Hidup itu misteri, dan kemisteriusannya membuat sebagian orang optimis akan masa depannya, dan sebagian lagi mungkin pesimis. Yang paling penting memang, We've got to keep struggling.
Cari
Sabtu, Januari 10, 2009
llmiah versus Mistis
Seorang anak pantai desa yang terpencil, yang mendapatkan pendidikan master dalam bidang ekonomi di sebuah universitas paling bergengsi di Eropa, bermimpi untuk membuat perahu dengan tangannya sendiri! Mimpi Ikal ini bisa menjadi nyata karena dorongan dan dukungan kuat dari sang super genius, sahabatnya di kala duduk di bangku SD dan SMP. Lintang—sang Isac Newton-nya Ikal—menjadikan impian itu menjadi nyata dengan perhitungan matematika yang njlimet. Ikal—yang mengaku selalu berada di bawah bayang-bayang kegeniusan Lintang di bangku sekolah—menggabungkannya dengan kerja keras yang tanpa ampun, dengan iming-iming akan menemukan BINTANG KEJORA dalam kehidupan cintanya, A LING.
Pertanyaan selanjutnya adalah: cukupkah ilmu membuat kita mampu memahami segala misteri dalam hidup ini?
Jawabannya ada pada mozaik 60 yang berjudul NAI. Mahar—sahabat Ikal yang lain—berada pada kutub yang berseberangan dengan Lintang yang memandang segala hal dari segi ilmiah. Kebalikannya, Mahar mengimani hal-hal mistis yang tidak akan pernah masuk akal para ilmuwan di Universitas bergengsi manapun di dunia ini. Hal-hal mistis yang bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan akan menceburkan seseorang menjadi musyrik, ahli neraka yang berada paling di keraknya. Dalam NAI, Mahar mementalkan keimanan Ikal kepada segala yang berbau ilmiah, sehinga terpaksa mempercayai hal-hal mistis yang tidak masuk akal. Ada hal-hal dalam kehidupan ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi ilmu. Kebalikannya, ada hal-hal yang dengan mudah terpecahkan jika kita menyandarkan kepercayaan diri kepada ilmu.
Ketika membaca perpaduan dua hal ini—yang ilmiah dan masuk akal, konon ciri khas kehidupan orang-orang modern; berbanding lurus dengan yang mistis, konon ciri khas kehidupan orang-orang zaman dahulu kala—mengingatkanku pada BILANGAN FU, novel ketiga karya Ayu Utami. Ayu Utami menjelaskannya dengan sangat sederhana: POINT OF VIEW, alias cara pandang yang berbeda. Orang-orang modern memandang kemistisan—misal: seseorang bisa memelet orang yang mencuri hatinya hanya dengan menjampi-jampi air ludah yang dikeluarkan oleh orang tersebut; atau bahwa Nyi Roro Kidul tetap hidup dan berkuasa di pantai Selatan dan selalu mempersuami semua raja-raja di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta, ataupun Keraton di Kasunanan Mangkunegaran—dengan keukeuh menggunakan kacamata orang modern yang bersandar pada keilmiahan.
Cara mudahnya bagaimana kita bisa menghasilkan ‘pemandangan’ yang berbeda tatkala kita memandang satu permasalahan yang sama tatkala kita memandang dari sisi yang berbeda: lihatlah Tugumuda—the landmark of Semarang—dari arah Wisma Perdamaian, dan dari lantai atas Lawangsewu. Atau contoh lain: dalam salah satu adegan dalam film DEAD POETS SOCIETY, John Keating, sang guru Bahasa dan Sastra Inggris yang baru, meminta siswanya untuk naik meja dan berdiri di atasnya, memandang suasana kelas dari arah yang berbeda. “You’ll find a very different view, that is very interesting.”
Kalau kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa pentingnya memahami segala sesuatu dari kacamata yang berbeda, untuk menuju kehidupan yang lebih damai di antara kita semua, makhluk penghuni planet Bumi ini. Yang selalu menggunakan kacamata kuda yang bernama “patriarki”, pandanglah—misal, permasalahan poligami—dari kacamata feminis. Contoh lain: para religious snob—from any celestial religion—memandang bahwa Tuhan itu mencintai semua umat-Nya tidak pandang bulu, gunakanlah kacamata para kaum sekuler. Para kaum heteroseksual yang merasa diri ‘normal’, cobalah menggunakan kacamata kaum homoseksual. Dalam hal ini, para religious snob pun bisa mengaplikasikannya, sehingga tidak selalu menyerang kaum homoseksual dari satu kacamata saja, dari satu interpretasi ayat kitab Suci saja.
