Cari

Rabu, September 12, 2007

Media and Culture

Media is one best way for promotion. Many companies use media to promote their products or services to public, both via printed and electronic media. Media is also best way to promote ideologies that will influence people’s way of life, one of them is ‘culture’. Therefore, media is also oftentimes considered as the scapegoat of the changing in lifestyle, habits, behaviour, etc.

Colonialism era—where many western countries, usually referred to ‘white’ people colonized eastern countries, usually referred to ‘coloured’ people—created gap between the white and the coloured. This gap engendered inferiority to the coloured—the colonized—toward the white—the colonizers. This phenomenon is easily understood if until now the inferior feeling still dominates the coloured. This resulted in view that everything from the west is more interesting, more appreciated, and more modern than the east.

The emergence of internet and television has bridged between the west and the east so that the spread of culture takes a shorter time more easily, and even more thorough. The absorption of one aspect of culture from the “superior” countries to the “inferior” countries happened ‘somewhat naturally’ and people seemed not to realize that. In television business, people behind the screen, such as the owner of production houses, the directors, the producers, and the owner of television stations, only think about their own profit, so that they air programs that refer to the superior countries, to attract more audience, to increase the rating, that means to attract more advertisers, without caring whether what they have done will decrease their own cultures.

Should we blame the next generation that probably feel more proud to be called, “MTV generations”? Should we blame them who don’t really know their own traditional dances, languages, performances, and some other aspects of Indonesian cultures? Should we blame them who prefer spending their free time hanging around shopping malls and enjoying meals in fast-food restaurant having foreign franchise? Aren’t they products of the egotism of capital owners, and older generations that bombard media with foreign products?

Gramsci with his famous hegemony theory proposed an idea to involve the ‘organic intellectuals’ (such as academicians) participation to get rid of foreign cultures. The academicians are encouraged to make the young generations realize the dangers of foreign cultures to abolish the local cultures; not the traditional intellectuals (people who have money) that even seem to legitimate the power of foreign cultures.

However, I believe it is not as easy as turning our palms down. The academicians do not have as much money as the capital owners—behind the screen of media. It is difficult for these organic intellectuals to produce programs to compete with the programs proposed by those who only think of profit for their own pocket. As far as I observe, the number of these organic intellectuals is not comparable to those traditional intellectuals. Therefore, it is not wise to give the burden to watch the bad impacts of globalisation on the next generations’ lives to the organic intellectuals only.

What can we do now?

As a mother of a teenage daughter, I just have one suggestion to all of us: to have open communication and harmonious relationship with our children. Good and open communication will enable us to guide our children without making them feel led forcibly. One generation gap between our children with us sometimes make them consider us old-fashioned if we do not follow their ‘world’. We always have to follow and accompany them when undergoing something new, discus it together, while look for solution together too. Not all values and ideology coming from the west are bad. This is our duty as parents to choose and select which is positive which is negative, based on our discussion together with our children.

Let us start from home.

PT56 13.47 110907

Dugderan

‘Dugder’ atau ‘dugderan’ adalah pasar malam yang biasa diadakan di kota Semarang, sekitar seminggu menjelang kedatangan bulan Ramadhan. Di zaman dulu, berdasarkan yang ditulis oleh Nugroho Suksmanto dalam cerpennya yang berjudul “jadilah Orang Cina!” (bisa ditelusuri dalam blog ku ini juga, klik saja label “Book Review”), dugder merupakan waktu bagi para penduduk Semarang untuk mengumpulkan uang untuk menyambut kedatangan Hari Raya Idul Fitri setelah bulan Ramadhan usai. Di areal dugder, orang biasa mendapati berbagai macam mainan tradisional—misal gasing—pakaian, makanan, serta ‘maskot’ dugder, yakni warak.

Kata ‘dugder’ sendiri konon berasal dari suara bedug yang ditabuh—yakni ‘dug’—sebagai pengumuman kepada khalayak ramai bahwa bulan Ramadhan akan segera tiba; sedangkan kata ‘der’ berasal dari suara mercon yang biasa dinyalakan untuk menunjukkan keriangan dalam menyambut bulan puasa. Semenjak aku kecil, sampai sekitar dua tahun yang lalu, dugder diselenggarakan di sekitar jalan Agus Salim, dimana Pasar Johar, yang merupakan pasar tradisional terbesar, dan bangunannya merupakan peninggalan Belanda, terletak. Sejak tahun lalu, lokasi dugder dipindah ke daerah kota lama, yang mulai tahun ini dijadikan areal ‘city walk’ dengan alasan jika tetap diselenggarakan di lokasi lama, dugder akan mengganggu lalu lintas jalan Agus Salim yang biasa padat. Sayangnya areal yang disediakan oleh pemerintah di lokasi baru lebih sempit dibanding di lokasi lama. Jika di zaman dulu, dugder memberikan kesempatan pada para penduduk Semarang untuk mencari tambahan rezeki, sekarang para pedagang yang mencari keuntungan ini berasal dari berbagai kota di pulau Jawa.

