Cari

Sabtu, September 27, 2008

Jumat Kliwon

Alkisah satu hari Jumat beberapa siswiku ‘agak’ kehilangan kontrol, karena mereka bercanda melulu. Mungkin karena mereka senang karena kita telah menyelesaikan unit 2, sehingga mereka merasa telah mampu melepaskan beban. (Believe me, the material for English is damn difficult for average grade 7 students.) Kebetulan hanya ada seorang siswa laki-laki yang expat di kelas itu. Rupanya dia merasa heran dengan teman-teman sekelasnya yang banyak berhaha hihi, sehingga dia pun bertanya kepadaku,
“Miss … what’s wrong with my classmates? Why are they so hilariously crazy today?”
(“Ada apa dengan teman-teman sekelasku, Miss? Mengapa mereka nampak lepas kontrol?”)
Aku pun yang ‘ketularan’ happy mood menjawab sekenanya, menjawab dengan nada bercanda,
“What Friday is it? Is it Jumat Kliwon?” sambil mengecek kalender. Dan ternyata benar, hari itu adalah hari JUMAT KLIWON. Maka aku pun berseru, “Yes, this is JUMAT KLIWON!!!”
(nampaknya aku sedang terbawa tema modernisme+posmodernisme+mistisisme dalam BILANGAN FU, novel terbaru Ayu Utami.)
Sang siswa expat itu pun bertanya, “What is wrong with Jumat Kliwon Miss?”
“Well, you know in Javanese culture, Javanese must provide offerings for the spirit on the night of Jumat Kliwon. It seems to me that your classmates’ mothers forgot to provide offerings last night so that they turned to be crazy today!” jawabku sekenanya, sambil berusaha memasang mimik serius di wajahku.
(“Dalam budaya Jawa, orang-orang Jawa harus menyediakan sesajen pada malam Jumat Kliwon. Nampaknya orang tua teman-temanmu itu lupa menyediakan sesajen semalam sehingga mereka pun menjadi gila hari ini.”)
“What about me? I live in Java but I am not Javanese. Should my family follow that tradition too? To provide offerings every Jumat Kliwon eve? My mother didn’t provide any offering last night. Will I get crazy too?” he asked innocently.
(“Bagaimana denganku? Aku bukan orang Jawa meskipun aku tinggal di Jawa. Apakah keluargaku pun harus mematuhi tradisi untuk menyediakan sesajen tiap malam Jumat Kliwon? Apakah aku pun akan gila karena semalam Mamaku tidak menyediakan sesajen?” tanya siswaku itu dengan lugu.)
‘Don’t worry. You will not get affected.” Jawabku.
(“Jangan khawatir. Kamu ga akan terpengaruh.”)
“How long will they be crazy like that Miss?” he asked again.
(“Berapa lama mereka akan menjadi gila seperti itu Bu?” tanyanya.)
“Until next Jumat Kliwon,” jawabku.
(“Sampai sok Jumat Kliwon lagi.”
“What if their mother forgets to provide offerings again next Jumat Kliwon? Will their craziness become double?” tanyanya, agak ngeri. LOL.
(“Jika ibu mereka lupa menyediakan sesajen lagi sok Jumat Kliwon, apakah kegilaan mereka akan meningkat?)
“Absolutely!” jawabku, agak menakutinya. LOL.
Mendengar percakapanku dengan sang siswa expat itu, siswi-siswi yang lain pun ikut ‘bersekongkol’ denganku untuk menggodanya, sehingga dia nampak percaya.
Setelah kelas usai, tatkala aku akan meninggalkan kelas, sang siswa expat itu mendekatiku, “Miss … “I am scared!” (“Miss … aku takut!”)
“Why?” tanyaku.
“My friends are crazy …”
Meledaklah tawaku dan siswi-siswi yang lain.
“Don’t worry! We were just joking. We just wanted to tease you!”
Dan dia pun langsung ikut tertawa, dan mimik ketakutan hilang dari wajahnya. LOL.
PT56 21.17 260908