Jika para pengunjung dan pembaca blogku ‘membalikkannya’ dengan mengatakan, “Na, cobalah kamu pahami kasus poligami bukan dari interpretasi Alquran yang feminis, namun dari interpretasi yang patriarkal...” oh well, aku telah hidup menggunakan kacamata TUNGGAL interpretasi Alquran yang patriarki selama 35 tahun takala aku mendapatkan pencerahan dari ideologi feminisme, so, I do understand it very well.
Kembali ke cara pandang yang ilmiah dan mistis (baik dalam MARYAMAH KARPOV maupun BILANGAN FU), well, hidup ini memang sangatlah kaya dan kompleks. Mari kita menikmatinya dengan cara saling toleran satu sama lain, untuk menciptakan kehidupan yang lebih indah dan damai.
LL Tbl 11.34 100109
Kamis, Januari 08, 2009
Euphoria of TOP TEN BLOGGER
Masih dalam euforia TOP TEN BLOGGER 2008. Ehem ... 😁
In in the previous post I wrote I was indebted to many bloggers who have given the link to my blog, as well as my blog visitors, absolutely I still have to thank many others.
At the first place, my ‘loved one’, as my first audience of my writing. I started emailing him regularly in the middle of my writing thesis, especially the whole 2005. When I got stuck, writing him emails was the nice refreshing, starting from merely about ‘being trapped in the rain’, my activities as a college student, Sex and the City, our favorite serial, my trip from Jogja to Semarang by bus where I met a weirdo—for me, until more serious topic, such as my interpretation of THE HOURS movie, that he did not finish reading LOL (“It is boring, darling, I am sorry,” he said apologetically. LOL.), the first article I posted in my first blog (I ‘developed’ it from the email I sent him), life (where I questioned a so-called philosophical rhetoric “What God made this universe for?” I believed he found it boring too), the core of my thesis, about the phenomenon of woman madness in the middle of nineteenth century America, etc. My obligation to myself to read a lot to gather ideas to write more various emails to my ‘loved one’ so that he would not get bored when reading my abundant emails. (But still he got bored with very serious topics. LOL.)
Second, my own study at American Studies Graduate Program. The weekly assignments to write papers made me accustomed to write. After graduating, writing became the best medication for my restlessness.
Third, my darling Abang that has made me a ‘milder’ feminist. 😊 Our long discussion via thousand word emails has a bit changed me from a somewhat radical feminist to be milder. I myself now sometimes find my writing ‘biting’ and maybe hostile toward men; especially those writings I posted before August 2006 (the time when out of the blue my Abang came into my life, and “offered friendship”, “Hey Na, your writing is awesome. Let us be friend.” LOL.) As one fan of my writing, he keeps supporting me to write. And when I get annoying comment from ‘imbeciles’, he is also the best one to ask for help, to write counter-comment, to ‘defend’ me. (That’s what having an Abang is for, right? LOL.)
Next, Fatih Syuhud who has found my blog and featured me as “the blogger of the week”. Until now we have never had any personal greeting to each other. LOL. He himself is a great blogger who is very diligent to write, and also visit many blogs, analyze them one by one, and using his own parameter (well, I don’t know whether there are a group of people behind his activity selecting “the blogger of the week”). I found his feature of my blog fascinating, knowing someone read my posts thoroughly and carefully, and then write about me. It is really fun to know how other people perceive me from reading my blog only. His broad-minded and open-minded characters (to ‘read’ me) have resulted in a post that I love.
One local newspaper whose articles (especially about women) often make me upset, signaling that the writers only know the surface of women movement, or the vision of the newspaper is still gender-biased. Because of that, I am triggered to write. (“True women = modern feminist?” is only one example.)
People around me—especially workmates, students, neighbors, as well as my family members—who have sometimes inspired me to write a certain issue. Some writings of mine are also sometimes inspired by some discussion in some mailing lists I join.