Hari Minggu kemarin aku berjalan-jalan dengan adikku dan mengambil beberapa gambar, demi memuaskan keinginanku untuk ngeblog.  FYI, Nunuk, adikku, empat tahun lebih muda dariku, yang tentu saja membuat kita share the same experience when we were little. Mengunjungi dugder berarti bernostalgia bagi kita berdua mengingat masa kecil. :)

Pedagang pertama yang kami kunjungi adalah pedagang gasing, yang mengaku baru datang pada hari itu, untuk mengadu untung, dari daerah asalnya, Gunung Kidul. Dia mengaku datang dari Gunung Kidul bersama sejumlah pedagang lain, dengan barang dagangan yang sama, gasing. Setiap tahun di ‘musim dugder’, dia biasa datang ke Semarang dan berjualan gasing. Di saat-saat lain, dia berkeliling kota, kadang ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain di pulau Jawa untuk melakukan hal yang sama—berjualan gasing. Dia menjual gasing Rp. 5000,00 per buah. Di bawah ini adalah gambar Nunuk yang sedang belajar memutar gasing, sebelum membelinya. :))



Di bawah ini adalah celengan (piggy bank) yang tidak lagi berbentuk ‘celeng’ LOL, terbuat dari batok kelapa, yang seingatku waktu aku kecil dulu malah tidak ada. Celengan dulu biasa terbuat dari gerabah, mengambil bentuk berbagai macam binatang. Waktu kecil aku juga punya, dan biasa kulobangi bagian bawahnya, untuk mengambili uangnya lagi. LOL.


Ini adalah kapal-kapalan. Cara memainkannya, kita bisa meletakkan sekepal kapas yang dibasahi oleh minyak, kemudian kita nyalakan kapas itu dengan korek api. Seperti kapal uap, setelah memproduksi uap, kapal-kapalan ini akan berjalan di atas air. Waktu kecil dulu tentu yang biasa dibelikan adalah kakakku, satu-satunya anak laki=laki dalam keluargaku. Dan aku senang-senang aja bermain kapal-kapalan bersamanya. Waktu Angie kecil, aku pernah juga membelikannya, agar dia ikut merasakan bagaimana rasanya bermain kapal-kapalan. :)


Di bawah ini juga mainan ‘khas anak laki’laki’, yaitu mainan mobil-mobilan yang mengambil bentuk bus dan truck.

Berikut ini merupakan mainan ‘khas anak perempuan’ (pembentukan ‘kesadaran gender’ sejak kecil, eh? LOL), yakni peralatan dapur, mulai dari piring-piringan, gelas, cangkir, wajan, kompor, dll. Jika di masa kecilku, yang ‘trend’ adalah mainan yang terbuat dari gerabah, yang gampang pecah jika jatuh; di zaman Angie kecil, sudah mulai banyak mainan yang terbuat dari plastik maupun aluminium. Waktu kecil, semakin lengkap permainan yang terbuat dari gerabah yang dipunyai—piring, gelas, cangkir, wajan, kompor, panci, keranjang belanja, dll—akan semakin menaikkan gengsi seorang anak di mata teman-temannya. LOL.





Mainan kuda lumping lengkap dengan pecutnya ada juga di dugder yang kukunjungi bersama Nunuk. Ini agak mengherankan bagiku karena seingatku waktu kecil, aku tidak pernah memainkannya. Mungkin karena my dearest parents tidak pernah membelikannya. Pertama kali aku melihat pecut, aku terheran-heran, dan bertanya kepada Nunuk, “Ini apaan yah?”

“Pecut kayaknya mbak,” jawab Nunuk.

“Goodness. Bukannya ini berarti mengajari anak-anak untuk melakukan kekerasan?” keluhku.
Tiba-tiba si penjual menghampiri kita berdua, dan berkata, “Ini pecut mbak, bisa dicoba kok kalau mau.”

Aku yang masih shocked menemukan pecut/cemeti di areal dugder, nyeletuk, “Buat mecut Bapak?”
Si penjual—yang kusapa ‘Bapak’—pun tersenyum kecut.

Tak lama kemudian, Nunuk menemukan ‘puzzle’ ini, “Mbak, mungkin pecut ini dijual satu rangkaian dengan kuda lumping ini. Para pemain kuda lumping kan biasa memainkan pecut toh?”
Ups ... iya ya? :(



Di bawah ini adalah ‘maskot’ dugder yang semakin tahun semakin tidak populer: WARAK. :) Jika di zaman kecilku dulu, ada banyak pedagang yang memasarkan warak di tempatnya berjualan mainan, tahun ini, aku hanya menemukan satu pedagang saja yang menawarkan warak. Jika memang ‘warak’ ini merupakan gabungan wakil tiga etnik di Semarang—Arab (leher yang panjang, serupa onta), Cina (kepala yang berbentuk naga), dan Jawa (badan yang menyerupai kambing Jawa)—harus kuakui, si ‘pencipta’ warak ini benar-benar genius. Sayangnya orang-orang di zaman sekarang tidak mampu ‘menangkap’ makna yang terkandung dalam warak ini, yakni kesatuan dari ketiga etnik, untuk benar-benar mempraktekkan bhinneka tunggal ika dengan penuh toleransi, tanpa satupun merasa sebagai pihak yang mainstream, sehingga ‘dimaklumi’ jika melakukan marjinalisasi.

Dulu waktu kecil, aku biasa mendengar orang-orang menyebutnya ‘warak ngendog’ alias bertelur. Para pedagang biasa menjualnya dengan satu butir telur asin. Di zaman susah dulu (sekarang zaman lebih susah lagi ya? LOL), telur merupakan satu menu istimewa. Biasanya orang tua (dulu) menghadiahi anaknya dengan membelikan warak ngendog untuk merayunya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. :)



Kembang api selalu identik dengan bulan puasa dan Lebaran, seingatku waktu kecil. Setelah aku dewasa, orang-orang mulai menyalakan kembang api untuk menyambut hari-hari ‘besar’ lain, seperti tahun baru, dan hari kemerdekaan 17 Agustus.