Indoglish

Di tempatku bekerja, sebuah kursus Bahasa Inggris yang lumayan punya nama di Indonesia, kita semua guru berusaha untuk mematuhi ‘peraturan-peraturan’ English yang baku tatkala menggunakan bahasa yang diimport dari negeri Ratu Elizabeth ini. Termasuk penggunaan kata “Mr. …” yang seyogyanya diikuti oleh family name, sehingga kita sangat jarang menggunakan kata “Mr. …” ini untuk menyebut nama seorang guru laki-laki. Maklum, kebetulan di kantorku tidak ada satu guru laki-laki pun yang memiliki family name di belakang nama mereka. Beda dengan penggunaan “Ms. …” yang memang ada dalam kamus untuk menyebut nama guru perempuan sejak zaman baheula. Walhasil, “Ms. Nana” terdengar biasa-biasa saja, sedangkan “Mr. Agung …” jarang terdengar, kecuali siswa-siswi yang menyebutnya. Kita tetap menyapa rekan kerjaku itu sebagai, “Pak Agung …”.

Tatkala aku menghadiri seminar TEFLIN yang diselenggarakan di Surabaya tahun 2002, dan Jack C. Richards sebagai salah satu keynote speaker encouraged orang untuk menumbuhkembangkan localized English, aku hanya berpikir, mungkin dalam Indoglish (baca  INDONESIAN ENGLISH) kita bisa menyisipkan kata-kata yang tak ada dalam Bahasa Inggris, misal “deh”, “sih”, “dong” dlsb. NOTE: kerangka dasar pemikiran Jack C. Richards adalah bahwa English is a universal language, sehingga di masa ini, orang-orang British, American, maupun Australian tak lagi bisa merasa ‘arogan’ sebagai pemilik bahasa ini. Yang paling penting adalah, asal para ‘interlocutor’ saling memahami tatkala mereka berkomunikasi.

Satu kenyataan lain yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kita tidak memiliki native speaker. Semua guru lokal dengan asumsi bahwa para guru dulu pun mengalami masa-masa awal mempelajari bahasa import ini, sehingga diharapkan mereka akan mampu mentransfer pengalaman mereka kepada para siswa.

Di kantorku yang baru ada beberapa guru expat. Banyak pula siswa yang mixed blood. Dan ternyata justru di sinilah aku menemukan gejala “Indoglish” yang sebenar-benarnya.

Contoh:

“Halaman berapa?” yang seharusnya diterjemahkan menjadi “What page?” ternyata di kantorku yang baru ini sangat biasa menemukan anak-anak yang bertanya, “Page how many?

“Kamu bisa ga?” yang tatkala diterjemahkan kedalam English, kita seharusnya menyertakan kata kerja, misal, “Can you do that?” menjadi ‘hanya’, “Can you?” dan kemudian dijawab, “Can!” dengan nada yang sama persis tatkala kita mengucapkan bahasa Indonesia, “Bisa!” atau tatkala seorang siswa merayu seorang guru, misal agar bisa agak molor mengumpulkan tugas, “Can ya Miss? Can ya?” Satu penggalan kalimat yang TIDAK PERNAH KUAJARKAN di kursus Bahasa Inggris tempat aku bekerja sejak tahun 1996 itu.

Contoh berikut tidak hanya diucapkan oleh siswa-siswi, namun juga diucapkan oleh beberapa guru.

Misal, “Bisakah saya bertanya sesuatu Pak?” diterjemahkan menjadi, “Can I ask you something Mister?” “Bisa ya Pak?” menjadi, “Can ya Mister ya?

Selain vocabulary dan word order yang ‘aneh’ itu, logat bicara yang sangat nJawani terdengar sangat kental.

