<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935</id><updated>2011-10-05T02:14:53.138+07:00</updated><category term='media'/><category term='seksualitas'/><category term='menikah'/><category term='Putri Cina'/><category term='dugderan'/><category term='Harry Potter'/><category term='Agama'/><category term='Thanks'/><category term='Perempuan'/><category term='budaya'/><category term='Bahasa'/><category term='patriarki'/><category term='daily'/><category term='PKDRT'/><category term='Indonesia'/><category term='puasa'/><category term='Kangen Jogja'/><category term='Book review'/><category term='movie review'/><category term='Harkitnas'/><category term='Marto Art'/><category term='diskriminasi'/><category term='aurat'/><category term='KDRT'/><category term='Sastra'/><category term='women'/><category term='Sexuality'/><category term='spiritual'/><category term='Manifest Destiny'/><category term='language'/><category term='Semarang'/><category term='life'/><category term='Blogging'/><category term='Teaching'/><category term='b2w'/><category term='Krisna Mukti'/><category term='Ayu Utami'/><category term='WBL'/><category term='kultur'/><category term='Maslow'/><category term='top ten blogger'/><category term='religion'/><category term='Lebaran'/><category term='shalat'/><category term='gender'/><category term='Literature'/><category term='Mistisisme'/><category term='feminisme'/><category term='Telkomnet'/><category term='reformasi'/><category term='Utopia'/><category term='Education'/><title type='text'>Serba Serbi Kehidupan</title><subtitle type='html'>Hidup itu misteri, dan kemisteriusannya membuat sebagian orang optimis akan masa depannya, dan sebagian lagi mungkin pesimis. Yang paling penting memang, We've got to keep struggling.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>124</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-8184443281900191744</id><published>2011-04-28T08:39:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T12:52:44.304+07:00</updated><title type='text'>Dugderan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/1M/301"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/1M/301"&gt;&lt;br&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadilah orang Cina!&lt;/span&gt;" adalah judul sebuah cerpen yang termuat dalam  kumpulan cerpen PETUALANGAN CELANA DALAM karangan Nugroho Suksmanto.  Latar tempatnya ada di Semarang, terutama di daerah Pendrikan dan  Magersari, dimana di perbatasan antara kedua daerah inilah sang  pengarang lahir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cerpen diawali dengan paragraf berikut ini:&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;"Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha, aku harus  jadi orang "Cina". Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami  perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti  mereka."&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/1M/301"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/1M/302"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://multiply.com/mu/afemaleguest/image/q2xK8rRLkaN9SokYUoc-FQ/photos/1M/300x300/302/warak.jpg?et=8F6wRmEOoTlqqj9Hl%2BsfVw&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;"&gt;'warak' icon kota Semarang yang konon mewakili tiga etnis yang paling banyak ditemukan di Semarang, Jawa, Cina, dan Arab&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kisah ini, Nugroho menceritakan pengalaman seorang anak  laki-laki berusia awal belasan tahun sebelum bulan Ramadhan datang.  Beberapa minggu sebelum Ramadhan, para penghuni Magersari sibuk  melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengumpulkan dalam rangka  merayakan hari Lebaran, Hari Raya terbesar kaum Muslim. Telah menjadi  tradisi dalam merayakan Lebaran dengan mengenakan baju baru, pergi  keliling kota, makan dan minum sesuka hati. Untuk melakukan ini semua  tentu orang butuh uang yang tidak sedikit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kegiatan apa sajakah yang dilakukan orang-orang Magersari untuk  mengumpulkan uang? Mereka membuat mainan seperti warak ngendog, celengan  (tabungan yang terbuat dari tanah liat dalam berbagai bentuk), membuat  kue-kue, menjahit pakaian dan kemudian menjualnya pada event DUGDER.  Sementara itu, bagi sebagian anak-anak nakal, mereka akan mencoba  berjudi, misal main 'dadu kopyok', 'udar-bangkol, 'cap-sa'.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/1M/301"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://multiply.com/mu/afemaleguest/image/0m4RvDJVXVMIVN1nr9wv4g/photos/1M/300x300/301/gerabah-mainan-khas-dugderan.jpg?et=s8Ebvy1ECrkjTUr%2CAMWs1g&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family: comic sans ms;"&gt;gerabah salah satu mainan 'khas' yang dijual di 'dugderan'&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;ZAMAN 'MODERN'&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang, meski DUGDERAN masih diselenggarakan oleh pemerintah kota  Semarang, 'grengseng'nya tak lagi seheboh seperti yang digambarkan oleh  Nugroho Suksmanto dalam cerpennya ini. Orang-orang Semarang tak lagi  melakukan hal yang sama dalam mengumpulkan uang untuk merayakan Lebaran  -- misal membuat mainan, menerima jahitan pakaian -- mungkin karena  sekarang para pegawai telah menerima THR dari tempat kerja mereka  masing-masing. Mereka yang memang dalam kehidupan sehari-hari mencari  uang dengan membuat mainan, menerima jahitan pakaian atau membuat  kue-kue akan meneruskan 'pekerjaan' mereka ini meski tentu menjelang  Lebaran omzet mereka akan meningkat pesat. Namun semua ini tak lagi  langsung dihubungkan dengan tradisi DUGDERAN.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak-anak 'kota' dari kalangan menengah ke atas pun tak lagi tertarik  untuk mengunjungi DUGDERAN ini. Konon kebanyakan para penjual yang  'mremo' berjualan berasal dari kota-kota lain di daerah Jawa Tengah.  Tahun 2007 lalu terakhir kali aku menyambangi DUGDERAN yang waktu itu  diselenggarakan di daerah POLDER Tawang, ada seorang penjual mainan  mengaku datang dari Wonogiri. Setiap tahun dia memang khusus datang ke  Semarang untuk ikutan mremo dalam tradisi DUGDERAN. Pada kesempatan lain  mungkin dia akan berkunjung ke kota lain untuk berjualan mainan yang  sama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Btw, DUGDERAN datangnya masih lama yak? &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png"&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;GL7 14.14 270411&lt;/p&gt; &lt;p&gt;P.S.:&lt;br&gt;Sebagian merupakan terjemahan dari postinganku di &lt;a href="http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/08/be-chinaman.html"&gt;Be a Chinaman!&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk mengetahui tentang tradisi 'dugderan' lebih dalam lagi, klik &lt;a href="http://semarang.go.id/pariwisata/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=63&amp;Itemid=91"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisanku tentang Jawa, Cina dan Arab klik &lt;a href="http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/jawa-cina-arab.html"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;br&gt;&lt;/p&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-8184443281900191744?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/8184443281900191744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/04/dugderan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/8184443281900191744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/8184443281900191744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/04/dugderan.html' title='Dugderan'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2322102670579557721</id><published>2011-03-03T10:19:00.000+07:00</published><updated>2011-03-03T15:21:41.165+07:00</updated><title type='text'>Chinese foot-binding</title><content type='html'>From my post in this topic at &lt;a href="http://afeministblog.blogspot.com/2011/02/chinese-foot-binding-versus-european.html"&gt;Chinese  foot-binding versus European corset wearing&lt;/a&gt; I got one very  intriguing, though somewhat shocking link &lt;a href="http://www.romanization.com/books/formosan_odyssey/footbinding.html"&gt;here&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; A Taiwanese doctor -- the so-called respected expert in foot-binding --  was interviewed about this in-fact-secretly-hidden fact in Chinese  culture. He -- and perhaps also with many other contemporary men at his  age or older -- found bound foot the most important sex appeal in women;  even a lot more sexier than a woman's genital organ. He has thousand  pictures and knick-knack of this stuff in his house. In short, he said  that a woman's bound feet were so erotic that she would cover them in  order that public would not be able to see them. A woman would even  choose to be photographed naked but still wear her tiny feet. Men in his  era would very much be aroused only to see a tiny shoe, and not so much  when seeing naked breast or vagina.&lt;br&gt; &lt;br&gt; For this reason then many mothers would rather make their daughters cry  when binding their feet to get a lotus shape in order that they would  not see their daughters cry in the future because they would not be  wanted to be men's wives. As a result, since women could not do many  household chores, men -- from not so rich families -- would work like  slaves as long as they had wives with lotus-shaped feet.&lt;br&gt; &lt;br&gt; For further reading, just click the link &lt;a href="http://www.romanization.com/books/formosan_odyssey/footbinding.html"&gt;here&lt;/a&gt;  .&lt;br&gt; &lt;br&gt; GL7 15.18 030311    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2322102670579557721?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2322102670579557721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/03/chinese-foot-binding.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2322102670579557721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2322102670579557721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/03/chinese-foot-binding.html' title='Chinese foot-binding'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6732264031859112978</id><published>2011-02-22T06:53:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T12:11:56.186+07:00</updated><title type='text'>Sang A</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/1M/236"&gt;&lt;img class="alignmiddleb" src="http://multiply.com/mu/afemaleguest/image/WmgxF1+WjSJfFvZXlGfQwg/photos/1M/300x300/236/a.jpg?et=jPTbZtZDWc22NLW0%2B2opTA&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sang A&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;kala kau senantiasa menjelma bayang-bayang di sepanjang jalan yang kulalui pada saat fajar menyingsing hingga mentari mulai menyembul di ufuk timur, sampai di rimbang petang menyapa dan sinar rembulan pucat pasi menggantikan sang surya ditemani kelap kelip gemintang di langit kelam ... bahkan saat aku ingin mengabaikan hadirmu di tiap hembusan nafasku, tiupan angin menyampaikan sapa galaumu padaku ...&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;tak juga lelah kah engkau&lt;br&gt;padahal telah sekian waktu tak lagi kumendiktemu&lt;br&gt;memohonmu lakukan sesuatu&lt;br&gt;tuk masa depanku&lt;br&gt;atau pun masa kiniku&lt;br&gt;tak!&lt;br&gt;:&lt;br&gt;tak akankah ada perpisahan antara kita?&lt;br&gt;&lt;br&gt;GL7 11.57 220211&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6732264031859112978?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6732264031859112978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/02/sang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6732264031859112978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6732264031859112978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/02/sang.html' title='Sang A'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7166237592958122065</id><published>2011-02-16T13:13:00.000+07:00</published><updated>2011-02-16T13:13:25.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Marto Art'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Kronika Kronis Anakronisme Anarkis</title><content type='html'>&lt;a href="http://martoart.multiply.com/journal/item/130/Kronika_Kronis_Anakronisme_Anarkis"&gt;Kronika  Kronis Anakronisme Anarkis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sekedar  ingin berbagi tulisan seorang online buddy di lapak sebelah. Betapa  telah terjadi kesalahkaprahan tentang pemahaman kata ANARKIS. :) Untuk  postingan yang asli, klik saja tautan di atas.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pak Beye,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Membicarakan  Anarkisme tak sesederhana mengolah dan  menikmati mi instan, namun  begitu janganlah enggan mempelajarinya  apabila Anda merasa turut  berkepentingan membawa kronika Anarkisme ke  tengah masyarakat.  Setidak(-tidak)nya, bukalah Wikipedia dan  rajin-rajinlah merunut  labirinnya hingga kenal para bijak penggagas  Anarkisme dan jalan anarki  di dalamnya. Ini demi Anda agar tak  ditertawai dunia tatkala tanpa  angin dan badai menghendaki pembubaran  organisasi massa yang bersikap  anarkis (Kupang, Nusa Tenggara Timur,  Rabu 9 Pebruari 2011). Sebab  sekali lagi pak, Anarkisme bukanlah  ideologi semacam mi instan rasa  kepalsuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Demikian surat   terbuka saya kepada Anda, semoga cukup mampu mengajak Anda kembali   mempelajari ilmu-ilmu sosial dan filsafat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun saya menyilakan Anda   apabila ingin terus membaca tulisan ini. Oh ya pak, saya menulis ini   dengan semangat Anarkisme dan diiringi lagu valentine &lt;i&gt;berirama&lt;/i&gt;   punk. Semoga suka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Anarkisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pengertian  paling sederhana  dari Anarkisme adalah sebuah paham anti pemerintahan,  namun awam  cenderung berhenti di sini, dan atau melanjutkan pemahaman  mereka pada  salah satu pilihan gerakan anarki yang menyatakan perjuangan  dengan  jalan kekerasan, perusakan, dan pembunuhan. Sebagaimana yang   disampaikan Buenaventura Durruti Dumange (1896 -  1936), seorang tokoh  utama dalam gerakan Anarkisme di Spanyol;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;"&lt;i&gt;Terkadang  cinta hanya  dapat berbicara melalui selongsong senapan&lt;/i&gt;". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun begitu,  sesungguhnya Durruti hanya mengarahkan  jalan kekerasan tersebut kepada  negara dan Kapitalisme. Di beberapa  bagian saya dapat menyepakati  pemikiran Durruti dan memahami pilihan  kekerasannya. Bukankah di sisi  lain isu anti kekerasan juga dimanfaatkan  penguasa untuk membatasi  gerak para aktivis agar tak merusak hak milik  mereka? Dipakai untuk  memukul balik atas nama menjaga stabilitas? Dan  memberi jarak aman  antara penguasa dan yang dikuasai? Bagi saya  kekerasan - ataupun  penghujatan - yang ditujukan kepada kelompok yang  lebih berkuasa adalah  sikap perlawanan atau setidaknya upaya pembelaan,  sedang kekerasan dan  pelecehan penguasa kepada kaum lemah adalah bentuk  sikap fasis.  Kekerasan menemu nilai jihadnya ketika diarahkan untuk  melawan penjajah  Belanda oleh pejuang kemerdekaan, namun menemu nilai  jahatnya ketika  diarahkan untuk membunuh para Ahmadi oleh kaum Islam  garis kekerasan.  Kekerasan pejuang kemerdekaan adalah kekerasan yang  diijinkan  Anarkisme, sedang kuasa kekerasan kaum fundamentalis Islam  kepada pihak  yang lemah dalam kasus Ahmadiyah ditolak karena amat  fasistik. Musuh  utama Anarkisme adalah Fasisme, karenanya amatlah lucu -  untuk tak  menyebut "Dungu", membubarkan organisasi anarki karena  perbuatan yang  dilakukan oleh kaum fasis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Anarkisme Durruti  sejatinya bukan berarti melulu  kesalahan, namun kekerasan kekerasan  tetaplah bukan isu eksklusif bagi  sebagian besar penganut Anarkisme dan  berbagai variannya. Coba simak apa  yang ditulis Alexander Berkman  (1870 - 1936), seorang pemikir Anarkisme  ternama asal Rusia; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;"&lt;i&gt;Anarkisme   berarti bahwa Anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh   memperbudak Anda, menjadi majikan Anda, merampok Anda, ataupun memaksa   Anda. Itu berarti bahwa Anda harus bebas untuk melakukan apa yang Anda   mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang Anda mau   serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan   hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti   tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan,   serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan&lt;/i&gt;" &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Anakronisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tapi isu  kebebasan, kebersamaan, dan kesetaraan dalam  Anarkisme seperti ini tak  mampu mengalahkan pamor kekerasan Anarkisme  Durruti. Kata kunci  'Kekerasan' Durruti akhirnya menjadi bumerang dengan  tenaga tambahan  dari kaum kapitalis untuk menyerang Anarkisme. Sehingga  wajah anarki  dibuat luka menjelma seolah monster berbahaya bagi  peradaban. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Wajah asli  Anarkisme yang damai tiba-tiba sirna oleh  anakronisme. Anakronisme  adalah pemelintiran makna dan Anarkisme telah  dipelintir 180 derajad.  Ajaran Anarkisme Damai Pierre-Joseph  Proudhon (1809 - 1865), seperti  tak pernah ada, anjuran Mikhail  Bakunin (1814 - 1876) atas penolakan  eksploitasi seolah tak terdengar,  gagasan akan kebebasan kemanusiaan  dari Prince Peter  Kropotkin (1842 - 1921) seakan sirna, pemikiran  kesetaraan gender  dari Emma Goldman (1869 - 1940) terabaikan, juga  gerakan  perlawanan melalui media oleh Errico Malatesta (1853 - 1932)   terkalahkan oleh kisah kekerasan lapangannya, dan seterusnya. Anarkisme   bukam sekadar hantu yang bergentayangan di langit Eropa, tapi mahluk   luka yang merangsek ke segala penjuru dunia. Anarkisme adalah Zombie   yang tak henti disambit dengan anakronisasi para musuh ideologisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Di Indonesia  Anarkisme disambut dengan baik karena  memiliki banyak kesamaan dengan  filosofi dan tradisi Nusantara. &amp;nbsp;Sebutlah misalnya moto 'Do It Yourself  (DIY)' kaum  anarki untuk menolak bantuan penguasa sejalan dengan  semangat 'Swadesi'  juga 'Berdiri Di Atas Kaki Sendiri (Berdikari)',  bentuk perlawanan  'Disobey' atau pembangkangan dapat disetarakan dengan  aksi menolak bayar  pajak oleh Kaum Samin pimpinan Suro Sentiko,  semangat 'Kolektivo' tentu  dapat disejajarkan dengan tradisi  'Gotong-royong', paham anarki dalam  menjauhi teknologi perusak  kemanusiaan yang penolakannya sudah lama  dipraktikkan oleh Suku Badui,  jalan damai anarki pun menemui padanan  dengan 'Ahimsa', dan seterusnya.  Maka tak pelak seorang Sukarno amat  menyukai dan banyak terinspirasi  semangat ini. Bersama tulisannya di &lt;a href="http://martoart.multiply.com/photos/album/20/Tautan#photo=1"&gt;Harian   Pikiran Rakyat pada tahun 1923, Sukarno menyambut Anarkisme&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun bersama   kekuasaannya, Orde Baru (Orba) menyambit Anarkisme. Sangat bisa   dimaklumi karena Anarkisme adalah sistem sosial di wilayah kiri yang   tegas berhadapan dengan tiga unsur utama pembangun Orba; Kapitalisme,   Fasisme, dan Feodalisme. Tapi memang bagaimanapun ideologi tak pernah   mati, terlebih ideologi yang tercipta dari semangat muda. Bara pembakar   semangatnya bisa dari apa saja; musik, fesyen, bahasa, olah raga, seni   rupa, dan seterusnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Iming-iming bidadari surga tak ada dalam kamus bara bakar   semangat mereka. Komunitas anarki ada di mana-mana di Nusantara. Saya   membayangkan sebuah Anarchonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sampai  waktunya tiba,  revolusi ada di depan pintu istana dan mengetuknya  dengan cinta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7166237592958122065?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7166237592958122065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/02/kronika-kronis-anakronisme-anarkis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7166237592958122065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7166237592958122065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/02/kronika-kronis-anakronisme-anarkis.html' title='Kronika Kronis Anakronisme Anarkis'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-4388906406972392374</id><published>2011-01-14T15:24:00.000+07:00</published><updated>2011-01-14T20:25:55.938+07:00</updated><title type='text'>Jatuh Cinta?</title><content type='html'>tatkala kau rasa   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-4388906406972392374?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/4388906406972392374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/01/jatuh-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4388906406972392374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4388906406972392374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2011/01/jatuh-cinta.html' title='Jatuh Cinta?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-4495451909550582552</id><published>2010-10-16T21:07:00.001+07:00</published><updated>2010-10-16T21:22:51.633+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sexuality'/><title type='text'>Second Puberty</title><content type='html'>&lt;div class="photo photo_none" style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150298671540381&amp;amp;set=o.438414485754"&gt;&lt;img class="img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs094.snc4/36074_10150298671540381_627250380_15269571_7499162_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;SECOND PUBERTY a.k.a MIDLIFE CRISIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;The following writing was imported from my blog at&amp;nbsp;&lt;a href="http://afeministblog.blogspot.com/2006/02/second-puberty.html"&gt;Second Puberty&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;I posted it on February 18, 2006&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Friends,&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Do you believe that second puberty exists? What the hell is second puberty actually?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;About  ten years ago, I had a private student, a woman, around mid thirties, a  housewife whose husband was always busy with his business and she had a  babysitter to take care of her children, and housemaids to take care of  her household chores. She took English private lesson with me perhaps  only to fill her abundant idle time.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;At that time, she  asked me whether I believed in second puberty. I didn't know what it was  exactly. Then she said to me, "Nana, I think it happens to people after  they come to the age of mid thirties for women, and forties for men. I  believe in it coz now I am experiencing it. ..." Then she told me about a  good-looking man around her neighborhood that she said was attracted to  her. She concluded it from the way that guy looked at her, smiled at  her. Again she said, "It's not about love, Nana. It's not about sex,  either. Well ... just attraction. He really makes me feel happy every  time we meet. Well, I don't date him, we just happen to meet coz he  lives in the same neighborhood with me. Later, after you come to my age,  you will undergo it yourself. I believe."&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;I made a  conclusion at that time (with my naivete) that second puberty means that  someone is attracted to another person apart from his/her spouse. Or,  probably, the routine boredom comes to the couple, and they need a  change. Or, did it happen to that private student of mine coz she didn't  get enough attention and love and care from her busy businessman  husband? So that she needed to get it from another guy?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Unfortunately,  that lady didn't take a long time to take private English class with me  so that I didn't know what happened after that with her and the guy she  had a crush on.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;In August 2005, I got another private  student. She is in the beginning of her forties, a housewife too, whose  husband is very rich so that I believe she never experiences how it  feels when the price of gasoline soars crazily. Similar with my private  student 10 years ago, she has some housemaids and babysitters that take  care of her household chores and children so that she doesn't need to  make herself busy at home. In addition, she is outstandingly pretty so  that I believe she has many admirers for her physical beauty.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;With  this private student of mine, I spent some time to go sightseeing in  malls, to have lunches at food court, go to cafes, etc. I observed that  she loved wearing sexy clothes when she went with me (she said I made  her feel comfortable to wear anything, though I didn't see any  relationship with me, how could going around with me make her feel  comfortable to wear sexy clothes? I myself mostly wear my 'uniform',  long black dress and black blazer, not 'inviting' at all!) She also felt  comfortable to show inviting body language to any 'macho' and  good-looking guy we met in malls. (I was wondering how she made me feel  as a 'scapegoat'? I am the one who made her feel comfortable to do those  two conspicous things--wearing sexy clothes and showing inviting body  language.)&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;It made me suspicious if this pretty lady was  'suffering from' second puberty. She no longer feels confident with  herself whether she is still pretty and attractive enough so that she  needs to attract those guys' attention demonstratively. One time, while  we were having lunch in one food court in Semarang, she said to me,  "Nana ... I really enjoy looking at people around us." Coolly I asked,  "And, after 'observing' those people around, what is your conclusion?"  Proudly she said, "One similar thing, I always find that they are so  amazed to see me; to see a pretty lady, ME." Her facial expression  looked so childish at that time.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;It made me draw a  different conclusion about second puberty than my definition 10 years  ago. Second puberty is a kind of 'mental illness' that happens to  someone who no longer feels confident that he/she is still attractive.  To compensate that inferiority, he/she needs to attract people's  attention demonstratively. It is not merely about having a crush on  somebody else who is not someone's spouse.When does second puberty come  to someone's life? Mid thirties? Early forties? Mid forties? Does it  always come to anybody's life? Or does it happen only to people who  don't get enough attention, love, and care from their spouse? Do people  always need it for a 'change' to overcome boredom in their routine life?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;This  pretty private student of mine sometimes teased me, "Wait till you come  to your forty years of age, Nana, and you will undergo 'second puberty'  like me." Well, I think as a teacher, I already get a lot of attention  from my students, both boys and girls. Sometimes some naughty male  students of mine flirt me and, well, I don't mind with it, as long as  they don't abuse me. I don't think I will need passers-by's attention to  me when I go somewhere. I even often feel abused when I go somewhere  and some greedy guys look at me impolitely. I don't enjoy their staring  at me, different from that private student of mine who even feels  adored. Frankly, when walking with her, or when I walk alone, I  sometimes want to throw my high-heeled shoes to those guys with greedy  eyes.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;I am approaching my forty years of age now.  Referring to what my private student said 10 years ago that people  undergo second puberty in their mid thirties, well, it is high time for  me to experience it, isn't it? LOL. But, no, I don't agree with my  (present) private student of mine, that we will feel adored and admired  when guys look at us whenever we go. I even feel disturbed with that.  Only in the classroom I want full attention from my students, but not  outside.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;However, as a feminist who thinks that we, women,  have freedom to do anything we want, apart from the fact that we are  married or not, that we are having relationship with someone or not.  That (present) private student of mine absolutely has right to do so, to  attract guys' attention. LOL. Only she can control herself, her life,  not her hubby, her children, moreover society.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;------------ ------------ -----------&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&amp;nbsp;Four and a half years later ...&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none" style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150298672425381&amp;amp;set=o.438414485754"&gt;&lt;img class="img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs729.snc4/64968_10150298672425381_627250380_15269588_6373774_n.jpg" style="width: 420px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;In  one serial of SEX AND THE CITY, Samantha Jones was illustrated as  suffering from this kinda 'mental' disorder (?) She had no boyfriend in  that serial, and in need of sex. On the train to California to accompany  Carrie for her first book reading, Samantha busied herself to attract  any guy she met for sex. Unfortunately all guys she found belonged to  the type of pious guy or loving the wife. She (almost) lost her  confidence.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;This illustration justified the second  description I wrote above. And instead of using the term 'second  puberty' (which is very Indonesia LOL), SATC used the term 'midlife  crisis'. There are some reasons why people 'suffer from' this kinda  'mental illness'. Just do googling.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;From my 'just so so'  observation from statuses of those listed as my online buddies on FB,  especially those who are more than thirty years of age, I recognized  many are suffering from this symptom. LOL. Both men and women. It is  very easy to spot on them. Just find 'lebay' status, or 'lebay' way when  commenting. LOL. (absolutely the definition of LEBAY is very  subjective. Say, Angie said that when I updated my status with those  so-called poetic diction, she would say, "Mama lebay ahh!" If I may give  my definition of 'my lebay', it is more to attract people's attention  on how&amp;nbsp; attractive or good-looking they are, how kind-hearted they are,  bla bla bla ...) Well, perhaps not just via statuses or comments, but it  also can happen via chatbox. They try to attract other people by  flirting. (Some people willingly shared their experience to me.)&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;This  is just a very common phenomenon, I suppose. So, no need to feel  embarrassed? LOL. And absolutely it is not sinful. (Don't talk about sin  with this agnostic Nana P. LOL.)&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;It all comes back to  ourselves to get rid of this 'symptom', especially if this happens (or  is done) by married people. I suppose they don't want to sacrifice their  marriage only for this cyber games, do they? Try to find the background  why they do this, and take control of themselves. If we safely pass  this through, we will indeed get more mature and settled  (psychologically).&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;---------- ---------- ----------&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;PT56 20.16 161010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-4495451909550582552?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/4495451909550582552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/10/second-puberty.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4495451909550582552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4495451909550582552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/10/second-puberty.html' title='Second Puberty'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3568351840289354171</id><published>2010-09-15T23:32:00.000+07:00</published><updated>2010-09-15T23:32:06.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seksualitas'/><title type='text'>Sexual Abuse</title><content type='html'>Just found it inside my mailbox. I wrote it four years ago. Well, I am not sure if I have posted it in one blog of mine (I sent it to a good friend of mine.) Now, I want to share it with my blog visitors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;When  women become a criminal only coz of wearing “open” clothes—under  accusation to turn on men’s desire when looking at their sexy body, why  is there no law saying that men are allegedly guilty for abusing women  by staring at women, or whistling at them or saying something abusive to  women who don’t wear “open” clothes?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;I  was brought up in a very religious family, sent to an Islamic  elementary school, indoctrinated that women’s body is the source of sin,  that women can become the cause of the fall of men to hell due to  women’s sinful sexy body. (Similar to the fall of Adam to this mortal  world coz Eva gave in to Satan’s trick to eat “khuldi” (this is how  Al-Quran named it)—the forbidden fruit in heaven.) Because of that,  women are supposed to cover their source-of-sin body in order that men  will not get aroused. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;After  I grew up (I always consider myself as a rebel), I started to wonder  why all mistakes are put on women’s shoulder? Why is there no punishment  for men who cannot control their lust? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Since  knowing feminism, and got answers of my lots of questions (due to the  gender bias in Islam) when I was a kid or teenager, I came to the  conclusion that if women can control their lust (women are just human  beings, like men, they have lust too!) when seeing naked men’s body, men  are supposed to be able to control their lust too and not abuse any  woman they want. I completely agree with Fatima Mernissi, a Muslim  feminist Morocco saying, “&lt;/span&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;If the rights  of Muslim women become problems for a group of Muslim men, this is not  engendered by Al-Quran or Islam itself, but this is caused by the  different interpretation resulting in contradictory interpretation  opposing the want of a group of elite Muslim men&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;Btw,  some months ago, I had a middle-aged private student who was  outstandingly pretty. We often took a walk for sightseeing or had lunch  in a downtown mall. Contradictory from me that mostly wear my “uniform”  (long black dress and black blazer—I am not an Amish nor Quaker though  LOL) this student of mine loved wearing “sexy” clothes. The first time  we went to have lunch, I felt very disturbed and annoyed by men who  stared at her greedily. It sometimes made me want to throw my  thick-heeled shoes to those men’s eyes! Later on, I realized, that not  only her “sexy” clothes attracted those men with greedy eyes, she in  fact also showed “inviting” body language to those guys. No wonder she  didn’t feel abused. She herself invited those guys to abuse her. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;As  a feminist that believes women can do anything they like, as long as  they enjoy it and not harm other people, I think it is okay for her to  do that. However, as someone with very religious upbringing when I was a  kid, I still sometimes didn’t understand why the hell that private  student of mine attracted men’s attention demonstratively despite her  outstanding beauty. Her beauty only was already enough to attract  people’s attention. So, when she wore sexy clothes and showed inviting  body language, it was just very understandable if then those guys with  greedy eyes “abused” her. (Oh well, she herself didn’t feel abused. She  felt flattered. LOL)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;On  the contrary from this flirt, LOL, I never show any inviting body  language, I never wear any open clothes to attract men’s attention. I  never feel ready to  get abuse. Does it mean, then, I never get abused? Unfortunately, the  answer was SOME GUYS WITH GREEDY EYES STILL ABUSE ME, by staring at me  indecently, whistling at me, smiling at me abusively, etc.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;The conclusion? SOME MEN ARE INDEED BIG SHIT. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;Recently,  in Indonesia there has still been a very “poignant” debate about  pornography bill where it states that women are not allowed to wear  body-hugging, tight and “open” clothes coz it will cause men to get  aroused. A woman will be punished if she unintentionally/intentionally  turns on men in public, by wearing “sexy” dress, for example. Why is  there no statement that men will be put  into jail when they cannot repress their lust in public?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;I  prove it myself that although I mostly wear clothes covering all over  my body (except my head), it still doesn’t stop men to try to abuse me.  Who can guarantee that issuing such a bill will stop sexual abuse?  Something wrong is not in what women wear, or how women walk and move,  not in women’s voice, but in men’s mind!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1257806322MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;Semarang March 16, 2006 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3568351840289354171?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3568351840289354171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/09/sexual-abuse.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3568351840289354171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3568351840289354171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/09/sexual-abuse.html' title='Sexual Abuse'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-4120308708786621941</id><published>2010-09-13T23:15:00.000+07:00</published><updated>2010-09-13T23:15:43.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Sekuler Fundamentalis</title><content type='html'>&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Ternyata 'penyakit' fundamentalis tidak hanya menghinggapi para kaum  agamis. Mereka yang mengaku diri sekuler --pen juga para spiritualis --  pun tidak bebas dari penyakit yang satu ini. Misal, tatkala terjadi  kecelakaan penusukan seorang pendeta, tanpa ba bi bu, seseorang  berkomentar, "Itulah orang yang tidak memiliki otak. Kalau kata Tuhannya  'tusuk' ya tusuk saja. Toh mereka yang non Islam dihalalkan darahnya?"  =&amp;gt; Contoh seorang sekuler yang fundamentalis. Komentar seseorang yang  ~ menurut pengamatanku ~ agamis fundamentalis dengan sinis mengatakan,  "Gampang toh membeli baju gamis warna putih, kopiah warna putih, apa pun  agama seseorang itu, kemudian datanglah ke sebuah gereja, dan tusuklah  jemaatnya. Dan ... Islam lah yang kena getahnya, karena baju gamis dan  kopiah memang mewakili kaum Muslim."&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dan, aku yang keukeuh  untuk selalu cuek pada segala 'hasutan' untuk saling membenci satu  agama dengan agama lain, dengan SENGAJA tidak mau mengikuti berita. &lt;strong&gt;(Call me as an ignorant person&lt;/strong&gt;!)  Mengikuti 'hasutan-hasutan' yang demikian, justru menurutku akan  mempertajam kebencian pada mereka yang memeluk agama yang berbeda.  Mending saja kita bersikap, "oh, ada yang terluka? bantu! selamatkan!"  tanpa harus memandang 'agama ini agama itu'. Dan ... akibatnya, aku pun  BLANK what has been really going on.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mengapa orang terus saja memendam benci kepada sesama umat manusia yang 'kebetulan' memeluk agama yang berbeda?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mengapa orang terus saja bertingkah memancing di air keruh, mengadu domba antar pemeluk agama?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mengapa orang terus saja serakah akan kekuasaan?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dan aku tetaplah menjadi yang naive. :'(&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Berikut  ini adalah artikel yang kuberi judul SEKULER FUNDAMENTALIS, yang kupost  di FB beberapa bulan lalu, menghilang tatkala aku 'kabur' dari FB  selama empat hari. (Untung telah kupost di blog, sehingga bisa  kumunculkan lagi di sini.)&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/TI5N_yFLpfI/AAAAAAAABdI/c1jpO0rJ_6g/s1600/fundamental.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/TI5N_yFLpfI/AAAAAAAABdI/c1jpO0rJ_6g/s320/fundamental.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nana-podungge.blogspot.com/2010/02/sekuler-fundamentalis.html"&gt;Sekuler Fundamentalis&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;SEKULER FUNDAMENTALIS&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;After  all, the practical reason why, when the power is once in the hands of  the people, a majority are permitted, and for a long period continue, to  rule is not because they are most likely to be in the right, nor  because this seems fairest to the minority, but because they are  physically the strongest. But the government in which the majority rule  in all cases cannot be based on justice, even as far as men understand  it. Can there be a government in which the majorities do not virtually  decide right or wrong, but conscience? (from Civil Disobedience by  Thoreau) &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Artikel ini bermula dari tulisan lamaku  yang berjudul "My Spiritual Journey" yang ku repost di FB beberapa hari  lalu. Seorang sahabat menulis komentar, "what a spiritual snob you are  ..." Aku menjawab, "I am absolutely not a spiritual snob. An  intellectual snob, well, yes you can say that again!" Dia menjawab,  "Iyalah, bermula dari ranah cognitive kemudian menjalar ke ranah  affective ..." Dengan bercanda aku bertanya kepadanya, "Spiritual snob  beda kan dengan religious snob? Di Indonesia banyak kan religious snob  yang percaya bahwa mereka itu calon masuk surga, sedangkan yang lain  masuk neraka ..." Diskusi ini kita lanjutkan lewat INBOX, karena  khawatir bakal kena UU -- you know what you it is. Dan, dia pun  mengenalkanku pada istilah "fundamentalist secular". Istilah yang  langsung membuatku penasaran, "apaan tuh fundamentalist secular? emang  ada ya?"&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Istilah 'fundamentalist secularism' berasal dari  dua kata 'fundamentalism' dan 'secularism'. Wikipedia mendefinisikan  'fundamentalism' sebagai suatu keyakinan yang sangat kuat pada  prinsip-prinsip dasar (paling utama agama), sebagai suatu reaksi  terhadap kehidupan sosial yang modern. Atau dengan kata lain,  fundamentalisme adalah kepercayaan yang kuat terhadap agama dalam  menghadapi kritik-kritik yang ditujukan kepada agama tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Karen  Armstrong, penulis buku "History of God" menyatakan gerakan  fundamentalisme sebagai jenis spiritualitas yang muncul sebagai jawaban  terhadap ketakutan bahwa kehidupan modern akan mematikan keyakinan atau  agama mereka. Gerakan ini diikuti oleh para fundamentalis tiga agama  samawi, Nasrani, Yahudi, dan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;'Secularism'menurut  Wikipedia adalah konsep dimana suatu negara seharusnya berdiri terlepas  dari agama. Sekularisme memberi hak kepada warga negara untuk terbebas  dari ajaran agama, dan kebebasan dari paksaan dalam memeluk agama --  maupun tidak memeluk agama -- dan tidak memberikan keuntungan khusus  bagi satu agama tertentu. Hal ini berarti keputusan maupun undang-udang  yang dihasilkan oleh negara haruslah terlepas dari pengaruh agama  manapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Apakah 'fundamentalist secularism'?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Tobias Jones, pengarang buku "The Dark Heart of Italy" dalam &lt;a href="http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2007/jan/06/comment.religion" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;b0c06&amp;quot;, event);" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2007/jan/06/comment.religion&lt;/a&gt;  menyatakan "Secular fundamentalists are the new totalitarians*". -&amp;gt;  "Fundamentalis sekuler merupakan 'totalitarian' baru." Sebagai contoh  fundamentalis sekuler, dia menulis kasus pelarangan mengenakan jilbab  bagi siswa-siswi sekolah di Prancis. Hal ini berarti pemerintah tidak  memberi kesempatan bagi warga negara untuk mempraktikkan ajaran agamanya  secara bebas. Sebagai contoh lain, Jones menulis tatkala pemerintah  menganggap pemakaian kalung salib, jilbab, ataupun penutup kepala  sebagai suatu hal yang tidak menghargai pemeluk agama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hal  ini mengingatkanku pada sebuah topik klasik pada waktu aku kuliah di  American Studies. Pada tahun 1620, sekelompok orang yang disebut 'the  Pilgrims" bermigrasi dari Inggris ke Amerika Utara, dengan menaiki kapal  "Mayflower". Di 'tanah yang baru' mereka mendirikan koloni Plymouth di  Massachussetts. Mereka pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka karena  disana mereka tidak mendapatkan kebebasan untuk mempraktekkan ajaran  agama yang mereka peluk. Namun, tatkala mereka berhasil membangun sebuah  'negara' (koloni) baru, mereka ternyata melakukan kekerasan yang sama  kepada para pemeluk kepercayaan lain. Sekelompok orang yang kukuh  memeluk agama yang lain dari sang penguasa harus pindah ke tempat lain,  atau mereka akan dihukum gantung.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;Apakah sekulerisme fundamentalis hanya ada di negara-negara barat?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sekulerisme  ini tumbuh pesat dimana-mana, seiring dengan kehidupan modern yang  merambah banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia bukanlah  negara sekuler. Indonesia juga bukan negara Islam meski memiliki MUI  yang jelas-jelas mencampuri kehidupan beragama warga negaranya dengan  mengeluarkan banyak fatwa yang sebenarnya tidak perlu. meski ada juga  pemerintah propinsi yang telah mengeluarkan undang-undang yang  berdasarkan agama Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Aku tengarai banyak orang di  Indonesia (yang kukenal lewat dunia maya) yang mengklaim diri sebagai  sekuler, mereka meyakini bahwa negara seharusnya memisahkan urusan  kenegaraan dengan ajaran agama, pemerintah seharusnya memberikan hak  kepada warga negara untuk memeluk agama maupun untuk tidak memeluk  agama. Para sekuler ini -- aku termasuk di dalamnya -- tidak  mencampuradukkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari mereka.  Mereka juga percaya bahwa manusia seharusnya saling menghormati agama  masing-masing, tidak menghakimi bahwa orang lain akan masuk neraka --  misalnya hanya karena mereka tidak shalat lima waktu sehari bagi Muslim  atau karena mereka tidak ke gereja bagi Nasrani. Mengacu ke postinganku  "My spiritual Journey", dimana topik utamanya adalah "tidak ada 'orang  terpilih' begitu saja untuk masuk surga" akhir-akhir ini aku mulai  melihat kecenderungan para sekuler itu -- dimana aku pun termasuk di  dalamnya -- pun mulai berpikir bahwa mereka adalah 'orang-orang  terpilih'. Mereka menertawakan orang lain yang memeluk agamanya secara  teguh, yang melakukan ajaran agamanya secara tekun dan penuh keyakinan,  mereka menganggap orang lain yang sangat mempercayai kekuatan doa untuk  mengurangi penderitaaan mereka sebagai orang-orang yang menggelikan,  Mereka telah kehilangan empati. Mereka tidak lagi menghormati keyakinan  orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dari contoh-contoh di atas, bisa disimpulkan  bahwa fundamentalis sekuler berarti negara -- atau sekelompok orang --  yang memisahkan kehidupan mereka sehari-hari dari ajaran agama begitu  kuatnya, sehingga mereka memiliki kecenderungan menihilkan adanya agama,  bahkan dalam tataran yang lebih 'parah' lagi, mereka bisa jadi  menganggap orang yang beragama sebagai orang jahat.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sebagai  seorang Muslim yang sekuler, aku ingin mengakhiri artikel ini dengan  menyitir satu ayat Alquran "lakum dinukum waliyadin" =&amp;gt; bagimu  agamamu, bagiku agamaku. Atau yang lebih luas lagi, apa pun keyakinan  yang kita miliki -- apakah kita adalah seseorang yang menganut satu  agama, atau pun seorang agnostik, atau pun deist, nihilist, atau pun  atheis, selalu lah kita menghormati orang lain, karena perbedaan itu  indah, menghormati (kepercayaan) orang lain itu perlu, memiliki empati  kepada orang lain itu 'awesome'.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Nana Podungge&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;-- Muslim sekuler --&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;LL 18.38 190210&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #351c75; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;•  (Totalitarianism = a form of government in which the state controls all  phases of the people's lives. Totalitarianism allows only one party,  headed by an absolute leader. He maintains his power over the party and  the rest of the people by force and violence. Freedom of religion does  not exist. =&amp;gt; "The World Book Encyclopedia)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-4120308708786621941?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/4120308708786621941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/09/sekuler-fundamentalis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4120308708786621941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4120308708786621941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/09/sekuler-fundamentalis.html' title='Sekuler Fundamentalis'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/TI5N_yFLpfI/AAAAAAAABdI/c1jpO0rJ_6g/s72-c/fundamental.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5841264684100996090</id><published>2010-09-13T17:58:00.001+07:00</published><updated>2010-09-13T18:06:17.418+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Mayoritas versus Minoritas</title><content type='html'>&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sebuah tulisan yang kuhasilkan beberapa bulan lalu, menghilang dari note FB gara-gara aku deactivate akun beberapa minggu lalu. (Betapa admin FB ga canggih! :'( ) Sekarang kumunculkan lagi, kebetulan sedang heboh kasus penusukan seorang pendeta.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Memang kasus tidak hanya melulu masalah agama saja, namun kecenderungan kalangan mayoritas untuk menunjukkan kekuasaan atas kalangan minoritas terjadi dimana-mana. Di Indonesia 'kebetulan' Islam adalah agama kalangan mayoritas, sehingga Islam lah yang dituduh tidak peka kepada kaum minoritas. Di negara lain, bisa jadi sebaliknya, Islam yang dipeluk oleh kalangan minoritas diinjak-injak. Hal ini menunjukkan ketidakdewasaan manusia atas pemahaman agama yang dipeluknya. Para kaum 'spiritualis' yang bersikukuh pada aksioma bahwa agama hanya membawa mudhorot belaka (terutama pada mereka yang dengan buta 'memeluk' agamanya) dan memaksa segala agama enyah dari muka bumi ini juga mengesalkan ~ bagiku ~ karena hal ini berarti mengerdilkan hak seseorang untuk meyakini apa yang masuk akal baginya. Yang paling utama menurutku adalah ~ lagi-lagi ~ LAKUM DINUKUM WALIYADIN. Bagi yang ingin memeluk agama, menjalankan 'syariat perintah agama' sesuai kata hati dan pikiran mereka, SILAKAN. Bagi yang mengaku memeluk agama, namun membaptis diri sekuler ~ talking about myself :-p ~ ya SILAKAN. Bagi yang mau spiritualis, agnostik, deist, atau pun atheist, SILAKAN. And ... STAY ON RESPECTIVE PATH! Jangan mencampuri urusan orang lain, JANGAN merugikan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;MAYORITAS versus MINORITAS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/TI4FhLcjs_I/AAAAAAAABdA/XfKlPm2i2qI/s1600/majority-scales.