Cari

Sabtu, Agustus 24, 2013

PANTAI KLAYAR : KEEKSOTISAN DI UJUNG PACITAN

PANTAI KLAYAR : 
KEEKSOTISAN DI UJUNG PACITAN


Pantai Klayar dari atas bukit

Apakah anda ingin berkunjung ke pantai nan eksotis dengan pemandangan batu karang bak di gurun pasir? Juga debur ombak yang tak pernah lelah mencumbu bibir pantai? Pantai Klayar lah jawabannya!

Pantai Klayar terletak kurang lebih 45 kilometer sebelah Barat kota Pacitan. Jalanan mulus memanjakan kita hanyalah sampai di kecamatan Punung – Pacitan. Dari terminal Punung, jalan menuju Pantai Klayar – kurang lebih 19 kilometer – adalah perjalanan yang sangat menantang dikarenakan badan jalan yang sempit, naik turun terjal, berkelok-kelok, dengan aspal yang telah mengelupas disana sini. Jalanan nan sempit ini hanya bias dilewati oleh mobil, sepeda motor, atau sepeda onthel. :)

foto dijepret di pagi hari
foto dijepret di pagi hari

Aku pribadi butuh mengayuh pedal sepeda lipatku sekitar 17 jam dari Solo! Hari pertama gowes dari Laweyan Solo hingga Baturetno Pacitan, aku dan Ranz – my biking soul mate – butuh 9 jam. Agar tidak kemalaman di jalan dan mengembalikan stamina kita memilih untuk menginap semalam di pusat kota kecamatan Baturetno. Di hari kedua, kita gowes dari Baturetno hingga Pantai Klayar sekitar 8 jam. But our hard work paid off! Pantai Klayar sangat pantas dikunjungi.

di jalan waktu gowes
di jalan waktu gowes


mejeng dulu di pinggir jalan
mejeng dulu di pinggir jalan

Kebetulan kita berdua sampai di Klayar pada hari kelimat hari raya Idul Fitri 1434 H, hingga sangatlah dipahami jika suasana pantai sangatlah ramai pengunjung. Hah, padahal kita ingin foto-foto kita di pantai dalam suasana sepi hingga seolah-olah kitalah sang pemilik pantai. LOL. Pantai Klayar terletak di bawah bukit sehingga untuk menuju kesana kita harus menuruni jalanan yang curam. Dari atas, pemandangan di bawah ternoda oleh ratusan mobil yang terparkir rapi di tempat parkir. :( Apa boleh buat?

Hal pertama yang kita lakukan adalah memesan sebuah kamar di “Restaurant dan Homestay Larasati”. Kita memang berencana untuk menginap semalam agar puas bermain di pantai. Kita memilih kamar yang sewanya Rp. 150.000,00 dengan fasilitas double bed, fan, sebuah lemari kecil, dan kamar mandi dalam. Di dalam kamar, kita juga mendapati tikar sehingga kita menyimpulkan bahwa sebenarnya kamar bisa dihuni oleh banyak orang yang ingin menginap bersama.

mejeng bersama Austin di pinggir pantai
mejeng bersama Austin di pinggir pantai



Setelah menaruh barang, kita berdua menikmati ‘turunan tajam’ menuju bibir pantai. Yuhuuu. Hal kedua yang kita lakukan adalah mencari makan siang/sore. Mungkin saat itu kita sedang kurang beruntung sehingga seporsi mie ayam yang kita pesan rasanya ga karuan. Meskipun begitu, mood kita yang sedang bergembira tidak terganggu. Lain kali kita coba warung makan yang lain deh.

Hal ketiga yang kita lakukan tentu adalah bernarsis ria! Yeaaayyy. Dimana pun kita berfoto-ria, pantai Klayar selalu terlihat indah! Dengan latar belakang karang, laut lepas beserta ombaknya yang besar, pepohonan di pinggir pantai, you name it! Kita juga sempat menyambangi tempat yang disebut “seruling samudera” yang berupa air ombak yang memancar ke atas dari lobang di karang.

seruling samudera!
seruling samudera!

mejeng di karang, dijepret oleh si Bapak pemandu
mejeng di karang, dijepret oleh si Bapak pemandu

Kita kembali ke penginapan sekitar pukul enam sore. Di pinggir pantai kita lihat ada dua tiga tenda yang telah didirikan oleh pengunjung yang memilih untuk camping. Juga ada rombongan yang Nampak menikmati senja itu dengan duduk-duduk di atas kap mobil sembari menyanyi riang. Bahkan meski malam telah merambah, dari teras penginapan aku melihat masih ada pengunjung yang baru dating ke pantai.