Aku perhatikan, para expat itu pun akhirnya “tunduk” pada “word order” Indoglish ini sehingga mereka tak lagi menganggapnya aneh. Kupingku saja yang masih sering merasa ‘risih’ tatkala mendengarnya. Namun sebagai seseorang yang beradaptasi dengan mudah (terutama dalam penggunaan bahasa, termasuk dialek dan logat), tak lama lagi aku pun “jangan-jangan’ akan ketularan. LOL. Selama ini rekan-rekan kerja di kantor lama menganggap logatku dalam berbicara bahasa Inggris lumayan ‘bisa melepaskan diri’ dari pengaruh nJawani maupun Semarangan, (meskipun di telinga Abangku yang lama tinggal di luar negeri aku masih terdengar Jowo banget), ‘jangan-jangan’ tak lama lagi aku akan ketularan logat berbicara siswa-siswi dan rekan kerja baruku. Maklum, lebih banyak guru lokal dari pada guru expat-nya.

Kembali ke apa yang dikatakan oleh Jack C. Richards, kita harus tetap bangga dengan our localized English. Nevertheless, I do hope, I WILL NOT GET CONTAMINATED. LOL.

PT56 20.4 260908

Selasa, September 16, 2008

Shalat Jumat

Waktu membaca artikel Ulil Abshar Abdalla tentang pengalamannya shalat Jumat di Jakarta, (untuk artikelnya secara lengkap bisa dicari di http://superkoran.info atau klik blog http://themysteryinlife.blogspot.com) aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu (mungkin lebih dari enam tahun lalu) waktu shalat Jumat di masjid Baiturrahman, di kawasan Simpanglima Semarang.
Di masjid Baiturrahman, tempat shalat jamaah perempuan berada di lantai tiga, sedangkan jamaah laki-laki berada di lantai dua. Di lantai satu, terutama di dekat pelataran parkir, ada sebuah toko kecil yang berjualan berbagai macam dagangan; mulai dari buku-buku, busana Muslim, makanan kecil, minuman, dll.
Hari itu adalah salah satu hari Jumat di bulan Ramadhan. Seusai shalat Jumat, aku turun ke bawah dan melihat ‘pemandangan’ yang digambarkan oleh Ulil, di halaman depan masjid, banyak pedagang tiban—selain yang memang berjualan di ‘toko’ yang disediakan oleh masjid Baiturrahman—yang menjajakan barang dagangannya masing-masing. Berhubung Idul Fitri akan menjelang, maka banyak jamaah yang merubungi pedagang yang berjualan pakaian. Setelah menginjak usia dewasa, aku super jarang shalat Jumat di masjid, sehingga pemandangan jual beli di halaman masjid ini pun menarik perhatianku. Sayangnya karena jamaah perempuan menempati lantai ketiga, aku tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Ulil, begitu usai shalat Jumat—terutama setelah melakukan salam—orang-orang langsung melanjutkan transaksi jual beli. Lupakan ‘tradisi’ membaca wirid dan doa yang panjang-panjang. J
Aku ingat tatkala duduk di bangku SD (aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah), aku sering sekali berangkat shalat Jumat di masjid Baiturrahman bersama-sama teman-teman sekolah, karena kebetulan kita libur pada hari Jumat. Dan tidak pernah aku melihat pemandangan orang-orang yang melakukan transaksi jual beli di halaman masjid tersebut. Zaman telah berubah?
Di sekitar MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) yang jauh lebih luas dari masjid Baiturrahman pun dibangun bangunan-bangunan permanen untuk melakukan transaksi jual beli seperti ini.
Setelah mengklaim diri sebagai seorang feminis, dan mengalami perjalanan spiritualitas sehingga menjadi seorang yang sekuler, sama seperti Ulil, aku pun mulai jengah dan bosan bila mendengar khotbah yang isinya sangat provokatif kepada pemeluk keyakinan lain, apalagi jika khotbahnya bersifat misoginis dan membodohi khalayak umum.
Aku jadi ingat Amina Wadud yang percaya bahwa seorang perempuan pun bisa mengisi khotbah Jumat dan menjadi imam shalat Jumat. Mungkin aku akan mau berangkat ke masjid untuk menghadiri shalat Jumat bersama perempuan-perempuan lain, dan mendengarkan khotbah yang tentu tidak misoginis, bahkan membangkitkan semangat kesetaraan. Meskipun bagi perempuan, shalat Jumat hukumnya sunnah, karena konon yang terkena fardhu kifayah hanya kaum laki-laki.
Sewaktu duduk di bangku S1 dulu (UGM – Jogja), ada seorang boarder di kos yang aku tinggali berasal dari Tasikmalaya. Tatkala aku bercerita kepadanya tentang pengalamanku shalat Jumat di masjid waktu pulang ke Semarang. Dia melengak keheranan, “Kamu shalat Jumat Na?” tanyanya heran.
“Iya. Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Bukannya untuk perempuan shalat Jumat itu hukumnya haram? Di Tasikmalaya ga ada perempuan shalat Jumat.”
Pengalaman memang mahal harganya. Mengenal orang dari daerah lain tentu akan memperkaya pengalaman kita, sekaligus mengenal cara pandang/pikir orang lain, agar kita saling mengenal, kemudian saling menghormati. Sejak itu aku baru tahu bahwa di daerah Sunda, tidak ada sebuah masjid pun yang menyediakan tempat untuk perempuan untuk shalat Jumat, sedangkan di Semarang, banyak masjid yang dibanjiri kaum perempuan pada jam shalat Jumat.
Aku tidak tahu dengan kondisi sekarang. Aku lebih memilih shalat sendiri di rumah.
PT56 13.58 140908