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/TI4FhLcjs_I/AAAAAAAABdA/XfKlPm2i2qI/s320/majority-scales.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://nana-podungge.blogspot.com/2010/03/mayoritas-versus-minoritas.html"&gt;Mayoritas versus Minoritas&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;After all, the practical reason why, when the power is once in the hands of the people, a majority are permitted, and for a long period continue, to rule is not because they are most likely to be in the right, nor because this seems fairest to the minority, but because they are physically the strongest. But the government in which the majority rule in all cases cannot be based on justice, even as far as men understand it. Can there be a government in which the majorities do not virtually decide right or wrong, but conscience? &lt;/blockquote&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;(from Civil Disobedience by Thoreau)&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kutipan di atas dikirimkan kepadaku oleh seorang sobat terkasih setelah dia membaca salah satu note-ku (hasil copy paste dari seorang online buddy di FB yang berjudul “Jangan Gampang Bilang Sesat”). Dia yang sekarang sedang menimba ilmu di Ohio, yang mengenakan jilbab, yang bencinya kepada Sarkozi telah membuatku menghasilkan sebuah artikel yang kuberi judul “Sekuler Fundamentalis”.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Beberapa tahun lalu dia pernah mengirim email kepadaku, memprotes salah satu instansi di kota tempat dia tinggal karena telah melakukan satu perbuatan arogan kepada salah satu karyawannya. Si karyawan dipecat karena dia tidak pernah (bisa) menghadiri acara pengajian yang diselenggarakan oleh tempat dia bekerja, sehingga dia ditengarai bukan anggota salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, padahal instansi tempat kerjanya (mungkin) berbasis ormas Islam tersebut menilik dari namanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;“What’s the point to be a supporter or a member of that organization? We are all Muslim, we do the religious teachings rigidly.” Tanyanya retoris.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Arogansi mayoritas telah membuat seorang karyawan kehilangan pekerjaan dan membuat istri dan anak-anaknya menderita. Dan hal ini terjadi bukan karena perbedaan keyakinan alias agama, namun “hanya” karena sang karyawan saking sibuknya mencari sesuap nasi demi anak dan istri tak bisa meluangkan waktu untuk menghadiri acara pengajian di kantor.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Beberapa minggu terakhir ini di FB aku mulai berinteraksi dengan para kaum ‘spiritualis’ yang tidak mempercayai ‘Abrahamic Faiths’ (baca Yahudi, Nasrani, Islam). Praktis aku sang sekuler menjadi pengamat antara kaum agamis (terutama Islam, yang telah ‘kugauli’ selama puluhan tahun, semenjak aku lahir) dan kaum spiritualis. Para kaum spiritualis ini pun memiliki latar belakang yang bermacam-macam. Menilik dari status-status mereka, aku bisa ‘membaca’ apakah latar belakang mereka adalah agama – baik Islam, Nasrani, maupun Buddha – ataukah satu ‘keyakinan’ yang mungkin bisa kumasukkan ke dalam kategori ‘kejawen’ (bagi orang Jawa) maupun agama ‘asli’ Nusantara yang lain. Membaca bagiku akan senantiasa memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan jiwa. Aku lebih mengenal berbagai jenis cara manusia mencapai ‘kesadaran diri’, untuk berdamai dengan diri sendiri yang tentunya diharapkan akan berdampak mampu berdamai dengan orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Akan tetapi, aku ternyata pun menengarai adanya satu kecenderungan beberapa kalangan – kalau boleh mengcopy salah satu status ‘Birru Sadhu’, utamanya kaum spiritualis – untuk memaksakan pendapatnya kepada pihak lain bahwa hidup ini akan lebih damai jika semua orang menganut keyakinan mereka. Seperti tertulis di salah satu status seorang spiritualis, “Jika semua orang telah tercerahkan, maka aku akan menjadi pengangguran”. Arogansi “aku lah yang terbaik karena aku lah yang paling benar, aku lah yang akan masuk surga (bagi mereka yang percaya surga dan neraka ada) yang lain masuk neraka” ternyata dipercaya oleh banyak pihak – mungkin terlalu kebangeten jika aku bilang semua pihak. Saat ini karena Muslim adalah sang mayoritas di Indonesia, maka hujatan fundamentalis ditujukan kepada mereka. Bisa kita bayangkan jika posisi ini diambil alih oleh kaum spiritualis, maka akan ada istilah ‘spritualis fundamentalis’. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Jikalau dalam artikel-artikel yang kutulis aku lebih banyak mengkritik para fundamentalis dari kaum Islam, bisa dikatakan karena no matter what aku mengenal Islam jauh lebih dalam ketimbang agama lain, karena cintaku pada agama ini, agama yang seharusnya menjadi rahmatan lil’alamin. Namun karena telah dinodai oleh para kaum fundies, agama ini menjadi agama teroris. Jika aku diminta untuk mengkritisi agama lain, aku tak kan sanggup, karena aku tak tahu apa-apa. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Jika ada orang beragama lain mengkritik agamaku, aku hanya akan bergumam “You know NOTHING about my religion.” Islam akan tetap eksis sampai kapan pun, meski dihantam hujan asteroid sekalipun. Seperti aku pun percaya keyakinan-keyakinan lain akan tetap eksis pula (hilang satu tumbuh seribu), karena Allah yang membiarkan perbedaan-perbedaan ini ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kembali ke apa yang ditulis oleh Thoreau, pemerintah memang harus memiliki ‘conscience’ – &lt;b&gt;KESADARAN &lt;/b&gt;– bahwa yang mayoritas tidaklah selalu yang benar. (as always, it is much easier to say, it is very difficult to do.) Seperti yang selalu kutulis di artikel-artikel sebelum ini, akan kuakhiri tulisan ini dengan ide yang sama. “Lakum dinukum waliyadin.” Mari kita selalu menghormati satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Nana Podungge&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #0c343d; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;PT56 18.18 070310&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5841264684100996090?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5841264684100996090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/09/mayoritas-versus-minoritas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5841264684100996090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5841264684100996090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2010/09/mayoritas-versus-minoritas.html' title='Mayoritas versus Minoritas'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/TI4FhLcjs_I/AAAAAAAABdA/XfKlPm2i2qI/s72-c/majority-scales.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5130360887755584547</id><published>2009-03-12T17:14:00.002+07:00</published><updated>2010-09-13T22:34:37.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>Nikah siri</title><content type='html'>&lt;span style="color: #000099; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;The following is an old post of mine; originally posted on June 29, 2006 at:&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="font-family: garamond,adobe garamond; font-weight: bold;"&gt;http://afemaleguest.blog.friendster.com/2006/06/nikah-siri/&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;I almost forgot that I have written about NIKAH SIRI when then someone wrote a comment on it. Perhaps because recently many people and ulema are talking about this 'phenonema'.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;So? Enjoy reading it, please. :) To read the comment of the visitor, just visit the above site address.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;Aku barusan membaca artikel yang berjudul “Praktik Nikah Siri, Banyak Ruginya…” oleh Mariana Aminuddin di http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=feature%7C-20%7CX&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt; Kalau orang berpikir bahwa hak-hak dan kewajiban yang akan mereka dapatkan dari sebuah pernikahan siri sama dengan pernikahan yang dilakukan secara legal (read =&amp;gt; legal menurut negara, tercatat di Catatan Sipil, maupun di KUA), terutama bagi kaum perempuan, jelas itu salah. Karena tidak tercatat secara resmi di kantor apapun milik negara, jelas kaum perempuan tidak akan mendapatkan hal-hal yang mereka harapkan seperti ketika mereka menikah secara resmi (e.g. biaya untuk kehidupan sehari-hari, warisan, pengakuan atas adanya anak yang lahir, dll.)&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;Sehingga, kalau tidak siap dengan itu semua, ya, jangan pernah mau berpikiran untuk melakukan nikah siri.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;Dalam kenyataan, seorang perempuan yang menikah secara resmi pun terkadang tidak mendapatkan hak-hak mereka, misal: pengakuan anak. Berapa banyak kasus di sekitar kita yang telah kita dengar ketika seorang suami tiba-tiba saja tidak mengakui anak yang dilahirkan oleh istrinya sebagai anaknya? Dengan berdalih segala macam, laki-laki banyak yang melarikan diri dari tanggung jawab ini. Contoh lain: uang bulanan. Banyak laki-laki yang tiba-tiba merasa tidak lagi perlu memberi nafkah karena dia anggap istrinya tidak lagi memerlukannya setelah si istri bekerja dan mendapatkan gaji yang sekiranya mencukupi keperluan sebulan. Contoh lain: setelah terjadi perceraian, hukum di Indonesia mewajibkan sang ayah untuk tetap membiayai kebutuhan sang anak sampai si anak tumbuh dewasa. Kenyataan: berapa banyak laki-laki yang melenggang begitu saja setelah perceraian? &lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;Boro-boro memberi nafkah untuk membiayai kebutuhan, ingat saja tidak.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;Menurut hukum, laki-laki seperti ini bisa dituntut ke pengadilan. Kenyataan: berapa banyak kaum perempuan yang tidak mampu menuntut ke pengadilan karena mahalnya biaya untuk mengurusi hal ini?&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt; Nikah siri, menurut pendapatku, hanya melegalkan hubungan seks saja antara laki-laki dan perempuan. Banyak kaum laki-laki yang memanfaatkan praktik nikah siri ini hanya untuk memanjakan libidonya semata dan mata keranjangnya saja. Kaum perempuan yang mau dinikah siri harus ingat ini, sehingga harus tidak kalah cerdik dari kaum buaya darat ini.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt; (Mereka melakukan nikah siri KATANYA untuk menghindari zina. Padahal seberapa yakin mereka bahwa pernikahan siri yang hanya untuk main-main ini diridhoi oleh Allah? Padahal semua ini hanyalah buatan kaum laki-laki yang egois saja!)&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;br style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;" /&gt;&lt;span style="color: #660000; font-family: garamond,adobe garamond;"&gt;Untuk mengatasi hal ini, kaum perempuan harus mandiri dan percaya diri. Kalau sampai bersedia untuk melakukan nikah siri, ingatlah bahwa mereka harus MENDAPATKAN KEUNTUNGAN dari pernikahan secara sembunyi-sembunyi ini, karena laki-laki yang melakukannya pun hanya untuk medapatkan keuntungan bagi diri mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5130360887755584547?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5130360887755584547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/03/nikah-siri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5130360887755584547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5130360887755584547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/03/nikah-siri.html' title='Nikah siri'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3015810780019071673</id><published>2009-02-04T16:42:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T21:47:45.051+07:00</updated><title type='text'>Lomba Blog</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Dear friends,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Tahu kan ada lomba blog yang bertajuk INTERNET SEHAT AWARD 2009?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Seperti biasa, mumpung ada kesempatan untuk unjuk narsisisme, Nana ikutan dong. :)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Ini dia link ke blog-ku yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(0, 0, 153);"&gt;http://nana-podungge.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Please visit it, and leave comment, will ya?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;DItunggu yah?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;luv,&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Nana Podungge&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;C-net 21.46 040209&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: bold;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3015810780019071673?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3015810780019071673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/02/lomba-blog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3015810780019071673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3015810780019071673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/02/lomba-blog.html' title='Lomba Blog'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-4475204432494702024</id><published>2009-01-20T15:22:00.001+07:00</published><updated>2009-02-07T08:02:07.340+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>To Banyumeneng with love</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;Di awal kisah, ehm, sebenarnya aku ga begitu tertarik untuk mencoba track satu ini yang telah membuat beberapa dear b2w friends tergila-gila. “Rasanya ingin selalu kembali dan kembali ke sana,” kata salah satu yang ‘mbaurekso’ kawasan ini, Agung Tridja. LOL. So? Atas provokator siapakah akhirnya aku pun mencoba keperkasaan sepeda mungilku, semungil yang punya, di track yang serem, seru, dan ekstrim ini? LOL.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;“Can’t wait for that Ma’am...” kata Eka di salah satu postinganku di MP. Maksudnya, he cannot wait to be my savior again, after being one in our trip to Maron. Lah, yang mau jadi savior ku aja cannot wait, mosok akunya melempem?&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Akhirnya, itulah provokasi originalku mengikuti adventure kali ini, selain setelah Ipoet menyatakan diri mau menemaniku, agar aku tidak menjadi the only female adventurer. Maklum, aku masih ingat kata-kata seorang teman yang bilang, “Perjalanan ini akan memakan waktu lebih cepat kalau ga ada ini ini ini ...” sambil nunjuk ke para makhluk cewe. Lah, aku kan jadi ga enak hati? Kalau aku menjadi satu-satunya ‘scapegoat’ perjalanan memakan waktu lama?  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Minggu 18 Januari 2009 aku meninggalkan rumah sekitar pukul 05.00, setelah sms Ipoet 30 menit sebelumnya, dan miscall pukul 04.57. Baru sampai di jembatan sungai Banjirkanal, ada sms masuk. Kukira dari Ipoet, ternyata dari Ardian—or Ian for short—a student of mine at LIA. “Ma’am, udah berangkat? Jadi kan kumpul di pom bensin Kedungmundu?” Ealah, Ian malah jadi ikut, padahal kemarin waktu kusms, dia ga konfirmasi mau ikut atau engga. Akhirnya aku pun tambah semangat gowes menuju meeting point di SPBU Kedungmundu.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Sampai di pertigaan Mrican – Lamper, aku berhenti untuk nelpon Ipoet karena dia belum kelihatan di situ. Eh, pada saat yang sama Erwin muncul dan menyapaku, “Mbak Nana!” Akhirnya aku berangkat ke SPBU Kedungmundu bareng Erwin, setelah Ipoet sms, “Aku tak mandi dulu ya mbak?” G-U-B-R-A-K!!!  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Erwin was the first teacher of mine bagaimana menaklukkan tanjakan Kedungmundu, warming up sebelum naik bukit Banyumeneng.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Sesampai di SPBU, sudah ada mas Ndaru, Bambang RL, Arif RL, Didit (koncone sopo rek? Lali aku), beserta Ian dan beberapa temannya yang masih malu-malu duduk agak berjauhan dari tempat berdiri sang provokator utama, sang motivator yang selalu bilang, “Bisa ... bisa ...” “Mana ada yang ga bisa oleh seorang Ndaru?” kataku setengah ngomel setengah kagum dengan semangatnya. LOL.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Beberapa peserta lain yang berdatangan kemudian adalah Cahyo, Yudhi, Eka (bujubune, dia pakai kaos bergambar salah satu cewe manis yang naik sepeda onthel, hasil jepretan waktu joint event SOC, SLOWLY, dan b2w Semarang!!!) Darmawan, Pak Budi Seli yang datang bareng mas Nasir, my savior on my trip to Kedungjati. Wah, aman lah aku ini, dikitari my two saviors, plus sang provokator a.k.a motivator, dua teknisi dari RL, and the others. Setelah Ipoet datang sekitar pukul 06.10, rombongan pun mulai melaju ke arah yang dituju.&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/upload/SXXQ4QoKCq0AADlzDLo1"&gt;&lt;img class="alignright" src="http://images.afemaleguest.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SXXQ4QoKCq0AADlzDLo1/Bambang.jpg?et=%2BGjJ7rzA8iQlixvgVkMNzg&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Baru memasuki kawasan off-road kita sempat berhenti sejenak (some friends sempat mampir ke sebuah toko membeli perbekalan karena tiba-tiba peserta ketambahan enam anak SMP/SMA), mas Ndaru yang punya keahlian provokasi (Absolutely we cannot say NO to him when this skill of his appears LOL), meminta Bambang RL untuk memperbaiki shifter, dll agar sepeda bisa kupakai dengan lancar, terutama waktu di tanjakan. “Tanjakannya lumayan ekstrim, kasihan mbak Nana kalau ga bisa pol mengganti gear ke nomor 1,” katanya. &lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/upload/SXXRSwoKCq0AADlzDOI1"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://images.afemaleguest.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SXXRSwoKCq0AADlzDOI1/tanjakan.jpg?et=apZNbE1d0K2v8b2Wv4pGiQ&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Perjalanan cukup lancar sampai di puncak tanjakan, sebelum sampai di gedung segitiga biru. TTB jelas juga dong. LOL. Kalo terlewat TTB, bakal orang-orang ga henti-henti mengagumiku. LOL. LOL. Aku setengah prihatin sebenarnya melihat Ian dkk yang naik sepeda ala kadarnya, tentu perjalanan yang amat berat buat mereka. Apalagi this was their first off-road cross country trip.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Meskipun adikku sudah bilang bahwa turunannya tajam dan berbatu-batu besar, setelah trip dia ke Banyumeneng beberapa bulan lalu, waktu aku mulai menuruni aku sempat kaget dan ngomel, “Gile, kenapa jalan kayak gini dipilih ya?” kataku pada Ian, yang kebetulan berada tepat di belakangku. “Rem sepedamu bagus kan?” tanyaku padanya memastikan, ngeri membayangkan dia terjungkal atau sejenisnya itu. I must be responsible to his parents! &lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/upload/SXXSuwoKCq0AAGF1v481"&gt;&lt;img class="alignright" src="http://images.afemaleguest.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SXXSuwoKCq0AAGF1v481/bisa.jpg?et=tIvK3eAyTT3hb1ppTaz%2BKg&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Untunglah aku memakai sarung tangan, sehingga meskipun kesemutan, seperti yang dikeluhkan Cahyo di postingannya, aku baik-baik saja.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Selama perjalanan, kedua saviors of mine bergantian menemaniku, maupun memberikan peringatan kapan jalanan licin, kapan aku sebaiknya TTB karena turunan yang sangat curam, dll.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Di tengah ladang yang tidak jelas milik siapa, ada dua orang perempuan yang memberitahu ada jalur lain yang bisa dilewati, selain jalur yang dipilih oleh mas Ndaru, karena mereka bilang, jalur yang dipilih mas Ndaru bakal melewati sungai, dan berhubung sedang musim hujan (udah untung dua hari hujan berhenti turun pada hari Jumat 16 Januari 09 dan Sabtu 17 Januari 09) air mencapai setinggi paha. Aku dan beberapa teman lain sempat bingung, sementara mas Ndaru sudah menghilang di depan. Tatkala kita bingung-bingung, tahu-tahu sang motivator balik. Kirain dia akan bilang, “Cari jalan alternatif lain. Di depan ada sungai banjir.” Ternyata dia bilang, “Bisa ... track bisa dilewati. Ayo lanjut terus...” “Apa sih yang ga bisa bagi seorang Ndaru?” kataku ke Erwin yang waktu itu berdiri tak jauh dariku. Setelah mengucapkan terima kasih dan pamitan kepada kedua perempuan yang baik hati itu, aku dll melanjutkan perjalanan menyusul mas Ndaru.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Everybody else out of the blue became my saviors tatkala sampai perjalanan melintasi sungai yang airnya setinggi pahaku dengan arus yang cukup deras. Teringat peringatan kedua perempuan yang kulewati tadi, sempat pula mengutuki sang motivator yang selalu penuh semangat menerjang semua rintangan. “Wong ada jalur lain yang lebih enak, kenapa pula melewati sungai ini?” (“Tak kutuk jadi kesayangan semua anggota b2w...” maksudku. LOL.)&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Namun waktu aku mulai menuruni jalanan berlempung setinggi setengah betis, dan menghadapi sungai dengan arus yang cukup deras, aku teringat salah satu adegan di dalam INTO THE WILD, tatkala Christopher McCandles akan meninggalkan bus rongsokan tempat dia beraktifitas seorang diri di Alaska, rencananya untuk kembali ke dunia peradaban yang kejam terhalang oleh sungai yang airnya dalam dan arusnya deras. Sungai yang sama dia lewati beberapa bulan sebelumnya, waktu dia pertama kali datang, air hanya semata kaki, dan lebarnya tak lebih dari dua meter. Akhirnya daripada terbawa arus sungai yang deras, Chris pun kembali ke bus, kembali ke masa ‘pertapaannya’ yang sunyi, namun jauh dari ‘mean society’.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Beda dengan Chris, aku tidak sendirian. Aku dikitari orang-orang yang caring yang mengulurkan tangan untuk membimbingku menyeberangi sungai, “Jangan lihat ke arus yang deras mbak Nana ... lihat aja ke arah pohon-pohon yang ada di seberang sana itu. Atau pandanglah mas Dar yang menunggu di situ. Yang penting jangan lihat bawah, jangan lihat ke arus air.” kata mas Nasir (atau mas Ndaru ya? lupa. Saking gelinya karena aku diperlakukan seperti anak kecil. LOL. But I love it a lot.), yang mengulurkan tangannya kepadaku, setelah aku melepaskan uluran tangan Pak Budi Seli, yang tegak berdiri di sisi sungai untuk menceburkan diri ke sungai; yang memanggul sepedaku sampai ke seberang (Arif RL), yang asik mengabadikan moment-moment terindah ini lewat kameranya (Cahyo).  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;“Wong ono dalan sing luwih enak kok malah do milih nyemplung kali...” komentar seorang laki-laki, berusia sekitar 50 tahun waktu melihat aku menyembul dari balik pohon-pohon. Dia tentu telah melihat kesibukan di bawah sana, di sungai tatkala teman-teman memindahtangankan sepeda dari satu orang ke orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;“Lha wong sing digolekki yo sing koyok ngono kuwi, petualangan,” kata sang Bapak yang memiliki warung sederhana tempat kita muncul dari jalan setapak (yang berlumpur setinggi setengah betis, di musim hujan begini), setelah kita menyeberangi sungai.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Aku pun menyahut, “Leres niku pak. Saestu.” &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Setelah bersih-bersih kaki menggunakan air sumur yang ada di dekat situ, kita pun melanjutkan perjalanan. Salah satu track memorable lainnya adalah waktu melewati jalan setapak yang tak lagi terlihat jalan setapaknya karena telah dipenuhi dengan rimbunan rumput yang setinggi manusia. (“Di musim kemarau ga kayak gini mbak! Ga ada rumput yang setinggi itu sehingga kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan kita.” Kata Ipoet. Baru kepikiran sekarang waktu nulis, untung ga ada ular yah? )&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Tidak lama setelah itu, RD sepeda Eka putus. (oh my poor savior. LOL.) Sebelum melewati sungai, di jalan turunan yang cukup curam, pelek depan sepeda Didit benjut gara-gara dia nabrak pohon. Tengarai mas Ndaru, Didit ga mampu menahan emosi kegirangan dengan turunan seperti itu, sehingga rada meleng, dan telat mengerem waktu akan roda depan akan mencium pohon. Dengan nada ‘otoriter’ yang tidak bisa dijawab TIDAK, mas Ndaru memanggil seseorang yang kebetulan lewat naik sepeda motor, “Mas, tolong nih, kita butuh ojek. Bawa sepeda mas ini ke rumahnya Rp. 20.000,00 ya?” bisa dipastikan orang itu pun langsung bilang, “Iya...” LOL.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Selepas Pucanggading, di pertigaan rombongan terbagi menjadi dua, ke kanan menuju arah Jalan Majapahit, sedangkan yang ke kiri ke arah Kedungmundu. Aku memilih jalur yang landai saja, sehingga aku pun belok ke kanan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Aku, Ipoet, Cahyo, Eka, Yudhi, dan Erwin mampir ke rumah Darmawan. Eka yang terpaksa menaiki sepeda rakitan terbarunya dengan single speed sudah terlihat teler. Aku semula heran mengapa Erwin memilih ke jalur kanan, bukannya dia lebih dekat lewat Kedungmundu? Ternyata dia berinisiatif menitipkan sepedanya di rumah Darmawan, dan pulang ke Jatingaleh naik taksi. Yudhi yang sudah sama telernya (ga ngebayangin dia harus naik lewat Gombel) ngikut bareng Erwin.  &lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Aku mengaku masih segar bugar sehingga memutuskan untuk gowes sampai rumah. Meskipun track Banyumeneng jauh lebih ekstrim, kelelahan yang menimpaku tidak separah sewaktu XC ke Kedungjati, 80km!!! Kali ini sampai rumah, aku masih punya tenaga full untuk mencuci pakaian kotor selama satu minggu, my weekly chore.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Sebelum sampai rumah, sempat mampir ke tempat cucian sepeda motor untuk mencucikan si orange. Ini kali kedua aku ke situ (dekat rumah sih). Yang pertama dulu aku bawa WINNER ke situ, dimana tak satu pegawai pun semula berniat mencucinya. Bukannya mencuci sepeda jauh lebih ringan yah dibanding sepeda motor? Aku sendiri heran.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;“Kemarin seru banget ya Ma’am?” sms Ardian beberapa jam lalu.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;“Absolutely agree!” jawabku.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;Since I dubbed everyone else my savior in this trip, I entitled this trip, “To Banyumeneng with love.”&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;See you all guys on our next trip.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;" class="western" lang="id-ID"&gt;PT56 00.14 200109&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-family: comic sans ms;"&gt;For the pictures, just visit the following site:&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;http://cahyofany.multiply.com/photos/album/20/Banyu_Meneng_Mud_Edition#&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-4475204432494702024?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/4475204432494702024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/to-banyumeneng-with-love.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4475204432494702024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4475204432494702024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/to-banyumeneng-with-love.html' title='To Banyumeneng with love'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5917621391970278490</id><published>2009-01-12T15:30:00.001+07:00</published><updated>2010-09-13T22:32:51.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seksualitas'/><title type='text'>Sex Education</title><content type='html'>&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tatkala mandi di shower room (tentu saja khusus untuk perempuan) setelah berenang tadi pagi, ada seorang perempuan masuk bersama anak laki-lakinya, mungkin berusia tiga tahun. Sang ibu memandikan anaknya, yang mungkin belum dia percayai bisa membersihkan diri sendiri. Terjadi percakapan ‘khas’ orang tua kepada anak kecilnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Ayo, cuci rambutnya sampai bersih. Nah, begitu, rambut digosok-gosok di bawah pancuran air. Kalau tidak bersih, nanti tokeknya datang loh ke adik. Tapi kalau mandinya bersih, tokek tidak akan datang.” Kata sang ibu.&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Jadi adik harus menggosok rambut yang bersih ya Ma?” komentar si anak.&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Iya ...” sahut sang ibu, sambil ikut menggosok rambut sang anak menggunakan shampoo.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Setelah itu, dia pun menyabuni tubuh anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku bayangkan si anak laki-laki kecil ini kelak akan tumbuh menjadi seseorang yang takut pada tokek. Dia akan belajar membersihkan diri bukan demi kesehatan kulit maupun tubuh, melainkan karena merasa takut dikunjungi seekor tokek yang menurutku berwajah menyeramkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Ketika aku sedang ganti baju di dalam sebuah bilik, aku dengar suara seorang anak kecil laki-laki lain,  &lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Ini bukan tempatku mandi Ma! Tempatku di kamar sebelah. Kan aku laki-laki? Masak aku mandi di kamar bilas perempuan?”&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Lho, kamu kan belum bisa mandi sendiri? Dan Mama ga boleh masuk ke kamar bilas laki-laki. Dan karena kamu masih kecil, ga papalah kamu mandi di sini, bersama perempuan.”&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku ingat sebuah artikel yang pernah kubaca mengatakan bahwa salah satu bentuk sexual education yang bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang masih kecil adalah tatkala berada di tempat umum ajaklah anak laki-laki ke kamar mandi laki-laki, sehingga dia tahu bahwa dia berjenis kelamin laki-laki. Demikian juga anak perempuan harus diajak ke kamar mandi perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam kasus di atas, si anak sudah benar, dan bersifat kritis yang cerdas. Sang ibu yang kurang paham pentingnya pendidikan seks yang harus diberikan kepada sang anak sejak kecil. Batasan “kamu masih kecil, jadi boleh saja masuk ke kamar mandi perempuan meskipun kamu laki-laki” tidak jelas sampai usia berapa. Bisa jadi ini akan terus berlaku sampai si anak sudah besar. Atau, tatkala dia masih merasa belum mampu melepaskan diri dari bayang-bayang sang ibu, dia akan mengalami masa sulit tatkala harus masuk ke kamar mandi laki-laki (once again: di tempat umum), dia akan merasa tidak nyaman dengan ‘pemaksaan’ itu.  &lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Kebetulan aku memiliki dua kenalan laki-laki yang memiliki pengalaman masa kecil yang membekas pada psyche mereka. Yang satu, sangat terobsesi dengan kaki perempuan. Dia akan sangat merasa ‘aroused’ tatkala melihat kaki perempuan. Sepanjang yang dia ingat, waktu kecil kalau dia menangis, dia akan memeluk kaki ibunya dan menangis tersedu-sedu di situ. Hal ini ternyata memberinya perasaan nyaman. Sekarang, dengan mudah dia tertarik melihat kaki perempuan, dan ada hasrat untuk memeluk kaki itu, terutama kalau dia tertarik kepada sang perempuan itu secara keseluruhan, tidak hanya fisik, namun juga sifat dan intelektualitasnya.  &lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Yang satu lagi, terobsesi dengan diikat stagen, tatkala melakukan hubungan seks. Dia akan mendapatkan orgasme yang sempurna tatkala pasangan seksnya mengikat tubuhnya dengan stagen—termasuk tangannya, kecuali penisnya—kemudian ‘memperkosanya’ dengan lembut. Atau sebaliknya, dia mengikat tubuh pasangannya, kecuali bagian payudara dan vagina, kemudian berhubungan seks dengannya. Namun tanpa kekerasan, misal: pukulan atau sejenis kekerasan yang lain. Latar belakang obsesi ini adalah tatkala dia kecil, dia selalu keluyuran bermain, yang membuat ibunya marah. Ketika dia kembali, sang ibu akan mengikat tubuhnya dengan stagen, di salah satu kaki meja.&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nampaknya, kedua laki-laki ini serasa kembali ke hangatnya rahim sang bunda dengan cara yang berbeda: memeluk kaki, atau diikat/mengikat dengan stagen.&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;Kembali ke dua kejadian di kamar bilas perempuan di kolam renang Paradise Club Semarang. Aku berpendapat alangkah baiknya kalau sang bapak yang memandikan kedua anak laki-laki itu, di kamar bilas laki-laki. Mengurusi anak bukan hanya pekerjaan istri kan? Dan, tanpa embel-embel ancaman: ‘kalau ga bersih, nanti tokek datang untuk menggigitmu!’  &lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="western" lang="id-ID" style="color: #cc33cc; font-family: trebuchet ms;"&gt;PT56 20.45 110109&lt;/div&gt;&lt;div class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5917621391970278490?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5917621391970278490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/mandi-dll.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5917621391970278490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5917621391970278490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/mandi-dll.html' title='Sex Education'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3328445138296765678</id><published>2009-01-10T07:47:00.001+07:00</published><updated>2010-09-13T22:48:09.701+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistisisme'/><title type='text'>llmiah versus Mistis</title><content type='html'>&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bahwa seorang Andrea Hirata adalah seseorang yang menjunjung tinggi sains merupakan sesuatu yang sangat jelas terlihat dalam keempat novelnya yang tergabung dalam tetralogi LASKAR PELANGI. Alasannya tentu sangat jelas: latar belakang pendidikan yang dia terima di Universitas Sorbonne Prancis, dimana dia bergaul dengan para ilmuwan tingkat tinggi dunia. Dalam tulisan ini, aku akan lebih fokus ke MARYAMAH KARPOV, novel keempat, karena buku inilah buku yang terakhir kubaca. (You can conclude that I am just lazy to browse the other three novels to prove my statement, to prepare this post of mine. LOL.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak pantai desa yang terpencil, yang mendapatkan pendidikan master dalam bidang ekonomi di sebuah universitas paling bergengsi di Eropa, bermimpi untuk membuat perahu dengan tangannya sendiri! Mimpi Ikal ini bisa menjadi nyata karena dorongan dan dukungan kuat dari sang super genius, sahabatnya di kala duduk di bangku SD dan SMP. Lintang—sang Isac Newton-nya Ikal—menjadikan impian itu menjadi nyata dengan perhitungan matematika yang njlimet. Ikal—yang mengaku selalu berada di bawah bayang-bayang kegeniusan Lintang di bangku sekolah—menggabungkannya dengan kerja keras yang tanpa ampun, dengan iming-iming akan menemukan BINTANG KEJORA dalam kehidupan cintanya, A LING. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pertanyaan selanjutnya adalah: cukupkah ilmu membuat kita mampu memahami segala misteri dalam hidup ini?&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jawabannya ada pada mozaik 60 yang berjudul NAI. Mahar—sahabat Ikal yang lain—berada pada kutub yang berseberangan dengan Lintang yang memandang segala hal dari segi ilmiah. Kebalikannya, Mahar mengimani hal-hal mistis yang tidak akan pernah masuk akal para ilmuwan di Universitas bergengsi manapun di dunia ini. Hal-hal mistis yang bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan akan menceburkan seseorang menjadi musyrik, ahli neraka yang berada paling di keraknya. Dalam NAI, Mahar mementalkan keimanan Ikal kepada segala yang berbau ilmiah, sehinga terpaksa mempercayai hal-hal mistis yang tidak masuk akal. Ada hal-hal dalam kehidupan ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi ilmu. Kebalikannya, ada hal-hal yang dengan mudah terpecahkan jika kita menyandarkan kepercayaan diri kepada ilmu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ketika membaca perpaduan dua hal ini—yang ilmiah dan masuk akal, konon ciri khas kehidupan orang-orang modern; berbanding lurus dengan yang mistis, konon ciri khas kehidupan orang-orang zaman dahulu kala—mengingatkanku pada BILANGAN FU, novel ketiga karya Ayu Utami. Ayu Utami menjelaskannya dengan sangat sederhana: POINT OF VIEW, alias cara pandang yang berbeda. Orang-orang modern memandang kemistisan—misal: seseorang bisa memelet orang yang mencuri hatinya hanya dengan menjampi-jampi air ludah yang dikeluarkan oleh orang tersebut; atau bahwa Nyi Roro Kidul tetap hidup dan berkuasa di pantai Selatan dan selalu mempersuami semua raja-raja di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta, ataupun Keraton di Kasunanan Mangkunegaran—dengan keukeuh menggunakan kacamata orang modern yang bersandar pada keilmiahan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Cara mudahnya bagaimana kita bisa menghasilkan ‘pemandangan’ yang berbeda tatkala kita memandang satu permasalahan yang sama tatkala kita memandang dari sisi yang berbeda: lihatlah Tugumuda—the landmark of Semarang—dari arah Wisma Perdamaian, dan dari lantai atas Lawangsewu. Atau contoh lain: dalam salah satu adegan dalam film DEAD POETS SOCIETY, John Keating, sang guru Bahasa dan Sastra Inggris yang baru, meminta siswanya untuk naik meja dan berdiri di atasnya, memandang suasana kelas dari arah yang berbeda. “You’ll find a very different view, that is very interesting.”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kalau kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa pentingnya memahami segala sesuatu dari kacamata yang berbeda, untuk menuju kehidupan yang lebih damai di antara kita semua, makhluk penghuni planet Bumi ini. Yang selalu menggunakan kacamata kuda yang bernama “patriarki”, pandanglah—misal, permasalahan poligami—dari kacamata feminis. Contoh lain: para religious snob—from any celestial religion—memandang bahwa Tuhan itu mencintai semua umat-Nya tidak pandang bulu, gunakanlah kacamata para kaum sekuler. Para kaum heteroseksual yang merasa diri ‘normal’, cobalah menggunakan kacamata kaum homoseksual. Dalam hal ini, para religious snob pun bisa mengaplikasikannya, sehingga tidak selalu menyerang kaum homoseksual dari satu kacamata saja, dari satu interpretasi ayat kitab Suci saja. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jika para pengunjung dan pembaca blogku ‘membalikkannya’ dengan mengatakan, “Na, cobalah kamu pahami kasus poligami bukan dari interpretasi Alquran yang feminis, namun dari interpretasi yang patriarkal...” oh well, aku telah hidup menggunakan kacamata TUNGGAL interpretasi Alquran yang patriarki selama 35 tahun takala aku mendapatkan pencerahan dari ideologi feminisme, so, I do understand it very well.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cara pandang yang ilmiah dan mistis (baik dalam MARYAMAH KARPOV maupun BILANGAN FU), well, hidup ini memang sangatlah kaya dan kompleks. Mari kita menikmatinya dengan cara saling toleran satu sama lain, untuk menciptakan kehidupan yang lebih indah dan damai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;LL Tbl 11.34 100109&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3328445138296765678?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3328445138296765678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/llmiah-versus-mistis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3328445138296765678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3328445138296765678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/llmiah-versus-mistis.html' title='llmiah versus Mistis'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-4109415717191418064</id><published>2009-01-08T09:04:00.001+07:00</published><updated>2009-01-08T14:55:54.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='top ten blogger'/><title type='text'>Euphoria of TOP TEN BLOGGER</title><content type='html'>&lt;font style="color: rgb(102, 0, 0);" size="3"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;Masih dalam euforia TOP TEN BLOGGER 2008. Ehem ... &lt;/span&gt;&lt;img style="font-family: ms mincho,mincho;" src="http://images.multiply.com/common/smiles/teeth.png"&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;In in the previous post I wrote I was indebted to many bloggers who have given the link to my blog, as well as my blog visitors, absolutely I still have to thank many others.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;At the first place, my ‘other half’, as my first audience of my writing. I started emailing him regularly in the middle of my writing thesis, especially the whole 2005. When I got stuck, writing him emails was the nice refreshing, starting from merely about ‘being trapped in the rain’, my activities as a college student, Sex and the City, our favorite serial, my trip from Jogja to Semarang by bus where I met a weirdo—for me, until more serious topic, such as my interpretation of THE HOURS movie, that he did not finish reading LOL (“It is boring, darling, I am sorry,” he said apologetically. LOL.), the first article I posted in my first blog (I ‘developed’ it from the email I sent him), life (where I questioned a so-called philosophical rhetoric “What God made this universe for?” I believed he found it boring too), the core of my thesis, about the phenomenon of woman madness in the middle of nineteenth century America, etc. My obligation to myself to read a lot to gather ideas to write more various emails to my ‘other half’ so that he would not get bored when reading my abundant emails. (But still he got bored with the very serious topic. LOL.)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;Second, my own study at American Studies Graduate Program. The weekly assignments to write papers made me accustomed to write. After graduating, writing became the best medication for my restlessness.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;Third, my darling Abang that has made me a ‘milder’ feminist.  Our long discussion via thousand word emails has a bit changed me from a somewhat radical feminist to be milder. I myself now sometimes find my writing ‘biting’ and maybe hostile toward men; especially those writings I posted before August 2006 (the time when out of the blue my Abang came into my life, and “offered friendship”, “Hey Na, your writing is awesome. Let us be friend.” LOL.) As one fan of my writing, he keeps supporting me to write. And when I get annoying comment from ‘imbeciles’, he is also the best one to ask for help, to write counter-comment, to ‘defend’ me. (That’s what having an Abang is for, right? LOL.)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;Next, Fatih Syuhud who has found my blog and featured me as “the blogger of the week”. Until now we have never had any personal greeting to each other. LOL. He himself is a great blogger who is very diligent to write, and also visit many blogs, analyze them one by one, and using his own parameter (well, I don’t know whether there are a group of people behind his activity selecting “the blogger of the week”). I found his feature of my blog fascinating, knowing someone read my posts thoroughly and carefully, and then write about me. It is really fun to know how other people perceive me from reading my blog only. His broad-minded and open-minded characters (to ‘read’ me) have resulted in a post that I love.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;One local newspaper whose articles (especially about women) often make me upset, signaling that the writers only know the surface of women movement, or the vision of the newspaper is still gender-biased. Because of that, I am triggered to write. (“True women = modern feminist?” is only one example.)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;People around me—especially workmates, students, neighbors, as well as my family members—who have sometimes inspired me to write a certain issue. Some writings of mine are also sometimes inspired by some discussion in some mailing lists I join.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;Absolutely I am also grateful to my biggest blessing from God, my Lovely Star. Silently she supports me to spend time to write, the time that sometimes she needs me to lend my ears to her. But as always, she is understanding. &lt;/span&gt;&lt;img style="font-family: ms mincho,mincho;" src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png"&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;And many others I cannot mention one by one.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;-- the narcissist Nana –&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;&lt;span style="font-family: ms mincho,mincho;"&gt;PT56 23.55 070109 &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-4109415717191418064?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/4109415717191418064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/euphoria-of-top-ten-blogger.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4109415717191418064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4109415717191418064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/euphoria-of-top-ten-blogger.html' title='Euphoria of TOP TEN BLOGGER'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5041898867930572086</id><published>2009-01-08T08:34:00.001+07:00</published><updated>2010-09-13T22:53:38.452+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perempuan'/><title type='text'>Surplus Perempuan?</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Lagi, dari postingan lama, Desember 2006, untuk mengkounter pernyataan bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, sehingga laki-laki minta dipahami untuk melakukan poligami. (ngomong aja terus terang kalau ga bisa nahan nafsu kenapa??? pakai alasan 'membantu' perempuan segala.)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Dari Milis Perempuan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Subject: JIL Statistik sex ratio dan poligami&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Lupakan sementara soal halal-haram atau legal-tidaknya poligami. Mari kita lihat apakah ‘maksud baik’ dari poligami punya dasar atau relevansi. Tujuan sosial dari poligami (sering dilontarkan) adalah ‘menolong’ perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Asumsi dasar:&lt;br /&gt;———————&lt;br /&gt;1. Cara yang paling efektif untuk ‘menolong’ kaum perempuan adalah dengan menyediakan’ suami sebagai pelindung dan pencari nafkah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;2. Secara implisit diasumsikan bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki sehingga terjadi ‘kelebihan penawaran’ dari perempuan (dan sebaliknya, ‘kelebihan permintaan’ atas laki-laki).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Fakta:&lt;br /&gt;———&lt;br /&gt;1. Sex ratio (laki2/perempuan) di Indonesia, berdasarkan Sensus Penduduk 1980 = 101. Untuk setiap 100 perempuan ada 100 laki2. Dalam angka absolut, ini sama dengan ’surplus’ laki-laki lebih dari 630 ribu (tahun 2000).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;2. Sex ratio untuk Muslim saja juga sama dengan nasional = 101 (jika umat Islam dari seluruh usia dipasangkan, masih ada sekitar 460 ribu laki-laki Muslim yang tidak mendapat pasangan di tahun 2000).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;3. Rasio gender menjadi terbalik (populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki) di usia 60 tahun ke atas. Untuk populasi Muslim di atas 60 tahun, rasionya adalah 90 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Semakin tua kelompok usia, semakin banyak populasi perempuan. Ini adalah kecenderungan yang berlaku di seluruh dunia, karena memang&lt;br /&gt;tingkat harapan hidup perempuan lebih tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;4. jumlah perempuan juga lebih banyak di antara mereka yang berpendidikan rendah (lulusan SD atau di bawahnya), khususnya yang ada di pedesaan. Tanpa memandang agama, rasio gender bagi mereka yang paling untung hanya lulus SD adalah 88 di perkotaan dan 94 di pedesaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;5. Lebih banyaknya populasi laki-laki dibanding perempuan bukan hanya terjadi di Indonesia. Ini adalah kecenderungan umum di negara-negara berkembang. Bahkan, negara-negara Muslim justru punya rasio gender yang sangat tinggi. Rasio gender Di Saudi Arabia, Oman, Bahrain dan Uni Emirat Arab lebih dari 120. Bahkan di Kuwait dan Qatar, rasionya lebih dari 150, tertinggi di seluruh dunia. Di dua negara yang dalam banyak literatur menjadi rujukan masyarakat paling bias gender, China dan India, rasio gendernya hanya 105, masih lebih rendah dibandingkan negara-negara itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Implikasi:&lt;br /&gt;————–&lt;br /&gt;1. Tidak betul bahwa perempuan lebih banyak dari laki-laki.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;2. Fakta statistik ini cukup untuk menggugurkan asumsi yang mendasari argumen ‘motif sosial’ poligami.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;3. Jadi, kalaupun poligami itu hendak dicari justifikasinya secara ekonomi, maka harusnya para pria yang ingin berpoligami memperistri janda miskin berusia 60 tahun ke atas dan setinggi-tingginya hanya lulusan SD. Barulah poligami memiliki relevansi ekonomi sebagai cara untuk menolong perempuan lepas dari kemiskinan. Bukan gadis atau janda muda (apalagi yang lulusan &lt;br /&gt;PTN dengan IPK 3,6 yang secara statistic tidak mungkin termasuk warga miskin).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;4. Meskipun demikian, apakah poligami adalah cara paling efektif? Kenapa tidak mekanisme subsidi, zakat atau transfer langsung?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;5. Kalau argumennya adalah mereka tetap butuh suami sebagai kepala keluarga, kenapa tidak membantunya dengan mencarikan janda-janda miskin suami yang belum beristri dan kemudian menjadikannya keluarga angkat untuk dinafkahi?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;——————&lt;br /&gt;1. Argumen ‘motif sosial’ poligami tidak punya justifikasi empris. &lt;br /&gt;Setidaknya relevansinya di era sekarang tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;2. Mungkin (mungkin!) poligami halal. Tapi at best, secara sosial ia adalah tindakan sia-sia. Kalau untuk hal2 lain Islam mengatakan bahwa yang sia-sia bisa menjadi haram, sama halnya dengan poligami toh?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;3. Yang masih tersisa adalah argumen ‘motif syahwat.’ Bukan motif sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;b&gt;Catatan kaki:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;——————-&lt;br /&gt;1. Data yang digunakan adalah data SP 2000. Kita bisa beranggapan rasio gender tidak akan banyak berubah dalam 6 tahun. Tapi kalaupun berubah, trend justru menunjukkan bahwa makin lama jumlah laki2 makin banyak, dan sex ratio makin condong ke laki2 (’surplus’ laki2 makin besar dari tahun ke tahun).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;2. Di tahun 70-80an memang jumlah penduduk perempuan lebih banyak. Tapi paling rendah, rasionya hanya sekitar 97 perempuan per 100 laki-laki. Secara statistik ini tidak cukup untuk mendukung hipotesus ’surplus perempuan.’&lt;/div&gt;&lt;div class="multiply:no_crosspost" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5041898867930572086?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5041898867930572086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/surplus-perempuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5041898867930572086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5041898867930572086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/surplus-perempuan.html' title='Surplus Perempuan?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7441188461063716932</id><published>2009-01-06T16:12:00.001+07:00</published><updated>2009-01-08T14:57:10.