Dulu, waktu mercon belum banyak merenggut korban, aku juga pernah bermain-main dengan mercon, bersama kakakku. :)


Di bawah ini adalah gambar barang seni pahat yang ikut meramaikan dugder tahun ini.


Sandal-sandal di bawah ini dijual dengan harga yang cukup murah, berkisar antara Rp. 15.000,00 sampai Rp. 17.500,00 sepasang. Dugder memang merupakan ‘pasar’ khas komunitas dari kalangan menengah ke bawah. :)


Beberapa barang dagangan yang lain.




Tak lupa, ada juga pedagang buah korma yang merupakan buah khas sajian di bulan Ramadhan.


Puncak perayaan dugder akan diselenggarakan pada hari Rabu 12 September 2007, berupa prosesi karnaval dari Masjid Agung Kauman yang terletak di dekat Pasar Johar, menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah. Akan ada semacam ‘re-enactment’ (boso Jowone opo yo??? LOL) dimana Kanjeng Bupati Semarang (tahun ini diperankan oleh Sukawi Sutarip, Wali Kota Semarang) akan menyerahkan suhuf berisi ketetapan para ulama tentang awal puasa kepada Kanjeng Gubernur, yang tahun ini akan diperankan oleh Ali Mufiz, Wakil Gubernur, karena Mardiyanto telah dilantik menjadi Menteri Dalam Negeri. Sejak aku kecil sampai sekarang, aku belum pernah nonton ‘re-enactment’ ini. Zaman kecil dulu, karena aku tergantung orang tua, apakah mereka memperbolehkan aku nonton atau tidak, LOL, dan mungkin orang tuaku tidak pernah memperbolehkan aku pergi.  Sekarang, aku juga tidak bisa menontonnya karena aku harus masuk kerja. Apa boleh buat?

PT56 12.20 110907

Sabtu, September 08, 2007

Waria dan KDRT

Berdasarkan talkshow untuk lebih mensosialisasikan UU PKDRT yang dilaksanakan di Fakultas Sastra Undip beberapa waktu lalu, aku mendapati angka lebih dari 90% korban KDRT adalah perempuan, selebihnya adalah laki-laki. Hal ini menunjukkan tingginya jumlah perempuan sebagai korban KDRT. Kebanyakan korban ini tentu saja berasal dari mereka yang buta hukum, buta hak-hak mereka dalam rumah tangga, korban indoktrinasi kultur patriarki yang sering dibungkus oleh ajaran agama (contoh: perempuan yang selalu mengalah kepada suami akan masuk surga. Satu hal yang belum pernah ada yang membuktikan karena belum ada orang mati, masuk surga, atau masuk neraka, kemudian ‘hidup’ lagi, sehingga bisa diinterogasi mengenai kebenaran ajaran yang disebarluaskan di tengah masyarakat.) Pendidikan tinggi seorang perempuan (misal lulus dari universitas strata satu) belum tentu menjanjikan bahwa mereka tahu hak-hak mereka.
Akan tetapi satu hal yang mungkin kurang disentuh dalam KDRT adalah kekerasan yang terjadi kepada waria (baik yang masuk kategori ‘transvestite’ maupun kategori ‘transseksual’; pengkategorian ini diberikan oleh James Danandjaja dalam artikel pendeknya yang berjudul “Homoseksual atawa Heteroseksual dalam Jurnal Srinthil Media Perempuan Multikultural terbit Oktober 2003). Dalam edisi yang sama, Endah Sulistyowati menuliskan hasil risetnya yang diberi judul “Waria: Eksistensi dalam Pasungan”. Dalam artikel ini, Endah menjelaskan hubungan antara waria, prostitusi, termasuk penyakit seksual yang dihasilkan dari relasi seksual waria dan laki-laki. Sedangkan dalam sub ‘Relasi Gender Waria Jatinegara’, Endah menggambarkan kekerasan yang biasa diterima oleh para waria dalam ‘rumah tangga’ yang mereka bina dengan laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya. Peran waria dalam kehidupan ‘rumah tangganya’ tidak hanya terbatas pada mencari nafkah dan melayani kebutuhan suami atau pacar tetapi juga sebagai pelindung. Waria akan melakukan apa saja untuk melindungi pasangannya walaupun ternyata yang bersalah adalah pasangannya. Mereka biasanya takut jika secara tidak sengaja menyakiti hati pasangannya, karena mereka tidak mau ditinggalkan begitu saja oleh pasangannya. Akan sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pengganti. Selain itu di kalangan waria, memiliki laki-laki yang seorang heteroseksual sebagai pasangan hidup merupakan satu hal yang sangat membanggakan bagi mereka; karena dengan begitu, eksistensi mereka sebagai ‘perempuan’ akan lebih diakui. Untuk ‘mengikat’ pasangan hidupnya itulah, mereka akan selalu rela jika diperas tenaganya untuk mencari uang, untuk melayani pasangan laksana melayani seorang raja (layaknya seorang istri yang berbakti kepada sang suami). Dan jika di kemudian hari ternyata si laki-laki meninggalkan mereka, mungkin karena telah ada perempuan “asli” yang mau menampung si laki-laki sebagai pasangan hidupnya, tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh para waria tersebut selain menerima keadaan tersebut, dalam keadaan terluka hati dan jiwanya, juga eksistensi mereka. Bahkan kadang semua harta yang mereka hasilkan dari kerja selama bertahun-tahun pun raib dibawa laki-laki tersebut.
Di dalam UU PKDRT no 23 tahun 2004, hak-hak para waria ini tidak disebutkan, tentu karena di Indonesia, eksistensi mereka belum diakui. Hukum di Indonesia hanya mengakui dua jenis kelamin, laki-laki (bagi mereka yang dilahirkan berpenis) dan perempuan (bagi mereka yang dilahirkan memiliki vagina dan berpayudara).
Mengacu ke tulisanku yang kuberi judul “Dorce Show”, Dorce adalah contoh seorang transseksual (mengikuti definisi James Danandjaja) yang beruntung memiliki uang banyak sehingga dia bisa melakukan operasi ganti kelamin, dan menyuntikkan hormon-hormon seks dari lawan jenis kelamin.agar bentuk tubuhnya dapat menjadi serupa dengan lawan jenisnya. Jika Dorce tidak memiliki empati kepada para perempuan “asli” yang menerima kekerasan dalam rumah tangga dari suami mereka, apakah dia memiliki empati kepada ‘rekan sejawatnya’ yang belum mampu melalukan operasi dan mendapatkan kekerasan dari laki-laki pasangan hidupnya?
PT56 13.00 080709

