Cari

Kamis, Maret 13, 2014

Bikepacking berwisata candi

Tentu banyak orang yang tahu bahwa lereng gunung Lawu menawarkan pemandangan nan eksotis sekaligus trek yang mengasyikkan plus menantang adrenalin bagi pesepeda. Meskipun begitu, dua hal tersebut bagiku pecinta candi adalah bonus karena yang melatarbelakangi kisahku gowes ke lereng gunung Lawu ini adalah kejatuhcintaanku pada kemistikan Candi Cetho dan kesensualan Candi Sukuh.

CANDI CETHO

Aku beserta Ranz – soul mate sepedaanku – memulai gowes di satu hari Jumat dari kawasan Laweyan Solo sekitar pukul 06.00 pagi. Jalan-jalan protokol kota Solo yang kita lewati masih lumayan sepi, hingga kita sampai alun-alun Kabupaten Karanganyar. Untuk sarapan kita mampir di sebuah rumah makan di pinggir jalan raya Solo - Karanganyar yang menawarkan timlo Solo, hidangan yang berupa kuah bening dengan isi sosis ayam yang dipotong-potong, telor ayam pindang dan irisan hati serta ampela ayam. Menu ini dimakan dengan nasi putih yang ditaburi bawang goreng. Sangat segar jika dimakan pagi hari (meski juga cocok dimakan siang maupun malam hari. J )

timlo Solo
Usai sarapan kita kembali melanjutkan perjalanan. Dari Karanganyar trek menanjak halus hingga kurang lebih 15 kilometer sampai pertigaan Karang Pandan. Dari Karang Pandan kita memilih jalan yang menuju Tawangmangu, dimana tanjakan semakin meninggi terutama setelah kita melewati pertigaan berikutnya dimana ada gapura bertuliskan KAWASAN WISATA SUKUH – CETHO. (Di pertigaan ini kita belok kiri karena kalau memilih kanan kita akan sampai Tawangmangu.) Pemandangan indah di depan mata mulai menemani hingga tak akan kita menyesali keputusan untuk gowes ke arah ini.


Dalam perjalanan kita akan melewati gapura SELAMAT DATANG DI KAWASAN WISATA CANDI SUKUH – CETO, dimana para turis dikenakan biaya retribusi yang sangat murah yakni Rp. 1000,00. Namun pesepeda seperti  kita dipersilakan lewat tanpa membayar. J Sekitar satu kilometer dari gapura ini kita sampai pertigaan dimana jika kita belok kanan kita akan sampai Candi Sukuh; kita belok kiri karena tujuan kita yang pertama adalah Candi Cetho. Setelah melewati pertigaan ini, kita diberi istirahat mengayuh pedal karena trek justru menurun sejauh beberapa ratus meter, namun setelah itu kita harus ngoyo nanjak lagi. J



Selepas melewati satu tempat yang ada petunjuk “CANDI CETHO ± 3 KM     “ tanjakan yang kita lewati kian curam; tenaga kian terkuras, nafas kian terengah-engah, namun pemandangan di depan mata kian spektakuler! Angin yang bertiup menemani rintik hujan pun kian terasa menusuk tulang. Brrrrr ...
Setelah ‘berjuang’ berjam-jam ‘menaklukkan’ tanjakan demi tanjakan curam (menuntun sepeda hukumnya sangat boleh disini, heheheh) serta melawan hawa dingin akhirnya kita pun sampai ke lokasi yang kita tuju: Candi Cetho nan mistik karena sering diselimuti kabut. Maklum, Candi Hindu ini terletak sekitar 1400 meter di atas permukaan laut. Waktu menunjukkan pukul 17.00! Untunglah sesampai kita disini hujan sudah berhenti, meski tentu awan mendung tetap menggayut di langit.