Rabu, September 10, 2008

Setelah bike to work

Bike to work alias bersepeda ke tempat kerja telah kulakoni selama kurang lebih 2 bulan, sejak awal Juli 2008. Apa manfaat yang telah kudapatkan selama ini? Yang paling langsung ‘terasa’ memang adalah mengirit uang untuk membeli BBM, terutama pada saat Angie libur sekolah (awal bulan Juli lalu sampai Angie masuk sekolah di pertengahan bulan), aku sama sekali tidak menaiki sepeda motorku, kecuali berbelanja ke ADA bareng anak semata wayangku. Agar motor tidak ‘bermasalah’ karena jarang kunaiki, yang kulakukan hanyalah memanasi mesin motor, cukup di rumah saja.
“Don’t you feel exhausted at the very beginning you biked to work?” tanya salah seorang rekan kerja. Well, tentu saja tidak, karena sebelum membiasakan diri bersepeda ke tempat kerja, seminggu minimal lima kali aku menyempatkan diri berolahraga di PARADISE CLUB, sebuah pusat kebugaran yang menyediakan fasilitas untuk erobik, fitness, berenang, dan tennis, yang terletak di Pondok Indraprasta Semarang. Namun, semenjak bike to work, dan merasa mulai jatuh cinta pula pada olahraga yang satu ini (maklum, teman-teman b2w Semarang suka ngomporin orang untuk bersepeda setiap hari, to be crazily in love in cycling), aku pun absent dari PC semenjak Juli. Aku mulai memuaskan diri untuk memandang pemandangan alam/kota di sekitar tatkala aku bersepeda; sementara sebelum ini tatkala bersepeda ‘stationed’ di PC, aku terbiasa melakukannya sembari membaca buku, dan bukannya memuaskan mata memandang tubuh-tubuh liat para laki-laki yang banyak berseliweran di hadapanku, yang mungkin bermimpi membentuk tubuh mereka seperti tubuh Ade Rai. LOL.
Mendengar jawabanku, “Aku tidak capek sama sekali,” ternyata mengecewakan rekan-rekan kerjaku, karena mereka ingin tahu bagaimana efek bersepeda ke tempat kerja terhadap mereka yang sebelum ini sekali tidak pernah berolahraga sama sekali.
Meskipun belum terlalu signifikan, aku yakin, penguranganku mengeluarkan zat beracun dari knalpot sepeda motor, telah sedikit mengurangi polusi udara di kota kelahiranku.
Selain itu aku pun baru menyadari betapa selama ini aku terlalu ‘ignorant’ alias terlalu acuh pada daerah sekelilingku, sementara tetangga-tetangga di sekitar Pusponjolo memperhatikanku. Hal ini terjadi manakala aku membawa sepeda ke tempat pompa ban, masih di jalan Pusponjolo Tengah, seorang laki-laki yang memiliki usaha tersebut memandangku dengan aneh, kemudian bertanya, “Motornya dikemanain mbak?”
Hah, ternyata dia memperhatikanku biasanya naik motor.
“Motor kuistirahatkan di rumah,” jawabku.
Namun ternyata di mata laki-laki itu, aku tetap menemukan sinar keheranan.
Di saat lain, tatkala berangkat bekerja, aku memilih jalur lain (masih di daerah Pusponjolo juga). Tiba-tiba seseorang yang tidak kukenal menyapaku, “Wah mbak, sekarang kendaraannya ganti ya?”
I’m quite popular, eh? LOL. Atau memang si Nana ini terlalu ignorant dikarenakan mata belornya. LOL.
PT56 11.52 070908