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='top ten blogger'/><title type='text'>TOP TEN BLOGGER 2008</title><content type='html'>http://fatihsyuhud.com/2008/12/31/top-ten-blogger-indonesia-2008/&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;h1&gt;Top Ten Blogger Indonesia 2008&lt;/h1&gt;    &lt;p&gt;Posted on December 31, 2008 &lt;br&gt;Filed Under &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/category/blogger-indonesia/" title="View all posts in Blogger Indonesia" rel="category tag"&gt;Blogger Indonesia&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/category/indonesia/" title="View all posts in Indonesia" rel="category tag"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;,  &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/category/blogging/" title="View all posts in blogging" rel="category tag"&gt;blogging&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p&gt;&lt;a href="http://fatihsyuhud.com/wp-content/uploads/2008/12/top-blogger-indonesia-2008.jpg"&gt;&lt;img class="alignnone size-medium wp-image-2406" style="margin: 0px 10px 10px 0px;float: left;" title="top-ten-blogger-indonesia-2008" src="http://fatihsyuhud.com/wp-content/uploads/2008/12/top-blogger-indonesia-2008.jpg" alt="" border="0" height="130" width="87"&gt;&lt;/a&gt;The essence of blogging, as I put it as a jargon in my &lt;a href="http://afatih.wordpress.com/about/" target="_blank"&gt;Bahasa Indonesia&lt;/a&gt; blog, is to culturalize the tradition of writing and reading. Many Indonesians, like those who are from developing or underdeveloped nation, don’t have the habit of writing and reading. They talk a lot. Write and read less. And that’s why, some foreign academicians who come to Indonesia were a bit shocked to find out&lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2008/02/27/reading-habit-and-library-lesson-5-from-india/" target="_blank"&gt; the lack of reading and writing habit among Indonesians&lt;/a&gt; even within the so-called &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2008/02/27/reading-habit-and-library-lesson-5-from-india/" target="_blank"&gt;middle class family.&lt;/a&gt; The lack of reading naturally would end up in the lack of blog content “charisma”.&lt;br&gt; &lt;span id="more-2355"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt; There are a few exception, however. Those who can adopt a new positive tradition of modernity–in reading a lot. As a result they write many good articles, creating nice and unique posts and even making an enlightening comments in other blogs.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;That’s one reason among others why I’d like to dedicate this year’s Top Ten Blogger Indonesia 2008 specifically to those who consistently make a good content, and no less important, write relatively regularly. A content which is unique and enlightening. By so doing I hope what they have done will be emulated by others especially those bloggers who come later. It’s also my own way to appreciate and encourage those who passionately write good blog articles without worrying or thinking about traffics. A good content blog may not make a big traffic, and thus, a big impact in a short term, but certainly they will in a long shot.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Blogs has grown rapidly in Indonesia. Ten or even hundreds of blogs are born everyday. They start blogging for various reasons. Either way they are an asset to make the tradition of writing and reading blossom in the unlikely place like Indonesia in which the &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2008/02/27/reading-habit-and-library-lesson-5-from-india/" target="_blank"&gt;middle class hobby and dream is nothing but to have a nice house, fancy cars and the collection of Chinese old ceramic instead of books.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Last but not the least, there are so many good blogs with good content. It’s a pity that I can pick only ten. It should not be understood, therefore, that the others ten are less good. The links in the bloggers’ name will direct you to the &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/top-blogger-indonesia-of-week/" target="_blank"&gt;Blogger Indonesia of the Week review&lt;/a&gt; of a particular blogger from which you will find the blogger’s URL.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;The Top Ten Blogger Indonesia 2008&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/07/blogger-indonesia-of-the-week-40-nana-podungge/"&gt;Nana Podungge&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/03/blogger-indonesia-of-the-week-73-tasa-nugraza-barley/"&gt;Tasa Nugraza Barley&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2008/05/05/blogger-indonesia-of-the-week-83-rima-fauzi/"&gt;Rima Fauzi&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/07/blogger-indonesia-of-the-week-36-primadonna-angela/" target="_blank"&gt;Primadonna Angela&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2008/10/07/blogger-indonesia-of-the-week-86-agni-amorita/"&gt;Agni Amorita&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/12/13/blogger-indonesia-of-the-week-77-anita-carmencita/"&gt;Anita Carmencita&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;7. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/07/blogger-indonesia-of-the-week-57-mulya-amri/" target="_blank"&gt;Mulya Amri&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;8. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/01/blogger-indonesia-of-the-week-69-deden-rukmana/"&gt;Deden Rukmana&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;9. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2008/04/16/blogger-indonesia-of-the-week-82-sherwin-tobing/"&gt;Sherwin Tobing&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;10. &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/06/blogger-indonesia-of-the-week-20-dedy-w-sanusi/" target="_blank"&gt;Dedi W. Sanusi&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Happy New Year 2009 Everyone! Nothing like feeling anew and start afresh all the time! &lt;img src="http://fatihsyuhud.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" class="wp-smiley"&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7441188461063716932?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7441188461063716932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/top-ten-blogger-2008.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7441188461063716932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7441188461063716932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/top-ten-blogger-2008.html' title='TOP TEN BLOGGER 2008'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6214257401363130816</id><published>2009-01-06T15:54:00.001+07:00</published><updated>2009-01-08T15:02:31.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='top ten blogger'/><title type='text'>SURPRISE ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;How long have I been idle to write in my 'intellectual' blog located at http://afeministblog.blogspot.com ?&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Several months have passed since I started working as a school teacher that is really time-consuming (as well as energy-consuming!)&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;I have been complaining to myself due to this. So many complaints (seeing the injustice that happens to the marginalized ...) have been crowding my mind. &lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;But I can only complain because I am just a very bad time manager: I cannot manage my time well: teaching, teaching, and teaching, then reading, biking, swimming, and writing, not to mention my chores as Angie's mother (just imagine the abundant things a single parent must do).&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;And last two-week-end-of-year holiday, I COULD only write two articles ("Feminism" and "True woman = modern feminists?") I still cannot spare time to write my 'abundant ideas' triggered by watching INTO THE WILD, and about Irshad Manji, the Muslim feminist lesbian. &lt;/span&gt;&lt;img style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);" src="http://images.multiply.com/common/smiles/cry.png"&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;That's why what a surprise to find an email in my mailbox from someone I don't know personally, to congratulate me. What congratulation is for? Curious, I opened it. And ... A Fatih Syuhud, the 'king blogger' in Indonesia who 'found' my blog in 2006 and featured me in his blog, has selected the TOP TEN BLOGGER 2008. And ... my blog is in among those TOP TEN BLOGGER 2008.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;W-O-W ...&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Here is the link. Click it ...&lt;br&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(51, 51, 255);"&gt;http://fatihsyuhud.com/2008/12/31/top-ten-blogger-indonesia-2008/&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;I am obviously indebted to many bloggers--that I don't remember or even don't know--who have given the link to my blog in their blogs. The link apparently lead the visitors in their blog to visit my blog.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;I am also indebted to those people who have visited my blog, for sure.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;I AM STILL DUMB-FOUNDED HERE.&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;C-Net 21.09 060109&lt;/span&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br style="font-family: comic sans ms;color: rgb(204, 0, 0);"&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6214257401363130816?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6214257401363130816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/surprise.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6214257401363130816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6214257401363130816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/surprise.html' title='SURPRISE ...'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3222485576718705901</id><published>2009-01-04T15:13:00.000+07:00</published><updated>2009-01-04T20:27:04.103+07:00</updated><title type='text'>Jenggot versus UU APP</title><content type='html'>&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.multiply.com/photos/hi-res/upload/SWC4WwoKCq0AAFsOTwQ1"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://images.afemaleguest.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SWC4WwoKCq0AAFsOTwQ1/beard.jpg?et=3aSPzU5E4X4GflEnSL8NyQ&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Aku baru saja membaca sebuah artikel tulisan Ulil Abshar, yang kudownload dari sebuah website beberapa minggu lalu. Karena kesibukan (NGELES) baru kali ini aku sempat membacanya. Judul artikel Ulil ini merupakan pertanyaan retorika, “Apakah bangsa Arab lebih unggul dibandingkan bangsa-bangsa lain?” Artikel ini ditulis oleh Ulil berdasarkan pemikiran seseorang yang dikenal sebagai Ibn Taymiyah. (You can just do googling using his name and the title of his book “Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim”. Or just search at www.superkoran.info for Ulil’s writing.) &lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Dalam tulisannya, Ulil menyebutkan salah satu anekdot yang sampai sekarang masih dijunjung tinggi para Arabian sebagai bukti Arabosentrisme yang kuat yakni pemeliharaan jenggot. Kaum laki-laki Arab memelihara jenggot karena hukumnya wajib, konon diperintahkan oleh Nabi. Selain itu, ternyata jenggot merupakan lambang ‘machoisme’ di Arab sana.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Mengapa tampil macho penting bagi seorang laki-laki?&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Tentu karena berupaya untuk menarik kaum perempuan. (Bagi kaum heteroseksual tentunya.) Sesuatu yang bisa dipakai untuk menarik lawan jenis tentu bisa dikategorikan sebagai ‘seksi’. Sesuatu yang seksi tentu akan membangkitkan gairah seksual bagi mereka yang menganggap sesuatu itu seksi.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Nah, di Indonesia, segala sesuatu yang DIANGGAP akan membangkitkan gairah seksual, bisa dikategorikan sebagai porno. Dengan adanya UU APP, tentu hal-hal yang porno begini seharusnya ditutupi. &lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Seperti kaum perempuan yang harus menutup aurat tubuhnya karena dikhawatirkan akan membangkitkan gairah seksual yang melihatnya (laki-laki, bagi kaum heteroseksual.) UU APP telah menyulap kaum perempuan sebagai makhluk kriminal—jika mengenakan pakaian yang sedikit (apalagi banyak) terbuka, dan kaum laki-laki harus ‘dilindungi’ dari godaan meningkatnya gairah seksual. Itu sebabnya perempuan harus dipenjarakan di balik bajunya. (Lama-lama, bisa jadi seperti negara-negara Arab, dimana kaum perempuan dipenjara di balik tembok-tembok rumahnya, sehingga para perempuan Indonesia tidak berkeliaran di jalanan lagi.) Agar kaum laki-laki ‘selamat’ dari kemungkinan meningkatnya gairah seksual dalam dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Nah, kalau jenggot milik laki-laki pun bisa memicu gairah seksual kaum perempuan, bukankah seharusnya jenggot pun harus ditutupi? Laki-laki pun seharusnya memakai jilbab yang menutupi jenggotnya. Kalau laki-laki bisa jadi makhluk yang dilindungi (dari tubuh perempuan yang seksi), perempuan seharusnya dilindungi juga kan dari godaan jenggot yang seksi? &lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Dan kita tahu, gara-gara memelihara jenggot dipercaya sebagai ‘sunnah Nabi’ atau lebih parah lagi, ‘hukumnya wajib’, tidak hanya laki-laki Arab saja yang memelihara jenggot. Banyak laki-laki di Indonesia—juga yang bukan keturunan Arab—memelihara jenggot. Agar membuat pemiliknya nampak macho dan seksi?&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Kalau tidak ingin dikatakan bahwa UU APP bersifat bias gender, harusnya kaum perempuan pun dilindungi dari kemungkinan meningkatnya gairah seksualnya dari melihat bagian tubuh laki-laki yang seksi kan?&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;(I myself never think that beardy men are more macho or sexier than those who don’t have beard.)&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;PT56 12.12 291208&lt;/span&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;&lt;br style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;  &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3222485576718705901?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3222485576718705901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/jenggot-versus-uu-app.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3222485576718705901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3222485576718705901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2009/01/jenggot-versus-uu-app.html' title='Jenggot versus UU APP'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-170269317762841223</id><published>2008-12-22T07:38:00.004+07:00</published><updated>2008-12-22T08:18:42.355+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Kampanye bersepeda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7p6IoR9wI/AAAAAAAABFM/AsM6CEKL6Ss/s1600-h/b2w-sticth.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 106px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7p6IoR9wI/AAAAAAAABFM/AsM6CEKL6Ss/s320/b2w-sticth.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282416597910288130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7qdhCf35I/AAAAAAAABFk/pgJO5V1DZKo/s1600-h/PC210135.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7qdhCf35I/AAAAAAAABFk/pgJO5V1DZKo/s320/PC210135.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282417205758123922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7qVZg1vrI/AAAAAAAABFc/NtdKkuYvwiY/s1600-h/PC210128.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7qVZg1vrI/AAAAAAAABFc/NtdKkuYvwiY/s320/PC210128.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282417066298949298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7qGE1IH8I/AAAAAAAABFU/AxNd5U0neFQ/s1600-h/IMG-8690.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7qGE1IH8I/AAAAAAAABFU/AxNd5U0neFQ/s320/IMG-8690.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282416803048857538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada program khusus yang diselenggarakan pada hari Minggu 21 Desember 2008: KAMPANYE SIMPATIK bersepeda yang diikuti oleh tiga komunitas sepeda di Semarang: SOC (Semarang Onthel Community) sebagai pencetus ide, bike to work Semarang, dan SLOWLY (Semarang lowly rider). &lt;br /&gt;Ketua SOC, Bob mengemukakan ide ini untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan b2w setelah kedua komunitas ini di’feature’kan di sebuah surat kabar nasional, di bagian lokal Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Merasa bahwa kedua komunitas memiliki visi dan misi yang mirip, maka ide untuk menyelenggarakan kampanye ini pun dikemukakan. ‘Slowly’ diundang oleh SOC tentu karena memiliki visi dan mirip yang serupa.&lt;br /&gt;Komunitas b2w memilih berkumpul di SMA 1 Semarang sekitar pukul 06.00, untuk kemudian secara bersama-sama meluncur ke tempat yang telah disepakati bersama SOC; yakni di Lawangsewu. Setelah event BIKE TO WORK DAY, baru kali ini b2w mampu mengumpulkan member dengan jumlah yang lumayan, sekitar 50 orang; terdiri dari anggota lama maupun baru.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 07.00 b2w meluncur ke Lawangsewu, yang terletak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari meeting point semula. Di sana beberapa anggota SOC dan ‘slowly’ telah menunggu. Semakin siang semakin banyak anggota kedua komunitas tersebut yang datang.&lt;br /&gt;Setelah memberi kesempatan beberapa reporter dari beberapa media untuk melakukan wawancara, kita semua mulai melakukan ‘city tour’. Dari Lawangsewu/Tugumuda, kita mengambil rute Jalan Pandanaran, Jalan Thamrin, belok ke Kampung Kali sampai ke Jalan Mataram, belok kiri, lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan Kota Lama, lewat Gereja Blenduk, kemudian di jembatan Mberok belok kanan, menuju Polder yang terletak di depan Stasiun Tawang. Di sini ketiga komunitas diwakili oleh masing-masing ketua/wakil ketua saling memperkenalkan komunitas masing-masing yang ternyata intinya tidak jauh beda: menggunakan sepeda sebagai moda transportasi untuk keperluan sehari-hari: demi mengurangi polusi udara dan ketergantungan kepada BBM. Yang membedakan ketiga komunitas yakni jenis sepeda yang dipakai dan para anggotanya: SOC menggunakan sepeda jenis ‘lama’ (single speed) yang diproduksi sebelum tahun 1980-an, anggotanya biasanya orang-orang berusia tigapuluh tahun ke atas; ‘slowly’ menaiki jenis sepeda mini yang populer sekitar tahun delapanpuluhan, dengan modifikasi tertentu, para anggotanya kebanyakan para pelajar, mulai dari mereka yang duduk di bangku SMP sampai perguruan tinggi; sedangkan anggota b2w kebanyakan menggunakan jenis sepeda gunung, alias MTB yang mulai populer tahun 1990-an, meskipun b2w tidak membatasi jenis sepeda yang dipakai; para pekerja yang bersepeda ke kantor, menggunakan jenis apa aja, bisa bergabung dengan komunitas b2w. Sampai sekarang anggota b2w Semarang kebanyakan adalah para pekerja, meskipun kita tidak membatasi ‘hanya untuk para pekerja saja’. &lt;br /&gt;Mengacu ke b2w Jogja yang merangkul beberapa komunitas ke dalamnya (misal para ‘onthelist’ dan ‘slowly’) sebagai para pengguna sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, sudah selayaknya ketiga komunitas di Semarang ini pun melebur menjadi satu; hanya saja terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil—onthelist, MTBers, dan pengguna sepeda mini.&lt;br /&gt;Direncanakan di masa yang akan datang, ketiga komunitas akan menyelenggarakan acara yang serupa, untuk menjaring lebih banyak lagi anggota.&lt;br /&gt;Nana Podungge&lt;br /&gt;Sekretaris 1 b2w Semarang&lt;br /&gt;PT56 22.00 211208&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk foto-foto lain, klik saja &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://mastunggal.multiply.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://trextion.multiply.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://b2wsemarang.multiply.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-170269317762841223?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/170269317762841223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/12/kampanye-bersepeda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/170269317762841223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/170269317762841223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/12/kampanye-bersepeda.html' title='Kampanye bersepeda'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Eq2V6MQyo5E/SU7p6IoR9wI/AAAAAAAABFM/AsM6CEKL6Ss/s72-c/b2w-sticth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-464713311645541020</id><published>2008-10-06T12:54:00.000+07:00</published><updated>2008-10-06T12:56:24.505+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa tahun 2008</title><content type='html'>PUASA …&lt;br /&gt;Ini sudah bulan Syawal tanggal 3, namun aku baru mendapatkan ‘urge’ untuk menuliskan pengalamanku berpuasa tahun ini hari ini, setelah menyempatkan diri membaca tulisan Ulil tentang pengalamannya berpuasa di Boston.&lt;br /&gt;Mulai pertengahan bulan Agustus, aku bekerja di sebuah International school dimana mayoritas siswa-siswi beragama non Muslim, mungkin berkisar antara 10% (Muslim) dan 90% (non Muslim). Sedangkan para pegawai—guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, dll, mungkin prosentasenya 25% Muslim, 75% non Muslim. Ini sebab tahun ini adalah pengalaman pertamaku berpuasa di tengah-tengah non Muslim, meskipun masih berada di Indonesia. &lt;br /&gt;Jam masuk kerja mulai seperti biasa, pukul 07.00, beda dengan sekolah-sekolah negeri (atau mungkin juga sekolah nasional lain) yang memulai sekolah pukul 07.30. Lama pelajaran tiap slot pun tidak mengalami pengurangan, sehingga para siswa-siswi tetap menyelesaikan jadual sekolah pukul 14.15, khusus untuk siswa-siswi kelas 9 kelas usai pukul 15.00 karena mendapatkan pelajaran tambahan untuk persiapan ujian nasional. Jam istirahat pertama tetap pukul 09.45-10.00, dan istirahat makan siang pukul 12.15-12.45. &lt;br /&gt;Ini kali pertama aku merasakan ‘nasib sebagai kaum minoritas’ sehingga aku pun benar-benar mempraktekkan satu bahan candaan, “Tolong yang puasa memahami mereka yang tidak puasa”, kebalikan satu doktrin yang kuterima sejak kecil, “Yang tidak puasa HARUS menghormati yang puasa dengan menghindari makan maupun minum di hadapan orang-orang yang berpuasa. Pertama kali aku mendapatkan menstruasi, Ibu-ku pun mendoktrinku hal ini: aku TIDAK BOLEH terlihat makan maupun minum di hadapan anggota keluarga lain yang sedang berpuasa, seolah-olah aku adalah pesakitan. Kalau aku melakukannya, maka tuduhan pengikut setan dan ahlun naar (calon penghuni neraka) pun dilabelkan, karena menggoda orang yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa harus diistimewakan, harus dijaga dari godaan (itu juga konon selama bulan Ramadhan, setan pun ‘diikat’ oleh Tuhan di neraka, sehingga tidak bisa gentayangan menggoda kaum Muslim yang sedang berpuasa). Hal ini pun mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah Indonesia yang sebenarnya bukan negara Islam, juga bukan negara sekuler, berupa himbauan agar rumah makan tutup di siang hari, sehingga nampak tidak ada toleransi sama sekali kepada mereka yang tidak puasa. Untunglah tidak ada paksaan dari pemerintah agar semua warga negara—tanpa memandang agama—untuk berpuasa, demi menghormati orang-orang Muslim yang sedang berpuasa.&lt;br /&gt;Betapa manjanya orang-orang Muslim itu, mentang-mentang karena mayoritas.&lt;br /&gt;Aku tidak ingin menjadi seorang Muslim yang manja di tengah-tengah rekan kerjaku yang mayoritas non Muslim. Saat istirahat siang, di ruang guru, maupun di tempat-tempat lain di dalam sekolah yang diperuntukkan anak-anak untuk makan siang (di sekolah tidak ada kantin, sehingga anak-anak harus membawa bekal makan siang sendiri, namun pihak sekolah menyediakan tempat-tempat khusus dimana anak-anak biasa berkumpul untuk makan bersama) terlihat orang makan, ditambah dengan bau makanan yang menggoda hidung dan perut yang mulai lapar. Aku perhatikan beberapa guru expat tidak menunjukkan ekspresi wajah, seperti, “Sorry, I am enjoying my lunch now while probably you are hungry at the moment.” Tentu aku paham sekali akan hal ini, bukankah kita sendiri memiliki pilihan, untuk berpuasa, mengikuti ajaran agama, atau tidak berpuasa. Setelah kita menentukan pilihan untuk berpuasa, tak selayaknya kemudian kita minta diistimewakan, misal dengan mengatakan, “Please respect me by not eating before my nose!” &lt;br /&gt;Ketika seorang rekan kerja, non Muslim, orang Indonesia (bukan expat) bertanya kepadaku dengan hati-hati, “So, how is your fasting in this month?” aku tidak langsung ‘ngeh’ kemana arah pertanyaannya, sehingga dia pun perlu menjelaskan,&lt;br /&gt;“I believe it must be hard for you to fast among non Muslim?”&lt;br /&gt;Maka aku pun menjawab, dengan nada bercanda, “You know the harder the tempation is, the more reward I will get from God. It is not a big deal for me to fast in the middle of people who do not fast. Don’t worry. Thank you for concern though.” &lt;br /&gt;Aku yakin sebagai orang Indonesia, rekan kerja ini tentu sudah terbiasa dengan ‘himbauan’ pemerintah Indonesia, sehingga perlu merasa ‘tidak enak’ kepadaku dengan situasi yang ada. Berbeda dengan para guru expat yang tidak mendapatkan atau mengalami ‘indoktrinasi’ dari pemerintah mereka untuk ‘menghormati’ (atau memanjakan) orang-orang yang berpuasa.&lt;br /&gt;Di sekolah ini aku belajar (lebih jauh lagi) untuk mempraktekkan toleransi antar agama.&lt;br /&gt;PT56 22.19 031008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-464713311645541020?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/464713311645541020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/10/puasa-tahun-2008.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/464713311645541020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/464713311645541020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/10/puasa-tahun-2008.html' title='Puasa tahun 2008'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5554109276095533763</id><published>2008-09-27T16:14:00.000+07:00</published><updated>2008-09-27T16:16:32.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teaching'/><title type='text'>Jumat Kliwon</title><content type='html'>Alkisah satu hari Jumat beberapa siswiku ‘agak’ kehilangan kontrol, karena mereka bercanda melulu. Mungkin karena mereka senang karena kita telah menyelesaikan unit 2, sehingga mereka merasa telah mampu melepaskan beban. (Believe me, the material for English is damn difficult for average grade 7 students.) Kebetulan hanya ada seorang siswa laki-laki yang expat di kelas itu. Rupanya dia merasa heran dengan teman-teman sekelasnya yang banyak berhaha hihi, sehingga dia pun bertanya kepadaku,&lt;br /&gt;“Miss … what’s wrong with my classmates? Why are they so hilariously crazy today?”&lt;br /&gt;(“Ada apa dengan teman-teman sekelasku, Miss? Mengapa mereka nampak lepas kontrol?”)&lt;br /&gt;Aku pun yang ‘ketularan’ happy mood menjawab sekenanya, menjawab dengan nada bercanda,&lt;br /&gt;“What Friday is it? Is it Jumat Kliwon?” sambil mengecek kalender. Dan ternyata benar, hari itu adalah hari JUMAT KLIWON. Maka aku pun berseru, “Yes, this is JUMAT KLIWON!!!”&lt;br /&gt;(nampaknya aku sedang terbawa tema modernisme+posmodernisme+mistisisme dalam BILANGAN FU, novel terbaru Ayu Utami.)&lt;br /&gt;Sang siswa expat itu pun bertanya, “What is wrong with Jumat Kliwon Miss?”&lt;br /&gt;“Well, you know in Javanese culture, Javanese must provide offerings for the spirit on the night of Jumat Kliwon. It seems to me that your classmates’ mothers forgot to provide offerings last night so that they turned to be crazy today!” jawabku sekenanya, sambil berusaha memasang mimik serius di wajahku.&lt;br /&gt;(“Dalam budaya Jawa, orang-orang Jawa harus menyediakan sesajen pada malam Jumat Kliwon. Nampaknya orang tua teman-temanmu itu lupa menyediakan sesajen semalam sehingga mereka pun menjadi gila hari ini.”)&lt;br /&gt;“What about me? I live in Java but I am not Javanese. Should my family follow that tradition too? To provide offerings every Jumat Kliwon eve? My mother didn’t provide any offering last night. Will I get crazy too?” he asked innocently.&lt;br /&gt;(“Bagaimana denganku? Aku bukan orang Jawa meskipun aku tinggal di Jawa. Apakah keluargaku pun harus mematuhi tradisi untuk menyediakan sesajen tiap malam Jumat Kliwon? Apakah aku pun akan gila karena semalam Mamaku tidak menyediakan sesajen?” tanya siswaku itu dengan lugu.)&lt;br /&gt;‘Don’t worry. You will not get affected.” Jawabku.&lt;br /&gt;(“Jangan khawatir. Kamu ga akan terpengaruh.”)&lt;br /&gt;“How long will they be crazy like that Miss?” he asked again.&lt;br /&gt;(“Berapa lama mereka akan menjadi gila seperti itu Bu?” tanyanya.)&lt;br /&gt;“Until next Jumat Kliwon,” jawabku.&lt;br /&gt;(“Sampai sok Jumat Kliwon lagi.”&lt;br /&gt;“What if their mother forgets to provide offerings again next Jumat Kliwon? Will their craziness become double?” tanyanya, agak ngeri. LOL.&lt;br /&gt;(“Jika ibu mereka lupa menyediakan sesajen lagi sok Jumat Kliwon, apakah kegilaan mereka akan meningkat?)&lt;br /&gt;“Absolutely!” jawabku, agak menakutinya. LOL.&lt;br /&gt;Mendengar percakapanku dengan sang siswa expat itu, siswi-siswi yang lain pun ikut ‘bersekongkol’ denganku untuk menggodanya, sehingga dia nampak percaya. &lt;br /&gt;Setelah kelas usai, tatkala aku akan meninggalkan kelas, sang siswa expat itu mendekatiku, “Miss … “I am scared!” (“Miss … aku takut!”)&lt;br /&gt;“Why?” tanyaku.&lt;br /&gt;“My friends are crazy …” &lt;br /&gt;Meledaklah tawaku dan siswi-siswi yang lain. &lt;br /&gt;“Don’t worry! We were just joking. We just wanted to tease you!” &lt;br /&gt;Dan dia pun langsung ikut tertawa, dan mimik ketakutan hilang dari wajahnya. LOL.&lt;br /&gt;PT56 21.17 260908&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5554109276095533763?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5554109276095533763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/jumat-kliwon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5554109276095533763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5554109276095533763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/jumat-kliwon.html' title='Jumat Kliwon'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5763868420585369930</id><published>2008-09-27T16:09:00.000+07:00</published><updated>2008-09-27T16:12:22.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='language'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Education'/><title type='text'>Indoglish</title><content type='html'>Di tempatku bekerja, sebuah kursus Bahasa Inggris yang lumayan punya nama di Indonesia, kita semua guru berusaha untuk mematuhi ‘peraturan-peraturan’ English yang baku tatkala menggunakan bahasa yang diimport dari negeri Ratu Elizabeth ini. Termasuk penggunaan kata “Mr. …” yang seyogyanya diikuti oleh family name, sehingga kita sangat jarang menggunakan kata “Mr. …” ini untuk menyebut nama seorang guru laki-laki. Maklum, kebetulan di kantorku tidak ada satu guru laki-laki pun yang memiliki family name di belakang nama mereka. Beda dengan penggunaan “Ms. …” yang memang ada dalam kamus untuk menyebut nama guru perempuan sejak zaman baheula. Walhasil, “Ms. Nana” terdengar biasa-biasa saja, sedangkan “Mr. Agung …” jarang terdengar, kecuali siswa-siswi yang menyebutnya. Kita tetap menyapa rekan kerjaku itu sebagai, “Pak Agung …”. &lt;br /&gt;Tatkala aku menghadiri seminar TEFLIN yang diselenggarakan di Surabaya tahun 2002, dan Jack C. Richards sebagai salah satu keynote speaker encouraged orang untuk menumbuhkembangkan localized English, aku hanya berpikir, mungkin dalam Indoglish (baca  INDONESIAN ENGLISH) kita bisa menyisipkan kata-kata yang tak ada dalam Bahasa Inggris, misal “deh”, “sih”, “dong” dlsb. NOTE: kerangka dasar pemikiran Jack C. Richards adalah bahwa English is a universal language, sehingga di masa ini, orang-orang British, American, maupun Australian tak lagi bisa merasa ‘arogan’ sebagai pemilik bahasa ini. Yang paling penting adalah, asal para ‘interlocutor’ saling memahami tatkala mereka berkomunikasi. &lt;br /&gt;Satu kenyataan lain yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kita tidak memiliki native speaker. Semua guru lokal dengan asumsi bahwa para guru dulu pun mengalami masa-masa awal mempelajari bahasa import ini, sehingga diharapkan mereka akan mampu mentransfer pengalaman mereka kepada para siswa.&lt;br /&gt;Di kantorku yang baru ada beberapa guru expat. Banyak pula siswa yang mixed blood. Dan ternyata justru di sinilah aku menemukan gejala “Indoglish” yang sebenar-benarnya. &lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;“Halaman berapa?” yang seharusnya diterjemahkan menjadi “What page?” ternyata di kantorku yang baru ini sangat biasa menemukan anak-anak yang bertanya, “Page how many?”&lt;br /&gt;“Kamu bisa ga?” yang tatkala diterjemahkan kedalam English, kita seharusnya menyertakan kata kerja, misal, “Can you do that?” menjadi ‘hanya’, “Can you?” dan kemudian dijawab, “Can!” dengan nada yang sama persis tatkala kita mengucapkan bahasa Indonesia, “Bisa!” atau tatkala seorang siswa merayu seorang guru, misal agar bisa agak molor mengumpulkan tugas, “Can ya Miss? Can ya?” Satu penggalan kalimat yang TIDAK PERNAH KUAJARKAN di kursus Bahasa Inggris tempat aku bekerja sejak tahun 1996 itu.&lt;br /&gt;Contoh berikut tidak hanya diucapkan oleh siswa-siswi, namun juga diucapkan oleh beberapa guru.&lt;br /&gt;Misal, “Bisakah saya bertanya sesuatu Pak?” diterjemahkan menjadi, “Can I ask you something Mister?” “Bisa ya Pak?” menjadi, “Can ya Mister ya?”&lt;br /&gt;Selain vocabulary dan word order yang ‘aneh’ itu, logat bicara yang sangat nJawani terdengar sangat kental. &lt;br /&gt;Aku perhatikan, para expat itu pun akhirnya “tunduk” pada “word order” Indoglish ini sehingga mereka tak lagi menganggapnya aneh. Kupingku saja yang masih sering merasa ‘risih’ tatkala mendengarnya. Namun sebagai seseorang yang beradaptasi dengan mudah (terutama dalam penggunaan bahasa, termasuk dialek dan logat), tak lama lagi aku pun “jangan-jangan’ akan ketularan. LOL. Selama ini rekan-rekan kerja di kantor lama menganggap logatku dalam berbicara bahasa Inggris lumayan ‘bisa melepaskan diri’ dari pengaruh nJawani maupun Semarangan, (meskipun di telinga Abangku yanglama tinggal di luar negeri aku masih terdengar Jowo banget), ‘jangan-jangan’ tak lama lagi aku akan ketularan logat berbicara siswa-siswi dan rekan kerja baruku. Maklum, lebih banyak guru lokal dari pada guru expat-nya. &lt;br /&gt;Kembali ke apa yang dikatakan oleh Jack C. Richards, kita harus tetap bangga dengan our localized English. Nevertheless, I do hope, I WILL NOT GET CONTAMINATED. LOL.&lt;br /&gt;PT56 20.4 260908&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5763868420585369930?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5763868420585369930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/indoglish.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5763868420585369930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5763868420585369930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/indoglish.html' title='Indoglish'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2289398868110244229</id><published>2008-09-16T20:59:00.000+07:00</published><updated>2008-09-16T21:01:05.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Shalat Jumat</title><content type='html'>Waktu membaca artikel Ulil Abshar Abdalla tentang pengalamannya shalat Jumat di Jakarta, (untuk artikelnya secara lengkap bisa dicari di http://superkoran.info atau klik blog http://themysteryinlife.blogspot.com) aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu (mungkin lebih dari enam tahun lalu) waktu shalat Jumat di masjid Baiturrahman, di kawasan Simpanglima Semarang. &lt;br /&gt;Di masjid Baiturrahman, tempat shalat jamaah perempuan berada di lantai tiga, sedangkan jamaah laki-laki berada di lantai dua. Di lantai satu, terutama di dekat pelataran parkir, ada sebuah toko kecil yang berjualan berbagai macam dagangan; mulai dari buku-buku, busana Muslim, makanan kecil, minuman, dll. &lt;br /&gt;Hari itu adalah salah satu hari Jumat di bulan Ramadhan. Seusai shalat Jumat, aku turun ke bawah dan melihat ‘pemandangan’ yang digambarkan oleh Ulil, di halaman depan masjid, banyak pedagang tiban—selain yang memang berjualan di ‘toko’ yang disediakan oleh masjid Baiturrahman—yang menjajakan barang dagangannya masing-masing. Berhubung Idul Fitri akan menjelang, maka banyak jamaah yang merubungi pedagang yang berjualan pakaian. Setelah menginjak usia dewasa, aku super jarang shalat Jumat di masjid, sehingga pemandangan jual beli di halaman masjid ini pun menarik perhatianku. Sayangnya karena jamaah perempuan menempati lantai ketiga, aku tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Ulil, begitu usai shalat Jumat—terutama setelah melakukan salam—orang-orang langsung melanjutkan transaksi jual beli. Lupakan ‘tradisi’ membaca wirid dan doa yang panjang-panjang. J&lt;br /&gt;Aku ingat tatkala duduk di bangku SD (aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah), aku sering sekali berangkat shalat Jumat di masjid Baiturrahman bersama-sama teman-teman sekolah, karena kebetulan kita libur pada hari Jumat. Dan tidak pernah aku melihat pemandangan orang-orang yang melakukan transaksi jual beli di halaman masjid tersebut. Zaman telah berubah?&lt;br /&gt;Di sekitar MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) yang jauh lebih luas dari masjid Baiturrahman pun dibangun bangunan-bangunan permanen untuk melakukan transaksi jual beli seperti ini. &lt;br /&gt;Setelah mengklaim diri sebagai seorang feminis, dan mengalami perjalanan spiritualitas sehingga menjadi seorang yang sekuler, sama seperti Ulil, aku pun mulai jengah dan bosan bila mendengar khotbah yang isinya sangat provokatif kepada pemeluk keyakinan lain, apalagi jika khotbahnya bersifat misoginis dan membodohi khalayak umum. &lt;br /&gt;Aku jadi ingat Amina Wadud yang percaya bahwa seorang perempuan pun bisa mengisi khotbah Jumat dan menjadi imam shalat Jumat. Mungkin aku akan mau berangkat ke masjid untuk menghadiri shalat Jumat bersama perempuan-perempuan lain, dan mendengarkan khotbah yang tentu tidak misoginis, bahkan membangkitkan semangat kesetaraan. Meskipun bagi perempuan, shalat Jumat hukumnya sunnah, karena konon yang terkena fardhu kifayah hanya kaum laki-laki.&lt;br /&gt;Sewaktu duduk di bangku S1 dulu (UGM – Jogja), ada seorang boarder di kos yang aku tinggali berasal dari Tasikmalaya. Tatkala aku bercerita kepadanya tentang pengalamanku shalat Jumat di masjid waktu pulang ke Semarang. Dia melengak keheranan, “Kamu shalat Jumat Na?” tanyanya heran. &lt;br /&gt;“Iya. Memangnya kenapa?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Bukannya untuk perempuan shalat Jumat itu hukumnya haram? Di Tasikmalaya ga ada perempuan shalat Jumat.”&lt;br /&gt;Pengalaman memang mahal harganya. Mengenal orang dari daerah lain tentu akan memperkaya pengalaman kita, sekaligus mengenal cara pandang/pikir orang lain, agar kita saling mengenal, kemudian saling menghormati. Sejak itu aku baru tahu bahwa di daerah Sunda, tidak ada sebuah masjid pun yang menyediakan tempat untuk perempuan untuk shalat Jumat, sedangkan di Semarang, banyak masjid yang dibanjiri kaum perempuan pada jam shalat Jumat.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu dengan kondisi sekarang. Aku lebih memilih shalat sendiri di rumah. &lt;br /&gt;PT56 13.58 140908&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2289398868110244229?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2289398868110244229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/shalat-jumat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2289398868110244229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2289398868110244229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/shalat-jumat.html' title='Shalat Jumat'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6845000038559344395</id><published>2008-09-10T20:32:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T20:34:09.408+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Setelah bike to work</title><content type='html'>Bike to work alias bersepeda ke tempat kerja telah kulakoni selama kurang lebih 2 bulan, sejak awal Juli 2008. Apa manfaat yang telah kudapatkan selama ini? Yang paling langsung ‘terasa’ memang adalah mengirit uang untuk membeli BBM, terutama pada saat Angie libur sekolah (awal bulan Juli lalu sampai Angie masuk sekolah di pertengahan bulan), aku sama sekali tidak menaiki sepeda motorku, kecuali berbelanja ke ADA bareng anak semata wayangku. Agar motor tidak ‘bermasalah’ karena jarang kunaiki, yang kulakukan hanyalah memanasi mesin motor, cukup di rumah saja.&lt;br /&gt;“Don’t you feel exhausted at the very beginning you biked to work?” tanya salah seorang rekan kerja. Well, tentu saja tidak, karena sebelum membiasakan diri bersepeda ke tempat kerja, seminggu minimal lima kali aku menyempatkan diri berolahraga di PARADISE CLUB, sebuah pusat kebugaran yang menyediakan fasilitas untuk erobik, fitness, berenang, dan tennis, yang terletak di Pondok Indraprasta Semarang. Namun, semenjak bike to work, dan merasa mulai jatuh cinta pula pada olahraga yang satu ini (maklum, teman-teman b2w Semarang suka ngomporin orang untuk bersepeda setiap hari, to be crazily in love in cycling), aku pun absent dari PC semenjak Juli. Aku mulai memuaskan diri untuk memandang pemandangan alam/kota di sekitar tatkala aku bersepeda; sementara sebelum ini tatkala bersepeda ‘stationed’ di PC, aku terbiasa melakukannya sembari membaca buku, dan bukannya memuaskan mata memandang tubuh-tubuh liat para laki-laki yang banyak berseliweran di hadapanku, yang mungkin bermimpi membentuk tubuh mereka seperti tubuh Ade Rai. LOL.&lt;br /&gt;Mendengar jawabanku, “Aku tidak capek sama sekali,” ternyata mengecewakan rekan-rekan kerjaku, karena mereka ingin tahu bagaimana efek bersepeda ke tempat kerja terhadap mereka yang sebelum ini sekali tidak pernah berolahraga sama sekali.&lt;br /&gt;Meskipun belum terlalu signifikan, aku yakin, penguranganku mengeluarkan zat beracun dari knalpot sepeda motor, telah sedikit mengurangi polusi udara di kota kelahiranku.&lt;br /&gt;Selain itu aku pun baru menyadari betapa selama ini aku terlalu ‘ignorant’ alias terlalu acuh pada daerah sekelilingku, sementara tetangga-tetangga di sekitar Pusponjolo memperhatikanku. Hal ini terjadi manakala aku membawa sepeda ke tempat pompa ban, masih di jalan Pusponjolo Tengah, seorang laki-laki yang memiliki usaha tersebut memandangku dengan aneh, kemudian bertanya, “Motornya dikemanain mbak?”&lt;br /&gt;Hah, ternyata dia memperhatikanku biasanya naik motor.&lt;br /&gt;“Motor kuistirahatkan di rumah,” jawabku.&lt;br /&gt;Namun ternyata di mata laki-laki itu, aku tetap menemukan sinar keheranan.&lt;br /&gt;Di saat lain, tatkala berangkat bekerja, aku memilih jalur lain (masih di daerah Pusponjolo juga). Tiba-tiba seseorang yang tidak kukenal menyapaku, “Wah mbak, sekarang kendaraannya ganti ya?”&lt;br /&gt;I’m quite popular, eh? LOL. Atau memang si Nana ini terlalu ignorant dikarenakan mata belornya. LOL.&lt;br /&gt;PT56 11.52 070908&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6845000038559344395?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6845000038559344395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/setelah-bike-to-work.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6845000038559344395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6845000038559344395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/09/setelah-bike-to-work.html' title='Setelah bike to work'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-1412102755150712484</id><published>2008-08-05T07:44:00.000+07:00</published><updated>2008-08-05T07:52:23.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Why Bike to Work?</title><content type='html'>“Semula mereka memang menganggapnya aneh. Tapi karena rekan-rekan kerja saya itu mengenal saya sebagai orang yang punya kegemaran yang rada nyeleneh, lama-lama mereka pun ga ambil peduli.” &lt;br /&gt;Demikian penuturan Pak Wargo, salah satu ‘pioneer’ bike to work di Semarang. Mengaku telah menjadi praktisi bike to work semenjak tahun 2005, pada tahun yang sama tatkala komunitas bike to work Indonesia mulai terbentuk di Jakarta, Pak Wargo mengemukakan alasan pertama dia berpikiran untuk naik sepeda ke kantor adalah demi kesehatan. Jarak rumah ke kantor yang lumayan jauh – kurang lebih 35 kilometer, sehingga kurang lebih dia menempuh jarak 70 kilometer setiap hari naik sepeda – Pak Wargo anggap sebagai suatu tantangan.&lt;br /&gt;“Saya sengaja menghindari melewati tanjakan di daerah Kedungmundu, itu sebab dari Klipang saya ambil jalur ke jalan Majapahit, kemudian langsung lurus terus ke Barat, sampai Mangkang. Saya butuh waktu kurang lebih satu jam 15 menit untuk menempuh jarak 35 kilometer itu.”&lt;br /&gt;Pak Wargo menjelaskan rute yang biasa dia lewati, sekitar tiga sampai empat kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu dia pilih sebagai hari istirahat bersepeda, untuk memulihkan tenaga.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Untuk menjaga kesehatan memang merupakan salah satu alasan yang dipakai oleh para anggota bike to work (komunitas pekerja bersepeda) Semarang. Banyak orang mengatakan mereka tidak memiliki waktu luang untuk melakukan olahraga, yang merupakan salah satu syarat mutlak untuk menjaga kesehatan, sehingga bersepeda menuju tempat kerja bisa dianggap sebagai salah satu solusi praktis. Seseorang hanya perlu bangun lebih pagi agar bisa berangkat bekerja lebih awal.&lt;br /&gt;Semenjak harga BBM naik, bersepeda ke tempat kerja pun merupakan salah satu solusi tepat. Seperti apa yang dikemukakan oleh Pak Wargo yang mencintai mobil VW yang terkenal sangat boros dalam penggunaan bahan bakar. Dia harus mengeluarkan uang kurang lebih Rp. 300.000,00 per minggu untuk membeli bahan bakar. Bisa dihitung berapa ratus ribu yang bisa dia hemat dalam waktu satu bulan semenjak dia memutuskan untuk bersepeda ke tempat kerja. Paling-paling dia hanya butuh membeli sarapan tambahan setiap pagi.&lt;br /&gt;Tidak hanya masyarakat Indonesia yang terpukul dengan naiknya harga BBM. Konon di Amerika pun sepeda sebagai alat transportasi mulai digemari kembali, sebagai salah satu cara untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, juga untuk menghemat pengeluaran.&lt;br /&gt;Namun selain kedua alasan di atas, satu hal yang paling penting dari kebiasaan bersepeda ke tempat kerja adalah mengurangi gas emisi yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan bermotor. Semakin banyak orang meninggalkan kendaraan bermotor dan beralih ke sepeda (kembali), akan semakin besar pula dampaknya dalam upaya kita mengurangi pemanasan global. Harapan untuk mengurangi polusi udara tentu akan lebih cepat tercapai jika lebih banyak orang bersepeda ke kantor. Terlebih lagi jika dilanjutkan dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama untuk pergi kemana-mana, tidak hanya untuk ke kantor.&lt;br /&gt;PT56 22.54 040808&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-1412102755150712484?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/1412102755150712484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/08/why-bike-to-work.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/1412102755150712484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/1412102755150712484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/08/why-bike-to-work.html' title='Why Bike to Work?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-1421107574820992537</id><published>2008-07-26T07:31:00.000+07:00</published><updated>2008-07-26T07:32:01.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Bersepeda ... oh asiknya ...</title><content type='html'>Selalu ada cerita menarik yang kudengar dari teman-teman b2w Semarang. &lt;br /&gt;Kebetulan sampai saat aku menulis ini, teman-teman b2w Semarang yang kukenal adalah mereka yang bersepeda ke kantor karena pilihan, dan bukan karena terpaksa. Alasan yang melatarbelakangi memang cukup bervariasi; mulai dari peduli lingkungan (aku sendiri, adikku, dan beberapa yang lain), untuk melangsingkan badan (ga usah menyebut nama yah? LOL), sampai memang seorang biking freak (yang merasa boleh ngacung! LOL), dll. Ngirit beli bensin adalah nilai tambah yang menyertai. &lt;br /&gt;Tatkala naik sepeda, dan ikut merasakan ‘nelangsanya’ kaum yang termarjinalisasi, teman-teman pun ngomel-ngomel jika ada pengendara kendaraan bermotor memencet-mencet klakson karena para pengendara itu selalu tidak sabaran melihat laju sepeda yang tentu tidak secepat kendaraan bermotor. Ada yang kesal tatkala kondektur bus ngomel-ngomel, “Pit-pitan ning ndalan!!!” (“Naik sepeda kok di jalan raya!”) sehingga dia membalas ngomel, “Lha po ning kasur!!!” (“Masak naik sepeda di kasur!!!”). Cerita ini membuatku ketawa ngakak, karena langsung membayangkan naik sepeda di kasur. LOL. (Biasanya sih orang becanda ‘berenang di tempat tidur’ yah? LOL.)&lt;br /&gt;Konon, sebelum mereka merasakan ‘termarjinalisasi’ karena naik sepeda, mereka pun merupakan pelaku ‘memarjinalkan’ pengendara sepeda. LOL. Sehingga setelah merasakan keangkuhan para pengendara kendaraan bermotor, mereka menjadi arif tatkala mereka mengendarai sepeda motor maupun mobil. &lt;br /&gt;Aku sendiri tidak, atau belum, mengalami hal yang tidak menyenangkan itu, mungkin karena letak kantor yang tidak jauh dari rumah, kurang dari 2 kilometer, kurang dari 10 menit dengan mengayuh pedal sepeda santai. Sebaliknya, aku merasa tatkala akan menyeberang jalan, para pengendara mobil maupun sepeda motor dengan sengaja mengurangi laju kecepatan kendaraan mereka, untuk memberiku ruang dan waktu yang cukup untuk menyeberang. Terkadang kuamati mereka memang sengaja berada di belakangku sejenak, untuk membaca tag kuning di bawah sadelku yang berbunyi, “BIKE TO WORK, KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA SEMARANG” kemudian tatkala melewatiku, mereka menoleh sejenak memandang si empunya sepeda, baru melaju dengan takzim. &lt;br /&gt;“Serasa seperti selebriti,” kata seorang teman yang berdomisili di Tembalang (kawasan ‘atas’ Semarang), apalagi kalau dia sedang menaiki jalan yang menanjak, banyak orang menoleh ke arahnya. LOL. Maklum selebriti dadakan. LOL.&lt;br /&gt;Seorang teman yang tinggal di Banyumanik memberikan trik yang unik. Tatkala pertama kali dia berusaha menaklukkan bukit Gombel, dia menelpon istrinya minta dijemput, ketika dia merasa sudah tidak kuat lagi melanjutkan mengayuh pedal sepedanya. LOL.&lt;br /&gt;Seorang teman lain yang memiliki sepeda lipat (yang kita singkat menjadi SELI), yang tinggal di kawasan yang menanjak pula, Ngaliyan, cukup sering juga menelpon istrinya minta jemput, entah karena capek, atau sudah ga sabar ingin segera sampai rumah, untuk bertemu dengan jagoan kecilnya. Dia tinggal melipat sepedanya, menaruh di dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan dalam mobil dengan nyaman. &lt;br /&gt;Bagaimana dengan pengalaman pergi ke supermarket naik sepeda? Adikku mengalami disambut tukang pemberi tiket parkir dengan mimik wajah yang tidak ramah. &lt;br /&gt;“Ditaruh di situ saja mbak!” katanya ketus, sambil menunjuk beberapa sepeda yang ‘teronggok’ termarjinalkan di satu tempat. &lt;br /&gt;Namun dia tidak perlu membayar tiket parkir.&lt;br /&gt;“Orang-orang memang belum bisa membedakan sepeda mahal dan sepeda murah.” Kata seorang teman lain yang tinggal di kawasan Sendang Mulyo. “Padahal banyak juga sepeda yang harganya lebih mahal dari sepeda motor, bahkan sama mahalnya dengan sebuah mobil.” Katanya lagi.&lt;br /&gt;Well ... seperti teman-temanku, aku pun menyimpan mimpi indah agar lebih banyak orang yang meninggalkan kendaraan bermotor untuk kegiatan sehari-hari, dan beralih naik sepeda, yang lebih ramah lingkungan, plus lebih menyehatkan badan.&lt;br /&gt;When will you follow us?