Absolutely I am also grateful to my biggest blessing from God, my Lovely Star. Silently she supports me to spend time to write, the time that sometimes she needs me to lend my ears to her. But as always, she is understanding. 💝
And many others I cannot mention one by one.
-- the narcissist Nana –
PT56 23.55 070109
Surplus Perempuan?
———————
1. Cara yang paling efektif untuk ‘menolong’ kaum perempuan adalah dengan menyediakan’ suami sebagai pelindung dan pencari nafkah.
———
1. Sex ratio (laki2/perempuan) di Indonesia, berdasarkan Sensus Penduduk 1980 = 101. Untuk setiap 100 perempuan ada 100 laki2. Dalam angka absolut, ini sama dengan ’surplus’ laki-laki lebih dari 630 ribu (tahun 2000).
tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi.
————–
1. Tidak betul bahwa perempuan lebih banyak dari laki-laki.
PTN dengan IPK 3,6 yang secara statistic tidak mungkin termasuk warga miskin).
——————
1. Argumen ‘motif sosial’ poligami tidak punya justifikasi empris.
Setidaknya relevansinya di era sekarang tidak ada.
——————-
1. Data yang digunakan adalah data SP 2000. Kita bisa beranggapan rasio gender tidak akan banyak berubah dalam 6 tahun. Tapi kalaupun berubah, trend justru menunjukkan bahwa makin lama jumlah laki2 makin banyak, dan sex ratio makin condong ke laki2 (’surplus’ laki2 makin besar dari tahun ke tahun).
Selasa, Januari 06, 2009
TOP TEN BLOGGER 2008
Top Ten Blogger Indonesia 2008
Posted on December 31, 2008
Filed Under Blogger Indonesia, Indonesia, blogging
The essence of blogging, as I put it as a jargon in my Bahasa Indonesia blog, is to culturalize the tradition of writing and reading. Many Indonesians, like those who are from developing or underdeveloped nation, don’t have the habit of writing and reading. They talk a lot. Write and read less. And that’s why, some foreign academicians who come to Indonesia were a bit shocked to find out the lack of reading and writing habit among Indonesians even within the so-called middle class family. The lack of reading naturally would end up in the lack of blog content “charisma”.
There are a few exception, however. Those who can adopt a new positive tradition of modernity–in reading a lot. As a result they write many good articles, creating nice and unique posts and even making an enlightening comments in other blogs.
That’s one reason among others why I’d like to dedicate this year’s Top Ten Blogger Indonesia 2008 specifically to those who consistently make a good content, and no less important, write relatively regularly. A content which is unique and enlightening. By so doing I hope what they have done will be emulated by others especially those bloggers who come later. It’s also my own way to appreciate and encourage those who passionately write good blog articles without worrying or thinking about traffics. A good content blog may not make a big traffic, and thus, a big impact in a short term, but certainly they will in a long shot.
Blogs has grown rapidly in Indonesia. Ten or even hundreds of blogs are born everyday. They start blogging for various reasons. Either way they are an asset to make the tradition of writing and reading blossom in the unlikely place like Indonesia in which the middle class hobby and dream is nothing but to have a nice house, fancy cars and the collection of Chinese old ceramic instead of books.
Last but not the least, there are so many good blogs with good content. It’s a pity that I can pick only ten. It should not be understood, therefore, that the others ten are less good. The links in the bloggers’ name will direct you to the Blogger Indonesia of the Week review of a particular blogger from which you will find the blogger’s URL.
***
The Top Ten Blogger Indonesia 2008
3. Rima Fauzi
5. Agni Amorita
7. Mulya Amri
10. Dedi W. Sanusi
Happy New Year 2009 Everyone! Nothing like feeling anew and start afresh all the time!
P.S.:
You can find the previous link here.
Blogger of the week Fatih Syuhud version.
SURPRISE ...
How long have I been idle to write in my 'intellectual' blog located at http://afeministblog.blogspot.com
Several months have passed since I started working as a school teacher that is really time-consuming (as well as energy-consuming!)
I have been complaining to myself due to this. So many complaints (seeing the injustice that happens to the marginalized ...) have been crowding my mind.
But I can only complain because I am just a very bad time manager: I cannot manage my time well: teaching, teaching, and teaching, then reading, biking, swimming, and writing, not to mention my chores as Angie's mother (just imagine the abundant things a single parent must do).