Hypermarket ...



“DPRD Usulkan Standar Harga Eceran Carrefour” adalah satu headline di harian Suara Merdeka hari Kamis 6 September 2007 di bagian SEMARANG METRO. Judul ini mengingatkanku pada satu kuliah yang kuikuti dari dosen tamu Prof. Kenneth Hall, yakni “American Capitalism”. Kehadiran hypermarket di Amerika telah mematikan banyak toko kecil yang biasanya berupa toko usaha keluarga, yang kadang-kadang disebut Mom and Pop’s Store. Contoh bagus bisa dilihat dalam film yang lumayan lama, “You’ve Got Mail” dimana si tokoh perempuan akhirnya harus menutup toko buku miliknya yang mungil karena kehadiran hyper bookstore tepat di sampingnya. Toko buku yang lebih mengedepankan strategi kekeluargaan kepada para pelanggan ini akhirnya harus tutup, karena zaman yang telah berubah dan orang tidak mementingkan lagi strategi seperti ini.
Jika hypermarket telah mematikan banyak toko kecil di Amerika, aku setuju dengan beberapa pedagang yang diwawancarai oleh Suara Merdeka tentang ketidakkhawatiran mereka akan pelanggan yang bakal lari ke DP Mall—supermall baru yang terletak dekat dengan gedung bersejarah Semarang, Lawangsewu. Mengapa? Karena jelas kultur Indonesia yang berbeda dengan kultur di Amerika. Contoh yang paling kongkrit, juga disebutkan dalam artikel tersebut, yaitu kecenderungan masyarakat Indonesia yang membeli eceran—karena miskin. Misal: membeli rokok satu batang karena tidak mampu membeli rokok langsung satu pak. Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store? Kata Michael Sunggiardi, presenter utama dalam seminar “SOLUSI IT MURAH UNTUK DUNIA BISNIS” yang diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata hari Selasa 4 September 2007, bahkan di Sudan negara yang konon lebih miskin daripada Indonesia saja menjual rokok eceran minimal dalam hitungan 5 dan kelipatannya. Apalagi di Amerika negara super power itu yang aku yakin semua penduduknya mampu membeli lisensi Microsoft sehingga tidak perlu membajak seperti orang-orang di Indonesia.
Bisa jadi harga-harga barang pokok yang dijual di Carrefour, yang terletak di DP Mall, lebih murah beberapa ratus rupiah dibandingkan di toko-toko kecil. Namun tentu orang yang keuangannya pas pasan akan berpikir beberapa kali sebelum memutuskan belanja di Carrefour jika tahu bahwa biaya parkir konon dihitung perjam, dan bukan per satu kali parkir. Belum lagi jarak yang lebih jauh dari rumah sehingga membutuhkan waktu ekstra untuk berbelanja. Hal ini pun bisa jadi mempengaruhi keinginan orang untuk pergi berbelanja ke mall manapun.
Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku ke mall. LOL. Setahun yang lalu kayaknya waktu aku dan Angie sengaja ke Citraland Mall untuk berfoto-ria di swa gaya. 
PT56 21.37 060907

Jumat, September 07, 2007

Free Sex: ‘co-culture’ in Indonesia (already)?