Keesokan hari, kita kembali ke pantai, kali ini kita memulai hunting foto dari karang sebelah Barat dimana terletak gardu pandang. Sayangnya sunrise tak terlihat dari tempat kita berdiri. Dari atas karang itu kita turun, kemudian berjalan menyusuri pantai hingga tiba di karang yang berbentuk seperti layar (konon dari karang berbentuk layar inilah nama Pantai Klayar), yang orang lain juga menyebutnya seperti sphinx.

suasana Pantai Klayar di pagi hari saat sepi pengunjung
suasana Pantai Klayar di pagi hari saat (masih) sepi pengunjung

in action berdua dengan Ranz

dari atas bukit

latar belakangnya seperti lukisan ya? :)
latar belakangnya seperti lukisan ya? :)

Pagi ini suasana pantai tentu jauh lebih sepi dibanding kemarin sore. Kita melihat beberapa rombongan yang mungkin bermalam di pantai. Namun sebaiknya kita harus mengikuti peraturan yang telah dibuat, dengan tidak mendekati daerah yang ada bendera merah. Itu adalah tempat-tempat yang berbahaya: ombak besar yang dikirim dari tengah laut bisa menghempaskan siapa pun yang berada di tempat itu hingga bias jatuh ke karang-karang yang bertebaran di bibir pantai.

Jika anda adalah pecinta pantai, jangan pernah lewatkan Pantai Klayar dari daftar wajib kunjung anda! Jam berapa pun anda datang, Pantai Klayar tetap terbuka!

GG 14.10 190813

Senin, Juni 17, 2013

Whitening Lotion


Kita semua tentu tahu bahwa semenjak pertengahan dekade sembilanpuluhan mendadak whitening lotion menjadi primadona. Produk-produk hand-body lotion yang di dekade sebelumnya sering menggunakan jargon "membuat kulitmu kuning langsat, kulit 'asli' Indonesia" melupakan jargon lamanya. Kepopuleran tv serial dari Taiwan (F4 kalo ga salah namanya :P ) dengan ajaib telah menghapusnya.

Di awal dekade delapanpuluhan, dimana lagu Koes Plus yang berjudul "Hitam manis" pernah membuatku resah karena kulitku berwarna terang. Frasa "hitam manis" membuat Nana kecil berpikir bahwa dia tidak manis karena tidak berkulit hitam. LOL. Maka, segala kemungkinan untuk membuat kulitku tak lagi berwarna terang pun kulakukan. Misal: ikut latihan karate (yang dilakukan di sore hari, sekitar pukul 15.00 - 17.00) waktu SMP, atau yang paling sering kulakukan (hingga aku duduk di bangku SMA sebelum my dear late dad membelikanku sebuah sepeda motor, 'hadiah' aku diterima di SMA N 3 Semarang) adalah pulang sekolah dengan jalan kaki. (FYI, jarak sekolah - rumah kurang lebih 2,5 kilometer.)

Segala upaya yang kulakukan lumayan berhasil, meski aku butuh waktu bertahun-tahun. 

Aku lupa, bahwa anugerah Sang Maha Pencipta yang berupa lesung pipit di pipi kiriku sudah lumayan membuatku nampak manis yak? wkwkwkwkwk ...

'Sialnya' setelah kulitku lumayan menggelap (dibanding waktu aku duduk di bangku SD atau pun SMP) mendadak serial F4 itu mengubah pendapat sebagian (besar) rakyat Indonesia bahwa yang cantik itu tak lagi berkulit kuning langsat, (atau yang manis itu yang berkulit hitam), namun BERKULIT PUTIH. NAH LO!

'Sialnya' (lagi) jargon bahwa yang cantik itu yang berkulit putih mulai mengglobal (di bumi Indonesia) semenjak aku mulai tergila-gila berenang, yang tentu semakin menggelapkan warna kulitku. (and ... among three daughters of my parents now I have the most tanned complexion, padahal duluuuu ... kulitku yang berwarna paling terang.) Hingga ... mohon dimaklumi jika kemudian aku pun mulai menggunakan handbody lotion dengan whitening effect (katanya!)

