Cari

Tampilkan postingan dengan label Book review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book review. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 25, 2008

Ilmu Pengetahuan

“Ilmu pengetahuan, kelihatannya, bukannya tak berjenis kelamin; dia laki-laki, seorang ayah, dan kena sifilis pula.” (Virginia Woolf, seorang penulis feminis berasal dari Inggris.)



Berapa abad dunia ini telah ‘dikuasai’ oleh kaum laki-laki? Uncountable centuries!!! 


Tidaklah mengherankan jika ‘kemunculan’ ilmu-ilmu pengetahuan pun berasal dari pemikiran kaum laki-laki, perempuan hanya duduk di bangku penonton. Laki-laki yang menguasai dunia permainan ini menggunakan cara berpikirnya, berdasarkan pengalaman-pengalamannya kemudian membentuk atau menciptakan berbagai macam teori dalam berbagai ilmu, tanpa memasukkan cara berpikir maupun pengalaman kaum perempuan yang hanya menjadi penonton. Sayangnya kemudian para laki-laki ini menggeneralisasi bahwa cara berpikir mereka mewakili kaum laki-laki dan perempuan. Perempuan yang tidak dilibatkan dalam berbagai penemuan ilmu pengetahuan ini (karena mereka didomestikasi) diharuskan memandang segala macam persoalan/kasus dari sudut pandang laki-laki pula. 


Contoh yang sangat ringan. Laki-laki selalu merasa bahwa mereka diciptakan lebih kuat dibanding perempuan karena mereka menciptakan parameter untuk kekuatan ini. Laki-laki mampu mengangkat beban seberat 100kg, misalnya, sedangkan bagi perempuan hal ini sulit dilakukan. Well, kalaupun ada, at least, tidak sembarang perempuan mampu melakukannya.


Gerakan perempuan mulai kelihatan taringnya di awal abad 19, terutama ketika ada KTT perempuan pertama pada tahun 1848 di Seneca Falls di Amerika, yang bisa dikatakan sebagai tonggak mulainya perjuangan panjang kaum perempuan untuk mensejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki. Munculnya generasi feminisme yang pertama—feminisme liberal—mengupayakan hak kaum perempuan untuk menikmati bangku sekolah, dan ikut berpolitik. Feminisme liberal ini kemudian diikuti oleh gerakan-gerakan perempuan yang lain.


Kembali ke contoh yang sangat ringan di atas. Seandainya kaum perempuan menciptakan parameter untuk kekuatan, tentu mereka akan menggunakan tolok ukur yang berbeda. Mengapa Tuhan menciptakan kaum perempuan yang katanya lemah ini lengkap dengan rahim, yang kemudian dari rahim itu akan muncul generasi-generasi yang akan datang? Tentu karena kaum perempuan lebih kuat dibanding kaum laki-laki. Lebih banyak perempuan yang mampu hidup sampai usia lanjut, dibandingkan dengan laki-laki yang berusia sama, karena perempuan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan. Lebih kuat kan?


Perempuan dengan pengalamannya sebagai pihak yang dimarjinalisasi dalam kultur patriarki ini, yang ingin bangkit untuk setara, mulai bersatu dan masuk ke ranah yang dianggap eksklusif milik kaum laki-laki; yakni dengan mulai menciptakan teori-teori baru, ditemukanlah cara-cara berpikir baru dengan mengedepankan pengalaman perempuan yang tentu sangat berbeda dengan pengalaman laki-laki. 


Dalam bidang Sastra—karena aku berasal dari disiplin Sastra—gerakan perempuan ini berhasil menemukan tulisan-tulisan kaum perempuan yang telah lama terkubur dan dilupakan orang, sementara tulisan kaum laki-laki yang sezaman masih sering ditemukan sampai sekarang ini. sebelum ada gerakan perempuan, karya-karya milik penulis laki-laki merajai KANON. Seandainya orang menilik THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE, tentu mereka akan lebih banyak menemukan karya kaum laki-laki yang memberikan kesan seolah-olah kaum perempuan pada waktu itu hanya duduk manis di dapur, memasak untuk suami dan anak-anak. Kalaupun ada karya penulis perempuan yang masuk ke dalam antologi, tentu berkisar ke itu-itu saja, misalnya saja di Amerika, nama Emily Dickinson sangatlah terkenal atau Jane Austen dari Inggris. Tulisan-tulisan kaum perempuan lain dianggap tidak layak untuk masuk ke dalam KANON karena cara penilaiannya yang tentu masih sangat male-oriented.