gapura masuk Candi Cetho

kawasan di dalam Candi Cetho

kawasan di dalam Candi Cetho

Ada sekitar dua atau tiga pondok wisata di kawasan ini bagi mereka yang memutuskan menginap. Tarif kamar lumayan murah hanya Rp. 50.000,00 semalam dengan fasilitas kamar mandi dalam dan tempat tidur berukuran sedang. Yang agak repot adalah jika jumlah tamu yang menginap sedikit, pihak pengelola pondok wisata tidak menyediakan air panas untuk mandi. (Ditanggung airnya dingin sekali!) Selain itu tidak ada satu pun warung yang buka untuk menawarkan makan malam. Maka sangat disarankan jika ingin menginap di kawasan Candi Cetho siapkan bekal makan dan minum yang cukup. Ada satu dua toko kelontong yang tutup setelah adzan Maghrib terdengar berkumandang. Suasana Candi Cetho di malam hari sangat senyap!

Sabtu pagi kawasan Cetho kembali diguyur gerimis. Namun untunglah selepas pukul enam hujan telah reda. Jelang pukul tujuh kita sudah masuk ke dalam kawasan Candi Cetho. Pagi ini Candi Cetho kebetulan tidak diselimuti kabut (beda dengan ketika aku kesana pertama kali dua tahun yang lalu.) Candi Cetho terletak di Dukuh Cetho Desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar. Candi Cetho berupa kelompok bangunan yang terdiri dari 11 teras berundak yang membentang dari arah timur ke barat. Bangunan utamanya terletak di halaman paling belakang yang berarti juga di teras yang paling tinggi, serta menghadap ke puncak gunung. Konon ini berarti orang yang membangun Candi Cetho percaya pada konsep yang mengatakan dewa-dewa bersemayam di puncak gunung. Mereka percaya bahwa gunung adalah sumber enerji. Selain itu bentuk candi tidak mirip candi-candi lain yang ada di Indonesia namun justru menyerupai candi (kuil) yang ada di peradaban Inca, Maya di Amerika Latin. Demikian juga bentuk patung yang berada di teras pertama , patung tidak menyerupai bentuk orang Indonesia melainkan lebih mirip orang Sumeria.



Kurang lebih 20 meter dari bangunan utama, kita akan menemukan Puri Saraswati, yang dipercaya sebagai Dewi Sumber Pengetahuan. Di kawasan ini ada arca Dewi Saraswati yang berupa hadiah dari Kabupaten Gianyar Bali tahun 2004.

CANDI KETHEK


menuju lokasi Candi Kethek
kawasan Puri Saraswati

Candi Cetho

Setelah puas mengitari kawasan Candi Cetho, dan sarapan di sebuah warung yang telah buka, kita melanjutkan berjalan ke arah Candi Kethek, kurang lebih jaraknya 300 meter. Trek agak sulit – meski kita ‘hanya’ jalan kaki – karena kita harus melewati tepian tebing sampai menyeberangi sungai kecil yang bisa jadi airnya meluap jika usai hujan lebat. Seperti Candi Cetho, Candi Kethek pun berundak-undak. Bangunan utama Candi Kethek yang berbentuk kotak kecil tempat pemujaan dan sesembahan terletak di bagian undakan yang paling atas.
Sekitar pukul 10.00 kita meninggalkan Candi Cetho. Perjalanan yang berupa “bonus” : full turunan! Namun, meski menyenangkan trek turun itu, kita harus ekstra hati-hati agar sepeda tidak sampai terjungkal. Kita juga harus yakin bahwa rem sepeda dalam kondisi prima. Jika tidak; lebih baik menuntun. J
Untuk makan siang kita mampir di rumah makan Kemuning Indah, sebuah rumah makan yang terletak di tengah-tengah perkebunan teh Kemuning hingga suasananya sangat asri dan segar. Menu berupa berbagai jenis ikan bakar/goreng, lalapan, sambal.