Tapi ... meskipun begitu, despite the fact that sometimes I use whitening handbody lotion (yang 'sial'nya aku suka bau harum yang ditimbulkan), aku tetaplah berenang, sebelum tergila-gila bersepeda. Saat berbikepacking antar kota tentu aku tetaplah mengayuh pedal sepeda meski cuaca sangat panas (yang menghasilkan warna kulitku belang). Meski 'mungkin' aku adalah salah seorang korban jargon 'yang cantik itu berkulit putih' aku tetap melakukan hal-hal yang akan membuat warna kulitku menggelap; sehingga hal ini bisa memberi kesimpulan bahwa aku bukan 'benar-benar' korban jargon itu yak. (Bingungin ga nih? xixixixixi ...) 

Dan ... aku terpana kala membaca satu artikel di buku SI PARASIT LAJANG karya Ayu Utami yang berjudul "Timun Takut Hitam" karena ternyata sebagian besar konsumen lotion pemutih produk C**** adalah lelaki muda kelas bawah. wkwkwkwkwkwkwk ...

Btw busway, satu hal yang membuatku amazed pada anak gadisku adalah: dia berkulit gelap (dibandingkan aku yang meski warna kulitku telah menggelap namun tetaplah lebih terang dibandingkan dia) namun tidak pernah tergoda untuk menggunakan whitening lotion. Bahkan jika kita berkesempatan gowes di hari minggu pagi bersama, dia akan menolak mengenakan kaos lengan panjang, atau pun mengenakan 'arm warmer' yang biasa kupakai jika T-shirt yang kupakai berlengan pendek. 

How about you, girls? :)

IB 180, 18.25 170613

P.S.:
gambar dicomot dari sini

Selasa, Mei 28, 2013

PERAYAAN TRISUCI WAISAK 2557 TAHUN 2013


jepretan Ranz dari dalam Taman Wisata Candi Borobudur
Semula kupikir Taman Wisata Candi Borobudur ditutup untuk umum pada hari perayaan Trisuci Waisak demi memberi kesempatan kaum Buddhis untuk merayakan hari perayaan ketika Siddharta Gautama dilahirkan, mencapai ‘enlightenment’ dan hari wafatya. Maka satu-satunya cara untuk bisa mengikuti upacara perayaan adalah dengan cara menyusup di tengah-tengah peserta arak-arakan yang membawa air dan api suci dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

But in fact I was wrong. Maka tidak heran jika Taman Wisata Candi Borobudur sangat penuh, dipadati pengunjung pada hari Sabtu 25 Mei 2013 itu. Menurut perkiraan mungkin lebih dari 10000 orang memadati pelataran taman wisata maupun monumen candi.
beberapa orang dengan kamera di tangan


seseorang dengan tab/note di tangan
Kulihat banyak di tengah kerumunan orang yang menunggu datangnya arak-arakan dari Candi Mendut yang membawa kamera, entah mereka fotografer profesional atau fotografer hobbyist atau jurnalis. (Di zaman dimana kamera DSLR masih sangat mahal, jumlah para ‘fotografer’ ini tidak sebanyak sekarang sehingga kehadiran mereka tidak begitu terasa mengganggu jalannya arak-arakan.) Saat mobil yang membawa air suci lewat, seorang Bhikku menyipratkan air ke kerumunan pengunjung. Konon mereka yang terkena cipratan air ini akan mendapatkan berkah.


Aku dan Ranz tidak kesulitan menyusup ke dalam arak-arakan, meski kita tidak mengenakan ‘badge’ yang bertuliskan ‘peserta’ atau ‘fotografer’ atau ‘jurnalis’ atau apa pun juga. Dalam hati aku sempat geli – namun juga merasa ridiculous – ketika berjalan mengiringi arak-arakan, di pinggir jalan di antara kerumunan orang kulihat dua tiga orang yang sedang merekam jalannya arak-arakan, mengarahkan kameranya ke arahku dan Ranz. :(

Menjelang sampai ke pintu masuk Manohara, kulihat banyak orang yang tadi ikut berjalan di tengah-tengah arak-arakan di depanku jalan berbalik arah. Selintas kudengar selentingan orang yang mengatakan, “Tidak diperbolehkan masuk bagi mereka yang tidak memiliki tanda khusus – misal peserta atau apa pun juga. Jika ingin tetap masuk, harus beli tiket Rp. 30.000,00 per orang.” Aku juga mendengar seseorang mengatakan, “Tentulah mereka tidak akan membiarkan kita masuk gratis.” 