Semalam, Rabu 5 September 2007, aku dan Angie makan malam di kafe “Kahuripan”, tempat kita biasa ‘merayakan’ sesuatu hanya berdua saja. Misal: waktu Angie lulus SMP lebih dari setahun yang lalu (kebetulan dia bersekolah di SMP N 1, yang lokasinya dekat dengan kafe “Kahuripan”), kemudian Angie diterima di SMA N 3, Angie masuk jurusan IPA—jurusan yang dia inginkan, agar dia bisa mendaftar di Fakultas Psikologi nanti setelah lulus SMA. Occasion apa semalam? Tentu kemenanganku dalam lomba blog yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata. Namun, tentu saja tidak hanya dalam occasions tertentu saja aku dan Angie mampir ke kafe tempat nongkrong anak-anak SMP N 1 dan SMA N 6 Semarang (kedua sekolah ini kebetulan terletak di jalan yang sama, Jl. Ronggolawe Semarang). Kadang-kadang kalau aku dan Angie kangen masakan yanb biasa kita pesan di kafe ini.
Seperti biasa, yang paling kunikmati tatkala eating out berdua dengan Angie adalah saat Angie bercerita tentang teman-temannya, sekolahnya, dll. Pada saat-saat seperti itu, Angie biasa bercerita banyak tanpa aku perlu ‘menginterogasinya’. LOL.
Dan, yang diceritakan oleh Angie semalam benar-benar membuatku shocked—areal sekolah telah menjadi tempat pilihan untuk melakukan hubungan seks!
Sebenarnya Angie telah membawa ‘wacana’ ini kepadaku sejak seminggu yang lalu, namun aku tidak dengan mudah mempercayainya. Apalagi tatkala Angie menyebut nama seorang guru yang—I am really to say this --menurutku sok tahu dan fussy banget. (Ini berdasarkan pengalamanku sendiri waktu belajar di sekolah itu lebih dari 20 tahun yang lalu.)
Aku bilang ke Angie, “Honey, don’t easily believe in what people say. Moreover you know I know that particular teacher well. Don’t easily judge your friends to do that so-called immoral thing. Ok?”
“But Mama, I am sorry to say that she was not the only one who said such a thing. Some other teachers also said the same thing. One of the janitors also saw some students doing ‘that’ in the classroom. The rumor said that the students threatened the janitor not to tell the teachers.”
Waktu itu obrolan berhenti di situ mungkin karena suasana yang kurang mendukung kita berdua untuk curhat.
Obrolan baru berlanjut tadi malam di kafe “Kahuripan”. Angie bercerita lebih panjang lebar ini itu, itu ini, bla bla bla ...
Dan aku hanya bisa menghela nafas panjang.
Aku mencoba mengingat kembali zamanku dulu tatkala masih duduk di bangku SMA. Tidak ada kisah sepasang cowo cewe terpergok guru ataupun siapa sedang melakukan sesuatu yang tidak selayaknya dilakukan di sekolah. Ada gosip yang mengatakan beberapa temanku saat itu kalau pulang dijemput ‘om om’. Namun tentu saja waktu itu tidak ada kisah ‘terpergok’ di sekolah. Dan aku ingat, pada waktu itu, ruang-ruang kelas di gedung SMA N 3 dipakai oleh sekolah swasta, SMA PGRI 2 yang memang waktu itu belum memiliki gedung sendiri. (Btw, sekolah itu masih eksis ga ya sekarang? Kok aku ga tahu kelanjutannya? Atau memang aku ini tipe pasif dan ignorant. )
Aku yakin, kisah ini tidak hanya terjadi di sekolah terfavorit di Semarang. Tentu hal ini pun terjadi di sekolah-sekolah lain. Fenomena ini telah menggejala di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar.
(Aku jadi ingat cerita seorang teman chat. Dia pernah chat dengan seorang cewe, masih duduk di bangku SMA. Cewe ini mengajaknya kopi darat. Setelah kopi darat, si cewe yang mengendarai mobil lumayan mewah ini mengajaknya mampir ke sebuah hotel dan mengajaknya having sex. Berhubung si cewe ini cantik, dan temanku mengaku sebagai seorang laki-laki hetero yang ‘normal’, (yang menolak berarti tidak normal. LOL.) they had sex. Waktu mengetahui bahwa ternyata si cewe masih perawan—baca  temanku mengaku dia yang merobek selaput dara si cewe cantik berusia belasan tahun itu, terbukti dari darah yang keluar dari vagina—temanku terheran-heran. Konon setelah kejadian itu, mereka tidak pernah kontak satu sama lain. Tatkala temanku kudesak kira-kira motivasi apa yang dimiliki oleh si cewe itu to invite him for a hot date, dia bilang, “Well, mungkin saja dia taruhan dengan temannya, atau apa kek, dimana dia bakal malu kalau ketahuan dia masih ‘perawan’ dan belum punya pengalaman to have sex. Di Jakarta hal seperti ini sudah umum!”)