CANDI SUKUH

Dari perkebunan teh Kemuning yang menyenangkan dipandang mata itu kita terus ‘dimanjakan’ trek yang terus menurun hingga pertigaan Candi Cetho – Candi Sukuh – Karang Pandan. Tujuan kita berikutnya adalah Candi Sukuh! Di pertigaan itu kita belok kiri ke arah Candi Sukuh. ‘Perjuangan’ mengayuh pedal sepeda di tanjakan curam kembali kita hadapi. Dari pertigaan itu kita harus menapaki tanjakan terjal sejauh kurang lebih 3 kilometer.

patung phallus setinggi 2 meter

candi Sukuh dari belakang

beberapa relief di kawasan Candi Sukuh

Setelah ‘berjuang’ selama kurang lebih satu setengah jam (maklum tanjakannya amat curam), akhirnya kita sampai juga di Candi Sukuh sekitar pukul 15.00. Legaaa! Ternyata pemandangan dari kawasan Candi Sukuh ini tak jauh spektakuler dari atas Candi Cetho, meski Candi Sukuh ‘hanya’ terletak di ketinggian 1220 m di atas permukaan laut.

Malam kedua ini kita mendapatkan penginapan di sebuah rumah penduduk – yang mungkin sudah biasa disewakan kepada pengunjung Candi Sukuh – dengan tarif sama dengan penginapan di Candi Cetho : Rp. 50.000,00 semalam.

Candi Sukuh – yang juga berupa Candi Hindu seperti Candi Cetho  -- terletak di lereng barat Gunung Lawu, di Dusun Sukuh Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.  Ada yang mengatakan Candi Sukuh ini dibangun sekitar abad kelima belas. Namun ada juga yang meragukan informasi ini mengingat bangunan Candi Sukuh yang jauh lebih sederhana dan kasar ketimbang Candi Prambanan yang dibangun enam abad sebelumnya.

Candi Sukuh dari depan

nunut narsis ye? :D

Sebelum masuk ke kawasan Candi Sukuh, kita disambut gerbang paduraksa yang sayangnya ditutup dengan pintu besi, sehingga untuk masuk ke teras pertama, kita harus melewati jalan setapak di samping gerbang ini. Arsitektur Candi Sukuh mirip dengan Candi Cetho berupa punden berundak yang dikenal sejak zaman megalitikum. Ada tiga teras di Candi Sukuh. Bangunan utama Candi Sukuh – yang terletak di teras ketiga – pun mirip dengan Candi Cetho, namun lebih kasar pengerjaannya.

Sore itu kita terpaksa buru-buru pulang ke penginapan sebelum Maghrib karena hujan tiba-tiba turun dengan deras. Malam kedua itu kita lebih beruntung karena si empunya rumah bersedia menyiapkan makan malam sehingga kita tidak kelaparan.

Tapi malam itu kita tidak bisa menikmati suasana Sukuh karena hujan tak kunjung reda hingga kita terlelap karena kantuk dan lelah.


Minggu pagi kita sempat jalan-jalan ke Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunegoro I. Tahura ini oleh pemerintah Kabupaten Karanganyar dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan serta pendidikan yang menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

Pulang dari Tahura, kita berkunjung lagi ke Candi Sukuh. Setelah itu kita packing, sarapan dan siap gowes ke tujuan berikutnya: Telaga Madirda.

TELAGA MADIRDA

Telaga yang memiliki air yang bening ini terletak di tengah-tengah bukit dimana hehijauan bukit terpantul di permukaan air. Dari tempat parkir Candi Sukuh ada jalan sempit ke arah kanan, kita menuju arah ini. Meski jalannya sempit namun aspalnya cukup mulus. Dan ternyata perjalanan kita hari ini masih belum terlepas dari tanjakan curam!

Meninggalkan kawasan Candi Sukuh, kita langsung disambut turunan yang cukup curam sehingga kita harus hati-hati. Sesampai bawah, jalan langsung berbelok ke arah kanan dengan tajam dan langsung menanjak dengan terjal! Namun tentu saja tetap dengan pemandangan indah di depan mata.