Ranz mulai khawatir apakah kita bisa masuk arena taman wisata Candi. Namun jika kita diperbolehkan masuk dengan membeli tiket, aku sudah berkeputusan untuk membelinya. Dan ... ternyata kita berdua mulus melewati pintu masuk Manohara! Tidak ada kesulitan berarti. It was our luck then! :) Setelah melewati pintu masuk, kita harus melewati sebuah ambang pintu dimana kita dan barang bawaan kita dipindai apakah kita membawa barang terlarang. Sebelum melewati, aku dengar orang-orang – sebelum melewati ambang pintu pemindai – yang ada di depanku berbicara, “Siapkan tanda pengenalmu!” Ranz kembali deg-degan. Tapi ... mungkin memang it was our luck sehingga kita pun melewatinya dengan mudah.

Setelah melalui detik-detik ‘deg-degan’ LOL kita pun memilih tempat untuk beristirahat, duduk-duduk. I was so exhausted! Banyak juga orang yang beristirahat di rerumputan sekitar kita duduk. Sementara itu, rombongan arak-arakan yang ada di belakang kita ternyata masih lah panjang. Sekitar setengah jam kemudian, kita mulai melanjutkan perjalanan menuju monumen Candi. Namun karena pada dasarnya aku masih lelah dan mengantuk, melihat banyak orang lain yang membaringkan tubuh, leyeh-leyeh, aku kembali mengajak Ranz istirahat lagi, padahal dari lokasi kita istirhat yang kedua kali ini monumen Candi Borobudur sudah terlihat. 

Setelah istirahat secukupnya, aku dan Ranz mencari toilet. Namun kita berdua tidak jadi melakukan ‘hajat’ yang kita butuhkan karena antrian di toilet sangat menggila, kata Ranz. Akhirnya kita langsung berjalan ke arah monumen.
 
lautan pengunjung 1

lautan pengunjung 2
Melihat kerumunan orang di jalan setapak menuju monumen candi, kita berdua pun takjub. Wow! So crowded! so full of people! Saat itu aku baru ngeh, bahwa ternyata Taman Wisata Candi Borobudur tidak tertutup untuk umum pada hari Waisak! Karena upacara perayaan belum dimulai, para bhikku/bhiksu kulihat berbaur dengan pengunjung. Mungkin pada saat ini lah ‘insiden’ yang tercetak di satu foto yang beredar di media sosial terekam: ada seorang bhikku yang melakukan ibadah di tengah monumen candi difoto oleh para fotografer yang kurang menghargai pelaksanaan ibadah tersebut.
foto yang ramai diedarkan dan diperbincangkan di sosial media
Ranz hanya bersedia kuajak naik ke undakan yang pertama – Kamadhatu – mungkin karena begitu banyak pengunjung yang menginjakkan kakinya di monumen. Tumben Ranz tidak penasaran untuk naik ke stupa yang paling atas untuk mendapatkan foto pemandangan yang bagus. Setelah usai mengitari undakan Kamadhatu, Ranz langsung mengajak kita turun, menuju ke panggung utama dimana perayaan Waisak akan diselenggarakan. Sesampai disana, hamparan karpet yang ada di bawah panggung telah dipenuhi para pengunjung yang ingin menyaksikan jalannya upacara seremonial Waisak. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi yang strategis untuk mendapatkan the best shots. But tentu saja siapa yang cepat dia yang mendapatkan posisi strategis tersebut.
 Sementara itu dari pembawa acara aku mendengar info bahwa terjadi desak-desakan orang yang rebutan untuk membeli lampion. Berulang kali pembawa acara mengingatkan agar para pengunjung berbaris rapi karena semua akan kebagian; panitia telah menyediakan lebih dari seribu lampion. Namun nampaknya para pengunjung itu tetap sulit diperingatkan karena sang pembawa acara perlu mengingatkan berulang kali. FYI, bagi mereka yang membeli lampion, saat menerbangkannya nanti mereka bisa ‘make a wish’ yang dipercaya akan terkabul.
 