And last two-week-end-of-year holiday, I COULD only write two articles ("Feminism" and "True woman = modern feminists?") I still cannot spare time to write my 'abundant ideas' triggered by watching INTO THE WILD, and about Irshad Manji, the Muslim feminist lesbian.😀
That's why what a surprise to find an email in my mailbox from someone I don't know personally, to congratulate me. What congratulation is for? Curious, I opened it. And ... A Fatih Syuhud, the 'king blogger' in Indonesia who 'found' my blog in 2006 and featured me in his blog, has selected the TOP TEN BLOGGER 2008. And ... my blog is in among those TOP TEN BLOGGER 2008.
W-O-W ...
Here is the link. Click it ...
http://fatihsyuhud.com/2008/12/31/top-ten-blogger-indonesia-2008/
I am obviously indebted to many bloggers--that I don't remember or even don't know--who have given the link to my blog in their blogs. The link apparently lead the visitors in their blog to visit my blog.
I am also indebted to those people who have visited my blog, for sure.
I AM STILL DUMB-FOUNDED HERE.
C-Net 21.09 060109
Minggu, Januari 04, 2009
Jenggot versus UU APP
Dalam tulisannya, Ulil menyebutkan salah satu anekdot yang sampai sekarang masih dijunjung tinggi para Arabian sebagai bukti Arabosentrisme yang kuat yakni pemeliharaan jenggot. Kaum laki-laki Arab memelihara jenggot karena hukumnya wajib, konon diperintahkan oleh Nabi. Selain itu, ternyata jenggot merupakan lambang ‘machoisme’ di Arab sana.
Mengapa tampil macho penting bagi seorang laki-laki?
Tentu karena berupaya untuk menarik kaum perempuan. (Bagi kaum heteroseksual tentunya.) Sesuatu yang bisa dipakai untuk menarik lawan jenis tentu bisa dikategorikan sebagai ‘seksi’. Sesuatu yang seksi tentu akan membangkitkan gairah seksual bagi mereka yang menganggap sesuatu itu seksi.
Nah, di Indonesia, segala sesuatu yang DIANGGAP akan membangkitkan gairah seksual, bisa dikategorikan sebagai porno. Dengan adanya UU APP, tentu hal-hal yang porno begini seharusnya ditutupi.
Seperti kaum perempuan yang harus menutup aurat tubuhnya karena dikhawatirkan akan membangkitkan gairah seksual yang melihatnya (laki-laki, bagi kaum heteroseksual.) UU APP telah menyulap kaum perempuan sebagai makhluk kriminal—jika mengenakan pakaian yang sedikit (apalagi banyak) terbuka, dan kaum laki-laki harus ‘dilindungi’ dari godaan meningkatnya gairah seksual. Itu sebabnya perempuan harus dipenjarakan di balik bajunya. (Lama-lama, bisa jadi seperti negara-negara Arab, dimana kaum perempuan dipenjara di balik tembok-tembok rumahnya, sehingga para perempuan Indonesia tidak berkeliaran di jalanan lagi.) Agar kaum laki-laki ‘selamat’ dari kemungkinan meningkatnya gairah seksual dalam dirinya.
Nah, kalau jenggot milik laki-laki pun bisa memicu gairah seksual kaum perempuan, bukankah seharusnya jenggot pun harus ditutupi? Laki-laki pun seharusnya memakai jilbab yang menutupi jenggotnya. Kalau laki-laki bisa jadi makhluk yang dilindungi (dari tubuh perempuan yang seksi), perempuan seharusnya dilindungi juga kan dari godaan jenggot yang seksi?
Dan kita tahu, gara-gara memelihara jenggot dipercaya sebagai ‘sunnah Nabi’ atau lebih parah lagi, ‘hukumnya wajib’, tidak hanya laki-laki Arab saja yang memelihara jenggot. Banyak laki-laki di Indonesia—juga yang bukan keturunan Arab—memelihara jenggot. Agar membuat pemiliknya nampak macho dan seksi?
Kalau tidak ingin dikatakan bahwa UU APP bersifat bias gender, harusnya kaum perempuan pun dilindungi dari kemungkinan meningkatnya gairah seksualnya dari melihat bagian tubuh laki-laki yang seksi kan?