Di tengah jalan kita sempat bertanya pada beberapa orang yang kita temui untuk menuju Telaga Madirda; semua menjawab dengan ramah. Jarak yang kita tempuh sekitar 3 kilometer dari Candi Sukuh.


beningnya Telaga Madirda!

Telaga Madirda terletak di desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Ukurannya tidak terlalu besar namun airnya memang sangat bening. Di dalam telaga ada banyak ikan namun konon para pengunjung dilarang memancing ikan. Kawasan telaga ini ramai untuk upacara Melasti yang dilakukan oleh umat Hindu beberapa hari sebelum Hari Raya Nyepi.

Sekitar pukul 10.30 kita meninggalkan Telaga Madirda untuk kembali ke Solo. Bye bye Karanganyar. See ya next time. J


GG 15.30 231013

Sabtu, Maret 08, 2014

CANDI PLAOSAN : CANDI KEMBAR NAN MENAWAN

CANDI PLAOSAN : CANDI KEMBAR NAN MENAWAN

Setelah berkunjung ke Candi Prambanan, candi Hindu tercantik di dunia, janganlah anda buru-buru meninggalkan kawasan tersebut karena tak jauh dari lokasi itu ada candi lain yang tak kalah menawan: CANDI PLAOSAN. Candi Plaosan terletak di Dusun Plaosan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Dari pintu keluar Candi Prambanan, anda menuju arah Timur. Di satu traffic light, di sebelah kiri kantor pos, di sebelah kanan jalan menuju Stasiun KA Prambanan, cari plang petunjuk CANDI PLAOSAN belok kiri. Sekitar 2 kilometer anda akan menemukan plang petunjuk lagi, belok kanan. Tak jauh dari perempatan itu, anda akan mendapati Candi Plaosan.

Candi utama Plaosan Lor

dua candi utama Plaosan Lor dari arah Timur

Candi Plaosan dibangun oleh Raja Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu pada abad 9 sebagai persembahan cintanya kepada sang permaisuri, Ratu Pramudya Wardhani. Sang Raja yang beragama Hindu ini – bersama sang permaisuri yang beragama Buddha – konon membangun bersama-sama sehingga menghasilkan bentuk candi yang merupakan akulturasi kedua agama. Karena dibangun atas nama cinta lah maka aura yang memancar ketika anda berkunjung ke kawasan candi ini adalah penuh kasih. Bahkan ada yang percaya bahwa sepasang kekasih yang berkunjung ke candi ini dan melakukan ritual yang mereka percayai akan mengekalkan hubungan cinta mereka.

candi-candi perwara di Plaosan Lor

mandapa (pendapa) Plaosan Lor

Candi Plaosan ini terbagi dua, Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Ini sebabnya Candi Plaosan juga disebut sebagai Candi Kembar.

PLAOSAN LOR

Dari hasil renovasi yang telah dilakukan oleh Dinas Kepurbakalaan, Candi Plaosan Lor sudah jauh lebih dikembangkan ketimbang Candi Plaosan Kidul. Di Candi Plaosan Lor anda bisa menemukan dua candi utama yang bentuknya kembar. Candi utama sebelah Utara dibangun oleh Raja Rakai Pikatan, dihiasi relief perempuan; sedangkan candi utama sebelah Selatan dibangun oleh Ratu Pramudya Wardhani, dihiasi relief laki-laki. Ini sebabnya Candi utama sebelah Selatan disebut ‘candi laki-laki’ sedangkan yang sebelah Utara disebut ‘candi perempuan’. Ada gapura batu pada tembok pembatas kedua candi utama yang berfungsi sebagai penghubung sekaligus jalan keluar dan masuk pengunjung. Dua candi ini dikelilingi candi-candi perwara (pendamping) yang berjajar rapi di luar tembok pembatas yang terbuat dari batu. Sayangnya belum semua candi perwara berhasil dibangun kembali secara sempurna. Sebagian baru berupa tumpukan batu. Menilik pondasinya dan tumpukan batu yang ada, ada jajaran stupa yang mengelilingi candi-candi perwara. Seperti candi perwara, belum semua stupa berhasil dibangun kembali.