panggung utama, difoto dari sisi kiri


para bhiksu/bhikku dan beberapa kaum muda Buddhis di atas panggung
Satu kali sang pembawa acara mengumumkan seorang ibu kehilangan anaknya yang berusia 7 tahun. Tak lama kemudian, seseorang mengantar si anak hilang itu naik ke panggung untuk berjalan menuju tenda panitia. Para pengunjung serta merta bertepuk tangan, berseru-seru gembira.
Jelang jam 18.00 para bhikku, bhiksu, maupun bhikkuni datang menuju panggung diikuti para pemuka agama Buddha dan beberapa undangan khusus. Gerimis mulai menyapa. Banyak pengunjung mulai mengembangkan payung yang mereka bawa. Para bhikku, bhiksu maupun bhikkuni duduk dengan tenang di panggung utama. Menurut jadual, upacara perayaan seremonial Waisak akan dimulai jam 19.00, setelah undangan istimewa – menteri agama Suryadharma Ali dan gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo – datang.

Gerimis datang dan pergi dan datang lagi. Setelah jam 19.00 berlalu, pengunjung mulai resah ketika belum terlihat tanda-tanda bahwa menag dan gubernur JaTeng datang. Mereka berharap upacara segera dimulai tanda menunggu kehadiran orang-orang ‘istimewa’ tersebut. Tapi tentu hal itu tidak bisa dilakukan.
 
foto ini juga kumbil dari sosial media
Gerimis mulai menderas menjadi hujan. Pengunjung tambah resah. Kulihat beberapa yang duduk di sekitarku meninggalkan lokasi. Karpet yang terletak di bawah panggung itu terasa lebih longgar. Baru jelang pukul 20.00 rombongan menag dan gubernur datang, yang disambut dengan teriakan kecewa ‘huuuuuuuuuuuu’ dari para pengunjung. Para panitia dan bhikku/bhiksu/bhiksuni panggung – juga para kaum Buddhis yang duduk di atas panggung – nampak tetap tenang.

Tidak menunggu lama, pembawa acara segera membuka upacara. Pengunjung duduk tenang mendengarkan sambutan dari ketua panitia dan ‘khotbah’ tentang Waisak. Namun pengunjung mengganggu sambutan menag dan gubernur dengan teriakan-teriakan kekecewaan.

Usai sambutan dan khotbah, acara dilanjutkan dengan pradaksina, yakni ritual para bhikku/bhiksu/bhikkuni mengelilingi monumen Candi Borobudur tiga kali, setelah para undangan istimewa dipersilakan meninggalkan panggung upacara. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba orang-orang yang semula duduk rapi mulai berdiri, bahkan ada dorongan dari belakang untuk maju ke atas panggung. Suasana di sekitarku mulai kacau balau. Sementara itu hujan menderas. 
Merasa pusing berdiri di tengah kerumunan orang di sekitarku – I could not see anything but people’s backs and umbrellas – aku mengajak Ranz meninggalkan panggung, menjauh, mencari lokasi yang lumayan jauh dari panggung.

Karena gelap – atau karena mataku yang belor – aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di atas panggung/belakang panggung. (Monumen Candi Borobudur terletak di belakang panggung utama.) Namun berulang kali aku mendengar peringatan seorang bhikkuni yang memimpin pradaksina memperingatkan pengunjung untuk tidak memenuhi area sekitar monumen yang sedang dipakai untuk melakukan ritual pradaksina. Peringatan bhikkuni berikutnya membuatku terpana, malu, terluka: “Bagi para pengunjung yang ingin mengikuti ritual pradaksina, silakan mengikuti dengan tertib dan tenang. Jangan sibuk foto-foto sendiri.” DUH! 
Hujan yang tak kunjng reda hingga akhir pelaksanaan pradaksina membuat panitia mengumumkan pembatalan pelepasan lampion. Ribuan pengunjung yang keukeuh memilih tetap tinggal di lokasi meski kehujanan karena menunggu detik-detik pelepasan lampion yang konon bakal menghasilkan pemandangan yang menakjubkan pun berteriak-teriak meluapkan kekesalannya. :( :( :(
Mungkin aku sendiri termasuk orang yang menganggap ritual keagamaan agama – yang termasuk minoritas di Indonesia – ini sebagai tontonan karena aku ikut berada di lokasi? Karena aku ikut foto-foto dengan latar belakang panggung upacara perayaan. Karena aku ikut menyusup di tengah-tengah peserta arak-arakan demi ikut menyaksikan (menonton?) suatu ritual keagamaan yang karena minoritas maka bisa dianggap eksotis? :( :( :(

Tulisan ini tidak untuk ikut mengeruhkan suasana dimana banyak orang berpolemik apakah ini salah panitia atau salah pengunjung yang tidak memiliki rasa tenggang rasa pada pemeluk agama lain. Tulisan ini hanya untuk memaparkan apa yang terjadi pada hari Sabtu 25 Mei 2013 dari kacamataku sebagai salah satu turis nusantara yang hadir.