&lt;br /&gt;PT56 12.05 250708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-1421107574820992537?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/1421107574820992537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/bersepeda-oh-asiknya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/1421107574820992537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/1421107574820992537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/bersepeda-oh-asiknya.html' title='Bersepeda ... oh asiknya ...'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6543718976087992850</id><published>2008-07-26T07:27:00.000+07:00</published><updated>2008-07-26T07:30:52.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Bikers on the Street</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SIpv_unbB0I/AAAAAAAAAvA/JnK7cQkshPY/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SIpv_unbB0I/AAAAAAAAAvA/JnK7cQkshPY/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227113458152703810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia merupakan pemandangan yang jamak bahwa para pengendara sepeda di jalanan tidak mematuhi lampu abang ijo alias traffic light. Aku tidak pernah mempedulikan hal ini sampai aku pun bergabung dengan para pengendara sepeda. ...&lt;br /&gt;Pertama kali aku naik sepeda ke kantor, tentu saja aku masih perlu beradaptasi sehingga ketika lampu merah menyala, aku pun layaknya pengendara sepeda motor berhenti. Dan setelah lampu hijau menyala, aku pun akan serasa berlomba-lomba meninggalkan ‘garis start’ dengan para pengguna jalan raya lain. Kadang kala mereka yang naik mobil di belakangku ‘ribut’ membunyikan klakson, sebagai tanda bahwa mungkin keberadaanku yang naik sepeda di depan mereka mengganggu kecepatan (ato kenyamanan yah?) kendaraan mereka.&lt;br /&gt;Hari Rabu 25 Juni 2008 sepulang mengajar dari sebuah universitas swasta yang terletak di Jalan Pemuda sekitar pukul 20.00, aku bertemu beberapa orang yang naik sepeda pula sepertiku, di traffic light bundaran yang menghubungkan Jalan Pemuda, Jalan Depok, Jalan Thamrin, Jalan Pierre Tendean, dan Jalan Tanjung. Kami berada di Jalan Pemuda, di depan Bank Buana Indonesia, if I am not mistaken. Aku memandang mereka, yang lengkap berbusana bersepeda plus helm, mereka pun memandangku. Kami hanya berhenti pada tahap saling memandang.  &lt;br /&gt;Traffic light menyala merah. Meskipun naik sepeda, aku biasa berhenti tatkala lampu lalu lintas menyala merah. Namun malam itu, entah mengapa aku terus melaju, karena lampu lalu lintas di Jalan Tanjung (sebelah kanan posisiku) pun merah, sehingga aku merasa cukup aman untuk terus mengayuh sepeda.&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, aku pun bercerita tentang apa yang baru saja terjadi ke adikku. Kebetulan memang kita berdua sedang terkena demam ‘bike to work’.&lt;br /&gt;“Wah ... tatkala aku tetap melaju meskipun lampu merah, aku ingat omongan Pak Danar, salah satu teman yang kukenal di milis Sastra Pembebasan yang komplain, “Only God and tukang becak know when he will turn!! Itu sebab di Jakarta orang-orang selalu ngomelin keberadaan becak yang selalu membuat lalu lintas semakin kacau balau!” kataku berapi-api. &lt;br /&gt;“I know I have done something wrong, tapi kukira ga ada yang kubuat kacau balau dengan apa yang kulakukan tadi, tetap melaju meskipun lampu merah menyala.” Kataku lagi, memberikan pembenaran pada diri sendiri. LOL.&lt;br /&gt;“Mbak ... what if ... kalau orang-orang bike to work lain melihat apa yang kamu lakukan tadi? Bagaimana kalau mereka merasa apa yang kamu lakukan ‘mencoreng’ nama baik b2w Semarang karena tidak berhenti di lampu merah?” tanya adikku.&lt;br /&gt;Aku melongo. Berharap ga ketahuan. LOL.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Kamis 26 Juni 2008 adalah hari pertama diadakan rapat pembentukan pengurus bike to work Semarang. Aku dan adikku—yang waktu itu masih dua-duanya anggota cewe—datang karena di milis sudah ditunjuk dengan semena-mena akan diberi tanggung jawab sebagai sekretaris.&lt;br /&gt;Sebelum rapat dimulai, Pak Budi cerita tentang apa yang dia lihat malam sebelumnya. Tatkala berkeliling kota naik sepeda, menemani anggota bike to work Bandung yang sedang berkunjung di Semarang, di Jalan Pemuda melihat seorang perempuan naik sepeda, dimana di bawah sadel ada tag ‘BIKE TO WORK SEMARANG’, dengan nyamannya melenggang meskipun lampu merah menyala.&lt;br /&gt;G-U-B-R-A-K!!! &lt;br /&gt;It was me!!!&lt;br /&gt;Dan seperti apa yang dikatakan oleh adikku, AKU DILIHAT oleh anggota b2w Semarang lainnya tatkala melanggar lampu merah.&lt;br /&gt;Maluku ada dimana yah? Hahahahaha ...&lt;br /&gt;(dan semenjak itu, aku pun sering dijadikan bahan olok-olokan gara-gara menjadi traffic regulation breaker!!!)&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, seorang rekan kerja melihatku berhenti di traffic light karena lampu merah sedang menyala. Rekan kerja yang sedang membonceng suaminya ini geli melihatku berhenti. Suaminya yang kadang kala naik sepeda tatkala berangkat bekerja ini bilang, “Lihat tuh mbak Nana! Dia berhenti di lampu merah meskipun naik sepeda. Apa dia ga tahu bahwa bagi pengendara sepeda, kita ga perlu berhenti meskipun lampu merah?”&lt;br /&gt;Keesokan hari tatkala rekan kerja ini mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh suaminya, aku gantian bercerita kepadanya tentang aku yang menjadi bahan olok-olokan di komunitas b2w Semarang berhubung aku KETAHUAN melanggar lampu merah.&lt;br /&gt;“Anggota b2w tetap mematuhi peraturan lalu lintas meskipun kita naik sepeda!” kataku pada rekan kerjaku itu, yang membuatnya tersenyum tersipu karena menyarankan aku ‘melanggar’ lampu merah.&lt;br /&gt;Namun gara-gara itu pula setiap kali aku bertemu dengan lampu merah, aku jadi bingung, mau berhenti atau terus, terutama kalau aku melihat kemungkinan untuk terus. Jikalau itu terjadi di perempatan, aku lebih sering berhenti kalau lampu merah, meskipun dengan resiko para pengendara di belakangku sibuk membunyikan klakson karena mereka menganggap laju sepedaku lelet. Jikalau itu terjadi di bundaran (misal Tugumuda) dari arah Jalan Imam Bonjol, aku sering tetap melaju, terutama kalau aku lihat tidak ada kendaraan bermotor datang dari arah kanan (dari Jalan Sugiyopranoto, maupun yang berputar datang dari Jalan Dr. Sutomo). Sesampai di traffic light di depan Museum Bhakti Mandala (ndak bener jenenge iki? Sing ning sebelahe Pasar Bulu? Lali ik. LOL.), jika lampu merah menyala, aku selalu berhenti karena lalu lintas dari arah Jalan Pandanaran maupun Jalan Dr. Sutomo selalu ramai.&lt;br /&gt;Should bikers stop at the red traffic light?&lt;br /&gt;PT56 11.22 250708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6543718976087992850?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6543718976087992850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/bikers-on-street.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6543718976087992850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6543718976087992850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/bikers-on-street.html' title='Bikers on the Street'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SIpv_unbB0I/AAAAAAAAAvA/JnK7cQkshPY/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3133043541148729710</id><published>2008-07-15T08:47:00.000+07:00</published><updated>2008-07-15T08:48:10.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Sepedaku, sepedamu, sepedanya</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;“Pandanglah orang yang berada di ‘bawah’mu agar engkau mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadamu…”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini terus menerus bergaung di benakku tatkala aku membawa sepeda ‘lungsuran’ kakakku seorang ke bengkel sepeda yang terletak di Jalan Suyudono, tak jauh dari Pasar Bulu, pada hari Jumat 11 Juli 2008.&lt;br /&gt;Lho kok?&lt;br /&gt;Backgroundnya begini. &lt;br /&gt;Hari Rabu 2 Juli, seperti yang kutulis di postingan beberapa waktu lalu, aku ngikut ‘city night riding’ yang diadakan oleh komunitas b2w Semarang. Di antara para partisipan yang ikut waktu itu, sepedaku jelas nampak paling perlu dikasihani. LOL. Usianya sama dengan Angie, 17 tahun!!! (Kalo ga salah ingat, kakakku mengirimkan sepeda merk WINNER ini ke Semarang tahun 1991, tahun anak semata wayangku itu lahir, sebelum kakakku menikahi sang pemberi sepeda tahun 1992.) Selain itu, selama beberapa tahun sepeda sempat mangkrak ga diurusin, apalagi dinaikin. LOL. &lt;br /&gt;Sepeda rekan-rekan b2w Semarang kebetulan kebanyakan merk POLYGON (aku tidak bermaksud promosi, tapi apa boleh buat? Aku ga bisa ga menyebut merek. LOL.) Aku belum tahu dengan jelas mengapa seolah-olah komunitas b2w Semarang ‘didukung’ oleh toko sepeda RODALINK yang berdomisili di kawasan Bangkong, karena beberapa rekan mempromosikan toko ini bagi member yang ingin membeli sepeda baru. Selain POLYGON, seorang member kulihat menaiki sepeda merek GIANT yang tentu jauh lebih keren dibanding milik kakakku yang berharga ‘cuma’ 3 jutaan karena harganya terpaut lima jutaan. (Gile bener!!! – ngeces mode ON. LOL. LOL.) &lt;br /&gt;Wes to poll, pit duwekku iku elik dewe. Wakakakaka ... But I love it a lot and feel proud of myself while riding it, karena selalu terngiang kata-kataku sendiri, “I have supported to reduce air pollution in my dearest hometown.” Mbombong awake dewe luwih becik tinimbang ora mbombong. Wakakakakaka ...&lt;br /&gt;Hari Minggu 6 Juli tatkala berkumpul di Stadion Diponegoro untuk ikut meramaikan acara sepeda santai yang diselenggarakan oleh Polres Semarang Timur, tentu aku berkumpul dengan rekan-rekanku yang sangat membanggakan bagiku (karena semangat bike to work). And again, sepedaku jelas terlihat yang paling ‘tua’ di antara para member b2w Semarang. Nevertheless, karena acara tersebut diikuti oleh banyak klub-klub pecinta sepeda lain, seperti SOC alias ‘Semarang Onthel Club’, sepedaku ga begitu terlihat patut dikasihani. Wakakakaka ... Lah, yang onthel-onthel itu kan tentu usianya sudah lebih dari tiga dekade.&lt;br /&gt;Hari Jumat 11 Juli. Aku bawa sepedaku ke bengkel sepeda yang kelasnya di bawah RODALINK , namun aku yakin kemampuan sang mekanik sepeda tentu ga kalah. Tatkala menunggu si Bapak mekanik membetulkan rem dan letak sadel, aku duduk-duduk di bangku depan bengkel yang sekaligus juga berjualan sepeda dan sparepartsnya. Di hadapanku kulihat berbagai macam sepeda yang dari ‘penampilannya’ jauh lebih mengenaskan dari sepeda yang akhir-akhir ini setia menemani kemana pun aku pergi. Ada seorang Bapak mengendarai sepeda onthel yang dia beli tahun 1976 yang roda depannya ringsek karena ditabrak sepeda motor. Ada beberapa orang lain yang naik sepeda tanpa rem (praktis dia harus ‘memanfaatkan’ kakinya untuk mengerem laju sepeda tatkala dia akan berhenti.) Masih ada beberapa sepeda lain yang kondisinya, bagiku, mengkhawatirkan si pengendaranya.&lt;br /&gt;Dan tatkala kupandang sepeda WINNER ku, out of the blue, dia nampak begitu gagah perkasa, sehingga aku pun berbisik dalam hati, “Thank God, I have this bike to help reduce the air pollution as well as the negative impacts of global warming.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S.: Tapi kalau ada yang mau menghadiahi aku sepeda gunung yang baru, tentu aku MAU ... MAU ... MAU!!! Huehehehehe ...&lt;br /&gt;PT56 15.00 110708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3133043541148729710?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3133043541148729710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/sepedaku-sepedamu-sepedanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3133043541148729710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3133043541148729710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/sepedaku-sepedamu-sepedanya.html' title='Sepedaku, sepedamu, sepedanya'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7361569557237150086</id><published>2008-07-11T07:36:00.000+07:00</published><updated>2008-07-11T07:40:38.319+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>7 Juli 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHar8E58c5I/AAAAAAAAAuY/sp-9MXZCa0U/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHar8E58c5I/AAAAAAAAAuY/sp-9MXZCa0U/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221549866579948434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengalaman pulang kerja hari Senin 7 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengajar jam 19.00, aku tidak langsung pulang karena tergoda membaca beberapa artikel di The Jakarta Post. Aku meninggalkan pelataran parkir kantor pukul 19.41 (menurut speedo meter yang terpasang di sepeda). Meskipun hari Minggu 6 Juli 08 aku baru saja ikut acara ‘sepeda santai’ yang diselenggarakan oleh POLRES SEMARANG TIMUR, aku sudah kepengen nggowes lagi. So, keluar dari kantor, aku berbelok ke Jalan Imam Bonjol menuju Tugumuda. Baru beberapa meter aku memasuki Jalan Pandanaran, seorang laki-laki yang naik sepeda motor membarengiku. FYI, aku biasa memasang wajah jutek kalau sedang naik motor dan digodain laki-laki. Namun berhubung aku naik sepeda dengan bike tag “BIKE TO WORK”, aku merasa ‘harus berkampanye’, aku pun tidak berwajah jutek ketika laki-laki itu menyapa, “Mau kemana mbak?”&lt;br /&gt;“Mau pulang,” jawabku.&lt;br /&gt;“Emang dari mana?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Dari kantor.”&lt;br /&gt;“Dari tadi tak perhatiin kok asik sekali ya naik sepeda malam-malam,” katanya.&lt;br /&gt;Aku cuma tersenyum.&lt;br /&gt;“Emang rumahnya mana mbak?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;Aku pikir tentu dia bakal ga percaya kalau aku bilang rumahku Pusponjolo karena aku sedang menuju ke arah Timur, menjauhi Pusponjolo. So, aku iseng aja menjawab, “Lamper ...” (FYI, dua cewe member b2w Semarang, Iput dan Maya, tinggal di Lamper)&lt;br /&gt;“Tak temenin mau kan? Kebetulan aku menuju Pedurungan nih,” kata laki-laki itu.&lt;br /&gt;Aku mulai merasa jengah dan berpikir ternyata aku salah beramah tamah dengan orang yang tidak jelas juntrungnya itu.  Namun toh aku masih tersenyum ke orang itu, merasa ‘terbebani’ tag BIKE TO WORK yang terpasang di bawah sadel sepeda, sehingga aku pun merasa memiliki tugas sebagai salah satu PR (alias public relation loh, bukan pekerjaan rumah) b2w Semarang.&lt;br /&gt;“Boleh kenalan dong...” kata laki-laki itu lagi.&lt;br /&gt;Waduh ... yo’opo rek iki? Tanyaku dalam hati. LOL.&lt;br /&gt;“Boleh kan?” rajuknya.&lt;br /&gt;Akhirnya, aku pun menjawab, “Oke. Namaku Nana. Nama Mas siapa?”&lt;br /&gt;“Loh, masak kenalan kok sambil berjalan begini. Kita sebaiknya mampir beli minum aja di satu tempat, kemudian kita ngobrol.”&lt;br /&gt;“Saya ga pengen minum kok,” aku berusaha menolak.&lt;br /&gt;“Lah pengennya apa?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Pengen naik sepeda!” jawabku. &lt;br /&gt;“Nanti sepedanya tak tarik ya biar cepet,” tawarnya.&lt;br /&gt;“Oh, ga usah, orang aku pengen naik sepeda sendiri kok, tanpa ditarik,” tolakku.&lt;br /&gt;“Beneran nih ga mau kuajak mampir beli minum?” tawarnya lagi.&lt;br /&gt;“Engga.” Jawabanku mulai terdengar judes kali, LOL, sehingga dia menyerah dan berkata,&lt;br /&gt;“Aku duluan ya mbak?”&lt;br /&gt;“Oh ... silakan...” jawabku dengan senang hati. &lt;br /&gt;Aku melanjutkan perjalanan sembari berpikir, “Seandainya aku bisa menelpon seorang teman komunitas b2w Semarang untuk kuajak night riding bersama agar ga diisengin orang lagi...”&lt;br /&gt;Sesampai di Simpang Lima, aku belok ke Jalan Pahlawan, naik sedikit, kemudian belok ke Jalan Veteran. Setelah melewati RSUP Dr. Kariadi, aku belok kiri ke Jalan Kaligarang, terus ke arah Gedung Batu, kemudian ancang-ancang belok kiri naik ke Jalan Pamularsih. Sempat hampir nabrak orang naik sepeda motor yang tanpa memberi aba-aba tahu-tahu belok kiri sekitar 5 meter di depanku. Aku ga sempat membunyikan bel sepeda, namun berteria-teriak a la Mulan Jameela “Au ... au ... au ...” LOL hingga orang itu menoleh ke arahku dan kembali ke arah tengah jalan raya. Aku bayangin kalau aku menabraknya, bakal aku yang mental. LOL. Setelah sempat menyumpahinya, “Shit!!!” aku melanjutkan perjalanan naik ‘gundukan’ Jalan Pamularsih. Bagi yang biasa naik “bukit” Gombel, tentu tanjakan Jalan Pamularsih hanyalah ‘gundukan’ belaka. &lt;br /&gt;Setelah sampai atas, tatkala menuruni ‘gundukan’ itu, speedo meter menunjukkan kecepatan 27.5, wuaaahhhh ... rasanya aku hampir terbang (padahal aku pernah naik motor dengan kecepatan 100 km per jam di Jalan Arteri menuju Kaligawe dan merasa tidak seperti terbang!) ga terbayang dah menuruni Gombel!!!&lt;br /&gt;Aku meneruskan perjalanan sampai di ujung Jalan Pamularsih tempat SMA Kesatrian terletak, kemudian aku langsung balik arah ke Timur. Hampir sampai ‘gundukan’ Jalan Pamularsih dari arah Barat, aku hampir tergoda naik lagi, namun kuurungkan niatku (bakal aku naik turun naik turun melulu dah, LOL) sehingga aku belok ke arah Puspowarno. Keluar dari kawasan Puspowarno, aku belok kanan menuju Gereja yang aku lupa namanya itu, kemudian belok kiri masuk ke kawasan Pusponjolo.&lt;br /&gt;Sesampai PT 56 aku mengecek speedo meter. Aku melalui kurang lebih 6,5 kilometer dalam waktu 40 menit.&lt;br /&gt;PT56 22.45 070708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7361569557237150086?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7361569557237150086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/7-juli-2008.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7361569557237150086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7361569557237150086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/7-juli-2008.html' title='7 Juli 2008'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHar8E58c5I/AAAAAAAAAuY/sp-9MXZCa0U/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2763653108802596658</id><published>2008-07-11T07:30:00.000+07:00</published><updated>2008-07-11T07:34:34.267+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Promosi b2w</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHaqMKS-MFI/AAAAAAAAAuQ/o7xj5BS6MWo/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHaqMKS-MFI/AAAAAAAAAuQ/o7xj5BS6MWo/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221547943881748562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat ’45, hari Selasa 1 Juli 08 aku meluncur ke masjid Baiturrahman naik sepeda, sekitar pukul 08.45. I had a date with one best friend of mine, yang baru sekitar sebulan lalu balik dari Kansas University, to pursue her Master’s Degree dengan beasiswa dari Fulbright. &lt;br /&gt;Karena sinar matahari cukup terik, aku memilih duduk di balik menara di sebelah Selatan. Sepeda kuparkir tidak jauh dari tempat aku duduk.&lt;br /&gt;Setelah temanku datang, kita ngobrol sangat ‘heboh’. Maklum kurang lebih selama dua tahun kita tidak bertemu. Meskipun kita sometimes still kept in touch via YM maupun email tatkala dia berada di Kansas, bertemu dan ngobrol langsung tentu terasa lebih lively, ketimbang chatting via YM.&lt;br /&gt;Dua jam berlalu. Kemudian dia mengajak kita pindah tempat ngobrol di sebuah rumah makan di Jalan Hayamwuruk. Pada waktu itulah aku ‘promosi’ bersepeda untuk pergi kemana-mana, meskipun aku tahu agak sulit baginya untuk bike to work berhubung dia tinggal di perumahan Bukit Kencana Jaya. Kamu tahu apa yang dia bilang mendengarku berpromosi bike to work?&lt;br /&gt;“Waktu di Kansas, aku juga naik sepeda ke kampus maupun ke perpustakaan kok mbak.”&lt;br /&gt;Weleh, kampanye ke orang yang salah dah. Hahahaha ... Dan seperti yang telah kuperkirakan sebelumnya, dia merasa ga mungkin bersepeda dari Bukit Kencana Jaya untuk ke kantornya yang terletak di Jalan Hayamwuruk, atau kadang-kadang harus ke Tembalang.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Hari Jumat 4 Juli 08 kebetulan ‘soulmate’ ku yang sejak tahun 2006 pindah kerja di Universitas Brawijaya Malang pulang ke Semarang sehingga sobatku yang barusan pulang dari Kansas kuajak menyambanginya. Dan seperti cerita yang di atas, aku ke masjid Baiturrahman naik sepeda, aku pun naik sepeda ke rumah Juli – my soulmate when we were pursuing our studies at American Studies Graduate Program of UGM – di kawasan Citarum.&lt;br /&gt;Semula obrolan kita bertiga lumayan mengasikkan, berkisar dari budaya membaca orang Indonesia yang masih rendah sehingga Eta harus berusaha keras untuk menaklukkan budaya membaca yang masih rendah ini agar tidak kalah dari teman-teman kuliahnya di Kansas University, teori Semiotika milik Umberto Eco yang bagi Juli dan aku sulit dipahami (tanpa teori apa pun, aku suka saja sih berusaha membaca signs, for example: when someone sends you private pictures of his, I “read” them as he offers himself to me, asik ... LOL.), perbandingan kuliah S2 di jurusan Sastra UNDIP (Eta), S2 di American Studies UGM (aku dan Juli), dan S2 di Kansas University (Eta), teori Judith Butler yang terkenal dengan bukunya “Gender Trouble”, spesifikasi para professor di Amerika (misal: Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu waktu aku kuliah di American Studies, memiliki spesifikasi di “American Romantic Era”, dosen-dosen Eta pun begitu, hanya mahir di “Victorian Era” saja, namun kedalaman pemahamannya tentang “Victorian Era” itu benar-benar meyakinkan), cara mengajar beberapa dosen di Unibraw, dll. Tatkala Juli’s baby terbangun mendengar suara tiga perempuan yang berkicau riuh rendah, akhirnya Juli pun tidak bisa mengikuti obrolanku dengan Eta karena dia disibukkan si baby.&lt;br /&gt;Seperti keinginanku semula, aku pun tak lupa berpromosi bike to work.&lt;br /&gt;“Eh Juli, aku naik sepeda loh!”&lt;br /&gt;Ternyata, sekali lagi, aku berpromosi ke orang yang salah, karena ternyata Juli menjawab, “Loh mbak, aku juga naik sepeda loh di Malang!” &lt;br /&gt;Kacian deh gue ... LOL. LOL.&lt;br /&gt;Namun aku lumayan senang tatkala ternyata Juli terheran-heran melihat sepedaku. “Loh mbak, kamu naik sepeda tadi ke sini? Yah ... kan Pusponjolo sini jauh???”&lt;br /&gt;“Bukannya tadi aku bilang aku ke sini naik sepeda?” tanyaku, geli.&lt;br /&gt;“Kirain kamu cuma cerita ke kantor naik sepeda. Ga nyangka kalau sampai sini kamu pun naik sepeda.”&lt;br /&gt;Well, not bad eh? My intention to surprise Juli worked a little. LOL.&lt;br /&gt;PT56 20.54 060708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2763653108802596658?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2763653108802596658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/promosi-b2w.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2763653108802596658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2763653108802596658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/promosi-b2w.html' title='Promosi b2w'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHaqMKS-MFI/AAAAAAAAAuQ/o7xj5BS6MWo/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-9134247501190183563</id><published>2008-07-11T07:17:00.000+07:00</published><updated>2008-07-11T07:30:10.010+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Bike to work, yuk?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHapVNK1SfI/AAAAAAAAAuI/BC2zynhNp4s/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHapVNK1SfI/AAAAAAAAAuI/BC2zynhNp4s/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221546999760112114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu “resiko”, atau well ... “tanggung jawab” sebagai salah satu member komunitas pekerja bersepeda di Semarang (alias bike to work community), maka setelah libur kenaikan kelas, memasuki term 3 tahun 2008, aku mulai berusaha kontinyu bersepeda ke kantor. Kebetulan rumahku terletak tak jauh dari kantor. Maksimal aku butuh waktu 10 menit dari rumah ke kantor dengan kecepatan sedang, yang berarti aku ga perlu sampai bernafas terengah-engah sesampai kantor. Senin sampai Jumat aku bisa naik sepeda ke kantor; sedangkan hari Sabtu kupilih sebagai hari ‘libur’ bersepeda ke kantor karena aku harus mengajar di cabang Tembalang. (aku belum tergoda untuk berusaha menaklukkan Gombel dengan naik sepeda!)&lt;br /&gt;Hari Rabu 2 Juli kemarin, untuk pertama kali aku ngikut komunitas b2w Semarang keliling kota untuk kampanye. Acara yang kita sebut “city night riding” (utowo ‘night city riding’ yo? Aku kudu takon Jack C. Richards be’e. LOL) diikuti oleh sekitar 12 orang. Rute yang kita pilih dari Bank Mandiri Syariah Jalan Pemuda (thanks to the new member of b2w Semarang yang bekerja di situ, yang barusan pindah dari Jakarta, sehingga Bank Mandiri Syariah Pemuda bisa dipakai untuk menjadi ‘meeting point’.) ke Tugumuda, belok kiri masuk Jalan Pandanaran; lurus sampai Simpang Lima, terus sampai perempatan Bangkong, belok kiri masuk Jalan Mataram; lurus sampai bundaran Bubakan, masuk ke kawasan kota lama, dan kita berhenti di halaman Gereja Blenduk. Nongkrong sambil bernarsis ria di depan kamera. (Do you know that salah satu dampak ‘negatif’ site sebangsa multiply.com adalah menjadi ajang kenarsisan orang-orang ‘biasa’ alias bukan selebriti? LOL.) Dari Gereja Blenduk, kita muter ke Jalan Merak, trus balik ke Jalan Jendral Suprapto, belok kanan menuju jembatan kali Berok, masuk Jalan Pemuda, dan kembali ke starting point di depan Bank Mandiri Syariah.&lt;br /&gt;Di antara 12 orang yang ngikut, satu tinggal di kawasan Sendang Mulyo, satu di Tembalang, satu di Ngaliyan, (bayangin aja geografis tiga tempat itu, yang paling ‘mudah’ di Ngaliyan, meskipun tetap menanjak juga). Waktu pulang, aku bareng yang tinggal di Ngaliyan. Dia sempat bercerita berhubung kantornya lumayan dekat dari tempat tinggalnya – Krapyak – dia merasa perlu muter-muter dulu, agar hobby pit-pitannya tersalurkan, yakni muter ke Simpang Lima! G-U-B-R-A-K!!! LOL.&lt;br /&gt;Alhasil hari Kamis 3 Juli seusai mengajar jam 7, sebelum pulang aku pun ‘ikut-ikutan’ muter-muter dulu; dari Jalan Pierre Tendean ke Tugumuda, belok Jalan Pandanaran, lurus ke Simpang Lima, belok ke Jalan Gajahmada, lurus sampai ke Jalan Pemuda, Tugumuda, Jalan Sugiyopranoto, setelah jembatan sungai Banjir Kanal, lurus ke daerah Pasar Karangyu, belok kiri di Jalan Puspowarno Raya, lurus sampai Gereja (mboh jenenge opo rak reti, lali, LOL) belok kiri masuk kawasan Pusponjolo.&lt;br /&gt;Kesimpulan: ternyata benar apa yang dikatakan Triyono yang pertama kali “menemukanku” di multiply untuk ngikut komunitas b2w: pit-pitan dewekan ora enak!!! LOL. &lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Hari Jumat 4 Juli. Kebetulan tatkala aku memberikan kesempatan kepada siswa-siswi kelas baru untuk bertanya, salah satu dari mereka bertanya, “How do you go to the office, Miss?”&lt;br /&gt;Aha ... pucuk dicinta ulam tiba. Dengan senang hati aku menjawab, “I go to work by bicycle.”&lt;br /&gt;Siswa itu semula mengangguk-angguk, mimik wajahnya terlihat biasa saja, juga siswa siswi yang lain. But, setelah ‘ngeh’ apa itu arti kata ‘bicycle’, (mungkin semula dia mengira aku menyebut kata ‘motorcycle’) anak itu mendongakkan wajah ke aku, terlihat heran, kemudian bertanya, “By bicycle Miss?” dengan nada tidak percaya.&lt;br /&gt;I caught him!!!&lt;br /&gt;So, dengan senang hati aku bercerita – alias berpromosi – tentang komunitas b2w yang memiliki ‘impian’ indah untuk berperan aktif dalam mengurangi polusi udara plus dampak buruk global warming. Seperti kata Firman, ketua organisasi b2w Semarang tatkala diwawancarai oleh TVKU, “Semula mungkin hanya bersepeda ke kantor, lama-lama mengapa tidak menggunakan sarana sepeda untuk pergi kemana-mana.” Seandainya lebih banyak lagi kita mampu menjaring pemerhati dan peserta komunitas b2w (dan menjadi pelaku aktif), rasanya bukan harapan yang muluk-muluk kalau kita ingin menjadikan impian kita menjadi nyata: mengubah langit di kota Semarang menjadi biru, tanpa asap knalpot yang berlebihan.&lt;br /&gt;PT56 20.12 060708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-9134247501190183563?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/9134247501190183563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/bike-to-work-yuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/9134247501190183563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/9134247501190183563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/07/bike-to-work-yuk.html' title='Bike to work, yuk?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SHapVNK1SfI/AAAAAAAAAuI/BC2zynhNp4s/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-110955969634140034</id><published>2008-06-25T08:29:00.000+07:00</published><updated>2008-06-25T08:35:57.748+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book review'/><title type='text'>Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;“Ilmu pengetahuan, kelihatannya, bukannya tak berjenis kelamin; dia laki-laki, seorang ayah, dan kena sifilis pula.” (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Virginia Woolf&lt;/span&gt;, seorang penulis feminis berasal dari Inggris.)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa abad dunia ini telah ‘dikuasai’ oleh kaum laki-laki? Uncountable centuries!!! &lt;br /&gt;Tidaklah mengherankan jika ‘kemunculan’ ilmu-ilmu pengetahuan pun berasal dari pemikiran kaum laki-laki, perempuan hanya duduk di bangku penonton. Laki-laki yang menguasai dunia permainan ini menggunakan cara berpikirnya, berdasarkan pengalaman-pengalamannya kemudian membentuk atau menciptakan berbagai macam teori dalam berbagai ilmu, tanpa memasukkan cara berpikir maupun pengalaman kaum perempuan yang hanya menjadi penonton. Sayangnya kemudian para laki-laki ini menggeneralisasi bahwa cara berpikir mereka mewakili kaum laki-laki dan perempuan. Perempuan yang tidak dilibatkan dalam berbagai penemuan ilmu pengetahuan ini (karena mereka didomestikasi) diharuskan memandang segala macam persoalan/kasus dari sudut pandang laki-laki pula. &lt;br /&gt;Contoh yang sangat ringan. Laki-laki selalu merasa bahwa mereka diciptakan lebih kuat dibanding perempuan karena mereka menciptakan parameter untuk kekuatan ini. Laki-laki mampu mengangkat beban seberat 100kg, misalnya, sedangkan bagi perempuan hal ini sulit dilakukan. Well, kalaupun ada, at least, tidak sembarang perempuan mampu melakukannya.&lt;br /&gt;Gerakan perempuan mulai kelihatan taringnya di awal abad 19, terutama ketika ada KTT perempuan pertama pada tahun 1848 di Seneca Falls di Amerika, yang bisa dikatakan sebagai tonggak mulainya perjuangan panjang kaum perempuan untuk mensejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki. Munculnya generasi feminisme yang pertama—feminisme liberal—mengupayakan hak kaum perempuan untuk menikmati bangku sekolah, dan ikut berpolitik. Feminisme liberal ini kemudian diikuti oleh gerakan-gerakan perempuan yang lain.&lt;br /&gt;Kembali ke contoh yang sangat ringan di atas. Seandainya kaum perempuan menciptakan parameter untuk kekuatan, tentu mereka akan menggunakan tolok ukur yang berbeda. Mengapa Tuhan menciptakan kaum perempuan yang katanya lemah ini lengkap dengan rahim, yang kemudian dari rahim itu akan muncul generasi-generasi yang akan datang? Tentu karena kaum perempuan lebih kuat dibanding kaum laki-laki. Lebih banyak perempuan yang mampu hidup sampai usia lanjut, dibandingkan dengan laki-laki yang berusia sama, karena perempuan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan. Lebih kuat kan?&lt;br /&gt;Perempuan dengan pengalamannya sebagai pihak yang dimarjinalisasi dalam kultur patriarki ini, yang ingin bangkit untuk setara, mulai bersatu dan masuk ke ranah yang dianggap eksklusif milik kaum laki-laki; yakni dengan mulai menciptakan teori-teori baru, ditemukanlah cara-cara berpikir baru dengan mengedepankan pengalaman perempuan yang tentu sangat berbeda dengan pengalaman laki-laki. &lt;br /&gt;Dalam bidang Sastra—karena aku berasal dari disiplin Sastra—gerakan perempuan ini berhasil menemukan tulisan-tulisan kaum perempuan yang telah lama terkubur dan dilupakan orang, sementara tulisan kaum laki-laki yang sezaman masih sering ditemukan sampai sekarang ini. sebelum ada gerakan perempuan, karya-karya milik penulis laki-laki merajai KANON. Seandainya orang menilik &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;THE NORTON ANTHOLOGY OF AMERICAN LITERATURE&lt;/span&gt;, tentu mereka akan lebih banyak menemukan karya kaum laki-laki yang memberikan kesan seolah-olah kaum perempuan pada waktu itu hanya duduk manis di dapur, memasak untuk suami dan anak-anak. Kalaupun ada karya penulis perempuan yang masuk ke dalam antologi, tentu berkisar ke itu-itu saja, misalnya saja di Amerika, nama &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Emily Dickinson&lt;/span&gt; sangatlah terkenal atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jane Austen&lt;/span&gt; dari Inggris. Tulisan-tulisan kaum perempuan lain dianggap tidak layak untuk masuk ke dalam KANON karena cara penilaiannya yang tentu masih sangat male-oriented.&lt;br /&gt;Gerakan perempuan mampu menguak kembali banyak karya penulis perempuan yang telah lama dilupakan orang. Misalnya: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Charlotte Perkins Gilman&lt;/span&gt; dari Amerika, dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anna Wickham&lt;/span&gt; dari Inggris. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sandra Gilbert&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susan Gubar&lt;/span&gt; membukukan hasil risetnya dalam buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;THE NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN&lt;/span&gt;. Dengan memasukkan female perspectives, dengan pengalamannya sebagai perempuan, banyak karya-karya penulis perempuan yang layak pula masuk KANON. Dari contoh di bidang Sastra ini kita mampu menarik kesimpulan betapa this male-dominated world telah berbuat tidak adil kepada kaum perempuan.&lt;br /&gt;Aku mengawali artikel ini dengan meng-quote kata-kata Virginia Woolf, aku ingin mengakhirinya dengan meng-quote kata-kata &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Annie Leclerc&lt;/span&gt;: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Aku mengidamkan agar kaum perempuan belajar menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki”.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;PT56 14.38 241206&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-110955969634140034?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/110955969634140034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ilmu-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/110955969634140034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/110955969634140034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ilmu-pengetahuan.html' title='Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2637650020042494758</id><published>2008-06-18T15:05:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T16:07:02.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Ngepit menyang kantor :)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFjP9u2jTaI/AAAAAAAAArU/_gmCnC0sNZc/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFjP9u2jTaI/AAAAAAAAArU/_gmCnC0sNZc/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213145228137156002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catatan tambahan untuk pengalaman pertama “ngepit menyang kantor”. &lt;br /&gt;Karena aku berangkat satu jam sebelum jam kerja mulai, bisa dipahami jika aku datang nomor satu. Sesampai di ruang guru, aku langsung menyalakan AC, ngadem sejenak di bawahnya, kemudian menyalakan “the cutie”. Dan mulailah aku scribble tulisan yang kuberi judul THE FIRST TIME ...&lt;br /&gt;Tak lama kemudian seorang rekan kerja datang, menyapaku ramah, “Aih tumben, bu Nana datang duluan.” (NOTR: biasanya aku jarang datang duluan nih. LOL.)&lt;br /&gt;Karena aku terkena demam b2w, aku langsung menyambut sapaannya dengan agak berteriak, “GUESS WHAT? I BIKE TO WORK TODAY!!!” sambil mengepal-ngepalkan tanganku ke udara. (ndeso poll yah? hahahaha ...)&lt;br /&gt;“Wow ... you really did it, Ma’am?” (alias “Wah, beneran nih Bu Nana terprovokasi bike to work?”)&lt;br /&gt;“Yup! Aku sedang nulis nih pengalamanku tadi.” Kataku.&lt;br /&gt;“Aku mau liat sepeda Bu Nana dong,” katanya.&lt;br /&gt;“Ada tuh di depan, keluar dari pintu, sebelah kanan, tempat biasa aku markir motor,” jawabku. (NOTE: “tempat biasa” ini telah kukontrak seumur hidup. Wakakakaka ...)&lt;br /&gt;“Ah nanti aja...” komentarnya.&lt;br /&gt;Aku melanjutkan ngetik. &lt;br /&gt;Rekan kerjaku ini ternyata memperhatikan baju yang kukenakan. Katanya, “Oh, itu sebabnya you are wearing jeans and polo shirt now?”&lt;br /&gt;“Iya, aku bawa baju ganti kok, biasa rok panjang hitam plus blus hitam.”&lt;br /&gt;Seorang rekan kerja lain datang. Rekan kerja yang pertama pun berpromosi,&lt;br /&gt;“Eh mbak, Bu Nana bike to work loh hari ini.”&lt;br /&gt;“Oh ya? Is that true, Ma’am?” tanyanya kepadaku.&lt;br /&gt;Aku mengangguk-angguk, masih meneruskan ngetik.&lt;br /&gt;“Wah ... Bagaimana kalau kita juga naik sepeda ke kantor?” ajak rekan kerja #2.&lt;br /&gt;Rekan kerja #1 ga komentar.&lt;br /&gt;“Oh, kamu ga bisa naik sepeda kok ya?” kata rekan kerja #2.&lt;br /&gt;Rekan kerja #1 cuma mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;Aku sempat heran mendengarnya. Tapi aku ingat salah satu guruku waktu SMA juga mengaku ga bisa naik sepeda. Karena trauma waktu kecil jatuh dari sepeda. Beliau juga takut naik becak. Mungkin pernah jatuh dari becak juga? Entahlah. LOL. &lt;br /&gt;Aku juga ingat seorang teman sekelas waktu kuliah S2 yang keman-mana diantar sang suami yang setia naik motor. Belakangan ketahuan ternyata temanku yang memiliki tubuh tinggi dan lumayan atletis ini tidak bisa naik motor maupun sepeda. &lt;br /&gt;Seusai mengajar hari itu, beberapa rekan kerja ‘mengantarku’ keluar kantor. Tanya kenapa? Mereka pengen melihatku naik sepeda. LOL.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Dari kantor aku sempat mampir ke warnet yang terletak di Jalan Imam Bonjol, ga jauh dari kantor. Aku ingin segera posting tulisan yang kubuat pada hari Minggu di blog.&lt;br /&gt;Waktu memasuki areal parkir, pak Satpam yang berperan juga sebagai tukang parkir menyambutku begini,&lt;br /&gt;“Wah, naik sepeda mbak? Tak kira tadi cowo. Ternyata mbak-e. Gara-gara harga bensin naik ya?”&lt;br /&gt;“Betul Pak...” jawabku.  Setelah memarkir sepeda, aku langsung masuk gedung.&lt;br /&gt;Setelah usai, kurang lebih 10 menit sebelum pukul 21.00, aku bingung mencari-cari dompet di tas kok ga ada? Tasku berisi the cutie and the cable, rok plus blus, handuk plus sabun mandi (yang ga jadi kupakai karena ternyata aku ga terlalu berkeringat, maklum cuma naik sepeda 6 menit doang!) dan beberapa buku. Berhubung isinya segala macam, LOL, kupikir dompet nyungsep di sebelah mana gitu. &lt;br /&gt;Namun ternyata meskipun semua ‘benda’ itu telah kukeluarkan, aku ga juga menemukan dompetku.&lt;br /&gt;“Goodness ... aku lupa memasukkan dompet ke tas,” keluhku. &lt;br /&gt;Namun berhubung, wajahku ini sudah ‘tercemar’ alias semua pegawai warnet mengenaliku sebagai member yang cukup rajin datang, dengan ‘muka tembok’, LOL, aku bilang ke seorang laki-laki, kira-kira 15 tahun lebih tua dariku, yang duduk di kursi kasir,&lt;br /&gt;’Waduh Pak, maaf Pak, lupa bawa dompet nih. Saya bayarnya besok ga papa kan?”&lt;br /&gt;Dan, seperti yang telah kuperkirakan, si Bapak itu bilang,&lt;br /&gt;“Oh, ga papa mbak, santai aja. Bayar besok juga boleh.”&lt;br /&gt;Asik ...&lt;br /&gt;(memang bermuka tembok kadang-kadang diperlukan dalam berinteraksi dengan orang lain. Hahahaha ...)&lt;br /&gt;Sesampai di tempat parkir, aku mengatakan hal yang sama kepada yang jaga parkir.&lt;br /&gt;Komentarnya, “Mbak lupa masukin dompet karena hari ini naik sepeda sih.” huehehehe ...&lt;br /&gt;Aku selalu senang jika ada sesuatu yang bisa kujadikan ‘scapegoat’ alias kambing hitam. LOL. Selama aku ga merugikan orang lain ajalah. Dan yang kujadikan kambing hitam ga protes. LOL.&lt;br /&gt;PT56 14.35 180608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2637650020042494758?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2637650020042494758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ngepit-menyang-kantor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2637650020042494758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2637650020042494758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ngepit-menyang-kantor.html' title='Ngepit menyang kantor :)'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFjP9u2jTaI/AAAAAAAAArU/_gmCnC0sNZc/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7341651444875716604</id><published>2008-06-16T19:46:00.001+07:00</published><updated>2008-06-16T19:55:07.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>The First Time ...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZhbraGTGI/AAAAAAAAAq0/ZRh6os21Ovs/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZhbraGTGI/AAAAAAAAAq0/ZRh6os21Ovs/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212460746864479330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“I did it!!! I shouted inside my heart, talking to myself. :-D&lt;br /&gt;This reminded me of one ‘motto’ I once joked to one loved ones of mine, “There will always be the first …”&lt;br /&gt;The first in anything …&lt;br /&gt;The first marriage …&lt;br /&gt;The first divorce …&lt;br /&gt;The first baby …&lt;br /&gt;The first boyfriend/girlfriend …&lt;br /&gt;The first book to buy …&lt;br /&gt;The first book to read …&lt;br /&gt;The first book to publish …&lt;br /&gt;The first job …&lt;br /&gt;You name it.&lt;br /&gt;Including what I just did today: THE FIRST TIME BIKE TO WORK!!!&lt;br /&gt;Today, Monday 16 June 2008 the electricity was off when I arrived home from Paradise Club, one fitness center in Semarang. I was very disappointed of course since I couldn’t do one dearest hobby of mine: SCRIBBLING SOMETHING while in fact when at PC I already planned what to write after taking a shower. &lt;br /&gt;Since nothing I could do but reading, so after taking a shower I just lazed myself away on my comfortable bed although a bit hot since the fan was off (due to the blackout). After browsing one gossip tabloid (and feeling entertained when reading a movie review of SEX AND THE CITY movie, can’t wait to watch it! When will it come to my hometown? SATC is my favorite television serials, although I didn’t watch it on television.) and today’s (local) newspaper, I tried napping.&lt;br /&gt;However I couldn’t fall asleep.&lt;br /&gt;My mind was full of what I want to write.&lt;br /&gt;I don’t know from where the idea came but I started to think of going to the office by bike today. Yesterday I wrote three short articles on ‘bike to work’ to post at my blog. Absolutely I support this healthy and environmentally-friendly habit. I started think of telling the members of b2w Semarang mailing list that I also have done it. (FYI, just a couple of days ago I joined the mailing list.)&lt;br /&gt;Amused by the idea to tell the b2w gang, I became more sure.&lt;br /&gt;Wanna know my experience during my ‘trip’ to the office, that in fact only took 6 minutes? (My dwelling place is in Pusponjolo, while my office is on Pierre Tendean street.) I was wearing blue jeans, a long-sleeved black polo shirt, sandals (or in Indonesia they are called ‘shoe sandals’), black socks and an old green hat of mine (I bought it in 1986!). When passing a garage in the next alley, a mechanic shouted, “Ayo mbak, ngetrek mbak!” (“Come on, sis, be fast!”) Nearing the roundabout before Banjir Kanal river bridge, a group of police inside a car passing by me looked at me, one of them said, “Ayo mbak, ngebut!” (“Come on, sis, ride it quickly!”)&lt;br /&gt;I thought it must be caused by the yellow tagline under the saddle saying BIKE TO WORK.&lt;br /&gt;I feel glad. Although a little, I have tried doing something to join the crowd to reduce the air pollution of our earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S.: After arriving at the office, I 'changed' my clothes to my 'usual' so-called uniform, a long black dress, and a black blazer, but minus my lovely black boots. :)&lt;br /&gt;LL 14.53 160608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7341651444875716604?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7341651444875716604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/first-time.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7341651444875716604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7341651444875716604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/first-time.html' title='The First Time ...'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZhbraGTGI/AAAAAAAAAq0/ZRh6os21Ovs/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5976121994220336682</id><published>2008-06-16T19:31:00.001+07:00</published><updated>2008-06-16T19:38:47.494+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Bike to work</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZeZFnWtrI/AAAAAAAAAqk/kUJZNW0i8lc/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZeZFnWtrI/AAAAAAAAAqk/kUJZNW0i8lc/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212457403824912050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“I am not sure if you will succeed in gathering many people to join that b2w community,” this was Angie’s pessimistic comment when seeing the flyer of ‘bike to work’.&lt;br /&gt;I said nothing to hear that. I am more optimistic than she is, I assume.&lt;br /&gt;However, Angie’s comment reminded me of one nineteenth-century American thinker, Henry David Thoreau with his experience living around a pond, all alone, away from ‘civilized society’, that he wrote in his book entitled WALDEN. He did that to criticize American government that he thought damaged the environment by building trans-continental railway during the decade of 1860s. Despite the fact that the railway would help improve the transportation so that it would also result in good business plus profit, smoke coming out of the train would absolutely damage the environment. Thoreau, the true environmentalist, extremely objected the railway building. But what could a Thoreau do to stop it? Even, his good friend as well as teacher, Emerson, only expressed his objection toward the then government’s so-called crazy idea. Emerson did not do any real action to show it.&lt;br /&gt;Bike-to-work idea itself is great and easy to do. This is also obviously more possible to carry out rather than Thoreau’s idea to leave the city he lived to live in a forest, living like a hermit, away from other people, only consuming anything he found in the forest. I believe that it is an absurd thing to do what Thoreau did in this internet era. Do you agree?&lt;br /&gt;So, why is it difficult to attract people’s attention to join b2w community? (This is the result of seeing some people’s reluctant reaction when getting the flyer of b2w during ‘fun bike’ held in Semarang on June 15, 2008) It is essential that we do care for our environment, isn’t it? &lt;br /&gt;I think the answer is on Indonesian people’s way of life. We are ‘popular’ to have high-class lifestyle. Have you ever heard how Indonesian government officials went to a building where they would get debt from some debtor countries? While the officials from the debtor countries came by a simple car, Indonesian officials came by a luxurious car.&lt;br /&gt;Japan that used to colonize Indonesia from 1942-1945 successfully rose from the crumble due to the bomb to Hiroshima and Nagasaki. It has become one giant country in Asia. But look at the people’s way of living. Although many of them have private cars, they would prefer to go by public transportation. In Indonesia, people would prefer to show off their ‘property’ by driving cars or riding motorcycles that probably they haven’t fully paid. They would rather expose their prestige. Likewise, other people would prefer to show their respect to people driving cars rather than people riding motorcycles. (Try going to a mall or supermarket close to your dwelling place by bike and see how the parking person will treat you!)&lt;br /&gt;Last Saturday morning on my way to my workplace located 11 kilometers away from my dwelling place, when passing Gombel ‘hill’, suddenly I daydreamed to see other motorists riding a bike. No vehicles on the road but bikes and buses (as public transportation). I daydreamed not to breathe polluted air.&lt;br /&gt;PT56 21.31 150608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5976121994220336682?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5976121994220336682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/bike-to-work.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5976121994220336682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5976121994220336682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/bike-to-work.html' title='Bike to work'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZeZFnWtrI/AAAAAAAAAqk/kUJZNW0i8lc/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3996023738235632535</id><published>2008-06-16T19:27:00.003+07:00</published><updated>2008-06-16T20:27:19.851+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>B2w Semarang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZf8oEhqyI/AAAAAAAAAqs/mQAL7MXh0es/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZf8oEhqyI/AAAAAAAAAqs/mQAL7MXh0es/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212459113881119522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Bike to work” alias sering disingkat menjadi b2w mulai mendapatkan atensi yang lumayan serius di Semarang, dengan dibentuknya komunitas bike to work Indonesia Chapter Semarang. Salah satu anggota komunitas yang sangat gigih yakni Triyono (bisa dilihat profile-nya di http://aluizeus.multiply.com merintis komunitas ini dengan mengumpulkan beberapa orang yang berminat sama dengannya, dengan cara ‘bergerilya’ lewat jaringan dunia maya di www.multiply.com juga dengan membentuk mailing list b2w-semarang@yahoogroups.com. &lt;br /&gt;Hari Minggu jam enam pagi dipilih sebagai saat untuk kopi darat anggota komunitas b2w Semarang di depan Gedung Telkom Jalan Pahlawan Semarang. Kebetulan pada tanggal 15 Juni 08 ada acara ‘fun bike’ di Balai Kota Semarang. Event ini digunakan oleh komunitas b2w Semarang untuk menjaring lebih banyak anggota, dengan menyebarkan flyer b2w. Itu sebab pada hari tersebut acara kopi darat dipindah ke Jalan Pemuda.&lt;br /&gt;Inilah motto yang dicetak di flyer tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURANGI DAMPAK GLOBAL WARMING. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KALAU BUKAN KITA LALU SIAPA?&lt;br /&gt;KALAU TIDAK SEKARANG LALU KAPAN?&lt;br /&gt;LET’S ACT BEYOND GREEN!&lt;br /&gt;LET’S BIKE TO WORK!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AYO BERSEPEDA KE TEMPAT KERJA!&lt;br /&gt;CIPTAKAN GAYA HIDUP BARU YANG LEBIH SEHAT, HEMAT DAN RAMAH LINGKUNGAN. BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI BIKE TO WORK INDONESIA CHAPTER SEMARANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lah yang telah membuat lingkungan tempat tinggal kita menjadi tidak bersahabat dengan kita, dengan menciptakan kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah yang dapat membahayakan kelangsungan hidup kita, menebang pohon semena-mena tanpa perhitungan yang matang. Kita sendiri pula yang harus menderita karena tindakan kita merusak alam. Sehingga kita juga yang harus melakukan tindakan preventif untuk mencegah perusakan alam menjadi lebih parah.&lt;br /&gt;Gerakan menanam sejuta pohon telah mulai digalakkan di beberapa tempat. &lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita ikut serta dengan membiasakan diri naik sepeda untuk mengurangi kadar polusi di bumi yang kita tinggali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sejuta sepeda di Semarang.&lt;br /&gt;PT56 20.10 150608&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini, foto-foto event 15 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZpIu-WbRI/AAAAAAAAArM/hhH_JcsUGxw/s1600-h/b2w2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZpIu-WbRI/AAAAAAAAArM/hhH_JcsUGxw/s320/b2w2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212469217497345298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZoR5bYoQI/AAAAAAAAArE/RwYdTPDLoEw/s1600-h/b2w.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZoR5bYoQI/AAAAAAAAArE/RwYdTPDLoEw/s320/b2w.