senja di Plaosan Lor
Bentuk candi utama Plaosan Lor terdiri dari 3 bilik. Di tiap bilik ada dua buah patung yang duduk berdampingan. Di bilik sebelah kiri dan kanan ada jendela sehingga cahaya bisa masuk ke dalam. Sedangkan bilik tengah mendapatkan cahaya dari pintu masuk. Semua candi, baik candi utama maupun candi perwara, menghadap Barat.

PLAOSAN KIDUL

Plaosan Kidul
Candi Plaosan Kidul terletak sekitar 100 meter di sebelah Selatan Plaosan Lor. Di Candi Plaosan Kidul tidak akan anda temui candi utama karena semua nampak seperti candi perwara dengan bentuk dan ukuran yang sama. Belum semua candi perwara telah dibangun kembali.

Tiket masuk : Rp 3000,00
GG – PT56 17.30 09/01/2014  


CANDI NGEMPON: Candi para ‘empu’ dan PETIRTAAN DEREKAN

CANDI NGEMPON: Candi para ‘empu’ dan PETIRTAAN DEREKAN

Masih belum banyak diketahui orang bahwa di Karangjati kecamatan Bergas Kabupaten Semarang ada sebuah situs peninggalan zaman dulu yang berupa candi Hindu. Bentuknya mirip dengan candi-candi Hindu yang terletak di kawasan Gedong Songo – Bandungan, namun belum seterkenal candi Gedong Songo. J Candi Ngempon terletak di kelurahan Ngempon. Nama ‘Ngempon’ sendiri konon berasal dari fungsi area candi dahulu tempat untuk menggembleng para kasta Brahmana untuk dididik sebagai empu, baik di bidang kerohanian, kanuragan, maupun sastra dan budaya. Dari kata ‘empu’ lah kata Ngempon berasal. J

Tidak sulit untuk mencari lokasi Candi Ngempon. Dari arah Semarang maupun Salatiga/Ambarawa, berhentilah di depan pasar Karangjati. Di dekat Polsek Karangjati, yang terletak di sebelah pasar, belok ke arah Timur (ke arah Pringapus). Sekitar dua kilometer dari Polsek, ada pertigaan, belok ke kanan. Setelah melewati beberapa bangunan rumah dan pabrik, kita akan menemukan papan nama CANDI NGEMPON, beloklah ke kiri. Tak jauh dari situ kita akan menemukan gapura kecil. Ikuti jalan yang telah dicor setelah gapura. Jalan ini akan membawa kita ke lokasi candi. Parkirlah kendaraan di tempat parkir, dan kemudian berjalan kaki menuju candi.




Candi Ngempon ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penduduk sekitar – bernama Kasri – di  tahun 1952. Saat ditemukan tentu batu-batu candi dalam keadaan bubrah, tak berbentuk. Oleh Dinas Purbakala, batu-batu tersebut disusun ulang dan menghasilkan empat candi. Lima titik pondasi lain lagi hingga sekarang masih belum bisa direkonstruksi.
Hingga sekarang candi Ngempon masih banyak dikunjungi para pemeluk agama Hindu untuk beribadah, terutama di hari-hari kebesaran Hindu, misal Galungan dan Nyepi.



Tak jauh dari lokasi candi, setelah menyeberang sebuah sungai – Kali Lo – yang airnya lumayan bening dan gemercik airnya menimbulkan kesan “kita berada di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota”, ada sebuah sumber air panas. Sumber air panas ini diberi nama Petirtaan Derekan. Konon, Petirtaan Derekan ini juga dibangun di waktu yang sama saat Candi Ngempon dibangun. Fungsi petirtaan (di zaman dulu) adalah untuk mensucikan mereka yang akan beribadah di Candi.