Gerakan perempuan mampu menguak kembali banyak karya penulis perempuan yang telah lama dilupakan orang. Misalnya: Charlotte Perkins Gilman dari Amerika, dan Anna Wickham dari Inggris. 


Sandra Gilbert dan Susan Gubar membukukan hasil risetnya dalam buku THE NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN. Dengan memasukkan female perspectives, dengan pengalamannya sebagai perempuan, banyak karya-karya penulis perempuan yang layak pula masuk KANON. Dari contoh di bidang Sastra ini kita mampu menarik kesimpulan betapa this male-dominated world telah berbuat tidak adil kepada kaum perempuan.


Aku mengawali artikel ini dengan meng-quote kata-kata Virginia Woolf, aku ingin mengakhirinya dengan meng-quote kata-kata Annie Leclerc:

“Aku mengidamkan agar kaum perempuan belajar menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki”.

PT56 14.38 241206

Sabtu, September 01, 2007

Melampaui Pluralisme

Buku “Melampaui Pluralisme: Etika alquran tentang Keanekaragaman Agama”” ditulis oleh Hendar Riyadi, dicetak oleh RMBooks & PSAP Januari 2007. Dalam kata pengantarnya, Professor Dr. Komarudin Hidayat menulis bahwa buku ini merupakan sebuah ijtihad untuk menciptakan hubungan yang konstruktif antarumat beragama yang selalu menyimpan potensi konflik. Di tengah-tengah era dimana konflik antar umat beragama semakin meningkat, yang bisa membahayakan integrasi negara, buku semacam ini sangatlah dibutuhkan.
Indonesia merupakan sebuah negara yang mengakui keberagaman agama yang dianut oleh pare penduduknya, paling tidak ada 6 agama: Islam dengan pengikut terbesar, kemudian Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Toleransi yang digembar-gemborkan harus diakui bahwa hal tersebut tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Contoh terburuk dari ketidaktoleran ini bisa kita sebutkan sebagai konflik di Ambon beberapa tahun lalu, juga di Poso, dan di beberapa tempat lain. Jika memang semangat toleransi itu ada di dalam hati setiap warga negara Indonesia, dimanapun mereka berada, tidak akan mudah para provokator merasuki cara berpikir orang-orang dan menyebabkan konflik berdarah karea perbedaan agama.
Orang-orang yang sulit mempraktekkan toleransi itu tentu karena mereka yakin bahwa apa yang dituliskan di dalam kitab suci yang mereka percayai benar—bahwa hanya agama merekalah yang benar. Untuk itulah, untuk menumbuhkan semagat toleransi, harus ada cara baru dalam membaca dan memahami ayat-ayat kitab suci. Semangat inilah yang mendasari Hendar Riyadi melakukan riset dan menghasilkan buku “Melampaui Pluralisme”.
Untuk menghasilkan interpretasi ayat-ayat Alquran yang inklusif, Hendar Riyadi menawarkan metodologi yang berbeda dari yang digunakan oleh para ahli tafsir klasik: metode penafsiran yang integratif. Metode ini didasarkan pada beberapa teori penafsiran. Baik yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam maupun yang berkembang dalam tradisi teori hermeneutika kontemporer. Yang paling penting untuk digarisbawahi adalah Alquran harus dibaca secara utuh, secara totalitas, dan bukan sebagian-sebagian.
Selain metodologi, Hendar Riyadi juga menawarkan untuk menggunakan perspektif yang berbeda: perspektif etika relijius. Etika relijius yang dimaksudkan di sini adalah pertimbangan-pertimbangan atau keputusan-keputusan moral yang didasarkan pada pandangan dunia Alquran , konsep-konsep teologis, serta kategori-kategori filsafat dan dalam beberapa hal merujuk pada etika sufistik.
Dalam postingan sebelum ini, yang berjudul ‘Toleransi’ dan ‘Toleransi 2’ aku telah menyebut beberapa bagian buku ini. Bagi pengunjung blogku, bisa juga membaca ulasanku tentang buku yang sama di alamat berikut ini:

http://afeministblog.blogspot.com/2007/05/going-beyond-pluralism.html

Terima kasih.
LL 18.01 010907

Sabtu, Agustus 18, 2007

Be a Chinaman!