Selasa, Agustus 05, 2008

Why Bike to Work?

“Semula mereka memang menganggapnya aneh. Tapi karena rekan-rekan kerja saya itu mengenal saya sebagai orang yang punya kegemaran yang rada nyeleneh, lama-lama mereka pun ga ambil peduli.”
Demikian penuturan Pak Wargo, salah satu ‘pioneer’ bike to work di Semarang. Mengaku telah menjadi praktisi bike to work semenjak tahun 2005, pada tahun yang sama tatkala komunitas bike to work Indonesia mulai terbentuk di Jakarta, Pak Wargo mengemukakan alasan pertama dia berpikiran untuk naik sepeda ke kantor adalah demi kesehatan. Jarak rumah ke kantor yang lumayan jauh – kurang lebih 35 kilometer, sehingga kurang lebih dia menempuh jarak 70 kilometer setiap hari naik sepeda – Pak Wargo anggap sebagai suatu tantangan.
“Saya sengaja menghindari melewati tanjakan di daerah Kedungmundu, itu sebab dari Klipang saya ambil jalur ke jalan Majapahit, kemudian langsung lurus terus ke Barat, sampai Mangkang. Saya butuh waktu kurang lebih satu jam 15 menit untuk menempuh jarak 35 kilometer itu.”
Pak Wargo menjelaskan rute yang biasa dia lewati, sekitar tiga sampai empat kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu dia pilih sebagai hari istirahat bersepeda, untuk memulihkan tenaga.
*****
Untuk menjaga kesehatan memang merupakan salah satu alasan yang dipakai oleh para anggota bike to work (komunitas pekerja bersepeda) Semarang. Banyak orang mengatakan mereka tidak memiliki waktu luang untuk melakukan olahraga, yang merupakan salah satu syarat mutlak untuk menjaga kesehatan, sehingga bersepeda menuju tempat kerja bisa dianggap sebagai salah satu solusi praktis. Seseorang hanya perlu bangun lebih pagi agar bisa berangkat bekerja lebih awal.
Semenjak harga BBM naik, bersepeda ke tempat kerja pun merupakan salah satu solusi tepat. Seperti apa yang dikemukakan oleh Pak Wargo yang mencintai mobil VW yang terkenal sangat boros dalam penggunaan bahan bakar. Dia harus mengeluarkan uang kurang lebih Rp. 300.000,00 per minggu untuk membeli bahan bakar. Bisa dihitung berapa ratus ribu yang bisa dia hemat dalam waktu satu bulan semenjak dia memutuskan untuk bersepeda ke tempat kerja. Paling-paling dia hanya butuh membeli sarapan tambahan setiap pagi.
Tidak hanya masyarakat Indonesia yang terpukul dengan naiknya harga BBM. Konon di Amerika pun sepeda sebagai alat transportasi mulai digemari kembali, sebagai salah satu cara untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, juga untuk menghemat pengeluaran.
Namun selain kedua alasan di atas, satu hal yang paling penting dari kebiasaan bersepeda ke tempat kerja adalah mengurangi gas emisi yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan bermotor. Semakin banyak orang meninggalkan kendaraan bermotor dan beralih ke sepeda (kembali), akan semakin besar pula dampaknya dalam upaya kita mengurangi pemanasan global. Harapan untuk mengurangi polusi udara tentu akan lebih cepat tercapai jika lebih banyak orang bersepeda ke kantor. Terlebih lagi jika dilanjutkan dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk pergi kemana-mana, tidak hanya untuk ke kantor.
PT56 22.54 040808