Lokasi candi dan petirtaan yang tepat di lembah Sungai Lo, di tengah persawahan hingga menawarkan pemandangan hehijauan yang meneduhkan mata. Jika anda belum punya agenda di libur akhir pekan ini, bagaimana jika anda berkunjung saja ke Candi Ngempon dan Petirtaan Derekan?


GG 15.25 09 Desember 2013 




Untuk tulisan kisah gowes ke Candi Ngempon, klik link ini. :)

CANDI SAMBISARI : CANDI BAWAH TANAH NAN UNIK DAN IMUT

CANDI SAMBISARI : CANDI BAWAH TANAH NAN UNIK DAN IMUT

Candi biasanya dibangun di atas tanah atau kadang di atas pondasi di atas tanah. Namun Candi Sambisari yang terdapat di Desa Sambisari Kelurahan Purwomartani dibangun di bawah tanah. Inilah yang menyebabkan Candi Sambisari unik. Ukuran bangunan candi utamanya kecil namun indah. Selain satu candi utama yang menghadap Barat, ada tiga candi perwara yang menghadap Timur.



Untuk menuju Candi Sambisari yang terletak kurang lebih 12 kilometer ke arah Timur, ambil saja arah Jalan Solo terus ke arah Timur. Kira-kira 4 kilometer sebelum sampai kawasan Candi Prambanan, cari plang penunjuk Candi Sambisari. Lokasi Candi Sambisari terletak sekitar 3 kilometer dari jalan raya, di sebelah Utara jalan raya (belok kiri dari Jogja). Jika anda berbackpackeran dan enggan berjalan kaki,  cari saja transportasi lokal, misal ojek untuk mengantar anda ke lokasi.




Candi Sambisari pertama kali ditemukan oleh seorang petani yang bernama Karyowinangun pada tahun 1966. Penemuan ini kemudian dikembangkan dan ditindaklanjuti oleh Balai Arkeologi Jogjakarta. Pemugaran dan penyusunan kembali badan candi utama dan candi perwara membutuhkan waktu kurang lebih 18 tahun. Posisi Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan karena tertimbun lahar letusan Gunung Merapi di awal abad sebelas.



Candi Sambisari dipercaya dibangun oleh Raja Rakai Garung pada abad sembilan, raja yang memerintah Kerajaan Mataram Hindu sebelum Raja Rakai Pikatan. Bukti bahwa Candi Sambisari adalah candi Hindu bisa dilihat dari adanya lingga dan yoni di dalam bilik candi utama. Di luar bilik, di sebelah Utara bisa kita temukan patung Durga dalam sebuah relung, di sebelah Timur ada patung Ganesha, sedangkan di sebelah Selatan ada patung Agastya.




Total luas kompleks Candi Sambisari 50 m x 48 m. Bangunan candi utama berbentuk bujursangkar berukuran 13,65 m x 13,65 m pada bagian bawah candi, dengan tinggi 7,5 meter. Tiga candi perwara  berukuran 4,8 m x 4,8 m dengan tinggi 5 meter, namun belum semua selesai dipugar. Ada tembok yang dibangun mengelilingi kompleks candi dan disediakan parit di sekeliling tembok untuk menampung dan mengalirkan air yang turun di musim hujan agar kompleks candi terhindar dari banjir.

Di dekat loket tiket, ada kantor yang terbuka untuk pengunjung untuk melihat dokumentasi proses pemugaran Candi Sambisari yang dilakukan sejak tahun 1966 hingga tahun 1984.

Tiket masuk Rp. 2000,00.


GG 15.15 16/01/2014 

Kamis, Desember 26, 2013

BERSEPEDA = GENGSI TURUN?

BERSEPEDA = GENGSI TURUN?