 


“Jadilah orang Cina!” (Be a Chinaman!) is a title of one short soty in PETUALANGAN CELANA DALAM. As in my previous post, the story has setting place Semarang, especially Pendrikan and Magersari, where in the boundary of those two areas the writer of the book, Nugroho Suksmanto, was born. Let me quote the special stanza printed as an opening of the story.


Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha aku harus jadi orang “Cina”. Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka.


(I remember my father’s advice very well. If I want to be a businessperson, I have to be “a Chinaman”. He meant not only to socialize with Chinese and understand their behavior, but I also have to comprehend their culture and apply it in my daily life so that I can become successful as they are.)
In this story, Nugroho narrated a teenage boy’s experience before Ramadhan month came. Several weeks before Ramadhan, the dwellers of Magersari area were busy to do many activities to collect money to welcome Lebaran day, the biggest Holiday for Muslim. It had been a tradition to celebrate Lebaran, people wore new clothes, went sightseeing around the town, ate and drink to their heart’s content. To do all of those things, people needed much money.


What kind of activities did people in Magersari do to collect money? Such as making toys of ‘warak ngendog’1 and piggy bank, making cookies, sewing clothes, and then they sold them in DUG-DER.2 Meanwhile for some naughty children, they tried their luck to collect money by gambling! Some games mentioned by Nugroho are ‘dadu kopyok’, ‘udar-bangkol’, ‘cap-sa’.


Talking about ‘dadu kopyok’ I remember I saw it done too in my dwelling place in 1970s, Bulu Setalan, on the south of Magersari. It was done by a group of people, adults, close to my house. (FYI, Bulu Setalan is a very crowded area where many small houses are built very close to each other, leaving no space for yard. In that era, my parents were one of two people in our alley who had televisions. No wonder in the evening, my house was always crowded by neighbors who wanted to watch television. This made me able to sneak out of the house to watch people gambling.) Curiously, I came close to it and watched those people playing. I thought it was just a kind of game. When I saw someone win, he could get much more money than the money he put on one number, I was amazed. Was it that easy to get much money with only a little capital? This made me think of taking some money from my piggy bank to join the game. Unfortunately, I didn’t see any other children around my age joining it. This made me doubtful. However, I was really tempted by the easy way to get much money. As a little child, I didn’t have any access to get much money in a short time besides asking for it to my parents. My relatives lived in one town in North Sulawesi, Gorontalo. This hampered me to enjoy one thing that other children did on Lebaran holiday: getting some pocket money from their grandparents, uncles, aunties, cousins, etc.


Thinking of the much money I would get led me to one thing: I had to take some money from my piggy bank! After I won, I could put my money back to my piggy bank, right? Among many neighbors watching television in the living room of my house, I sneaked into a special place where I hid my piggy bank, in one cupboard located in the kitchen. I did it in the dark so that I would not attract anybody’s attention. When making a small hole at the bottom my piggy bank carefully, but nervously (I felt like I had done a very big sin  stealing my own saving in my own piggy bank), I was shocked by someone’s voice, “What are you doing in the dark Na? Why didn’t you turn on the lamp?”


I almost fainted. Huh, it was my brother!!! Feeling shy because he caught me in the act, but also feeling sure of what I was doing, I told him my plan. (In fact, he had watched me secretly for some time while I watched those adult people gambling.) Unfortunately he didn’t agree with me. He said, “That is called JUDI (Gambling). It is not just a common game! And you know that JUDI is HARAM in our religion. Don’t do this! No one is rich only because of gambling, our religion teacher said that, right? Our parents will be angry too to know this.”


Uh … I was very disappointed. However, as someone raised in a very strictly religious family, of course I was afraid of making sin, especially making my parents angry!