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212468275410673922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZmCMQ-nQI/AAAAAAAAAq8/QyuhFoIZsnM/s1600-h/b2w3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZmCMQ-nQI/AAAAAAAAAq8/QyuhFoIZsnM/s320/b2w3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212465806566137090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3996023738235632535?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3996023738235632535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/b2w-semarang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3996023738235632535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3996023738235632535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/b2w-semarang.html' title='B2w Semarang'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZf8oEhqyI/AAAAAAAAAqs/mQAL7MXh0es/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-619967133582458510</id><published>2008-06-16T19:18:00.000+07:00</published><updated>2008-06-16T19:26:28.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b2w'/><title type='text'>Bersepedaan Yuk?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZb0nuZ4QI/AAAAAAAAAqc/w57tNyMWIXY/s1600-h/b2w.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZb0nuZ4QI/AAAAAAAAAqc/w57tNyMWIXY/s320/b2w.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212454578302869762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu yang lalu, aku disapa oleh seseorang di Multiply page-ku yang beralamat di http://afemaleguest.multiply.com. Sapaan dari seseorang yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com itu merupakan ajakan untuk ikut komunitas “b2w”. &lt;br /&gt;“b2w” apaan yah?” tanyaku kepada seorang rekan kerja, sekeluarku dari warnet yang terletak di sebelah tempat kerjaku. &lt;br /&gt;“No idea either, Ma’am,” jawabnya.&lt;br /&gt;But then ketika di buku CV1 yang dia bawa dia temukan istilah ‘bike to work’, kontan dia langsung berkomentar, “Bike to work, kali Ma’am?”&lt;br /&gt;“Aha ... probably,” jawabku.&lt;br /&gt;Kontan aku ingat Abangku yang pernah bercerita tatkala dia masih tinggal di Kelapa Gading, Jakarta dia pernah memiliki kebiasaan ‘bike to work’, alias berangkat bekerja naik sepeda. Waktu itu dia memiliki kantor yang berlokasi di kompleks perumahan yang sama, Kelapa Gading, tahun 1998-2001, sehingga dia bisa mempraktekkan kebiasaan yang ramah lingkungan ini, tanpa harus menjadi ‘korban’ menghirup udara Jakarta yang penuh polusi (karena tidak perlu keluar dari kompleks.) itu. Kadang-kadang dia bersama komunitasnya melakukan off-road trip ke daerah Puncak dan sekitarnya dengan naik sepeda tentu saja. FYI, dia pindah ke OZ tahun 2002. Sejak itu hanya di musim summer saja dia bersepeda di akhir pekan.&lt;br /&gt;Waktu aku bercerita kepadanya aku pernah naik sepeda untuk ‘napak tilas’ jalan-jalan yang kulalui sewaktu ikut karate LEMKARI di bangku SMP sejauh 10 kilometer (dalam kegiatan karate, kita melaluinya sambil berlari, campur berjalan kaki, tanpa memakai alas kaki), dia ketawa, “Ah, 10 kilometer sih kecil Na. Itu jarak yang kulahap setiap hari!” katanya. Lah, memang aku kecil, sedangkan dia besar! Hahaha ... But, aku lupa satu hal yang seharusnya kuceritakan kepadanya waktu itu. Waktu ‘napak tilas’ itu, aku sendirian, naik sepeda mini berwarna kuning milik kakakku (NOTE: bagi pengunjung baru blogku, yang kusebut ‘kakakku’ berbeda dengan ‘Abangku’), dengan kondisi rem blong. So? Tatkala melewati tanjakan, sepeda kutuntun, waktu di jalan menurun pun sama, sepeda juga kutuntun. LOL. (NOTE: bagi orang Semarang, route napak tilas ini dari Pusponjolo ke arah Selatan, ke daerah Gedung Batu Sam Po Kong, Phaphros (carane nulis piye? Aku lali! LOL), naik ke daerah Jalan Gedong Songo, jalanan menanjak, (kalau ga salah ingat nama jalannya), trus sampai di daerah Manyaran, belok kanan yang sekarang menuju ke Gedung Persaudaraan Haji, turun setelah melewati rumah dinas Walikota Semarang, sampailah di Jalan Abdul Rahman Saleh, sebelum sampai Museum Ronggowarsito, belok kanan ke daerah Jalan Soeratmo, trus belok kiri ke arah Pamularsih, dari depan SMA Kesatrian, terus lurus ke Timur, sampai ke daerah Pusponjolo kembali.)&lt;br /&gt;Kembali ke sapaan di multiply page-ku.&lt;br /&gt;Betapa senang aku mendengar mulai ada komunitas ‘b2w’ di kota kelahiranku ini, meskipun rada skeptis karena kontur geografis Semarang yang kurang mendukung untuk bike to work. Semarang memang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Bagi Abangku yang telah memiliki ‘track record’ mengikuti off-road trips tentu dataran tinggi ini tidak menjadi masalah, namun bagi para pemula, wah ... ngos-ngosan pisan!!! Bayangkan aku yang tinggal di Pusponjolo, dataran rendah, berangkat kerja ke kantor yang terletak di daerah Tembalang, dataran tinggi. (melewati berapa ‘bukit’ tuh? Naik di Gajah Mungkur, kemudian di Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, dan puncaknya, di Gombel.) Sampai kantor, pingsan. LOL.&lt;br /&gt;Seminggu berikutnya, mas Triyono yang beralamat di http://aluizeus.multiply.com menyapaku lagi, “Kalau mbak Nana sempat ke Simpang Lima besok Minggu pagi, mampir ya ke komunitas b2w Semarang, kita kumpul di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan. Kita memasang tagline bike to work berwarna kuning di bawah sadel.”&lt;br /&gt;He is such a determined person, isn’t he? &lt;br /&gt;Melihat kegigihannya, aku menawarkan adikku yang mulai menyukai naik sepeda untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak jauh dari rumah, misal ke pasar. Ini berkat ‘komporan’ kakakku yang sudah mulai bike to work di tempat tinggalnya di Cirebon. Ternyata adikku senang dengan tawaran ikut komunitas b2w. &lt;br /&gt;By the way ...  &lt;br /&gt;Meskipun aku sempat menawari Angie mengantarnya ke sekolah naik sepeda, tatkala harga bensin naik sampai Rp. 6000,00 per liter, (Angie langsung menolaknya mentah-mentah!!!) untuk benar-benar mempraktekkan kebiasaan bike to work, aku punya satu kendala yang sangat mengganjal. AKU BELUM PUNYA SEPEDA milik sendiri. &lt;br /&gt;Di rumah saat ini ada dua buah sepeda. Yang pertama, sepeda federal, yang di’import’ dari Cirebon tahun 1991, sehingga dia seusia my Lovely Star. Sepeda ini sudah lumayan lama, bertahun-tahun, mangkrak tidak dipakai. Setelah adikku dikompori kakakku untuk bike to work, sewaktu dia ke Cirebon beberapa bulan lalu, dia akhirnya memperbaiki sepeda yang sudah seusia Angie ini, dan kemudian mulai menaikinya, untuk olah raga, beberapa kali seminggu di pagi hari.&lt;br /&gt;Sepeda yang kedua, sepeda mini, yang bentuknya tidak mini alias cukup besar, baru saja di’impor’ dari Cirebon juga beberapa minggu yang lalu. Sepeda ini dikirim kakakku untuk sarana olah raga adik bungsuku yang di bulan Desember dan Januari kemarin sempat opname di rumah sakit karena terkena penyakit typhoid dan dengue fever. Banyak orang yang menyarankannya untuk mulai rajin berolah raga untuk meningkatkan daya immune tubuhnya. Ditengarai karena dia tidak pernah berolah raga, tubuhnya menjadi rentan penyakit. Itu sebab kakakku tidak keberatan mengirimkan sepeda yang biasanya dinaiki istrinya ke Semarang. Lah, trus kakak iparku itu naik sepeda apa dong? Kebetulan, selain sepeda yang biasa dia naiki untuk berangkat ke kantor, kakakku punya sepeda ‘tandem’ yang bisa dinaiki berdua, sehingga sepeda ‘tandem’ ini cukup menjadi sarana olah raga jika kakak iparku kepengen berolah raga bareng kakakku.&lt;br /&gt;Aku belum ada rencana untuk membeli sepeda sendiri. Rencana dalam waktu dekat: naik sepeda—pinjam sepeda mini yang semula milik kakak iparku itu—untuk pergi ke Paradise Club, tempatku ber-erobik ria maupun fitness dan berenang, yang terletak di Pondok Indraprasta, selama Angie libur kenaikan kelas, yang katanya berlaku selama kurang lebih tiga minggu, mulai 22 Juni sampai 13 Juli 2008.&lt;br /&gt;PT56 14.54 150608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-619967133582458510?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/619967133582458510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/bersepedaan-yuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/619967133582458510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/619967133582458510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/bersepedaan-yuk.html' title='Bersepedaan Yuk?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SFZb0nuZ4QI/AAAAAAAAAqc/w57tNyMWIXY/s72-c/b2w.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7429583844704332854</id><published>2008-06-11T20:25:00.000+07:00</published><updated>2008-06-11T20:27:09.308+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putri Cina'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Jawa, Cina, Arab</title><content type='html'>Satu ide lagi yang dipertanyakan oleh Titaley—tentang pertentangan antara etnis Jawa dan Cina—adalah kemungkinan pertentangan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama, daripada hanya sekedar dua etnis yang berbeda. Orang-orang keturunan Cina kebanyakan beragama Buddha/Kong Hu Chu/Kristen/Katolik; sedangkan orang-orang Jawa kebanyakan beragama Islam. Titaley mengemukakan pendapat ini berdasarkan pengalaman keluarga Ibunya yang keturunan Cina namun beragama Islam, yang tinggal di Pulau Serang. Mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan yang diskriminatif dari warga di sekitarnya. &lt;br /&gt;Para budayawan di Semarang mengatakan bahwa penduduk yang tinggal di Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah ini mencakup tiga etnis utama; yakni Jawa, Cina, dan Arab. Seandainya mengamini dikotomi antara pribumi dan non pribumi, maka ada dua etnis yang bisa dikategorikan non pribumi, yaitu orang-orang keturunan Cina dan Arab. Namun tatkala terjadi kerusuhan yang (mungkin) dikarenakan perbedaan etnis, maka hal itu berarti (hanya) antara Jawa dan Cina saja. Salah satu kerusuhan yang ‘sempat kualami’ sendiri yakni yang terjadi pada tahun 1980, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dua hal yang kuingat dari kerusuhan tersebut: pertama, my Mom sangat khawatir dengan keselamatan my (late) Dad yang waktu itu berada di kantor, karena my (late) Dad looked like Chinese. Yang kedua: tiba-tiba orang-orang di sekitarku menjadi beringas dengan melemparkan batu-batu ke toko-toko milik orang-orang keturunan Cina. Aku tidak tahu alasannya, kecuali bahwa kata para tetangga mereka itu menumpuk harta sehingga mereka menjadi kaya.&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Jawabannya tentu karena mayoritas orang Jawa memeluk agama Islam, sama dengan agama yang dipeluk oleh orang-orang keturunan Arab. Agama Islam menjadi satu ikatan yang sangat kuat mempertautkan orang Jawa dan orang-orang (keturunan) Arab. Bukankah banyak juga orang-orang keturunan Arab yang kaya?&lt;br /&gt;Sehingga cukup masuk akal jika ada orang yang mengatakan bahwa mungkin untuk menghindari kerusuhan serupa untuk terjadi lagi, orang-orang keturunan Cina itu seyogyanya memeluk agama Islam, seperti Laksamana besar Cheng Ho yang konon pernah menginjakkan kakinya di pesisir Semarang, dan membangun sebuah masjid sebagai petilasan, namun di kemudian hari beralih fungsi menjadi kelenteng, yakni bangunan bersejarah Gedung Batu Sam Po Kong.&lt;br /&gt;Namun sangatlah tidak bijaksana jika agama dijadikan sebuah senjata. Bukankah dalam agama Islam, orang-orang (seharusnya) meyakini bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama? &lt;br /&gt;Seperti apa yang dilakukan oleh Widjajanti Dharmowijono, yang mendapatkan tugas membedah novel PUTRI CINA, kita harus kembali ke beberapa abad lalu, bagaimana pemerintah Kolonial Belanda menanamkan policy divide et impera, sehingga para ‘kaum pendatang’ (baca =&gt; keturunan Arab dan Cina) itu saling membenci, untuk mencari akar permasalahan, untuk kemudian bersama kita mencari solusinya, demi membentuk negara dimana para warganya benar-benar saling menghormati dan melindungi.&lt;br /&gt;PT56 23.00 100608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7429583844704332854?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7429583844704332854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/jawa-cina-arab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7429583844704332854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7429583844704332854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/jawa-cina-arab.html' title='Jawa, Cina, Arab'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7715782709999158888</id><published>2008-06-11T20:09:00.001+07:00</published><updated>2008-06-11T20:19:47.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskriminasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putri Cina'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>What is an Indonesian?</title><content type='html'>Tatkala mengikuti acara BEDAH BUKU novel &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PUTRI CINA&lt;/span&gt; karangan Sindhunata, aku terpikat pada ide John A. Titaley, salah satu pemakalah, mengenai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;REDEFINING INDONESIA&lt;/span&gt;. Tatkala Soekarno dan M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa kita yang kemudian diberi nama INDONESIA, seharusnya sejak itulah kita tak lagi mengkotak-kotakkan diri sebagai “Orang Jawa”, “Orang Batak”, “Orang (keturunan) Cina”, “Orang Ambon”, dll. Karena kita semua adalah ‘orang baru’, bangsa baru, yakni bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;“What is an Indonesian?” tanya Titaley.&lt;br /&gt;“Find the answer in our Constitution, UUD 1945. Para ‘founding fathers’ yang termasuk dalam lembaga BPUPKI pada waktu itu telah memberikan definisi bangsa Indonesia yang tertulis dalam UUD 1945. Mereka adalah orang-orang Nasionalis sejati, yang berpikir dalam kerangka nasional, bukan kedaerahan, golongan, apalagi berdasarkan agama tertentu. Namun sayangnya, para ‘cerdik cendikia’ setelah era ‘founding fathers” kita, yang kemudian menuliskan beberapa bagian di amandemen, justru malah bersifat ekslusif kedaerahan, ataupun keagamaan, membuat masalah perbedaan menjadi runcing. Akibatnya, kerusuhan akibat SARA pun terjadi dimana-mana.”&lt;br /&gt;“Seandainya kita benar-benar mendirikan bangsa INDONESIA, sesuai seperti yang didefinisikan oleh para pendiri bangsa kita itu, tidaklah mustahil kalau kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh SARA tidak akan terjadi lagi. Juga seperti yang digambarkan di dalam novel PUTRI CINA.”&lt;br /&gt;Saat mendengarkan penjelasan Titaley, aku teringat apa yang ditulis oleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;St. Jean de Crevecoeur&lt;/span&gt; (1735-1813) dalam eseinya yang berjudul “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;What is an American?&lt;/span&gt;” Berikut ini aku kutipkan sebagian kecil dari tulisan Crevecoeur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;What is the American, this new man? He is either a European, or the descendant of a European, hence that strange mixture of blood, which you will find in no other country. I could point out to you a family whose grandfather was an Englishman, whose wife was Dutch, whose son married a French woman, and whose recent four sons have now four wives of different nations. He is an American, who, leaving behind him all his ancient prejudices and manners, receives new ones from the new mode of life he has embraced, the new government he obeys, and the new rank he holds.&lt;br /&gt;(The Norton Anthology of American Literature, 3rd edition, 1989, page 561)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku UUD 1945 yang kumiliki waktu aku sedang sekolah mungkin telah hilang dibawa banjir bandang yang melanda daerah tempat tinggalku pada bulan Januari 1990, sehingga aku tidak bisa mengecek apa yang dikatakan oleh Titaley, untuk mencari tahu definisi bangsa Indonesia menurut para pendiri bangsa kita. &lt;br /&gt;Namun, seandainya ada seseorang yang menulis “What is an Indonesian?”, dengan mengambil ide yang ditulis oleh Crevecoeur, yang mengusung ide ‘nasionalisme’ dan bukan ‘kedaerahan’, that would be great. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Orang Indonesia mencakup segala etnis dan agama yang ada di bumi Nusantara. Sang ayah mungkin adalah seseorang yang berdarah Manado (yang mungkin saja memiliki darah Belanda di tubuhnya) beragama Kristen, yang menikah dengan seorang perempuan Jawa (Islam Kejawen). Mereka memiliki tujuh orang anak yang menikah dengan orang Batak (Katolik), Sunda (Islam), Papua (Kristen), Bali (Hindu), keturunan Cina yang tinggal di Kalimantan (Buddha/Kong Hu Chu), keturunan Arab (Islam), dan Ambon (Kristen/Katolik).”&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua perbedaan itu hadir menjadi satu, dalam sebuah keluarga besar yang harmonis, saling menghormati, menyayangi, menerima apa adanya, maka kita tak perlu lagi dihantui akan terjadi kerusuhan atau tindakan sewenang-wenang karena merasa lebih baik, apalagi hanya karena merasa diri merupakan bagian dari mayoritas.&lt;br /&gt;PT56 22.30 100608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7715782709999158888?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7715782709999158888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/what-is-indonesian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7715782709999158888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7715782709999158888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/what-is-indonesian.html' title='What is an Indonesian?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6744097274547024032</id><published>2008-06-03T19:45:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T19:49:29.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskriminasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>What is in a name?</title><content type='html'>Referring to the previous post I entitled “&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sepuluh Tahun Reformasi&lt;/span&gt;”, frankly speaking when rereading it I felt a bit worried if my blog visitors (particularly those who do not have time to read my thorough posts in some blogs I have) think that I am a racist,. Especially the last part: the moral lesson of Sugiharti Halim’s experience. Just like what this particular character expected to have “Julianne” as her name, perhaps Chinese Indonesian would find less offensive experiences if they had ‘western’ names.&lt;br /&gt;Of course everyone is free to pick any name they like most, not limited to what ethnic group they come from. I do appreciate any name and I usually call my friends/students their nicks they feel most comfortable. For example: this semester I have a female student who introduced herself as ‘Ninik Wijayanti’ at the beginning of our class. However, in the attendance list of the mid-term test several weeks ago, her name was written “Liem Kiong Nio”. I directly recognized it was her name since I found the names of the other Chinese Indonesian students in my class but hers. I didn’t ask her about that though. I was afraid if that would make her feel uncomfortable. Besides, it was not a crucial case anyway. (FYI, it is a small class, only consists of 10 students.)&lt;br /&gt;I myself have a nick that is absolutely more popular than my real name printed in the birth certificate. When I was at school, I really did not like this name taken from Arabic. I thought I wouldn’t mind at all if my name were just NANA. In my childhood, I was embarrassed too if my schoolmates knew my family name PODUNGGE. To Javanese, PODUNGGE is absolutely a weird name. Many of them misspelled and mispronounced it. I did not want to be weird. I wanted to be the same as the others who did not have any weird family name. &lt;br /&gt;In the reality, many of my classmates when I was at college didn’t know my real name. Neither do most of my workmates now. Until now I still feel uncomfortable when people call me my real name because it gives me an impression that they keep a distance from me. Or they are acting too formally that I don’t like.&lt;br /&gt;However coming back to what was stated in the short movie SUGIHARTI HALIM, what is in a name? Whether my name is NANA PODUNGGE or anything else, I am still me, my identity is still the same: a woman who claims herself as a feminist, secular, a single parent of my only daughter, loves reading, writing, blogging, swimming, listening to music. Nothing changes.&lt;br /&gt;I am of opinion that it is high time for people to appreciate other people’s rights to choose any name they want so that there will be no more offensive and nosy questions experienced by Sugiharti Halim, “What is your real name?” or “What is your Chinese name?”&lt;br /&gt;PT56 22.30 020608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6744097274547024032?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6744097274547024032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/what-is-in-name.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6744097274547024032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6744097274547024032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/what-is-in-name.html' title='What is in a name?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5531493507939128276</id><published>2008-06-02T14:25:00.001+07:00</published><updated>2008-06-02T14:42:27.356+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reformasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Sepuluh Tahun Reformasi</title><content type='html'>Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, RUMAH SENI Semarang yang berlokasi di Kampung Jambe nomor 280 mengadakan pemutaran sepuluh film pendek yang berhubungan dengan tragedi Mei 1998, pada tanggal 25-27 Mei 2008 yang lalu.&lt;br /&gt;Kesepuluh film pendek itu yakni:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dimana Saya?&lt;/span&gt; Karya Anggun Priambodo&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sugiharti Halim&lt;/span&gt;, Karya Ariani Darmawan&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Trip to the Wound&lt;/span&gt;, Karya Edwin&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bertemu Jen&lt;/span&gt;, Karya Hafiz&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Huan Chen Guang&lt;/span&gt;, Karya Ifa Isfansyah&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A Letter of Unprotected Memories&lt;/span&gt;, Karya Lucky Kuswandi&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemarin&lt;/span&gt;, Karya Otty Widasari&lt;br /&gt;8. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang Belum Usai&lt;/span&gt;, Ucu Agustin&lt;br /&gt;9. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekolah Kami, Hidup Kami&lt;/span&gt;, Karya Steven Pillar Setiabudi&lt;br /&gt;10. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran&lt;/span&gt;, Karya Wisnu Suryapratama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui lebih lanjut dari proyek ini, para pembaca blog bisa mengunjungi blog http://9808films.wordpress.com atau hubungi proyek.payung@gmail.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesepuluh film pendek tersebut, satu film yang paling menarik perhatianku adalah film yang berjudul SUGIHARTI HALIM. Sebelum film mulai, ada catatan seperti berikut ini:&lt;br /&gt;Keppress nomor 127/U/Kep/12/1966 mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia. (Contoh: Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito, dll.)&lt;br /&gt;Tatkala menonton film ini, aku ingat seorang rekan kerja yang kukenal di tahun 1995. Dia menikah dengan seorang laki-laki Cina Muslim. Tatkala anak pertamanya lahir, mertuanya memberi nama Cina untuk cucu pertama mereka, meskipun temanku dan suaminya ini telah memberikan sebuah nama. Dia merasa aneh, namun suaminya memintanya untuk menerima nama Cina itu, meskipun di akta kelahiran yang tertulis adalah ‘nama Indonesia’ si anak.&lt;br /&gt;Aku pun yang mendengar cerita tersebut merasa hal itu aneh. Mengapa seseorang harus memiliki dua nama? Mengapa mertua temanku itu perlu memberi ‘nama Cina’ kepada sang cucu? Apakah ‘nama Indonesia’ yang diberikan oleh sang orang tua tidak cukup?&lt;br /&gt;Konon, kata orang tuaku, orang-orang di Gorontalo, tanah kelahiran mereka, biasa memberikan ‘nick’ kepada anak-anak mereka, maupun sanak saudara. Namun ‘nick’ hanyalah sekedar nama panggilan, dan bukan ‘nama resmi’. Ada seorang Om yang kukenal di masa kecilku yang disebut oleh orang tuaku sebagai “Pahaya” alias “Papa Haya” yang artinya “Papa Tinggi” karena orangnya tinggi. Walhasil, aku pun mengira ‘Pahaya’ adalah namanya. Ketika seorang teman SD mengenali ‘Pahaya’ di album foto keluarga, dan bertanya kepadaku, “Eh, Na, orang ini kan suami bulikku? Namanya Abdurrahman kan? Wah, ternyata kita bersaudara ya?” Dengan lugu, aku mengatakan kepadanya, “Bukan. Namanya PAHAYA.” My Mom yang kemudian menjelaskan kepadaku bahwa nama Om-ku itu adalah Abdurrahman Podungge, sedangkan PAHAYA hanyalah nama panggilan belaka. LOL.&lt;br /&gt;Kembali ke ‘nama Cina’. Mungkin aku adalah salah satu korban kolonialisasi yang parah, sehingga beranggapan bahwa nama yang berbau Barat lebih enak terdengar di telinga, daripada nama Cina. Aku lebih menyukai nama ‘Andy Lau’ daripada ‘Liu Te Hua’, atau ‘Aaron Kwok’ daripada ‘Kwok Fu Shing’ alias ‘Kuo Fu Cheng’. Bukankah ‘Andy’ ataupun ‘Aaron’ jauh lebih indah didengar (menurut kupingku, sang korban kolonialisasi) dan lebih mudah diucapkan daripada ‘Te Hua’ maupun ‘Fu Shing’ alias ‘Fu Cheng’? (FYI, I loved Andy Lau in his legendary series ‘Return of the Condor Heroes’, while my youngest sister adored Aaron Kwok.) Lidahku tidak terbiasa mengucapkan nama Cina, nampaknya.&lt;br /&gt;Mungkin aku terlalu menyederhanakan persoalan. Mungkin ‘nama Cina’ bagi orang-orang keturunan Cina memiliki makna yang lebih mendalam bagi mereka, atau, menunjukkan identitas mereka, bahwa mereka diakui.&lt;br /&gt;Kembali ke film SUGIHARTI HALIM. Nampaknya perempuan ini dilahirkan tatkala Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 baru saja dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga orang tuanya—yang mungkin memiliki pengalaman buruk berkenaan dengan ‘nama Cina’—hanya memberi satu nama saja kepada si bayi, nama yang sangat berbau Jawa. (SUGIH berarti kaya,  ARTI mungkin dari kata ARTO alias HARTA. Namun karena ARTO memiliki gender laki-laki, maka ARTO pun diganti menjadi ARTI agar berjenis kelamin perempuan. Orang tua Sugiharti mengharapkan agar dia tumbuh menjadi seseorang yang memiliki harta yang banyak.) Sugiharti Halim pun tidak memiliki memiliki nick khusus.&lt;br /&gt;Walhasil, dia pun sering mendapati ekspresi wajah heran dari orang-orang yang baru saja dia temui, dan mendengarnya menyebut namanya, “Sugiharti Halim”. Dia juga bosan ditanyai, “Nama aslimu siapa?” Di salah satu adegan yang bisa jadi lucu, namun juga menyedihkan, adalah tatkala dia sedang mengurus passport. &lt;br /&gt;Petugas: “Nama?”&lt;br /&gt;SH: “Sugiharti Halim.”&lt;br /&gt;Sang petugas pun langsung mendongak, memandang wajah Cinanya dengan seksama, heran, sembari bertanya lagi.&lt;br /&gt;Petugas: “Nama asli?”&lt;br /&gt;SH: “Sugiharti Halim, pak.”&lt;br /&gt;Petugas: “Siapa nama Cinamu?”&lt;br /&gt;SH: “Tidak punya, pak.” Sambil takut-takut.&lt;br /&gt;Sang petugas nampak tidak percaya, sedangkan Sugiharti Halim nampak tak berdaya.&lt;br /&gt;Karena begitu seringnya dia mendapatkan ‘kasus’ yang baginya menyebalkan, berkenaan dengan namanya yang sangat berbau Jawa, Sugiharti Halim pun berangan-angan untuk memiliki nama lain. “Julianne” katanya, sambil menerawang.&lt;br /&gt;Si lawan bicara yang mendengarkan Sugiharti Halim curhat pun berkata,&lt;br /&gt;“Kata Shakespeare, ‘what’s in a name?’ Siapa pun namamu, kamu tetaplah kamu, dengan kepribadianmu yang sekarang, dengan identitas yang melekat padamu. Sugiharti ... Julianne ... apa bedanya?”&lt;br /&gt;Namun mungkin paling tidak, seorang Sugiharti Halim tidak akan sesering itu memandang wajah-wajah heran tatkala orang-orang mendengar namanya. &lt;br /&gt;Pesan moral: kalau tidak ingin membuat anak-anak mereka mengalami masalah seperti Sugiharti Halim dalam film ini, mungkin sebaiknya orang-orang berwajah Oriental memberi nama anak-anak mereka yang berbau ‘Barat’, seperti Andy, Rudy, Audy, atau Stephani, Irene, Catherine.&lt;br /&gt;PT56 20.55 010608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5531493507939128276?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5531493507939128276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/sepuluh-tahun-reformasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5531493507939128276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5531493507939128276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/sepuluh-tahun-reformasi.html' title='Sepuluh Tahun Reformasi'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2228824487000632450</id><published>2008-06-02T14:12:00.001+07:00</published><updated>2008-06-02T14:47:16.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putri Cina'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>Ketoprak Putri Cina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SEOgGm2bldI/AAAAAAAAAqA/-52-3Sbh6VU/s1600-h/ketoprak2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SEOgGm2bldI/AAAAAAAAAqA/-52-3Sbh6VU/s320/ketoprak2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207181629538932178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara puncak untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun di Semarang adalah pertujukan KETOPRAK PUTRI CINA, yang diselenggarakan di tempat terbuka, di atas replika kapal Cheng Ho, yang terletak di seberang Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Semarang. Gang Lombok terletak tidak jauh dari Gang Warung, lokasi penyelenggaraan WAROENG SEMAWIS tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Gang Lombok dan Gang Warung terletak di kawasan Pecinan kota Semarang.&lt;br /&gt;Acara pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dibuka oleh dua orang MC, yakni Bayu Krisna dan Citra, sekitar pukul 19.00 setelah walikota Sukawi Sutarip beserta istrinya datang ke lokasi, dibarengi dengan beberapa pejabat lain, seperti Bupati Kudus, HM Tamzil, mantan rektor UNDIP, Eko Budiharjo, dan beberapa budayawan lokal, seperti Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.&lt;br /&gt;Acara dibuka dengan penampilan paduan suara dan tari RAMPAK oleh para siswa SD dan SMP dari TPA (Tempat Pendidikan Anak) Khong Kauw Hwee “Kuncup Melati”, sebuah yayasan yang menawarkan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. &lt;br /&gt;Acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Sinto Sukawi. Sinto membacakan puisi yang dia tulis sendiri, tentang kecintaannya pada kota kelahirannya, Semarang. Kemudian sambutan oleh ketua panitia Harjanto Halim, dua sambutan yang lain, yakni Wali Kota Semarang, dan Gubernur Jawa Tengah, yang dibacakan oleh seseorang yang mewakili Ali Mufiz karena pada waktu itu, beliau belum hadir. &lt;br /&gt;Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi. Pertama &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beno Siang Pamungkas&lt;/span&gt;. Penampilan Beno diikuti dengan penampilan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Eko Budiharjo&lt;/span&gt;, membawakan puisi yang dia beri judul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PESAN NENEK MOYANG&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tempoe doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tiji Tibeh&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Maksudnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mukti siji Mukti kabeh, Mati siji Mati kabeh&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;La kok sekarang, kendati masih tetap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tiji Tibeh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapi maknyanya terpeleset jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mukti Siji Mati kabeh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti&lt;br /&gt;Sama rata sama rasa&lt;br /&gt;Maksudnya jelas, bersama-sama merasakan kesejahteraan&lt;br /&gt;La kok sekarang sim sala bim&lt;br /&gt;Disulap jadi sama ratap sama tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo doeloe nenek moyang pesan wanti-wanti&lt;br /&gt;Panca Sila&lt;br /&gt;Yang kita semua sudah hafal mengucapkannya&lt;br /&gt;La kok sekarang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mak jegagik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dipeleset-tafsirkan oleh orang Jawa:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siji, Gusti Allah ora ana kancane&lt;br /&gt;Loro, Aja kejem-kejem aja galak-galak&lt;br /&gt;Telu, Mangan ora mangan waton kumpul&lt;br /&gt;Papat, Yen ana rembug mbok dirembug wae&lt;br /&gt;Lima, Padha mlarate padha kerene&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah, sudah, sudah, yang sudah ya sudah&lt;br /&gt;Kita bangkit-kembalikan saja Proklamasi&lt;br /&gt;Dalam versi Millennium a la Hamid Jabbar:&lt;br /&gt;“Hal-hal mengenai flu burung, sapi gila,&lt;br /&gt;lumpuh layu, nasi aking, banjir, longsor,&lt;br /&gt;gembpa, kekeringan, tsunami, lumpur panas&lt;br /&gt;dan lain-lain yang tidak ada habis-habisnya&lt;br /&gt;akan diselesaikan dengan cara seksama&lt;br /&gt;dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.&lt;br /&gt;Semarang 24 Mei 2008 &lt;br /&gt;Atas nama bangsa Indonesia&lt;br /&gt;Boleh Siapa Saja&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Djawahir Muhammad&lt;/span&gt; membawakan puisinya yang berjudul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DUA BUAH JALAN, PADA HARI KEBANGKITAN&lt;/span&gt;. Berhubung begitu panjangnya puisi ini, di bawah ini akan kutuliskan di bawah ini tiga bait, yang terdapat pada bagian keempat. (Djawahir membagi puisinya ini menjadi lima bagian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sahabatku, kau sebut ini negeri yang pancasilais, multikultural dan demokratis,&lt;br /&gt;Sedang kamu lihat mata manusia memerah saga,&lt;br /&gt;Menyulutkan api permusuhan dimana-mana:&lt;br /&gt;Bakuhantam polisi dan demonstran &lt;br /&gt;saling pukul pkl, tibum dan satpol keamanan&lt;br /&gt;Antar saudara berbunuhan, berebut remah, sesuap nasi, sepotong roti&lt;br /&gt;Remaja putra putri yang mengidap narkoba, menggadaikan kesuciannya sendiri&lt;br /&gt;Negarawan dan politisi yang terlibat korpusi, mengidap hipokrisi,&lt;br /&gt;Bapak ibu guru mencuri-curi soal ujiannya sendiri?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku, tidakkah kita malu kita menyebut negeri kita&lt;br /&gt;Yang dibangkitkan oleh spirit Kebangkitan Nasional seratus tahun lamanya&lt;br /&gt;Sebagai negara yang berpancasila,&lt;br /&gt;Jika mulut kaum miskin masih juga menjerit, menguak angkasa,&lt;br /&gt;Jika antarsuku masih saling mengasah kapak perangnya, jika antarpemuja tuhan&lt;br /&gt;Menyebut diri paling beriman, menista umat berbeda keyakinan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Sahabat, rasanya aku ingin percaya pada kredo Rendra&lt;br /&gt;Bahwa bencana dan keberuntungan adalah sama saja.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Timur Sinar Suprabana&lt;/span&gt; membawakan puisinya yang berjudul “&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sajak mengeja kahanan&lt;/span&gt;” yang tak kalah panjang dari puisi Djawahir. Di bawah ini aku tuliskan bait yang ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Negeri macam apa ini, Saudara?&lt;br /&gt;Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?&lt;br /&gt;Jika presidennya menangis ketika menonton film ayat-ayat cinta&lt;br /&gt;Tapi saat berkunjung ke lokasi super luberan lumpur lapindo&lt;br /&gt;Ia, presiden kita itu,&lt;br /&gt;Unjal ambegkanpun tidak!&lt;br /&gt;Jelaskan kepadaku: negeri macam apa ini?&lt;br /&gt;Jika ketika banjir, tanah longsor dan bahkan angin ribut bercampur petir menjadi gendruwo di tiap tlatah tumpah darah&lt;br /&gt;Ia, presiden kita itu,&lt;br /&gt;Ribet upyek nyanyi-nyanyi bikin album lagu&lt;br /&gt;Sing ketika dirilis jebul ora payu.&lt;br /&gt;Jelaskan padaku: negeri macam apa ini?&lt;br /&gt;Ketika jumlah pengangguran terus bertambah&lt;br /&gt;Dan jumlah keluarga miskin makin banyak,&lt;br /&gt;Ketika harga-harga tak henti naik berlipat&lt;br /&gt;Dan bahkan tahu serta tempe tak lagi bisa terbeli oleh rakyat&lt;br /&gt;Wakil presiden dari presiden kita itu&lt;br /&gt;Sembari cengengesan memapar angka-angka&lt;br /&gt;Yang kita patut diyakini sebagai indikator&lt;br /&gt;Bahwa keadaan rakyat, keadaan masyarakat dan bangsa ini&lt;br /&gt;Dari waktu ke waktu terus membaik. “ke depan&lt;br /&gt;Akan terus kita tingkatkan. Ya to.. , ya to...?” katanya&lt;br /&gt;Melalui konperensi pers tiap seusai jum’atan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu.&lt;br /&gt;Aku yang picek&lt;br /&gt;Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang buta?&lt;br /&gt;Aku tak tahu&lt;br /&gt;Aku yang terlanjur tak bisa percaya angka-angka&lt;br /&gt;Ataukah wakil presiden dari presiden kita itu yang sedang menebar dusta?&lt;br /&gt;Sebab angka-angka tak pernah membuktikan apa-apa&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pukul 21.00, tepat ketika Ali Mufiz beserta istri memasuki lokasi, acara utama, pertunjukan KETOPRAK PUTRI CINA dimulai. Untuk mengawalinya, kelompok tari PHOENIX dari kota Semarang membawakan tarian DEWI KUAN IM SERIBU TANGAN.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SEOfJm2blbI/AAAAAAAAApw/uKYbSqVf3SM/s1600-h/kuanim.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SEOfJm2blbI/AAAAAAAAApw/uKYbSqVf3SM/s320/kuanim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207180581566911922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, ide utama ketoprak PUTRI CINA (yang mengambil ide utama dari novel PUTRI CINA karangan Sindhunata) adalah tentang keserakahan seorang penguasa kerajaan Pedang Kemulan (Prabu Amurco Sabdo) dan ketidakmampuannya memimpin kerajaannya tersebut. Korupsi, kolusi, dan nepotisme tak lekang dari masa pemerintahannya, sehingga rakyat pun menderita, dan lama kelamaan menuntut Prabu Amurco Sabdo untuk menurunkan diri. &lt;br /&gt;Sebelum akhirnya memaksa Prabu Amurco Sabdo, Patih Wrehonegoro telah berhasil mempengaruhi sang Prabu untuk menjadikan kaum keturunan Cina sebagai kambing hitam.&lt;br /&gt;“Mudah, Sinuwun. Sekali lagi mudah! Alihkan saja segala kekerasan yang mau pecah itukepada orang-orang Cina. Setelah itu, Sinuwun akan mengendalikan keadaan dengan lebih mudah.”&lt;br /&gt;Senapati Gurdo Paksi yang beristrikan Giok Tien, seorang keturunan Cina, tentu saja tidak setuju. &lt;br /&gt;“Ya ampun, Sinuwun. Jangan! ... Sinuwun, apa salah mereka, sampai Sinuwun tega mengorbankan mereka? Sementara ini tidakkah Sinuwun sendiri mengharapkan harta mereka untuk makin berkuasa. Sinuwun tidak memberi kesempatan pada rakyat untuk berusaha. Sinuwun malah membiarkan orang-orang Cina untuk makin mengembangkan usaha mereka. Apakah Sinuwun tidak punya hati lagi?”&lt;br /&gt;Karena Senapati Gurdo Paksi tidak menyetujui usul itu, dia pun memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya, dan Prabu Amurco Sabdo memilih Tumenggung Joyo Sumengah, sang tukang suap, untuk mengisi jabatan  tersebut.&lt;br /&gt;Rakyat yang telah disulut kemarahannya, dan termakan hasutan Wrehonegoro dan Tumenggung Joyo Sumengah pun melakukan pembasmian ke seluruh orang-orang keturunan Cina, yang akhirnya pun juga memakan korban rakyat yang bukan keturunan Cina. Gurdo Paksi dan istrinya Giok Tien pun meninggal dalam huru hara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita memang berakhir tragis (seperti kata Sindhunata sang pengarang, banyak orang Cina yang menjadi korban pada kerusuhan bulan Mei 1998, sehingga dia tidak mengakhiri novelnya dengan happy ending). Namun skenario Ketoprak Putri Cina sendiri memadukan antara dagelan dan kesedihan sehingga penonton pun dibuat tertawa terpingkal-pingkal di paruh awal pertunjukan, sedangkan di paruh akhir larut dibawa kesedihan tragedi yang disuguhkan.&lt;br /&gt;Kehadiran Sukawi Sutarip dan HM Tamzil sebagai calon gubernur Jawa Tengah pun dimanfaatkan oleh para pemain ketoprak untuk dikritik. “Zaman dahulu kala, orang-orang sering takut kalau berjalan melewati pohon-pohon besar, karena mereka percaya bahwa banyak ‘penunggu’ di pohon-pohon besar tersebut. Mereka sering mengucapkan ‘Nuwun sewu...” tatkala melewati pohon-pohon besar. Namun sekarang pohon-pohon kecil juga ada yang menunggu. Lihat saja, di sana banyak tertempel poster-poster para calon gubernur.” &lt;br /&gt;Di Semarang, mungkin juga di seluruh daerah Jawa Tengah, para calon gubernur memasang poster-poster mereka untuk kampanye di pohon-pohon, sehingga mereka pun dituding sebagai tidak mencintai lingkungan karena justru merusaknya.&lt;br /&gt;Jika penampilan Ketoprak Putri Cina diawali pertunjukan tari DEWI KUAN IM SERIBU TANGAN,  di akhir pertunjukan, kelompok tari PHOENIX membawakan tari KUPU KUPU sebagai lambang menyatunya Gurdo Paksi dan Giok Tien di ‘dunia sana’. Sindhunata ‘mengadopsi’ akhir cerita Sampek-Engtay, pasangan kekasih yang tidak bisa menyatukan cintanya di dunia yang fana ini karena perbedaan kelas sosial.&lt;br /&gt;PT56 17.08 010608&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2228824487000632450?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2228824487000632450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ketoprak-putri-cina.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2228824487000632450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2228824487000632450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/06/ketoprak-putri-cina.html' title='Ketoprak Putri Cina'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SEOgGm2bldI/AAAAAAAAAqA/-52-3Sbh6VU/s72-c/ketoprak2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3544457245218125014</id><published>2008-05-27T20:21:00.000+07:00</published><updated>2008-05-27T20:30:37.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskriminasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Putri Cina'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Bedah Buku Putri Cina</title><content type='html'>Bedah buku PUTRI CINA menghadirkan empat pembicara utama:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Widjajanti Dharmowijono&lt;/span&gt;, Ketua Jurusan Bahasa Belanda Akademi Bahasa “17” membawakan makalah “Quo Vadis, Romo? Pengukuhan Stereotip dalam Novel Putri Cina”&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdul Djamil&lt;/span&gt;, Rektor IAIN Walisongo Semarang, membawakan makalah “Belajar dari Kisah Kemanusiaan Putri Cina, Refleksi 100 Tahun Kebangkitan Nasional”&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;John A. Titaley&lt;/span&gt;, pengajar UKSW Salatiga, memaparkan makalah “Putri Cina: Jeritan Kemanusiaan si Kuning Manis”&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Budi Widianarko&lt;/span&gt;, seorang Guru Besar di Unika Soegijapranata, memaparkan makalahnya yang berjudul “Sejarah Berulang, Tiadakah Penangkalnya? Melampaui “Teori” Kambing Hitam&lt;br /&gt;Selain keempat orang yang diberi kehormatan untuk melakukan pembedahan atas novel PUTRI CINA, Sindhunata sebagai pengarang tentu saja dihadirkan dalam acara bedah buku ini. Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka bertindak sebagai moderator.&lt;br /&gt;Berikut ini akan kubahas inti utama makalah masing-masing pembicara, yang kuserap dari acara bedah buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Widjajanti Dharmowijono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam riset yang dia lakukan untuk disertasi doktoralnya, Widjajanti membaca lebih dari 250 novel karya pengarang Belanda zaman kolonial, yang mencakup periode 1880-1940, novel-novel yang sedikit banyak memberikan imaji maupun representasi orang-orang Cina yang ada di bumi Nusantara. Widjajanti menemukan ‘pola’ imaji dan representasi yang sama pada dekade-dekade tertentu. Sebelum memasuki abad ke 20, novel-novel tersebut memberikan stereotip orang-orang Cina yang sangat negatif sebagai tuan tanah maupun pengusaha yang kaya raya karena menghisap darah dan tenaga orang-orang ‘pribumi’ (baca =&gt; non Cina) sekaligus berkecimpung di bidang yang negatif, misal bandar judi maupun penyedia/distributor candu.&lt;br /&gt;Setelah melampaui tahun 1900, imaji maupun representasi kaum Cina berangsur-angsur membaik. Memasuki tahun 1940, lima tahun menjelang Soekarno memproklamasikan negara yang diberi nama “Indonesia”, gambaran kaum Cina dalam beberapa novel sangatlah baik.&lt;br /&gt;Dari judul makalah yang dia tulis, satu pertanyaan yang dikemukakan oleh Widjajanti kepada Sindhunata, akan dibawa kemana para pembaca PUTRI CINA? Jika novel-novel yang ditulis pada zaman kolonial tersebut (terutama setelah memasuki abad ke-20) telah menyajikan imaji dan representasi kaum Cina yang baik, mengapa Sindhunata memaparkan kembali stereotip yang amat negatif dalam novelnya yang ditulis di abad ke-21?&lt;br /&gt;Ada satu pertanyaan yang mengusikku mendengarkan pemaparan Widjajanti ini (sayangnya waktu yang tidak bersahabat membuatku tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan pada saat bedah buku tersebut). Yang memberikan imaji serta presentasi negatif dan kemudian mengubahnya menjadi positif adalah para novelis Belanda. Seusai kemerdekaan bangsa Indonesia, bagaimanakah orang-orang Indonesia sendiri memandang orang-orang keturunan Cina ini?&lt;br /&gt;Rezim Orde Baru kembali menegatifkan imaji tersebut?&lt;br /&gt;Jika pemerintah kolonial Hindia Belanda memandang kekuatan kaum Cina sebelum abad ke-20 itu sebagai suatu ancaman, sehingga mereka memberikan stigma negatif, agar kaum ‘pribumi’ membenci ‘kaum pendatang’ ini, (paling tidak melalui novel-novel yang terbit waktu itu), apa alasan rezim Orde Baru untuk melakukan hal yang sama? Agar para warga negara dari etnis yang berbeda ini saling membunuh, dan melupakan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah waktu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;John A. Titaley&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Titaley memulai presentasinya dengan mengemukakan pertanyaannya sendiri tentang mengapa dia dipilih oleh panitia untuk membedah novel PUTRI CINA padahal dia tidak memiliki latar belakang sastra. Dia memperkirakan apakah karena dia terlahir dari seorang perempuan yang berdarah Cina? Padahal orang lebih mengenalnya sebagai seorang keturunan Ambon.&lt;br /&gt;Ibunya merupakan perempuan Cina dari Pulau Seram, dari keluarga Muslim. Meskipun ibunya kemudian berpindah agama tatkala menikahi ayahnya, semua Tante-tante Titaley tetap beragama Islam. Menurut pengamatannya, tidak pernah keluarga ibunya ini mengalami diskriminasi yang buruk, seperti yang dia temukan dalam novel PUTRI CINA. Itulah sebabnya dia mempertanyakan apakah masalah diskriminasi yang buruk, yang menimpa kaum Cina di Pulau Jawa lebih ke permasalahan perbedaan agama, dan bukan karena perbedaan etnis.&lt;br /&gt;Titaley membandingkan masalah Jawa-Cina ini dengan apa yang dia amati di Filipina dan Thailand dimana para kaum keturunan Cina ini sama sekali tidak mengalami diskriminasi karena mayoritas kaum Cina di kedua negara ini memeluk agama mayoritas, yakni di Filipina Katolik, sedangkan di Thailand Buddha. Haruskah orang-orang keturunan Cina di Jawa ini memeluk agama mayoritas—Islam—untuk menghindari perlakuan yang diskriminatif dari masyarakat luas?&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat menarik dari presentasi Titaley adalah pernyataannya mengenai REDEFINING INDONESIA untuk mengikis habis dikotomi pribumi dan non-pribumi. Tatkala para ‘founding fathers’ kita membentuk negara Indonesia, mereka dengan jenius telah memberikan sebuah definisi INDONESIA. Indonesia bukan hanya terdiri dari orang Jawa/Melayu/Sunda/Batak/Cina/Ambon/Papua, dll. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dimana semua orang itu berkumpul menjadi satu, dan membentuk sebuah negara baru, yakni INDONESIA. Tak satu suku bangsa pun berhak mengklaim diri sebagai pribumi dan memaksa suku bangsa lain untuk menjadi non-pribumi. &lt;br /&gt;Keberadaan lima orang keturunan Cina dalam BPUPKI (Liem Koen Hian dari Banjarmasin, Oey Tiang Tjoei dari Jakarta, Oey Tjong Hauw dan Tan Eng Hoa dari Semarang, serta Yap Tjwan Bing dari Solo) yang ikut memiliki andil dalam menentukan konsep negara Indonesia, menunjukkan bahwa pada dekade tersebut, orang-orang keturunan Cina tidak diperlakukan secara diskriminatif, mereka juga adalah kaum pribumi bumi Nusantara.&lt;br /&gt;Sebagai salah satu solusi Titaley mengajukan usul untuk membangun “nation and character building” melalui sistem pendidikan nasional. Titaley beranggapan bahwa pemberian mata pelajaran pendidikan agama terbatas pada satu agama yang dianut siswa saja merupakan proses pemiskinan wawasan anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdul Djamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari kemungkinan terjadi (lagi) kerusuhan maupun kekerasan sosial yang berasal dari perbedaan etnis, Djamil menyitir sepenggal ayat suci Alquran yang berbunyi, “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu ada pitutur bagi orang-orang yang berakal”.&lt;br /&gt;PUTRI CINA, secara sekilas, hanyalah merupakan kisah cinta antara sepasang manusia yang berasal dari dua etnis yang berbeda, yakni Jawa dan Cina. Jikalau seseorang membacanya hanya sambil lalu, apalagi kalau hanya untuk menjadi pengantar tidur saja, seseorang tidak akan bisa mengambil ‘pitutur’ yang disampaikan oleh sang pengarang, Sindhunata. Demikianlah yang dikemukakan oleh Djamil. Hasilnya, akan terlewatlah apa yang sebenarnya bisa kita jadikan sebagai suatu pelajaran agar tak ada lagi di bumi pertiwi ini pembantaian yang hanya dikarenakan perbedaan etnis.&lt;br /&gt;Dengan mengungkapkan secara gamblang latar belakang cinta antara tokoh Setyoko dan Giok Tien, nampak Djamil ingin mengemukakan keyakinannya pada apa yang dikemukakan oleh Slamet Mulyana dalam bukunya yang berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” bahwa beberapa dari wali songo merupakan orang-orang keturunan Cina. Banyak buku hasil tulisan ahli sejarah lain yang tidak mengemukakan hal yang sama. Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai usaha untuk menyembunyikan fakta? Untuk apakah orang melakukan hal tersebut? Sisa-sisa policy divide et impera di zaman pemerintah kolonial Belanda yang masih dilakukan di zaman sekarang ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Budi Widianarko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti judul makalah yang dia tulis, Widianarko mengemukakan bahwa nampaknya “Teori Kambing Hitam” merupakan tesis utama novel PUTRI CINA. Teori ini secara gamblang dikemukakan oleh Benny G. Setiono dalam bukunya yang berjudul “Tionghoa dalam Pusaran Politik”. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, sampai kerusuhan Mei 1998, orang-orang yang disebut sebagai “berasal dari negara Bangau Putih” dalam PUTRI CINA, selalu menjadi ‘kambing hitam’. Setiap kerusuhan terjadi, selalu jatuh korban dari orang-orang keturunan Cina, sehingga seolah-olah menjadi suatu keniscayaan bahwa hal yang demikian ini akan selalu terjadi setiap beberapa tahun sekali (sehingga bisa dianggap sebagai sebuah ‘siklus’ kehidupan di Indonesia yang memang ‘nampaknya harus selalu terjadi seperti itu’). &lt;br /&gt;Sebegitu burukkah mental orang-orang Indonesia sehingga kerusuhan sosial yang sering memakan korban orang-orang keturunan Cina dianggap sebagai suatu ‘siklus kehidupan’? Sebagai suatu keniscayaan? Karena kecenderungan manusia ‘mengidap’ penyakit xenophobia?&lt;br /&gt;Meskipun begitu, Widianarko ingin mengemukakan opini yang lebih dari hanya sekedar pengambinghitaman. Adakah ‘akar’ yang lebih dalam yang melandasinya? &lt;br /&gt;Dua teori dari Glaeser dan Caselli and Coleman dikemukakan oleh Widianarko sebagai kemungkinan lain, selain teori kambing hitam. Glaeser mengatakan informasi dan persepsi yang salah, yang biasanya dipropagasi oleh para politis untuk mendapatkan dukungan kebijakan, akan dengan mudah menyulut kebencian antar kelompok etnis. Sedangkan Caselli dan Coleman menekankan kompetisi untuk memperoleh sumberdaya yang menjadi penyebab ketegangan rasial. &lt;br /&gt;Untuk itu Widianarko mengemukakan salah satu agenda yang bisa dilakukan untuk secara terus menerus mengurangi risiko kerusuhan yakni dengan perjuangan untuk memastikan tersedianya informasi dan persepsi yang utuh sehingga dapat mementahkan kebencian semuu. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan memperkaya interaksi antar etnis Cina dengan etnis-etnis lain di negeri ini. Selain itu mendukung dan memastikan adanya sistem pemerintahan yang demokratis—yang menjamin persamaan hak hidup dan perlindungan hukum bagi setiap warga negara Indonesia—tanpa peduli apapun latar belakang etnisnya. &lt;br /&gt;LLT 20.03 270508&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3544457245218125014?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3544457245218125014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/bedah-buku-putri-cina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3544457245218125014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3544457245218125014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/bedah-buku-putri-cina.html' title='Bedah Buku Putri Cina'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-303759278635031996</id><published>2008-05-27T20:09:00.000+07:00</published><updated>2008-05-27T20:20:22.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harkitnas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'>Harkitnas 2008 di Semarang</title><content type='html'>Dalam rangka memperingati perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang keseratus tahun, sekaligus untuk ‘mengingat kembali’ peristiwa Mei hitam sepuluh tahun yang lalu (peristiwa yang kedua ini dikemukakan oleh ketua panitia Harjanto Halim), warga kota Semarang mengadakan tiga kegiatan sekaligus yang diselenggarakan pada hari Jumat 23 Mei dan Sabtu 24 Mei 2008. &lt;br /&gt;Pada hari Jumat pagi, sekitar pukul 08.00-12.00 diselenggarakan bedah buku PUTRI CINA, sebuah novel yang meramu antara mitos dan sejarah hasil karangan Sindhunata. Acara diselenggarakan di gedung Study World Jalan Kyai Saleh Semarang. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwJxm2blYI/AAAAAAAAApY/Hdj1cmHbiMk/s1600-h/bedahbuku.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwJxm2blYI/AAAAAAAAApY/Hdj1cmHbiMk/s320/bedahbuku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205046017180538242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya diselenggarakan pertunjukan ACAPELLA MATARAMAN dari Jogja di panggung utama Waroeng Semawis, Gang Warung, kawasan Pecinan Semarang. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwKAm2blZI/AAAAAAAAApg/0ZwxoyOj7w0/s1600-h/cangkemunium.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwKAm2blZI/AAAAAAAAApg/0ZwxoyOj7w0/s320/cangkemunium.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205046274878576018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan acara puncak adalah pementasan ketoprak PUTRI CINA yang ide utamanya diambil dari novel karangan Sindhunata. Ketoprak dipentaskan oleh kelompok ‘Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogdjakarta pada hari Sabtu pukul 18.30 sampai menjelang tengah malam. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwKWW2blaI/AAAAAAAAApo/lveELsxWXQ8/s1600-h/ketoprak.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwKWW2blaI/AAAAAAAAApo/lveELsxWXQ8/s320/ketoprak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205046648540730786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada acara puncak ini hadir para petinggi Semarang/Jawa Tengah, seperti Gubernur Ali Mufiz beserta ibu, Wali Kota Sukawi Sutarip beserta ibu, bahkan hadir pula Bupati Kudus. Para budayawan yang hadir dalam acara ini Eko Budiharjo (mantan calon ‘calon gubernur’ Jawa Tengah yang tidak jadi), Djawahir Muhammad, Timur Sinar Suprabana, dll.&lt;br /&gt;Apa hubungan antara hari Kebangkitan Nasional dengan etnis Cina? Mengapa acara yang diselenggarakan sangat berbau etnis yang satu ini?&lt;br /&gt;Mungkin pertanyaan ini akan keluar dari benak para pembaca blog ini. &lt;br /&gt;Konon ide mementaskan ketoprak PUTRI CINA ini pertama kali dikemukakan oleh Anton Wahyu yang bekerja di TB Gramedia (Gramedia merupakan penerbit novel Sindhunata ini). Haryanto Halim, salah satu penggiat budaya di kota Semarang segera menyambutnya dengan antusias. Panitia yang terdiri dari beragam etnis, agama, profesi, dan kalangan pun terbentuk dan bekerja keras untuk mewujudkan pertunjukkan yang diharapkan merupakan benih untuk menggiatkan kegiatan kebudayaan di kota Semarang, terutama.&lt;br /&gt;Masih ingat peristiwa ‘lampion Cina’ yang bertebaran di beberapa jalan protokol di kota Semarang bulan Agustus 2007 yang lalu? Seorang budayawan yang pada waktu itu menggugat digantungkannya lampion Cina karena mengkhawatirkan kecemburuan etnis lain (baca =&gt; etnis Jawa dan Arab) pun menyumbangkan sebuah puisinya dan membacakannya pada acara puncak.&lt;br /&gt;Mengacu ke sebuah artikel yang dimuat The Jakarta Post yang berjudul “Another May Tragedy Possible” (bisa dicek di http://themysteryinlife.blogspot.com) kenaikan harga BBM beberapa hari yang lalu, yang dibarengi oleh demonstrasi massa, dimana aparat tak segan-segan menangkap para demonstran (layaknya yang terjadi di zaman rezim Orde Baru) yang terjadi di beberapa kota di Indonesia, usaha panitia untuk lebih memasyarakatkan ide pluralisme/multikulturalisme lewat pertunjukan ketoprak PUTRI CINA tentu saja terasa sangat pas. Ide utama ketoprak ini—untuk merangkul semua etnis agar menjadi satu, tak ada lagi saling curiga yang tidak perlu—sangat perlu diketahui oleh masyarakat luas, terutama kalangan bawah, agar tak lagi mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang hanya bermaksud mengail di air yang keruh, agar tak lagi terjadi peristiwa hitam saling membunuh anak bangsa sendiri.&lt;br /&gt;Agar Indonesia benar-benar bangkit.&lt;br /&gt;PT56 16.11 250508&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-303759278635031996?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/303759278635031996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/harkitnas-2008-di-semarang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/303759278635031996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/303759278635031996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/harkitnas-2008-di-semarang.html' title='Harkitnas 2008 di Semarang'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/SDwJxm2blYI/AAAAAAAAApY/Hdj1cmHbiMk/s72-c/bedahbuku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2634605889005054988</id><published>2008-05-21T19:38:00.001+07:00</published><updated>2008-05-21T20:41:15.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seksualitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayu Utami'/><title type='text'>Ketelanjangan</title><content type='html'>Berikut ini adalah cuplikan artikel Ayu Utami yang berjudul PAK MARTA yang dimuat dalam buku Ayu yang berjudul SIDANG SUSILA (diterbitkan oleh Spasi &amp; VHR Book, tahun 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Hampir seperempat abad yang lampau, guru agama di SMP kami, Tarakanita 1, mengajukan pertanyaan di muka kelas yang takkan pernah saya lupakan. “Menurut kalian, apakah menonton film biru itu salah?” katanya. Ia juga bertanya, pertanyaan yang lebih lunak, apakah menurut kami ibu-ibu yang suka berdandan di salon melakukan sesuatu yang tidak benar. Dalam ingatan saya, semua murid menjawab bahwa keduanya bukan perbuatan yang baik.&lt;br /&gt;Guru saya bernama Pak Marta (barangkali saya salah mengeja namanya). Pertanyaannya menjadi tak terlupakan terutama ketika ia menggugat jawaban kami yang sederhana. Katanya, kira-kira, “pernahkah kalian bayangkan, suami istri yang telah menikah bertahun-tahun? Film biru bisa baik bagi mereka.”&lt;br /&gt;Kami masih kelas dua SMP, tapi jawaban itu amat masuk akal. Banyak hal tidak bersifat jahat pada dirinya, tetapi menjadi jahat pada tempat yang salah. Inilah pelajaran agama yang tidak mengajarkan larangan, melainkan mengajarkan murid menggunakan akal sehat. (hal. 109)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Tatkala duduk di bangku SD, aku bersekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Seingatku aku lebih sering mendapatkan pelajaran larangan, daripada menggunakan akal sehat. Mungkin karena kita masih duduk di bangku sekolah dasar, dianggap masih terlalu muda sehingga diragukan apakah sudah bisa menggunakan akal sehat, kita dikondisikan hanya untuk menerima doktrin-doktrin belaka. &lt;br /&gt;Seks selalu dianggap sebagai sesuatu yang sangat tabu untuk dibicarakan, mungkin karena takut jika kita justru akan menjadi ingin tahu lebih jauh. Demikian pula dengan ketelanjangan. Ketelanjangan adalah sesuatu yang tabu dan kotor, pun jika itu terjadi di antara suami dan istri. Aku masih ingat seorang guru mengatakan bahwa kita tidak boleh mandi telanjang. Kalau pun kita tidak memiliki kain yang bisa kita pakai untuk menutup tubuh kita tatkala kita mandi, kita dilarang keras untuk memandang tubuh kita sendiri; yang menurut RUU APP dianggap sensual dan bisa mengakibatkan kecabulan, yakni alat kelamin dan payudara (khusus untuk perempuan). &lt;br /&gt;Bagi pasangan suami istri seks hanya boleh dilakukan di tempat yang gelap, karena kita tidak boleh memandang tubuh kita yang sedang telanjang, apalagi tubuh orang lain—dalam hal ini adalah suami/istri kita. Jika terpaksa melakukannya di tempat yang tidak gelap, kita HARUS menutupkan selimut ke seluruh tubuh agar tidak terlihat. &lt;br /&gt;Aku membayangkan seandainya aku berada di kelas yang sama dengan Ayu Utami tatkala Pak Marta mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku tidak akan pernah bisa memahami mengapa Pak Marta mengatakan bahwa bagi suami istri menonton film biru diperbolehkan. Memandang tubuh kita sendiri yang sedang telanjang saja tidak boleh, juga tubuh pasangan ‘resmi’ kita, apalagi tubuh orang lain yang tidak kita kenal, yang ada di dalam film-film biru tersebut? Menonton film biru sama dengan memandang tubuh orang yang sedang telanjang, bukan?&lt;br /&gt;Bisa dipahami jika aku tidak pernah nonton film biru di masa remajaku (otakku penuh dengan doktrin-doktrin kuat yang kuterima di bangku SD plus ketakutan-ketakutan bahwa Tuhan adalah suatu Dzat yang suka menghukum makhluk-Nya), pun juga setelah menikahi bokapnya Angie (1990). Aku selalu menolak permintaannya untuk menonton film biru. Pertama kali menonton film biru di tahun 2000, ketika ada seorang teman dekatku ‘memaksaku’ untuk mencoba suatu pengalaman baru. LOL. “Kamu tuh jadi orang janganlah terlalu ‘lurus’. Sekali-sekali perlu lah membelok,” katanya. LOL. “Lagi pula kamu sudah lama ga lihat penis kan?” rayunya lagi. Hal ini terjadi beberapa bulan setelah permohonan berceraiku dikabulkan oleh PA. (Goodness, she didn’t know that looking at penis was not attractive at all for me!!! LOL. Maklum hasil indoktrinasi yang kuat bahwa memandang tubuh telanjang adalah sesuatu yang tidak layak dilakukan, bahkan mungkin berdosa).&lt;br /&gt;Aku yakin sampai sekarang masih banyak orang atau institusi yang mendoktrin anak-anaknya maupun siswa-siswinya seperti guru-guruku di Madrasah Ibtidaiyah, sekitar tiga dekade yang lalu. Lihat saja apa yang dituliskan oleh Habiburrahman tentang tokoh Aisha dalam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’. &lt;br /&gt;PT56 20.20 200508&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2634605889005054988?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2634605889005054988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/ketelanjangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2634605889005054988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2634605889005054988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/ketelanjangan.html' title='Ketelanjangan'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5863240316160058144</id><published>2008-05-21T19:31:00.000+07:00</published><updated>2008-05-21T19:36:06.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menikah'/><title type='text'>Melajang</title><content type='html'>Kemarin hari Selasa 20 Mei 2008 ada seorang teman adikku, perempuan, yang datang ke rumah, sekitar pukul 09.00. Aku tidak sempat bertegur sapa dengannya (kutengarai dia adalah seorang teman ‘baru’ adikku, sehingga aku belum mengenalnya) dan adikku pun tidak mengenalkanku dengannya. It is not a big deal anyway karena rumah Nyokap yang lumayan besar membuat kehadirannya tidak terlalu ‘terlihat’. Sejak datang, dia asik ngobrol dengan adikku di kamarnya. &lt;br /&gt;Selasa 20 Mei, hari Kebangkitan Nasional, yang kebetulan juga berbarengan dengan Hari Waisak, merupakan hari libur di Indonesia. Pagi hari sekitar pukul 06.00-09.00 aku dan Angie pergi berenang. Sesampai rumah, kita berdua sarapan. Aku mencuci baju setelah itu, dan Angie membantuku membilas dan menjemurnya. Setelah itu, kita berdua menyibukkan diri di dalam kamar, aku mengetik artikel di komputer sedangkan Angie bermain game di hapenya. Sekitar pukul 12.00, aku mengantuk sehingga aku pun leyeh-leyeh di atas tempat tidur sementara Angie gantian mengambil posisi di depan komputer, mengetik tugas dari sekolah.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 14.00-16.00 kita menonton I NOW PRONOUNCE YOU CHUCK AND LARRY. We were having fun karena film Adam Sandler yang satu ini lucu sekali.&lt;br /&gt;Selepas Maghrib, ternyata teman adikku masih betah di rumah. Tatkala aku ke belakang untuk membuat cappuccino, aku mendengar suaranya yang sedang ngobrol dengan adikku.&lt;br /&gt;Selepas jam 20.00, ternyata dia pun masih ada, sehingga Angie pun bertanya, “Temannya Tante Lala mau menginap di sini ya Ma?”&lt;br /&gt;“I dunno, honey. Maybe yes.”&lt;br /&gt;Hal ini mengingatkanku pada seorang teman SMA-ku yang pernah menginap di rumah, minggat dari rumah karena dia dilarang pacaran dengan seorang tetangga oleh orang tuanya. Orang tua si pacar pun konon kurang sreg anaknya berpacaran dengan temanku.&lt;br /&gt;“Waktu itu malam-malam, loh Sayang, sekitar pukul 1 atau 2 dini hari, pacarnya datang, mengetuk-ngetuk jendela kamar paling depan, sambil mengucapkan ‘Assalamu ‘alaikum’. Ama yang terbangun karena mendengarnya, bertanya dari balik jendela, ‘Siapa ya?’ Ternyata pacar temannya Mama itu datang, menjemputnya untuk diajak pulang.”&lt;br /&gt;“Wah, rame juga ya Ma? Terus, akhirnya mereka menikah ga?” tanya Angie, antusias.&lt;br /&gt;“Iya, mereka menikah setahun setelah teman Mama lulus SMA.”&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Tadi pagi, sepulang aku dari erobik, Nyokap bercerita kepadaku tentang teman adikku yang ternyata ‘minggat’ dari rumah karena bosan dikejar-kejar melulu untuk segera menikah. She was born in 1974.&lt;br /&gt;“Rumah kita memang jadi penampungan orang-orang minggat,” kataku, bercanda. Selain seorang teman yang kuceritakan di atas, masih ada dua orang temanku lain lagi yang minggat dan menginap di rumah selama beberapa hari, sampai orang tua mereka ‘menemukan’ mereka berada di rumahku.&lt;br /&gt;Mendengar cerita itu, aku pun bercerita kepada Nyokap tentang seorang teman kuliah S2 yang juga sering dikejar-kejar untuk segera menikah. Tahun 2003 dia melanjutkan kuliah ke American Studies UGM karena ogah dikejar-kejar untuk segera menikah. Menjelang hari wisuda (kebetulan kita berdua wisuda pada tanggal yang sama, 25 Januari 2006), dia curhat, “Tiga tahun yang lalu aja aku dikejar-kejar untuk menikah melulu, apalagi sekarang ya? Alasan apa lagi yang bisa kukemukakan kepada orang tuaku?”&lt;br /&gt;Untunglah dalam hal ‘menikah’ ini Nyokap, my only parent who is stil alive, tidak pernah membuat kedua adikku merasa tidak jenak di rumah, hanya gara-gara mereka berdua masih single.&lt;br /&gt;“Mau gimana lagi? Mami lihat kedua adikmu itu enjoy-enjoy aja menjalani hidupnya. Ya biarkan sajalah. Mami ga mau kalau hanya gara-gara urusan menikah, adikmu malah minggat dari rumah karena merasa tidak nyaman Mami kejar-kejar untuk menikah. Yang namanya jodoh itu kan datangnya dari Allah. Ya yang sabar saja.”&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Masalah menikah ini memang selalu sensitif. Kebetulan di Indonesia, ‘menikah’ dianggap sebagai suatu keharusan, bahkan suatu ‘kodrat’ yang harus dijalani. Kalau seseorang tidak atau belum menikah, terutama bagi mereka yang usianya dianggap ‘terlambat’ untuk menikah (angka 30 selalu dipatok sebagai ‘ambang’) maka masyarakat pun akan ‘usil’ menanyakan. Untuk perempuan, ‘beban menikah’ ini lebih besar karena ada hal lain yang berhubungan dengan harga diri, yakni pandangan ‘tidak laku’ atau ‘belum laku’. Bagi orang tua, ‘tudingan’ masyarakat memiliki anak perempuan yang ‘tidak laku’ sangatlah menyakitkan sehingga mereka pun memaksa anak-anak gadisnya untuk segera menikah, untuk ‘menyelamatkan’ nama baik mereka. Mereka tidak sadar bahwa pemaksaan ini justru menyebabkan beban di pundak para lajang semakin besar. Para lajang ini justru membutuhkan perlindungan, ayoman, serta pengertian dari orang tua untuk terus menapaki hidup dengan percaya diri, bahwa ‘It is very okay to be single. Tidak ada yang salah untuk tetap melajang.’&lt;br /&gt;PT56 11.43 210508&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5863240316160058144?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5863240316160058144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/melajang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5863240316160058144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5863240316160058144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/melajang.html' title='Melajang'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-1866226728571609917</id><published>2008-05-09T14:58:00.000+07:00</published><updated>2008-05-09T15:01:13.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seksualitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Krisna Mukti'/><title type='text'>Krisna Mukti</title><content type='html'>“Tuduhan” bahwa dirinya adalah seorang gay kembali ‘menyerang’ aktor Krisna Mukti seminggu terakhir ini. (Gile, foto-foto Krisna yang dimuat di salah satu tabloid lokal keren banget! huehehehe ... Pasti para ‘penggemar’ gay-nya bakal ga bisa berhenti melototin foto-foto itu. LOL.)&lt;br /&gt;Aku bukanlah “tukang mengkonsumsi” infotainment sehingga selalu bisa mengikuti gosip terkini. Lah, darimana aku tahu gosip tentang Krisna Mukti?&lt;br /&gt;Ceritanya begini. Kemarin, di salah satu kelas, aku meminta para mahasiswa untuk berpura-pura bekerja di salah satu majalah/tabloid yang akan memberi anugerah “the celebrity of the year”. Aku meminta mereka berdiskusi berkelompok untuk memilih seorang selebriti laki-laki dan seorang selebriti perempuan. Ada tiga kelompok, dan di setiap kelompok, ada tiga mahasiswa. (Mereka semua adalah mahasiswa sebuah universitas negeri yang terletak di kawasan Tembalang Semarang.) &lt;br /&gt;Satu kelompok, yang anggotanya semuanya laki-laki, memilih Krisna Mukti, sebagai the male celebrity of the year.&lt;br /&gt;“Why him?” tanyaku heran, mengingat akhir-akhir ini ‘bintang’ KM tidaklah secemerlang waktu dia menjadi lakon utama di sinetron AKU INGIN PULANG, sekitar delapan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Ternyata alasan yang dikemukakan adalah KM ‘terpergok’ mengirim surat cinta kepada seorang laki-laki. KM sendiri menolak mengiyakan bahwa dirinya memang seorang gay. &lt;br /&gt;“Why didn’t he just admit that he was a gay? I will support him anyway,” kataku, mengingat aku selalu mengambil ‘sikap politik’ untuk mendukung para homoseksual. (You can read my posts in my blogs about this.)&lt;br /&gt;Di tabloid yang kubaca barusan, KM diceritakan bahwa dia menulis sebuah surat ‘mesra’ kepada seorang kliennya, karena menyapa sang klien, “honey”, dan kemudian mengakhiri surat itu dengan “love”.&lt;br /&gt;Aku jadi ingat beberapa teman perempuan Angie yang selalu menyapanya “Cin ...” singkatan dari “Cinta”. Pertama mengetahuinya aku agak cemburu, karena aku mengharap hanya akulah yang akan menyapanya “love”, meskipun lama-lama aku biasa saja.&lt;br /&gt;Aku sendiri juga sering mengakhiri email ke teman-teman perempuanku dengan “love”. Aku dan Angie, plus teman-temanku dan teman-teman Angie yang biasa mengakhiri menulis email dengan “love”, maupun menyapa dengan “honey” maupun “Cinta”, aku yakin semuanya heteroseksual. Dan mungkin karena kita bukanlah selebriti, ga bakal masuk infotainment sebagai lesbian. LOL. LOL.&lt;br /&gt;Namun aku ingat perlakuan yang memang selalu diskriminatif di masyarakat. Tatkala ada dua orang perempuan berjalan bersama di tempat umum, bergandengan tangan, bahkan mungkin berpelukan, orang-orang akan memandangnya dengan biasa saja. Namun jika yang melakukan hal itu adalah dua orang laki-laki, maka orang-orang yang memandangnya pun akan heboh, dan menganggap kedua laki-laki itu menjijikkan. &lt;br /&gt;Jika yang melakukannya seorang laki-laki dan perempuan, berjalan bersama mesra, mungkin sampai berpelukan, orang pun akan memandangnya dengan agak jijik, sembari berujar, “Orang pacaran kok ga tahu tempat. Si perempuan kok ya mau-maunya. Apalagi kalau di tempat yang sepi, pasti sudah habis “diapa-apain”. LOL.&lt;br /&gt;Yah, memang beginilah masyarakat Indonesia yang senantiasa dibuat ‘sakit’ oleh pemerintahnya.&lt;br /&gt;Kembali ke topik utama tentang ke-gay-an Krisna Mukti. Sebagai seorang perempuan yang heteroseksual, sayang juga ya laki-laki sekeren KM gay? Aku ga bisa ikut ‘menikmati’ dong. Wakakakaka ... Tapi, tentu aku akan mendukungnya, juga para gay yang lain, untuk membuka diri dengan pede, sambil mengatakan, “Inilah kodratku!”&lt;br /&gt;Semalam, di acara Empat Mata” yang kutonton secara sekilas, ada tamu yang mantan ratu waria, “namun dia telah bertobat dan kembali ke ‘kodrat’nya”, demikian kata Tukul. Aku tidak menonton kelanjutan acara itu. &lt;br /&gt;Kodrat oh kodrat.&lt;br /&gt;Aku ingat pernyataan beberapa antropolog yang mengemukakan bahwa mengkotakkan manusia hanya dua jenis kelamin tidaklah adil, meskipun secara biologis manusia hanya terbagi menjadi dua, memiliki penis, dan memiliki vagina. Ada antropolog yang mengatakan selain laki-laki dan perempuan, masih ada lagi jenis ‘gay’ dan ‘lesbian’ yang orientasi seksualnya ke sesama jenis kelamin. Gay dan lesbian di sini tetap mengakui bahwa diri mereka laki-laki dan perempuan. Jenis lain lagi yakni transseksual. Male-to-female transseksual adalah orang yang dilahirkan memiliki penis namun merasa diri mereka sebagai perempuan, sehingga mereka pun hanya tertarik kepada laki-laki. Dorce adalah contoh male-to-female transseksual yang terkenal, dan dia memiliki uang untuk operasi ganti kelamin. Female-to-male transseksual adalah orang yang dilahirkan memiliki vagina namun mereka merasa diri sebagai laki-laki sehingga secara seksual mereka hanya tertarik kepada perempuan. Belum ada contoh female-to-male transseksual yang cukup terkenal di Indonesia. Mereka ada namun lebih memilih ‘bersembunyi’ karena masyarakat menganggap mereka sakit secara psikologis.&lt;br /&gt;Kapankah masalah kodrat/melawan kodrat (alias created versus constructed) ini benar-benar dipahami oleh masyarakat luas? &lt;br /&gt;PT56 14.30 090508&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-1866226728571609917?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/1866226728571609917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/krisna-mukti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/1866226728571609917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/1866226728571609917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/05/krisna-mukti.html' title='Krisna Mukti'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3479140391504029530</id><published>2008-03-27T16:48:00.000+07:00</published><updated>2008-03-27T16:52:53.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daily'/><title type='text'>Semarang - Demak</title><content type='html'>“A tough girl!” commented one driver working for Bank Jateng Demak when he saw me preparing myself to ride my dearest motorcycle in the parking lot, after finishing giving English training to some employees of Bank Jateng Demak last Thursday 21 February 2008. It was raining cats and dogs outside.&lt;br /&gt;For your information, it is around 35 kilometers from my home to the office building of Bank Jateng Demak located on Jalan Sultan Trenggono Demak, some meters on the South of the Great Mosque built by Sunan Kalijaga. I usually need around 45 minutes by motorcycle, with the speed around 60-80 kilometers per hour. However, to go home, I need a longer time since the road from Demak to Semarang is not as smooth as the road from Semarang to Demak. I cannot speed around 60-80 kilometers on my way home. One employee of Bank Jateng Demak told me that the road from Semarang to Demak was one heritage from the Dutch Colonial government. (Remember the history lesson you got at school, Daendels inhumanely forced Indonesian people to work to build a very long road from Anyer to Panaruka from 1808 till 1811.) Meanwhile, the road from Demak to Semarang was built during Soeharto era. The condition of this new road is even worse than the one built in the beginning of the nineteenth century.&lt;br /&gt;Because of the rainy season, on my way back to Semarang by motorcycle, I saw the different condition of the road clearly. Look at the picture below.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tt73oYZ1I/AAAAAAAAAo4/OeQ3wXQwc5w/s1600-h/cutie...0226.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tt73oYZ1I/AAAAAAAAAo4/OeQ3wXQwc5w/s320/cutie...0226.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182356671532918610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A workmate jokingly said to me, “The road from Demak to Semarang is not like ‘Kaligarang’ Ma’am, but it is like ‘kaligaring’.” (NOTE: ‘Kaligarang is a name of one river in Semarang. Kaligaring means a dry river. Imagine the condition of the surface of a dry river at the bottom.)&lt;br /&gt;What conclusion can you draw? Not much corruption done during the Dutch colonial government. During Soeharto era? You say it.&lt;br /&gt;Last Thursday was the third time I had to go home from Demak to Semarang by motorcycle in the heavy rain. I am tough? Ask my dearest Abang for that. LOL.&lt;br /&gt;To be the breadwinner is absolutely not a piece of cake. And women surely can do it as well as men. And I am very proud to do it for myself, and for my only Lovely Star.&lt;br /&gt;PT56 11.55 25022008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3479140391504029530?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3479140391504029530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/03/semarang-demak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3479140391504029530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3479140391504029530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/03/semarang-demak.html' title='Semarang - Demak'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tt73oYZ1I/AAAAAAAAAo4/OeQ3wXQwc5w/s72-c/cutie...0226.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-553214606041105255</id><published>2008-03-27T16:33:00.000+07:00</published><updated>2008-03-27T16:46:01.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>Flood ... flood ... flood</title><content type='html'>It has been raining very often in Semarang recently. This is understandable because this is still the rainy season. However, as far as I remember, this rarely happens. I mean, not to see the sunshine for several weeks in succession in Semarang is not something very common to happen, despite during the rainy season. Due to this, I have become somewhat spoilt, especially in terms of taking a shower. I have to boil some water first so that I can use warm water for shower. Besides, I always depend on the dryer in the washing machine to dry the clothes I just wash.&lt;br /&gt;However, this post will not focus on this kind of thing. &lt;br /&gt;Last Thursday February 21 on my way back from Demak after teaching at Bank Jateng Demak, I was trapped in a flooded area. I had to ride my dearest motorcycle at that time because Pak Har, my ‘ojek driver’ LOL, couldn’t give me a lift. His car was broken, he said. That Kaligawe is always flooded when there is big rain is something everybody knows. And I already know the alternative way to avoid Kaligawe, that is through ‘the artery road’. Nah, the flood recently also reached the ‘mouth’ of the artery road. Willy nilly I had to pass the flooded area and I didn’t have any idea how deep the flood was.&lt;br /&gt;When I was thinking what I would do, a kid, perhaps around ten until twelve years approached me, asking me politely, &lt;br /&gt;“Wanna pass the flooded area Ma’am? Here, let me help you. You get down from your motorcycle first and I will push it to pass this flooded area. The machine of your motorcycle will be safe. And you just walk behind me.”&lt;br /&gt;I knew the boy just needed some money from me. And of course I didn’t mind it at all. So, I let him do what he said and I followed him while taking some pictures of what was going on around me. I have read articles in the newspaper how flood could give people a chance to get some extra money. And I experienced it myself. &lt;br /&gt;Here are some pictures I took at that time (around 09.00 am Thursday 21 February 2008).&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tsbnoYZ0I/AAAAAAAAAow/SCoz4zQk3C8/s1600-h/cutie...0218.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tsbnoYZ0I/AAAAAAAAAow/SCoz4zQk3C8/s320/cutie...0218.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182355017970509634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tsBXoYZzI/AAAAAAAAAoo/4qOCb9MTwCI/s1600-h/cutie...0220.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tsBXoYZzI/AAAAAAAAAoo/4qOCb9MTwCI/s320/cutie...0220.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182354566998943538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-trWnoYZyI/AAAAAAAAAog/jzoAet-qMkM/s1600-h/cutie...0222.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-trWnoYZyI/AAAAAAAAAog/jzoAet-qMkM/s320/cutie...0222.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182353832559535906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tq0noYZxI/AAAAAAAAAoY/wMC93n6I2WE/s1600-h/cutie...0223.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tq0noYZxI/AAAAAAAAAoY/wMC93n6I2WE/s320/cutie...0223.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182353248443983634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;My dearest hometown, with its common problems, especially during the rainy season.&lt;br /&gt;PT56 11.25 25022008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-553214606041105255?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/553214606041105255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/03/flood-flood-flood.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/553214606041105255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/553214606041105255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/03/flood-flood-flood.html' title='Flood ... flood ... flood'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R-tsbnoYZ0I/AAAAAAAAAow/SCoz4zQk3C8/s72-c/cutie...0218.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5578427039324001586</id><published>2008-02-18T19:54:00.000+07:00</published><updated>2008-02-18T20:00:01.472+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daily'/><title type='text'>SATE AYAM</title><content type='html'>SATE AYAM merupakan salah satu menu yang selalu kucari tatkala menghadiri suatu acara yang melibatkan makan-makan. Namun herannya, tatkala orang bertanya kepadaku, “What’s your favorite food, Ma’am?” aku hampir tidak pernah menyebut, “Chicken satay.” Biasanya yang selalu kusebutkan pertama kali adalah nasi goreng, kemudian berturut-turut pecel, gado-gado (dua jenis makanan yang memiliki bumbu yang mirip  sambal kacang), petis kangkung, rujak, bakmi—baik bakmi Jowo maupun bakmi Suroboyo—baru ke cap cay dan kwetiau. (For kwetiau, I owe my ex very pretty private student who once cooked kwetiau for me when I arrived to her house, to give her private class, saying that it was her favorite food to cook. Sebelum itu, aku belum pernah makan kwetiau. LOL. Better late than never, eh? LOL.)&lt;br /&gt;Seandainya aku menemukan sate ayam di antara banyak jenis makanan lain di dalam sebuah resepsi, aku pasti akan bercerita ke orang rumah, “Makanannya enak, karena ada sate ayam!” LOL. Kalau tidak ada, aku akan bilang, “Lumayan sih, sayangnya ga ada sate ayam.” &lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, aku mendapatkan undangan resepsi pernikahan dimana menu makanannya kebanyakan masakan oriental (sayangnya cap cay dan kwetiau yang bisa dimasukkan Chinese food tidak ada), dan tak ada sate ayam, aku mengeluh, “I don’t need this foreign kind of food. Ga usahlah nyediain makanan yang mahal-mahal gini, cukup dengan sate ayam aja, I will love it a lot.” &lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Ada sebuah restoran yang khusus menjual berbagai jenis sate, tidak jauh dari lokasi sekolah Angie. Aku pun telah bilang kepadanya untuk kapan-kapan mampir ke situ. Namun, berhubung Angie tidak begitu suka sate, sampai sekarang kita belum pernah mampir kesana. Malah kita berdua sudah ke rumah makan yang berjualan bakso, yang terletak di samping restoran sate itu, meskipun rumah makan ini baru buka beberapa bulan yang lalu (Aku selalu mengalah kepada selera Angie tatkala memilih satu tempat makan ketika kita berdua sedang eating out.) &lt;br /&gt;Satu peristiwa terjadi kurang lebih dua minggu yang lalu yang membuatku harus mengubur keinginanku mengajak Angie mampir ke restoran sate itu. Dua rekan kerjaku yang pernah ke sana, bercerita, “It is too damn expensive!!! Masak satu porsi sate yang berisi tiga tusuk sate, baik ayam maupun kambing, harganya Rp. 18.000,00” Uh .. oh ... goodbye deh ... Jelas bukan kelas kantongku deh rumah makan ini. LOL. Maklum, kalau makan sate ayam, satu porsi bagiku minimal 10 tusuk lah. LOL. Tiga tusuk doang mana cukup?&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Selasa malam 5 Februari 2008, sepulang dari kantor, sekitar pukul 21.15 tatkala memasuki halaman rumah tempat tinggalku, ada seorang penjual sate ayam sedang nongkrong di tembok dekat pintu pagar. Hal ini sebenarnya merupakan pemandangan yang sangat jamak bagiku, karena si Bapak penjual sate ayam itu memang sering nongkrong di situ, menunggu pembeli. Satu alasan utama yang membuatku tidak pernah membeli sate ayam jualannya adalah karena malam telah lumayan larut. Kalau jam segitu aku baru memesan sate, jam berapa aku akan selesai memakannya? Jam berapa aku akan berangkat ke peraduan? Masalahnya, kalau mataku telah ngantuk berat, sehingga aku terpaksa tidur dalam kondisi perut terisi penuh, keesokan harinya, plus beberapa hari sesudahnya, aku akan stress karena lemak di perutku akan semakin menebal. Dengan perut berlemak berlebihan, aku akan kesulitan kalau duduk di atas lantai, di hadapan monitor komputer. Kalau berjalan rasanya juga bakal terganjal lemak di perut ini. Baju  pun bakal sangat ngepas di badan, bahkan sesak. Wis to, pokoke rak enak poll. LOL.&lt;br /&gt;Namun hari Selasa 5 Februari kemarin beda. Perutku lapar. Plus ada satu kerjaan yang mau tak mau harus kulakukan sebelum tidur  mencuci seragam sekolah Angie. Dan agar bisa kukeringkan menggunakan mesin pengering, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang cukup banyak. (FYI, mesin cuci di rumah suka ‘ngamuk’ kalau ‘dipaksa’ mengeringkan cucian dalam jumlah yang sedikit. LOL. Berguncang-guncang kesana kemari plus suara gedebag gedebug ga karuan.) Dalam keadaan lapar, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang lumayan banyak, aku bakal pingsan kali ya? LOL. Dan, mencuci akan ‘memaksaku’ untuk tetap melek, bahkan mengeluarkan energi, sampai kurang lebih 2 jam setelah makan. 2 jam merupakan waktu yang cukup untuk ‘membuat makanan turun ke bawah’ sehingga tidak akan terlalu membuat perutku (tambah) gembul. LOL.&lt;br /&gt;So, sebelum memasukkan motor ke dalam garasi, aku menghampiri si Bapak penjual sate, “Pak, sejinah pinten, nggih?”&lt;br /&gt;“Biasa to mbak, petung ewu.”&lt;br /&gt;“Nggih pun Pak, kulo pesen sejinah nggih? Sa’niki kulo mlebet rumiyin, ajeng mendet piring.”&lt;br /&gt;“Nggih mbak.” &lt;br /&gt;Aku sengaja tidak menutup pintu garasi, bahkan membiarkannya terbuka lebar. &lt;br /&gt;Namun, adikku yang datang tak lama kemudian, menutup pintu garasi, sembari terheran-heran, “What the hell has happened? Why was the garage door widely open?” aku yakin dia bertanya-tanya pada diri sendiri.&lt;br /&gt;Tatkala aku keluar sembari membawa piring, sebelum adikku bertanya, aku langsung bilang, “Aku beli sate.”&lt;br /&gt;“Oh ...” sahutnya pendek.&lt;br /&gt;Setelah aku keluar, si Bapak bertanya, “Itu tadi adik ya mbak?” (FYI, perbincanganku dengannya menggunakan boso Jowo kromo madyo.)&lt;br /&gt;Aku mengiyakan. Setelah itu, ternyata si Bapak termasuk orang yang cukup talkative dan hobby bergosip ria. LOL. Dia menyebut nama-nama orang penghuni kawasan Pusponjolo yang telah pindah, juga termasuk salah satu criminal yang ‘hobby’nya mencuri barang-barang milik tetangga sendiri. &lt;br /&gt;Waktu aku bilang, “Bapak tahu banyak sejarah orang-orang yang tinggal di sini ya?” dia mengaku pindah ke Pusponjolo tahun 1978, tiga tahun sebelum keluargaku menempati rumah yang beralamatkan di PT56. Setelah itu aku baru nyadar, bahwa pertanyaan, “Itu tadi adik ya mbak?” hanya merupakan basa basi belaka. I believe he must have known about my family. &lt;br /&gt;Malam itu aku jadinya memesan “rong jinah” alias dua puluh tusuk sate karena Mami plus kedua adikku masih melek, dan bersuka cita untuk membantuku menghabiskan sate. Angie telah tidur nyenyak, tentu kecapekan karena mengerjakan tugas sekolah, seusai jam sekolah. &lt;br /&gt;Waktu makan rame-rame itu, aku baru nyadar bahwa aku selalu “melupakan” sate ayam sebagai salah satu makanan terfavorit. Untuk itu pulalah aku merasa ‘perlu’ menulisnya untuk blog so kalau pembaga blog ada yang akan mengundangku makan, jangan lupa sediakan sate ayam sebanyak-banyaknya buatku yah? LOL. &lt;br /&gt;PT56 16.25 07012008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5578427039324001586?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5578427039324001586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/02/sate-ayam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5578427039324001586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5578427039324001586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/02/sate-ayam.html' title='SATE AYAM'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3353007647201772818</id><published>2008-01-22T19:34:00.000+07:00</published><updated>2008-01-22T19:36:12.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daily'/><title type='text'>Bad Experience to be Good</title><content type='html'>Should people need a “bad experience” first to be good people?&lt;br /&gt;This is the story of one student of mine. His parents told him to be patient when driving so that he wouldn’t get any accident or any other bad experience. Driving a car needs patience more than riding a motorcycle especially during traffic jam, because a car cannot sneak among any other vehicles as easily as a motorcycle.&lt;br /&gt;Unfortunately, one day he got up very late so that he had to be in a hurry to attend an English class at campus. He had passed two red traffic lights safely when he got his ‘lesson’. At the third traffic light, a car driven by a quite old man stopped in front of his car. He could not stop his car on time so that he crashed the back of the old man’s car. There were some policemen in one police post not far from there. He eventually got caught red handed.&lt;br /&gt;As a result, he was too late to go to campus. To make it worse, he had been absent for several times in that English class. He wouldn’t be able to follow the exam if his attendance was less than 75%. &lt;br /&gt;What was the lesson he somewhat forced to get from his bad experience?&lt;br /&gt;He didn’t dare to oversleep. He always tried his best to wake up early on the particular day when he had the English class, to come early to campus. &lt;br /&gt;“If on that day I could pass all the traffic lights safely, to arrive at campus on time, I would wake up late afterwards, and would get problems to be in a hurry every time going to campus,” he admitted.&lt;br /&gt;LL 18.35 220108&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3353007647201772818?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3353007647201772818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/bad-experience-to-be-good.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3353007647201772818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3353007647201772818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/bad-experience-to-be-good.html' title='Bad Experience to be Good'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-4650587103628068014</id><published>2008-01-09T19:53:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T20:10:19.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>Semarang</title><content type='html'>My fellow Semarang dwellers,&lt;br /&gt;How sure are you that you know each part of this beloved city of ours? Take a look at the following pictures.&lt;br /&gt;The first picture:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TFEY3rqII/AAAAAAAAAmg/pPm-mvT1ypQ/s1600-h/cutie...0137.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TFEY3rqII/AAAAAAAAAmg/pPm-mvT1ypQ/s320/cutie...0137.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153460552804837506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;This is the first impressive building for me when the first time I passed artery road, from somewhere in Tanah Mas area until the end of the artery road, the junction among the artery road, the Kaligawe road, and the Terboyo bus terminal. This building is apparently a part of many “new” buildings (new for me, who is the homebody type. LOL.) at the Tanjung Mas port.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TF1o3rqJI/AAAAAAAAAmo/apNOnx1Tpjw/s1600-h/cutie...0139.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TF1o3rqJI/AAAAAAAAAmo/apNOnx1Tpjw/s320/cutie...0139.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153461398913394834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The second picture is also the second building attracting me when passing the artery road. Especially for my regular blog visitors, I passed the road the first time some time in December, when Kaligawe area was flooded so that Pak Har, one of my students of Bank Jateng Demak, drove his cute car to Demak via artery road. I, as the passenger, enjoyed the scenery I could see outside the car window. :)&lt;br /&gt;The other impressive scenery along the artery road is the sea! &lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TGN43rqKI/AAAAAAAAAmw/y17WHcdJjV0/s1600-h/cutie...0138.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TGN43rqKI/AAAAAAAAAmw/y17WHcdJjV0/s320/cutie...0138.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153461815525222562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4THMY3rqMI/AAAAAAAAAnA/zNC6nNJoatc/s1600-h/cutie...0151.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4THMY3rqMI/AAAAAAAAAnA/zNC6nNJoatc/s320/cutie...0151.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153462889267046594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TG5o3rqLI/AAAAAAAAAm4/VJ1OQAKxkVw/s1600-h/cutie...0150.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TG5o3rqLI/AAAAAAAAAm4/VJ1OQAKxkVw/s320/cutie...0150.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153462567144499378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Before coming to the sea, you can see many areas made to be embankments, or whatever you call it. When I don’t get bored looking at the sea, or embankment sceneries along the artery road, I remember my “dream” to live exactly at the side of one beach, with its beautiful white sand, and its very blue sea water, so that every time I wake up in the morning, going out of my dwelling place, I will always see those lovely sceneries. However, tsunami disasters happening in some places force me to forget this “dream” of mine. Instead, well, at the moment, I can go on living in Semarang, and often spend time to go along the artery road. LOL. &lt;br /&gt;PT56 13.40 090108&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-4650587103628068014?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/4650587103628068014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/semarang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4650587103628068014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/4650587103628068014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/semarang.html' title='Semarang'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R4TFEY3rqII/AAAAAAAAAmg/pPm-mvT1ypQ/s72-c/cutie...0137.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7338959332536908852</id><published>2008-01-02T17:43:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T17:45:49.129+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='religion'/><title type='text'>Nana si Rebel</title><content type='html'>Tanpa kuketahui penjelasan secara logis, di antara keempat anak Mami Papi, aku nampak beda sendiri, yang pasti aku bukan anak ‘nemu’ di onggokan tempat sampah, seperti godaan Mami kepada adikku waktu kita masih kecil. Papi yang memiliki kulit warna terang membuatnya nampak mirip orang berdarah Tionghoa. Waktu duduk di bangku SD dulu, belum kenal yang namanya keluyuran, ikut karate, maupun berenang, warna kulitku pun terang, meskipun hal ini tidak berarti aku jadi nampak mirip orang Cina. Kakakku memiliki warna kulit yang lebih gelap dari aku, meskipun dia tipe orang rumahan, membuatnya tidak nampak mirip orang Cina pula. Namun kedua adikku, yang kata banyak orang mirip saudara kembar, meski beda umur 6 tahun, sering disangka orang Cina, walaupun mata mereka tidak Oriental. Kedua adikku dan kakakku memiliki tekstur wajah yang mirip membuat orang yakin mereka memang sedarah, berbeda denganku.&lt;br /&gt;Adikku yang biasa dipanggil Anggie TeLa memiliki beberapa teman berdarah Cina, yang di awal perkenalan sering menganggap adikku pun berasal dari etnik yang sama. Hal ini terjadi terutama semenjak dia ikut PRANA, yang kemudian dilanjutkan dengan FALUN. Dengan teman-teman PRANA dan FALUN, dia sempat pergi ke luar kota untuk melakukan kegiatan ini itu, misal mempromosikan FALUN agar orang-orang mengenal cara alternatif untuk menjaga kesehatan dengan melakukan olah tenaga dalam. &lt;br /&gt;Sementara itu, adik bungsuku yang dipanggil Anggie TeLi bekerja di sebuah radio swasta yang biasa menyelenggarakan acara karaoke untuk para pendengarnya, dan sering pula musik yang dipilih untuk berkaraoke ria adalah lagu-lagu Mandarin. Bukan hal yang mengherankan jika kemudian penggemarnya pun orang-orang berdarah Cina. Hal ini lebih terlihat jelas tatkala dia diopname di rumah sakit, sebagian besar orang-orang yang menengoknya berkulit kuning dan bermata sipit. Perbedaan etnis, agama, maupun kultur tidak nampak lagi, tatkala aku ikut ngobrol dengan mereka. Mami yang mudah merasa haru, senantiasa nampak begitu grateful tatkala orang-orang itu datang, berusaha menghibur adikku yang tergolek lemah di tempat tidur. &lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, aku sempat mendengarnya berkata ke salah seorang penengok itu, “Mohon doanya ya, semoga anak saya lekas sembuh.” &lt;br /&gt;Kalimat yang seharusnya terdengar biasa saja menjadi SANGAT LUAR BIASA di telingaku karena aku kenal banget karakter Mami yang mungkin bagi seorang Laksmi, si penulis “Addicted to Religion” di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;www.superkoran.info&lt;/span&gt; termasuk ‘imbecile’. (I hate to say this, but memang begitulah keadaannya.) “My mom is so desperate to see her youngest child lying helplessly due to typhoid that she asked people—whose pray she believes (in her ‘normal’ condition, not desperate) wouldn’t be listened by God because they are not Muslim—to pray for my youngest sister.” Aku berkata pada diri sendiri, takjub. &lt;br /&gt;Masih jelas terekam dalam ingatanku tatkala Mami (tidak hanya Mami, namun juga guru-guru agama waktu aku sekolah) men’doktrin’ku bahwa orang-orang Islam tidak boleh meminta doa orang beragama lain, dan orang-orang Islam tidak boleh mendoakan orang yang beragama lain karena doa itu tidak akan didengar—apalagi dikabulkan oleh Tuhan. Ada satu peristiwa—seingatku—yang selalu dijadikan rujukan oleh umat Islam bahwa tidak diperbolehkan berdoa untuk umat antaragama; waktu Abu Thalib paman Nabi Muhammad SAW meninggal dalam keadaan non Muslim. KONON Nabi sangat terpukul dengan kematian pamannya dalam keadaan non Muslim, sehingga praktis Abu Thalib tidak memiliki tiket untuk masuk surga. Mengingat jasa dan pengorbanan Abu Thalib yang begitu besar untuk kemajuan agama Islam, Nabi pun berdoa agar Allah mengampuni segala dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Di tengah-tengah berdoa itu, Nabi “disentil” oleh Allah dengan mengingatkannya bahwa orang Islam tidak boleh mendoakan orang beragama non Islam. “Ingat, surga hanya untuk umatmu saja, orang-orang yang beragama Islam,” konon demikianlah Allah berfirman kepada Nabi. Mendapatkan peringatan itu, Nabi menangis, memohon ampunan kepada Allah, karena telah kelepasan kontrol. Namun Allah berjanji kepada Nabi bahwa siksaan di alam akhirat nanti kepada Abu Thalib akan sangat ringan, mengingat jasa Abu Thalib yang besar.&lt;br /&gt;“Dongeng” di masa kecil ini jelas merupakan salah satu dongeng yang pantang kuceritakan kepada Angie, kecuali kalau dia bertanya kepadaku mengenai hal ini, karena mendapatkan ‘doktrin’ dari guru agamanya di sekolah.&lt;br /&gt;Aku masih mengharapkan keluargaku, terutama, dan orang-orang Islam, pada umumnya, untuk mengalami perjalanan spiritual yang membuat mereka tak lagi menjadi ‘imbecile’ yang addicted to religion blindly, dengan mematikan akal sehat mereka.&lt;br /&gt;BWT 14.22 301207&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7338959332536908852?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7338959332536908852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/nana-si-rebel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7338959332536908852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7338959332536908852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/nana-si-rebel.html' title='Nana si Rebel'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-2135028282424504280</id><published>2008-01-02T17:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T17:17:29.611+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R3tj543rqHI/AAAAAAAAAmY/HWbWNXaFSqg/s1600-h/cutie...0168.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R3tj543rqHI/AAAAAAAAAmY/HWbWNXaFSqg/s320/cutie...0168.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150820444997920882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang, atau yang (mungkin) lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Tentara (RST) terletak di Jalan Dr. Soetomo, dekat sekali dengan Tugumuda, salah satu landmark kota Semarang. Waktu aku kecil dulu (baca  aku duduk di bangku SD), orang tuaku biasa mengajak anak-anaknya periksa ke dokter mata Dr. Widagdo di RST lewat pintu masuk ‘belakang’ yang terletak di daerah yang disebut Karangasem (aku lupa nama jalannya LOL). Namun sekarang pintu masuk lewat belakang (dulu kupikir itulah jalan masuk utama alias ‘depan’) itu tidak lagi dibuka untuk umum, sehingga semua pasien, penjenguk pasien, dll harus masuk melalui pintu gerbang yang terletak di Jalan Dr. Soetomo.