GL7 12.32 280513

Rabu, Mei 22, 2013

Fun race field trip yang memang sangat fun


Setelah melalui proses planning dan replanning yang melelahkan, akhirnya field trip yang ditunggu-tunggu anak-anak pun terselenggara. Tanggal 16 Mei 2013 anak-anak kelas tujuh hingga kelas dua belas Permata Bangsa International School berkunjung ke TeMBI Rumah Budaya yang terletak di Jalan Parangtritis km 8,4 Timbulharjo Sewon Bantul.
 
our minisbus
di dalam bus sebelum berangkat
 Rombongan yang terdiri dari 20 anak didik – enam tidak ikut field trip dengan alasan yang variatif – didampingi oleh enam guru. Kita meninggalkan sekolah pukul 06.05, terlambat 5 menit dari rencana semula. (Anak-anak sangat excited sehingga sebagian besar datang sebelum jam 05.30!) Perjalanan cukup lancar sehingga kita sampai di TemBI pada jam yang kita harapkan, pukul 10.00. 
di pendopo, mendengarkan penjelasan
 Sesampai di TeMBI, anak-anak langsung berhamburan turun dari mini bus yang kita naiki, sementara aku menurunkan Snow White, my folding bike 20” yang kuajak serta. Lho Kok? Ya karena satu acara utama adalah bersepeda!

Masuk ke halaman TeMBI, kita langsung disambut oleh panitia setempat. Untuk briefing, kita dipersilakan duduk-duduk di pendopo, sambil mendengarkan petunjuk yang harus kita lakukan. Acara FUN RACE ini 

1.   meliputi bersepeda ke pasar Kepek yang merupakan pasar tradisional untuk berbelanja bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk memasak
2.   menangkap belut di persawahan dimana belut-belut memang telah sengaja dilepaskan di area tersebut
3.   memasak belut hasil tangkapan
 
kelompok 2 berdoa dulu sebelum berangkat
kelompok 4
Dalam melaksanakan FUN RACE ini anak-anak dibagi ke empat kelompok, masing-masing terdiri dari lima anak. Tugas pertama adalah belanja di pasar Kepek. Untuk sampai ke pasar yang bakal tutup pukul 12.00 ini, mereka mengikuti peta yang telah disediakan, dengan melewati dua pos dimana mereka harus mencari sebuah bendera yang tersembunyi letaknya dan menjawab beberapa pertanyaan.  Aku mengikuti kelompok dua yang terdiri dari Ellen, Vito, Zulfan, Benz dan Shem. FYI, Vito baru bisa naik sepeda beberapa hari sebelum berangkat field trip, maka tugasku adalah mengawal Vito agar persepedaannya aman terkendali.  Kita sempat tersesat gara-gara salah membaca peta, sehingga tidak belok di perempatan yang seharusnya kita belok. Aku sih tidak keberatan gowes jauh. LOL. Tapi kasihan anak-anak yang tidak terbiasa gowes. Bahkan Zulfan yang karena terlalu excited, di awal perjalanan dia ngebut, akhirnya dia malah hampir K.O: mendadak kepalanya berkunang-kunang dan perut mual. Setelah itu, ban belakang sepeda yang dia naiki bocor, sehingga terpaksa sepeda ditinggal; panitia yang mengawal yang mengurusnya. Walhasil, dia pun diboncengkan Shem.
 
trek awal berangkat
kok njempalik ya? :(
Oh ya, karena kerjasama dalam tim juga merupakan point penting, maka di tiga kelompok lain juga ada yang memboncengkan teman sekelompoknya gara-gara ada anak yang tidak bisa naik sepeda. Salut buat Vito yang terus semangat bersepeda meski dia beberapa kali hampir terperosok ke sawah. 
 
mau masuk pasar Kepek
kelompok 1 belanja
Di pos satu, kelompok dua diberi pertanyaan yang berhubungan dengan DIY; misal siapa nama gubernur DIY pada tahun 1982 dan siapa nama gubernur DIY sekarang. Benz yang bisa menjawab, “Sultan Hamengkubuwono IX.” J Di pos dua, pertanyaannya sedikit menjebak. “Jika butuh satu menit untuk merebus satu butir telur, butuh berapa menit kah untuk merebus sepuluh butir telur?” Untunglah Vito dengan jeli melihat jebakan itu.