Sabtu, Juli 26, 2008

Bersepeda ... oh asiknya ...

Selalu ada cerita menarik yang kudengar dari teman-teman b2w Semarang.
Kebetulan sampai saat aku menulis ini, teman-teman b2w Semarang yang kukenal adalah mereka yang bersepeda ke kantor karena pilihan, dan bukan karena terpaksa. Alasan yang melatarbelakangi memang cukup bervariasi; mulai dari peduli lingkungan (aku sendiri, adikku, dan beberapa yang lain), untuk melangsingkan badan (ga usah menyebut nama yah? LOL), sampai memang seorang biking freak (yang merasa boleh ngacung! LOL), dll. Ngirit beli bensin adalah nilai tambah yang menyertai. 
Tatkala naik sepeda, dan ikut merasakan ‘nelangsanya’ kaum yang termarjinalisasi, teman-teman pun ngomel-ngomel jika ada pengendara kendaraan bermotor memencet-mencet klakson karena para pengendara itu selalu tidak sabaran melihat laju sepeda yang tentu tidak secepat kendaraan bermotor. Ada yang kesal tatkala kondektur bus ngomel-ngomel, “Pit-pitan ning ndalan!!!” (“Naik sepeda kok di jalan raya!”) sehingga dia membalas ngomel, “Lha po ning kasur!!!” (“Masak naik sepeda di kasur!!!”). Cerita ini membuatku ketawa ngakak, karena langsung membayangkan naik sepeda di kasur. LOL. (Biasanya sih orang becanda ‘berenang di tempat tidur’ yah? LOL.)
Konon, sebelum mereka merasakan ‘termarjinalisasi’ karena naik sepeda, mereka pun merupakan pelaku ‘memarjinalkan’ pengendara sepeda. LOL. Sehingga setelah merasakan keangkuhan para pengendara kendaraan bermotor, mereka menjadi arif tatkala mereka mengendarai sepeda motor maupun mobil.
Aku sendiri tidak, atau belum, mengalami hal yang tidak menyenangkan itu, mungkin karena letak kantor yang tidak jauh dari rumah, kurang dari 2 kilometer, kurang dari 10 menit dengan mengayuh pedal sepeda santai. Sebaliknya, aku merasa tatkala akan menyeberang jalan, para pengendara mobil maupun sepeda motor dengan sengaja mengurangi laju kecepatan kendaraan mereka, untuk memberiku ruang dan waktu yang cukup untuk menyeberang. Terkadang kuamati mereka memang sengaja berada di belakangku sejenak, untuk membaca tag kuning di bawah sadelku yang berbunyi, “BIKE TO WORK, KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA SEMARANG” kemudian tatkala melewatiku, mereka menoleh sejenak memandang si empunya sepeda, baru melaju dengan takzim.
“Serasa seperti selebriti,” kata seorang teman yang berdomisili di Tembalang (kawasan ‘atas’ Semarang), apalagi kalau dia sedang menaiki jalan yang menanjak, banyak orang menoleh ke arahnya. LOL. Maklum selebriti dadakan. LOL.
Seorang teman yang tinggal di Banyumanik memberikan trik yang unik. Tatkala pertama kali dia berusaha menaklukkan bukit Gombel, dia menelpon istrinya minta dijemput, ketika dia merasa sudah tidak kuat lagi melanjutkan mengayuh pedal sepedanya. LOL.
Seorang teman lain yang memiliki sepeda lipat (yang kita singkat menjadi SELI), yang tinggal di kawasan yang menanjak pula, Ngaliyan, cukup sering juga menelpon istrinya minta jemput, entah karena capek, atau sudah ga sabar ingin segera sampai rumah, untuk bertemu dengan jagoan kecilnya. Dia tinggal melipat sepedanya, menaruh di dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan dalam mobil dengan nyaman.
Bagaimana dengan pengalaman pergi ke supermarket naik sepeda? Adikku mengalami disambut tukang pemberi tiket parkir dengan mimik wajah yang tidak ramah.
“Ditaruh di situ saja mbak!” katanya ketus, sambil menunjuk beberapa sepeda yang ‘teronggok’ termarjinalkan di satu tempat.
Namun dia tidak perlu membayar tiket parkir.
“Orang-orang memang belum bisa membedakan sepeda mahal dan sepeda murah.” Kata seorang teman lain yang tinggal di kawasan Sendang Mulyo. “Padahal banyak juga sepeda yang harganya lebih mahal dari sepeda motor, bahkan sama mahalnya dengan sebuah mobil.” Katanya lagi.
Well ... seperti teman-temanku, aku pun menyimpan mimpi indah agar lebih banyak orang yang meninggalkan kendaraan bermotor untuk kegiatan sehari-hari, dan beralih naik sepeda, yang lebih ramah lingkungan, plus lebih menyehatkan badan.
When will you follow us?
PT56 12.05 250708