(I myself never think that beardy men are more macho or sexier than those who don’t have beard.)
PT56 12.12 291208
Senin, Desember 22, 2008
Kampanye bersepeda


Ada program khusus yang diselenggarakan pada hari Minggu 21 Desember 2008: KAMPANYE SIMPATIK bersepeda yang diikuti oleh tiga komunitas sepeda di Semarang: SOC (Semarang Onthel Community) sebagai pencetus ide, bike to work Semarang, dan SLOWLY (Semarang lowly rider).
Ketua SOC, Bob mengemukakan ide ini untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan b2w setelah kedua komunitas ini di’feature’kan di sebuah surat kabar nasional, di bagian lokal Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Merasa bahwa kedua komunitas memiliki visi dan misi yang mirip, maka ide untuk menyelenggarakan kampanye ini pun dikemukakan. ‘Slowly’ diundang oleh SOC tentu karena memiliki visi dan mirip yang serupa.
Komunitas b2w memilih berkumpul di SMA 1 Semarang sekitar pukul 06.00, untuk kemudian secara bersama-sama meluncur ke tempat yang telah disepakati bersama SOC; yakni di Lawangsewu. Setelah event BIKE TO WORK DAY, baru kali ini b2w mampu mengumpulkan member dengan jumlah yang lumayan, sekitar 50 orang; terdiri dari anggota lama maupun baru.
Sekitar pukul 07.00 b2w meluncur ke Lawangsewu, yang terletak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari meeting point semula. Di sana beberapa anggota SOC dan ‘slowly’ telah menunggu. Semakin siang semakin banyak anggota kedua komunitas tersebut yang datang.
Setelah memberi kesempatan beberapa reporter dari beberapa media untuk melakukan wawancara, kita semua mulai melakukan ‘city tour’. Dari Lawangsewu/Tugumuda, kita mengambil rute Jalan Pandanaran, Jalan Thamrin, belok ke Kampung Kali sampai ke Jalan Mataram, belok kiri, lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan Kota Lama, lewat Gereja Blenduk, kemudian di jembatan Mberok belok kanan, menuju Polder yang terletak di depan Stasiun Tawang. Di sini ketiga komunitas diwakili oleh masing-masing ketua/wakil ketua saling memperkenalkan komunitas masing-masing yang ternyata intinya tidak jauh beda: menggunakan sepeda sebagai moda transportasi untuk keperluan sehari-hari: demi mengurangi polusi udara dan ketergantungan kepada BBM. Yang membedakan ketiga komunitas yakni jenis sepeda yang dipakai dan para anggotanya: SOC menggunakan sepeda jenis ‘lama’ (single speed) yang diproduksi sebelum tahun 1980-an, anggotanya biasanya orang-orang berusia tigapuluh tahun ke atas; ‘slowly’ menaiki jenis sepeda mini yang populer sekitar tahun delapanpuluhan, dengan modifikasi tertentu, para anggotanya kebanyakan para pelajar, mulai dari mereka yang duduk di bangku SMP sampai perguruan tinggi; sedangkan anggota b2w kebanyakan menggunakan jenis sepeda gunung, alias MTB yang mulai populer tahun 1990-an, meskipun b2w tidak membatasi jenis sepeda yang dipakai; para pekerja yang bersepeda ke kantor, menggunakan jenis apa aja, bisa bergabung dengan komunitas b2w. Sampai sekarang anggota b2w Semarang kebanyakan adalah para pekerja, meskipun kita tidak membatasi ‘hanya untuk para pekerja saja’.
Mengacu ke b2w Jogja yang merangkul beberapa komunitas ke dalamnya (misal para ‘onthelist’ dan ‘slowly’) sebagai para pengguna sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, sudah selayaknya ketiga komunitas di Semarang ini pun melebur menjadi satu; hanya saja terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil—onthelist, MTBers, dan pengguna sepeda mini.
Direncanakan di masa yang akan datang, ketiga komunitas akan menyelenggarakan acara yang serupa, untuk menjaring lebih banyak lagi anggota.
Nana Podungge
Sekretaris 1 b2w Semarang
PT56 22.00 211208
Untuk foto-foto lain, klik saja
http://mastunggal.multiply.com
http://trextion.multiply.com
http://b2wsemarang.multiply.com