Sesampai di pasar Kepek, terjadilah tawar menawar waktu belanja karena kelompok yang mendapatkan uang sisa paling banyak akan mendapatkan point yang tinggi. Oh ya, sebelum berangkat meninggalkan TeMBI, tiap kelompok telah diberi rincian bumbu yang harus dibeli dan uang Rp. 15.000,00. Tawar menawar di pasar ini anak-anak diharuskan menggunakan bahasa Jawa – meski ngoko diperbolehkan. None of my students can speak Krama Inggil. LOL.
 
mencari dan menangkap belut
Dari pasar Kepek, kita kembali ke arah semula. Namun sesampai di Jalan Parangtritis km 8, kita tidak langsung kembali ke TeMBI, namun kita ditunjukkan arah yang akan membawa kita ke areal persawahan. Perburuan belut tiba!

Kelompok dua sampai di lokasi paling terakhir karena kita sempat tersesat lumayan jauh. Usai menangkap belut, masing-masing kelompok dihitung berapa ekor belut yang berhasil mereka tangkap. Selesai menangkap belut, kita langsung masuk ke TeMBI – dari pintu belakang. 
 
Ivana membanting-banting belut untuk meyakinkan belut telah mati sebelum dibersihkan dan dimasak
perlengkapan masak yang disediakan
kelompok 3 smempersiapkan bahan-bahan untuk masak
Sesampai di pendopo, disana sudah tersedia empat kompor, masing-masing lengkap dengan wajan dan minyak goreng. Anak-anak bekerja saling bahu membahu. Sebagian membersihkan belut yang telah ditangkap, sebagian yang lain menyiapkan bumbu-bumbunya. Chef dari TeMBI menyarankan semua bumbu yang dibeli di pasar – mulai dari garam, bawang merah, bawang putih, kemiri, gula jawa – digunakan semaksimal mungkin. Namun anak-anak bebas berkreasi mau memasak apa. Kelompok satu memilih menggoreng belut hingga kering dan sambal dabu-dabu yang lezat. Kelompok dua memasak mie goreng dan belut gorengnya ditabur di dalamnya. Kelompok tiga memasak nasi goreng dengan campuran belut goreng. Kelompok empat memasak belut bumbu rujak. Dan, tidak kusangka-sangka, ternyata masakan anak-anak enak semua. :)
 
hasil masakan kelompok 1
nasi goreng belut, hasil masakan kelompok 3
belut bumbu rujak, hasil masakan kelompok 4
Acara terakhir yaitu makan siang. Kita dibawa ke restoran di dalam TeMBI. Masakan anak-anak disediakan di satu meja panjang untuk dicicipi juri. Namun tak satu pun anak-anak yang ‘berani’ mencoba masakannya sendiri. Mereka tidak pede rupanya. LOL. 
 
salah satu lorong di dalam kawasan TeMBI
keris, salah satu yang banyak dipamerkan di museum TeMBI
Usai makan, tibalah saat mengumumkan pemenang FUN RACE. Juara pertama jatuh pada kelompok 4; juara dua kelompok 2, juara tiga kelompok 3. Sedangkan kelompok 1 mendapatkan hadiah juara favorit. 

Sekitar pukul 15.00 kita meninggalkan TeMBI. Kita sempat mampir di sebuah tempat beli oleh-oleh di Magelang sekitar pukul 16.00. Kita sampai di sekolah pukul 20.00 karena macet di Ambarawa dan Bawen.

See ya next field trip guys!

PT56 19.26 220513
P.S.:

1. Photo credit to Elmy, one workmate of mine :)
2. Guess what? anak-anak sudah ingin field trip lagi, dengan acara yang sama: sepedaan di kawasan pedesaan!
:)