Bikers on the Street


Di Indonesia merupakan pemandangan yang jamak bahwa para pengendara sepeda di jalanan tidak mematuhi lampu abang ijo alias traffic light. Aku tidak pernah mempedulikan hal ini sampai aku pun bergabung dengan para pengendara sepeda. ...
Pertama kali aku naik sepeda ke kantor, tentu saja aku masih perlu beradaptasi sehingga ketika lampu merah menyala, aku pun layaknya pengendara sepeda motor berhenti. Dan setelah lampu hijau menyala, aku pun akan serasa berlomba-lomba meninggalkan ‘garis start’ dengan para pengguna jalan raya lain. Kadang kala mereka yang naik mobil di belakangku ‘ribut’ membunyikan klakson, sebagai tanda bahwa mungkin keberadaanku yang naik sepeda di depan mereka mengganggu kecepatan (ato kenyamanan yah?) kendaraan mereka.
Hari Rabu 25 Juni 2008 sepulang mengajar dari sebuah universitas swasta yang terletak di Jalan Pemuda sekitar pukul 20.00, aku bertemu beberapa orang yang naik sepeda pula sepertiku, di traffic light bundaran yang menghubungkan Jalan Pemuda, Jalan Depok, Jalan Thamrin, Jalan Pierre Tendean, dan Jalan Tanjung. Kami berada di Jalan Pemuda, di depan Bank Buana Indonesia, if I am not mistaken. Aku memandang mereka, yang lengkap berbusana bersepeda plus helm, mereka pun memandangku. Kami hanya berhenti pada tahap saling memandang. 
Traffic light menyala merah. Meskipun naik sepeda, aku biasa berhenti tatkala lampu lalu lintas menyala merah. Namun malam itu, entah mengapa aku terus melaju, karena lampu lalu lintas di Jalan Tanjung (sebelah kanan posisiku) pun merah, sehingga aku merasa cukup aman untuk terus mengayuh sepeda.
******
Sesampai di rumah, aku pun bercerita tentang apa yang baru saja terjadi ke adikku. Kebetulan memang kita berdua sedang terkena demam ‘bike to work’.
“Wah ... tatkala aku tetap melaju meskipun lampu merah, aku ingat omongan Pak Danar, salah satu teman yang kukenal di milis Sastra Pembebasan yang komplain, “Only God and tukang becak know when he will turn!! Itu sebab di Jakarta orang-orang selalu ngomelin keberadaan becak yang selalu membuat lalu lintas semakin kacau balau!” kataku berapi-api.
“I know I have done something wrong, tapi kukira ga ada yang kubuat kacau balau dengan apa yang kulakukan tadi, tetap melaju meskipun lampu merah menyala.” Kataku lagi, memberikan pembenaran pada diri sendiri. LOL.
“Mbak ... what if ... kalau orang-orang bike to work lain melihat apa yang kamu lakukan tadi? Bagaimana kalau mereka merasa apa yang kamu lakukan ‘mencoreng’ nama baik b2w Semarang karena tidak berhenti di lampu merah?” tanya adikku.
Aku melongo. Berharap ga ketahuan. LOL.