Aku ingat zaman kuliah waktu mempelajari tentang ‘sub-culture’ (yang kemudian kuketahui sebagai ‘co-culture’ untuk menunjukkan kesetaraan ‘culture’ ini dengan ‘culture’ yang lain, dan bukan ‘sub-culture’ yang konotasinya berada ‘di bawah’ ‘culture’ yang mainstream) ada pertanyaan, “What is sub-culture of America?” pertanyaan yang kedengarannya nampak mengada-ada ini bisa kita ganti dengan “What is sub-culture of Indonesia?”
Di awal kuliah di American Studies UGM, ada satu pertanyaan yang menggelitik dari salah satu presenter yang juga dosen pada kesempatan “General Stadium”. “What is the culture of America?” Kita-kita yang (masih) orang awam tentang American Studies, menjawab sekenanya, such as, “free sex”, “individualistic” “hip hop culture”, “pluralism” “freedom” dan masih banyak lagi. Bagi mereka yang pernah mendapatkan kuliah “American Studies” waktu duduk di bangku S1, mungkin menjawab dengan jawaban yang lebih keren, seperti “American dream: from rags to riches”, “middle class society”, “the pursuit of happiness”, dll.
Seandainya pertanyaan “What is the culture of Indonesia?” mungkin jawaban yang akan keluar adalah, “gotong royong, andap asor, toleransi, ramah tamah,” dll. Free sex? Tentu kita akan dengan lantang mengatakan “TIDAK!”
Namun lihatlah apa yang telah terjadi pada bangsa kita belakangan ini. Tidak adakah free sex di kalangan orang-orang Indonesia? Jawabannya tentu adalah “ADA”. Akan tetapi karena kita tidak mengakuinya, bisa saja free sex—yang nampaknya telah terjadi secara meluas di masyarakat—kita sebut sebagai ‘co-culture’. Mau tidak mau it has existed.
Bagaimanakah pihak sekolah Angie menyikapi hal ini? Pihak sekolah mulai lebih ketat mengadakan pengawasan kepada anak-anak. Jika sebelum ini para guru membiarkan para siswa-siswinya ‘berkeliaran’ di sekolah (dengan alasan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler ini itu, aktif di OSIS dan sebagainya) setelah jam sekolah usai, sekarang para guru mulai dengan ketat ‘mengusir’ anak-anak untuk segera meninggalkan areal sekolah jika memang tidak ada kegiatan yang jelas.
“Do you want to know why honey?” aku tanya Angie.
“Why Mama?” Angie bertanya balik.
“Pihak sekolah tidak mau ikut bertanggung jawab. No matter what, jika hal tersebut terjadi di sekolah, pihak sekolah akan ikut dituding sebagai pihak yang membiarkan hal tersebut berlangsung. Namun jika hal tersebut terjadi di luar sekolah, pihak sekolah merasa aman, anak-anak bukan lagi merupakan tanggung jawab sekolah begitu meninggalkan areal sekolah. Anak-anak harus bertanggung jawab akan segala hal yang mereka lakukan sendiri. Btw honey, how did school know some particular students who have done that? Even as you told me before, school even also knew how many times the students have done that?”
“Ya mereka dipanggil lah Ma oleh BK, kemudian diinterogasi. Masak waktu si X ditanya, ‘apa kamu ga takut kalau pacarmu hamil?’ dengan innocent X bilang, ‘Tidak dong Bu. Saya kan pake kondom.’“
Hal ini mengingatkanku atas satu diskusi di satu kelas beberapa tahun yang lalu. Waktu aku tanya ke siswaku tentang free sex, salah satu dari mereka menjawab, “Tidak setuju Ma’am. Pertama, dosa. Kedua, ada kemungkinan terkena penyakit kalau ganti-ganti pasangan. Ketiga, kalau si cewe hamil, kan repot saya? Saya masih belum mau menikah dan harus bertanggung jawab memberi makan anak orang lain. Lha wong saya sendiri masih ngikut makan orang tua.”
Tatkala kudesak di antara ketiga alasan yang dia berikan kepadaku yang manakah yang lebih penting, dia mengaku “Takut terkena penyakit kelamin.” Satu hal yang lebih konkrit ketimbang alasan yang pertama.
Dari perbincanganku dengan Angie, aku belum bisa menemukan apa yang membuat free sex ini lebih mengglobal di Indonesia. Guru-guru Angie tidak—atau mungkin Angie yang tidak tahu, sehingga aku pun tidak tahu—atau belum mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan remaja-remaja itu bereksperimen dengan seks? Jika kita tahu ‘sumber’nya akan lebih mudah mengatasinya ketimbang memberikan ‘hukuman psikologis’ kepada para pelaku—yang terpergok melakukannya di sekolah dengan julukan yang sama sekali tidak pantas, contoh ‘perek’ dan sebagainya itu.
For me myself with Angie, the time has come for both of us to talk about sex openly so that Angie doesn’t need to look for information from irresponsible source.
PT56 11.55 060907

