukakan oleh Djamil. Hasilnya, akan terlewatlah apa yang sebenarnya bisa kita jadikan sebagai suatu pelajaran agar tak ada lagi di bumi pertiwi ini pembantaian yang hanya dikarenakan perbedaan etnis.
Dengan mengungkapkan secara gamblang latar belakang cinta antara tokoh Setyoko dan Giok Tien, nampak Djamil ingin mengemukakan keyakinannya pada apa yang dikemukakan oleh Slamet Mulyana dalam bukunya yang berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” bahwa beberapa dari wali songo merupakan orang-orang keturunan Cina. Banyak buku hasil tulisan ahli sejarah lain yang tidak mengemukakan hal yang sama. Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai usaha untuk menyembunyikan fakta? Untuk apakah orang melakukan hal tersebut? Sisa-sisa policy divide et impera di zaman pemerintah kolonial Belanda yang masih dilakukan di zaman sekarang ini?

Budi Widianarko
Seperti judul makalah yang dia tulis, Widianarko mengemukakan bahwa nampaknya “Teori Kambing Hitam” merupakan tesis utama novel PUTRI CINA. Teori ini secara gamblang dikemukakan oleh Benny G. Setiono dalam bukunya yang berjudul “Tionghoa dalam Pusaran Politik”. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, sampai kerusuhan Mei 1998, orang-orang yang disebut sebagai “berasal dari negara Bangau Putih” dalam PUTRI CINA, selalu menjadi ‘kambing hitam’. Setiap kerusuhan terjadi, selalu jatuh korban dari orang-orang keturunan Cina, sehingga seolah-olah menjadi suatu keniscayaan bahwa hal yang demikian ini akan selalu terjadi setiap beberapa tahun sekali (sehingga bisa dianggap sebagai sebuah ‘siklus’ kehidupan di Indonesia yang memang ‘nampaknya harus selalu terjadi seperti itu’).
Sebegitu burukkah mental orang-orang Indonesia sehingga kerusuhan sosial yang sering memakan korban orang-orang keturunan Cina dianggap sebagai suatu ‘siklus kehidupan’? Sebagai suatu keniscayaan? Karena kecenderungan manusia ‘mengidap’ penyakit xenophobia?
Meskipun begitu, Widianarko ingin mengemukakan opini yang lebih dari hanya sekedar pengambinghitaman. Adakah ‘akar’ yang lebih dalam yang melandasinya?
Dua teori dari Glaeser dan Caselli and Coleman dikemukakan oleh Widianarko sebagai kemungkinan lain, selain teori kambing hitam. Glaeser mengatakan informasi dan persepsi yang salah, yang biasanya dipropagasi oleh para politis untuk mendapatkan dukungan kebijakan, akan dengan mudah menyulut kebencian antar kelompok etnis. Sedangkan Caselli dan Coleman menekankan kompetisi untuk memperoleh sumberdaya yang menjadi penyebab ketegangan rasial.
Untuk itu Widianarko mengemukakan salah satu agenda yang bisa dilakukan untuk secara terus menerus mengurangi risiko kerusuhan yakni dengan perjuangan untuk memastikan tersedianya informasi dan persepsi yang utuh sehingga dapat mementahkan kebencian semuu. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan memperkaya interaksi antar etnis Cina dengan etnis-etnis lain di negeri ini. Selain itu mendukung dan memastikan adanya sistem pemerintahan yang demokratis—yang menjamin persamaan hak hidup dan perlindungan hukum bagi setiap warga negara Indonesia—tanpa peduli apapun latar belakang etnisnya.
LLT 20.03 270508