*****
Kamis 26 Juni 2008 adalah hari pertama diadakan rapat pembentukan pengurus bike to work Semarang. Aku dan adikku—yang waktu itu masih dua-duanya anggota cewe—datang karena di milis sudah ditunjuk dengan semena-mena akan diberi tanggung jawab sebagai sekretaris.
Sebelum rapat dimulai, Pak Budi cerita tentang apa yang dia lihat malam sebelumnya. Tatkala berkeliling kota naik sepeda, menemani anggota bike to work Bandung yang sedang berkunjung di Semarang, di Jalan Pemuda melihat seorang perempuan naik sepeda, dimana di bawah sadel ada tag ‘BIKE TO WORK SEMARANG’, dengan nyamannya melenggang meskipun lampu merah menyala.
G-U-B-R-A-K!!!
It was me!!!
Dan seperti apa yang dikatakan oleh adikku, AKU DILIHAT oleh anggota b2w Semarang lainnya tatkala melanggar lampu merah.
Maluku ada dimana yah? Hahahahaha ...
(dan semenjak itu, aku pun sering dijadikan bahan olok-olokan gara-gara menjadi traffic regulation breaker!!!)
*****
Beberapa hari kemudian, seorang rekan kerja melihatku berhenti di traffic light karena lampu merah sedang menyala. Rekan kerja yang sedang membonceng suaminya ini geli melihatku berhenti. Suaminya yang kadang kala naik sepeda tatkala berangkat bekerja ini bilang, “Lihat tuh mbak Nana! Dia berhenti di lampu merah meskipun naik sepeda. Apa dia ga tahu bahwa bagi pengendara sepeda, kita ga perlu berhenti meskipun lampu merah?”
Keesokan hari tatkala rekan kerja ini mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh suaminya, aku gantian bercerita kepadanya tentang aku yang menjadi bahan olok-olokan di komunitas b2w Semarang berhubung aku KETAHUAN melanggar lampu merah.
“Anggota b2w tetap mematuhi peraturan lalu lintas meskipun kita naik sepeda!” kataku pada rekan kerjaku itu, yang membuatnya tersenyum tersipu karena menyarankan aku ‘melanggar’ lampu merah.
Namun gara-gara itu pula setiap kali aku bertemu dengan lampu merah, aku jadi bingung, mau berhenti atau terus, terutama kalau aku melihat kemungkinan untuk terus. Jikalau itu terjadi di perempatan, aku lebih sering berhenti kalau lampu merah, meskipun dengan resiko para pengendara di belakangku sibuk membunyikan klakson karena mereka menganggap laju sepedaku lelet. Jikalau itu terjadi di bundaran (misal Tugumuda) dari arah Jalan Imam Bonjol, aku sering tetap melaju, terutama kalau aku lihat tidak ada kendaraan bermotor datang dari arah kanan (dari Jalan Sugiyopranoto, maupun yang berputar datang dari Jalan Dr. Sutomo). Sesampai di traffic light di depan Museum Bhakti Mandala (ndak bener jenenge iki? Sing ning sebelahe Pasar Bulu? Lali ik. LOL.), jika lampu merah menyala, aku selalu berhenti karena lalu lintas dari arah Jalan Pandanaran maupun Jalan Dr. Sutomo selalu ramai.
Should bikers stop at the red traffic light?
PT56 11.22 250708