Homoseksual

Aku sudah menunjukkan ‘sikap politikku’ atas satu hal ini—homoseksual—dalam dua tulisan utamaku di http://afeministblog.blogspot.com Yang pertama berjudul “What is normal?” bisa diakses di sini Yang kedua berjudul “Sexuality” bisa diakses di situ Yang pertama sangat kental hubungannya dengan pengalaman pribadiku, jadi mungkin masih mudah dipahami oleh orang awam. Sedangkan yang kedua sangat berbau scientific, sehingga mungkin agak complicated bagi mereka yang tidak terbiasa membaca sesuatu yang ‘berat’. Tulisanku yang bertemakan agak mirip kuberi judul “Maskulinitas dan Femininitas” dapat diakses di sana.


Seperti tulisan yang pertama, tulisan yang ini sangat kental dengan pengalaman pribadiku.


Beberapa hari lalu, tiba-tiba di milis yang kuikuti ada seseorang yang menggunakan istilah ‘agak aneh’ untuk mengacu ke homoseksual. Aku yang akhir-akhir ini jarang mengikuti diskusi di milis tidak begitu tertarik mengomentarinya (lantaran masih sibuk nulis buat lomba blog). Namun tatkala ada seseorang lain mengomentari dengan nada agak tersinggung—aku langsung ‘membacanya’ bahwa orang ini tersinggung beronya (istilah yang biasa dipake Abang untuk jailin aku kalo aku sedang ngambek LOL) karena dia tersinggung secara personal—aku menyempatkan diri menulis komentar, untuk mendukung dia yang sedang tersinggung beronya, LOL, begini:


Bahkan di zaman globalisasi ini, dimana orang-orang menganggap diri sebagai bagian dari zaman modern (tepatnya post modern harusnya), masih buanyaaaaaaaaaaaakkkkk orang-orang yang melihat homoseksualisme sebagai sesuatu yang aneh. Padahal hal ini sudah terjadi selama berabad-abad ... Orang-orang masih mau dikuasai oleh segelintir kekuatan yang mengatakan bahwa homoseksualisme melawan takdir, hanya segelintir, namun kekuatannya menghegemoni dunia sangat dahsyat--lewat agama.


Salam,
Nana




Trus aku off.
Beberapa jam kemudian Abang sms, “Na, L sautin kamu tuh, tapi sepertinya dia salah nangkep. Ga nyambung!”
Weleh, kok malah begitu kejadiannya? Aku mendukung dia, dia malah menyerangku?
“Kok gitu Bang? Wah repot deh ngomong sama orang yang engga nyambungan. LOL. Emang kalimatku sulit dipahami yah? Wah, tapi kan Abang udah biasa dengan caraku menulis kalimat?” jawabku ke Abang.
“Yang kacau tuh dia! Bukan kamu!” jawab Abang.
Waduh, kok jutek gitu jawabannya Bang? Wakakakaka ...


Beberapa hari lagi waktu aku online, aku membaca tulisan L yang tersinggung, hasil dari salah nangkepnya dia atas tulisanku. LOL. Aku super heran darimana dia menghasilkan interpretasi yang seperti itu, menuduhku narrow-minded, dll. Karena aku males nulis panjang lebar, akhirnya kuberi aja link ke tulisanku (seperti yang kutulis di atas), sembari tak lupa kukatakan kepadanya that he MISREAD alias MISINTERPRETED what I wrote. Terus, kepada si ‘pemantik’ api diskusi—yang pertama kali menyebut kata ‘aneh’ untuk mengacu ke homoseksual—aku juga menulis sesuatu. :)


Hari Rabu, 05 September 2007 waktu Abang keluar jailnya minta kutraktir (karena aku menang lomba blog) lewat sms, aku iseng nanya, “How is RKB Bang?”
“RKB is waiting for you.”
Wah ... jadi rame nih di milis yang selama ini adem ayem aja, bener-bener home sweet home, LOL, yang tentu bikin bosen bagi miliser yang hobbynya berantem di milis. LOL. Aku yang nampaknya dilahirkan dengan sisi femininitas yang lumayan kental—contoh: mudah capek berantem LOL—merasa agak males sebenarnya membuka tulisan-tulisan yang ikut nyautin topik itu. Tapi Abang yang sedang online pula di belahan bumi Selatan sana mendukungku.
“Bang, gara-gara aku nyautin L suasana RKB jadi agak memanas ya?” aku (agak) mengeluh. (Tapi, tentu dia tidak tahu kalau aku mengatakannya dengan nada mengeluh. LOL. Setelah ini dia akan tahu. Wakakakaka ...)
“Gapapa Na, terlalu adem kan bosen?”
There he was!!! Yang ngaku suka ngajakin taruhan. Hahahaha ... (“Berani taruhan apa bahwa manusia kerdil itu tidak pernah ada?” Adalah contoh taruhan terakhir yang dia sebut sekitar sebulan lalu.)
Aku tidak menemukan tulisan L untuk nyautin tulisanku kepadanya yang mengatakan padanya bahwa dia telah SALAH membaca tulisanku. Dia malah nyautin tulisan seseorang yang bercerita tentang seorang temannya yang mengeluh karena anak laki-lakinya ternyata homo, sebagai seseorang yang open-minded. Weleh ... LOL. Untuk ini, Abangku nyautin tulisannya begini:


L,
Yes O is very well known for her open minded. So does most other members, including Nana, An and R. We value everyone's right without exception, regardless their religion, ethnic, gender, and private life.
Your respond to Nana is an act of defense, thinking of being criticized, which caused you to misinterpret it badly. You do owe her something for your statement:
"but if we (dari segelintir manusia atau group) don't start to open your mind, are you still going to live with them? kalau saya akan jawab NO!!!"
Why do you have to open their mind? Millions of them!
Let me give you my 2 cents thought, 'be your self'. Means do not easily influenced by false remark (if any). Freedom of speech does exist. There is nothing you can do as long as not physically addressed to you.
Find peace in your self, not in other's, then you should live better.


Kind regards,
A.




Abangku yang super jail itu keren kan cara berpikirnya? (yang merasa disebut, boleh blushing. LOL.)
Pertama, seperti yang kutulis di atas, ketersinggungan L atas kata seseorang ‘aneh’ sudah kubaca sebagai dia tersinggung karena dia adalah seorang homo, dan dia tidak terima dianggap aneh. Abang pun ‘membacanya’ dari respons L ke tulisanku, merasa kukritik, dia langsung ‘membela diri’. Merasa kukritik, dan buru-buru membela diri menghasilkan misinterpretasi.