Honestly, ketika pertama kali ingin mencoba bersepeda ke tempat kerja, aku terkena penyakit gengsi ini. Sebagai guru, aku seharusnya jaga image dong di mata anak-anak? Itu sebabnya, ketika pertama kali mempraktekkan b2w, aku berangkat dari rumah pukul 14.00, padahal jam kerja mulai jam 15.00, dan jarak rumah – tempat kursus hanya 2,5 kilometer yang bisa kutempuh kurang dari 10 menit. Excuse utama ya itu tadi, jaga image. Jika berangkat dari rumah pukul 14.00, sampai tempat kerja pukul 14.10 (paling lambat pukul 14.15), anak-anak belum sampai ke tempat mereka belajar English. Jadi tak satu pun dari mereka yang melihatku datang naik sepeda. Waktu pulang pun, aku mengambil jeda kurang lebih 30 menit setelah jam kursus selesai, yakni pukul 19.00.

Tapi ini duluuuuuu sekali, di bulan Juli 2008.

Tak lama aku ‘mengidap’ penyakit ini. Yang ada justru aku merasa bangga, (sok) merasa ikut menjadi salah satu pahlawan (kesiangan) yang turut serta mengurangi polusi di muka bumi, selain tentu saja mengurangi ketergantungan pada BBM, demi generasi penerus kita nanti. Apalagi dengan bike tag KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA yang menggantung imut di bawah sadel, aku benar-benar merasa (sok) heroik. LOL.

Lama-lama penyakit ini benar-benar hilang dari kamusku. Tak lagi ada rasa perlu menjaga gengsi, juga (sok) heroik sebagai penjaga lingkungan. Yang ada adalah kebutuhan berolahraga. Dikarenakan ke(sok)sibukanku, aku tak lagi punya waktu luang untuk berolahraga. Maka, bersepeda ke tempat kerja adalah pilihan yang sangat masuk akal agar aku terus menjaga kesehatan (diri).


UU NO 22 TAHUN 2009

Bahwa kita menjadi lebih berempati kepada para pesepeda (juga pejalan kaki) setelah kita sendiri terjun bersepeda memang diakui oleh banyak teman yang telah menjadi ph raktisi b2w. Jika semula mereka kadang merasa terganggu dengan laju sepeda (atau pun kendaraan tidak bermotor lain) yang lamban, setelah bersepeda, mereka pun lebih bersabar menghadapi pesepeda ketika mengendarai kendaraan bermotor.

Dengan adanya beberapa pasal yang lebih mengutamakan para pesepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat dalam UU NO 22 TAHUN 2009, sebenarnya para pesepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat punya nilai lebih di jalan raya ketimbang para pengendara kendaraan bermotor (Check this link out. )  karena UU tentang LALU LINTAS dan ANGKUTAN JALAN itu telah jelas menyatakan posisi pesepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat harus lebih diutamakan.
Barangkali UU ini belum dikenal masyarakat secara luas hingga hal ini menjadi pe-er bagi kita untuk lebih mengenalkannya. Sudah kulihat beberapa kali spanduk yang terbentang di titik-titik tertentu di pinggir jalan kota Semarang dan beberapa kota lain tentang UU no 22 tahun 2009, terutama pasal 62 ayat 1 dan 2, meskipun mungkin sosialisasinya masih kurang.

Terus terang aku merasa sangat amat terganggu ketika menghadiri sebuah seminar tentang MANFAAT BERSEPEDA BAGI KESEHATAN waktu salah satu pembicara (untuk tidak menuding salah satu dari mereka) merasa tidak dihargai sebagai manusia tatkala bersepeda dipepet oleh orang yang mengendarai kendaraan bermotor, entah sepeda motor atau pun mobil. Mungkin ketika dipepet ini dia merasa tidak dihargai, terlecehkan karena mengendarai sepeda yang (sayangnya) di masyarakat masih dianggap moda transportasi yang murah(an). Karena merasa terlecehkan, dia merasa perlu ngomel, “Asal kamu tau aja ya sepedaku ini harganya sama dengan harga mobil yang kamu kendarai!” Atau, “Hey, kamu tau ga? Sepedaku ini jika dijual uangnya bisa kupakai sepeda motor jenis yang kamu kendarai ini lima buah sekaligus!”