&lt;br /&gt;Di rumah sakit inilah, adikku diopname sejak malam Natal 2007 sampai menjelang malam tahun baru 2008. Dengan alasan yang tidak kuketahui secara pasti, tempatnya yang strategis di tengah kota nampaknya tidak dimaksimalkan oleh pihak pengelola, sehingga misalnya bisa bersaing dengan rumah sakit yang lain, agar mendapatkan prestise yang lebih tinggi. &lt;br /&gt;Ibu dan adikku, yand dipanggil Angie TeLa, memutuskan agar adikku yang paling kecil, yang dipanggil TeLi oleh Angie, untuk ditempatkan di kamar nomor 2 dengan dua alasan. Pertama, takut sendirian jika berada di kamar nomor 1, (ngeri dengan rumah sakit yang tentu “spooky” LOL). Kedua, tentu harganya lebih ekonomis dibandingkan jika dirawat di kamar nomor 1. Di kamar nomor 2, ada tiga buah tempat tidur, untuk tiga pasien. Di atas tempat tidur, ada sebuah selimut, sebuah bantal, dan sarung bantal beserta sprei yang tidak pernah diganti, semenjak adikku masuk sampai meninggalkan rumah sakit. (Dengan tidak sopannya aku sempat memprotes seorang suster mengapa sarung bantal, sprei, dan selimut tidak diganti setiap hari, seperti di hotel. LOL. Suster itu diam saja, tidak menanggapi.)&lt;br /&gt;Masing-masing pasien mendapatkan sebuah paket, tatkala pertama kali masuk, yang berisi sebuah gelas ukuran tanggung, tutup gelas, pasta gigi kecil, sekitar 30 gram, sebuah sikat gigi, sebuah sendok makan, sebuah sabun, dan sebuah waslap—kayaknya gitu deh namanya. LOL. Setiap hari pasien mendapatkan makan tiga kali, namun tanpa air minum sama sekali, sehingga keluarga pasien harus menyediakan sendiri air minum, baik air putih, maupun teh hangat.&lt;br /&gt;Satu hal yang ‘kusukai’ dari RST ini adalah penengok pasien, baik keluarga, maupun pihak lain, bisa datang 24 jam. Aku dan adikku bisa setiap saat datang untuk bergantian jaga. Angie pun bisa datang menjenguk tantenya setelah pulang sekolah, tanpa terbatasi jam besuk. Kita juga tidak diusir untuk segera pulang jika jam besuk usai. &lt;br /&gt;Namun, seperti biasa, selalu ada plus minus dalam satu hal. Karena ‘sangat ramah’ terhadap pengunjung inilah satu peristiwa tidak enak terjadi. Minggu dini hari tatkala adikku terlelap di atas karpet kecil di pojok ruangan, tiba-tiba terbangun karena merasa ada gerakan yang mencurigakan masuk ke dalam kamar dimana adik bungsuku dirawat. Ada seorang laki-laki menatap adikku, seolah-olah ingin memastikan apakah dia sedang tidur atau terjaga. Adikku yang super galak itu, LOL, langsung bertanya,&lt;br /&gt;“Ada apa Mas?”&lt;br /&gt;Laki-laki itu menggumam, dengan nada bertanya, “Pasien Risma?”&lt;br /&gt;“Bukan!” jawab adikku.&lt;br /&gt;“Oh, maaf, salah kamar,” kata orang itu lagi, kemudian keluar.&lt;br /&gt;Adikku yang masih setengah tidur setengah sadar, ditambah mata minusnya, tentu tidak sempat melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, keluarga pasien di kamar sebelah kehilangan dua buah handphone.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Thank God, Senin 31 Desember 2007, dokter Taufik yang bertanggung jawab atas sakitnya adik bungsuku telah membolehkannya pulang. Sekarang dia tinggal dalam proses pemulihan kondisi tubuhnya. Di rumah, kita semua bisa saling gantian mengurusnya, tanpa perlu meninggalkan rumah. Beban psikologis yang selama ini menggayuti kami sekeluarga telah pergi. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;PT56 18.33 010108&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-2135028282424504280?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/2135028282424504280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/rumah-sakit-bhakti-wira-tamtama.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2135028282424504280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/2135028282424504280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2008/01/rumah-sakit-bhakti-wira-tamtama.html' title='Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R3tj543rqHI/AAAAAAAAAmY/HWbWNXaFSqg/s72-c/cutie...0168.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-896661365234064648</id><published>2007-12-22T16:16:00.000+07:00</published><updated>2007-12-22T16:20:11.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayu Utami'/><title type='text'>Ayu Utami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R2zWeI3rqFI/AAAAAAAAAmI/di5B57_IHyQ/s1600-h/ayu1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R2zWeI3rqFI/AAAAAAAAAmI/di5B57_IHyQ/s320/ayu1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146724287443085394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Senin 17 Desember 2007 aku menghadiri acara ‘talk show’ dengan pembicara utama Ayu Utami dengan moderator Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka. ‘Talk show’ diselenggarakan di sebuah event yang diberi tajuk KAMPOENG WEDANGAN bertempat di kampus BLPT Jalan Brotojoyo Pondok Indraprasta Semarang. &lt;br /&gt;Menurut info yang kubaca di Suara Merdeka, acara dimulai pukul 19.00, sedangkan aku baru sampai ke tempat sekitar pukul 19.30. Untuk memberi alasan mengapa aku datang terlambat (coz I always insist I belong to the punctual type ) aku selesai mengajar pukul 19.00. I needed some time untuk berjalan dari classroom ke teachers’ room, mengembalikan attendance list ke tempatnya, minum, dll. Setelah itu, aku harus mengantar Angie pulang ke rumah dulu, karena dia harus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi final semester di sekolah, sehingga dia ga bisa ngikut aku nongkrongin Ayu Utami.  Sesampai di rumah, aku sempatin mengganti “baju kebesaranku” mengajar (rok panjang hitam, blus, plus blazer hitam), dengan celana jeans plus sweater (hawa di Semarang sedang cukup dingin karena hujan yang sedang “rajin” turun membasahi bumi yang memiliki landmark Tugumuda ini). &lt;br /&gt;Meskipun datang terlambat, dengan pedenya aku langsung menempatkan diri duduk di salah satu kursi yang terletak di deretan paling depan. Aku tengarai karena hujan yang mengguyur sejak siang hari, sehingga tidak banyak masyarakat Semarang yang mengunjungi KAMPOENG WEDANGAN; tidak banyak juga orang yang menempati kursi yang disediakan oleh panitia untuk “menikmati” Ayu Utami. LOL. Begitu duduk, Triyanto bertanya kepada hadirin, “Ada pertanyaan?” Waduh ... jelas I had no question karena aku belum tahu sampai mana perbincangan antara Ayu dan Triyanto, dan aku juga lumayan kaget karena aku yakin acara belum lama dimulai (mengingat ‘budaya’ buruk jam karet yang nampaknya telah mendarah daging di orang-orang Jawa; sorry, bukan bermaksud menghakimi nih: AKU YAKIN TIDAK SEMUA ORANG JAWA MEMPRAKTEKKAN BUDAYA—if we can call it BUDAYA—JAM KARET.) kok tahu-tahu Triyanto sudah ‘menyeruduk’ hadirin dengan “Ada pertanyaan?”&lt;br /&gt;Berhubung tidak, atau belum ada satu pun pengunjung yang mengacungkan tangan sebagai tanda ingin mengajukan pertanyaan, Triyanto turun dari panggung, menghampiri seorang pengunjung yang duduk di sebelah kananku, dan bertanya,&lt;br /&gt;“Apa yang membuat anda menghadiri acara ini?”&lt;br /&gt;Berhubung jawabannya terlalu berbelit-belit, atau memang aku yang sudah menjadi makhluk pelupa, LOL, aku pun lupa apa alasan yang dia kemukakan. Aku sudah mempersiapkan diri jika Triyanto menanyaiku pertanyaan yang sama: “I am one fan of Ayu Utami! That for sure made me come to this place.” But ternyata harapanku itu terlalu tinggi. Triyanto langsung balik ke panggung, tanpa melirikku sedetikpun. (kayaknya sih. LOL.)&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat menarik bagiku yang dikemukakan oleh Ayu adalah dia menegasikan teori Roland Barthes tentang “The author is dead” begitu seorang pengarang usai menulis buku, dan buku tersebut dipublikasikan dan disebar ke masyarakat. (You can read one post of mine, I entitled “The death of the author” or similar like that in my blog http://afeministblog.blogspot.com) di post ini, aku pun menuliskan ketidakpedeanku untuk menggunakan teori Barthes ini, karena aku lebih condong ke teori Genetic Structuralism milik Lucien Goldmann, yang melibatkan ketiga elemen penting dalam menelaah suatu karya sastra, world view, the author’s view, plus his/her background, as well as the work itself.)&lt;br /&gt;Berbeda denganku yang tidak mengimani teori Barthes karena aku bukan seorang yang pede, Ayu menjelaskan bahwa dia baru saja kembali dari Prancis, dalam rangka menghadiri launching SAMAN dalam versi Francaise. Sebelum buku SAMAN berbahasa Prancis itu diluncurkan ke masyarakat Prancis, Ayu diminta untuk menjelaskan kepada publik, “What is Saman all about?” yang bermakna Ayu tidak dimatikan oleh masyarakat sastra disana, Ayu tetap dianggap hidup sehingga suaranya perlu didengar untuk menjelaskan apa sih yang dia kemukakan, maupun yang dia kritisi, lewat novel perdananya yang dianugerahi sebagai tonggak bangkitnya Sastrawan Angkatan tahun 2000.&lt;br /&gt;Seorang pengunjung bertanya tentang polemik sastra yang heboh di internet beberapa waktu lalu, antara pihak Forum Lingkar Pena—yang dimotori oleh Taufik Ismail—dengan Komunitas Utan Kayu—tempat dimana SAMAN dulu dilahirkan, meskipun sekarang Ayu tidak lagi terlibat secara aktif di KUK. Aku ingat yang ‘heboh’ di internet, adalah pelaku polemik yang menurutku mengklasifikasikan diri mereka ke dalam dua ‘kubu’ yakni ‘penghujat’ dan ‘pembela’ KUK dengan alasan masing-masing, bersaing siapa yang mampu mengemukakan alasan yang lebih intelektual. Ayu sendiri yang dihujat adem ayem saja. “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu” mungkin Ayu berpikir begitu. &lt;br /&gt;Dan, ternyata setelah bertemu langsung, Ayu pun tetap memilih untuk tidak ‘menceburkan’ diri ke kelompok pembela KUK, ataupun pembela diri sendiri. Dengan kata lain Ayu tetap dengan arif membiarkan para ‘anjing’ itu menggonggong, dan dia tetap berlenggang. &lt;br /&gt;Tatkala mendapatkan kesempatan, aku bertanya, “Bukankah itu berarti mbak Ayu ‘dimatikan’ oleh kelompok penghujat?”&lt;br /&gt;Dari jawaban yang diberikan olehnya, aku mengambil kesimpulan bahwa dia memang memilih sikap, “I don’t give a damn.” Katanya lagi, dari sekian banyak kritik yang ditulis oleh para krittikus sastra, baik dalam maupun luar negeri, satu kritik yang dia soroti, ditulis oleh seorang feminis Australia yang mengatakan, bahwa sebenarnya SAMAN akhirnya kembali lagi ke dikotomi makhluk publik dan domestik, makhluk superior dan inferior, karena SAMAN, sang karakter laki-laki lah yang mendapatkan porsi sebagai ‘pahlawan’, makhluk publik dan superior, sedangkan karakter perempuan yang ada, tetaplah merupakan tokoh pelengkap, seperti biasa, kehadiran makhluk berpayudara dan bervagina ini hanya untuk menjadikan satu suasana, era, or whatever we call it, menjadi lebih colorful.&lt;br /&gt;FYI, tujuan utama panitia KAMPOENG WEDANGAN mengundang Ayu Utami adalah untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat Semarang, bahwa menulis bisa dijadikan salah satu cara berwirausaha, mengingat tema utama KAMPOENG WEDANGAN adalah “Expo Kewirausahaan dan Budaya”.&lt;br /&gt;Berbicara tentang menulis, Ayu Utami membagi profesi menulis ini menjadi dua&lt;br /&gt;1.penulis yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai WRITER, sebagai tataran pemula&lt;br /&gt;2.pengarang yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai AUTHOR, sebagai kelas yang lebih tinggi, lebih sesuai disejajarkan dengan SENIMAN&lt;br /&gt;Untuk menjadi AUTHOR, seseorang seyogyanya memulai dari tataran pemula, sebagai WRITER. Tulislah apa saja, misal tentang “How to be a millionaire”, “How to say NO to your boyfriend when he asks you to have sex” (NOTE: ini ideku, bukan yang disampaikan oleh Ayu. LOL.) Dalam menggapai ke-AUTHOR-annya, Ayu memulainya dengan profesinya sebagai wartawan dan kolumnis. Setelah merasa capable, dia baru memulai menulis proyek idealis (plus ambisius)nya, yakni menulis novel yang dia beri judul SAMAN.&lt;br /&gt;Masih banyak lagi yang dikemukakan oleh Ayu, kusimpan untukku sendiri. LOL. Atau, kalau mood nulis datang (lagi), akan kutulis di post yang lain. &lt;br /&gt;LL TBL 10.52 221207&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-896661365234064648?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/896661365234064648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/ayu-utami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/896661365234064648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/896661365234064648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/ayu-utami.html' title='Ayu Utami'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R2zWeI3rqFI/AAAAAAAAAmI/di5B57_IHyQ/s72-c/ayu1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-7656788875715376121</id><published>2007-12-19T12:36:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T12:38:36.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sexuality'/><title type='text'>Orgasm</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“What is orgasm like?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;More than three years ago, a close friend of mine asked me such a question, after she got married. (FYI, she got married at a quite relatively “late” time, at her mid thirties.) I didn’t have exact words to illustrate what orgasm was like. LOL. I just said, “Well, it is very very wonderful feeling.” Then she said, “Since the first time I had sex with my hubby, I have always got that wonderful feeling.”&lt;br /&gt;“Do you undergo the “rising feeling”, I mean the wonderful feeling rises, it is getting more and more wonderful until eventually you feel like you reach the top.” I tried explaining further.&lt;br /&gt;“No, it is not like that. It is wonderful, yes, but there is no sort-of “journey” to the top.” She said. “It is the same wonderful feeling when we start making love, until we finish.“ &lt;br /&gt;“Well, I am sorry to say that you haven’t got your orgasm, then.” I said. &lt;br /&gt;“Ah, I understand now why I already got bored with it. In fact, it is because I haven’t got orgasm yet.” She commented.&lt;br /&gt;“I suppose so,” was my response.&lt;br /&gt;Several days later, or several weeks later, I don’t remember well, she came to me, “reported”, LOL, “I think eventually I have got my orgasms, so I thought.”&lt;br /&gt;I smiled widely, and interrogated her, “Tell me what it is like, in your own words.”&lt;br /&gt;“I suppose I agree with you that there is something like journey to the top, the wonderful feeling increases little by little until I feel like flying to the open air, very high. I feel like all of the muscles in my body go away from my body.” LOL. &lt;br /&gt;My smile got wider. LOL. Then I commented, “That’s exactly right. I believe you have got your orgasm.”&lt;br /&gt;“It is indeed very wonderful, much more wonderful than just the feeling I got before I underwent to reach the top.” &lt;br /&gt;“Of course yes.” I assured her.&lt;br /&gt;“But, mbak, I could reach orgasms only when my hubby did oral sex to me. It is somewhat difficult for me to get it when we have “conventional” position, he is on top of me, or on the way around, when I am on top of him.” She said further.&lt;br /&gt;“It is not important anymore, I assume. Women can get orgasm not only because of penis, but also using other media, such as tongue, fingers, or any other things, such as vibrator. Similar to that, women also can get orgasm with any other position, as long as their most sensitive part of their bodies get stimulated well.”&lt;br /&gt;“Is it normal?” she inquired, not sure.&lt;br /&gt;“It is ABSOLUTELY normal.” I convinced her.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;I just watched BECAUSE I SAID SO, with Diane Keaton and Mandy Moore. (I just realized that Mandy Moore has played in some movies, she is not only a singer. The first song I really like from her is I WANNA BE WITH YOU; one song I love to sing when I want to be wth someone I love. Her first movie I watched was AMERICAN DREAMZ where she became a singer, not far from her profession. WALK TO REMEMBER was the second movie I watched with her as one leading star, the third was SAVED! And BECAUSE I SAID SO was the fourth movie.) This is a movie about a single mother who has three daughters, and Mandy casts as Milly Wilder, the youngest. Diane Keaton casts as Daphne Wilder, the mother.&lt;br /&gt;One scene that attracted me most is when Daphne and Milly talked about what orgasm was like. Milly told her mother about orgasm, using very different term I used to tell my close friend three years ago, but I couldn’t agree with her more. It is indeed difficult to explain what orgasm is like in verbal language.  &lt;br /&gt;I was wondering why the mother asked the daughter about orgasm. Weren’t they supposed to exchange roles? The mother explained and the daughter listened. Then, Milly asked Daphne, “How about your own experiece Mom? Didn’t you experience that with Dad?”&lt;br /&gt;Daphne said that she seldom did that with her husband, moreover he was always busy working, because he also worked night that made him very tired. The conclusion was: Daphne never got orgasm yet.&lt;br /&gt;The continuation of the story: Daphne dated Joe, Johnny’s father, while Johnny dated Milly. From Joe, eventually Daphne experienced orgasm, and she became sort-of addicted to it.  &lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;What I want to say in this writing is in fact many women don’t get orgasm in their life, including married women (In Indonesia, the hypocritical view is still very strong: ONLY MARRIED COUPLE HAVE RIGHTS TO HAVE SEX. It means only married people have rights to experience orgasm.) What a waste if those married women don’t experience this one wonderful moment in their life. They even think that their role in sex is only to satisfy their sex partners—their husbands. They get that “wonderful feeling”, yes, but not yet “reach the top”, just like what my close friend said to me at the beginning of her marriage. And since they never “reach the top” yet, they think that the pleasure of orgasm is similar to that usual “wonderful feeling” at the beginning of having sex. I suspect then this makes many women reluctant to have sex with their husbands, because of course that usual wonderful feeling easily makes them bored. Things get worse when the couple don’t communicate about it openly.&lt;br /&gt;For women who have undergone “to reach the top”, absolutely, they will enjoy it. Look at Daphne, she easily became addicted to Joe after he made her reach the top.  One more important thing: orgasm can be reached not only via “conventional one on one“ sex. Do you agree? You’d better. LOL.&lt;br /&gt;PT56 15.25 161207&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-7656788875715376121?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/7656788875715376121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/orgasm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7656788875715376121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/7656788875715376121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/orgasm.html' title='Orgasm'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3991802696499898979</id><published>2007-12-04T19:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T20:02:32.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>Kaligawe banjir</title><content type='html'>Hari Senin 3 Desember 2007 seusai mengajar pukul 19.00, tiba-tiba hujan turun dengan deras tatkala aku menuruni tangga, meninggalkan kelas untuk menuju ruang guru. Semenjak aku “commute” Semarang-Demak-Semarang mulai tanggal 20 November 2007, aku selalu merasa “excited” yang lebih cenderung ke “anxious” kalau hujan tiba. What is Kaligawe like? Kawasan Kaligawe, Semarang ke arah Utara, menuju ke Terminal Terboyo, memang terkenal (atawa ‘tercemar’) dua hal: macet dan banjir. Apalagi hujan Senin malam itu deras, bahkan sampai aku meninggalkan kantor pukul 21.00 (tertahan di kantor gara-gara hujan itu), hujan masih turun dengan cukup deras. Aku memang membawa mantel, namun aku eman-eman aja sepatuku bakal basah kuyup. &lt;br /&gt;“Emang kamu cuma punya sepatu satu pasang Na?”&lt;br /&gt;Well, aku punya satu pasang sepatu boots lain yang berukuran 36, ukuran “asli” kakiku yang mengikuti standard kecantikan kaki perempuan China di zaman dahulu LOL. Aku juga masih punya dua pasang sepatu high-heeled lain, yang dengan alasan tidak jelas, aku malas memakainya. LOL. (Khawatir kalau “trade mark” si pemakai busana serba hitam plus sepatu boots hitam diserobot orang di kantor tempat aku bekerja LOL.) Satu-satunya sepatu yang paling suka kupakai ya sepatu boots-ku yang berukuran “tidak asli” yakni ukuran 37, yang sudah lecet di sana sini, terutama gara-gara aku jatuh dari motor, kaki kananku terseret beberapa meter, sekitar dua tahun yang lalu, plus sering kupakai untuk menstarter motor kalau “automatic starter” nya ngadat. Ukuran yang satu nomor lebih besar dari “ukuran asli” kakiku yang mungil ini membuatku leluasa memakai “kaos kaki bola” (LOL) yang rada tebal itu untuk melindungi kakiku. Kalau memakai sepatu boots yang berukuran 36, ga bisa lah aku memakai kaos kaki bola, karena bakal sempit.&lt;br /&gt;Tatkala aku akhirnya meninggalkan kantor, hujan yang sudah agak mereda ternyata membuat sepatuku aman, alias tidak basah kuyup kemasukan air hujan. &lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Selasa 4 Desember aku sudah siap duduk di teras sekitar pukul 05.15, menunggu Pak Har menjemput. Kira-kira nanti kita lewat jalan mana ya untuk menghindari banjir di Kaligawe? FYI, mobil yang biasa dinaiki Pak Har itu saingan mungilnya dengan diriku (plus ukuran kakiku LOL). Kasihan kalau dipaksa melewati banjir di Kaligawe. (Dijamin, Abangku ga bakal muat naik mobil itu LOL, kepalanya bakal kejedot langit-langit mobil, plus kakinya harus menekuk dalam-dalam, yang tentu membuatnya ga bakal bisa melakukan salah satu hobbynya: menjadi pereli antar negara. LOL.)&lt;br /&gt;Pak Har datang sekitar pukul 05.35. Seolah membaca pertanyaan “Mau lewat mana Pak?” yang tertulis di jidatku LOL, beliau bilang, “Kaligawe tentu banjir parah mbak. Nanti kita lewat jalan arteri saja.”&lt;br /&gt;Aku yang cuma jadi penumpang tentu pasrah sajalah. LOL. And you can guess. Selama perjalanan menuju Sayung (daerah setelah Kaligawe), melewati arteri, Nana yang homebody type ini pun tiba-tiba menjadi turis lokal. LOL. Aku terbengong-benong memandang daerah di kotaku yang sangat asing di mataku. Dan ternyata Pak Har diam-diam memandangiku yang nampak begitu antusias melihat ke arah kanan kiri, bertanya kepadanya, “Itu gedung apa Pak ya?” tatkala aku melihat sebuah gedung yang lumayan mencolok bagiku. &lt;br /&gt;Setelah melewati daerah pertigaan Terboyo—Tlogosari—Demak, seperti biasa aku memandangi sungai yang ada di pinggir sebelah kiri, yang airnya hanya sedikit, dan keruh, namun tetap saja dipakai orang-orang di daerah sekitar untuk mencuci, dll. Tiba-tiba Pak Har nyeletuk, “Masih suka memandangi sungai itu toh mbak?” LOL. LOL. &lt;br /&gt;Seperti orang yang ketahuan nyolong mangga, LOL, aku menjawab, “Saya pengen lihat apakah sungai ini bakal penuh berisi air setelah hujan turun.” &lt;br /&gt;FYI, meskipun Demak terletak tidak jauh dari Semarang, Demak ternyata terkenal sebagai daerah yang sulit air. Itu sebab di Demak tidak pernah ada berita kebanjiran. &lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Perjalanan pulang dari Demak, terutama tatkala melewati Kaligawe, dengan antusias aku menjepret pemandangan banjir di depan mataku, untuk menghindari kejenuhan macet. Seseorang yang duduk di sampingku memandangku dengan heran, perhaps he thought, “What the hell is this lady doing? Who the hell is she? Banjir begitu saja kok difoto.” LOL.&lt;br /&gt;Ini dia foto-foto hasil jepretanku, menggunakan digital camera yang ada dalam hape Samsung SGH X640, diambil dari dalam bus. Kalau hasilnya seadanya, ya mohon dimaklumi. :) Aku salut pada mereka yang naik motor, dan nekad melewati kawasan Kaligawe yang sedang banjir, meskipun aku heran juga, ada jalan alternatif—jalan arteri—mengapa mereka tetap memilih jalan itu? Efisiensi waktu? Probably. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPpk5aHXI/AAAAAAAAAl4/tEk6p-c62Jk/s1600-h/cutie...0127.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPpk5aHXI/AAAAAAAAAl4/tEk6p-c62Jk/s320/cutie...0127.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140102125410983282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPZU5aHVI/AAAAAAAAAlo/RI31h9JzKwU/s1600-h/cutie...0125.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPZU5aHVI/AAAAAAAAAlo/RI31h9JzKwU/s320/cutie...0125.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140101846238109010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPTU5aHUI/AAAAAAAAAlg/C2GzhOCsjfw/s1600-h/cutie...0124.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPTU5aHUI/AAAAAAAAAlg/C2GzhOCsjfw/s320/cutie...0124.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140101743158893890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPME5aHTI/AAAAAAAAAlY/ydcaFTZEyzE/s1600-h/cutie...0123.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPME5aHTI/AAAAAAAAAlY/ydcaFTZEyzE/s320/cutie...0123.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140101618604842290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPGE5aHSI/AAAAAAAAAlQ/JcXwnEMeMw0/s1600-h/cutie...0122.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPGE5aHSI/AAAAAAAAAlQ/JcXwnEMeMw0/s320/cutie...0122.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140101515525627170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang di bawah ini banjir di daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPhE5aHWI/AAAAAAAAAlw/L1dSCmo_DQ4/s1600-h/cutie...0126.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPhE5aHWI/AAAAAAAAAlw/L1dSCmo_DQ4/s320/cutie...0126.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140101979382095202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semarang memang penuh air. :( Akankah ada walikota terpilih yang bakal bisa membebaskan Semarang dari “masalah klasik” ini? (Inget lagunya Waljinah “Semarang kaline banjir” ...)&lt;br /&gt;PT56 11.33 041207&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3991802696499898979?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3991802696499898979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/kaligawe-banjir.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3991802696499898979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3991802696499898979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/kaligawe-banjir.html' title='Kaligawe banjir'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VPpk5aHXI/AAAAAAAAAl4/tEk6p-c62Jk/s72-c/cutie...0127.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6435289339006769142</id><published>2007-12-04T19:21:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T19:52:44.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WBL'/><title type='text'>Wisata Bahari Lamongan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VH5k5aG8I/AAAAAAAAAig/pAMHuLJfHNQ/s1600-h/berangkat1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VH5k5aG8I/AAAAAAAAAig/pAMHuLJfHNQ/s320/berangkat1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140093604195867586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu 4 November 2007 aku beserta beberapa rekan kerja plus keluarga berwisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang juga disebut Tanjung Kodok, yang terletak di kota kecil Lamongan, Jawa Timur. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VG_k5aG6I/AAAAAAAAAiQ/qNm-COKSsCc/s1600-h/cutie...0106.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VG_k5aG6I/AAAAAAAAAiQ/qNm-COKSsCc/s320/cutie...0106.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140092607763454882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rombonganku meninggalkan kantor kurang lebih pukul 05.00, waktu di dalam bus Sindoro Satria Mas. Sopir bus memilih jalur utara, melewati Kaligawe yang sedang dipenuhi air banjir pada waktu itu. Aku sempat melihat beberapa mobil yang memutar untuk memilih jalur yang lain, karena tidak bisa memperkirakan seberapa dalam genangan air yang disebabkan hujan tersebut. Rombongan berhenti di Kudus, di sebuah rumah makan untuk memberi kesempatan kepada para penumpang yang ingin mengeluarkan hajat kecilnya. Kali kedua rombongan berhenti di Tuban, dengan maksud yang sama. &lt;br /&gt;Kami sampai di Wisata Bahari Lamongan pukul 11.30. Setelah makan siang berupa nasi kotak di dalam bus, kami memasuki daerah wisata. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VHdU5aG7I/AAAAAAAAAiY/lZNFdokuOns/s1600-h/cutie...0107.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VHdU5aG7I/AAAAAAAAAiY/lZNFdokuOns/s320/cutie...0107.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140093118864563122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;I myself was completely in the dark what kind of place is WBL Hanya satu petunjuk yang diberikan oleh guide, “Semua wahana bisa dinaiki karena panjenengan saya belikan karcis terusan yang memungkinkan panjenengan melakukan itu, kecuali dua tempat: arena permainan go kart, dan banana boat. Panjenengan harus membayar jika ingin naik go kart dan banana boat.” &lt;br /&gt;“Is it something like Dufan in Jakarta Mama?” Angie asked me.&lt;br /&gt;“Perhaps honey.” Jawabku.&lt;br /&gt;Aku dan Angie masuk area WBL terlambat karena Angie menyempatkan diri mengganti celana jeans panjangnya dengan celana jeans selutut. Pesan dari guide yang disampaikan kepada koordinator wisata dari kantor, “Jangan lupa bawa baju ganti.”&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VIXU5aG9I/AAAAAAAAAio/GHPomEVs2w0/s1600-h/WBL1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VIXU5aG9I/AAAAAAAAAio/GHPomEVs2w0/s320/WBL1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140094115296975826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Bangunan pertama yang kumasuki bersama Angie adalah “Rumah Kucing”. Di dalamnya banyak terdapat berbagai macam kucing dari seluruh penjuru dunia. Bagi pecinta kucing, mungkin di sinilah tempat yang paling mengasyikkan, karena bisa melihat berbagai varian kucing yang imut-imut, sekaligus merasa kasihan, karena biasanya kucing yang lebih dikenal sebagai domestic pet, dibiarkan berkeliaran bebas di dalam rumah, di “Rumah Kucing” ini kucing-kucing tersebut “dikerangkeng” di sebuah kotak berukuran kurang lebih 2 x 2 m, seperti binatang-binatang buas di kebun binatang. Anyway, kucing memang satu keturunan dengan singa, harimau, maupun leopard dan panther (World Book 2005), yang bisa dikategorikan binatang buas.&lt;br /&gt;Lihat gambar beberapa kucing-kucing koleksi WBL di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJZU5aHBI/AAAAAAAAAjI/2my020E1AoU/s1600-h/DSC00594.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJZU5aHBI/AAAAAAAAAjI/2my020E1AoU/s320/DSC00594.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140095249168342034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJOk5aHAI/AAAAAAAAAjA/acXcSa1aqdU/s1600-h/DSC00592.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJOk5aHAI/AAAAAAAAAjA/acXcSa1aqdU/s320/DSC00592.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140095064484748290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJDE5aG_I/AAAAAAAAAi4/az8vpE2f5os/s1600-h/DSC00591.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJDE5aG_I/AAAAAAAAAi4/az8vpE2f5os/s320/DSC00591.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140094866916252658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VIv05aG-I/AAAAAAAAAiw/Lczdyln2hyU/s1600-h/DSC00584.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VIv05aG-I/AAAAAAAAAiw/Lczdyln2hyU/s320/DSC00584.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140094536203770850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari “Rumah Kucing”, Angie dan aku melanjutkan perjalanan ke gedung selanjutnya: Bioskop 3 dimensi.&lt;br /&gt;Waktu akan ngantri untuk masuk ke dalam bioskop, Angie komplain panjangnya antrian sehingga aku ikuti keinginannya untuk langsung melanjutkan perjalanan. Untung sorenya, sebelum keluar dari areal WBL, menjelang pukul 4, waktu kita berdua balik melewati bioskop, tidak ada antrian sama sekali, sehingga Angie pun mau masuk ke dalam. Film yang kita tonton adalah perjalanan masuk ke dalam terowongan yang gelap gulita, naik kereta api, penuh dengan pemandangan yang mengerikan. Waktu kita serasa tercebur ke dalam air sungai yang airnya menggelegak, tiba-tiba para penonton disembur air sungguhan entah berasal dari mana. Menurutku pribadi bioskop 3 dimensi di WBL ini lebih memberi kesan “sungguhan” daripada yang ada di Dufan.&lt;br /&gt;Meninggalkan bioskop 3 dimensi, ada “Rumah Sakit Hantu” yang konon di dalamnya diset seperti bentuk rumah sakit yang dipenuhi oleh “hantu-hantu” yang meninggal karena sakit atau mati kecelakaan. Angie menolak masuk, sehingga aku hanya mendengar cerita mereka yang masuk ke dalamnya. FYI, Angie lumayan suka nonton film horror, namun ogah kuajak masuk ke areal permainan yang berhubungan dengan ‘setan’ dan ‘hantu’. &lt;br /&gt;Setelah Rumah Sakit Hantu, ada areal permainan ketangkasan. Angie pun tidak mau mencoba seberapa tangkas dia bermain lempar melempar, atau tembak menembak. So, kita jalan terus aja. &lt;br /&gt;Gedung di sebelahnya diberi judul “Istana Bawah Laut”. Setelah aku dan Angie masuk ke dalamnya, ah .. ternyata tempat bermain anak-anak kecil, seperti kereta api mainan, mobil-mobilan, robot yang bisa bergerak naik turun, dll. Hanya saja gedung itu diset seperti berada di bawah laut. Hiasan di dinding dan di langit-langit gedung yang menunjukkan kita seperti berada di bawah laut.&lt;br /&gt;Dari sana aku dan Angie sempat memasuki areal go kart. Satu orang dikenai biaya Rp. 18.000,00 untuk mencoba naik go kart selama kurang lebih 5 menit, merasakan laksana racer.  Angie and I didn’t try riding it.&lt;br /&gt;Gedung berikutnya adalah “Taman Bajak Laut”. Angie yang semula menolak melulu kuajak ini itu, akhirnya kupaksa masuk ke dalam taman bajak laut. (Informasi tambahan: hari Senin 5 November, Angie harus menghadapi ujian harian terpadu di sekolah. Mungkin itu sebab dia kurang begitu menikmati suasana. Blame her mother yang memaksanya untuk ikut berdarmawisata. LOL.) “Taman Bajak Laut” diset seperti sebuah kapal yang karam setelah dibajak oleh para perompak di tengah laut. Pengunjung dibatasi hanya empat orang untuk sekali perjalanan masuk ke dalam. Di dalam suasana agak temaram, dengan pemandangan khas kapal yang karam, ada bajak laut yang menakut-nakuti di sana sini. Bersamaku dan Angie, ada seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 30 tahun, bersama keponakannya. Mereka berdua ada di depanku. Angie yang merasa agak takut, memeluk lengan kananku dengan erat, dan aku memegangi kaos yang dipakai oleh anak kecil yang memeluk omnya dari belakang. LOL. Begitu “selamat” keluar dari “serangan para bajak laut” di dalam “kapal karam” itu, Angie pun berteriak lega. LOL. (felt like ikut pengalaman dalam Pirates of the Caribbean, kata Angie. LOL.)&lt;br /&gt;Dari sana, Angie yang moodnya sudah bagus, mau ikut aku masuk ke “Planet Kaca” yang di dalamnya tak jauh beda dengan “rumah kaca”,  or whatever it is called di Dufan. &lt;br /&gt;Keluar dari “Planet Kaca”, aku melihat, wahana “Tagada” yang mirip seperti “kora-kora” di Dufan. Aku menolak diajak Angie naik, karena ogah pusing, plus perut mual setelah itu. LOL. Ada “planet insectarium” yang isinya (mungkin) berbagai macam insects, yang kurang menarik bagi Angie sehingga kita berdua pun tidak masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;Perjalanan selanjutnya kita masuk ke “Taman Berburu” yang antrinya jauh lebih lama dibanding waktu ‘berburu’nya sendiri. LOL. Aku dan Angie menaiki semacam mobil kecil terbuka, yang dilengkapi oleh “senapan” untuk menembak binatang buas yang “berkeliaran” di dalam taman tersebut.&lt;br /&gt;Keluar dari “Taman Berburu”, aku dan Angie memasuki “playground remaja” yang di dalamnya ada banyak pasangan remaja yang duduk berdua-dua. Playground ini terletak tepat di pinggir laut. Lihat foto yang kujepret di daerah itu di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VKIk5aHDI/AAAAAAAAAjY/zbBAhPsL9vY/s1600-h/coast.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VKIk5aHDI/AAAAAAAAAjY/zbBAhPsL9vY/s320/coast.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140096060917161010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJ1U5aHCI/AAAAAAAAAjQ/XzNLLvVPMs8/s1600-h/DSC00597.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VJ1U5aHCI/AAAAAAAAAjQ/XzNLLvVPMs8/s320/DSC00597.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140095730204679202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Angie naik “jet coaster” yang terletak di tebing yang lumayan curam. Jet coasternya sendiri tidak begitu “mendebarkan hati” dibandingkan yang ada di Dufan, yang dulu “memaksaku” untuk berteriak ketakutan kalau sampai jatuh. LOL. Sorry, lupa njepret jet coaster plus tebingnya yang curam. LOL. &lt;br /&gt;Berikutnya aku dan Angie naik “space shuttle” yang membuatku seperti sedang naik ayunan. Waktu kecil aku suka sekali naik ayunan seperti rasanya aku kepengen punya ayunan pribadi di halaman rumah. LOL. (Belum terkabulkan sampai sekarang. LOL.) Dari ‘space shuttle”, aku ajak Angie makan bakso, karena waktu melihat rumah makan tak jauh dari situ, rasanya aku nyidam makan bakso. LOL. FYI, I am NOT a bakso freak. Waktu makan sambil ngobrol inilah, aku baru kepikiran, “Sayang, tolong space shuttlenya ntar difoto yah?” begitu aku bilang ke Angie. Ini dia foto “space shuttle”nya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VKbU5aHEI/AAAAAAAAAjg/FmImAopUeDA/s1600-h/DSC00603.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VKbU5aHEI/AAAAAAAAAjg/FmImAopUeDA/s320/DSC00603.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140096383039708226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku memaksa Angie ikut ngantri di areal “bumper car” alias bom bom car. “Di Semarang juga banyak Ma kalo cuma kayak gini,” Angie bersungut-sungut.&lt;br /&gt;“Masalahnya adalah, kita yang ga pernah nyempatin diri ke mall untuk mainan bom bom car. Nah, sekalian aja sekarang, mumpung sudah ada di depan mata,” kataku merayu Angie. LOL. Bedanya adalah, kalau bom bom car di Semarang, mobil mainannya lumayan besar sehingga bisa dinaiki dua orang. Di WBL, satu mobil hanya cukup untuk satu orang. &lt;br /&gt;Areal terakhir yang kumasuki bersama Angie adalah “permainan air” berupa taman biasa aja. Aku semula sempat terheran-heran mengapa taman yang biasa saja itu disebut “permainan air”, mana sebelum masuk ada peringatan, “Bagi mereka yang menderita sakit jantung dilarang masuk. Tempat ini merupakan tempat yang memiliki teknologi sensor tinggi.” What the hell? Ternyata tatkala enak-enak berjalan, tiba-tiba dari satu tempat yang tidak jelas, meluncurlah “serangan air” yang tidak mungkin bisa dihindari. Demikianlah kejadiannya sepanjang berjalan di taman itu. Walhasil keluar dari areal “permainan air” aku dan Angie sama-sama basah kuyup. Keluar dari taman itu, kita disambut dengan tulisan seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VK-05aHHI/AAAAAAAAAj4/9dr8NOkVv4M/s1600-h/DSC00608.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VK-05aHHI/AAAAAAAAAj4/9dr8NOkVv4M/s320/DSC00608.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140096992925064306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VK3k5aHGI/AAAAAAAAAjw/DlTlWw-BI6c/s1600-h/DSC00609.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VK3k5aHGI/AAAAAAAAAjw/DlTlWw-BI6c/s320/DSC00609.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140096868371012706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VKvU5aHFI/AAAAAAAAAjo/FzLgblIFzHw/s1600-h/DSC00610.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VKvU5aHFI/AAAAAAAAAjo/FzLgblIFzHw/s320/DSC00610.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140096726637091922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya aku dan Angie naik kano. Wah ... ternyata asik naik kano. Jika ada kano di pantai Marina Semarang, tentu aku bakal rajin main ke Marina. Sayangnya ga ada ... Aku dan Angie tidak naik banana boat (speed boat). &lt;br /&gt;Berikutnya kita cuma ngobrol sambil berfoto-foto di pinggir pantai. Hampir sepanjang perjalanan di dalam WBL, aku dan Angie tidak berpapasan dengan anggota rombongan lain sehingga laksana kita hanya piknik berdua. &lt;br /&gt;Berikut foto-foto yang sempat dijepret menggunakan hape Angie SonEr K510i yang kayaknya hasilnya sudah tidak sebagus beberapa bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNeU5aHRI/AAAAAAAAAlI/-WzgAGtCkWk/s1600-h/DSC00639.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNeU5aHRI/AAAAAAAAAlI/-WzgAGtCkWk/s320/DSC00639.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140099733114199314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNY05aHQI/AAAAAAAAAlA/ILKlbeW--NI/s1600-h/DSC00638.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNY05aHQI/AAAAAAAAAlA/ILKlbeW--NI/s320/DSC00638.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140099638624918786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNR05aHPI/AAAAAAAAAk4/OfVk-fPeRuA/s1600-h/DSC00637.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNR05aHPI/AAAAAAAAAk4/OfVk-fPeRuA/s320/DSC00637.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140099518365834482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNFk5aHOI/AAAAAAAAAkw/hGgsaGNh62A/s1600-h/DSC00636.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VNFk5aHOI/AAAAAAAAAkw/hGgsaGNh62A/s320/DSC00636.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140099307912436962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VM505aHNI/AAAAAAAAAko/nSqLrukljwY/s1600-h/DSC00635.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VM505aHNI/AAAAAAAAAko/nSqLrukljwY/s320/DSC00635.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140099106048974034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VMs05aHMI/AAAAAAAAAkg/3ky6sUINAl4/s1600-h/DSC00634.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VMs05aHMI/AAAAAAAAAkg/3ky6sUINAl4/s320/DSC00634.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140098882710674626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VMf05aHLI/AAAAAAAAAkY/9g5IWw66BHA/s1600-h/DSC00633.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VMf05aHLI/AAAAAAAAAkY/9g5IWw66BHA/s320/DSC00633.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140098659372375218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VMA05aHKI/AAAAAAAAAkQ/ieQmidKyGAU/s1600-h/DSC00632.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VMA05aHKI/AAAAAAAAAkQ/ieQmidKyGAU/s320/DSC00632.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140098126796430498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VLyk5aHJI/AAAAAAAAAkI/gkKMf0x6p7c/s1600-h/DSC00613.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VLyk5aHJI/AAAAAAAAAkI/gkKMf0x6p7c/s320/DSC00613.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140097881983294610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VLi05aHII/AAAAAAAAAkA/KThIoMr5_kQ/s1600-h/DSC00612.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VLi05aHII/AAAAAAAAAkA/KThIoMr5_kQ/s320/DSC00612.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140097611400354946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku dan rombongan meninggalkan areal WBL sekitar pukul 18.30 waktu di dalam bus Sindoro. LOL. Mampir sebentar untuk makan malam di Tuban. Kita sampai di kantor Semarang, sekitar pukul 00.30.&lt;br /&gt;PT56 07.42 021207&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6435289339006769142?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6435289339006769142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/wisata-bahari-lamongan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6435289339006769142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6435289339006769142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/12/wisata-bahari-lamongan.html' title='Wisata Bahari Lamongan'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/R1VH5k5aG8I/AAAAAAAAAig/pAMHuLJfHNQ/s72-c/berangkat1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-985129568174309024</id><published>2007-11-17T17:43:00.000+07:00</published><updated>2007-11-17T17:56:00.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daily'/><title type='text'>Ngurus SIM</title><content type='html'>Selasa 6 November 2007 aku ninggalin rumah sekitar pukul 08.30 menuju kantor SATLANTAS Semarang yang terletak di Jalan Letjen Soeprapto kawasan Kota Lama yang terkenal (atau tercemar?) banjir tiap musim hujan datang. &lt;br /&gt;“Ngapain ke SATLANTAS Na?”&lt;br /&gt;Ngurus SIM.&lt;br /&gt;“Emang masa berlaku SIM-mu habis? Ini kan bulan November, sedangkan ulang tahunmu bulan Agustus. Harusnya kalau habis ya bulan Agustus kemarin diurus?”&lt;br /&gt;Well, ceritanya begini. Aku kecopetan dompet satu hari bulan September 2002 (LIMA TAHUN LALU!!!) tatkala aku turun dari bus PATAS NUSANTARA di terminal Jombor. Selain sejumlah uang, yang ada di dalamnya SIM, KTP, dan kartu anggota JAMSOSTEK. Yang lain, aku sudah lupa. Maklum five years has gone.  &lt;br /&gt;Karena kesibukanku riwa riwi (atau wira wiri yah?) Semarang Jogja Semarang sampai aku lulus tahun 2005, aku males banget ngurus SIM baru lagi. Sedangkan KTP kan gampang, tinggal memberi sejumlah uang kepada karyawan Kelurahan, aku bisa mendapatkan KTP baru.&lt;br /&gt;“Aku ga kuliah di luar kota aja males mbak kalo ngurus SIM, karena birokrasi yang complicated,” kata seorang teman, memberiku dukungan. LOL. &lt;br /&gt;Tahun 2005 pertengahan aku sudah sering berada di Semarang sebenarnya, dan sibuk bekerja lagi, dan lumayan sering “mobile” menaiki sepeda motor, tapi dasar aku LELET, ngurus SIM pun males banget. Kebetulan juga aku bukan tipe orang yang suka kelayapan. Seperti yang pernah kutulis di post sebelum ini, kegiatanku hanya ngantar Angie sekolah, ke kantor, ke PC fitness center dan ke warnet yang kebetulan tempatnya berdekatan satu sama lain. Kadang ya was was juga ketika aku melakukan ‘perjalanan’ yang tidak biasa, misal, mengunjungi Julie yang tinggal di daerah Citarum ataupun Yulia yang tinggal di daerah Klipang (jauuuhhhhh banget dari tempat tinggalku!!!) ketika kebetulan mereka berdua pulang ke Semarang. But, semenjak pertengahan 2005 itu, aku “cuma” sekali “ketangkap” patroli polisi ketika satu hari Minggu aku lewat Kampung Kali (Jalan Mayjen Sutoyo) sekitar pukul 14.00, setelah membantu AFS Chapter Semarang untuk mengadakan seleksi di SMP N 3 yang terletak di kawasan tersebut. Sekitar bulan Juni/Juli 2007 yang lalu. &lt;br /&gt;Kembali ke hari Selasa 6 November 2007. setelah muter-muter mencari jalan yang tidak banjir, akhirnya aku mengalah, harus melewati banjir. Aku tidak tahu nama jalannya, namun berlokasi setelah jalan Merak (yang direncanakan sebagai lokasi CITY WALK), belok kanan. Ini dia foto jalan yang dipenuhi dengan air banjir sebelum kulewati dengan nekad. :)&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/Rz7G_Uj7bzI/AAAAAAAAAiA/saGCBdeECCs/s1600-h/banjir.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/Rz7G_Uj7bzI/AAAAAAAAAiA/saGCBdeECCs/s320/banjir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133759416402407218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke Jalan Letjen Soeprapto dari arah Timur (memang hanya satu arah), banjir masih menggenangi sebagian jalan itu. Untungnya di depan SATLANTAS, air sudah surut. Waktu memarkir motor, seseorang memakai seragam biru tua (blue black) yang berkeliaran di pelataran parkir menyapaku, “Mau ngurus apa mbak?”&lt;br /&gt;“SIM Pak. SIM saya hilang.” Jawabku.&lt;br /&gt;“Mau saya bantu?” tawarnya.&lt;br /&gt;Aku diam saja. Aku ingin mencoba mengurus sendiri.&lt;br /&gt;Loket pertama yang kudatangi adalah loket INFORMASI. Seorang pegawai menanyaiku, “Ada apa mbak?”&lt;br /&gt;“Mau ngurus SIM Pak. SIM saya hilang.”&lt;br /&gt;“KTP dan surat kehilangan dari Poltabes,” katanya.&lt;br /&gt;Aku langsung menyerahkan kedua hal yang diminta itu kepadanya.&lt;br /&gt;“Tunggu ya mbak? Silakan duduk dulu.” Katanya lagi.&lt;br /&gt;Waktu duduk-duduk menunggu (di halaman, tidak di dalam sebuah gedung), aku melihat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO. “Just wait and see what will happen today,” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Lihat gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/Rz7IBUj7b0I/AAAAAAAAAiI/o4Rs1hqu0Q4/s1600-h/SIM.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/Rz7IBUj7b0I/AAAAAAAAAiI/o4Rs1hqu0Q4/s320/SIM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133760550273773378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 15 menit kemudian, aku dengar namaku disebut, lengkap dengan nama fam PODUNGGE. (orang itu tidak salah membacanya! :)) aku mendekati loket informasi itu lagi.&lt;br /&gt;“Ngurus SIMnya terlambat ya mbak?” tanya orang yang sama.&lt;br /&gt;“Terlambat?” tanyaku balik.&lt;br /&gt;“SIM mbak berlaku sampai tahun 2004. berarti mbak terlambat 3 tahun mengurusnya  Harus diuji ulang lagi.” Katanya.&lt;br /&gt;W A D U H...   &lt;br /&gt;“Emang hilangnya kapan?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Tahun 2002 Pak, dan saya lupa masa berlaku SIM saya itu sampai tahun berapa. Tapi memang baru kemarin saya mengurus surat hilangnya di Poltabes.”&lt;br /&gt;“Berarti mbak harus diuji ulang. Seperti mengajukan SIM baru lagi.” Katanya.&lt;br /&gt;Uji ulang? Aku ingat di tahun 1984 dulu waktu my dear late Dad menguruskan SIM buatku, setelah beliau membelikanku sebuah sepeda motor baru, hadiah diterima di SMA N 3 Semarang, sekolah negeri terfavorit, beliau mengantarku ke SATLANTAS, menungguiku yang sedang ujian teori di sebuah ruangan. Di luar hujan, dan beliau (dengan seorang teman yang “menjembatani” antara my dear Dad dengan pihak kepolisian) harus berdiri di “tritisan” (what is it called in Bahasa Indonesia? LOL) agar tidak terkena tetesan air hujan. &lt;br /&gt;Setengah bengong aku menerima secarik kertas yang diulurkan oleh si Bapak di loket “Informasi” itu. Dia mengatakan, “Sepuluh ribu.”&lt;br /&gt;Meskipun aku tidak jelas uang itu untuk apa, karena tidak ada kuitansi yang jelas, aku berikan juga uang sepuluh ribu kepadanya. Di sebuah lembaran kertas yang dia ulurkan, tertulis dataku sebagai pemilik SIM C, yang dikeluarkan pada tahun 1999. Aku berpikir apakah uang sepuluh ribu rupiah itu untuk membayar jasanya mencarikan dataku di komputer? Padahal dengan sistem komputeriasi, mencari data merupakan suatu hal yang sangat mudah, tinggal satu KLIK, keluarlah data yang kita butuhkan. (Seperti seseorang yang mencari dataku di internet, tinggal ketik NANA PODUNGGE di search engine, kemudian KLIK, voila ... akan keluarlah segala hal yang berhubungan dengan NANA PODUNGGE. Apa susahnya?”) Kemudian dia tinggal ngeprint. Apa sulitnya?&lt;br /&gt;But ... yah ... orang bilang SATLANTAS merupakan gudang “uang-uang yang berpindah tangan tanpa keterangan yang jelas” so ... ya mohon dimaklumi. &lt;br /&gt;Dari loket informasi, aku ke loket pembayaran, yang ternyata aku diminta untuk membayar Rp 20.000,00 untuk cek kesehatan. Ada kuitansi yang jelas untuk ini.&lt;br /&gt;Dari situ, aku ke Poliklinik untuk cek kesehatan. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Poliklinik? Tekanan darahku dicek, kemudian juga mata, untuk mengecek apakah aku buta warna. Kemudian sedikit wawancara, apakah aku memakai kacamata, kalau iya apakah minus atau plus. That’s all. Kemudian aku diminta ke ruang I yang terletak di sebelah ruang II. LOL. &lt;br /&gt;Sesampai di sana, kusodorkan berkas-berkas yang kubawa (surat kehilangan dari Poltabes, KTP, satu lembar data yang kudapatkan dari loket informasi, dan surat keterangan kesehatan dari poliklinik) kepada seorang polwan yang duduk di balik counter. Setelah sekilas melihat data yang menunjukkan aku terlambat mengurus SIM, polwan itu mengatakan, “Ini harus diuji ulang mbak.”&lt;br /&gt;“Iya. Saya harus kemana?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Ke ruang ujian teori. Yang menguruskan siapa?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Saya urus sendiri,” jawabku pede. Sembari teringat tulisan HINDARI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO, mengapa polwan itu bertanya, “Yang menguruskan siapa?” &lt;br /&gt;Aku lupa memperhatikan rona wajah sang polwan mendengar jawabanku tadi. Kemudian dia menyerahkan selembar formulir yang harus kuisi, formulir permintaan SIM baru (satu halaman bolak balik), dan memintaku membayar seribu rupiah. Sebagai ganti fotocopy formulir? LOL. Kok mahal amat? LOL. &lt;br /&gt;Setelah itu aku menuju ke ruang ujian teori. Well, meskipun fisik gedung telah mengalami perbaikan di sana sini, letak ruang ujian teori masih tetap di lokasi yang sama dengan waktu aku mengajukan SIM pertama kali tahun 1984. Aku masuk ke sebuah ruangan yang ada tulisan “Ujian teori”. Aku serahkan semua berkas yang kubawa (setelah aku mengisi formulir pendaftaran SIM) kepada seseorang yang duduk di balik sebuah meja. &lt;br /&gt;“Yang ngurus siapa mbak?” tanyanya.