Tahu ga, dari tulisan itu, aku jadi ingat tulisanku—tentang gender—di sebuah milis sekitar satu tahun lalu. Merasa dikritik, aku membaca tulisan Abang tidak thorough, aku maunya langsung defended myself, sehingga aku memulai sautan itu dengan, “Abang yang jelek...” wakakakaka ... Dan dengan nice-nya, dia membalas sautan itu dengan, “Nana yang sama sekali tidak jelek...” wakakakakaka ...


Dari chat-chat kita, juga dari diskusi panjang-panjang kita lewat email berpuluh-puluh ribu kata (kita saingan melulu siapa yang bisa lebih panjang menulis dalam waktu singkat. FYI, AKU KALAH. Hahahaha ...) aku telah banyak belajar dari Abang untuk percaya dengan pandangan hidupku sendiri. BE MYSELF, dan jangan mudah menggunakan jurus defensif yang ba bi bu tanpa pemahaman situasi yang matang.
Kedua, “be yourself” means do not easily get influenced by false remark (if any).


Aku ingat tatkala aku ‘menguliahi’ seorang teman tentang pemahaman gender dan Islam, temanku yang beragama Nasrani namun suaminya beragama Islam ini, sekitar lebih dari satu tahun yang lalu. Tatkala dia pulang dan bercerita tentang diskusiku dengannya kepada suaminya, suaminya bilang, “Kamu tuh kok gampang dipengaruhi orang? Lah yang kamu percaya tentang peran seorang perempuan dalam budaya kita itu apa? Jangan cuma dengerin ocehan Nana, trus menelannya bulat-bulat. Kamu harus punya pendirian sendiri.”


Temanku yang lebih open-minded dan broad-mided dibanding suaminya yang bagiku merupakan korban brain-washed keluarganya diam saja. Yang aku lihat, temanku itu cinta mati kepada suaminya kayaknya. :(
Nasihat Abang itu juga pas buatku. “Be a feminist if I do abide by this ideology. Don’t let others ruin my principle.” Seperti yang kutulis di atas.


Lomba Blog telah usai. Dan tulisanku pun kembali sangat personal. (Another scapegoat ... hahahaha...)
PT56 00.12 060907

Ngalor Ngidul :)


 

Lomba Blog yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata telah usai. Dari target yang kubuat sendiri—satu hari menulis satu artikel untuk di-post, sehingga dalam kurun waktu 25 hari, dimulai 8 Agustus sampai 1 September akan terkumpul 25 tulisan—aku berhasil melampauinya, karena aku telah post 33 tulisan, dengan topik yang lumayan bervariasi, mulai dari kecintaanku atas kota kelahiranku, Semarang (kebetulan tatkala lomba dilaksanakan, Semarang sedang mempunyai event spektakuler, SPA; gender dan feminisme—my main interest; agama—my second interest, referring to my childhood; bahasa—satu hal yang sangat lumrah because I work as an English teacher; resensi buku dan film, sampai ke pendidikan dan pengalamanku dalam mengajar. Namun sebenarnya masih ada beberapa ide yang telah kutulis dalam ‘tabungan ide’ yang belum sempat tertulis. Misalnya: resensi film SPANGLISH (kecintaan si tokoh perempuan yang berasal dari Mexico kepada bahasa Spanyol, dibandingkan dengan ide tuduhan merapuhnya kebanggaan pada bahasa nasional kita, jikalau dalam teori sastra, bisa aku menggunakan teori ‘intertextuality’), resensi film THE HOLIDAY yang spesial membahas tentang keegoisan seseorang atas nama cinta, yang bisa ku’intertext’kan dengan cinta posesif milik William Williams, salah satu tokoh imajiner dalam film AMERICAN DREAMZ, yang sangat lazim terjadi di sekitar kita, interpretasi lagu, dll, sampai rencanaku mengulas tulisan Adi Ekopriyono yang dimuat dalam Suara Merdeka terbitan hari Senin tanggal 27 Agustus halaman 6 yang berjudul “Agama Kemanusiaan”.


Sejak membaca tulisan itu pertama kali, aku sudah langsung ingin menulis sesuatu, namun terhalang dengan ide lain, yang akhirnya menghasilkan tulisan yang kuberi judul “Toleransi” dan “Toleransi 2”.
‘Keberhasilanku’ melawan keleletanku sendiri, LOL, cukup membuatku lega. Meskipun beberapa ide belum kuolah menjadi tulisan, aku toh telah bisa melebihi target yang kubuat sendiri. Jadi inget pada saat-saat aku ‘idle’, dan yang kupost di blog cuma lirik-lirik lagu doang yang kuambil dari beberapa website, Abang ‘’menyentilku’ dengan mengatakan, “Kok lirik lagu melulu Na isi blogmu?” huehehehe ... dan innocently kujawab, “Lagi idle nih Bang...” kasihan tuh si IDLE, jadi scapegoatnya si Nana yang lagi kumat leletnya. LOL


Dan setelah masa posting artikel di blog usai (tanggal 1 September) ternyata aku pun jadi lelet lagi. Huuuuu .... ada-ada aja alasan yang kubuat untuk diriku sendiri, yang ngantuk lah, yang capek lah, yang asik ngerumpi sama Angie lah, si mbok Lah (waduh dia kan dah balik kampung Na? LOL) Utangku balesin email Abang juga masih nunggu tuh. 


Udah ah, ngrumpi melulu. Mau nulis nih. Baca aja yang bakal kupost setelah tulisan ngalor ngidul ngetan ngulon ini.  ok?


PT56 22.15 050907