So? I never joined it even though I was very tempted. I still watched people playing it around my house until my dad found out and he forbade me to go out in the night to see those people. 


P.S.: What is the relationship between the title of the short story with gambling? Read the story by yourself, will ya? :)


PT56 21.20 150807

___________________________________
Warak ngendog is a special creature that is believed to represent three different ethnic groups in Semarang: Javanese, Chinese and Arabian. Its head is like a dragon (Chinese), its body is the combination of buraq (a special animal believed to take Prophet Muhammad to Sidratil Muntaha -> Arabian) and goat (Javanese).


Dug-der is a special event held some days before Ramadhan month. This is like a fair done in the evening. In the event, people sell many things, from children toys, clothes, various kinds of food—especially dates are sold because Muslim people believe that to break their fast during Ramadhan month, their fasting will be blessed more if they eat dates

warak

 

Selasa, Agustus 14, 2007

Perburuan Wirog

“Perburuan Wirog” merupakan salah satu cerpen kesukaanku dalam kumcer “Petualangan Celana Dalam”. Bukan karena aku suka berburu wirog tentunya, melainkan karena ilustrasi Nugroho Suksmanto akan daerah kelahirannya, perbatasan kawasan Pendrikan dan Kampung Magersari membuatku sibuk mengira-ira seperti apakah daerah ini di dekade 1950-1960-an? Aku menebak bahwa latar waktu yang diambil oleh Nugroho dalam cerpen ini sekitar dua dekade tersebut.
Dari cerpen ini aku tahu bahwa di zaman dulu (seberapa dulu? Yah ... dimulai dari zaman kolonial Belanda tentu saja, karena kata ‘Pendrikan’ ternyata berasal dari Fendrijk, nama seorang tuan tanah Belanda, penguasa wilayah barat daya kota Semarang) Pendrikan merupakan kawasan tempat tinggal para priyayi, sedangkan Kampung Magersari merupakan tempat tinggal para pendatang yang konon non priyayi. Kedua kawasan ini dibatasi oleh sebuah sungai yang disebut ‘Ngemplak’, bukan jalan Indraprasta seperti yang kutulis di postinganku sebelum ini yang kuberi judul “Petualangan Celana Dalam”. Apakah waktu itu daerah Pendrikan hanya melingkupi mulai dari Jalan Sugiyopranoto sampai jalan yang sekarang disebut Jalan Indraprasta? Dimanakah sungai yang disebut ‘Ngemplak’ oleh Nugroho?
Nampaknya bukan, karena di sebelah utara jalan Indraprasta seingatku daerah itu juga masih disebut daerah Pendrikan. Sekarang dibuktikan dengan keberadaan SD Pendrikan Utara 03-04 yang terletak di mulut Jalan Abimanyu; SD Pendrikan Utara 03-04 ini menghubungkan Jalan Abimanyu dengan Jalan Indraprasta. Seingatku pula waktu aku masih kecil (waktu duduk di bangku SD), kadang-kadang aku diajak shalat Jumat oleh Ibundaku di masjid milik SD/SMP/SMEA Muhammadiyah yang terletak di pinggir Jalan Indraprasta, sebelah Utara. Waktu dulu disebut-kalau aku tidak salah ingat-Muhammadiyah Pendrikan. Tahun 1950an, my dearest late Dad pernah menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah ini. Entah mengapa kemudian beliau tak lagi menjadi guru/Kepala Sekolah, dan bekerja di Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia).
Sedangkan daerah yang disebut Kampung Magersari, setahuku sekarang ini hanya di kawasan pemukiman di antara dua jalan raya, Jalan Sugiyopranoto dan Jalan Indraprasta. Sesempit itukah kawasan yang dihuni oleh para pendatang yang non priyayi tersebut?
Nampaknya aku benar-benar terhipnotis oleh Nugroho sehingga sekarang setiap kali aku berangkat bekerja melewati Jalan Indraprasta, aku selalu celingukan mencari sungai yang disebutnya sungai ‘Ngemplak’. Saking biasanya aku melewati jalan ini, aku tidak pernah memperhatikan memang ada dua buah sungai, yang satu lebih lebar, yang lainnya lagi lebih sempit. Ini berarti Pendrikan terletak di sebelah Timur ‘sungai’ Ngemplak (kalau masih bisa disebut ‘sungai’ sih, karena sekarang ‘sungai’ ini terlalu sempit, sehingga hanya menyerupai selokan. Dengan Selokan Mataram yang membatasi daerah UGM dengan pemukiman Jalan Kaliurang saja, ‘sungai’ Ngemplak masih lebih sempit.) sedangkan Kampung Magersari terletak di sebelah Barat ‘sungai’ Ngemplak.
Dan dari hasil celingukan tatkala berangkat bekerja, menyusuri jalan Indraprasta, aku melihat sebuah gapura yang bertuliskan Jl EMPLAK INDRAPRASTA. Nah, ini diakah daerah perbatasan tersebut? Di bawah ini gambar gapura tersebut. Di sebelah kiri ada sebuah sungai.