Jika seseorang yang merasa menaiki sepeda mahal tak layak dilecehkan di jalan raya, apakah lantas hal ini berarti mereka yang naik sepeda murah layak dilecehkan? Terpinggirkan?

UU no 22 tahun 2009 pasal 102 ayat 2 berbunyi: SETIAP ORANG YANG MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN WAJIB MENGUTAMAKAN KESELAMATAN PEJALAN KAKI DAN PESEPEDA.

Tak peduli berapa pun harga sepeda yang dinaiki.

Maka, bukankah lebih indah jika kita memasyarakatkan UU no 22 tahun 2009 ini ketimbang ngomel-ngomel harga sepeda yang kita naiki kepada para pengguna jalan? Buang saja harga diri yang ketinggian hanya gegara naik sepeda harga puluhan juta rupiah. Mari kita sama-sama saling menghormati sesama pengguna jalan!

PT56 09.52 26122013

Selasa, Desember 24, 2013

HUT kedua MEDYC

foto bersama setelah acara usai, sebelum makan siang :)

Pada tanggal 22 Desember Komunitas B2W Semarang diundang oleh Komunitas Pesepeda Dokter (MEDYC = medical doctor bicyle community) untuk ikut serta merayakan ulang tahunnya yang kedua.

Bermula dari perkumpulan beberapa dokter yang hobi bersepeda, MEDYC terbentuk pada tanggal 11 Desember 2011. Jika di HUT pertama mereka merayakannya secara intern, HUT kedua ini mereka mulai mengundang komunitas/klub sepeda lain di kota Semarang. Untuk itu mereka mengadakan seminar "Manfaat Bersepeda untuk Kesehatan." Seminar ini diselenggarakan di aula RS Dr. Kariadi Semarang pukul 10.00 - 12.30.

Acara dibuka oleh dokter Ardy yang sedikit menceritakan latar belakang MEDYC terbentuk. Jika semula komunitas ini khusus untuk para dokter yang hobi bersepeda, lambat laun komunitas pun terbuka tidak hanya untuk para dokter namun mereka yang hobi bersepeda bisa bergabung.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua ISSI cabang Semarang, yang sedikit bercerita tentang masa lalunya yang terlibat narkoba, dimana dia mulai berhenti menjadi addict sejak dia mengenal bersepeda di tahun 2009.

Dokter Widya Istanto menyampaikan makalah yang dia susun yang berjudul "Manfaat Bersepeda bagi Kesehatan." Seseorang yang berolahraga secara rutin -- tidak hanya bersepeda -- akan hidup lebih sehat sehingga kemungkinan besar akan memperpanjang umur. Dlsb. (Para pengunjung blog bisa dengan mudah mencarinya di google untuk hal ini. :) (aku tidak mencatat isi presentasi dokter Widya soalnya. :))

Pembicara kedua adalah Guritno Wibisono menyampaikan teknik memilih sepeda yang tepat juga beberapa tips ketika menaiki sepeda plus turing sepeda jarak jauh.

Setelah sesi tanya jawab -- yang diisi dengan pertanyaan yang klise yakni apakah benar bersepeda itu akan menyebabkan laki-laki impoten atau kah hanya sekedar mitos, dan apakah minuman bersoda cukup aman dikonsumsi ketika bersepeda -- tim Medyc mengajak berdiskusi bagaimana jika Semarang mengadakan suatu event yang bersifat nasional. Mungkin dalam bentuk audax. Tapi mungkin juga berbentuk lain. :)

Acara ditutup dengan makan siang bersama. :)