&lt;br /&gt;Nah lo! LAGI!!! &lt;br /&gt;“Saya urus sendiri Pak, “ jawabku.&lt;br /&gt;“Mau ikut ujian teori?”tanyanya.&lt;br /&gt;“Lah, bukannya wajib?” tanyaku sendiri di dalam hati. Untuk menjawab pertanyaan orang itu, aku hanya menganggukkan kepala.&lt;br /&gt;“Kalau tidak lulus, mbak harus ngulang lagi 14 hari sesudahnya.”&lt;br /&gt;Weleh, repot amat? Komplainku dalam hati (lagi).&lt;br /&gt;“Ya!” jawabku, sambil mengira-ira, soal-soalnya seperti apa ya? Traffic signs? Aku ga hafal semua dong ya.  but aku penasaran, pengen lihat soal-soalnya seperti apa.&lt;br /&gt;Kemudian orang itu mengantarku ke ruang sebelahnya, yang kutengarai sebagai tempat dilakukannya ujian teori (aku salah masuk berarti tadi!!!) Tidak banyak orang yang duduk di ruangan ber-AC itu. Sekitar lima atau enam orang. Sementara itu aku melihat beberapa orang berseliweran keluar masuk. Di antara orang-orang itu, aku sempat mendengar seseorang mengatakan, “Habis ini kamu bisa langsung ke tempat pas foto. Gampang kan? Ga perlu repot-repot.”&lt;br /&gt;Aku ingat Mita, salah satu sobat Angie, yang ayahnya polisi. I should have asked his help? But aku pun penasaran untuk mengikuti “semua prosedur” yang harus kutempuh, ujian teori, ujian praktek, dll. Tahun 1984 dulu, untuk ujian praktek aku langsung GAGAL (LOL) karena baru belajar naik motor waktu itu. But karena ada yang menguruskan (a workmate of my dear Dad), ya ujian teori dan praktek itu hanya untuk “syarat” saja. Sekarang kan aku sudah jauh lebih lihai naik motor dibanding 23 tahun lalu itu? Masak aku ga lulus ujian praktek?&lt;br /&gt;But ada satu pemikiran juga jangan-jangan sistem telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada orang yang memilih ikut ujian resmi (yang berarti tidak ‘nembak’) yang lulus, sehingga semua orang akhirnya (terpaksa) mengikuti aturan main yang di’baku’kan?&lt;br /&gt;Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, tanpa jelas apa yang kutunggu, seseorang dengan wajah yang lumayan cute (boleh ngelaba kan? Wakakakaka ...) memasuki ruangan, dan memanggil namaku.&lt;br /&gt;“N Podungge?”&lt;br /&gt;Aku acungkan tanganku. Dia memberi tanda agar aku mendekatinya ke sebuah meja panjang yang terletak di dekat sebuah tembok.&lt;br /&gt;Bla bla bla ...&lt;br /&gt;Aku setuju dengan pertimbangan:&lt;br /&gt;Pertama, pemikiran (atau kekhawatiran) yang kutulis di atas.&lt;br /&gt;Kedua, efisiensi waktu, agar aku bisa segera melakukan aktifitasku yang lain, misal nongkrong di depan desktop di rumah, nge-game maupun nulis buat blog, preparing material for teaching, dll. &lt;br /&gt;Aku serahkan sejumlah uang yang tiga kali lipat “harga” yang ditulis besar-besar di loket pembayaran untuk mengurus SIM baru.&lt;br /&gt;Setelah itu, the cute guy memintaku menunggu, sementara dia melakukan ‘prosedur’ yang aku yakin telah ‘dilegalkan’. &lt;br /&gt;Aku harus menunggu lagi. Kukeluarkan Jurnal Perempuan nomor 50 dengan topik PENGARUSUTAMAAN GENDER, dan mulai membaca. Aku sempat membuka percakapan dengan seorang perempuan yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk &lt;br /&gt;“Mengurus SIM Bu?”&lt;br /&gt;Dia menjawab menggunakan boso Jowo Kromo yang tidak begitu susah bagiku untuk memahaminya, namun sulit untuk meresponsnya karena keterbatasan kosa kata yang kumiliki.  Dia mengurus SIM untuk adiknya. Dia bahkan harus mengeluarkan uang yang lebih besar daripada aku. namun dia nampak tidak keberatan sama sekali. “Daripada ngurus sendiri mbak, bingung, ga tahu kemana ngurus ini itu. Biar sajalah diurus orang, kebetulan tetangga.” Katanya.&lt;br /&gt;Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, the cute guy appeared, memanggilku dan aku kembali mendekatinya, dan kita berbicara di tempat yang sama, ada meja panjang yang membatasi kita berdua. Dia melihat JP yang ada di genggamanku dan bertanya, &lt;br /&gt;“Buku apa mbak?”&lt;br /&gt;Aku sodorkan buku itu.&lt;br /&gt;“Mbak aktivis ya?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Engga. Eh, belum. Saya cuma suka menulis,” jawabku.&lt;br /&gt;Dan obrolan kita ternyata menjadi lumayan panjang, terutama tentang para perempuan yang tidak sadar haknya (di satu daerah yang dia sebut, terjadi kawin cerai dengan mudahnya, dan sang mantan suami tidak mempedulikan kesejahteraan anak-anak yang dilahirkan. Para perempuan di sana males mengurus itu, karena tidak tahu bagaimana mengurusnya, siapa yang akan membela mereka, karena mereka tidak punya uang, membuat anak-anak ditelantarkan), poligami, dll. &lt;br /&gt;Seusai ngobrol, the cute guy menunjukiku ruangan tempat pas foto yang terletak tidak jauh dari loket informasi. After saying “thanks” kepadanya, aku ke ruangan pas foto.&lt;br /&gt;Lima belas menit kemudian SIM ku jadi. Jauh lebih cepat dibanding 8 tahun yang lalu karena aku harus balik lagi ke SATLANTAS hanya untuk pas foto, karena tidak bisa dilakukan di hari sebelumnya. It took around two days to get a driving license at that time, meskipun hanya mengurus perpanjangan.&lt;br /&gt;Sistem komputerisasi memang telah menyingkat banyak waktu yang tak perlu. Kapankah sistem yang “legal” benar-benar dijalankan?&lt;br /&gt;“This is INDONESIA, Nana!!! Face the reality!!!”&lt;br /&gt;PT56 12.35 071107&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-985129568174309024?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/985129568174309024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/11/ngurus-sim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/985129568174309024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/985129568174309024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/11/ngurus-sim.html' title='Ngurus SIM'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/Rz7G_Uj7bzI/AAAAAAAAAiA/saGCBdeECCs/s72-c/banjir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5649317115634457167</id><published>2007-11-03T18:39:00.000+07:00</published><updated>2007-11-03T19:11:07.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='religion'/><title type='text'>Al-Qiyadah</title><content type='html'>I have recently been wondering what America would be like now if it had not been ‘colonized’ (instead of ‘rediscovered’) by Columbus at the end of the fifteenth century; if the welfare of people in England had been good after that, if Puritans—and some other so-called ‘deviant’ religious sects—had been welcome well by the country so that they did not need to escape from their homeland.&lt;br /&gt;Todd and Curti in their book “Rise of the American Nation” (1972: 24-25) mentioned five reasons for many English people—as well as other Europeans” to migrate to the New World:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;Conflict over religion&lt;br /&gt;    Search for religion freedom&lt;br /&gt;    Search for political freedom&lt;br /&gt;    Widespread unemployment&lt;br /&gt;    Economic ferment&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first and second reasons can be categorized into one similar problem, and so can the fourth and fifth reasons; while the third reason shows the hostility of the citizens toward the government. King James I (1603-1625) and King Charles (1625-1640) ruled without Parliament because they believed in “the divine right of kings”. (1972:25)&lt;br /&gt;The recent condition in Indonesia reminds me of the not conducive situation in England during the sixteenth and seventeenth century. The somewhat chaotic situation in adhering religion in Indonesia lately—due to the most contemporary so-called deviant Al Qiyadah Al Islamiyah and some other sects such as Ahmadiyah before—in fact is not far cry from the ugly condition in England several centuries ago. This is also accompanied by the rising poverty line due to widespread unemployment and the soaring prices of anything. The difference is it (still) happens in Indonesia in this “modern” time while “modern countries” are supposed to support tolerance and freedom to choose which religion to adhere. It shows that Indonesia fails to fulfill one of the tenets to be a modern country.&lt;br /&gt;Lately, some newspapers (I read) have headlined Al Qiyadah—that is categorized deviant sect unfairly by the government. The way the newspapers write the news and even in the editorial—the dictions, the tone, etc—shows that they also take side to the government and Al Qiyadah becomes the culprit. That means the government is strongly supported by the media (forgive my limited reading because I don’t read a lot of newspapers published in Indonesia) to dictate the majority of Indonesian citizens’ attitude.&lt;br /&gt;Coincidently not long ago one mailing list I join—RumahKitaBersama—talked about adhering a religion and practicing its teachings blindly—one of its longest thread if I am not mistaken. One of its discussion is about the arrogance of Muslims’ claim that Islam is the most perfect religion, the last one that complete its two ‘older siblings’—Jewish and Christian. I threw a question, “When Christian was believed by its adherents to complete Jewish, this upset the Jewish. When Islam is believed by its adherents to perfect Christian (and Jewish)’ teachings, this offended both religions. Will one day a new religion emerges, and it is said to complete the previous three Abrahamic faiths, will Muslim get angry?” The answer was: “the new religion perhaps will not have time to grow since it will easily and quickly be labeled ‘deviant’ and killed afterwards.”&lt;br /&gt;And there it was: out of the blue Al Qiyadah emerged and its prophet Abussalam alias Ahmad Moshadded became a new celebrity.&lt;br /&gt;When Professor Kenneth Hall—my guest lecturer when I was studying at American Studies Gadjah Mada University—said that the social life of Indonesia was left behind America around 50 years, can we say that Indonesia is left behind England several centuries in the not conducive situation in adhering religions?&lt;br /&gt;PT56 11.11 021107&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5649317115634457167?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5649317115634457167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/11/al-qiyadah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5649317115634457167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5649317115634457167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/11/al-qiyadah.html' title='Al-Qiyadah'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-5996712646770330235</id><published>2007-10-31T19:30:00.000+07:00</published><updated>2007-11-01T13:16:28.566+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Polemik Sastra</title><content type='html'>My blog visitors,&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu jagat permilisan dan blogging di Indonesia sempat riuh rendah (well, kayaknya sampai sekarang masih deh, only I don’t really follow the hubbub of it) tentang dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Dari beberapa messages yang masuk ke milis RumahKitaBesama kudapati semua bermula dari tuduhan Taufik Ismail terhadap Komunitas Utan Kayu—disingkat dengan KUK (Ayu Utami was once an active member of this community. The recent news I read several weeks ago stated that she no longer actively involved herself there) sebagai pangkal sastra yang beraliran Gerakan Syahwat Merdeka, yang bisa disingkat GSM, yang mengacu ke Goenawan Soesatyo Mohammad, salah satu pendiri majalah TEMPO, yang pernah digosipkan menuliskan beberapa bagian novel SAMAN, yang merupakan novel karya pertama Ayu Utami yang memenangkan sayembara penulisan novel tahun 1998.&lt;br /&gt;You can guess, di mata seorang Taufik Ismail, karya Ayu Utami—yang merupakan salah satu anggota KUK—tentu dimasukkan kedalam kategori sastra sampah. &lt;br /&gt;Aku menganggap diri sebagai seseorang yang berada di luar barisan sastrawan maupun kritikus sastra Indonesia, meskipun dulu aku kuliah di jurusan Sastra Inggris, dan kemudian kulanjutkan di program American Studies dan mengambil jurusan American Literature and Culture. Selain itu aku juga mengajar beberapa kelas sastra di tempat kerja. Aku hanya merupakan salah satu penikmat karya sastra Indonesia, walaupun jumlah karya yang kubaca masihlah sangat terbatas. I can mention some “qualified” works I have read, such as “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, salah satu karyanya yang sangat terkenal berhubungan dengan ‘takdir’ seorang perempuan; “Para Priyayi” karya Umar Kayam; “Burung-burung Manyar” karya Romo Mangunwijaya, untuk karya yang kontemporer, “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami, “Cantik itu Luka” karya Eka Kurniawan, “Supernova – Petir” karya Dewi Lestari, “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Untuk karya ‘klasik’ such as “Salah Asuhan” karya Abdul Muis, “Atheis” karya siapa entah aku lupa , kubaca sewaktu kuliah S1 dulu untuk kuliah “Kritik Sastra”. Selain itu, aku juga penikmat karya-karya Djenar Maesa Ayu, Agus Noor dan beberapa penulis lain. &lt;br /&gt;Akan tetapi, meskipun aku merasa bukan merupakan barisan sastrawan maupun kritikus sastra, tentu tidak begitu saja aku suka dengan ide dikotomi sastra kanon dan sastra sampah. Seperti yang kutulis dalam salah satu post di blog yang kuberi judul “High Literature versus Popular Literature” yang lumayan menarik perhatian orang untuk berkomentar (you can check it in my two posts at http://afemaleguest.blog.co.uk/2007/09/20/high_literature_vs_popular_literature~3009677 and http://afeministblog.blogspot.com/2007/09/high-literature-vs-popular-literature.html). Siapa yang merasa berhak untuk ‘menghakimi’ bahwa satu karya itu hebat sekali sehingga bisa dikategorikan masuk ‘kanon’ dan yang lain tidak, bahkan cenderung dimasukkan ke dalam kategori sastra sampah? Banyak orang mengelu-elukan karya Pramoedya Ananta Toer; bahkan Professor Hugh Egan, salah satu dosen tamu sewaktu aku kuliah S2 dulu menyukainya, dan menyesal karena ketidakmampuannya dalam bahasa Indonesia memaksanya untuk ‘hanya’ membaca karya Pram yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Namun orang yang tidak bisa menikmati tulisan model Pram—contoh aku—tentu merasa heran, “Kok bisa karya seperti ini masuk kanon?” dan aku merasa sangat berhak untuk mempertanyakan hal itu, karena selera orang yang berbeda-beda. Contoh lain, sebelum gerakan feminisme mengemuka di dunia Barat sana, tidak ada antologi yang memasukkan karya-karya penulis perempuan, seperti Charlotte Perkins Gilman, Anna Wickham, dll. Dan seperti yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature”, kanon itu tidak bersifat ‘mati’ namun terus berkembang. Hal ini berarti dikotomi sastra kanon versus sastra sampah tidak layak diimani, kita harus selalu menghormati selera orang untuk memilih membaca apa. Aku yakin karya yang ‘baik’ tentu akan senantiasa dibaca orang sepanjang zaman.&lt;br /&gt;Waktu membaca message pertama tentang tuduhan Taufik Ismail “Gerakan Syahwat Merdeka” kepada KUK, aku sudah penasaran seperti apa sih pernyataan Taufik itu? Abangku yang pertama kali mendengar nama ‘Ayu Utami’ beberapa bulan lalu (better late than never, eh? LOL) dari emailku sempat heran dan bertanya kepadaku, “How did Ayu illustrate sexual scenes in her novel?” Untuk menjawabnya, aku sempat kepikiran untuk menulis artikel yang berupa rangkuman kritik-kritik atas “Saman” dan “Larung” di beberapa buku yang kumiliki untuk blog. Biasanya aku suka melakukan sesuatu ‘when the iron is hot’ alias kalau sedang hot-hotnya suatu masalah diperbincangkan. Nah, waktu itu, unfortunately, sedang bulan puasa (enak gila, punya scapegoat, LOL) dan aku sering merasa pusing kalau perut sedang lapar. Kalau pusing gitu, I cannot write anything, apalagi yang rada ‘berbobot’ begitu, kalau hanya sekedar chit-chat, tinggal nulis apa yang ada di benakku, tanpa harus ngeliat referensi ini itu, ya bisa sih. Waktu aku bilang ke Abang tentang ‘black sheep’ itu, LOL, dia menyarankan, “Puasamu berhenti sebentar dong Na, sejam dua jam gitu?” hahahaha ... “Buat nulis. Setelah itu, puasamu dilanjutkan lagi.”  katanya lagi. But of course I didn’t do it sampai “the iron was getting cooler ...” dan moodku nulis itu pun hilang. &lt;br /&gt;Oh ya, polemik ‘hot’ itu dibuat tambah panas dengan puisi tulisan Saut Situmorang yang berjudul “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu”, padahal Saut sendiri berada di barisan penolak karya-karya dari KUK. Lah, vulgar banget kan judulnya? Berikut ini kusertakan satu puisi lain milik orang yang sama, yang dimuat di harian Republika dan sempat menyulut kemarahan publik, terutama orang Hindu Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para pelacur pun&lt;br /&gt;masih di kamarnya bergelut. dalam kabut&lt;br /&gt;alkohol aku biarkan kata kata&lt;br /&gt;menjebakku dalam birahi&lt;br /&gt;rima metafora. kemulusan kulit&lt;br /&gt;kupu kupumu dan garis payudaramu&lt;br /&gt;yang remaja membuatku cemburu&lt;br /&gt;pada para dewa yang, bisikmu,&lt;br /&gt;menggilirmu di altar pura mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kukutipkan bagian akhir novel “Saman” yang berupa percakapan lewat email antara Yasmin dan Saman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York, 11 Juni 1994&lt;br /&gt;Yasmin,&lt;br /&gt;Aku masturbasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 12 Juni 1994&lt;br /&gt;Saman,&lt;br /&gt;Aku terkena aloerotisme. Bersetubuh dengan Lukas tetapi membayangkan kamu. Ia bertanya-tanya, kenapa sekarang aku semakin sering minta agar lampu dimatikan. Sebab yang aku bayangkan adalah wajah kamu, tubuh kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York, 13 Juni 1994&lt;br /&gt;Yasmin,&lt;br /&gt;Aku cemburu. Kamu bersetubuh, aku tidak. Bukankah Lukas lebih perkasa? Aku terlalu cepat. Kalaupun aku bisa menghamili kamu, tentulah aku orang yang efisien, yang membereskan suatu pekerjaan dalam waktu amat singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Juni 1994&lt;br /&gt;Saman, &lt;br /&gt;Lukas memang terlatih. Dengan dia rasanya seperti olah raga. Setiap hitungan empat kali delapan dia ganti gaya. Apa bedanya dengan exercise di gym yang melelahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York, 15 Juni 1994&lt;br /&gt;Yasmin,&lt;br /&gt;Tentu saja bedaya adalah ada klimaks. Kalau kamu jujur, kamu tidak orgasme waktu dengan aku, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 16 Juni 1994&lt;br /&gt;Saman,&lt;br /&gt;Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak. Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York, 19 1994&lt;br /&gt;Yasmin,&lt;br /&gt;Mungkin persetubuhan kita memang harus hanya dalam khayalan. Persanggamaan maya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana memuaskan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Juni 1994&lt;br /&gt;Saman,&lt;br /&gt;Tahukah kamu, malam itu, malam itu yang aku inginkan adalah menjamah tubuhmu, dan menikmati wajahmu ketika ejakulasi. Aku ingin datang ke sana. Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New York, 21 Juni 1994&lt;br /&gt;Yasmin,&lt;br /&gt;Ajarilah aku. perkosalah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca judul puisi Saut “Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu” membuatku tersedak, jijik, dan malu pada diri sendiri. Demikian juga tatkala membaca puisi yang dimuat di Republika itu, tanpa mengetahui konteksnya bagaimana, tiba-tiba ada kata-kata “para pelacur bergelut di kamar” dan “garis payudaramu ...”. well, mungkin karena berupa puisi, sehingga tidak ada ‘ancang-ancang’ untuk menuju kesana, puisi biasanya memiliki keterbatasan jumlah kata, namun bila berada di tangan seorang penyair yang piawai, puisi satu atau dua baris bisa bermakna lebih dari seribu kata. Atau mungkin karena aku tidak memiliki copi puisi itu yang utuh?&lt;br /&gt;Sedangkan akhir bagian novel “Saman” itu, maklum namanya juga novel yang kaya dengan kata, banyak konteks dan teks yang mengawali dan akhirnya berujung ke percakapan antara Saman dan Yasmin yang hot tersebut. Membaca novel ini sejak awal, sampai bagian akhir halaman 197, dengan pilihan alur cerita yang maju mundur, dengan beberapa tokoh sentral (Laila, Saman, Shakuntala, plus Yasmin), emosi pembaca ikut terbangun, sehingga kesan ‘ujug-ujug vulgar’ tidak ada menurutku. Semua ada alasan mengapa dituliskan. Tidak ada kesan dipaksakan, tatkala beberapa kata yang mungkin bisa jadi berkonotasi vulgar muncul di satu kalimat, tanpa konteks yang mendukung, seperti beberapa contoh di atas, ‘penis’, ‘persanggamaan’, ‘masturbasi’, dll. Orang tidak bisa memenggal hanya beberapa bagian kalimat, atau lebih ekstrim lagi, penggunaan beberapa kosa kata saja, tatkala melakukan kritik terhadap karya ini, dan kemudian dengan mudah melabelinya “gerakan syahwat merdeka”. All words there were written for a specific reason, karena berhubungan dengan alur cerita.&lt;br /&gt;By the way, baru malam ini aku ‘menemukan’ salah satu file dalam flash disk yang memuat tulisan Taufik Ismail, aku lupa entah kapan aku mendownloadnya dari internet. Membaca file itu ‘menyulut’ antusiasmeku untuk menulis ini, “the iron is hot again”. LOL. &lt;br /&gt;Berikut ini kutulis tuduhan Taufik Ismail kepada KUK:&lt;br /&gt;HH tidak merasa peduli dengan destruksi sosial luar biasa  raksasanya yang dilancarkan sepuluh pelaku Gerakan Syahwat Merdeka itu:&lt;br /&gt; 1) praktisi sehari-hari seks liar,&lt;br /&gt; 2) penerbit majalah dan tabloid mesum,&lt;br /&gt; 3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,&lt;br /&gt; 4) 4.200.000 situs internet porno dunia,&lt;br /&gt; 5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,&lt;br /&gt; 6) penerbit dan pengedar komik cabul,&lt;br /&gt; 7) penulis cerpen dan novel syahwat,&lt;br /&gt; 8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,&lt;br /&gt; 9) fabrikan dan pengguna alkohol,&lt;br /&gt; 10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.&lt;br /&gt;FYI, HH di atas adalah initial Hudan Hidayat, salah satu member KUK, yang sempat ‘menyambut’ polemik yang diawali oleh Taufik Ismail (kusingkat jadi TI aja yah?), yang lain nampaknya adem ayem aja. Ayu Utami juga anteng-anteng aja. Nampaknya, karena aku tidak mengikutinya langsung, hanya membaca beberapa messages yang diforward ke milis RumahKitaBersama. &lt;br /&gt;Aku heran tatkala membaca kesepuluh tuduhan TI kepada KUK. Mengapa kesepuluh tuduhan itu melulu ditujukan kepada KUK sehingga seolah-olah KUK harus bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini? Banyak aspek atau pihak lain di negara kita tercinta ini yang kupikir juga mengambil peran penting atas kebobrokan moral—moral yang mana? “moral” yang dimaksud oleh orang-orang fundamentalis, mungkin.&lt;br /&gt;Aku akan mencoba menulis pendapatku satu persatu atas kesepuluh tuduhan tersebut.&lt;br /&gt;1) praktisi sehari-hari seks liar,&lt;br /&gt;Memangnya sebelum KUK terbentuk, tidak ada seks liar (yang kuterjemahkan sebagai seks yang bukan dilakukan oleh pasangan resmi menikah) di Indonesia? Dari artikel “Free Sex:  a ‘co-culture’ in Indonesia (already)?” yang kulempar ke milis RumahKitaBersama, aku mendapatkan sambutan dari beberapa member yang membuat mataku lebih melek bahwa praktek seks di luar menikah ini sudah lama dilakukan di Indonesia, hanya saja orang-orang masih hipokrit, tidak mau mengakui bahwa that has existed here, di negara yang sok suci, sehingga penerbitan majalah ‘Playboy’ menggegerkan seluruh negeri, namun tabloid-tabloid dan majalah-majalah porno yang telah ada sekian lama dicueki saja. &lt;br /&gt;Untuk ini, kamu bisa klik ...&lt;br /&gt;2) penerbit majalah dan tabloid mesum,&lt;br /&gt;Aku tidak yakin apakah keberadaan semua majalah dan tabloid mesum yang terbit di Indonesia ini harus menjadi tanggung jawab KUK. Di kota Semarang, koran METEOR yang senantiasa memasukkan unsur porno yang vulgar—terutama dalam bentuk berita, atau cerita—apakah juga merupakan tanggung jawab KUK? Kalau dipaksakan jawabnya, “IYA”, kok bisa? Bagaimana prosedurnya?&lt;br /&gt;3) produser dan pengiklan acara televisi syahwat,&lt;br /&gt;Count me out for watching television!!! Terkadang kalau aku sempat menonton televisi—ketika makan bersama anakku misalnya—memang kadang aku mendapati iklan-iklan yang merendahkan kaum perempuan. Misal ada iklan kopi dimana seorang tokoh laki-laki berucap, “Pas susunya...” dan pada saat itu dia sedang menonton televisi yang sedang menunjukkan bagian dada seorang perempuan. Jika Ayu Utami yang feminis itu pernah berhome-based di KUK, masak orang-orang di komunitas tersebut tidak ‘tertulari’ semangat feminis Ayu Utami yang ingin memerangi pelecehan terhadap perempuan? Iklan tersebut jelas-jelas melecehkan perempuan, masak—seandainya KUK harus bertanggung jawab dengan iklan-iklan maupun program sejenis itu—Ayu Utami akan diam saja? Atau orang-orang lain di KUK yang kubayangkan tentu pernah terlibat diskusi tentang kesetaraan gender akan ikut menikmati acara sejenis itu?&lt;br /&gt;4) 4.200.000 situs internet porno dunia,&lt;br /&gt;Again, apa hubungannya dengan KUK keberaan jutaan situs internet porno ini? KUK mendapatkan keuntungan dari sini kah? SEDUNIA BO’!!! sebegitu terkenalkah KUK di dunia ini sehingga semua situs internet porno berkolaborasi dengannya?&lt;br /&gt;5) produsen dan pengecer VCD-DVD biru,&lt;br /&gt;Well, di era tiga atau empat dekade lalu mungkin belum berbentuk VCD maupun DVD, tapi film-film biru tentu telah ada di Indonesia sejak tiga atau empat dekade atau lebih. KUK ‘dibentuk’ atau ‘berdiri’ tahun berapa ya? Aku belum tahu, belum ngecek di situs resmi KUK.&lt;br /&gt;6) penerbit dan pengedar komik cabul,&lt;br /&gt;Sama dengan yang di atas, ini kan udah lama juga beredar di Indonesia?&lt;br /&gt;7) penulis cerpen dan novel syahwat,&lt;br /&gt;Dalam artikel “Membaca [lagi] Seksualitas Perempuan” dalam bukunya yang berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS, Aquarini memprotes tulisan Sunaryono Basuki yang dimuat di KOMPAS Minggu 4 April 2004, mengapa kalau penulis laki-laki—contoh Motinggo Busye—sah-sah saja menuliskan tentang seksualitas di karyanya, namun penulis perempuan tidak boleh? Untuk itu, Motinggo Busye tetap dianggap sebagai “sastrawan yang layak dipuji” karena menghasilkan karya-karya sastra yang “serius”, sedangkan penulis-penulis perempuan—such as Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—dikategorikan dalam “penulis yang tidak bermoral”. &lt;br /&gt;Look, anggapan yang tak jauh beda dengan apa yang kutulis dalam post “High Literature versus Popular Literature” tentang dikotomi sastra kanon dan sastra non-kanon. &lt;br /&gt;Mengapa perempuan tidak boleh menuliskan seksualitas di dalam karyanya? Karena kultur patriarki yang masih melekat di rakyat Indonesia tentu saja, karena perempuan seharusnya ‘menunggu’ dalam seks, dan bukannya ‘memperkosa’ seperti yang ditulis oleh Ayu tentang Yasmin yang ingin ‘mengajari’ Saman untuk bercinta. Tatkala perempuan menuliskan pengalamannya dalam seks, yang tentu saja berlainan dengan cara laki-laki memandang seks, serta merta hal tersebut pun menjadi tabu. &lt;br /&gt;Di bawah ini aku kutipkan apa yang ditulis oleh Aquarini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik dari bahasa dan teknik narasi yang ditampilkan Ayu maupun Dinar, menurut saya agak gegabah mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai keterampilan berbahasa dan bersastra seperti Motinggo Busye. Pertama, karena tidak seorang pun harus seperti Motinggo Busye untuk dapat menyampaikan tema seks dan seksualita. Kedua, pengalaman seksualitas Ayu dan Dinar sebagai perempuan tentu berbeda dengan seksualitas yang dialami dan disuarakan oleh Motinggo Busye. Ketiga, perbedaan itu seharsunya dimaknai sebagai PENGAYAAN dan bukan ancaman terhadap sastra. – penekanan dariku. (Kajian Budaya Feminis, 2006: 192-193)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 8) produsen dan pengedar narkoba, 40 orang mati sehari,&lt;br /&gt; 9) fabrikan dan pengguna alkohol,&lt;br /&gt; 10) produsen dan pengisap nikotin, 150 orang mati sehari.&lt;br /&gt;I am getting bored with these accusations, so kujadiin satu aja nomor 8, 9, 10.  Sama seperti yang kutulis di atas, apa hubungan ketiga nomor ini dengan keberadaan KUK? Memangnya KUK ikut berbisnis di bidang narkoba, alkohol dan nikotin? Ini kan masalah besar yang dihadapi oleh negara kita? Semua orang harus ikut bertanggung jawab bagaimana agar para generasi muda kita tidak mati sia-sia karena ketiga barang tersebut.&lt;br /&gt;Tatkala HH hanya mengomentari poin ketujuh, ‘penulis cerpen dan novel syahwat’, aku yakin tentu karena HH berpikir ya hanya poin inilah yang berkaitan erat dengan keberadaan KUK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, I am getting bored too writing this. Apalagi yang membaca—kamu—tentu juga udah bosan yah? huehehehe ... so, kusudahi saja artikel ini di sini. Masih banyak sebenarnya yang meninggalkan tanda tanya besar bagiku bagaimana seseorang yang memiliki nama besar (bagiku) seperti Taufik Ismail bisa menulis email—yang diforward di milis-milis—seperti itu? Kapan-kapan kalau aku memiliki suntikan energi yang cukup, dengan antusiasme yang besar, aku akan menulis lagi, terutama mengomentari tulisan TI yang ga ngalor ga ngidul itu. &lt;br /&gt;Aku sendiri nampaknya mulai terserang pengap karena seperti biasa, hawa di Semarang yang panas, meskipun di luar mendung. And I’ve got to prepare myself to go to work.&lt;br /&gt;PT56 13.03 291007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-5996712646770330235?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/5996712646770330235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/polemik-sastra.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5996712646770330235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/5996712646770330235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/polemik-sastra.html' title='Polemik Sastra'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6857554360530277209</id><published>2007-10-27T17:03:00.000+07:00</published><updated>2007-10-27T17:15:59.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='women'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gender'/><title type='text'>Housewife, anyone?</title><content type='html'>“Everything happens for a reason.”&lt;br /&gt;This somewhat wise statement was uttered by one of my workmates yesterday. She told me about one of her cousins who is about the same age with her. Since they were child, they were somewhat competitive to each other; such as in education, beauty, career, and perhaps eventually the success to get rich husband.&lt;br /&gt;My friend said, “She got married at an earlier age that made me envy her because that gave me an idea that she beat me finally. I got married after I reached a so-called ‘crucial age’ for women to get married. Therefore, I felt like I didn’t have many choices whom I would marry. When knowing that her husband is quite successful in his business so that they have a good house and car, I had to say that I even envied her more. She is a full housewife, only sometimes she gets some order to make cakes, one of her capabilities that can make her earn her own money. Sometimes when my kids protest when I am about to go to work, because they want me to stay, they really make me down in the dumps. I want to be a full housewife too so that I don’t need to work. But only depending on my husband’s paycheck, we will not be able to survive.”&lt;br /&gt;I kept listening to her.&lt;br /&gt;“However, she is a bit fussy to her maids so that none of them stands working with her for more than one month. This made her obliged to do all of household chores by herself, including to take her children to go to school. Her husband doesn’t help her do the chores at all because his right hand cannot be used freely due to an accident. And perhaps because he thinks that he is the main breadwinner in the family, he doesn’t need to help his wife to do household chores. It is fully his wife’s responsibility. Not long ago, my cousin’s mother –in-law passed away. And in fact this has made her much busier since the responsibility to take care of her father-in-law who is already elderly becomes hers too. This made me think whether I could change position with her: having a rich husband, two children who are still studying in the elementary school, but no housemaid, and also having to take care of an elderly father-in-law, plus one grandmother-in-law, I think I will give up soon.”&lt;br /&gt;This sounds more interesting, doesn’t it? &lt;br /&gt;“I have two toddlers, one is two years old and the other one is still six months old, and my husband is really helpful to do household chores, perhaps in return of my helping him earn money. I don’t think I can make it without having a housemaid, as I have told you after Lebaran (Eid Mubarrak Day) my housemaid didn’t go back to work anymore, I am often at my wits’ end. It is not easy to look for a new housemaid who cares and loves my children as to her own kids. I start to realize that everything happens for a reason. I am not supposed to envy my cousin.”&lt;br /&gt;A good ending, eh? LOL.&lt;br /&gt;“I believe that being a full housewife is really a hard task for me. I am not sure if I can make it. Can you?” she asked me.&lt;br /&gt;Recently I must say that sometimes I ask myself that question, a question that in the past I would answer strongly, “NO!” &lt;br /&gt;“Well, I don’t mind being one as long as I still can do something that will make me reach my self-actualization. The problem is being a full housewife for me doesn’t give me self-actualization. To me, doing household chores doesn’t give me satisfaction.” I responded.&lt;br /&gt;“I opine that being a housewife is really noble for women, because it is hard to do. I cannot make it either.” She went on.&lt;br /&gt;“I am sorry to say that I don’t really agree with you. Women have choices to do what they want to do, things that give them satisfaction, and even self-actualization. No profession is nobler than any other profession. Women who choose to be a housewife perhaps get that satisfaction and actualization by doing household chores, for example by having a neat, and tidy house, without any single spot of dirt, without anything lying not at the right place—just like the women in “The Stepford Wives” movie. Women who choose to do desk job—behind desk from eight to five daily, probably get their satisfaction in it. Women who choose to do dangerous and risky job, such as working in mining sites possibly get another kind of satisfaction. Women who choose to work in glamorous world, such as models, actresses, etc, get different satisfaction too. And they are all equal, in my opinion. Just like some women who are very proud and satisfied when they get ‘label’ as superwomen because they are willing to do both domestic (read =&gt; doing household chores) and ‘public’ job (read =&gt; having career outside the house) are equal too with other women who choose to do only one of them, domestic or public job; not better not worse.”&lt;br /&gt;It is just a matter of making a choice.&lt;br /&gt;PT56 10.35 261007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-6857554360530277209?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/6857554360530277209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/housewife-anyone.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6857554360530277209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/6857554360530277209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/housewife-anyone.html' title='Housewife, anyone?'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-8207364287095732341</id><published>2007-10-27T16:57:00.000+07:00</published><updated>2007-10-27T17:00:19.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskriminasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>WNI vs WNA</title><content type='html'>Ada sesuatu yang menyesakkan hatiku tatkala membaca berita di Suara Merdeka Selasa 23 Oktober 2007 halaman C (bagian dalam “Semarang Metro”) yang berjudul “Jangan-Jangan Suatu Saat Diusir” dan “Status Kewarganegaraan Diubah, WNI Keturunan Protes”. Kedua artikel tersebut mengacu ke satu permasalahan yang sama, yang menimpa seseorang yang ditulis bernama Stanislaus Handjojo Rahardjo. Tatkala mengurus KK (Kartu Keluarga) yang baru setelah dia pindah ke tempat tinggal yang baru—di dalam kota Semarang—sekitar satu tahun yang lalu, dia mendapati dalam KK yang baru, kewarganegaraannya tertulis “WNA”, meskipun dia memiliki semua bukti yang menunjukkan bahwa dia dan keluarganya adalah warga negara Indonesia, mulai dari KTP, paspor, sampai SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI).&lt;br /&gt;Hal ini mengingatkanku pada protes Langston Hughes yang dia tuliskan dalam salah satu artikelnya yang berjudul “My America”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“This is my land America.  Naturally, I love it—it is home—and I am vitally concerned about its mores, its democracy, and its well-being. I try now to look at it with clear, unprejudiced eyes. My ancestry goes back at least four generations on American soil—and through American blood, many centuries more. My background and training is purely American—the schools of Kansas, Ohio, and the East. I am old stock as opposed to recent immigrant blood. &lt;br /&gt;Yet many Americans who cannot speak English—so recent is their arrival on our shores—may travel about the country at will securing food, hotel, and rail accommodations wherever they wish to purchase them. I may not. These Americans, once naturalized, may vote in Mississippi or Texas, if they live there. I may not. They may work at whatever job their skills command. But I may not. They may purchase tickets for concerts, theaters, lectures wherever they are sold throughout the United States. I may not. They may repeat the Oath of Allegiance with its ringing phrase of “liberty and justice for all,” with a deep faith in its truth—as compared to the limitations and oppressions they have experienced in the Old World. I repeat the oath, too, but I know that the phrase about “liberty and justice” does not fully apply to me. I am an American—but I am a colored American. (Langston Hughes Reader, 1958: 500)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel di atas ditulis oleh Hughes tatkala Jim Crow Law masih berlaku di seluruh daratan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam puisinya yang berjudul “Will V-Day Be Me-Day Too?” Hughes pun menyuarakan kepahitan yang sama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When we see Victory’s glow,&lt;br /&gt;Will you still let old Jim Crow&lt;br /&gt;Hold me back?&lt;br /&gt;When all those foreign folks who’ve waited—&lt;br /&gt;Italians, Chinese, Danes—are liberated&lt;br /&gt;Will I still be ill-fated&lt;br /&gt;Because I’m black?&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kulit hitam yang tidak akan pernah luntur warnanya ini akan selalu termajinalkan, meskipun mereka merupakan keturunan kelima yang dilahirkan di Amerika.&lt;br /&gt;Dalam film FREEDOM WRITERS, Eva Benita, salah satu tokoh sentral yang berdarah Latin mengungkapkan akar kebencian antarras yang terjadi di Amerika adalah warna kulit. “It is all about colors. It is all about people deciding what you deserve; about people wanting what they don’t deserve; about white people thinking they can get anything … no matter what.” &lt;br /&gt;Diskriminasi sosial yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan karena warna kulit pula, namun bukan ke warna hitam—yang biasanya dipakai untuk menggambarkan keturunan Afrika—melainkan warna kuning langsat dan bermata sipit. Bagi mereka yang berwarna kuning langsat dan bermata sipit akan selau dianggap sebagai “warga keturunan”, dan tak akan pernah “label” itu hilang, meskipun mereka merupakan keterunan ketiga, keempat, atau lebih dalam keluarga mereka yang tinggal di Indonesia. Sejak lahir mereka telah berada di atas bumi pertiwi, menghirup udara yang ada, makan makanan yang tersedia di bumi Nusantara, menimba ilmu di sekolah-sekolah dalam negeri, bahkan mungkin pula ikut berjuang membela nama baik negara (tidak hanya selama perang kemerdekaan, namun di era sekarang ini bisa juga berjuang di bidang seni, olahraga, dll). Namun karena “dosa” yang dilakukan oleh nenek moyang mereka—yakni hijrah dari tanah Cina ke Nusantara—para “warga keturunan” ini seolah di’kutuk’ untuk terus menerus dibuat repot tatkala mengurus surat-surat ini itu. &lt;br /&gt;Kekhawatiran Stanislaus Handjojo Rahardjo “Jangan-jangan suatu saat diusir” bisa jadi bukan hanya sekedar seloroh pahit. Seperti dalam salah satu adegan dalam FREEDOM WRITERS tatkala terjadi keributan di dalam kelas sehingga Erin Gruwell berinisiatif untuk mengatur tempat duduk para siswanya, seorang anak memandang sekelompok anak-anak keturunan Asia, sembari berkata sengit, “You all go back to China!”&lt;br /&gt;Berita yang dimuat satu hari setelah itu, Rabu 24 Oktober 2007 yang berjudul “KK yang Salah Langsung Direvisi”, memberikan penjelasan bahwa Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil segera melakukan revisi “setelah kasus tersebut dilansir di beberapa media massa.”. Alasan atas kejadian “kesalahan” tersebut karena KK ditebitkan pada masa transisi, yakni perubahasan sistem kependudukan dari Simduk menjadi SIAK yang berbasis komputer. Adanya perubahan kolom serta isian-isiannnya berpotensi menimbulkan kesalahan pengisian.&lt;br /&gt;Pertanyaanku adalah, “Kok bisa?” Manusia yang dianugerahi akal pikiran, mengapa bisa “dikalahkan” oleh komputer, yang meskipun merupakan alat canggih namun tetap saja merupakan hasil ciptaan manusia? Bukankah yang mengisi kolom-kolom itu manusia? Satu tahun yang lalu, pernyataan pak Lurah dimana Stanislaus Handjojo Rahardjo bertempat tinggal, “Memang peraturan yang baru begitu” tatkala ditanya oleh pak RT tentang kasus tersebut merupakan salah satu bentuk ketidaktahuan (atau ketidakpedulian karena toh orang itu “warga keturunan”, sehingga mereka bisa dianggap hanya sebagai menumpang tinggal di Indonesia?) aparat pemerintah terhadap apa-apa yang terjadi, yang bisa jadi merugikan warga negara.&lt;br /&gt;Anyway, talking about racial dicrimination, prejudice, violence or whatever the name is seems like it will never come to an end. &lt;br /&gt;Padahal jika kita kembali ke masa ribuan tahun yang lalu, tatkala konon daratan di bumi ini masih sambung menyambung, sehingga memudahkan nenek moyang kita dulu bermigrasi, siapa yang merasa memiliki hak untuk mengklaim bahwa satu daratan hanya boleh dimiliki oleh sekelompok manusia saja, sedangkan yang lain harus menyingkir. Apakah yang terjadi pada masa-masa itu, sehingga migrasi yang dilakukan oleh nenek moyang kita akhirnya “menghasilkan” seperti yang kita kenal sekarang ini, mereka yang berkulit kuning tinggal di daerah Asia, berkulit putih di Eropa, kulit hitam di Afrika, kulit merah di Amerika (yang akhirnya pun dimarjinalkan oleh kaum kulit putih setelah mereka bermigrasi ke Amerika). Khusus untuk daerah Asia, mengapa yang berkulit kuning langsat dan memiliki bentuk mata “oriental” kebanyakan terletak di daratan Cina dan sekitarnya, sedangkan yang berkulit sawo matang dan bermata lebar di daratan equator. Tentu karena iklim yang berbeda. Khusus untuk daerah Nusantara, mengapa yang berkulit sawo matang akhirnya merasa yang paling berhak untuk menjadi “pribumi”?&lt;br /&gt;(Imagining if my great great great grandparents had migrated to the land named America after being “colonized” by Columbus and his people, would I have red skin and consequently be marginalized by the white?)&lt;br /&gt;PT56 14.30 241007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-8207364287095732341?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/8207364287095732341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/wni-vs-wna.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/8207364287095732341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/8207364287095732341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/wni-vs-wna.html' title='WNI vs WNA'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-3187016184386565317</id><published>2007-10-27T16:47:00.000+07:00</published><updated>2007-10-27T16:54:24.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><title type='text'>Golek Mangan Susah ...</title><content type='html'>Rabu pagi 24 Oktober 2007 dalam perjalanan menuju Paradise Club fitness center, setelah mengantar Angie sekolah, aku menemukan “pemandangan” yang menarik, namun membuatku tersenyum getir. Tatkala melewati rel kereta api di Jalan Abimanyu Raya, aku melihat sebuah gerobak terseok ditarik oleh sebuah sepeda motor tua. Di belakang gerobak itu, tertulis “ &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GOLEK MANGAN SUSAH, MATI RAK WANI&lt;/span&gt;”. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/RyMKe1fXNoI/AAAAAAAAAho/uaRorV04Mag/s1600-h/gerobak1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/RyMKe1fXNoI/AAAAAAAAAho/uaRorV04Mag/s320/gerobak1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5125952325748733570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kupikir gerobak dengan kalimat yang cukup menyayat hati itu tentu akan menarik perhatian para pengunjung blogku. Itu sebabnya kemudian aku mengeluarkan hapeku, menunggu gerobak itu lewat lagi, dan menjepretnya. &lt;br /&gt;Aku sempat mengikuti sampai gerobak itu berhenti di satu tempat, yang kutengarai merupakan pangkal para pemulung mengumpulkan barang-barang hasil memunguti barang-barang yang dibuang oleh orang lain namun bisa menjadi lembar-lembar rupiah bagi para pemulung. Dan pangkal para pemulung ini terletak di tengah-tengah perumahan Pondok Indraprasta yang biasanya dihuni oleh para kaum the haves. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/RyMKV1fXNnI/AAAAAAAAAhg/T_KgxDy7GFc/s1600-h/gerobak2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/RyMKV1fXNnI/AAAAAAAAAhg/T_KgxDy7GFc/s320/gerobak2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5125952171129910898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Di Indonesia sih sangat mudah untuk mendapatkan pemandangan ataupun kisah-kisah yang menyayat hati,” kata mbak Icha, tatkala dia berkunjung ke Semarang bulan Agustus lalu, dan kita berdua sedang menonton sebuah acara berita di televisi di kamarnya. &lt;br /&gt;Yang menyedihkan adalah pemerintah nampak tidak terlalu peduli dengan keadaan rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan. Sangat banyak di antara mereka yang hanya sibuk memikirkan apakah mereka akan dipakai lagi di masa pemerintahan yang akan datang. Kalau tidak, bagaimana cara untuk memupuk kekayaan mumpung masih di atas. &lt;br /&gt;Seperti di Semarang dengan acara spektakulernya Semarang Pesona Asia yang kontroversinya tak kunjung selesai. Di surat kabar hari ini diberitakan bahwa rencana kunjungan anggota DPRD ke China telah disetujui oleh Mendagri, yang notabene mantan Gubernur Jawa Tengah, yang ikut sibuk dengan segala uba rampe penyelenggaraan SPA. Para anggota DPRD berkilah bahwa kunjungan ke China ini merupakan salah satu program untuk melanjutkan program SPA, namun tidak jelas untuk apa? Sedangkan pelaksanaan SPA bulan Agustus lalu masih menyisakan berjuta pertanyaan di benak masyarakat karena menghabiskan dana masyarakat bermiliar rupiah namun hasilnya tak bisa dilihat dalam bentuk apa. Pihak pemerintah kota sendiri mengklaim bahwa SPA sukses, tanpa ada penjelasan sukses yang seperti apa? &lt;br /&gt;PT56 13.50 251007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5126991873745462935-3187016184386565317?l=serbaserbikehidupan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/feeds/3187016184386565317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/golek-mangan-susah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3187016184386565317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5126991873745462935/posts/default/3187016184386565317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/10/golek-mangan-susah.html' title='Golek Mangan Susah ...'/><author><name>Nana Podungge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14235543550591163972</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-6Voq-HdfLo4/TYL5FMO3H_I/AAAAAAAABh8/Kmu-j0k8y0U/s220/nana.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Eq2V6MQyo5E/RyMKe1fXNoI/AAAAAAAAAho/uaRorV04Mag/s72-c/gerobak1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5126991873745462935.post-6636905213249095895</id><published>2007-10-22T19:29:00.000+07:00</published><updated>2007-10-22T20:36:24.344+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media'/><title type='text'>My idea was stolen</title><content type='html'>Bagaimana perasaanmu jika idemu dicomot begitu saja dan ditulis oleh seorang jurnalis, dimuat di sebuah surat kabar yang mengaku terbesar di Jawa Tengah, tanpa menuliskan namamu sebagai si pemilik ide?&lt;br /&gt;Hari Jumat 19 Oktober 2007 di surat kabar tersebut halaman 4 termuat sebuah artikel dengan judul “Hipermarket, Memangsa Mom and Pop’s Store?” aku langsung heran. Istilah MOM AND POP’S STORE aku dapatkan dari Professor Kenneth Hall, dosen tamu sewaktu aku kuliah di American Studies UGM yang waktu itu memberikan mata kuliah “American Capitalism”. Aku menuliskannya dalam postinganku yang kuberi judul HYPERMARKET (klik link berikut ini http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/2007/09/hypermarket.html ) bulan September kemarin setelah DP MALL diresmikan dan menarik perhatian jutaan penduduk Semarang. Aku ingat sepulang dari kuliah waktu itu, aku dan Julie berdiskusi tentang hypermarket yang mencaplok Mom and Pop’s Store yang mengingatkan kita berdua pada film YOU’VE GOT MAIL, contoh yang sangat realistis terjadi dilukiskan dalam film yang berkisah tentang sepasang (calon) kekasih yang bertemu pertama kali lewat dunia maya.&lt;br /&gt;Lha kok tahu-tahu ide itu nongol di surat kabar tersebut? &lt;br /&gt;Di dalam artikel yang sama, aku menulis pernyataan Michael Sunggiardi, presenter utama dalam seminar “SOLUSI IT MURAH UNTUK DUNIA BISNIS” yang diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata, “Di Sudan yang konon merupakan negara yang lebih miskin dibandingkan Indonesia, menjual rokok eceran saja minimal 5 batang dan kelipatannya. Di Indonesia yang nampak lebih makmur dibandingkan Sudan, orang-orang masih biasa membeli rokok eceran satu batang.” &lt;br /&gt;Namun si jurnalis salah membaca tulisanku di artikel tersebut. Yang dicomot justru adalah pertanyaan (atau pernyataan) dariku, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store?” dan dituliskan di artikel di surat kabar tersebut sebagai pernyataan dari Michael Sunggiardi, yang nampaknya sobat lama Ridwan Sanjaya, dekan Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata. (FYI, I attended the seminar coz I got the invitation for free after winning the blog competition held by IKOM Unika Soegijapranata.) Lah, kalau Michael Sunggiardi membaca artikel tersebut, bakal heran lah dia karena ditulis dia menyatakan, “Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store?”&lt;br /&gt;By the way, dalam hobbyku blogging, aku selalu berusaha untuk menulis darimana aku mendapatkan ide, seandainya ide itu tidak murni datang dariku. Misal, pernyataan di Sudan yang boleh membeli rokok minimal 5 batang. Kalau tidak menghadiri seminar itu dan mendengarkan presentasi Michael Sunggiardi dengan tekun, mana aku tahu? Kalau aku cabut dari kuliah Professor Kenneth Hall, mana aku tahu kalau hypermarket di Amerika benar-benar memangsa Mom and Pop’s Store? Mana aku bisa menulis artikel yang kuberi judul “HYPERMARKET” itu? Dan aku sebutkan nama kedua orang tersebut dalam artikel itu.&lt;br /&gt;By the way (again), beberapa tulisanku yang terinspirasikan tulisan Adi Ekopriyono, salah satu wartawan di surat kabar itu, aku tak lupa menyebut namanya tatkala aku menuliskannya.. &lt;br /&gt;Jadi ingat ‘kecelakaan’ di milis Forum Interaktif bla bla bla tatkala seorang member komplain karena tulisan di blognya di’culik’ dan dimuat di surat kabar online dan nama penulisnya diganti nama salah satu moderator milis tersebut. Contoh plagiarisme yang benar-bena