Hal ini juga membuatku benar-benar ingin kembali ke dekade aku lahir-mungkin di tahun-tahun tersebut setting time yang dipilih oleh Nugroho-untuk melihat what that area looked like; memandangnya dengan menggunakan kacamata seorang Nana saat sekarang ini; kalau bisa mengabadikannya dalam bentuk jepretan foto. Apakah ‘sungai’ ini sejak dulu hanya selebar itu? Ataukah karena perubahan alam-yang sering disebabkan oleh manusia-sungai Ngemplak sekarang ini menjadi begitu sempit. Juga aku ingin tahu dimanakah letak ‘papringan’ yang konon sering terdengar tangis seorang bocah perempuan mungil?
PT 56 21.15 050807

Petualangan Celana Dalam

PETUALANGAN CELANA DALAM is the first collection of short stories (in Bahasa Indonesia, recently we call this kind of book as KUMCER, an acronym of KUMpulan CERpen) of Nugroho Suksmanto. The book was published by Gramedia. The first printing was in October 2006. This writer was born on 12 November 1952 in the boundary of Pendrikan and Magersari, Semarang Tengah. Due to his birth place, I think it is not surprising if he uses some areas in Semarang as setting place in some of his short stories.
This book consists of seventeen short stories. The first five short stories—“Perburuan Wirog”, “Lolong Panjang”, “Tidak untuk Bermain Catur”, “Tuhan Meminjam Tanganku” and “Jadilah Orang Cina!”—have Semarang as the setting place. They also have similar setting time, during the decade of 1960s. Although “Petualangan Celana Dalam” was the first short story I read after I borrowed it from a student of mine, and I directly got strongly attracted to this book due to the same story whose title was chosen to be the title of the book, I must say that I was really enchanted by this KUMCER because of those five short stories. The “I” character was a little boy who was a teenager. They really reminded me of my own childhood, especially in 1970s. Everything reminding us of our childhood is always interesting? Perhaps because I can say that my childhood left a happy era in my memory.
The other twelve short stories have various setting place and time, from Jakarta, until some cities abroad, such as Belgium and the Netherlands especially for the one entitled “Putus Cinta di Belgia”. They have various topics too, such as the gloomy experience of someone accused guilty due to G30S/PKI, affair with other people, an innocent and pretty housemaid, mental breakdown, etc. Sixteen of the stories have male characters as the “I” (the first person’s view), and one has female as the main characters, as the central character. It is no wonder because the writer is a male. The only story with female as the main characters—entitled “Lukisan-Lukisan Perasaan”—seemed, in my personal opinion, very forced by the writer to give a different impression toward the readers. Unfortunately, apparently the writer didn’t dig out more deeply the emotional and psychological conflicts of the female characters. I am of opinion because the writer is a male. Comparing this short story to short stories written by Djenar Maesa Ayu with similar topics, I can see the weak investigation of women’s emotional and psychological conflicts done by Nugroho Suksmanto. (In the PREFACE of the book, Nugroho personally thanked Djenar for her advice to publish a book.) His strength lies in the male characters with their inner problems.
However, as a whole, I want to recommend my blog visitors to read this book. This is really entertaining and a bit contemplative for several stories.
PT56 13.57 140807